🍀 BAYU MEMANG GEMBLUNG - Part 1 🍀
Setelah dua minggu tak pulang, Ningsih akhirnya kembali ke rumahnya.
"Wahyu sayang, Mama pulang. Ini Mama bawa mainan baru buat Wahyu. Mak Sri, tolong bawa belanjaan ini ke dalam. Reno, Santi, Tante bawakan hadiah buat kalian." seru Ningsih yang membawa banyak bingkisan. Dia merasa sangat senang bisa bertemu Wahyu, anaknya. Diciumnya pipi dan kening Wahyu.
"Tante, terima kasih banyak!" ucap Reno dan Santi serentak saat melihat bingkisan yang Ningsih bawa.
"Sama-sama, sayang-sayangku. Kalian penyemangat hidupku." kata Ningsih sambil memeluk erat Wahyu, Reno dan Santi.
Setelah mandi dan makan malam, Ningsih masuk ke kamarnya.
"NINGSIH, BESOK AKAN ADA SEORANG YANG MENDATANGIMU. KAMU HARUS BERHATI-HATI MENJAWABNYA. SELEBIHNYA, BIAR AKU YANG BERTINDAK."
Bima datang dan memperingati Ningsih. Ningsih pun mengangguk. Hari ini, Bima tidak menyentuh Ningsih. Bima membiarkan Ningsih tertidur lelap dalam balutan mimpi indah.
***
Keesokan paginya, Ningsih dikagetkan dengan suara gedoran pintu. Entah siapa yang menggedor pintu rumahnya.
Mak Sri bergegas menengok dan orang yang tak di kenal itu terus berteriak. "Buka pintu! Dasar wanita iblis! Buka pintu!"
Mak Sri bingung dan tidak berani membuka pintu rumah. Ningsih pun menghampiri Mak Sri dan mengisyaratkan Mak Sri untuk menemani Wahyu saja.
Ningsih membuka pintu, dengan tenang Ningsih menyapa orang asing itu. "Maaf, Pak. Bapak siapa, ya? Kenapa membuat keributan di rumahku?"
Lelaki tua itu menatap Ningsih dengan penuh amarah. "Pura-pura tak tahu! Aku, Ayahnya Rudi! Kau apakan anakku?" seru lelaki tua yang agak kurang waras itu.
Ningsih mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya. 'Kenapa Bapak ini bisa tahu? Sial!'
Ningsih lantas menjawab dengan tenang. "Siapa Rudi? Maaf, Bapak salah orang. Aku tidak mengenal Bapak dan orang yang Bapak sebutkan." ujar Ningsih yang sudah malas membahas soal Rudi.
Lelaki itu pun semakin geram dan berusaha menyerang Ningsih. Namun, aksinya digagalkan oleh teriakan seseorang.
"Berhenti! Bapak kami bawa ke pos satpam. Bapak telah mengganggu kenyamanan penghuni perumahan."
Tiga satpam perumahan yang Ningsih hubungi datang tepat pada waktunya. Lelaki tua itu segera dibawa pergi dengan paksa.
Lelaki itu masih saja memaki Ningsih.
"Awas kamu, ya, wanita iblis!"
Ningsih pun menghela napas melihat satpam membawa lelaki itu. Tak habis pikir, kenapa bisa lelaki tua itu ke rumah Ningsih.
"TAK USAH KAU PIKIRKAN DIA! ITU URUSAN YANG SANGAT MUDAH UNTUKKU. LELAKI TUA ITU MENCARI ANAKNYA LEWAT DUKUN KELAS TERI. DUKUN ITU MENUNJUKKAN RUMAHMU SERTA APA YANG RUDI ALAMI." kata Bima menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
'Sialan dukun itu! Hampir saja bisa heboh sekomplek perumahan!'
Ningsih berkomunikasi dengan Bima melalui batin. Menghindari ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"TENANG, NINGSIH. DUKUN ITU SUDAH KUHABISI TADI MALAM. NANTI, LELAKI TUA ITU PUN AKAN MENDAPAT GANJARANNYA."
Bima pun pergi setelah meyakinkan Ningsih. Ningsih lega mendengar Bima akan menyelesaikan hal itu. Semua demi rahasia Ningsih.
Ningsih menjaga rahasia itu hampir tiga tahun. Jadi hal tadi jelas membuat Ningsih was-was jika ada orang yang tahu. Ningsih sudah berfikir panjang tentang berpindah tempat untuk mengatasi kecurigaan orang tentang statusnya yang menjanda beberapa kali.
'Untungnya aku dan Rudi sampah itu hanya menikah siri. Aman! Tidak ada yang tahu pernikahan ini. Anak buahku semua bisa menjaga rahasia.'
Ningsih pun tersenyum. Dia merasa tak bersalah mengorbankan Rudi. Meskipun hidup Rudi jauh dari kata baik, tetapi pantaskah Ningsih mengambil nyawa Rudi demi harta?
Saat dibawa ke pos oleh tiga satpam, bapaknya Rudi melarikan diri. Tentu para satpam mengejarnya sampai jalan utama. Tak disangka, sebuah Bis melaju kencang dan menabrak lelaki tua itu. Lelaki tua itu tewas mengenaskan seketika.
Bis yang menabrak pun melarikan diri. Sungguh tragis nasib lelaki tua itu. Warga perumahan langsung gempar dengan kejadian tabrak lari. Seorang lelaki tua yang di kejar tiga satpam, tewas seketika tertabrak bis. Polisi dan ambulance pun datang setelah seorang satpam melaporkan kejadian itu.
Jelas, Ningsih pun ikut diinterogasi oleh pihak kepolisian. Ningsih menjawab dengan tenang.
"Aku tidak mengenalnya, Pak. Bahkan, aku menelepon satpam perumahan karena takut akan lelaki tua itu."
Ningsih menjawab dengan jawaban yang sama setiap kali diberi pertanyaan. Bersikukuh tidak mengenal lelaki tua itu.
"Baik, kami akan selidiki kasus ini lebih lanjut. Terima kasih waktunya, Bu Ningsih."
'Fiuuh. Akhirnya polisi sialan itu pergi juga. Dasar Rudi udah mati aja nyusahin. Bapakmu juga sama aja!' batin Ningsih yang akhirnya bisa bernapas dengan tenang.
***
Dua hari kemudian ....
Ningsih berangkat ke kota untuk mengecek cabang usahanya. Ningsih memang merencanakan untuk pindah kota. Namun, entah kapan hal itu bisa terwujud. Ningsih harus mengumpulkan uang yang lebih banyak lagi.
Saat di perjalanan, mobil Ningsih sedikit oleng karena ban mobilnya terasa kempes. Ningsih menepikan mobil Avanza Veloz kesayangannya. Lalu, dia segera mengecek keadaan ban mobil tersebut.
"Ah, sial! Benar kempes. Jam segini mana ada bengkel buka?" gerutu Ningsih sambil melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan pukul 08.00 tentu bengkel belum buka.
Seorang lelaki mendekati dari pangkalan ojek dekat mobil Ningsih berhenti. "Permisi, Mbak. ada yang bisa kubantu?" Lelaki berbadan besar dan tambun menyapa Ningsih dengan sopan dan ramah.
"Ah, iya Mas. Ini mobilku kebanan. Kira-kira dekat sini adakah bengkel?" jawab Ningsih yang merasa terbantu ada orang yang menanyainya.
"Kalau jam segini bengkel belum buka, Mbak. Punya ban cadangan, tidak? Aku bisa bantu ganti ban mobil, Mbak." kata lelaki itu.
Kebetulan sekali, Ningsih mempunyai ban cadangan. Lalu, peralatan mengganti ban ada komplit di sana. Dahulu, Pak Ridwan (mantan sopir Mas Tomi) selalu mengeceknya.
"Ini, Mas? Benar, tidak?" tanya Ningsih sambil menunjukkan peralatan dan ban cadangan.
"Ya, Mbak. Bener. Sebentar, aku ganti bannya. Mbak duduk saja di tempat yang teduh."
Benar saja, lelaki berbadan besar nan tambun itu bersusah payah mengganti ban mobil sendirian. Keringat sebesar biji jagung menetes dari tubuhnya yang kelelahan. Sesekali, lelaki itu melirik ke arah Ningsih duduk dan tersenyum.
"Nah, sudah selesai, Mbak." ucap lelaki itu sampil mengatur nafas.
"Ah, terima kasih banyak, Mas. Mas jadi keringatan gitu. Gimana kalau kutraktir minum sambil sarapan? Kebetulan aku belum sarapan Mas." ucap lembut Ningsih sangat menggoda dan tidak bisa ditolak.
Lelaki itu pun mau. Namun, sebelum pergi, lelaki itu menitipkan motornya di warung kopi sebelah pangkalan ojek.
"Bentar, ya, Mbak. Aku nitip motor dulu."
Lelaki itu berjalan dan menitipkan motornya. Pemilik warung pun mau asal dapat komisi. Lelaki itu mengiyakan dan segera dia berlari kecil ke arah Ningsih.
"Ayo, Mbak. Tapi biar aku yang menyetir, ya. Tidak enak kalau wanita yang menyetir." kata lelaki itu pada Ningsih.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Ningsih sedikit kagum dengan lelaki itu. Aroma bau keringat menyengat di dalam mobil, tetapi tak membuat Ningsih risih.
"Mas, terima kasih, ya. Mas, namanya siapa?"
"Namaku Bayu, Mbak. Kalau Mbak namanya siapa?"
"Namaku Ningsih, Mas. Ini belok kiri, ya, Mas. Kita sarapan di situ aja."
Ningsih mengusap lengan Bayu. Bayu pun tersenyum.
'Wah, wanita ini sungguh mempesona. Pantas saja Rudi tidak pulang berminggu-minggu. Pasti lagi asyik indehoy dengan wanita mulus nan bahenol ini.' batin Bayu.
Bayu melirik ke arah Ningsih. Merasa iri dengan Rudi. Sedangkan Ningsih tidak mengetahui bahwa Bayu adalah teman Rudi.
Seusai mereka sarapan, mereka pun berbincang-bincang hangat. Sesekali Bayu memuji Ningsih dan mencuri pandang ke gundukan yang menyebul dari pakaian Ningsih.
Ningsih pun tau Bayu curi pandang padanya. Ningsih merencanakan sesuatu.
"Mas, sibuk tidak hari ini? Mau tidak menemaniku?" tanya Ningsih, sedikit merayu.
"Waduh, Ningsih. Mas memang tidak sibuk, tapi malu, ah, nemani wanita cantik begini. Mas seperti gembel saja," kata Bayu sambil menertawai dirinya sendiri.
"Aduh, Mas Bayu jangan bilang begitu donk. Kalau Ningsih ajak ke toko pakaian dulu, mau?" bujuk Ningsih seraya mengusap lengan kelar Bayu dan menyenderkan kepalanya sebentar.
Bayu merasa aliran darahnya mendidih. Tanpa basa basi, Bayu mengiyakan tawaran Ningsih.
"Ya, Ningsih. Mas m-mau."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Heny🥀
dpt mangsa lagi nih Ningsih ...
2023-08-12
0
Evans
nda la sbb nyawah baitu bkn mainan suka'' seja kau ambil
2022-08-03
0
eMakPetiR
menunggu tumbal ke 4
😅
2022-07-21
0