🍀BAYU MEMANG GEMBLUNG - Part 6🍀
Setelah sadar dari mimpi buruk, Ningsih segera minum teh hangat dari gelas yang Bayu bawa. Para pegawai tempat pijat itu pun bubar dengan sendirinya.
Ningsih menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk mengatasi kepanikannya. Entah mengapa, mimpi buruk itu terasa sangat nyata untuk Ningsih.
"Ningsih, kamu mimpi apa? Kenapa sampai berteriak begitu?" tanya Bayu dengan lembut.
"Ehm, nggak, Mas. Cuma mimpi buruk aja." jawab Ningsih yang tak bisa bercerita.
"Mimpi apa? Coba ceritakan ke mas. Siapa tahu, mas ngerti artinya." kata Bayu yang kemudian menarik tubuh istrinya dan memangku tubuh bahenol itu.
"Emangnya, Mas bisa tafsir mimpi? Kalau mimpi ketemu setan artinya apa, Mas?" tanya Ningsih sambil tersipu malu saat Bayu memangku dan memeluknya.
"Wah, kalau mimpi ketemu setan artinya ada masalah di masa lalu yang belum diselesaikan. Emang, Ningsih ada masalah apa sama mantan?" selidik Bayu yang penasaran.
"Nggak ada, Mas. Tahu sendiri 'kan, Ningsih nggak punya mantan. Mantan suami aja meninggal gitu." ujar Ningsih sambil menunduk.
"Mungkin mantan pacar Ningsih, gitu." kata Bayu sambil menggoda Ningsih.
Ningsih pun membalikkan badan menghadap Bayu sambil berkata, "Nggak ada, Mas. Pacarku, ya yang jadi suamiku itu. Sudah meninggal."
'Apakah benar yang dikatakan Ningsih? Jika pacarnya adalah suami yang meninggal, lantas Rudi di mana? Atau Ningsih menyembunyikan sesuatu dariku? Atau jangan-jangan ... Ningsih juga menikah dengan Rudi? Ah, nggak beres ini!'
Ningsih mencium bibir Bayu dengan perlahan. Membuyarkan semua yang ada di pikiran Bayu. Terbuai akan ciuman mesra itu, Bayu mulai menggerayangi tubuh Ningsih. Seakan terhipnotis, Bayu melupakan hal-hal aneh yang mengganjal di pikirannya.
Mereka pun keluar ruangan pijat itu dan melaju ke apartemen. Sesuatu di bawah Bayu sudah mulai meronta. Logika Bayu terkalahkan oleh nafsunya.
Sesampainya di apartemen, Bayu menggendong Ningsih dan membaringkannya di ranjang. Bayu pun menjadi kasar dan sangat bergairah. Tidak ada satu kata pun terucap dari bibirnya. Menyentuh Ningsih dengan kasar dan membuat Ningsih semakin bergairah.
Satu hal yang akhirnya Ningsih sadari. Lelaki itu bukan Bayu!
"AKHIRNYA KAMU MENGINGATKU NINGSIH! AKU SANGAT CEMBURU MELIHATMU BERMAIN PANAS DENGAN TUBUH INI. INGAT NINGSIH, TINGGAL TUJUH MINGGU WAKTUMU BERSENANG-SENANG DENGAN LELAKI INI!" Perkataan Bima menyadarkan Ningsih bahwa tidak ada yang abadi.
Ningsih pun mencoba menepis keinginan untuk hidup normal menjadi pasangan dengan Bayu. "Bima, bolehkah aku bertanya?" ucap Ningsih mencoba mengajukan pertanyaan.
"TENTU, ISTRIKU!"
"Kenapa belakangan ini aku bermimpi buruk tentang Rudi sialan itu dan Bapaknya? Ini sangat menggangguku."
"TENANG, NINGSIH. MULAI MALAM INI TEROR MIMPI BURUKMU AKAN BERAKHIR! AKU AKAN MEMBUNUH DUKUN TUA YANG IKUT CAMPUR URUSAN KITA. HAHAHA ...." Tawa Bima menggelegar dan hilang di telan Adzan subuh yang berkumandang.
Ningsih pun memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Bayu yang lemas setelah Bima keluar dari raganya. Mereka menjalani hari bersama meski malam harinya, Bima datang mengambil alih tubuh Bayu.
***
Sabtu pagi pun tiba ....
Seperti yang sudah dijanjikan, Bayu akan pulang ke rumah bersama Ningsih. Kemudian, mereka akan bersama lagi Senin pagi.
Ningsih memberi hadiah Bayu sebuah kendaraan bermotor roda dua keluaran terbaru bermesin matic. Semua demi memudahkan akses mereka bertemu. Tak lupa, Ningsih memberi satu amplop coklat berisi uang tunai kepada Bayu.
Bayu sangat bahagia menerimanya. Bayu tak sabar ingin melihat Aji dan Aan serta Narti-istrinya. Bayu masuk ke rumah tanpa salam. Tubuhnya berasa sangat lelah dan mengantuk. Namun, melihat Aji dan Aan membuatnya mampu tersenyum.
"Horeee ... Bapak pulang!" teriak Aji.
"Wah, Bapak bawa motor baru? Uapik banget Pak!" timpal Aan.
"Bapak akhirnya pulang. Alhamdulillah." ucap Narti penuh syukur sambil memeluk suaminya tercinta.
Bayu tidak banyak bicara. Bayu pun menyerahkan amplop coklat berisi uang sepuluh juta kepada Narti. Narti pun terkejut dan bertanya banyak pertanyaan yang membuat Bayu semakin pusing.
"Wes to! Teko dipakai nggak usah banyak cingcong! Kesel aku! Aku arep turu sek!"
(Sudah to! Dipakai saja nggak usah banyak bicara! Capek aku! Aku mau tidur dulu!)
Tanpa disadari, Bayu membentak Narti. Narti pun sakit hati dan menangis. Mengapa suaminya berubah? Badan Bayu yang dahulu berperut buncit pun mulai menyusut. Meski tubuh Bayu tetap kekar, tetapi wajah Bayu terlihat sangat lelah.
Narti mengira, ini semua karena pekerjaan berat yang Bayu lakukan. Narti bersyukur Bayu mau berjuang demi keluarganya.
Aji dan Aan anak penurut. Narti memberi tahu bahwa ayah mereka lelah dan butuh istirahat. Maka mereka pun bermain di luar rumah. Narti sudah merencanakan merenovasi gubuk mereka yang selama ini bocor sana sini.
'Dengan uang segini pasti cukup,' ucap Narti dalam hati.
Malam harinya, Bayu bermimpi melihat sesosok makhluk yang amat menyeramkan. Bermata merah dan bertanduk dua. Senyumnya menyeringai begitu mengerikan.
Bayu terbangun dengan rasa takut yang mendalam. Keringatnya mulai bercucuran. Namun, melihat istri dan kedua anaknya tidur dengan nyenyak membuat Bayu mencoba tidur lagi.
Rasa gelisah menyelimuti hati Bayu. Bayu pun teringat tentang Dirman.
'Ahh, mungkin Dirman sudah mendapat informasi tentang menghilangnya Rudi! Aku harus menemuinya besok!' batin Bayu sambil menarik selimutnya. Bayu pun tertidur lagi.
Pagi harinya, hari Minggu yang cerah. Aji bangun awal dan merengek untuk pergi piknik keluarga. Bayu yang berencana menemui Dirman akhirnya gagal karena menuruti keinginan anaknya.
"Ya udah, ayo piknik. Mau ke Pantai Baron atau mana?" tanya Bayu yang tak tega melihat anaknya menangis.
"Horee! Pantai Baron aja, Pak! Banyak ikan kecil." ucap Aji antusias.
"Wah, hore piknik. Aan mau makan ikan bakar ya Pak, nanti di sana!" sahut Aan yang ikut antusias.
"Beres! Pokoknya boleh, mau apapun itu. Bentar, Bapak pinjem mobil dulu, ya, tempat temen Bapak. Kalian sama Ibu siap-siap dulu." kata Bayu menenangkan anak-anaknya.
"Asiik ... pakai mobil!" teriak Aji dan Aan sangat girang.
Narti pun tersenyum gembira melihat kedua buah hatinya senang. Bayu bekerja baru seminggu, tetapi kehidupan mereka berubah drastis. Mulai dari pakaian, pendidikan, makanan yang tak pernah kurang, bahkan motor baru. Sebentar lagi, rumah akan di renovasi dengan dinding bata. Sungguh, sebuah keberuntungan bagi keluarga Bayu (sepertinya).
Bayu mengirim pesan singkat ke Ningsih.
Bayu: [Pagi sayang, Mas boleh pinjam mobil tidak? Ini anak-anak ingin pergi ke pantai.]
Ningsih pun membalas beberapa saat kemudian.
Ningsih: [Iya, Mas, boleh. Ini ada satu mobil nggak kepakai. Mas boleh bawa. Nanti aku antar ke sana aja, Mas. Sebentar lagi aku ke sana, ya.]
Pas sekali! Ningsih juga mempunyai mobil yang tidak di pakai. Bayu pun lekas ganti pakaian dan berjalan ke arah gang rumahnya.
Beberapa tetangga menatap Bayu sambil berbisik-bisik. Bayu pun paham. Tak mungkin perubahan besar dihidupnya luput dari sorotan tetangga.
Bayu merasa cuek saja dengan ekspresi tetangga. Sesampainya di gang, Bayu melihat sebuah mobil citycar berwarna silver di dekat gang. Ningsih pun membunyikan klakson. Bayu bergegas berjalan ke sana, lalu masuk ke mobil menggantikan menyopir.
"Makasih, ya, sayang. Kamu baik banget." ucap bayu sambil mengecup tangan Ningsih.
"Sama-sama, Mas. Asal Mas bahagia, Ningsih pun ikut bahagia." ucap Ningsih.
Bayu pun mengantarkan Ningsih pulang. Setelah itu, Bayu bergegas ke rumah menjemput istri dan anak-anaknya. Mereka senang bisa piknik bersama dengan mobil yang bagus. Bayu merasa bahagia melihat tawa kedua anak dan istrinya. Bayu lupa akan segala keganjilan yang ada. Bahkan, mimpi semalam serta saat Jumat dia tertidur begitu nyenyak tanpa ingat apa yang terjadi.
Semua kemudahan dan perubahan drastis dalam hidup Bayu merupakan awal dari penderitaan mereka. Bima memberi itu semua dengan perantara Ningsih, tentu TIDAK GRATIS. Bayu sekeluarga tidak tahu apa yang menghadang keluarga harmonis mereka.
Mereka pun sampai di pantai tujuan. Ali dan Aan berlarian saling mengejar. Bayu menggandeng tangan Narti.
"Aku harap kamu bahagia, Ningsih." ucap Bayu.
"Apa Mas? Siapa Ningsih?" Mata Narti terbelalak mendengar ucapan suaminya.
Bayu pun sadar salah menyebut nama istrinya. Melihat istrinya tersulut amarah membuat Bayu memutar otak dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Pipi Tembem
intinya.. sosok yg mdah trgoda oleh duniawi.. harta dan wanita seperti tokoh bayu.. mngkin layak jika mndapatkan itu semua, dan itu jga berlaku bagi semua kaum lelaki..
2022-12-10
1
Tulang Scot
kasihan bangett
2022-07-26
1
Silvi viranda
suka
2021-10-04
0