"Saya adalah seorang pelayan rendah di padepokan bukit bayangan yang terletak di pulau Tengkorak. Sebuah pulau kecil diseberang sana. Guru saya bernama supakerti. Saat saya diselamatkan oleh Tuan Muda, Kebetulan saya sedang dalam misi. Saya ditugaskan untuk menyusup kedalam Padepokan Haur Koneng." Endang Kusuma Gandawati memperkenalkan asal- usulnya.
Padepokan bukit bayangan? Puspita rasanya pernah mendengar nama itu. Salah satu Padepokan aliran netral yang cenderung membela kelompok aliran hitam.
''Tuan Muda benar, dengan menyusup bersama wanita ini besar kemungkinan akan ada petunjuk mengenai orang yang telah memfitnah Guru.'' Batin Puspita.
Menyusul kematian pimpinan Padepokan Giling Wesi, Tapak Wulung dari padepokan Pring Wulung telah dicelakai. Saksi mata menyebutkan pelakunya adalah Belibis Putih. Atau lebih tepatnya orang yang menyamar sebagai Belibis Putih. Bisa jadi pelakunya berasal dari Bukit Bayangan atau dari pulau yang sama. Mereka harus menyelidiki hal ini.
"Seandainya nona tidak menganggap ini sebagai beban, kami bersedia berkunjung ke padepokan nona." Jawab Mahesa menyetujui.
Kusuma Gandawati tersenyum lebar. Dia merasa tenang bisa berjalan bersama seorang pendekar hebat seperti Elang Putih.
"Kalau kita berangkat sekarang, sore nanti kita akan tiba di pelabuhan Tanjung, dari pelabuhan Tanjung dibutuhkan waktu satu malam berlayar hingga sampai di pulau Tengkorak." Kusuma Gandawati menjelaskan rute perjalanan yang akan mereka tempuh.
"Baiklah, saya rasa akan lebih baik jika kita tidak membuang waktu dengan berlama-lama disini. Murid Padepokan Haur Koneng pasti terus bergerak mencari nona."
Kusuma Gandawati setuju pada Mahesa. Mereka segera berangkat dengan menunggang kuda.
Perjalanan terasa lebih cepat. Matahari baru sedikit condong kearah barat ketika kuda yang ditunggangi mahesa tiba dikota Taba Tanjung.
"Tuan muda kita telah sampai dikota Taba Tanjung, sekitar satu jam berkuda kearah selatan, disanalah pelabuhan Tanjung yang saya maksud." Ucap Kusuma Gandawati dari atas kudanya.
Mahesa menganggukkan kepala. Dia menoleh kearah Puspita yang berkuda dibelakangnya. Gadis itu masih terlihat segar. Karena itu Mahesa memutuskan untuk beristirahat ketika mereka telah sampai di pelabuhan Tanjung.
Puspita merasakan hal itu. Dia sadar Mahesa selalu memperhatikan keadaannya. Walaupun senang, Puspita merasa tidak enak. Menurutnya Mahesa terlalu berlebihan. Puspita adalah seorang pendekar wanita sekaligus ahli informasi dikeluarga Belibis Putih, melakukan perjalanan jauh bahkan bertaruh nyawa sudah sering dijalani. Apa Mahesa yang memandangnya sebagai seorang gadis lemah atau memang Mahesa sangat perduli pada dirinya? Ah, Puspita segera menepis jauh-jauh pikiran itu. Dia hanya seorang pelayan kecil tidak pantas menilai apapun atas majikannya.
°°
Memasuki area pelabuhan, Mahesa memperlambat langkah kudanya. Jalanan sangat ramai. Masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri. Diantaranya banyak pula para pendekar yang sama sekali tidak Mahesa kenal.
Mahesa bisa melihat anggota Padepokan Haur Koneng tersebar menjadi beberapa kelompok. Mereka mengawasi setiap orang yang melintas. Jelas mereka sedang mengejar buronan, Pria kemarin malam yang gagal ditangkap. Namun sekarang pria itu sudah berubah menjadi seorang wanita cantik. Mana bisa ditemukan. Mahesa tersenyum geli.
"Nona, bukankah anda sering melintas disini? Bisakah kita mampir di kedai yang masakannya enak?" tanya Mahesa.
''Ah, laki-laki selalu memikirkan perut. Mana tahu berhemat.'' pikir Puspita.
"Kalian tenang saja, aku yang akan traktir." Ucap mahesa seolah membaca pikiran Puspita.
Endang Kusuma Gandawati membawa mereka kesatu kedai yang sangat ramai pengunjung. Kedai Cahaya Tanjung.
Mahesa dan Puspita saling pandang, di kejauhan mereka melihat beberapa orang ditandu. Sepertinya mereka baru terlibat pertarungan. Ya, mereka berjalan dari arah kapal yang belum lama bersandar. Jangan-jangan telah terjadi pertempuran di pulau Tengkorak. Yang paling mengejutkan, diantara banyak orang ada beberapa sosok yang Mahesa kenal. Meski dari jarak cukup jauh, bisa dikenali pedang yang mereka bawa menunjukkan mereka berasal dari Padepokan Rajawali.
"Darimana mereka?" bisik Mahesa pelan ke telinga Puspita, dia tidak ingin Kusuma Gandawati mendengar.
Puspita menggeleng, dia tidak memiliki informasi mengenai ini.
"Tuan muda, izinkan saya untuk menyelidiki." Jawaban Puspita.
Giliran Mahesa yang menggelengkan kepala. Andai kata tujuan mereka sama, tidak ada kata terlambat untuk pergi ke pulau Tengkorak. Mahesa meraih pundak Puspita menarik gadis itu segera memasuki kedai. Kusuma Gandawati yang sempat menoleh cuma tertawa kecil.
Di dalam kedai, banyak Pendekar yang membicarakan perihal Pusaka Legenda, Pedang Rembulan yang menjadi topik utama. Tidak sedikit juga yang membahas rentetan kekacauan yang belakangan menjadi momok mengerikan bagi setiap kelompok yang terlibat adu domba. Akankah beberapa tahun kedepan dunia tidak lagi ada kedamaian?
Suasana riuh rendah di dalam kedai mendadak sepi saat seorang lelaki tua masuk dan berteriak keras. Gaya bicaranya seperti orang tidak waras. Pelayan kedai dan beberapa orang pendekar berniat mengusir lelaki tua tersebut, tetapi setelah mendengar kalimat selanjutnya, mereka mengurungkan niatnya.
"Mustika Lintang kemukus !!! Mustika Lintang Kemukus telah muncul. Lintang Kemukus wetan melahirkan satu mustika sakti tanpa tanding. Di wetan (Timur) telah lahir mustika abadi pembawa perdamaian. Hahaha ...
Lintang Kemukus jangan sembunyi, tunjukkan dirimu dari balik karang. Ayo kawan-kawan kita tangkap bersama si Lintang bandel ini ... Aku bisa lihat dimana kamu sembunyi, kemarin malam memang gelap tapi jangan dikira aku tidak mengetahui kau datang secara diam-diam. hahaha ...."
Pendekar dan pengunjung lain membiarkan lelaki tua tersebut nyerocos mengenai Lintang Kemukus.
Lintang Kemukus dipercayai sebagai pertanda kejadian dimasa depan. Biasanya lintang kemukus wetan merupakan pertanda tidak baik, yaitu akan munculnya bencana besar atau huru-hara dan kekacauan yang bakal terjadi sepanjang tahun.
"Tuan Pendekar, kau harus hentikan bencana dan huru-hara dimasa depan. Kau harus membantuku menangkap mustika Lintang kemukus. Bukankah Tuan tahu, jika Lintang kemukus muncul pasti akan ada bencana besar maka dari itu bantulah aku hentikan bencana." Lelaki tua mendekat dan menunjuk kearah Mahesa.
Mahesa merupakan satu-satunya pengunjung yang tidak tertarik mendengar cerita orang yang dianggapnya gila tersebut.
Saat Mahesa tidak bereaksi apapun, lelaki tua mengulurkan tangan hendak menyentuh Mahesa. Dengan cepat Mahesa menghalangi tangan itu dengan guci arak. Seolah menghadiahkan arak pada pria tua.
"Minumlah, arak ini sangat menyegarkan." Ucap Mahesa sambil senyum.
"Bocah gemblung, aku tidak minta arak. Aku mau menawarkan kerjasama, jika kau terima tawaran kerjasama ini, Lintang kemukus akan jadi milikmu. Buka pikiranmu!!!" bentak lelaki tua.
Puspita bangkit lalu menarik lelaki tua menjauh dari Mahesa.
"Jaga sikap Anda pak tua, Apa Anda tidak dengar Tuan Muda tidak tertarik dengan tawaran konyol itu. Sekarang pergilah! Cari orang lain." Wajah Puspita memperlihatkan ekspresi tidak senang.
Lelaki tua memandangi Puspita beberapa saat lalu terkekeh. "Hehehe ... Kau hanya seorang pelayan rendah, sebaiknya kau yang diam. Aku ada bisnis dengan Tuan Muda-mu. Aku yakin, setelah dia tahu apa yang ada di otak ku, dia akan setuju." Lalu lelaki tua kembali mengajak bicara Mahesa.
"Tuan Muda, ayahmu sungguh sangat menyayangimu, dia takut kau kelelahan jadi menyertakan dua pelayan yang sangat cantik. Untuk sekedar membantu kau berganti pakaian. Hehehe!!!" Lelaki tua kembali terkekeh hingga memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Jaga mulut Anda pak tua !!! Jangan salahkan ...." Bentakan Puspita terhenti ketika tangan Mahesa meraih pundaknya.
Mahesa maju menghampiri lelaki tua lalu menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
"Saya menganggap kata-kata Tuan sebagai pujian. Terimakasih juga atas tawaran yang Tuan berikan. Sungguh saya tidak bisa untuk menolaknya. Akan tetapi, saya tidak punya cukup kemampuan untuk bergabung bersama Tuan. Kemampuan ilmu beladiri saya sangat rendah. Tidak pantas bersanding dengan Tuan yang begitu hebat. Sekali lagi saya minta maaf. Mohon tuayn untuk sudi memberi saya muka."
Lelaki tua itu terbelalak. Kemudian dia tertawa lagi. "Hahahaha!! Tuan Muda, kau terlalu memuji. Apa kau yakin dengan keputusanmu barusan? Kau menolak bergabung denganku dan memilih kedua pelayanmu itu?"
"Saya banyak belajar dari mereka, mohon Tuan memaafkan jika kami ada kesalahan." Jawab Mahesa masih berbasa basi.
"Huh ,,, sayang sekali, kau membuang kesempatan emas. Apa kau tidak memikirkan hari dimana kau akan jadi terkenal ? Hari dimana semua orang memujamu? Bukan kedua pelayan itu saja." Lelaki tua menujuk kearah Puspita dan Endang Kusuma Gandawati.
Mahesa kembali tersenyum. "Tuan. Yang saya tahu, dunia itu cuma tiga hari. Pertama hari kemarin, adalah kenangan yang tak akan terulang. Lalu besok, yaitu hari yang masih misteri berisi harapan dan cita-cita. Dan yang terakhir adalah hari ini, waktu dimana kita melakukan hal yang akan dipertanggung jawabkan."
Lelaki tua terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa tidak akan bisa menaklukkan pemuda dihadapannya.
"Baiklah aku akan pergi. Biar kucari pemuda pemberani lain yang bersedia membantu menemukan Lintang Kemukus." Lelaki tua membalikkan badan lalu melangkah pergi.
"Terimakasih araknya Tuan Muda!!!" serunya setelah jauh.
Mahesa mengangguk seraya memberi hormat. Tingkahnya memancing puluhan pasang mata yang ada dikedai memandang tidak berkedip kearah pemuda bertopeng perak tersebut.
"Tuan muda, Anda memperlakukan orang gila dengan terlalu berlebihan." Protes Puspita.
Mahesa hanya tersenyum, tangannya mempersilakan Puspita untuk kembali duduk.
Suasana kedai kembali ramai, sekarang mereka membicarakan kabar kemunculan mustika Lintang Kemukus yang baru didengar. Konon, lelaki tua tadi sangat misterius. Kemunculan dan kepergiannya seakan bagai angin.
Mahesa menggelengkan kepalanya, dia merasa aneh pada orang-orang dunia persilatan. Mengapa bisa mempercayai kabar burung yang belum tentu kebenarannya. apalagi yang menyebarkan adalah orang gila. Sangat lucu jika orang waras harus percaya pada orang gila.
°°
Matahari masih cukup tinggi saat kapal yang ditumpangi Mahesa mulai meninggalkan pelabuhan Tanjung.
Kapal yang cukup besar itu bermuatan penuh. Sepertinya Pulau Tengkorak sangat ramai dan tidak semengerikan namanya. Selain para pendekar, pedagang juga sangat banyak berniaga menuju pulau itu. Semoga saja, cuaca mendung tidak menyebabkan badai dalam pelayaran dimalam hari nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Wedus Gembel
jangan pernah berhenti
2022-03-21
2
Wedus Gembel
semakin menarik cerita nya ada bumbu filosofi kehidupan di setiap chapter nya. penulis keren nih
2022-03-21
2
Wedus Gembel
orang gila ini pasti pendekar yang tau kehebatan Mahesa walaupun ditutupi
2022-03-21
2