🍀 Hampa 🍀
Santi dan Reno hidup mandiri, tapi masih dengan bantuan Bu Wik sebagai asisten rumah tangga dan Pak Jarwo sebagai sopir. Santi mengelola bisnis peninggalan alm. ibunya. Sedangkan Reno tetap seperti biasa, bermain dan belajar walau di SMP baru.
Setiap weekend atau libur panjang, mereka naik travel pergi ke Kudus. Mereka lakukan itu sampai tiga bulan. Setelah Santi lulus SMA, mereka jarang berkunjung ke Kudus karena banyak hal yang disiapkan untuk menempa Reno menjadi seorang pembisnis muda.
Ningsih masih trauma pergi keluar kota. Mengingat Bayu pun masih merinding rasanya.
"Ah, akankah aku berakhir seperti ini? Rasanya sangat sepi. Apakah aku merindukan Bayu?" batin Ningsih yang menerka-nerka perasaan apa yang dia rasakan.
Saat terlelap, Ningsih pun bertemu dengan sosok Bayu di dalam mimpi. Ningsih memeluk Bayu dari belakang. Bayu pun berbalik dan memeluk Ningsih.
Namun, Bayu berubah menjadi menyeramkan dan tiba-tiba mencekik leher Ningsih. Ningsih mencoba meronta dan berteriak. Tapi tak membuahkan hasil.
"Apakah aku akan berakhir di tanganmu, Bayu, kekasihku?" batin Ningsih bergejolak.
"Aaaaaaa!" teriak Ningsih saat bangun dari mimpi buruknya.
Ningsih pun meminum seteguk air putih di gelas yang ia letakan dekat tempat tidurnya.
Berkali-kali, Ningsih bergumam menenangkan dirinya sendiri.
"Ini hanya mimpi. Ini hanya mimpi." Mimpi itu terasa nyata bagi Ningsih.
"Mas Bayu, kamu marah ya padaku? Maafin Ningsih ya, Mas," ucap Ningsih perlahan sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ningsih tak dapat melanjutkan tidurnya. Dia bergegas ke dapur, hendak membuat sarapan untuk Wahyu. Ternyata Mak Sri sudah bangun dan bersih-bersih rumah.
"Tumben Bu, bangun sepagi ini. Sudah salat subuh, Bu?" kata Mak Sri yang sedikit terkejut melihat Ningsih sudah bangun.
"Oh, iya ini, Mak. Ternyata masih pukul lima ya." kata Ningsih sambil melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang tamu.
Sebelum mengenal Bima, Ningsih memang bukan perempuan yang taat beribadah. Terlebih sekarang, semakin jauh dari Allah.
Ningsih hendak memasak sup kesukaan Wahyu. Saat membuka kulkas, betapa terkejutnya Ningsih melihat kepala Bayu di sana. Mata melotot dan senyum penuh terlihat gigi dan kepala yang berdarah, mengerikan!
"Aaaa!" teriak Ningsih.
"Ada apa Bu?" Mak Sri bergegas mendatangi Ningsih.
"I-itu Mak! Ada kepala di dalam kulkas!" seru Ningsih yang gemetar ketakutan.
"Ha, iyakah, Bu? Mana kepalanya, Bu?" Mak Sri membuka kulkas dan mengecek ke seluruh kulkas.
"Itu, Mak. Tadi di situ." Ningsih ikut melihat isi kulkas.
Aneh!
Tidak ada apa pun di sana. Apakah Ningsih mulai kehilangan kewarasannya?
"Lebih baik Ibu istirahat saja. Atau mencari hiburan. Ibu terlihat letih." Mak Sri menatap Ningsih terlihat khawatir.
"Ya, Mak. Aku istirahat dahulu. Nanti aku mau ke salon ya, Mak." Ningsih pun beranjak masuk ke kamarnya.
"Baik, Bu."
Mak Sri melihat Ningsih masuk kamar. Merasa iba dengan keadaan Ningsih.
"Kasihan Bu Ningsih, setelah Pak Tomi meninggal lalu usaha bangkrut, pasti hatinya sangat tergoncang." gumam Mak Sri.
Ningsih gelisah di dalam kamar. Lalu bertanya dalam hati berharap Bima menjawabnya.
'Apa yang kamu lakukan pada Mas Bayu? Kenapa arwahnya menghantuiku? Tolong aku, Bima ....'
Beberapa kali mengucapkan hal yang sama, akhirnya Bima datang.
"NINGSIH, TAK USAH KAU TAKUT! DIA TIDAK BISA MENYAKITIMU! DIA HANYA MENCARI KEDUA ANAKNYA."
Ningsih pun mengangguk, tanda mengerti. Namun, rasa ingin tahunya sangat kuat.
"Bima, ke manakah kau bawa kedua anak Mas Bayu?'
"HAHAHA JASAD DAN ROHNYA MENJADI SANTAPANKU SAAT AKU MENEMUIMU DENGAN WUJUD MANUSIAKU."
Ningsih bergidik ngeri mendengarnya. Bulu kuduk Ningsih berdiri. Tak bisa membayangkan hal yang sangat buruk menimpa dua manusia tak bersalah itu.
Bima pun pergi meninggalkan Ningsih yang masih penuh ketakutan. Ternyata Bima tak main-main dengan perkataannya. Membayangkan itu, Ningsih teringat Wahyu, anak semata wayangnya.
***
Seminggu berlalu, Ningsih masih mengalami teror mimpi buruk. Ningsih mencoba meminta maaf kepada arwah Bayu, tetapi dalam mimpinya, Bayu tak bisa berkata apa pun.
Hari ini, Ningsih hendak pergi ke Yogyakarta menengok Santi dan Reno. Ningsih hanya sendirian, mengendarai mobil hitamnya. Mau tak mau, harus memberanikan diri ke luar kota. Anak-anak Ratih menjadi tanggung jawab Ningsih sekarang.
Mendengarkan beberapa lagu kesukaan, melaju dengan kecepatan sedang, Ningsih melewati perjalanannya dari Kudus ke Yogyakarta. Saat masuk ke daerah Semarang, Ningsih berhenti karena ada kecelakaan di depan sekitar lima ratus meter dari mobilnya.
"Duh kok malah macet. Ada kecelakaan pula." batin Ningsih yang terlihat tak semangat dengan keadaan yang macet.
Akibat mimpi buruk yang selalu menghantuinya, membuat Ningsih kurang istirahat. Ningsih pun membelokkan mobil ke arah Hotel & Resto untuk beristirahat sejenak.
"Saya pesan satu beef steak with mushroom dan satu red wine." ucap Ningsih kepada pelayan.
Tak lama kemudian, hidangan itu datang. Meski masih siang, Ningsih suka menyantap steak. Memakannya perlahan, menghilangkan pikiran yang penat. Namun, justru ingatan Ningsih kembali membayangkan Bayu.
"Makan steak begini jadi ingat kamu, Mas. Cuma kamu yang membuatku terbayang seperti ini. Aku tahu kamu marah dan menghantuiku terus. Tapi aku bisa apa? Melawan Bima, jelas aku tak mampu. Aku harap kamu tenang di sana, Mas." batin Ningsih yang tanpa disadari meneteskan air matanya. Tiba-tiba, ada seorang pria berdiri di samping Ningsih.
"Jangan menangis, Miss. Ini tisu untukmu." ucap seseorang yang membawa tisu dan disodorkan pada Ningsih.
"Uh, thanks. Maaf, kamu siapa?" tanya Ningsih sambil mendongak melihat sosok lelaki yang memberi tisu padanya.
"Perkenalkan Miss, namaku Satria." ucap lelaki itu sambil tersenyum manis.
Lelaki itu membuat Ningsih segera menghapus air matanya. Parfum wangi, kemeja hitam pressbody, celana hitam, serta dasi biru tua, sangat cocok membalut tubuh Satria.
"Bolehkah aku duduk di sini, Miss?" tanya lelaki itu membuyarkan lamunan Ningsih.
"Oh, tentu. Namaku, Ningsih." jawab Ningsih sambil mengulurkan tangannya yang lembut.
"Nama yang sangat berbeda dengan penampilan Miss." kata Satria, tersenyum lalu menyambut tangan Ningsih dan mengecup punggung tangannya.
Ningsih pun tersipu malu. "Memang, ini nama pemberian kedua orang tuaku. Mungkin kurang kekinian. Maaf."
"Tidak apa, Miss."
Percakapan pun berlanjut. Ningsih melihat Satria dan terhanyut dengan sopan santunnya. Satria terlihat pria terpelajar dan elite.
"Aku tidak bisa berlama-lama. Aku mau melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta." Ningsih pun mencoba menutup percakapan mereka.
"Miss apakah sendirian? Atau bersama sopir?" tanya Satria.
"Sendirian. Aku tidak memiliki Sopir."
"Kalau begitu, Miss mau saya menemani? Boleh pakai mobilku saja. Mobil Miss bisa dititipkan di sini." kata Satria melontarkan kalimat yang membuat Ningsih bingung.
"Astaga, Satria, kamu baik banget. Apakah kamu juga mau ke Yogyakarta?"
"Iya Miss, saya hendak ke makam keluarga." Satria pun tersenyum manis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Sari Yuliati Pani
iihh ngeri kali
2024-04-20
0
zevs
pisang keju
2023-10-05
0
Hikmah Bae Ya
beneran ada gak sih pesugihan gini😵💫
2022-08-11
0