🍀 Bayu dan Maut 🍀
"Blung! Bayu Gemblung!" seru seorang lelaki dari kejauhan memanggil Bayu.
Ternyata Dirman pemilik suara itu. Bayu pun berhenti berjalan menuju rumahnya dan mendekati Dirman.
"Dirman!"
"Bayu, edan kowe! Nopo lagi bali! Bojomu mati po kowe rak ngerti!"
(Bayu, gila kamu! Kenapa baru pulang! Istrimu meninggal apa kamu nggak tahu!)
Dirman berkaca-kaca melihat kondisi Bayu yang badannya mulai menyusut.
"Aku tahu, Man! Namun, aku pun kritis. Kami kecelakaan bersama. Istri dan anak-anakku meninggal. Aku dirawat di ICU hampir dua minggu. Ini baru beberapa hari aku keluar dari rumah sakit." jelas Bayu yang mulai tertunduk mengingat kejadian itu.
"Dah, jangan sedih. Aku turut prihatin. Semua sudah terjadi kehendak Sang Pencipta. Tapi satu pesanku, jauhi si Ningsih." kata Dirman serius sambil tengok kanan kiri.
"Loh, apa hubungannya dengan Ningsih?" tanya Bayu yang bingung.
"Kamu nggak inget? Pernah nanya info soal Rudi 'kan. Aku cari info ternyata sebelum Rudi hilang, dia pergi sama Ningsih, si janda kaya raya yang semok itu. Tapi ... Rudi nggak pernah pulang. Bapaknya curiga terus pergi ke dukun minta bantuan dan bertanya ke mana si Rudi pergi. Ternyata, Dukunnya bilang Rudi jadi tumbalnya Ningsih. Bapaknya Rudi dateng ke rumah Ningsih. Eh, tahu-tahu kecelakaan, mati tragis. Terus yang paling aneh, si Dukun juga mati mengenaskan. Boleh percaya atau nggak. Tapi aku rasa si Ningsih ini nggak beres." Dirman menjelaskan secara detail dan Bayu mendengarkan.
Bayu tak bisa mempercayai hal itu begitu saja. Namun, Bayu menjadi curiga terhadap Ningsih yang bergegas ingin pindah.
"Terima kasih infonya, Man! Ini buat kamu." Bayu merogoh uang di dalam dompetnya dan memberikan semua ke Dirman.
"Kok, banyak banget?" Dirman terkejut menerimanya.
"Udah, terima aja. Hitung-hitung rejeki. Sudah dulu, aku ada keperluan." Bayu pun berbalik arah dan pergi.
Bayu mengurungkan niat untuk menengok rumahnya dan makam istri serta kedua anaknya. Bayu masih belum mengetahui tentang jasad kedua anaknya yang menghilang.
"Aku harus beri pergitungan pada Ningsih jika memang dia terbukti menumbalkan Rudi dan keluargaku!" geram Bayu sambil mengepalkan tangannya dan berjalan cepat menuju rumah Ningsih.
Bayu mempercepat langkahnya menuju rumah Ningsih. Amarah menguasai dan hatinya. Bayu merasa bingung antara percaya perkataan Dirman atau mempercayai Ningsih.
Dua mobil box sudah melaju dengan membawa semua perabotan milik Ningsih. Mak Sri dan Wahyu duduk di samping sopir dengan mobil box berwarna hitam meluncur ke Kudus sedangkan Reno dan Santi duduk di samping sopir dengan mobil box berwarna putih meluncur ke Kota Yogyakarta.
Bayu semakin mempercepat langkahnya. Mobil hitam masih terparkir di garasi rumah mewah itu. Bayu bergegas masuk ke rumah yang sudah kosong. Ruang tamu sepi dan tak nampak satu barang pun. Bayu melangkah masuk, terdengar samar-samar suara di dalam ruangan. Bayu berjalan dan melihat Ningsih di dalam.
Kamar Ningsih begitu luas. Ranjang empuk masih berada di sana, tetapi tak ada seprei serta bantal gulingnya.
"Ningsih!" lirih Bayu yang melangkah masuk melihat Ningsih sedang menyentuh bagian intimnya.
"Aah, M-mas Bay ...." ucap Ningsih mendesah-desah.
Bayu langsung tersulut nafsu. Melupakan semua perkataan Dirman. Dua minggu di ICU tanpa pelepasan membuat Bayu tergoda dengan aksi Ningsih. Tanpa ucap, tanpa tanya, Bayu bagaikan serigala buas hendak menerkam Ningsih.
Bayu menarik tangan kotor Ningsih, menjilat setiap jari jemarinya. Ningsih semakin mendesah. Bayu pun mencium bibir Ningsih, ********** tanpa ampun. Mereka melampiaskan semua hasrat yang tertunda.
Ningsih memeluk erat tubuh Bayu. Bayu pun mulai mencium telinga, leher, dan mulai berjalan ke bukit kembar nan kenyal. Ningsih kembali mendesah menikmati semua itu.
Tangan Bayu mulai menyusuri lekuk tubuh Ningsih. Secara kasar, Bayu membuka seluruh kain di tubuh Ningsih. Lalu membuka pakaiannya sendiri. Mereka bergumul dalam keringat dan berganti beraneka posisi. Bayu melupakan semua perkataan Dirman.
"Persetan dengan itu semua! Ningsih milikku! MILIKKU!" batin Bayu yang sudah terkuasai hawa nafsu.
Bayu membuat Ningsih serasa di awan. Berkali-kali ******* dan akhirnya Bayu pun pelepasan. Mereka saling menatap dan memeluk. Melupakan semua permasalahan yang ada.
"NINGSIH TINGGALKAN LELAKI ITU DI SINI! PERGILAH SEKARANG!"
Suara Bima membuat Ningsih terkejut. Belum selesai merasakan nikmat itu.
"T-tapi ... bukankah belum dua bulan Bayu bersamaku?"
Ningsih mencoba bernegosiasi dengan Bima. Sungguh, Ningsih tidak mau melepaskan Bayu secepat ini.
"JIKA ITU KEINGINANMU, AKU TIDAK AKAN MEMBANTU JIKA TIBA-TIBA DIA MEMBUNUHMU ATAU ANAKMU! LELAKI YANG MEMBUATMU BERDESAH TADI, SUDAH MENGETAHUI PERBUATANMU TERHADAP KAWANNYA."
"M-maksudmu? Rudi? Bayu kenal Rudi?"
"YA! TINGGALKAN DIA DI SINI. AKAN KUBERESKAN SEMUANYA."
"Baik Bima. Terima kasih suamiku."
Ningsih tak menyangka jika Bayu mengetahui perbuatannya. Ningsih terpaksa menuruti Bima, karena Bima tidak mungkin menipu Ningsih, iya 'kan?
Ningsih memunguti satu per satu pakaiannya dengan perlahan. Memakainya, dan segera keluar kamar, selagi Bayu terlelap karena lelah setelah pelepasan.
Ningsih mengunci rumah itu dan bergegas masuk mobil. Meninggalkan Bayu begitu saja tanpa pesan apa pun. Mobil Ningsih melaju menyusul Wahyu dan Mak Sri ke Kudus.
Siang pun berganti sore dan matahari pun mulai terbenam dalam balutan malam nan dingin. Bayu terbangun dan meraba keseluruh ranjang, mencari di mana tubuh sintal yang memuaskannya siang tadi. Namun, nihil. Tidak ada apa pun di sana. Bayu bergegas berdiri dan menyalakan lampu kamar.
Memungut dan memakai pakaiannya lengkap serta mencoba menghubungi Ningsih melalui gawainya.
Tut ... tut ... tut .... Nomer yang Anda tuju sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip bip bip.
Beberapa kali menelpon Ningsih tak membuahkan hasil. Bayu mulai panik dan mencoba keluar rumah.
Glek!
Ternyata pintu rumah terkunci. Bayu mencoba mencari jalan keluar lainnya, tetapi semua terkunci. Bayu terjebak!
Bayu mendengar suara geraman dari arah kamar.
"Grrrraaaa ...."
Suara itu semakin jelas dan dekat. Seketika nyali Bayu ciut dan bingung harus bagaimana ketika melihat sesosok makhluk tinggi besar, bertanduk dua, dengan mata merah menyala. Sangat menakutkan!
Makhluk itu semakin mendekat dan dengan cepat membungkam mulut Bayu. Bayu hilang dalam pelukan malam. Tak satu pun yang tahu, tak satu pun peduli.
Ningsih memang sudah sampai di kota tujuannya. Namun, rasa gelisah menyelimuti hatinya. Selamat tinggal Bayu!
***
Seminggu kemudian ....
Beredar kabar di perumahan Ningsih sebelumnya, ada suara minta tolong setiap tengah malam. Suara lelaki dengan sangat menyedihkan, merintih, meminta tolong dan memohon ampun. Karena kejadian itu, satpam pun tak berani keliling perumahan sesudah Isya.
Rumah Ningsih memang belum laku. Namun, tak ada keinginan Ningsih untuk kembali ke sana. Terlebih setelah kejadian menghilangnya Rudi dan Bayu, beberapa warga geram dan mendatangi rumah Ningsih yang sudah kosong.
Semua info ini disampaikan oleh salah seorang satpam yang dibayar lebih oleh Ningsih untuk mengawasi rumahnya sebelum terjual. Jelas saja, satpam tersebut tidak menyebutkan ke mana Ningsih pindah.
Ningsih memulai semuanya dari awal. Namun, tak ada niat membuka usaha karena sesampainya di rumah baru, Ningsih membuka lemari khusus sesajinya. Boom! Banyak sekali uang dan emas yang Ningsih dapatkan dari Bima. Jelas hal itu karena Bayu sudah tiada.
"Ah kalau begini aku tak perlu membuka usaha selama setahun penuh pun tak akan habis uangku!" gumam Ningsih dengan tenang
Ningsih pun segera menabung sebagian besar uangnya. Ningsih bahagia bisa bermain dan merawat Wahyu beberapa saat. Tanpa mengkhawatirkan apa pun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Cahaya Hayati
enak ya Ning nanti mana ada iblis jujur
2022-08-15
0
Ayuk Vila Desi
ngeri...😱
2022-08-05
0
eMakPetiR
akhirnya bayu diambil juga
2022-07-21
1