🍀 TERTIPU 🍀
Pagi harinya, Ningsih meraba sisi ranjangnya. Mencari sosok manusia dari suami gaib yang semalaman penuh memuaskannya di ranjang.
"Bim-Bima ...." lirih Ningsih sambil membuka matanya perlahan.
Ranjang yang porak-poranda, sprei hampir lepas, bedcover separuh menjulur ke lantai, serta bantal guling berhamburan. Tak ditemukannya lelaki tampan dan gagah itu. Ningsih pun mencoba bangkit dari ranjangnya.
Kaki Ningsih melangkah ke lantai dingin apartemennya. Berjalan ke kamar mandi. Menyeka wajah dari kucuran air westafelnya. Segar!
Ningsih pun ke dapur untuk membuat kopi. Meletakkan kopi itu di meja, dan membuka gawainya.
Betapa terkejutnya Ningsih! Terlihat ada 35 panggilan tak terjawab, dua belas pesan diterima, lima puluh lebih whatsapp chat di handphone Sams*ng keluaran terbaru itu.
"Astaga, Bayuuu!" Ningsih menjerit syok membuka salah satu pesan yang diterima.
Tanpa berpikir mandi ataupun makeup, Ningsih segera memakai kaos, celana jeans, dan jaket tebal. Tak lupa, membawa tas dan gawainya. Fokus! Ningsih mefokuskan diri menyetir mobil dalam perjalanannya ke rumah sakit.
'Apa yang terjadi, Mas Bayu? Kamu harus selamat. Tidak boleh seperti ini.' batin Ningsih bergejolak.
Lelaki yang baru seminggu menemaninya, mengalami kecelakaan mobil tadi malam.
Sesampainya di rumah sakit, Ningsih bergegas berlari ke IGD. Entah kenapa bisa seperti itu. Hanya karena belum ada penjamin, Mas Bayu tidak dibawa ke ICU padahal keadaannya termasuk kritis.
"Aku penjaminnya! Cepat bawa Bayu ke ICU." kata Ningsih memerintah perawat di sana.
"Baik, Bu. Silahkan Ibu mengisi formulir pendaftaran ini terlebih dahulu." jawab suster menyodorkan beberapa lembar kertas dan sebuah pulpen.
"Sus, bisa tidak itu nanti! Ini kondisi kritis. Ini aku beri jaminan uang!" gertak Ningsih marah. Tak habis pikir dengan semua ketentuan rumah sakit itu.
'Bertahanlah, Mas Bayu. Aku akan berjuang menyelamatkanmu, serta keluargamu.' batin Ningsih yang terlihat cemas mencari di mana istri dan anak-anak Bayu.
"Dokter, bagaimana dengan keluarga Mas Bayu?" Ningsih bertanya cemas kepada dokter.
"Maaf Bu, perempuan yang duduk di kursi depan tidak tertolong. Jenazahnya ada di kamar mayat. Kami sudah mencoba menginformasikan nomer Anda satu-satunya di handphone pasien, tetapi tidak ada jawaban dari semalam." Dokter pun menjelaskan.
"Apa? Lalu anak-anak Mas Bayu gimana dokter?" Ningsih masih terbelalak terkejut mendengar kabar itu.
"Anak-anak? Posisi kecelakaan mereka hanya berdua, Bu. Tidak ada anak-anak. Silahkan bertemu pihak kepolisian terkait musibah ini." kata Dokter membuat Ningsih seketika lemas.
Di mana anak-anak Bayu? Ningsih pun menuju ruang tunggu, beberapa polisi menunggu untuk memberi informasi musibah itu.
Ningsih bingung, bagaimana bisa mereka berlibur dan kecelakaan tetapi jasad anak Mas Bayu menghilang tanpa jejak. Jangan-jangan ....
"HAHAHA .... YA, NINGSIH! AKU YANG MENGAMBIL DUA ANAK LELAKI ITU! KAU PIKIR DARI MANA AKU MENDAPAT ENERGI LEBIH UNTUK BERWUJUD MANUSIA? TAK PERLU SEEGOIS ITU NINGSIH! AKU TAHU APA YANG KAU PIKIRKAN!"
Suara dan tawa yang mengerikan. Berbeda dengan suara Bima semalam, lebih manusiawi. Ningsih menelan ludah. Ketakutan menjalar ke tubuhnya. Tak menyangka, anak-anak Bayu ikut menjadi tumbal.
Ningsih hanya diam. Dia ketakutan memikirkan anak semata wayangnya. Ningsih tak berani membantah perkataan Bima.
Setelah beberapa jam di ruang ICU, kondisi Bayu mulai membaik. Bayu sadarkan diri! Namun apa daya, kondisi lemas dan bingung membuat bayu hanya terbaring menahan sakit.
Ningsih memerintah anak buahnya untuk mengurus pemakaman jenazah Narti secara layak. Ningsih menutup semua biaya yang dibutuhkan. Bahkan untuk kesembuhan Bayu.
***
Dua minggu berlalu begitu cepat ....
Bayu pertama kali merasakan udara sejuk di luar rumah sakit. Ya, dia sudah sembuh. Namun sayang, kondisi psikologisnya sedikit terguncang karena mengetahui istri dan anak-anaknya meninggal dalam kecelakaan.
Meski Ningsih menemani Bayu selama di rumah sakit, hal itu tidak mengubah kesedihan dan rasa bersalah Bayu. Terkadang, Bayu menangis menyesali kenapa mengajak piknik keluarganya.
Melihat kondisi Bayu, Ningsih jatuh iba. Ningsih pun mengajak Bayu ke kota untuk ikut beberapa sesi pemulihan dengan psikiater.
Handphone Ningsih berdering ....
"Ya, hallo. Ada apa, Pak?" ucap Ningsih membuka percakapan.
"Maaf, Bu. Ada yang tidak beres! Beberapa orang datang ke cafe dan rumah makan cabang milik Ibu. Mereka akan menyita aset Ibu. Apakah Ibu berhutang kepada renternir?" ucap asisten kepercayaan Ningsih membuat terkejut dan tak mempercayainya.
"Apakah mereka ada surat perintah atau bukti sah? Jangan mudah terkelabui!"
"Semua surat atas tanda tangan Ibu di atas materai. Apakah Ibu kenal Bapak Sugeng?"
Ningsih pun menyadari apa yang terjadi.
"Kep*rat Sugeng! Dia menipuku!"
Ningsih menutup panggilan di gawainya. Kemudian, melaju dengan mobil hitamnya ke kantor rekan kerjanya, Pak Sugeng.
Sesampainya di sana, Bayu hanya duduk di dalam mobil. Sedangkan Ningsih dengan penuh amarah membuka pintu kantor Sugeng dengan kasar.
"Keluar kau baj*ngan tua! Brengsek kau, menipuku!" maki Ningsih.
Para karyawan pun kaget dan berhenti beraktifitas. Semua mata tertuju pada Ningsih. Beberapa saat kemudian, nampaklah lelaki separuh baya itu dengan kemeja merah.
"Ada apa ini? Apa aku salah dengar?" ucap Sugeng dengan nada merendahkan.
"Baj*ngan, kau sugeng! Apa yang kamu lakukan pada bisnisku!" gertak Ningsih yang sangat geram.
"Hahaha ... Ningsih yang lugu atau bodoh? Aku tidak melakukan apa pun. Semua surat atas tanda tangan persetujuanmu, bukan?" Sugeng semakin menertawakan Ningsih.
"Dasar, penipu!" teriak Ningsih yang hendak memukul Sugeng.
Apa daya, Ningsih hanya seorang wanita. Sugeng menangkap tangan Ningsih dan menghempasnya ke lantai. Ningsih jatuh tersungkur.
"Sebaiknya, lekas kau kemasi semua barang-barangmu! Ini pelajaran untukmu yang sudah menolakku! Belum pernah merasakan jatuh miskin lagi, bukan?" kata Sugeng yang kemudian tertawa dan menyuruh satpam mengusir Ningsih.
'Kep*rat Sugeng! Usahaku, semua hasil kerja kerasku, kau rampas. Aku bersumpah akan membuatmu sengsara!'
Ningsih tak henti-hentinya mengumpat dalam hati.
Nasi sudah menjadi bubur. Semua usaha yang Ningsih bangun lenyap seketika. Bahkan saat Ningsih melaporkannya ke kantor polisi pun tidak ada kemajuan. Justru Ningsih dianggap kurang bukti.
Ningsih pun menjelaskan kepada Mak Sri akan kondisinya. Ningsih akan menjual beberapa aset miliknya untuk pindah kota. Ningsih memilih pindah ke Kudus. Namun, bagaimana nasib kedua anak Ratih? Ningsih mencoba berpikir sejenak.
"Santi, tante mau bilang sesuatu." ucap Ningsih serius.
"Iya, Tante ada apa?" jawab Santi yang kemudian duduk di samping Ningsih.
"Begini, kamu 'kan sudah dewasa, ujian nasional pun sudah berakhir. Kamu lulus SMA. Tante mau menawarkan sesuatu untukmu. Usaha Tante mengalami bangkrut karena penipuan. Tante akan menjual aset Tante di kota untuk pindah ke Kudus. Apakah Santi dan Reno mau ikut? Jika tidak, Tante akan pasrahkan urusan konveksi alm Mamamu ke Santi karena Santi sudah Tante ajarkan mengelolanya, bukan?" jelas Ningsih dengan serius.
"T-tante nggak bercanda 'kan?" Santi masih bingung.
"Tante serius, sayang. Kalian mau ikut, tidak? Jika tidak, rumah ini jadi milik kalian. Tante akan mencari dua pekerja di rumah ini untuk kalian. Seorang asisten rumah tangga dan sopir yang merangkap jadi tukang kebun, bagaimana?" tawaran Ningsih sangat menarik.
"Santi sama Reno di sini saja Tante. Kasihan Reno jika merindukan alm Mama akan jauh ke makam. Santi bisa kok mengurus usaha alm Mama." ucap Santi dengan mantab.
Ningsih pun memeluk Santi. Satu hal sudah beres. Tinggal beberapa hal lagi. Ningsih akan menjual Villa nya.
Ningsih pun beranjak pergi ke apartemen di kota. Bayu berada di sana sendirian. Entah merasa bersalah atau jadi bucin, Ningsih mulai tak bisa lepas dari Bayu.
'Bima, kamu tahu aku butuh bantuanmu. Aku ingin Sugeng sekeluarga mati!'
Teriak Ningsih dalam hati. Ningsih begitu dendam dengan Sugeng.
"BAIK, SAYANG. SEDANG KULAKSANAKAN. TUNGGU SAJA BERITA HEBOH BESOK PAGI!" jawab Bima dengan mudah mengabulkannya.
Makhluk seperti Bima memang pintar mengelabuhi dan melakukan tipu daya. Terlebih kepada manusia lemah iman dan serakah. Ningsih tak sadar, semua kehancuran yang menimpanya, Bima ikut andil.
Ningsih tersenyum puas mendengar jawaban Bima. 'Mati kau Sugeng! Belum tahu kau berurusan dengan Ningsih!' batin Ningsih yang yakin bisa dengan mudah menyingkirkan Sugeng dan balas dendam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
eMakPetiR
baru kali ini Ningsih bucin ma seorang manusia beneran
2022-07-21
2
Yulita
Geri banggat ya kalo berurusan dengan iblis
2022-07-04
0
Kayla Azzahra
bucin tuh sm yg ganteng dong ningsing
2022-02-06
0