🍀 Misteri Meninggalkan Luka 🍀
Seminggu setelah kejadian kebakaran, Santi dan Reno terus menanyakan keberadaan ibunya kepada Ningsih. Ningsih bingung harus menjawab apa, karena Ratih memang tidak mengatakan tujuannya pergi.
Ningsih pun bertekad membuka kotak kecil itu berharap ada petunjuk tentang menghilangnya Ratih karena kebakaran rumahnya sudah diselidiki polisi dan diduga konsleting listrik.
Ningsih membuka kotak itu dengan paksa karena kuncinya entah dimana. Isinya ternyata beberapa surat. Di antara beberapa surat itu ada satu surat bertuliskan nama Ningsih. Ningsih pun membuka dan membaca surat itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Teruntuk sahabatku, Ningsih.
Entah harus bagaimana aku mengatakannya. Namun, izinkan aku meminta maaf atas segalanya.
Maaf, aku sudah mengajakmu mengikuti jejak gelapku ini. Maaf aku sudah membuatmu mengorbankan Mas Agus dan membuat Wahyu menjadi anak yatim seperti anak-anakku.
Aku menyesali itu.
Ningsih, aku harap kamu tidak terjerat terlalu dalam sepertiku. Segera bertaubat, Ningsih. Carilah ustad atau kyai yang benar-benar mengetahui tetang situasi seperti ini. Kalau terlambat, kau akan bernasib sepertiku.
Suami gaibku ini menjeratku. Aku tidak bisa melepasnya karena nyawa orang disekitarku menjadi taruhan, termasuk Santi dan Reno.
Aku tidak sudi Jin itu merenggut anak-anakku juga!
Aku terpaksa mengakhiri ini semua. Jin itu akan melepaskan anak-anakku jika aku ikut ke alamnya.
Ya, aku pamit untuk selamanya.
Tidak usah mencariku Ningsih. Karena Jin itu membawaku pergi dan takkan kembali lagi.
Setelah kepergianku, aku harap kamu bisa merawat anak-anakku dan konveksi yang ku dirikan untuk kebutuhan anakku bersekolah serta menyumbang panti asuhan.
Tolong doakan aku.
Dan segeralah mencari pertolongan!
Aku mohon berikan surat lainnya ke orang di nama surat itu seratus hari setelah kepergianku.
Salam hangat, Ratih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ningsih menangis membaca surat itu. Tak disangka, Ratih pergi untuk selamanya.
'Bagaimana bisa Ratih menyerahkan dirinya begitu saja tanpa berkata kepadaku? Bagaimana bisa Ratih meninggakan anak-anaknya tanpa penjelasan apapun?' batin Ningsih dalam tangis.
Entah mengapa, Ningsih sangat sedih dan takut. Seketika semua menjadi gelap.
Ningsih pingsan, tak sadarkan diri.
"Bu Ningsih, bangun, Bu." ucap Mak Sri, membangunkan Ningsih.
Ningsih yang masih lemas karena pingsan, mencoba duduk dan memandang di sampingnya ada Santi dan Reno serta Wahyu. Mereka sangat khawtir melihat Ningsih pingsan.
Ah, surat itu! Ningsih menatap Mak Sri dan Mak Sri mengangguk. Mak Sri menyembunyikan surat itu di kantong dasternya agar anak-anak tidak membaca.
Harus bagaimana Ningsih menjelaskan semua ini. Ningsih hanya bisa menunggu sampai seratus hari kepergian Ratih dan menyerahkan surat-surat itu kepada Santi, Reno, orang tua Ratih dan Dimas, seorang yang pernah hampir menikah dengan Ratih.
'Apakah Bima juga akan mengambil Wahyu?' batin Ningsih berkecamuk mengingat isi pesan Ratih. Ningsih sangat takut.
"NINGSIH ... NINGSIH! KENAPA KAU MERAGUKANKU? PERJANJIAN KITA, HANYA SUAMIMU YANG KUAMBIL! JANGAN DENGAR TEMANMU ITU. BUKANKAH SEMUA HARTA KUBERIKAN JAUH LEBIH BANYAK UNTUKMU? AKU ADALAH SUAMIMU! PERCAYALAH PADAKU!"
Suara Bima menggelegar, membuyarkan lamunan Ningsih. Entah mengapa, Ningsih selalu mengiyakan dan terhipnotis dengan perkataan Bima.
'Ah, benar! Mungkin Jin yang dinikahi oleh Ratih itu jahat. Tidak seperti Bima.' Pikir Ningsih menyangkal surat dari Ratih. Ningsih pun kembali meyakini bahwa menikah dengan Bima adalah hal yang benar adanya.
***
Setelah seratus hari kepergian Ratih, Ningsih memberikan surat-surat itu kepada si empunya. Santi dan Reno menangis sejadi-jadinya.
"Tante, ini bohong 'kan? Ini hanya prank 'kan? Mama nggak mungkin ninggalin Reno dan Kak Santi begitu saja!" kata Reno yang tak kuasa menerima kenyataan yang tertulis di surat itu.
Ningsih memeluk Reno, "Sabar, ya. Ikhlaskan ibumu."
"Mama nggak mungkin pergi 'kan, Kak? Kak Santi jawab!" ucap Reno mengguncangkan bahu Santi.
Santi menangis dan terdiam. Lalu memeluk erat Reno. "Reno sabar, ya. Biarkan Ibu tenang. Nanti kita ke makam Ibu, ya."
Surat yang Ratih tulis untuk anak-anaknya adalah alasan palsu. Ratih mengaku memiliki penyakit yang parah dan tidak bisa bertahan. Dia juga memberi alamat pemakamannya. Ningsih yakin itu hanyalah makam palsu. Namun, setidaknya ini membuat anaknya tidak penasaran lagi.
"Sabar, ya, Reno Santi. Tante tidak akan meninggalkan kalian. Kalian boleh anggap Tante ini mama atau ibu kalian." kata Ningsih sambil memeluk erat kedua anak Ratih.
Soal konveksi usaha Ratih yang sudah berkembang, Ningsih mengelolanya sambil mengajari Santi agar setelah lulus SMA bisa mengelolanya sendiri. Mau tak mau, Santi harus belajar mengelola usaha yang sudah dirintis ibunya.
"Santi, kamu anak pertama dan sebentar lagi lulus SMA. Oleh sebab itu, kamu harus belajar mengelola konveksi Ratih."
"Baik, Tante, tetapi ijinkan aku menyendiri dahulu. Hingga pikiranku jernih, aku tidak ingin membahasnya," jawab Santi sambil berlalu. Dia masuk ke kamarnya. Mengunci pintu dan berdiam cukup lama.
Ningsih lantas beranjak ke rumah orang tua Ratih. Mereka terkejut dan sangat bersedih. Ningsih pun berjanji menggantikan semua tanggung jawab Ratih seperti menafkahi orang tuanya. Setidaknya, Ningsih berusaha membantu.
Setelah itu yang terakhir adalah mendatangi Dimas. Dimas menerima surat itu dengan bersedih. Dia sudah tahu apa yang terjadi dengan Ratih. Bahkan, dia menatap Ningsih dan menasehatinya agar bertaubat.
'Sial! Rupanya Dimas indigo. Bahkan dia bisa melihat Bima dan mengerti yang aku dan Ratih lakukan,' gerutu Ningsih dalam hati. 'Lantas kenapa dia ingin menikahi Ratih waktu itu? Dasar lelaki gila mau setor nyawa!'
Itu lah yang ada dipikiran Ningsih tetapi berbeda dengan kenyataan.
"Sebenarnya saya ingin menikahi Ratih agar dia terbebas dari Iblis itu. Saya tau akan terjadi peperangan antara saya dan Iblis itu dan yang menang akan tetap hidup bersama Ratih. Namun, Ratih menolaknya. Ratih takut saya tidak mampu menghadapi Iblis itu. Ratih terlihat sudah menyerah dan putus asa.
Mbak Ningsih, baiknya segera bertaubat sebelum semakin terjerat oleh tipu daya Iblis." kata Dimas mencoba menasehati Ningsih.
Memang, Dimas lelaki yang soleh. Dia juga mengajar di sebuah pondok pesantren. Terlebih, dia seorang indigo. Sungguh bertolak belakang dengan Ratih dan Ningsih.
'Apakah pantas dia menghakimiku? Uh, menyebalkan! Entah aku merasa marah ketika dia menyuruhku bertaubat! Apakah dia mau memberiku uang banyak seperti Bima! Aku yakin tidak,' teriak Ningsih dalam hati.
Ningsih pun berlalu pergi. Bagi Ningsih, Dimas hanyalah segelintir orang yang tidak memahami keadaannya. Ningsih makin terjebak dengan perasaannya sendiri. Sebenarnya, semua ini kesalahan yang terlihat seperti benar dengan alasan yang dipertahankan Ningsih. Ekonomi, harta, kemudahan dan rasa hormat dari orang lain yang membuat Ningsih enggan berhenti sampai di sini. Ningsih tidak menyadari jika hal ini bisa membahayakan orang di sekitarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
𝕁𝕖𝕟𝕚
ningsih sdh gelap mata makanya dia tak melihat resiko yg akan dia tanggung.
2023-12-03
1
Heny🥀
mata hati Ningsih dah buta karena harta nasehat dari siapapun Takan di dengar nanti kalau dah kena batunya orang terdekatnya jadi korban baru sadar dia
2023-03-25
0
Cahaya Hayati
ningsi musti membela suaminya walaupun hanya seorang jin😅😅😅
2022-08-05
0