🍀 Kenyataan yang Pahit 🍀
Telepon itu langsung tersambung dengan seseorang lelaki.
"Bu, ini saya, Ridwan. Maaf, Bu. Bapak terkena serangan jantung sesampainya di Rumah Sakit Klaten. Dokter sudah menangani tetapi nyawa Bapak tidak tertolong. Saya dan pihak RS akan segera membawa pulang Bapak dengan mobil ambulance," kata Ridwan dengan suara serak seakan baru saja menangis, sangat sedih.
Bagaikan tersambar petir, mendengar kabar itu. Ningsih pun menangis dan menjatuhkan handphonenya. Rasanya sangat aneh didalam batinya.
'Mas Agus yang bertahun-tahun bersamaku dibanding dengan Mas Tomi, benar-benar berbeda. Aku lebih merasakan kehilangan Mas Tomi.' batin Ningsih yang menangis, merasa perih di hatinya.
"NINGSIH! LUPAKAN MANUSIA ITU! KAU MILIKKU NINGSIH! JANGAN MENCINTAI MANUSIA LEMAH SEPERTI ITU! HA HA HA HA HA ...."
Suara Bima membuat tangis Ningsih terpaksa berhenti. Antara benar atau tidak. Namun, Bimalah yang membantu Ningsih keluar dari kemiskinan. Bagaimana mungkin Ningsih bisa membantah perkataan Bima?
'Jika aku tidak kaya, tidak perawatan, tidak punya usaha, tak mungkin mas Tomi mau denganku.' Pikiran Ningsih pun mulai merasa membenarkan Bima.
Ningsih pun teringat, setelah ini ada uang dan emas yang Bima beri di dalam almari. Berbeda dengan kematian Agus, uang itu ada di tudung saji karena Ningsih tidak memiliki lemari untuk menyembunyikan sesaji.
Ningsih pun bergegas menengok almari. BENAR! Sesaji menghilang dan almari itu penuh dengan uang lembaran serta emas. Ningsih sangat kaget, ini jauh lebih banyak dari yang dia terima sebelumnya. Ningsih pun mengunci almari itu rapat-rapat dan mengantongi kuncinya.
Ningsih kembali sedih (berpura-pura) dan mengabari Mak Sri agar memanggil Pak RT, Pak Ustad dan warga sekitar karena jenazah Mas Tomi akan diantarkan ke rumah ini serta segera dimakamkan.
Orang-orang berdatangan, Ningsih berusaha sesedih mungkin agar tak ada yang mencurigainya. Ratih pun datang karena berita lelayu sudah disiarkan. Tentu, hanya Ratih yang tahu apa yang terjadi.
'Ah, pasti Ningsih mendapatkan harta banyak karena suami kedua meninggal. Bagus deh, kalau dia sudah bisa berakting sedih juga.' batin Ratih sambil tersenyum pada Ningsih bertanda dia tahu ini karena suami gaib Ningsih.
Ratih memang menjanda tiga kali. Namun, dia tidak menginginkan suami lagi, sebab baginya sudah cukup bersuami gaib. Dia merasa bahwa suami manusia hanya akan menghambat kehidupan bersama kedua anaknya.
Suami pertama Ratih meninggal karena karena kecelakaan. Hampir mirip dengan Agus (suami pertama Ningsih). Suami pertama Ratih tidak bisa memberi kehidupan yang layak untuk Ratih dan kedua anaknya. Hal itu yang menyebabkan dia terjerumus ke dunia gelap dengan perjanjian bersama iblis.
Suami kedua Ratih, seorang petugas PLN. Menikah dan bertahan hidup hanya beberapa bulan saja. Lelaki itu meninggal tersengat listrik. Jelas ini karena Jin yang menjadi suami Ratih. Ratih membeli rumah mewah, mobil dan membangun sebuah kost-kostan di daerah Kota Yogyakarta. Ratih menjanda selama setahun hingga akhirnya bertemu dengan lelaki yang menjadi suami ketiganya.
Suami ketiga Ratih hanya orang biasa. Bekerja dengan cara berjualan bakso keliling. Awalnya Ratih tidak ingin suami ketiganya diambil Jin, karena lembut hati dan sikapnya. Namun, apa daya perjanjian tetap perjanjian. Suami Ratih meninggal jatuh ke jurang bersama gerobak dagangannya dua bulan setelah menikahi Ratih.
Kejadian bertubi itu membuat Ratih bertekad tidak memiliki suami manusia lagi. Terlebih Kedua anak Ratih sudah SMP dan SMA. Setelah kematian suami ketiga, Ratih pun membuka usaha konveksi yang cukup maju pesat. Pundi-pundi uang tetap mengalir karena Ratih melayani suami jinnya.
Oleh karena itu Ningsih sangat kagum pada Ratih. Seorang yang mandiri, cantik, kuat dan tegar. Kedua anaknya sangat terawat dan bahagia meski tanpa hadirnya sosok seorang ayah.
***
Dua bulan kemudian ....
Tiba-tiba, Ratih datang ke rumah Ningsih. Dia pun mengajak kedua anaknya.
"Ningsih, aku akan pergi beberapa minggu. Bolehkah Santi dan Reno tinggal di rumahmu sejenak?"
Sebenarnya sangat aneh, bukannya mereka bisa tinggal di rumahnya sendiri? Mengapa harus dititipkan dan menginap di rumah Ningsih? Namun, Ningsih meniyakan saja karena Ratih terlihat pucat saat itu. Mungkin, dia sakit dan butuh istirahat sejenak.
"Ratih, memangnya kamu mau pergi ke mana?" tanya Ningsih yang mengikuti Ratih keluar rumah.
Ratih pergi dengan wajah sedih. Dia melihat kembali Santi dan Reno yang sudah berada di dalam rumah Ningsih. Lalu melihat ke arah Ningsih dan berkata, "Maafkan aku ya, Ningsih. Semua ini salahku. Jangan sampai kamu berakhir sepertiku ini. Segera ceraikan suami gaibmu itu. Minta pertolongan pada ustad atau kyai yang benar-benar paham. Jaga dirimu baik-baik."
Ningsih hanya diam karena bingung dengan perkataan Ratih.
'Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Ratih pikirkan hingga pergi serta menitipkan anak-anaknya padaku?' batin Ningsih berkecamuk.
Melihat kepergian Ratih dengan mobil hitamnya, perasaan Ningsih semakin tak karuan. Santi dan Reno memang sudah akrab dengan Ningsih dan Wahyu. Rumah iti terasa lebih hangat dan ceria dibanding sebelumnya. Mak Sri pun senang dengan adanya Santi dan Reno.
Banyak hal yang mereka lakukan bersama. Mulai dari hal kecil, makan bersama, berangkat sekolah bersama Ningsih yang berangkat kerja, maupun belanja bersama ke kota. Mereka menjalani kebersamaan itu selama tiga minggu.
Tepat di minggu ketiga kepergian Ratih yang misterius, rumah Ratih kebakaran.
"Kebakaran ... kebakaran ...." teriak salah seorang warga yang melihat kobaran api.
Warga sekitar termasuk Ningsih segera bertindak. Menelepon petugas pemadam kebakaran dan sudah mengusahakan memadamkan api. Petugas pemadam kebakaran datang terlambat. Guyuran air hanya mampu menghalau kobaran tidak menyebar. Rumah Ratih hangus tak tersisa.
Hanya satu kotak kecil anti api yang terlihat di bawah timbunan puing-puing yang menjadi abu. Ningsih mengambilnya dan menyembunyikannya.
'Siapa tau ini berharga untuk Ratih dan anak-anaknya.' batin Ningsih.
Satpam dan pembantu Ratih meninggal karena kebakaran tersebut. Terjadi kehebohan dan perisangka buruk terhadap kejadian kebakaran itu. Ningsih mencoba menghubungi Ratih. Namun, tetap saja Ratih tidak bisa dihubungi.
Ningsih membantu memberi santunan kepada keluarga dari pembantu dan satpam di rumah Ratih. Meredam prasangka buruk warga dan meyakinkan semua karena konsleting listrik saja.
Ningsih berharap Ratih segera pulang. Ningsih mulai khawatir dengannya. 'Ratih, dimanapun kamu berada semoga kamu baik-baik saja. Aku akan menjaga Reno dan Santi. Namun mereka juga membutuhkanmu. Aku harap kamu lekas kembali.' Ningsih hanya bisa berkata di dalam hati.
Ningsih tak tega melihat Reno dan Santi yang cemas. Mereka berulang kali menghubungi nomer handphone Ibunya dan selalu sama, tidak dapat dihubungi. Hingga kedua anak Ratih itu selalu bertanya-tanya, "Tante, sebenarnya di mana Ibuku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
ratih menyerahkan diri sebagai tumbal.karena dia gk ada suami lagi
2024-10-11
1
𝕁𝕖𝕟𝕚
kemana ratih pergi.. apa ratih akhirnya jd tumbal juga karna sdh tak memberikan tumbal suami untuk suami gaibnya
2023-12-03
1
Heny🥀
harta dg jalan pintas bersekutu dg iblis Takan pernah kekal ...🙏🙏💪💪
2023-03-25
0