🍀 Kenangan Buruk 🍀
#FlashBack
Sugeng pernah hampir memperkosa Ningsih. Saat itu, Ningsih masih menjadi istri Agus yang tak berdaya. Agus berhutang kepada Sugeng sejumlah uang, tetapi Agus tak bisa membayarnya. Karena itulah, Sugeng meminta tubuh Ningsih sebagai pengganti pelunasan.
Hampir saja terjadi pemerkosaan, orang tua Ningsih datang di gubuk reyotnya. Memergoki kelakuan bejat lelaki setengah baya itu. Ningsih menangis tersedu-sedu. Orang tua Ningsih segera melunasi hutang Agus kepada Sugeng. Serta, Ayah Ningsih mengancam Sugeng untuk tidak kembali lagi.
Dari situlah, Ningsih bertekad merubah nasib. Mungkin itu yang membuat Ningsih tidak merasa bersalah menumbalkan Agus.
***
Keesokan harinya ....
Ningsih merasa sangat lemas dan tak bersemangat. Beban pikirannya menumpuk. Terlebih melihat kondisi Bayu yang belum stabil.
Namun, saat melihat berita di televisi, Ningsih tersenyum puas.
[ Berita terkini ....
Kebakaran terjadi di sebuah perumahan elite di Kota Yogyakarta. Karena terjadi dini hari, bantuan terlambat datang.
Kobaran api membesar dan melalap seisi rumah pengusaha sukses tersebut.
Korban jiwa saat ini ada tujuh orang yang merupakan empat pemilik rumah dan tiga pekerja rumah tersebut. Hingga saat berita ini di tayangkan belum ada titik terang penyebab peristiwa tragis ini.
Mari kita dengar kesaksian warga sekitar.
"Sekitar pukul 00.30 terdengar suara teriakan minta tolong. Kami bergegas keluar rumah. Kondisi rumah Pak Sugeng sudah terbakar api besar. Saya sempat ingin menolong namun api terlalu besar dan keluarga itu terpanggan di dalamnya. Entah kenapa mereka tidak bisa keluar dari rumah tersebut. Yang saya lihat, jendela rumah mereka memang ditralis. Namun soal pintu, entahlah. Saya ngeri melihat kejadian naas itu." ]
Ningsih kemudian menekan tombol off pada remote televisinya. Dia tertawa terbahak-bahak dan merasa menang karena berita itu.
"Sugeng ... oh, Sugeng. Kamu ambil hartaku, aku ambil hidupmu!" kata Ningsih sambil menyeringai.
Tak sengaja, Bayu mendengarnya.
"Ningsih, siapa itu Sugeng?"
Ningsih terkejut mendengar suara Bayu. Ningsih pun menjelaskan dengan hati-hati.
"Mas, ingat 'kan awal kita bertemu, Ningsih ada perjanjian kerja dengan seorang pengusaha. Nah, itu Sugeng. Dia menipuku, Mas. Ningsih kehilangan semua usaha di Kota Yogyakarta ini." jelas Ningsih kepada Bayu dengan sabar.
"Astagfirullah ... kenapa bisa seperti itu, Ningsih?" tanya Bayu yang masih bingung.
"Mas, sudah nggak usah bingung. Walau usahaku bangkrut, aku masih punya uang di tabungan dan villaku dalam proses penjualan. Nanti kita semua akan pindah kota saja, Mas." kata Ningsih membujuk.
"Kenapa harus pindah kota?" tanya Bayu kembali.
Wajah Bayu terlihat sedih. Seakan tidak setuju dengan keputusan Ningsih. Namun, apa yang bisa Bayu lakukan sekarang? Istri dan anaknya sudah tiada. Bayu menyesal tak bisa berbuat banyak untuk keluarga kecilnya.
"Maaf, Mas. Keputusanku sudah bulat. Tak ada harapan di kota ini." ucap Ningsih singkat.
"Baiklah kalau itu mau Ningsih. Maaf, Mas balik rumah saja. Mau ngojek lagi." kata Bayu memilih.
'Sial! Kalau Bayu nggak ikut bisa-bisa Bima marah!' gerutu Ningsih dalam hati. Ningsih pun cepat memutar otak.
"Mas, jangan begitu donk. Mas ikut Ningsih, ya. Ningsih janji akan bahagiakan Mas."
"Maaf Ningsih, Mas hanya ingin ke rumah. Bahkan makam Narti, Aan dan Aji pun aku belum melihatnya. Tega, kah, kamu mengajakku pergi?"
Ningsih terdiam tak mampu berkata-kata. Bukan karena tak bisa mengelak, tetapi ke mana Ningsih harus menunjukkan makam anak-anak Bayu yang entah di mana jasadnya.
"Mas, kumohon ikut denganku. Mari kita memulai hidup baru bersama. Apakah Mas tidak memikirkan perasaanku? Aku bangkrut. Semua terjadi begitu cepat tepat saat Mas kecelakaan. Namun, aku mementingkan kondisi Mas. Aku membiarkan semua usahaku disita orang jahat itu. Tapi ternyata Mas ...." ujar Ningsih yang kemudian mulai menangis.
Ningsih merasa sangat tak berarti. Bahkan di dunia ini hanya Bima yang benar-benar mencintai Ningsih dan mengerti Ningsih.
"Jangan menangis, Ningsih. Baiklah, aku akan ikut denganmu." kata Bayu menenangkan Ningsih dan menghapus air matanya.
'Bima, terima kasih sudah memusnahkan Sugeng sekeluarga.' Ningsih berucap dalam hati.
Dendam Ningsih sudah terbalaskan. Namun, entah kapan luka hatinya bisa sembuh. Pernah dilecehkan, membuat Ningsih ingin membalas dendam. Lalu, setelah pelaku meninggal, apakah luka itu bisa ikut hilang? Ternyata tidak!
"TAK PERLU BERTERIMA KASIH ISTRIKU. DALAM DUA HARI INI KAU HARUS BERGEGAS PINDAH. RUMAHMU LEBIH BAIK KAU KOSONGKAN. ANAK-ANAK RATIH PINDAHKAN DI KOTA DEKAT USAHA KOST-KOSTAN MILIK RATIH. WAKTUMU HANYA DUA HARI RATIH. AKAN ADA BEBERAPA ORANG BERBUAT ONAR MENCARIMU."
Ningsih pun paham dengan situasi yang Bima katakan. Waktu Ningsih tidak banyak. Bahkan sekedar untuk melepas rindu dengan Bayu, tak dapat Ningsih lakukan.
"Mas Bayu, aku butuh bantuanmu!" ucap Ningsih tegas.
"Iya, sayang. Aku pasti membantumu." jawab Bayu sambil tersenyum.
Ningsih mengungkapkan semua rencananya. Bahkan menjual rumah dan villanya serta pindah ke Kudus segera mungkin. Menyediakan tempat tinggal yang layak untuk Reno dan Santi serta beberapa pekerja untuk membantu Santi dan Reno.
"Kenapa harus secepat ini Ningsih?" tanya Bayu heran.
"Mas, aku sudah merencanakan ini lama. Namun, aku menunggu Mas pulih dan sehat. Jadi, tolong bantu aku, Mas." bujuk Ningsih yang membuat Bayu luluh.
"Baiklah kalau begitu. Kita mencari tempat tinggal untuk anak-anak sahabatmu, ya."
"Iya, Mas. Santi dan Reno sudah kuanggap anakku sendiri." Ningsih tersenyum telah memenangkan hati Bayu.
***
Villa Ningsih langsung terjual. Pembeli dari luar negeri minat dengan Villa itu. Saldo rekening Ningsih pun bertambah banyak. Ningsih sudah mengincar rumah untuk Reno dan Santi. Serta mempekerjakan seorang ibu separuh baya dan suaminya untuk menjadi sopir dan tukang kebun. Semua berjalan lancar.
Persiapan ke Kudus pun mereka lakukan. Ningsih sudah menghubungi pemilik perumahan di Kudus. Ningsih langsung mengambil salah satu rumah di kawasan elite namun jauh dari keramaian. Tempat yang sempurna bagi Ningsih.
Tak lupa, Ningsih membeli sebuah rumah kecil yang nyaman untuk Bayu tinggal. Karena memang mereka belum bisa bersama di depan Mak Sri maupun Wahyu, putra kecilnya.
Satu hari berjalan dengan cepat. Santi dan Reno tidak bisa memilih karena keputusan sudah diambil Ningsih. Mereka pun menurut dengan keputusan Ningsih.
Mak Sri hanya bisa ikut ke mana pun Ningsih pergi karena Mak Sri tidak tega meninggalkan Wahyu sendiri. Semua berjalan sesuai rencana. Bayu pun meminta ijin untuk melihat rumahnya sejenak sebelum meninggalkan semua kenangan bersama keluarganya.
"Ningsih, Mas mau ke rumah sebentar, ya. Hanya melepas kenangan. Satu jam lagi Mas ke sini." ucap Bayu.
"Baik, Mas." Ningsih pun mengijinkan.
Bayu berjalan dengan kaki gemetar. Melihat dari jauh rumah kesayangannya dahulu kini terlihat seperti rumah hantu. Hampir sebulan sejak kejadiaan naas itu. Bayu belum pernah pulang ke rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Pipi Tembem
ada yang janggal dan aneh di bab ini.. jika pak sugeng dulu prnah akan mmperkosa ningsih, lntas mngapa ningsih justru mau mnjalin kerja sama bisnis dengannya, yg pada akhirnya ningsih kena tipu jga.. ? Bukankah ningsih itu sosok pintar tpi licik.. ? Tapi tidak dalam bab ini..
2022-12-10
0
eMakPetiR
tumben Bima lama ngambil tumbalnya
2022-07-21
0
Genk Oyen
author... kejadian demi kejadian ini pernah dialami seseorang kenalanku.. dan ceritanya mirip bgt... kamu indigo y?
2022-06-11
1