🍀BAYU MEMANG GEMBLUNG - Part 5🍀
Menurut perintah dari Bayu, Dirman si tukang mabuk, mau mencari informasi tentang Rudi. Mulai dari rumah Rudi yang kosong tak berpenghuni, hingga ke rumah saudara Rudi.
Aneh! Sangat aneh! Rudi dinyatakan menghilang tanpa jejak hampir sebulan ini. Bahkan, saat bapaknya meninggal secara tragis, Rudi pun tidak datang melayat.
Keluarga dan saudara Rudi sudah berusaha mencari, tetapi semua tidak membuahkan hasil. Penculikan? Sangat tidak mungkin! Rudi seorang pemabuk dan gemar berjudi. Tubuhnya pun kurus, tak ada alasan seseorang mau menculiknya!
"Wah, jan ono-ono ae. Wong wes gede kok yo ilang. Piye iki, meh takon sopo. Tiwas janji mbek Gemblung! Apes!"
(Wah, kok ada-ada saja. Orang sudah besar kok bisa hilang. Gimana ini, mau tanya ke siapa. Terlanjur janji sama Gemblung! Sial!)
Dirman menggerutu sepanjang jalan, tak sengaja Mak Sri mendengarnya saat belanja di sayur keliling.
"Mas Dirman! Kenapa kok ndleming (bicara sendiri)?" tanya Mak Sri sambil menepuk pundak Dirman.
"Eh, ada Mbak Sri. Ini Mbak, saya cari teman sudah sebulan menghilang." jawab Dirman yang kenal dengan Mak Sri.
"Loh, kok bisa hilang?" selidik Mak Sri.
"Lah, kalau tahu mana mungkin saya cari mbak!" seru Dirman, kesal.
"Oh, iya ya. Ciri-cirinya gimana, Mas?" tanya Mak Sri kembali.
"Orangnya kurus, tinggi, suka mabuk-mabukan dan berjudi. Bapaknya tempo lalu kecelakaan di dekat sini dan meninggal." jelas Dirman.
"Astagfirullah! Oalah, orang itu, Mas. Sepertinya, Bu Ningsih kenal. Orang itu pernah datang ke rumah Bu Ningsih pagi-pagi untuk minta uang. Saya curi dengar, lelaki itu terserempet mobilnya Bu Ningsih dan sepertinya mencoba memeras." jelas Mak Sri pada Dirman.
"Yang bener, Mbak? Wah, nggak beres ini si Rudi! Jangan-jangan ... habis dapat uang, dia kawin lagi terus lupa pulang. Hahaha ...."
Dirman tidak menganggap serius hal itu. Terpenting, dia sudah mendapat informasi.
"Huss ... jangan begitu, Mas. Nanti jadinya fitnah, loh, kalau bukan kenyataan!" tegur Mak Sri.
"Ya, Mbak. Terima kasih infonya!"
Dirman pun bergegas kembali ke pangkalan ojek dan mencoba menelepon Bayu.
Nomor yang Anda tuju sedang sibuk silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi tut ... tut ... tut ....
"Apes! Ini si Gemblung maunya apa, sih! Sudah dapat info malah nomer nggak aktif! Anj*ng!"
Dirman mencoba beberapa kali dan hasil masih sama. Nomor Bayu tidak aktif.
***
Pagi harinya ....
"Mas, ayo bangun." ucap Ningsih lembut.
"Hmm ... iya, sayang." Bayu pun bangun dan memeluk Ningsih, istri sirinya.
"Nanti lagi Mas yang peluk. Kita ke usaha cabang dulu, yuk. Kemarin ada orang mencariku untuk urusan bisnis." lirih Ningsih.
"Ya, Ningsih. Kalau begitu, mas mandi dan ganti pakaian dulu." jawab Bayu dengan semangat.
Ningsih pun tersenyum melihat Bayu. Tak pernah menyangka, ada lelaki yang membuatnya bisa pasrah dan puas.
"NINGSIH, INGAT ... TUJUH MINGGU LAGI AKU AKAN MENGAMBILNYA! DUA MALAM INI AKU BIARKAN KALIAN BERC*MBU! NAMUN, NANTI MALAM AKU YANG AKAN AMBIL ALIH. HAHAHA ...." Suara tawa Bima mengglegar.
Ningsih langsung menunduk dan tak bisa berkata apa pun. Bahkan, untuk berpikir menjadi manusia normal pun dia tak bisa. Semua yang menikah dan bercinta dengan Ningsih, akan menjadi sesaji untuk Bima.
Selesai mandi, Bayu pun bergegas pergi dengan Ningsih. Sarapan bersama, lalu pergi ke toko pakaian membeli keperluan Bayu, dan pergi ke toko handphone.
"Walah, Ningsih! Jangan beli yang bagus-bagus. Sayang uangnya. Lagi pula, mas tidak paham yang model begituan." Bayu mencoba menolak ketika Ningsih memilih smartphone Sams*ng keluaran terbaru.
Ningsih tetap memilih produk itu untuk Bayu. "Ini bagus, Mas. Nanti kita bisa videocall walau jauh bisa saling pandang."
"Handphone biasa saja Ningsih." ucap Bayu menolak.
"Mas, kalau yang ini, ketika Mas di rumah ... bisa telepon sambil lihat Ningsih mandi, loh." bisik Ningsih pada Bayu.
Bisikan Ningsih sangat menggoda bagi Bayu. Bayu pun mau menggunakan handphone itu. Dasarnya si Bayu itu mesum! Dibujuk hal berbau fulgar langsung kepincut!
Bayu pun mencoba memakai handphone baru itu. Dia lupa akan simcard handphone lamanya. Otomatis tidak ada kontak di handphonenya kecuali nama Ningsih.
***
Di sisi lain ....
Siang harinya, Narti pergi ke pasar dengan Aji dan Aan. Membeli semua keperluan sehari-hari dan keperluan sekolah anak-anaknya.
"Bu, apa bener Aji akan sekolah?" tanya Aji dengan lugu.
"Bener, Cah Bagus. Bapak dapat kerjaan yang lebih baik. Tapi Bapak pulangnya cuma Sabtu Minggu, ya. Kerja keras buat kalian." jelas Narti pada anak-anaknya.
"Horee! Terus, Aji besok daftar sekolah, Bu?" tanya Aji yang kegirangan. Keinginan sekolah akhirnya terwujud.
"Iya, Aji. Nah, Aan mau beli apa lagi?"
"Sudah ini saja, Bu. Bu, apa Ibu tidak curiga sama Bapak? Kok bisa sehari dapat uang sebanyak itu Bu?" tanya Aan yang sudah bisa berpikir secara logika.
"Loh, kok Aan bilang begitu? Bapak 'kan bekerja. Tidak boleh seudzon, ya." kata Narti pada Aan.
"Hmm, tapi motor Bapak di mana? Bapak semalam pulang jalan 'kan, Bu."
"Yaampun ... iya, Aan kok perhatian sekali. Ibu malah lupa menanyakan ke Bapak. Tapi Aan tidak boleh seudzon, ya."
"Iya, Bu. Lagi pula motor Bapak tidak akan laku lima juta, ya, Bu. 'Kan sudah butut. Hahaha ...."
Aan, Narti dan Aji pun tertawa. Mereka melanjutkan belanja lalu mencari angkutan untuk pulang rumah. Narti hanya bisa berdoa untuk suaminya. Semoga pekerjaan Bayu berjalan lancar dan Bayu selalu dilindungi Allah.
***
Bayu dan Ningsih sudah selesai meeting dengan seorang pengusaha terkenal yang menawarkan kerja sama dengan usaha Ningsih. Setelah adanya kesepakatan menarik, mereka pun menandatangani perjanjian itu.
Harta melimpah membuat Ningsih memudahkan segala sesuatu. Iming-iming akan mendapat keuntungan yang jauh lebih banyak membuat sifat serakah Ningsih mengiyakan perjanjian kerja itu.
Ningsih pun mengajak Bayu pergi bersantai di tempat massage atau pijat badan biar bugar. Saat di pijat, Ningsih merasa sangat nyaman dan ketiduran.
Dalam tidurnya, Ningsih kembali bermimpi bertemu sosok bapaknya Rudi dan kali ini Ningsih juga melihat Rudi dengan wujud mengerikan.
'Wanita iblis! Kamu layak mati! Apa yang kamu lakukan padaku dan anakku!' geram suara lelaki tua itu seakan nyata bagi Ningsih.
Wujud mengerikan itu mencekik leher Ningsih. Ningsih mencoba meronta-ronta, tetapi cekikan itu semakin kuat. Wujud Rudi yang penuh darah dan tubuh terkoyak-koyak membuat Ningsih ketakutan. Sedangkan lelaki tua yang menyekiknya melotot dengan satu mata hampir copot, badan berlumuran darah.
"Jangan ... jangan ... jangan bunuh aku!" pinta Ningsih berkali-kali.
"Bangun, sayang. Bangun ...." ucap Bayu yang berkali-kali menggoyangkan tubuh bahenol istrinya.
Ningsih pun terbangun dan merasa bingung. Beberapa karyawan tempat pijat itu sudah berdatangan melihat keadaan Ningsih.
"Sudah, tidak apa-apa. Itu hanya mimpi." kata Bayu coba menenangkan Ningsih dan memeluknya.
Karyawan yang melihat pun bubar dengan sendirinya. Bayu merasa hal aneh. Terlebih, saat Ningsih mengigau ada nama Rudi yang dia sebut. Sebenarnya ada apa ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Diankeren
mang ada nyebut nma Rudi, tor? praszaan cuma blg : Jgn.. Jgn... Jgn bunuh aku. gtu doank 😁🤭
2022-08-10
0
Tulang Scot
harta memang bikin lupa diri..!
2022-07-26
1
eMakPetiR
bayu bisa lolos g y
2022-07-21
1