🍀 RUDI LELAKI BERUNTUNG (?) - Part 2 🍀
Ningsih membaca pesan dari lelaki yang tak sengaja tertabrak mobil tadi pagi. Dia pun merasa aneh dengan kalimat yang lelaki itu katakan.
"Ah, yang benar saja! Patah tulang? Dasar lelaki tak berguna. Pasti dia mau menipuku." gerutu Ningsih saat membaca pesan singkat dari Rudi.
"NINGSIH, AJAK DIA BERTEMU BESOK MALAM! KAU MEMERLUKAN LELAKI SAMPAH ITU!" kata Bima yang tiba-tiba berada di samping Ningsih. Bima-Suami gaib Ningsih yang selalu dirindukan.
"Kenapa aku harus menanggapi sampah masyarakat itu? Aku yakin dia menipuku." ucap Ningsih yang kali ini menjawab perintah Bima. Sungguh, lelaki seperti Rudi terlihat menyedihkan dan tidak ada masa depan.
"DIA HANYA SEBAGAI PERANTARA. AKU MEMBUTUHKAN RAGANYA UNTUK MENYENTUHMU SECARA NYATA." jawab Bima dengan tegas.
Ningsih pun memahami maksud dan tujuan Bima. Namun, ningsih malu jika harus menikah dengan lelaki seperti itu.
"TAK PERLU CEMAS, NIKAH SIRI DAN TINGGAL DI VILLA YANG KAU BELI BULAN LALU." imbuh Bima seakan mengerti semua pikiran Ningsih. Bima menjawab dan memberi solusi sebelum Ningsih melontarkan sepatah kata pun.
Setelah percakapan itu, Ningsih merasakan sentuhan Bima. Bima membuka baju Ningsih seperti malam-malam lainnya. Ningsih menghabiskan waktunya melayani Bima, makhluk yang tak bisa dia lihat.
Ningsih tak pernah tahu dan tidak ingin tahu seperti apa wujud Bima sebenarnya. Ningsih hanya ingin kepuasan setiap malam dan harta yang melimpah.
***
Keesokan harinya, saat Ningsih hendak ke salon, Rudi datang dengan tongkat kayu di sebelah tangannya. Ningsih yakin itu hanya tipuan belaka.
"Loh, Masnya tahu rumahku?" ucap Ningsih basa basi melihat Rudi yang terseok-seok berjalan menghampirinya.
"Duh, Mbak. Aku 'kan punya kartu namamu. Maaf, kalau aku mengganggu. Soal tadi malam, aku ...."
Belum selesai Rudi bicara, Ningsih langsung menjawab sambil merogoh tasnya. "Berapa? Berapa biayamu itu?" kata Ningsih dengan nada suara yang terlihat angkuh membuat Rudi sedikit gengsi dan merasa dihina.
Ningsih mengeluarkan segepok uang seratus ribuan. Rudi berpura-pura menolak uang itu.
"Maaf, Mbak. Bukan itu maksudku kemari. Jika aku hanya orang miskin, lantas pantaskah kamu menghinaku dengan uangmu?" lirih Rudi yang kemudian menundukkan kepala.
Ningsih merasa tak enak dengan ucapan Rudi. Terlihat dari raut wajah Rudi yang tidak bersungguh-sungguh menolak uang lima juta itu, Ningsih menjadi memiliki ide.
"Bukan maksudku begitu, Mas. Bagaimana kalau kita sarapan dulu? Biar enak yang ngobrol. Silahkan, Mas naik mobilku." ucap Ningsih yang tersenyum sambil mempersilahkan Rudi.
Rudi pun tak menolaknya. "Nah, gitu donk, Mbak. Aku juga keroncongan!"
Seperti orang yang tak tahu malu, Rudi masuk ke dalam mobil Ningsih. Ningsih pun menginjak gas mobilnya dan melaju ke arah soto kesukaannya.
"BAGUS, NINGSIH. AJAK DIA KE VILLAMU NANTI MALAM." kata Bima yang membenarkan keputusan Ningsih mengajak lelaki sampah itu.
Sesampainya mereka di warung soto langganan Ningsih. Mereka bergegas memesan dan makan. Setelah makan, Ningsih pun kembali berbasa-basi.
"Mas, gimana kakimu? Apa sudah sembuh? Maaf, motormu jadi jaminan. Ini uang untuk menebusnya. Apakah cukup?" ucap Ningsih sembari menyodorkan kembali uang lima jutanya kepada Rudi.
Kali ini, Rudi tanpa basa basi menerima uang itu. "Terima kasih, Mbak." jawab Rudi yang kemudian memasukkan uang itu kedalam jaketnya.
"Jangan panggil aku mbak. Aku belum tua. Panggil saja aku, Ningsih." tutur Ningsih yang tersenyum manja kepada Rudi.
Bagaikan lampu ijo untuk melancarkan aksi Rudi. "Iya, Ningsih. Setelah ini, kau mau kemana?" tanya Rudi yang berharap bisa berlama-lama dengan Ningsih.
"Mas, mau menemaniku ke villa? Aku butuh hiburan." celetuk Ningsih membuat Rudi kaget.
"Ha? Emm, tentu Ningsih, aku mau."
Tidak sulit mengajak lelaki sampah yang mata keranjang itu ke villa. Hanya menyebut kata 'villa' saja, mata Rudi langsung buas menatap Ningsih.
"Wah, memang rejeki nggak ke mana. Dapat duit banyak. Dapat cewek bohay pula. Bener-bener beruntung kamu, Rudi!" batin Rudi yang menyanjung dirinya sendiri, sambil melihat tubuh putih nan sintal milik Ningsih.
Ningsih dan Rudi pun melanjutkan perjalanan ke villa. Sepanjang perjalanan, banyak sekali yang mereka bicarakan. Terutama tentang rasa kesepian Ningsih selepas suaminya meninggal. Rudi semakin yakin bisa menikmati tubuh Ningsih.
***
Siang berlalu dengan cepat ....
Matahari pun mulai bersiap membenamkan cahayanya. Ningsih dan Rudi beradu gairah di ranjang sejak siang tadi. Semua mengalir begitu saja. Ningsih terpaksa menikmati semua permainan Rudi. Sedangkan Rudi sangat beruntung mendapatkan tubuh Ningsih.
"Mas, maukah kamu menikahiku?" ucap Ningsih lembut setengah berbisik di telinga Rudi.
Rudi kaget dan matanya membulat penuh, "S-serius Ningsih? Kamu mau dinikahi lelaki sepertiku?"
Ningsih tersenyum lalu memeluk Rudi kembali. "Mas, kamu sudah menikmatiku. Tentu, aku mau jadi istri Mas. Kalau perlu, malam ini juga kita nikah siri di sini, Mas." jawab Ningsih yang terpaksa harus merayu.
Rudi yang tak tahu tentang takdirnya pun merasa berhasil dan puas mendapatkan Ningsih secepat itu. "Baik, Ningsih. Mas mau. Ayo kita cari penghulu!" kata Rudi yang bersemangat, kemudian kembali mencium bibir Ningsih.
Setelah menghubungi orang kepercayaan untuk mengurus nikah siri itu, Ningsih bergegas bersolek. Rudi tak menyangka secepat ini dia mendapatkan Ningsih. Melihat wanita itu berdandan dengan kebaya sangat menggoda.
Ningsih memang kaya raya. Bahkan, nikah siri pun bisa dia lakukan segera. Sebenarnya, semua sudah Ningsih perkirakan dan Ningsih atur sesuai perkataan Bima.
"Mas, boleh aku minta satu permintaan?" ucap Ningsih sambil menatap Rudi dan membelai wajahnya.
"Tentu, Ningsih. Katakan saja apa yang kamu minta?" jawab Rudi bersemangat mendengar permintaan Ningsih, seakan bisa mengabulkan permintaan wanita itu.
"Aku ingin kita tinggal di villa ini, Mas. Aku mau bersenang-senang denganmu setiap hari."
"Tentu, Ningsih. Aku juga bosan di desa. Lebih baik kita di sini."
Rudi sangat mudah dibujuk dan mudah dikelabui. Semua berjalan sesuai yang Ningsih dan Bima harapkan.
***
Dua minggu Ningsih tidak pulang ke rumah dengan alasan pembukaan cabang usaha yang baru. Mak Sri menjaga Wahyu sepenuh hati. Terlebih, kehadiran Reno dan Santi membuat Wahyu tidak kesepian lagi.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya Ningsih lakukan. Ningsih dan Rudi sedang bersenang-senang setiap harinya. Tentu dengan adanya Bima juga.
Dua minggu yang Rudi lewati tidak membuat tubuhnya makin berisi, tetapi justru semakin kurus. Apapun yang dia makan seolah tidak menambah berat badannya.
Semua sudah mereka lakukan. Jalan-jalan, belanja, karaoke, dan bercinta. Namun, hal aneh Rudi rasakan setiap malam. Seolah kesadarannya menghilang dan selalu terbangun saat adzan subuh berkumandang.
Malam itu ....
"NINGSIH, HARI INI KUAMBIL SESAJIKU. PINDAHLAH KE KAMAR SEBELAH. TIDURLAH DENGAN NYENYAK"
Suara Bima menggelegar. Ningsih langsung pindah kamar. Tanpa Rudi sadari, semua berlalu begitu cepat. Bima mengambil nyawa Rudi.
Pagi harinya ... saat Ningsih membuka mata, ranjangnya dipenuhi lembaran uang ratusan ribu.
'Terima kasih, Bima! Lelaki seperti Rudi memang pantas dimusnahkan.' batin Ningsih, puas.
Ningsih tersenyum melihat semua uang itu. "Aku kayaa!" teriak Ningsih menggema di villanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Heny🥀
enak bener ya dah dpt uang dpt nilmatnya juga wkwkwkwk
2023-08-12
0
sani_chan
bener2..
2022-12-09
0
Cahaya Hayati
bertambah sehat jin nya 😃😃😃
2022-08-05
0