🍀 CEACIL ATAU RATIH 🍀
Mentari pagi mulai terbit dan semakin teri, seiring laju jam yang tak dapat dihentikan. Ningsih mengabaikan chat di gawainya. Chat dari Satria, lelaki elite nan tampan yang kemarin menemani perjalanannya.
Satria: [Hai, Miss! Good morning.]
Satria: [Belum bangunkah, Sisy?]
Satria: [Bagaimana rencana kita hari ini? Saya menunggu kabar selanjutnya.]
Satria: [Sisy, are you right?]
Satria: [Jika pukul sepuluh tak dibalas, saya akan ke rumah ponakanmu.]
Satria: [Ok Sisy, kau membuatku khawatir!]
Deretan chat dari Satria memenuhi notifikasi layar handphone Ningsih. Ningsih takut membalasnya karena Bima sudah tegas meperingatinya.
"Santi, kalau teman Tante ke sini, tolong bilang Tante sudah pergi, ya. Jangan bilang Tante di sini. Ok?" ucap Ningsih kepada Santi.
"Loh, kenapa Tante? 'Kan cowok kemarin keren banget!" tanya Santi yang penasaran.
"Udah, anak kecil nggak usah tanya-tanya. Lakuin aja yang Tante bilang. Nanti Tante tukar tambahin mobilmu dengan keluaran terbaru, deh." bujuk Ningsih.
"Wuaaa ... janji, ya, Tante! Ok deh Santi bilang gitu." sahut Santi yang mengedipkan satu matanya, tanda setuju.
Ningsih selalu mempunyai cara untuk mengelabui orang lain. Terlebih saat ini, Ningsih belum tenang dengan hadirnya sosok Bayu di setiap mimpinya.
Beberapa kali Satria menelepon Ningsih. Namun, tak sekalipun Ningsih mengangkat atau membalas chatnya.
"Gila nih orang! Nggak nyerah gitu. Ah mending aku jalan-jalan ke malioboro sama Santi dan Reno." Ningsih berkata dalam hatinya, tidak ingin melewatkan kesempatannya di Yogyakarta.
"Santi, Reno, ayo kita jalan-jalan ke Malioboro! Tante traktir sepuasnya. Mau beli apa, hayuk boleh!" seru Ningsih bersemangat.
"Ayo, Tante!" sahut Santi dan Reno bersamaan.
Mereka lekas berganti pakaian dan menuju mobil Agya silver milik Santi, peninggalan alm. Ratih. Ningsih yang menyetir.
Ningsih lupa sesuatu! Mobilnya ada di parkiran Restu Hotel & Resto Semarang (milik Satria). Ningsih pun tak mau bingung memikirkan hal itu. "Nanti dipikir nanti!" batinnya.
***
Setelah mereka puas jalan-jalan, bermain di timezone, shopping bareng, Ningsih pun mengajak mereka ke showroom mobil.
"Nah, sesuai janji Tante, pilih aja mobil yang mana Santi mau." ucap Ningsih dengan mantab.
"Serius, Tante? Ah, keren banget Tanteku ini." kata Santi sambil melonjak kegirangan dan mencium pipi Ningsih serta memeluknya hangat.
"Tante, Reno mau donk motor sport biar keren!" ucap Reno yang ikut merengek meminta hadiah.
"Tentu boleh. Tapi ... nunggu Reno usia tujuh belas tahun dulu, ya. Buat KTP dan SIM dahulu, nanti Tante belikan motor keluaran terbaru!" Ningsih pun tertawa melihat raut muka Reno yang kecewa.
"Mobil warna hitam ini bagus, Tante." Santi menunjuk sebuah mobil.
"Selera Santi bagus, ya. Civic sport hitam. Berapa harganya?" tanya Ningsih kepada SPG mobil tersebut.
"Harga promo Rp468 juta, Kak. Keluaran terbaru dengan desaign lebih sporty. Nanti ada beberapa bonus menarik, bla ... bla ... bla ..." perkataan SPG itu sama sekali tidak didengar oleh Ningsih.
Melihat Santi dan Reno bersemangat mengexplore calon mobil baru, membuat Ningsih bahagia. Setidaknya, Ningsih bisa membuat kedua anak sahabatnya itu tersenyum.
"Ratih, andai kamu masih hidup, sudikah menemuiku? Apabila kamu sudah tiada, sudikah menunjukkan makammu yang sesungguhnya? Aku yakin, kedua anakmu ini sangat merindukanmu." batin Ningsih.
Ningsih terharu melihat Santi dan Reno yang berusaha kuat dan tabah meski ibunya pergi dan menghilang untuk selamanya. Setelah SPG selesai menjelaskan, mereka pun segera melanjutkan transaksi pembelian dan pembayaran.
"Terima kasih untuk pembelian mobil Civic terbaru ini, Nyonya. Saya Manager Marketing di kantor cabang ini." ucap seorang perempuan cantik, mengenakan setelan rok, kemeja dan blazer.
Perempuan itu mengulurkan tangannya ke Ningsih. Ningsih menatap wajahnya dan sangat terkejut.
"R-Ratih?" kata Ningsih terpaku menatap perempuan itu.
"Maaf, saya bukan Ratih. Nama saya Ceacil." ucap perempuan itu dan tersenyum.
Bahkan saat Santi dan Reno melihat Ceacil. Mereka berdua juga terkejut. "Ibuu!" "Mama!" seru mereka bersamaan.
Caecil sangat bingung. Ningsih pun mengajaknya duduk sambil minum coffee di cafe dekat showroom.
"... nah, begitulah ceritanya. Maafkan kami, ya. Kami kira Anda adalah Ratih. Sangat mirip dari postur tubuh dan wajah. Hanya, Anda lebih putih dan cantik." jelas Ningsih kepada Ceacil.
"Saya turut iba atas meninggalnya ibu kalian. Maaf ya, Tante namanya Ceacil. Iya Sis, tidak apa. Maaf juga, ya." ucap Ceacil dengan lembut.
"Duh, tadi panggil Nyonya, sekarang Sis. Panggil aku, Ningsih saja, ya." ujar Ningsih sambil tersenyum manis.
Ningsih menatap Ceacil yang sangat mirip dengan sahabatnya. Mereka pun bertukaran nomer ponsel. Ceacil memang yatim piatu. Dia sudah menikah, tetapi setahun yang lalu Ceacil mengalami kecelakaan yang membuatnya mengalami gangguan ingatan jangka panjang.
"Mengapa aku sangat yakin bahwa perempuan ini adalah Ratih? Namun bukankah Ratih dibawa oleh Jin yang menjadi suaminya?" batin Ningsih yakin.
Ningsih menatap Ceacil yang berpamitan pergi. Saat melihat tanda lahir di belakang telinga sebelah kiri Ceacil, Ningsih semakin yakin bahwa sahabatnya masih hidup.
"Tanda lahir itu! Mungkinkah tanda lahir Ceacil sama dengan tanda lahir Ratih? Aku akan selidiki asal usul Ceacil dan suaminya! Ratih, jika itu kamu, aku tidak akan biarkan kamu pergi meninggalkan Santi dan Reno lagi." kata Ningsih dalam hati.
Ningsih mengeluarkan gawainya, mengambil beberapa foto Ceacil secara sembunyi-sembunyi. Lalu menghubungi anak buahnya di Yogyakarta. Tiga lelaki yang pantas disebut detektif dengan penampilan seperti debt collector.
Ningsih: [Saya ada tugas baru untuk kalian. Tolong cari info sedetail mungkin tentang wanita ini.]
Ningsih mengirim beberapa file foto kepada orang suruhannya.
Ningsih: [Info yang saya ketahui hanyalah, Ceacil, Manager Marketing di Showroom mobil Babarsari.]
Segera anak buah Ningsih merespon pekerjaan yang menjanjikan bayaran wah, itu.
Dony: [Siap Bos! Namun, kami minta DP dahulu 30%]
Ningsih: [Baik. Saya kirim DPnya hari ini. Saya tunggu infonya besok!]
Dony: [Cepat sekali Bos? Bisakah waktu biasanya?]
Ningsih: [Tidak! Saya di Yogyakarta hanya tiga hari. Besok harus dapat informasi lengkap! Kalau tak sanggup, saya lempar ke orang lain.]
Dony: [Jangan Bos! Kami sanggup! Tapi dengan upah 2x lipat.]
Ningsih: [OK.]
Ningsih mengakhiri pesan itu. Membuka m-banking miliknya dan mentransfer sesuai kesepakatan. Ningsih sangat penasaran dengan perempuan bernama Ceacil itu.
Santi lekas mengendarai mobil barunya bersama Reno. Sedangkan Ningsih menggunakan mobil lama Santi, citycar berwarna silver.
Mereka kembali ke rumah. Saat Ningsih hendak masuk ke rumah, seorang menarik tangannya.
"Apakah kamu menghindariku, Miss?" lirih Satria pada Ningsih.
Deg! Seketika Ningsih membatu dan tak bisa berkata apa pun.
"What's wrong Miss? Membeli mobil mewah baru? Agar pulang tanpa diriku?" ucap Satria sambil menarik badan Ningsih mendekat arahnya.
Ningsih masih diam seribu bahasa. Santi dan Reno tidak mau ikut campur urusan tantenya. Mereka memilih masuk ke rumah terlebih dahulu.
"Jawab Sisy, Miss cantik, hmm ... Ningsih."
Seketika Ningsih sadar dan mencoba melepaskan diri dari Satria. Namun, justru Satria memeluknya dan mencium bibir Ningsih.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Satria. Tubuh Ningsih pun terlepas dari pelukannya.
"Tuan, jika kamu memang lelaki elite dan terhormat, tolong hargai privasiku! Bahkan kita baru kenal kemarin dan kamu berani menciumku? Sangat tak sopan!" gertak Ningsih penuh marah menatap Satria.
Satria mengelus pipinya yang memerah. "Maaf jika saya lancang. Maaf."
Satria sadar jika perbuatannya di luar kendali. Satria pun pergi menggunakan mobilnya.
"Dasar lelaki sinting!" gerutu Ningsih sambil melihat Pajero Sport itu melaju pergi.
Ningsih tak pernah membayangkan ada pria yang berani memaksanya berciuman. Padahal secara penampilan, bahasa, dan wajahnya, Satria terlihat orang terpelajar. Bagaimana mungkin pelecehan itu terjadi di depan kedua anak Ratih pula. Gila! Ningsih bergegas masuk rumah dan mengunci pintu utama.
"Tante, Tante baik-baik aja 'kan?" tanya Reno.
"Iya, Reno. Tante nggak apa." jawab Ningsih.
"Maaf, Tante, aku sama Reno takut. Kami masuk rumah duluan." sambung Santi yang merasa bersalah.
"Ya ampun, kalian cute banget sih ... khawatir ama Tante, ya? Udah, Tante nggak apa. Tadi udah Tante tampol, tuh, lelaki nggak sopan!" Ningsih bergaya menampol sambil tertawa, menenangkan kekhawatiran Santi dan Reno.
"Alhamdulilah, kalau begitu Tante." jawab Santi lega.
"Wah, Tanteku emang keren banget! TOP BGT pokoknya!" ucap Reno terkagum-kagum melihat Ningsih.
"Ya, donk! Tante Ningsih gitu. Udah, kalian nggak usah takut or khawatir. Sini, nonton tv aja, yuk!" kata Ningsih yang kemudian merangkul kedua ponakannya itu.
Bahkan dalam hidup Ningsih sekarang, mereka bagaikan anak kandung Ningsih. Namun, tak mungkin Santi dan Reno memanggil sebutan ibu atau mama pada Ningsih yang jelas bukan orang tuanya. Ningsih memahami hal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Wati Simangunsong
psti ad seseatu nie sm satria
2021-08-04
1
hello!!💛
saking nya terlalu kaya..upahnya dinaikin 2× dibilang OK aja..
2021-05-28
1
Mawar hitam 2
halahh sok sok nampar padahall murahann udah obralan.. kagak pantesss
2021-03-06
10