NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Gedung pencakar langit milik PT Medika Raya menjulang sangat tinggi membelah awan pagi ibu kota.

Di ruangan direktur lantai paling atas, seorang pria paruh baya bertubuh tambun duduk dengan angkuh di kursi kulit kebesarannya.

Pria itu adalah Hendra, Direktur Utama perusahaan farmasi raksasa yang terkenal sangat rakus dan kejam dalam berbisnis.

Pintu ruangan mewahnya terbuka lebar dan masuklah Maya yang kini sudah tidak lagi memakai seragam asisten apoteker.

Wanita agen rahasia itu berjalan cepat mendekati meja kerja Hendra dan meletakkan sebuah tablet digital di atasnya.

"Lapor Pak Direktur, saya sudah berhasil mendapatkan resep rahasia Pil Pemulih Vitalitas dari brankas utama klinik itu semalam," lapor Maya dengan nada bangga.

Hendra mengambil tablet digital itu dan menatap foto lembaran resep dengan mata menyipit tajam.

"Hanya campuran jahe merah, kunyit putih, dan temulawak biasa yang dipanaskan dengan rasio suhu bertingkat?" gumam Hendra meremehkan.

Tawa keras dan serak langsung meledak dari mulut direktur bertubuh tambun tersebut hingga perutnya berguncang.

"HAHAHA, aku pikir pemuda kampung bernama Rizky itu punya bahan rahasia langka dari luar negeri."

Hendra melempar tablet itu kembali ke atas meja dengan gaya sangat sombong.

"Ternyata dia hanya anak beruntung yang kebetulan menemukan teknik pemanasan suhu yang pas untuk mengekstrak bahan murahan ini."

Maya mengangguk setuju dan ikut tersenyum merendahkan target misinya tersebut.

"Mereka berdua sangat bodoh Pak Direktur, mereka bahkan menyimpan dokumen sepenting ini di brankas tua yang gampang dibobol."

"Bagus sekali kerja kerasmu Maya, bonus ratusan juta akan segera masuk ke rekening pribadimu siang ini," puji Hendra sangat puas.

Hendra lalu menekan tombol interkom di meja kerjanya untuk menghubungi kepala bagian riset dan produksi.

TIT.

"Halo bagian produksi, segera siapkan seluruh pabrik kita untuk memproduksi obat dari resep yang baru saja kukirimkan ke email kalian."

"Siap laksanakan Pak Direktur, berapa jumlah target produksi untuk kloter pertama kita kali ini?" terdengar suara balasan dari mesin interkom.

"Gunakan seluruh dana kas cadangan perusahaan, produksi satu juta botol hari ini juga agar kita bisa menenggelamkan produk Bintang Abadi di pasaran besok pagi."

KLIK.

Hendra mematikan interkomnya dan menatap pemandangan kota dari dinding kaca ruangannya dengan senyum penuh kemenangan palsu.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja memerintahkan perusahaannya untuk menelan racun bunuh diri yang sangat mematikan.

Sementara itu, pada malam yang sama saat Maya membobol brankas, Rizky sedang berdiri sendirian di tempat yang sangat gelap.

Ia berada tepat di depan gerbang besi raksasa yang sudah berkarat parah dan dipenuhi tanaman rambat liar.

Ini adalah lokasi pabrik kimia PT Nusantara Emas yang terbengkalai sesuai dengan alamat dari Bang Codet.

Bau menyengat amonia dan sisa limbah pabrik langsung menyerang rongga hidung Rizky dengan sangat kejam.

Rizky mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menutup hidungnya untuk mengurangi bau beracun tersebut.

Ia memasukkan kunci gembok berkarat itu ke dalam lubangnya dan memutarnya dengan sedikit tenaga ekstra.

KLAK.

Gembok besi itu terbuka dan jatuh ke tanah berdebu, memungkinkan Rizky untuk mendorong sebelah pintu gerbang yang berat.

KREEEK.

Suara engsel pintu gerbang yang sudah lama tidak digerakkan terdengar sangat nyaring dan menyeramkan di tengah keheningan malam.

Rizky menyalakan senter dari ponsel pintarnya dan mulai melangkah masuk ke dalam area pabrik yang luas dan terbengkalai tersebut.

Bangunan utama pabrik itu sudah hancur separuh dan banyak tong-tong besi berisi bahan kimia bocor berserakan di halaman.

Genangan air berwarna hijau kehitaman yang mengeluarkan gelembung-gelembung kecil terlihat memenuhi area belakang pabrik.

"Tempat ini benar-benar mimpi buruk bagi lingkungan hidup, tapi ini adalah surga yang sempurna untuk biji kutukan ini," gumam Rizky pelan.

Rizky berjalan hati-hati menghindari genangan limbah beracun itu menuju area pusat kubangan limbah yang paling besar dan paling pekat.

Tanah di sekitar kubangan itu sudah mati total, tidak ada satu pun rumput atau serangga yang bisa hidup dalam radius sepuluh meter.

Rizky berjongkok di tepi kubangan tanah beracun itu dan mengeluarkan kotak besi kecil dari saku jaketnya.

Udara di sekitar Rizky mendadak terasa turun beberapa derajat saat ia membuka tutup kotak besi tersebut.

Biji Teratai Es Kematian yang berwarna hitam legam itu tergeletak diam namun memancarkan hawa dingin yang sangat menusuk tulang.

"Baiklah sistem, mari kita lihat seberapa menakutkannya tanaman bencana legendaris ini," ucap Rizky memantapkan nyalinya.

Rizky memakai sarung tangan kulit yang tebal lalu mengambil biji kelereng hitam itu dengan sangat hati-hati.

Ia melempar biji itu tepat ke tengah gundukan lumpur beracun yang paling pekat di pinggir kubangan limbah.

BLUP.

Biji hitam itu tenggelam ke dalam lumpur beracun dan suasana di pabrik itu mendadak hening seketika.

Satu detik berlalu, lalu dua detik berlalu tanpa ada reaksi apa pun yang terjadi di sana.

"Apakah bijinya rusak karena terlalu lama disimpan di dalam kotak?" batin Rizky merasa heran.

Namun baru saja Rizky berniat maju untuk memeriksa, lumpur beracun di depannya tiba-tiba bergejolak sangat hebat.

BLUB BLUB BLUB.

Lumpur kehitaman itu seperti sedang mendidih dengan sangat cepat, namun bukan mengeluarkan uap panas melainkan kabut es yang sangat dingin.

WUSH.

Gelombang udara dingin yang luar biasa ekstrem tiba-tiba meledak dari titik tempat biji itu ditanam.

Kabut es berwarna kebiruan langsung menyebar ke segala arah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Rizky yang berada dalam jarak kurang dari lima meter terlambat menyadari betapa berbahayanya ledakan energi es tersebut.

Gelombang dingin itu langsung menghantam tubuh Rizky hingga membuatnya terpental mundur ke belakang sejauh dua meter.

BRUK.

Tubuh Rizky jatuh berguling di atas tanah berdebu, namun rasa sakit akibat benturan sama sekali tidak terasa olehnya.

Hal itu karena seluruh saraf perasa di kulitnya mendadak mati rasa akibat suhu udara yang merosot tajam di bawah titik beku.

KRETEK KRETEK.

Lapisan es tipis mulai terbentuk dan menyelimuti jaket, celana, hingga rambut di kepala Rizky dalam hitungan detik.

"Sialan, suhu ini bisa membekukan darahku hidup-hidup," umpat Rizky mencoba berdiri namun otot kakinya terkunci kaku.

Rizky bisa merasakan detak jantungnya mulai melambat drastis karena tubuhnya merespons suhu ekstrem yang mengancam nyawa ini.

Wajahnya mulai berubah pucat pasi dengan bibir yang membiru pekat seperti mayat yang disimpan di ruang pendingin.

Pandangan mata Rizky mulai kabur saat kabut es mematikan itu terus menekan suhu tubuhnya secara brutal tanpa ampun.

Di saat kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, tato daun hijau zamrud di dadanya tiba-tiba merespons ancaman fatal tersebut.

Tato itu bersinar dengan sangat terang hingga menembus lapisan es yang membeku di kemeja dan jaket Rizky.

WUSH.

Energi kehidupan yang sangat hangat dan murni meledak keluar dari dada Rizky, langsung membanjiri seluruh aliran darah di tubuhnya.

Hawa hangat yang dahsyat itu bertabrakan langsung dengan udara beku dari luar tubuhnya, menciptakan kepulan uap air yang tebal.

SST SST.

Es yang menyelimuti tubuh Rizky perlahan mencair dan menguap menjadi udara kosong.

Rizky langsung menarik napas panjang dengan rakus saat otot paru-parunya kembali bisa digerakkan secara normal.

HAAAH.

Ia terbatuk keras memuntahkan sedikit darah kotor dari mulutnya akibat pembuluh kapiler yang pecah karena perubahan suhu drastis.

Rizky berlutut di tanah sambil memegangi dadanya yang masih memancarkan cahaya hijau hangat penyelamat nyawa tersebut.

"Astaga, aku hampir saja mati konyol dibunuh oleh tanaman peliharaanku sendiri," napas Rizky tersengal-sengal menahan rasa ngilu di seluruh tulang rawan tubuhnya.

Ia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap ke arah kubangan limbah beracun tempat ia menanam biji tadi.

Pemandangan di depannya kini benar-benar membuat akal sehatnya sebagai manusia normal kembali diuji.

Seluruh kubangan limbah yang luas itu kini telah membeku total menjadi bongkahan es padat berwarna hitam.

Dan tepat di tengah bongkahan es beracun itu, tumbuh sebuah kuncup bunga teratai kristal yang memancarkan cahaya biru redup.

Ukurannya masih sangat kecil, hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa, namun aura mematikan yang dipancarkannya sangat nyata.

TING.

Kotak teks sistem holografis tiba-tiba muncul berkedip di depan wajah Rizky yang masih terlihat pucat.

[Peringatan Sistem: Tanaman Bencana Legendaris berhasil ditanam. Zona Berbahaya tercipta dalam radius lima meter.]

[Kondisi Teratai Es Kematian: Fase Pertumbuhan Awal. Menunggu penyerapan racun lebih lanjut untuk mekar sempurna.]

[Waktu perkiraan panen pertama: Tiga hari ke depan.]

Rizky membaca deretan peringatan sistem itu dan memaksakan sebuah senyum kecut di wajahnya.

"Hanya dalam fase awal saja benda ini sudah bisa membekukan satu kolam limbah dan hampir membunuhku."

"Aku tidak bisa membayangkan kehancuran macam apa yang akan terjadi jika bunga ini sampai mekar dengan sempurna nanti."

Rizky segera memaksakan kakinya yang masih sedikit gemetar untuk bangkit berdiri.

Ia memutuskan untuk segera menjauh dari zona mematikan ini sebelum energi liontinnya habis terkuras untuk melindunginya dari hawa dingin.

Rizky berjalan tertatih keluar dari area pabrik dan kembali menggembok gerbang besi raksasa itu rapat-rapat.

Mulai malam ini, pabrik kimia terbengkalai ini telah resmi berubah menjadi zona terlarang yang paling berbahaya di seluruh kota.

Rizky menatap gerbang besi itu untuk terakhir kalinya sebelum berbalik mencari jalan pulang menuju jalan raya.

"Medika Raya, kalian sebaiknya berdoa agar kalian tidak memaksaku untuk menggunakan senjata bencana ini pada kalian," gumam Rizky menembus gelapnya malam.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!