NovelToon NovelToon
SUAMI ASING UNTUK HAFIZHAH BUTA.

SUAMI ASING UNTUK HAFIZHAH BUTA.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.

Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.

Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.

Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAKUAN YANG SULIT DI TERIMA

Hening merayap kaku di dalam ruangan. Suara ketukan pintu depan masih menyisakan getaran samar di udara, membuat Nabila mencengkeram tangan kanannya yang terluka makin erat. Tetesan darah hangat menetes pelan ke ubin lantai yang dingin.

Ardhana tak langsung bergerak. Ia menarik napas panjang, menatap pintu kayu itu seakan menatap bayangan suram yang siap menelannya bulat-bulat. Dengan langkah berat, Ardhana berjalan melewati Nabila yang masih tersungkur. Engsel pintu berderit halus saat Ardhana membukanya.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria berpostur tegap. Ia mengenakan kemeja koko berwarna abu-abu gelap yang rapi, dipadukan dengan peci hitam yang bertengger sempurna di kepalanya. Pria itu memiliki garis rahang yang tegas, dengan yang bersih nan tampan. Namun, hal yang paling menonjol dari dirinya adalah binar matanya tenang, teduh, tetapi menyimpan kedalaman misteri yang tak terduga.

Mata Ardhana memicing tajam. Wajahnya mengeras, menyunggingkan raut amarah dan ketidaksukaan yang amat sangat. Pundaknya menegang seketika.

"Ustadz Hafiz..." bisik Ardhana, suaranya sarat akan tekanan ketegangan. Ia memajukan tubuhnya, menahan daun pintu agar tamu itu tidak melangkah lebih jauh. "Mengapa Anda datang terlalu cepat? Ini baru satu bulan!"

Pria bernama Ustadz Hafiz Habib Zafar itu tidak gentar sedikit pun. Wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi berlebih. "Amanah tidak mengenal waktu, Ardhana," jawabnya singkat. Suaranya berat, dalam, dan bergema halus.

"Tapi adik saya belum siap! Mentalnya hancur!" Ardhana berbisik setengah menggeram, rahangnya mengetat rapat. "Anda tidak tahu apa yang dialaminya setelah..."

"Saya tahu," potong Hafiz pelan, tetapi nada bicaranya tidak membukakan ruang untuk bantahan. Matanya bergulir melewati bahu Ardhana, menatap lurus ke arah lorong di mana Nabila tergeletak. Ada guratan rasa bersalah mendalam yang mendadak melintas di manik matanya, hanya sekelibat, sebelum kembali tertutup oleh ketenangannya. "Dan karena itulah saya di sini. Saya datang untuk menjemput istri saya."

Istri?

Pendengaran Nabila yang kini menjadi sangat peka seketika menangkap kata itu. Tubuhnya membeku di atas lantai. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Siapa yang dia maksud? Istri? Siapa pria itu? Kenapa dia bicara seolah-olah memiliki hak di rumah ini?

Ardhana hendak membalas, tetapi bibirnya terkatup kembali. Tangannya itu terkepal kuat di samping tubuhnya, meremas kain celananya sendiri. Ada pertarungan batin yang begitu hebat di mata Ardhana, antara amarah yang membakar dada dan kepatuhan mutlak pada sebuah amanah terakhir dari almarhum ayahnya.

"Mas Ardhana..." panggil Nabila dengan suara bergetar, memecah ketegangan ganjil di antara kedua pria itu. "Siapa... siapa orang itu, Mas?"

Tanpa menunggu izin Ardhana, Hafiz melangkah masuk. Gerakannya tenang namun pasti. Langkah kakinya beralas kaus kaki terdengar bergesekan halus dengan lantai, makin lama makin mendekat ke arah tempat Nabila terduduk.

Sensasi dingin menyergap tengkuk Nabila saat ia merasakan kehadiran seseorang tepat di depannya. Aroma wangi kayu cendana yang lembut dan menenangkan menyeruak masuk ke indra penciumannya, menggantikan bau amis darah.

Pria itu berlutut di atas satu kaki tepat di hadapan Nabila, menjaga jarak aman agar tidak menyentuh bagian tubuh Nabila yang tidak seharusnya, mempertahankan batas-batas kehormatan yang ketat.

"Assalamu'alaikum, Nabila," sapa pria itu lembut. Suaranya terdengar seperti telaga tenang di tengah badai yang mengamuk di kepala Nabila.

Nabila memundurkan kepalanya refleks, matanya yang buta menerawang liar dalam kegelapan. "S-siapa Anda? Kenapa Anda bisa masuk ke rumah saya?!"

"Nama saya Hafiz. Hafiz Habib Zafar," ucapnya memperkenalkan diri. Pria itu meraih saputangan bersih dari dalam saku kemejanya, lalu tanpa rasa canggung atau jijik, ia membebatkan kain itu secara perlahan di sekeliling telapak tangan Nabila yang terluka akibat pecahan porselen. Gerakannya sangat berhati-hati, seolah-olah tangan Nabila adalah barang kaca yang mudah pecah.

"Jangan sentuh saya!" Nabila berusaha menarik tangannya, tetapi Hafiz menahannya dengan lembut tanpa menyakiti.

"Tanganmu berdarah, Nabila. Biarkan saya menahannya sebentar agar pendarahannya berhenti," ucap Hafiz bernada sejuk. Pria itu menyapu serpihan kaca kecil di sekitar Nabila agar tidak melukai kulit gadis itu lebih jauh.

Nabila terpaku. Sikap pria ini sungguh aneh. Ia seorang ustadz, suaranya tenang, namun ada aura tertekan yang tersembunyi di balik kelembutannya. Lebih dari itu, kepalanya terus berputar memikirkan ucapan pria ini pada kakaknya beberapa detik yang lalu.

Sebelum Nabila sempat mencerna kebingungannya, Hafiz merogoh bagian dalam jas kokonya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi instansi agama dan meletakkannya di atas meja kecil di dekat mereka.

Hafiz menatap Nabila lurus-lurus, meski ia tahu netra gadis di depannya itu tidak lagi mampu membalas tatapannya.

"Nabila," ujar Hafiz, nadanya berubah menjadi sangat serius dan tegas. "Aku datang ke sini bukan sekadar sebagai tamu yang mengucap duka cita. Aku datang untuk membawamu pulang... sebagai istri sahku."

DEGG!

Kalimat itu memukul kesadaran Nabila bagaikan petir di siang bolong. Pernyataan yang begitu lugas, tanpa basa-basi, dan teramat gila.

"A-apa...?" Nabila menggeleng keras, nafasnya tersengal-sengal. "Istri?! Bicara apa Anda?! Saya tidak kenal Anda! Saya tidak pernah menikah dengan siapa pun! Mas Ardhana!"

Nabila menggapai-gapai udara dengan panik. Jemarinya yang gemetar dan ternoda darah akhirnya menemukan kain celana kakaknya. Nabila mencengkeram kaki Ardhana erat-erat, memohon perlindungan.

"Mas Ardhana, usir orang ini, Mas! Dia gila! Kenapa dia mengaku sebagai suamiku?!" tangis Nabila pecah, ketakutan dan kebingungan bercampur menjadi satu.

Ardhana berlutut, merengkuh bahu adiknya. Namun, raut wajah Ardhana sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Wajah kakaknya itu terlihat sangat pucat, dan matanya enggan menatap mata Hafiz yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Mas... katakan kalau pria ini bohong..." lirik Nabila pasrah.

Ardhana menarik napas berat, sebuah helaian napas yang sarat akan beban rahasia yang teramat menyiksa. Matanya menatap Hafiz dengan tatapan kompleks benci, terpaksa, takut, dan tak berdaya. Ada rahasia besar yang sengaja Ardhana kunci rapat-rapat di balik dadanya, sesuatu yang tidak boleh Nabila ketahui saat ini.

"Nabila..." bisik Ardhana, suaranya parau serasa mencekik tenggorokannya sendiri. "Dia... Ustadz Hafiz tidak bohong."

Nabila membeku. "Maksud... Mas Ardhana apa?"

"Beberapa menit sebelum Ayah menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit..." Ardhana jeda sejenak, menelan ludahnya yang terasa pahit. "...Ayah sempat meminta Ustadz Hafiz. Di depan saksi dan dokter, dalam keadaan sekarat... Ayah sendiri yang mengijab qobulkan kamu untuk Ustadz Hafiz."

BOOM!

Dunia Nabila serasa diguncang gempa dahsyat. Penjelasan Ardhana bukannya memberi jawaban, melainkan melemparnya ke dalam labirin misteri yang makin pekat. Ayahnya? Menikahkannya di detik-detik sebelum tewas? Dengan seorang ustadz asing yang bahkan tak pernah diceritakan sebelumnya?

"Tidak... Tidak mungkin!" Nabila berteriak histeris, menepis tangan Ardhana dan Hafiz sekaligus. Ia merayap mundur, menyandarkan punggungnya ke dinding dengan napas memburu. "Bohong! Kenapa Ayah melakukan itu tanpa meminta persetujuanku?! Aku tidak mau! Aku tidak sudi mengakui pernikahan gila ini!"

Di tengah amukan dan tangis histeris Nabila, Hafiz tetap berdiri tegak di tempatnya. Ia menatap gadis yang kini menjadi istrinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan, sebuah tatapan berisi kesedihan, penyesalan mendalam, dan ketetapan hati yang tak tergoyahkan untuk melindungi Nabila.

1
Teh Fufah
kalau kmu bisa melihat lagi, pura2 buta aja bill....
Pujiastuti
semoga operasinya lancar dan Nabila dapat melihat kembali, lanjut kak semangaaaaaatttt💪💪💪
Shankara Senja
udah tau buta,udah tau mau pergi..titipin kek istrinya ke umi nya..
Rohmi Yatun
😭😭😭semoga selamat semuanya
Pujiastuti
semoga Nabila baik² aja dan semoga juga dengan kejadian ini penglihatan nabila pulih kembali
Pujiastuti
ad3m bangeeeettt sama pasangan ini apa lagi kalau lagi berdua, lanjut kak semangat💪💪
Pujiastuti
jadi ikut seneng juga sama kebahagiaan pasangan ini semoga kedepannya ngak ada masalah yang berat² ya kak author 🤭
Pujiastuti
ya Allah adem rasanya kalau semua suami seperti Hafiz tapi ngak mungkin juga 🤭
Pujiastuti
alhamdulillah Husna sudah ikhlas melepas Hafiz untuk Nabila
Rohmi Yatun
apakah didunia nyata ada yg begitu yaa🤔
Teh Fufah
sbegitu gampangnya husna memaafkan hafiz...
Pujiastuti
baru juga mulai menerima Hafiz sebagai suaminya sudah ada masalah baru lagi yang ternyata mantan tunangan Hafiz datang
Teh Fufah
wadidaw.... eng ing eng... deg2 an qolby ustadz.... pinisirin
Pujiastuti
alhamdulillah Nabila sudah mulai mendekatkan diri sama Hafiz
Nanik Arifin
pentingnya menyampaikan kabar dengan hati" & tenang apalagi hanya memalui telp. kita tdk tahu respon yg kita kabari spt apa, apalagi keadaan sdh sore & cuaca sd tak baik
Pujiastuti
maaf ya kak author kalau saya lambat baca kadang dalam sehari suka ngak ada waktu buat baca karena kesibukan didunia nyata 🙏🙏
Pujiastuti: sama² 🙏😊
total 4 replies
Rohmi Yatun
cerita yang luar biasa 👍
Rohmi Yatun
😭😭😭gak berhenti ni mataku mengalir terus airnya. .. sediihhh
Rohmi Yatun
nyesek banget sih.. 😭😭😭.. awal cerita dah bikin nangis bombay
mimma
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!