🍀 RUDI LELAKI BERUNTUNG (?) - Part 1 🍀
Tiga bulan berlalu dengan cepat ....
Ningsih mulai terbiasa dengan kehadiran Santi dan Reno di tengah keluarga kecilnya bersama Wahyu. Lama kelamaan, kondisi Santi dan Reno mulai membaik dan mau membuka diri. Adanya sikap saling memperhatikan membuat keluarga itu terasa hangat. Mereka terlihat sangat bahagia.
Suatu pagi, Ningsih terburu-buru pergi ke peresmian rumah makan cabangnya di Kota Yogyakarta. Dia menyetir mobil sendiri karena Pak Ridwan-sopir pribadi alm. Mas Tomi, undur diri dari pekerjaan. Tentunya, Ningsih sudah memberi pesangon yang cukup besar atas jasa Pak Ridwan.
Banyak hal yang Ningsih pikirkan membuatnya tidak fokus dalam menyetir. Tiba-tiba ... sesuatu terjadi.
Bruuuk ....
Suara benturan antara mobil Ningsih yang menghantam pengendara motor terdengar keras.
"Astaga!" teriak Ningsih yang bergegas menepikan mobil Avanza hitamnya.
Tak sengaja, Ningsih menyerempet seorang pengendara bermotor. Ningsih panik, kemudian membantu orang tersebut berdiri. Saat itu, jalanan sepi dan tidak ada orang yang menolong.
"Duh, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja." kata Ningsih yang khawatir dengan keadaan orang itu.
"Ya ampun, Mbak. Hati-hati, donk, kalau menyetir mobil. Aw, sakit ini kakiku," ucap lelaki tersebut, mengeluh kesakitan di bagian kakinya.
Ningsih takut dan meneleponkan ambulance. Namun, Ningsih tak punya banyak waktu untuk menunggu.
"Mas, maaf, ya. Aku pasti tanggung jawab. Ini kartu namaku. Aku telepon ambulance, ya. Segera Mas akan diobati. Maaf, aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Ini uang untuk pengobatan." jelas Ningsih pada lelaki itu.
Ningsih mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya. Uang itu segera Ningsih serahkan kepada lelaki yang masih meringis kesakitan memengang kakinya.
"Mbak, yang bener, aja! Ini namanya tabrak lari!" seru lelaki itu masih membentak Ningsih. Tidak terima jika Ningsih meninggalkannya.
"Duh, mas maaf banget. Aku terburu-buru. Begini, kutambahi uang berobatnya, ya. Ambulance sebentar lagi datang. Kalau kurang, silahkan telepon ke nomorku pasti akan langsung kutransfer. Tolong, Mas mengerti, aku bukan lari dari tanggung jawab." jelas Ningsih meminta pengertian.
Melihat kesungguhan Ningsih dan tambahan beberapa lembar uang seratus ribuan, lelaki itu pun mengiyakan. Ningsih terpaksa meninggalkan lelaki itu sendirian. Dia bergegas melanjutkan perjalanan.
"NINGSIH, TADI ADALAH MANGSA BARUMU!"
Suara Bima mengagetkan Ningsih.
"A-apa maksudmu, Bima?"
"TUNGGU SAJA BESOK. KAMU AKAN MENGERTI MAKSUDKU. JIKA LELAKI ITU MENDEKATIMU, TERIMA SAJA! KALAU BISA AJAK DIA MENIKAH SECEPATNYA!"
Belum sempat Ningsih mencerna perkataan Bima, makhluk itu sudah pergi. Ningsih bisa merasakan kehadiran Bima, pun juga kepergiannya. Ningsih hanya bisa menuruti perkataan Bima.
'Lelaki macam gembel gitu. Uuh, Bima seperti nggak ada pilihan lain aja,' gerutu Ningsih dalam hati sambil menyetir.
***
Flash Back ... beberapa hari sebelumnya, saat Rudi di pangkalan ojek ....
"Sial! Kalah judi lagi. Kapan aku bisa kaya!" rutuk Rudi akan nasibnya.
Rudi seorang tukang ojek yang gemar mabuk dan berjudi. Tabiatnya sangat buruk. Tak hanya itu, ketika menang berjudi, tempat hiburan malam kelas teri pasti dikunjunginya. Dia merasa bangga dengan kelakuannya. Terlebih, lingkungan dan teman-temannya pun mendukung. Rudi tak memiliki istri dan kehidupannya sangat berantakan.
"Hahaha ... Rudi ... Rudi. Kalah judi, kok, ngamuk-ngamuk. Cari janda kaya raya sana. Biar kecipratan duitnya!" usul Bayu Gemblung membuat Rudi minat mendengarkannya.
"Eh, bener juga, Mblung! Tapi ... di mana dapet janda kaya raya yang mau nikah sama tukang ojek? Dasar, Gemblung!" kata Rudi yang ikut tertawa.
Bayu Gemblung mendekat ke Rudi, sambil tengak tengok kanan kiri, dia berbisik. "Nih, ane kasih info, ya, Rud. Tapi, rahasia! Kalau lu bisa dapetin janda ini, jangan lupa kasih bagian buat ane."
"Iya ... iya. Cepetan infonya!" sahut Rudi yang tak sabar mendengar ide birlian temannya.
"Di perumahan sebelah, ada janda kaya raya. Sudah janda 2x. Suaminya meninggal semua. Suami keduanya, ninggalin harta buanyak banget. Namanya, Ningsih. Kalau lu mau usaha, pasti dapet, deh!" usul Bayu Gemblung membuat Rudi bersemangat mengatur siasat.
Beberapa hari Rudi bolos di pangkalan ojek, demi menggali informasi tentang janda kaya raya itu. Dia menguntit agar tahu pasti jam berapa perempuan itu pergi setiap harinya. Akhirnya, Rudi punya rencana bagus agar bisa berkenalan sekaligus mengambil hati janda itu. Rudi pun tersenyum menyeringai melihat Ningsih bersiap pergi dengan mobil Avanza hitamnya.
***
Ambulance datang ke lokasi yang Ningsih sebutkan. Namun, tidak ada seorang pun di sana. Ternyata, Rudi sudah pergi ke pangkalan ojek menemui Bayu Gemblung. Kakinya ternyata baik-baik saja. Semua hanya drama agar bisa berkenalan dengan Ningsih.
"Gila banget, Mblung! Idemu luar biasa! Nih, baru ketemu aja udah kebanjiran duit!" seru Rudi yang sangat antusias menceritakan keberhasilannya bertemu Ningsih.
Rudi segera duduk di samping Bayu dan menyalakan rokok kretek. Dia menunjukkan uang yang diberikan Ningsih tadi.
"Kok, bisa? Wah, ane kecipratan juga, 'kan!" kata Bayu yang bergegas menghitung lembaran merah itu. Tepatnya, berjumlah lima belas lembar!
"Edan! Siji setengah juta! Ini yakin lu nggak rampok, tuh, janda?" imbuh Bayu yang melongo melihat lembaran uang ratusan ribu itu.
"Jangan sebut aku Rudi si bambang tamvan kalau nggak bisa naklukin janda begitu." ucap Rudi menyombong pada Bayu tanpa menceritakan siasat liciknya. "Udah, tahu beres aja. Pasti kubagi tu duit ama lu Gemblung! Ha ha ha ...." imbuh Rudi.
Mereka pun tertawa riang. Setelah itu, Rudi mengajak Bayu pergi ke tempat esek-esek pinggiran untuk relax sejenak. Karaoke bersama dua wanita bisa pakai yang se*si sambil minum minuman keras.
"Memang benar kata orang, uang yang mudah didapat akan mudah habis juga," gumam Rudi sambil tersenyum sebelum menikmati tubuh wanita bayarannya.
***
Malam harinya ... Ningsih sudah sampai di rumah. Setelah mandi air hangat dan melepas rindu dengan memeluk Wahyu-anak semata wayangnya, Ningsih kembali ke kamar. Dia hendak beristirahat sambil mengambil gawai di tasnya. Seperti biasa, melihat dunia maya menjadi suatu hiburan tersendiri untuknya.
Membuka handphone berharap ada berita menarik, tetapi justru pesan singkat dari orang yang tak Ningsih harapkan.
[Mbak, ini aku yang tadi Mbak tabrak.]
[Mbak, kenapa tidak balas?]
Pesan singkat dari seseorang yang jelas tadi pagi berurusan dengan Ningsih.
[ Ya, Mas. Bagaimana? Tadi pihak ambulance meneleponku. Mas kenapa pergi, ya? ]
Ningsih merasa heran. Bukankah tadi lelaki itu mengeluh sakit kakinya. Lelaki itu membalas pesan Ningsih dengan cepat.
[ Temanku lewat dan memboncengkan untuk pulang. Kakiku memang sakit, Mbak. Aku di sangkal putung. Ini motor kutinggal untuk jaminan biaya pengobatan kaki yang patah. ]
Di sisi lain, Rudi membalas pesan Ningsih sambil tertawa. Berhasil dia menipu Ningsih. Tanpa Rudi sadari, dia akan masuk dalam kehidupan Ningsih. Rudi lelaki yang beruntung atau buntung, ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
𝕁𝕖𝕟𝕚
sibrudi pengen ngadalin malah kena apes nih nanti
2023-12-03
0
Heny🥀
niat hati mau porotin hartanya Ningsih haaah Rudi masuk perangkat Ningsih gpp lah orang yg ga guna juga ilang satu ga rugi ni dunia 🤭🤭🤭🤭
2023-03-25
0
Cahaya Hayati
mustika ningsi mau bukan dia bodoh tapi buat sajenan Jon nya 😄😄😄😄
2022-08-05
0