Sementara Belibis Putih masih berada di Padepokan, keseharian para ketua kembali normal. Rumah Wakil Pimpinan Kolo Ireng kembali sepi pengunjung. seperti biasanya, Galih juga tidak ikut serta dalam apel pagi.
Dia malah berniat menemui Mahesa.
"Maaf, Nyonya. Tuan Muda Elang Putih sedang tidak ada di rumah." Seorang pelayan yang disuruh menyampaikan surat melapor.
"Apa?! Pergi kemana dia?" tanya Galih terkejut.
Pelayan itu terlihat sangat ketakutan.
"Ampun, nyonya. Hamba tidak mengetahuinya."
Galih mengibaskan tangannya memerintahkan pelayannya untuk segera pergi.
"Pemuda itu sangat aneh. Aku semakin penasaran. Sejauh mana dia bisa bertahan. Hhhh Elang Putih, suatu hari nanti kau pasti akan bertekuk lutut memohon cinta ku. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang."
Galih memandangi botol kecil ditangannya. Senyumnya mengembang, dia larut dalam hayalan.
Malam itu, Mahesa terlihat sangat gagah, topeng perak yang ia kenakan mengkilap terkena sinar rembulan. Galih yang sedang menanti segera bangkit menyambut kedatangannya.
"Dinda. Maaf, kanda datang terlambat."
"Kanda .... " Galih berlari memeluk Mahesa.
"Setiap detik yang berlalu membuat kerinduan semakin besar. Sampai cinta berkarat aku tak mungkin hianat. Sampai nafasku tersumbat aku tetap berharap. Kanda Elang Putih, dermaga hati ku hanya menunggu kapal cintamu berlabuh."
"Oh dinda ...." Mahesa tersenyum bahagia. Sekali lagi mereka berpelukan.
"Kanda, boleh dinda minta satu hal ?"
"Apa itu ? Kanda pasti akan penuhi meski nyawa kanda rela demi dirimu."
"Benarkah yang kau ucapkan?"
Mahesa mengangguk, "Katakan jangan ragu."
"Boleh dinda membuka topeng mu? Selama ini dinda belum pernah melihat ketampanan wajah kanda."
Mahesa mengangguk. "Silahkan dinda."
Dengan hati berbunga-bunga Galih segera membuka topeng diwajah mahesa.
"Cling ...."
Sosok itu mendadak berubah. Kumis dan janggut telah memenuhi wajahnya. Usianya meningkatkan tiga kali lipat.
Seorang kakek tua berdiri dihadapan Galih. Galih terbelalak heran mulutnya terbuka namun tidak bersuara.
Pria dihadapannya sama terpana. Untung saja, Galih segera mendapatkan kesadarannya kembali.
Tabib Mansyur berdiri mematung.
"Oh, tabib Mansyur, ada perlu apa kiranya tabib bersedia menemui saya."
"A... A... Aku hanya ingin memastikan kesehatan nyonya." Jawab Tabib Mansyur terbata-bata.
Galih tersenyum manis. Dia segera mempersilakan Tabib Mansyur untuk masuk.
''Suatu saat nanti, mungkin tabib tua ini bisa berguna.'' Batin Galih.
°°
Belibis Putih akan segera berangkat, dia telah banyak merotasi kedudukan para pendekar hebat di Padepokan. Jika memang terjadi hal yang tidak diinginkan, Belibis Putih yakin orang-orang kepercayaannya mampu menanggulangi. Sebenarnya dia sangat berat hati meninggalkan Padepokan, sebagai pemimpin seharusnya dia menjaga keamanan semua anggota Padepokan.
"Kakang, percayakan keamanan padepokan pada kami. Lakukan hal yang kakang anggap perlu, kami akan selalu mendukungmu." Braja Geni menyemangati.
"Benar ketua, kepergian ketua bukan untuk hal yang sia-sia. Kami siap pertaruhkan nyawa jika ada yang berani mengganggu padepokan. Pedang perak akan selalu berada dibelakang ketua."
"Benar ketua, hilangkan keraguan dihati Anda. Lakukanlah dengan penuh keyakinan. Lepaskan semua beban agar ketua bisa melangkah dengan ringan."
Belibis Putih tersenyum bangga. Setelah diam sejenak dia akhirnya berkata.
"Kepergian ku tidak akan lama. Jika dalam dua pekan aku tidak berhasil, aku akan pulang. Jika mendesak, aku akan lebih mementingkan Padepokan Rajawali, jangan ragu untuk mengirim pesan."
"Kami siap menjalankan perintah." Semua menjawab bersamaan.
"Selamat tinggal. Jaga diri kalian baik-baik." Belibis Putih melompat keatas kudanya lalu memacu dengan kencang menuju Padepokan Giling Wesi.
°°
Sementara itu, Mahesa dan Puspita Dewi telah jauh meninggalkan lereng Rajawali. Mereka memacu kuda menuju arah selatan. Senja menyapa keduanya saat memasuki kawasan kota pelabuhan.
Mahesa merasa bersalah saat melihat Puspita Sangat kelelahan. Sudah hampir satu pekan mereka memacu kuda setiap sehari penuh tanpa henti, paling berhenti sekedar makan dan minum.
"Puspita, kita menginap disini. Ayo turun dari kudamu." Mahesa melompat turun dari kuda lebih dulu, lalu dia mengulurkan tangannya kearah Puspita.
Puspita jadi bingung, dia tidak berani meraih tangan Tuan Muda-nya. Puspita memutuskan untuk turun sendiri. Mahesa menggaruk kepalanya lalu tersenyum.
Seorang pelayan penginapan menuntun kuda mereka menuju tempat tambatan.
"Pak, kami pesan dua kamar dan tolong beri kuda kami makan dan minum."
"Baik Tuan Muda. Mohon menunggu, kami akan segera siapkan."
Tiba-tiba saat pelayan lain muncul, wajah pelayan tadi jadi pucat.
"Mohon maaf, Tuan Muda. kamar lain sudah penuh, penginapan ini hanya menyisakan satu kamar. Mohon ampuni atas kesalahan kami. Sebagai ganti, kami akan sediakan arak secara cuma-cuma." Pelayan itu memohon dengan ketakutan.
Mahesa melirik Puspita yang mengekor dibelakangnya. Dia tidak mungkin kembali mengajak Gadis itu berjalan untuk sekedar mencari penginapan. "Baiklah, satu kamar tidak masalah."
"Terimakasih atas kemurahan hati Tuan Muda, mari saya antar."
Mahesa mengangguk, sementara Puspita diam saja. Wajahnya tidak menunjukkan apapun. Dia hanya mengikuti kata majikannya.
"Silahkan kau bersihkan tubuh lebih dulu." ucapa Mahesa ketika mereka tiba di kamar.
"Tapi Tuan Muda ...." Belum selesai Puspita bicara, Mahesa menggerakkan kepalanya, membuat Puspita langsung mengangguk.
"Saya akan menunggu di luar, mana tahu pelayan tadi mengantarkan arak." Mahesa melangkah keluar.
Puspita memandang punggung majikannya sampai hilang di balik daun pintu. Apa setiap laki-laki itu sama? Bedanya sama perempuan, laki-laki akan lebih baik tidak mandi yang penting makan dan minum, sementara perempuan lebih memilih tidak makan dan minum yang penting mandi. Puspita tersenyum sendiri. Ini adalah kali pertama dia melakukan perjalanan bersama Mahesa.
°°
Warna jingga senja mulai meredup, pekatnya malam merangkak perlahan menyelimuti alam semesta. Burung-burung terbang kembali ke sarang. Berganti suara binatang malam samar terdengar dari kejauhan. Malam itu, cuaca mendung hingga suasana terasa sangat gelap sekali. Tidak ada lagi pedagang yang melintas dan para petani yang pulang dari ladang, jalanan menjadi sepi. Namun suasana penginapan tempat Mahesa menginap masih tetap ramai. Terlebih penginapan tersebut menyiapkan lesehan untuk makan dan bersantai.
Mahesa bersama pelayannya bergabung bersama pengunjung yang lain. Mereka tidak tampak seperti pendekar. Selain tidak membawa pedang, pakaian mereka tidak menunjukkan berasal dari padepokan manapun. Penutup wajah yang dipakai mahesa hanya topeng biasa dan tidak mencolok, berwarna perak. Yang Orang tahu, wajah dibalik topeng itu sangat tampan. Mereka akan mengira bahwa pemilik wajah menyembunyikan bekas luka atau tanda lahir.
Puspita Dewi terlihat sangat canggung. Dia tidak terbiasa atau belum terbiasa saja. Dia merasa kelasnya tidak setara. Sementara Mahesa memperlakukan nya dengan begitu istimewa.
"Apa kau melihat ada anggota Padepokan disini?" tanya Mahesa.
Puspita menggelengkan kepala.
"Tidak ada Tuan Muda. Rata-rata mereka para pedagang jauh dan sebagian adalah saudagar. Mereka yang duduk disudut sana adalah pejabat pemerintahan kota." Puspita menunjuk satu persatu orang yang hadir.
Mahesa tidak banyak mengetahui, selama empat tahun bergabung bersama Padepokan Rajawali dirinya belum pernah melakukan perjalanan jauh. Belibis Putih tidak mengizinkan mahesa terlibat dalam misi. Perjalanan terjauh yang pernah mahesa tempuh hanya Padepokan Giling Wesi dan Padepokan Walet Merah. Sekarang Mahesa menempuh perjalanan dengan arah yang berbeda, tentu dia sangat mengandalkan pengetahuan pelayannya.
"Apa di kota ini ada padepokan?" tanya Mahesa lebih lanjut.
"Yang saya ketahui ada tiga padepokan Tuan Muda. Namun dua Padepokan tidak terletak dalam kota. Jaraknya sekitar dua sampai tiga jam dari sini. Tapi celakanya, tiga Padepokan ini sering berselisih paham. Mereka selalu terlibat perebutan murid baru berbakat."
Mahesa manggut-manggut. Kemudian menengadah langit. Gelap. Meski purnama telah berlalu, Seharusnya rembulan masih bersinar. Tapi tidak untuk malam ini. Yang tersisa hanya satu bintang itupun timbul tenggelam tersapu awan.
"Apa kau tahu mengapa bintang itu masih menampakkan diri walaupun teman-temannya tiada? Rembulan pun tidak bersedia menemani." Tanya Mahesa.
Puspita Dewi melihat kearah langit. Tanpa mereka sadari, mendengar pertanyaan Mahesa itu, beberapa tamu lain ikut memandang langit. Mereka juga menemukan satu bintang yang masih bersinar ditengah mendung.
"Tuan Muda, bintang-bintang yang lain tidak pernah meninggalkan bintang itu sendiri. Meski dalam gelap mereka tetap menjadi bintang. Penyebabnya adalah mendung. hingga mereka tidak bisa memberi keindahan pada dunia. Begitu juga dengan rembulan. Meski bumi melupakan malam ditengah siang, rembulan tidak pernah berhianat pada bumi, walau bulan tidak selalu purnama, dia akan tetap menjanjikan purnama pada kesempatan berikutnya. Rembulan tidak pernah ingkar."
Padahal Jika mendung begini tentu mereka tidak terlihat. Lalu mengapa mereka masih harus setia pada bumi?
Mahesa tersenyum mendengar jawaban Puspita diam-diam dia mengagumi kepandaian pelayannya itu.
Mahesa mencoba merenungkan satu bintang yang masih bersinar itu. Mendung ? Ah bukankah akan menjadi baik jika telah berubah jadi hujan?
Mendung hanya proses, kebaikan akan terlihat karena adanya kejahatan. Keduanya merupakan pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Dunia selalu terbagi dalam dua bagian yang berlawanan namun merupakan pasangan. Semua sangat sulit dibedakan.
"Kejaaarr!!! Kejaaarr!!! tangkap!!!" terdengar kegaduhan dari luar penginapan. Jalanan kota depenuhi obor dan orang berlarian. Dari pakaiannya menunjukkan mereka berasal dari padepokan. Tidak ditempat itu saja, hampir seluruh jalan kota ada anggota Padepokan yang melakukan pengejaran. Pencuri yang mereka kejar pasti bukan orang sembarangan.
Mahesa dan Puspita keluar untuk memastikan kejadian yang sebenarnya. Ketika merasa aman dari mata penduduk, mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh, berlompatan dari atap keatap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 312 Episodes
Comments
Teddy
,
2022-10-11
1
Thomas Andreas
puitis banget puspita
2022-04-21
0
Wedus Gembel
jangan pernah berhenti
2022-03-21
2