🍀BAYU MEMANG GEMBLUNG - Part 7🍀
Melihat wajah istrinya seperti hendak marah, Bayu segera memutar otak. Tidak ingin kesalahannya menimbulkan masalah.
"Ha? Siapa? 'Kan bapak nyebut nama Ibu." selak Bayu.
"Bapak kira Ibu budeg (kurang dengar), ya? Jelas-jelas tadi nyebut Ningsih!" Narti pun mulai melotot.
"Ibu salah dengar mungkin. Di sini 'kan ramai. Udah, ayo kita nyusul Aji sama Aan." kata Bayu sambil menggandeng tangan istrinya dan bergegas menyusul anak-anaknya.
'Apa iya aku salah dengar? Tapi Mas Bayu perhatian, sih, dengan anak-anak. Kalau selingkuh, pasti tidak perhatian lagi. Huh, aku harus membuang pikiran buruk itu!' batin Narti sambil menatap kedua anaknya yang tertawa sangat bahagia.
Mereka bermain di tepi pantai. Berlarian, sangat bahagia, belum pernah mereka merasakan keceriaan seperti itu. Setelah lelah, mereka ke rumah makan di tepi pantai yang menyajikan aneka macam seafood.
Sungguh, ini pertama kalinya Aji dan Aan ke pantai. Meski rumah mereka tidak terlalu jauh dari pantai, kondisi ekonomi yang terbatas membuat Bayu dan Narti tidak bisa mengajak anak-anak mereka sekedar berlibur. Mereka memesan banyak menu yang belum pernah mereka nikmati.
"Terima kasih, Pak. Sudah ajak ibu dan anak-anak ke sini." ucap Narti yang menatap lelaki bertubuh kekar di sampingnya.
"Walah, ngapain terima kasih, Bu? Ini 'kan kewajiban bapak membahagiakan keluarga. Hanya baru sekarang bapak bisa mengajak kalian berlibur. Maaf, ya, Bu. Bapak akan rajin bekerja untuk membahagiakan kalian." ungkap Bayu yang menatap Narti.
Mata Narti berkaca-kaca memandang suami yang sudah enam belas tahun bersamanya. Suka maupun duka sudah mereka lewati bersama.
Setelah selesai bersantap, mereka menikmati indahnya matahari terbenam. Menikmati setiap detik bersama. Sehabis maghrib, mereka pun masuk mobil dan melaju pulang.
***
Ningsih menghabiskan hari Minggunya untuk bermain bersama Wahyu, Reno dan Santi. Hal itu membuat pikiran dan perasaan Ningsih bahagia. Seakan melupakan semua hal yang sudah dia lakukan.
'Mungkin benar kata hantu lelaki tua itu. Aku ini iblis. Tak pantas di sebut seorang Ibu. Seorang wanita yang tega mengorbankan suaminya demi harta. Ah, aku ini memang gila!' batin Ningsih yang melamun melihat tawa anaknya yang bermain dengan anak-anak Ratih di Timezone.
Dia tak menyadari seorang lelaki duduk di sampingnya. "Masih melamun dan berpikir seperti itu?" ucap lelaki di sebelahnya.
Suara itu nampak tidak asing bagi Ningsih, hanya suaranya lebih lembut. Menatap lelaki itu, Ningsih langsung tahu siapa dia.
"Bi-Bima ...." ucap lirih Ningsih lalu tangannya menutup bibir yang menganga karena terkejut.
Lelaki itu tersenyum, sangat manis. Membelai lembut wajah Ningsih dan berbisik. "Hari ini purnama dan kekuatanku sedang maksimal. Aku merindukanmu. Ini wujudku yang bisa kau lihat dan kau nikmati nanti."
(ilustrasi wajah Bima ada di akhir episode ini)
"B-bima, kamu sangat tampan." kata Ningsih yang baru pertama kali melihat Bima.
Seakan terhipnotis oleh senyum Bima, Ningsih mengecup bibir Bima di depan umum. Ningsih pun menghentikan ciuman itu. Ningsih meminta Mak Sri pulang bersama anak-anak.
"Mak, saya ada pekerjaan mendadak. Bisakah Mak Sri menjaga dan pulang dengan anak-anak tanpa saya? Ini uang untuk naik taksi dan melanjutkan jalan-jalan. Maaf, ya, Mak Sri."
Ningsih memberikan sejumlah uang kepada Mak Sri dan bergegas menuju ke Bima.
"Iya, Bu Ningsih. Hati-hati dijalan." jawab Mak Sri yang menatap Ningsih.
Ningsih berlari kecil ke seorang lelaki. Entah mengapa, saat Mak Sri melihat lelaki itu rasa takut dan merinding menghampiri.
'Wis biasa nek bocah-bocah ditinggal Nyonya. Tapi nek iki, mesti rak beres. Koyo dudu uwong.'
(Sudah biasa kalau anak-anak ditinggal Nyonya. Tapi kalau ini, pasti tidak beres. Seperti bukan manusia) teriak batin Mak Sri.
Lelaki itu pun menoleh ke belakang dan menatap Mak Sri. Mak Sri takut dan buru-buru menghampiri Wahyu, Reno dan Santi.
***
Waktu masih menunjukkan pukul 18.10 tetapi perjalanan dari pantai ke rumah Bayu terasa gelap dan mencekam. Bayu menyopir dengan santai, tetapi pikirannya selalu terbayang makhluk yang datang pada mimpinya semalam.
Merinding seluruh tubuh Bayu. Saat tikungan tajam, tiba-tiba Bayu melihat wanita seperti Ningsih di pinggir jalan. Bayu pun menengok dan kehilangan keseimbangan mobil.
"Pak, awas!" ucap Narti saat tikungan.
"Bapaaaak ...." teriak Aan dan Aji bersamaan dan kejadian itu terjadi begitu cepat.
Suara rem yang berdecit dan ban yang beradu dengan aspal memecah keheningan malam itu. Seketika dentuman keras terdengar. Kecelakaan tidak bisa dihindari. Mobil yang Bayu bawa menabrak pohon dan berhenti saat menghantam dinding tebing.
"Bu ...." lirih Bayu melihat istrinya berdarah-darah dan akhirnya semua gelap. Dia pun tak sadarkan diri.
***
Di tempat lain ....
Ningsih dan Bima memasuki apartemen, di mana dia dan Bayu bersama seminggu yang lalu. Bima tersenyum menatap Ningsih dengan tajam.
"Malam ini, akan menjadi malam yang panjang, istriku." ucap Bima setengah berbisik di telinga Ningsih.
"Suamiku ... aaah ...." Ningsih mendesah saat tangan Bima mulai menjelajahi lekuk tubuhnya.
Tak pernah terpikirkan oleh Ningsih, dari mana Bima mendapatkan kekuatan sebesar itu untuk mengubah diri menjadi manusia. Ningsih terhanyut dengan permainan Bima.
Bima berwujud lelaki tampan, berbadan kekar, dengan senyum rupawan. Wajahnya terlihat seperti orang Indonesia blasteran orang luar negeri. Namun, tak mengapa, itu membuat Ningsih semakin bergairah.
***
Pukul 19.00 di jalan tikungan tajam, tempat mobil Bayu kecelakaan ....
"Cepat panggil ambulance!" kata seorang lelaki yang melihat mobil menabrak dinding tebing.
Tak lama kemudian banyak kendaraan berhenti dan melihat keadaan mobil yang digunakan Bayu sekeluarga. Jalanan yang sepi dan berkelok-kelok membuat ambulance datang pukul 19.35 dan itu sudah waktu tercepat yang mereka bisa.
Polisi pun datang lebih awal dari ambulance. Mereka segera mengevakuasi penumpang di citycar itu. Police Line berwarna kuning membentang di sekitar tempat kejadian kecelakaan.
"Ambulance sudah datang. Mohon beri jalan," kata polisi menyibak keramaian.
"Wah kasihan ya."
"Sepertinya meninggal itu."
"Yaampun kondisinya mengerikan."
Orang-orang mulai berbisik saat melihat pintu mobil dibuka paksa untuk mengambil korban kecelakaan. Seorang lelaki dan seorang perempuan.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa percikan darah yang ada di kursi belakang adalah milik kedua anak Bayu. Polisi mengamankan beberapa barang pribadi korban. Ada handphone milik Bayu dan kartu identitas.
Petugas medis membawa Bayu dengan keadaan kritis dan jenazah istri Bayu, sedangkan polisi menghubungi nomer yang tertera di kontak handphone Bayu. Hanya ada satu nama di sana. Ningsih. Polisi terus menghubungi meski belum ada jawaban.
I**ni bonus ilustrasi wajah Bima yaaa**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
Heny🥀
visual bimanya kurang keren Thor ga greget
2023-08-12
1
Pipi Tembem
baru tau.. ada hantu bule.. tpi maaf, jauh dari kata ganteng.. 😁
2022-12-10
0
Evans
Nda hansem pun
2022-08-03
0