Mahesa diikuti Puspita terus berlari berlompatan dari atap ke atap hingga tiba di pinggiran kota. Mereka mencari tempat yang tinggi agar leluasa mempelajari keadaan.
Mata Mahesa menangkap bayangan seorang berlari sambil bersembunyi di balik pepohonan. Seorang Pria berbadan langsing. Usianya sepantar dengan Puspita. Dia berusaha lolos dari pengejaran.
Dilihat dari pakaian yang dikenakan, sepertinya dia orang biasa. Pelayan warung makan atau sejenisnya. Mengapa dia begitu diburu?
"Apa mungkin dia murid padepokan lain yang menyamar?" gumam Mahesa.
Puspita baru mengetahui posisi orang yang dimaksud Mahesa. Puspita menelan ludah, dia menyadari kemampuan tuannya jauh berada diatas dirinya.
"Dia disini ... !!!" terdengar suara teriakan nyaring.
Na'as bagi pria langsing itu, akhirnya dia ditemukan. Tiga orang yang sepertinya pimpinan kelompok bergerak mendekat.
"Kau sudah dikepung, keluarlah !! dan serahkan diri baik-baik. Atau aku akan mencincang tubuhmu untuk dijadikan makanan peliharaan." Ucap salah seorang pimpinan dengan suara keras.
Tidak punya pilihan lain, pria langsing terpaksa keluar. Baru beberapa tindak dia berjalan, lebih setengah lusin murid Padepokan langsung menyergap.
Dengan terpaksa dia melawan. Pertarungan tidak terelakkan. Pria itu sadar dia tidak mungkin selamat. Dia mengerahkan seluruh Kemampuan yang dimilikinya. Satu persatu murid Padepokan rubuh, namun tidak sedikit pula pukulan tongkat mengenai tubuhnya.
Tiga orang pimpinan kelompok padepokan bergerak melepaskan pukulan. Ilmu Kanuragan yang dimiliki pria langsing tidak terlalu tinggi. Dia hanya mampu bertarung imbang satu lawan satu, menghadapi tiga pimpinan sekaligus membuat dia menjadi bulan-bulanan. Darah segar telah mengalir dari bibir dan hidungnya.
Tubuhnya kembali menerima pukulan keras membuat dia tidak mampu menjaga keseimbangan. Melihat ada celah besar, pimpinan lain melepaskan tendangan tepat mengenai perut. Pria langsing terjajar kebelakang. Tubuhnya terhempas keras ketanah. Dia mencoba bangkit akan tetapi tenaganya tidak cukup banyak. Dia hanya bisa memejamkan mata saat seorang pimpinan melepaskan pukulan tapak mengarah ke wajahnya. Pukulan tapak disertai tenaga dalam itu pasti mampu meremukkan wajahnya.
"Akh ... Akh ... Akh... Bugh ... Bugh ... Bugh..." Terdengar teriakan tertahan diiringi suara benda jatuh.
Pria langsing membuka sebelah matanya yang sayu. Dia bisa melihat tiga pimpinan yang menghajarnya telah tersungkur tidak sadarkan diri. Begitu juga dengan murid-murid yang tadi mengeroyoknya.
Yang tersisa hanya seorang pria gagah mengenakan topeng perak diwajahnya. Pria langsing tidak mengenali bahwa pemuda yang menolongnya adalah Mahesa.
Mahesa yang sejak tadi menyaksikan pertarungan terpaksa ikut campur. Dia tidak bisa membiarkan seorang yang sudah tidak berdaya dicelakai seperti binatang.
Sambil melayang mendekat, mahesa mengibaskan tangannya, mengeluarkan pukulan jarak jauh. Seekor burung elang berwarna putih melesat dengan kecepatan cahaya menghempaskan tubuh para pengeroyok pria langsing.
"Uhuk...uhuk...uhuk... Terimakasih Tuan." Ucap pria langsing lemas, dia kehilangan hampir seluruh tenaganya.
"Beri dia air" Mahesa menoleh pada Puspita.
Puspita segera meminumkan beberapa teguk air.
Mahesa mengalirkan tenaga murni agar pria itu bisa bertahan dari luka dalamnya. Tangan mahesa menekan tepat diatas jantung saat hendak proses mengalihkan tenaga dalam. Namun, tangannya merasakan hal yang berbeda.
Mahesa terkejut dengan cepat dia menarik kembali tangannya. Puspita yang memperhatikan terlihat heran, Puspita sudah membuka mulut hendak bertanya, namun batal saat Mahesa lebih dulu berbicara.
"Kau seorang wanita?" wajah Mahesa terlihat berubah ketika menyadari tangannya menyentuh sesuatu yang hanya dimiliki wanita. Namun Puspita lebih terkejut lagi, bagaimana bisa? Dia menelan ludah. Berharap tebakan Tuannya salah.
Pria langsing itu tidak bisa mengelak lagi, kecuali mengiakan. Percuma saja dia beralasan, bagaimana jika pemuda itu membuka pakaiannya?
Mahesa belum sepenuhnya percaya, dia menggunakan Ilmu Mata Naga, namun tidak menemukan suatu ilusi ataupun ilmu perubahan wujud yang digunakan si wanita.
Ilmu Mata Naga milik Mahesa merupakan ilmu deteksi tingkat paling tinggi. Dengan sekali lihat, mampu mengetahui batas kemampuan ilmu Kanuragan seseorang. Bisa mengenali siluman yang menyamar bahkan dapat menembus Ilmu Manglih Rupa tingkat paling tinggi sekalipun.
Ilmu Manglih Rupa ialah ilmu untuk mengelabuhi musuh. Ilmu tipuan mata atau bisa digolongkan dalam ilmu ilusi nyata. Kemampuan ilmu ini bisa membuat pemilik ilmu berubah menjadi siapa dan apa saja. Asalkan pemilik ilmu pernah melihat atau bertemu langsung maka dia bisa membuat wajah dan tubuhnya menjadi mirip orang yang dikehendakinya. Bahkan suarapun bisa berubah. Keakuratan ilmu ditentukan oleh seberapa tinggi penguasaan pemilik atas ilmu manglih rupa.
"Kalau begitu, Tunjukkan wajah asli Nona" pinta Mahesa.
Dengan satu tangan wanita tadi meraih sisi wajah sebelah kanan tepat dibawah telinganya. Dengan sekali tarik topeng yang dia kenakan terlepas. Wajahnya kembali berubah seperti sedia kala. Pria tadi menjadi wanita cantik. Mahesa menyipitkan mata. Sangat mudah, dengan kemampuan yang dia miliki untuk membuka topeng seperti itu. Dia akan mengingat dan lebih berhati-hati untuk masa depan. Pria bisa berubah menjadi wanita begitu juga sebaliknya.
"Siapa nama nona ?" tanya Mahesa.
"Endang Kusuma Gandawati" jawab gadis itu lemah. Mahesa memegang pundak endang, lalu mengalirkan tenaga dalam.
Wajah Endang kusuma Gandawati berubah menjadi sedikit cerah. Dia juga memiliki tenaga lebih untuk sekedar menggerakkan badan.
"Nona, sebaiknya Nona ikut kami. Di seluruh kota banyak orang-orang mencari Nona."
Mahesa melirik gadis itu dan Puspita. Keduanya sama-sama mengangguk.
"Tuan Muda, kita tidak bisa terlalu lama berjalan. Saya khawatir Nona ini tidak bisa bertahan." Bisik Puspita Dewi.
Mahesa menyetujui. Mereka harus menggunakan cara yang sama seperti saat mereka berangkat. Tubuh Endang Kusuma Gandawati terpaksa dibopong.
Endang Kusuma Gandawati terbelalak saat dia merasakan tubuhnya melayang di udara, melompat dan berlari cepat di atas atap. Dia menikmati penerbangan pertamanya.
Pria bertopeng perak membopong tubuh Endang. Membuat wajah mereka begitu dekat. Pasti seraut wajah tampan tersembunyi dibalik topeng itu. Endang Kusuma Gandawati tersenyum sebelum tidak merasakan apapun lagi. Dia pingsan.
Saat membuka matanya, Endang Kusuma Gandawati merasa sangat hangat. Kepala dan tubuhnya sudah tidak terasa sakit.
"Dimana aku ... " Ucapannya dengan suara lemah.
Seorang laki-laki paruh baya mendekat.
"Oh, kiranya kau sudah bangun ,,, tenanglah Kau berada ditempat yang aman." Jawab pria itu dengan lembut. Dia menyodorkan semangkuk herbal hangat.
"Minumlah ,,, kau akan merasa lebih baikan."
Endang Kusuma menerima obat itu dan langsung meminumnya. Rasanya pahit dan tidak enak di lidah.
"Hehehe ... Obat memang tidak enak, tapi percayalah ini obat terbaik. Enak dan tidak hanya sebatas panjangnya lidah, akan tetapi khasiatnya dirasakan seluruh tubuh. Oh ya Namaku tabib Wang Yin. Kau bisa memanggilku Tabib Wang. Sekarang istirahat lah, kau kehilangan banyak tenaga."
Tabib Wang kembali ketempat duduknya semula. Dia kembali meracik obat.
Dari perawakan dan namanya, tabib Wang Yin jelas bukan bangsa pribumi. Dia berasal dari negeri jauh. Negeri Tirai Bambu. Akan tetapi dengan kemuliaan hatinya, dia bersedia menolong orang-orang dan menjadi Tabib.
Endang Kusuma Gandawati memandang berkeliling, dia tahu tempat itu bukanlah tempat praktek tabib, melainkan lebih mirip penginapan. Kusuma Gandawati mengingat sebelum pingsan dia diselamatkan oleh sepasang pendekar yang membawanya terbang. Lalu dimana mereka sekarang??
Kusuma Gandawati duduk dipembaringan. Hari masih pagi. Tabib Wang masih meracik beberapa obat. Saat itulah pintu kamar terbuka, dua orang masuk membawa beberapa bungkus makanan. Seorang pria bertopeng perak dan seorang lagi gadis muda yang cantik.
"Ya, mereka yang menyelamatkan ku semalam. Dihari terang, pria ini terlihat sangat gagah." Batin Endang Kusuma Gandawati seraya tersenyum.
Kedua orang yang baru datang pun tersenyum kearahnya.
"Tabib Wang, bagaimana keadaan nya?" tanya Mahesa.
Tabib Wang tertawa ringan sebelum menjawab. "Jangan khawatir Tuan Muda, sahabat Anda baik-baik saja. Setelah mengkonsumsi obat yang telah saya racik ini, kondisinya akan kembali pulih." Tabib Wang menyerahkan beberapa bungkus ramuan.
"Terimakasih Tabib Wang, saya merasa sangat berhutang budi."
"Tuan Muda terlalu sungkan. Sudah merupakan kewajiban saya sebagai seorang Tabib."
Mahesa memberikan beberapa kepeng perak. Tabib Wang hanya menerima bayaran seharga ramuan obat-obatan saja.
"Tuan Muda, maaf. Saya harus kembali. Saya takut banyak pasien saya sudah menunggu ditempat praktek." Tabib Wang mohon diri.
"Terimakasih Tabib Wang, saya minta maaf telah mengganggu waktu tidur Anda."
Tabib Wang tertawa kecil, dia mohon diri lalu meninggalkan penginapan.
"Terimakasih, Tuan dan Nona Pendekar telah menyelamatkan nyawanya saya. Saya berhutang besar pada kalian berdua."
Setelah selesai makan mereka bertiga masih duduk didalam penginapan.
"Saya tidak pantas menerimanya. Sebenarnya saya malu, melakukan sesuatu demi mendapatkan sesuatu. Akan tetapi saya perlu tahu mengenai diri Anda." Mahesa tidak berbasa basi.
Endang Kusuma Gandawati sudah bisa menduga. Dia kemudian tersenyum.
"Mengenai penyamaran saya?"
Tanya Kusuma Gandawati kemudian.
Mahesa mengangguk.
"Tuan Pendekar mungkin heran, dengan kemampuan tinggi yang tuan miliki, Anda tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang perempuan. Saya menggunakan tehnik penyamaran tidak seperti Ilmu Manglih Rupa. Saya menggunakan topeng sebagai sarana. Tehnik yang akan mudah Tuan Muda temui di Padepokan kami."
"Bertemu dengan Nona merupakan suatu anugerah bagi saya. Saya bisa belajar banyak, pengetahuan saya masih terlalu cetek mohon Nona sudi membimbing."
"Ah, Tuan Muda terlalu merendah. Saya tahu Tuan Muda adalah pendekar hebat. Jika Tuan dan Nona Pendekar tidak keberatan, saya bersedia mengajak Tuan untuk singgah kepadepokan kami. Guru saya pasti senang bisa bertemu dengan kalian."
"Apa nama Padepokan Nona?" tanya Puspita penasaran. Dia belum pernah mendengar ada Padepokan yang mengajarkan ilmu penyamaran dengan bebas. Biasanya ilmu seperti itu hanya dimiliki oleh kalangan khusus. Apa jangan-jangan wanita ini seorang mata-mata?
'Sekarang aku tahu mengapa Tuan Muda Elang Putih bersikap baik. Yah, semoga saja ini merupakan satu petunjuk.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Garuda Phoenix
like...
2022-04-05
1
Wedus Gembel
lanjutkan lanjutkan
2022-03-21
2
Wedus Gembel
lanjutkan lanjutkan lanjutkan
2022-03-21
2