🍀 SATRIA 🍀
Ningsih menatap lelaki yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu. Wajahnya manis dan menggoda. Ningsih tak pernah terpikirkan hal buruk apa pun karena yakin Bima menjaganya.
"Apakah benar tidak merepotkan?" tanya Ningsih kembali.
"Oh, tentu tidak Miss. Saya dengan senang hati mengantar Miss kemana pun Miss mau." kata Satria yang tersenyum dan menutup pintu mobilnya.
Tanpa keraguan, Ningsih duduk di samping kemudi mobil Pajero Sport berwarna putih. Satria mendengarkan lagu barat kekinian, yang jelas Ningsih tak mengerti artinya. Menjadi kaya raya bukan berarti Ningsih jadi serba bisa. Pendidikan Ningsih memang sampai SMA, tetapi dia lemah bahasa inggris.
"Miss, bolehkah saya memanggilmu Sisy? Itu nama yang jauh lebih cocok untuk gadis cantik sepertimu." ucap Satria sambil sesekali melirik ke arah Ningsih.
Ningsih yang gugup dan merasa malu dengan namanya yang berbau desa langsung mengiyakan. "Boleh, tetapi aku ini bukan gadis. Aku janda beranak satu. Maaf." lirih Ningsih yang menunduk, serasa malu.
"Eh, no problem! It's ok, Sisy. Tidak apa. Walaupun kamu janda, saya tetap suka." kata Satria yang kemudian mengedipkan satu matanya.
Ningsih merasa wajahnya memerah. Malu atau tersipu? Mendengar ucapan Satria yang selalu memuji.
"Satria, mengapa kamu baik padaku? Bahkan kita baru saling mengenal satu jam yang lalu?" tanya Ningsih.
"Miss, bukankah cinta itu tak perlu waktu lama? Cinta itu datang dari mata turun ke hati." kata Satria yang terus menginjak gas dan membuat mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.
"Hahaha ... alasan klasik untuk menggombal! Aku tak pernah percaya cinta!" sahut Ningsih yang tak bisa menahan tawa, merasa geli mendengar kata cinta.
Satria menghentikan mobil saat lampu bangjo berwarna merah. Satria menatap Ningsih, mendekatkan wajahnya. Membuat Ningsih gugup dan memejamkan mata.
"Saya akan buktikan, Miss bisa jatuh cinta pada saya dalam waktu tiga hari di Yogyakarta." bisik lembut Satria tanpa menyentuh Ningsih.
Ningsih yang berharap mendapakan ciuman, harus merasakan kecewa. Lelaki itu sangat romantis dan berkelas!
Lampu hijau menyala, Satria kembali memacu laju kendaraannya. Tak lupa, Satria mendengarkan lagu favoritnya.
🎶🎶 What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
You got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
My head's underwater
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind ....
Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all ...
Cause I give you all of me
And you give me all of you,
Cause I give you all of me
And you give me all of you 🎶🎶
By John Legend - All of Me
Entah lagu apa itu, Ningsih tidak tahu artinya,
yang jelas lagu itu berhasil membuat Ningsih mengantuk. Perjalanan masih kurang satu jam lagi, mereka masih asyik berbincang untuk mengusir kejenuhan dan untuk saling mengenal satu dengan yang lain.
Ternyata, Satria pemilik hotel dan resto di Semarang, tempat Ningsih bersantap siang tadi. Satria juga masih bujangan alias belum nikah. Satria tidak menceritakan tentang keluarganya, karena keluarga sudah Satria meninggal. Hal itu membuat Ningsih jatuh iba.
***
Sesampainya di Yogyakarta, Satria mengantar Ningsih ke rumah ponakannya. Rumah milik Santi dan Reno.
"Miss, saya pergi ke makam keluarga dahulu. Nanti harap hubungi saya jika Miss mau jalan-jalan. Ini nomer saya, Miss." ucap Satria mengeluarkan kartu nama dan memberikan kepada Ningsih.
"Sst ... jangan panggil, Miss. Aku malu tahu! Itu lihat keponakanku tertawa." kata Ningsih setengah berbisik.
"Baik, Sisy yang cantik. Maafkan saya. Ok, see you later." ucap Satria yang kemudian mencium tangan Ningsih lalu berpamitan kepada Santi dan Reno. Dia segera masuk ke mobil dan melaju pergi.
Santi yang dari tadi mengamati Ningsih lalu menggoda tantenya itu.
"Hei, Miss. Apa kabar, Miss? Ciiee ... Tante Ningsih dapet pacar baru. Hahaha ...." seru Santi sambil menggoda Ningsih.
"Wah, Tante seleranya keren. Ini baru cowok tampan dan mapan." imbuh Reno sambil tertawa kecil.
"Haduh, kalian anak kecil ngapain, sih, godain Tantenya. Sini, Tante peluk, ya!" kata Ningsih yang kemudian mengejar Santi dan Reno. Mereka berlari menghindari pelukan Ningsih.
Tak bisa Ningsih pungkiri, Satria begitu mempesona. Berbeda dengan kebanyakan lelaki yang Ningsih kenal. Sangat tenang, terpelajar, sopan, tidak mesum, dan berwibawa. Bagaikan lelaki di cerita drama korea.
***
Ningsih berbincang dengan Santi seputar usaha alm. Ratih. Semua berjalan mulus dan baik. Ningsih pun tak meragukan kepandaian Santi. Terlebih team yang dibentuk alm. Ratih sangat solid. Mampu membimbing Santi dengan hitungan bulan sudah mandiri secara finansial maupun pengelolaan usaha.
Malam semakin larut, Ningsih teringat dengan Satria. Mencoba mengirim pesan kepada lelaki romantis itu.
Ningsih: [Hai, ini aku Ningsih.]
Satria: [Hai, Sisy! Saya menanti pesan darimu. Hampir saja, saya mengira Sisy tak mau kenal lagi.]
Ningsih tertawa membaca pesan Satria. Sangat kaku dan lucu.
Ningsih: [Maaf, tadi aku berbincang dengan keponakanku. Apa yang kamu lakukan? Sudah berkunjung ke makam?]
Satria: [Done. Meski sebentar karena waktu menjelang maghrib tadi. Apa yang Sisy lakukan malam ini?]
Ningsih: [Aku beristirahat saja. Capek.]
Satria: [Oh, baiklah. Besok Sisy ada waktu? Maukah menemani saya ke Ambarukmo Plaza?]
Ningsih: [Tentu! Jemput aku jam sepuluh ya!]
Ningsih pun tersenyum menatap gawainya. Merasa seperti ABG yang sedang kasmaran. Satria sangat pintar dan unik. Membuat Ningsih semakin penasaran dengannya.
Ningsih pun tertidur lelap. Kali ini, dalam mimpi, Bayu menampakkan wujud manusia yang utuh. Bayu menatap Ningsih. Matanya berkaca-kaca seperti hendak mengeluarkan air mata. Ningsih terdiam, tak bisa berkata apa pun. Entah mengapa sesak memenuhi hatinya.
"Mas Bayu, tolong ikhlaskan aku. Aku harus melanjutkan hidupku. Maafkan semua kesalahanku, Mas Bayu." lirih Ningsih dalam hati.
Ningsih meneteskan air mata terlebih dahulu. Tak kuasa melihat lelaki yang pernah saling bertukar perasaan, kini telah di alam yang berbeda.
"NINGSIH, LELAKI ITU TAK AKAN LAGI MENGGANGGU TIDURMU! SEBAGAI GANTINYA, AKU MINTA JANGAN TERPIKAT LELAKI YANG MENGANTARMU TADI!"
Suara Bima menggema dalam mimpi Ningsih. Ningsih hanya bisa berkata ya dan ya. Namun, entah apa yang terjadi besok. Satria mempunyai daya pikat yang luar biasa. Mampukah Ningsih menghindarinya? Mengapa Bima tidak mengijinkan Ningsih dekat dengan Satria?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Diankeren
y g boleh lah... wong satria anak'e Sugeng. 😁 bca yg kskian x tor
2022-08-11
1
Tirta Kamandanu
aaaah....mungkin satria penganut aliran yg sama dengan ningsih
2022-07-05
0
Yulita
apa kah satria masih ada ikatan denggan keluarga yg terbakar itu🤔
2022-07-04
0