🍀BAYU MEMANG GEMBLUNG - Part 4🍀
Bayu bangun pagi dengan semangat. Tentunya, dia ingin segera bertemu Ningsih. Dia mandi dan segera memakai kembali pakaian yang kemarin dikenakannya.
"Bu, bapak hari ini mulai bekerja. Ini uang jaminan bapak. Tolong, Ibu gunakan buat beli pakaian, alat tulis, keperluan sekolah, makanan dan juga pendaftaran untuk Aji sekolah ya, Bu."
Melihat uang begitu banyak, Narti berkaca-kaca sambil bibirnya mengucap syukur kepada Allah. Akhirnya, keinginan Aji untuk bersekolah bisa terwujud.
"Alhamdulilah ya Allah. Bapak jaga kesehatan, ya, di sana. Lalu, kapan Bapak pulang?" tanya Narti yang memelum segera suaminya.
"Tenang saja, Bu. Bapak pulang setiap Sabtu dan Minggu." jelas Bayu yang kemudian berpamitan.
Narti pun mencium tangan Bayu dan melambaikan tangan saat Bayu beranjak pergi meninggalkan rumahnya. Aji dan Aan pun melakukan hal yang sama. Mereka sangat lugu dan polos. Sama sekali tidak menaruh curiga pada Bayu.
***
"Mak Sri ... Ningsih pamit dulu, ya, Mak. Ada urusan bisnis sampai hari Jumat. Sabtu pagi, Ningsih pulang. Titip Wahyu, Reno dan Santi, ya, Mak." kata Ningsih sambil berlalu pergi.
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan." jawab Mak Sri yang mengantarkan Ningsih pergi.
Seakan sudah terbiasa akan kesibukan Ningsih, Mak Sri mengiyakan dan berusaha menjaga serta merawat ketiga anak di rumah mewah itu.
Ningsih pun melaju menggunakan mobilnya ke depan gang rumah Bayu. Di sana, Bayu menunggu dan masih dengan pakaian yang kemarin Ningsih belanjakan.
"Loh, Mas Bayu kok tidak ganti baju?" tanya Ningsih yang bingung.
"Maaf Ningsih, baju mas 'kan jelek yang di rumah. Takut malu-maluin kalau dipakai." jawab Bayu sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum malu.
Ningsih pun pindah ke kursi sebelah dan mengajak Bayu masuk mobil. Mobil mereka melaju perlahan menuju ke arah kota.
"Kita sarapan dulu, Mas. Mas mau makan apa?" tanya Ningsih sangat perhatian.
"Mas mau makan kamu saja, Ningsih." jawab Bayu menggombal.
Ningsih pun tersipu malu mendengar gombalan Bayu. Meskipun gombal, Ningsih merasa sangat tertarik dengan 'kemampuan' Bayu dan kegagahannya.
***
Mereka sudah selesai sarapan, saat hendak membayar, betapa terkejutnya Bayu melihat kasir rumah makan itu.
"Loh, Mas Bayu sedang apa di kota? Loh, ini siapa, Mas?" tanya wanita yang bekerja sebagai kasir itu.
"Eh, anu, ini bosku. Mas sekarang bekerja jadi sopir pribadi. Mbakmu juga sudah tahu dan mengijinkan." jawab Bayu yang terpaksa berbohong.
Ningsih hanya tersenyum. Tak ingin ikut campur karena tak tahu siapa orang itu.
"Alhamdulilah, Mas. Jadi ada kemajuan, ya, sekarang. Ikut seneng kalau gitu."
"Iya, Dek. Sudah dulu, ya. Mas lanjut bekerja."
"Iya, Mas. Jangan lupa traktir, ya, kalau sudah gajian!"
"Beres!" ucap Bayu sambil berlalu.
'Modar (mati) aku! Hampir saja ketahuan. Pakai acara ketemu adeknya Narti. Untung saja aku bisa antisipasi. Dasar Narti sama adeknya sama-sama bodoh.' gerutu Bayu dalam hati.
"Mas Bayu? Tadi itu siapa? Kok kenal?" pertanyaan Ningsih membuat Bayu tertawa.
"Itu adeknya istriku. Tapi sama-sama oon hehehe ... Ningsih tidak usah cemburu, ya."
"Apaan, sih, Mas! Nggak, deh. Aku bukan wanita yang suka cemburu, kok." sahut Ningsih yang membela diri.
Ningsih dan Bayu pun tertawa. Mereka melanjutkan kegiatan berikutnya, datang ke apartemen yang akan Ningsih sewa selama beberapa bulan ke depan. Serta menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan semua tentang acara nikah siri yang akan Ningsih dan Bayu laksanakan sore itu.
***
Sore harinya ....
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" jawab semua orang di ruangan apartemen baru itu.
Bayu lekas mencium kening Ningsih. Ningsih pun mencium tangan Bayu. Saat itu, tiba-tiba Bayu melihat penampakan menyeramkan itu lagi. Rudi! Tepat di samping Ningsih.
Bayu yang ketakutan, seketika pingsan, tak sadarkan diri. Semua orang menjadi panik melihat mempelai pria pingsan.
Setelah banyak upaya dilakukan. Memberi minyak angin dan mencoba memijit daerah kening dan kaki. Bayu pun sadar dan menjerit.
"SEEETAAAN!"
Sontak semua orang kaget dan panik.
"Mas Bayu? Mas, ada apa?" ucap Ningsih cemas dan membelai wajah Bayu.
Seorang saksi yang hadir pun mengambil segelas air putih untuk Bayu. Bayu meminum air putih itu. Menarik nafas dan mencoba menenangkan diri.
"Maaf, Ningsih. Tadi Mas lihat sesuatu, tapi sudahlah, tidak apa." jawab Bayu mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Yakin, Mas nggak apa?" selidik Ningsih.
"Yakin, sayang. Maaf, ya, semua, saya tidak apa-apa." kata Bayu pada orang di sekitar.
Tamu dan saksi yang datang pun mulai tenang. Acara dilanjutkan dengan menyantap makanan yang tersedia. Walau hanya lima belas orang, tetapi terasa pernikahan siri ini meriah.
'Ono opo meneh iki! Setan sek koyo Rudi jedul meneh! (Ada apa lagi ini! Setan yang menyerupai Rudi muncul lagi!)
Jangan-jangan ...."
Bayu pergi ke dapur sejenak, mengeluarkan handphone jadulnya dan mengirim pesan singkat ke teman sepangkalan ojeknya. Rasa penasaran Bayu terhadap penampakan seperti Rudi pun membuatnya nekad bertanya ke Dirman.
Bayu: [Dirman, iki Bayu. Opo Rudi edan wes jedul nek pangkalan?]
(Dirman ini Bayu. Apa Rudi gila sudah kelihatan di pangkalan?)
Dirman: [Durung je, Mblung! Lah, kowe nopo melu-melu ilang? Kae motormu nek warung kopi wes rong dino! Doh maen nek ndi ora ajak aku! A*u!]
(Belum tu, Mblung! Lah, kamu kenapa ikutan hilang? Itu motormu di warung kopi sudah dua hari! Pada main ke mana tidak ajak aku! Anj*ng!)
Bayu: [Aku gek ono gawean. Sesok tak kei bagian! Tulung goleke kabare Rudi. Bapake sedo opo bali? Wes yo, aku lanjut kerjo!]
(Aku baru ada kerjaan. Besok aku kasih bagian! Tolong carikan kabarnya Rudi. Bapaknya meninggal apakah pulang? Sudah ya, aku lanjut bekerja!)
Dirman: [Yo! Ojo lali bagianku yo!]
(Ya! Jangan lupa bagianku ya!)
"Mas, lagi hubungi siapa?" tegur Ningsih yang membuat Bayu kaget dan tak sengaja menjatuhkan handphonenya.
Handphone jadul itu pun pecah. Bayu memungutnya, ternyata tak bisa diperbaiki.
"Ah, nggak Ningsih. Mas cuma mau cek pulsa. Eh, malah jatuh ini. Rusak." jawab Bayu berbohong.
"Yaampun, Mas. Ya sudah, dibuang saja. Nanti kita beli yang baru, yang bagus." kata Ningsih yang kemudian merangkul tangan kekar Bayu.
Bayu tidak bisa berpikir jernih. Semua kejadian yang agak aneh itu tak bisa dia cerna. Sesudah tamu dan saksi pulang, pihak catering bersih-bersih, tinggallah Bayu dan Ningsih berdua.
Mereka pun bagaikan pasangan muda yang haus bercinta. Tanpa memikirkan Narti dan kedua anaknya, Bayu menciumi wanita yang beberapa jam lalu sah menjadi istri sirinya.
Bagai tersihir kemolekan tubuh Ningsih, Bayu semakin menginginkannya lebih dan lebih. Mereka saling memadu kasih hingga lewat tengah malam. Mereka berhenti saat tenaga sudah habis. Terlelap dalam keringat dan pelukan. Bayu hanyut dalam surga dunia.
Bayu melupakan sejenak kecurigaannya tentang penampakan Rudi. Dia memilih untuk menikmati kebersamaan dengan Ningsih yang berharga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
eMakPetiR
nahhh gitu..
bagus thor, ada bahasa jawanya tapi jg ada translate nya
jadi g roaming
2022-07-21
0
Sogol Shinko
XNXX nya di perjelas Thor biar g penasarann
2022-06-21
0
Majid Jordy
anak anjing
2022-05-07
0