Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Norman menatap tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Louis. Demi menghindari perdebatan, dia memilih mengangguk. “Sí, Señor.”
“Kau tidak percaya padaku bukan?”
Matanya menatap pria yang tengah duduk, sambil memainkan ponsel, tangan yang lainnya mengambil gelas limun segar. Ketika Louis menatapnya, baru Norman mengatakan apa yang ada dalam otaknya. “Aku hanya menyarankan kau untuk menjalani tes DNA, ya, aku memang meragukannya, Señor.”
“Tidakkah menurutmu dia mirip denganku?”
“Beberapa bagian dirimu ada padanya, kau tahu alasan dirinya disembunyikan?”
Hanya keterdiaman yang menjawab Norman yang berdiri, pria latin itu berfikir. “Apa yang dia takutkan?”
Belum sempat Louis berbicara, sebuah suara memanggilnya. “Daddy!” Teriak anak berusia empat tahun itu berlari menuju Louis. Rambut panjangnya bergoyang, jatuh melalui bahu dengan wajah yang ceria.
“Ada apa?”
“Come with me.” Jemari kecilnya menggenggam tangan Louis, menariknya untuk ikut bersama.
Pria itu tersenyum, dia mengusap wajah Louisa sebelum melangkah mengikuti anaknya ke kamar. Tinggi Louisa yang bahkan tidak mencapai perut Louis membuatnya kesulitan ketika tangan mereka saling bertautan. Karenanya, Louis memilih untuk menggendong Louisa di pangkuannya.
“Di mana?”
“My room.” Telunjuk mungilnya mengarahkan. “Look, ada pesta minum teh di hari natal ini.”
“Ini musim panas, Sayang, kau tidak boleh membuat boneka-boneka itu kepanasan dengan teh hangat.”
Tidak disangka kalimat Louis membuat senyuman di bibir Louisa luntur, terlihat jelas saat pria itu menurunkannya. “Hei, what happen?”
“Lee suka musim dingin.”
“Mengapa seperti itu?”
Mata bulatnya memandang Louis. “Karena Lee bisa minta pada santa untuk membuat daddy segera pulang.”
Seakan tertembak peluru, seluruh tubuhnya menegang merasakan sakit tidak kasat mata. Louis tersenyum, dia menggenggam kedua tangan yang mungil itu. “Ini sudah siang, tidak haruskah kau tidur?”
“Bersama daddy?”
Anggukan Louis membuat senyuman itu kembali hadir, dia menggendong Louisa menuju kasur. Menidurkannya di ranjang ukuran anak-anak, membuat Louis harus tidur miring. Jika tidak, dirinya akan terjatuh.
“What are you doing?” Tanya Louis ketika putrinya menyelimuti mereka sampai batas kepala.
Melihat senyuman di wajah putrinya, itu cukup menjelaskan bahwa hal ini menyenangkan. “It’s our world.”
“Our world? Kau namakan apa tempat ini?”
Wajahnya yang bulat dan tertimpa selimut itu terlihat berpikir. “Ini disebut Neverland.”
“Dan apa yang akan Lee dan Daddy lakukan dalam Neverland?”
Neverland yanh dimaksud adalah dibawah pelukan selimut. Agak gerah sebenarnya, apalagi sinar matahari menerobos tepat ke punggungnya, tapi senyuman putrinya membuat Louis tetap bertahan di sana.
“Kita bisa bercerita, sampai Lee mengantuk dan tertidur.”
“Bercerita? Lee ingin dibacakan dongeng?”
“No.” Kepala kecilnya menggeleng, mengadah menatap Louis yang mengusap rambutnya. “Bukan dongeng, Lee ingin menceritakan semua hal pada Daddy.”
“Dan kenapa ini disebut Neverland?”
“Karena biasanya Lee melakukannya sendirian, bercerita bersama boneka, berharap Daddy disana. It’s never happen.”
“Hei, baby. Look up, i’m here. I’m your Daddy.”
Sumpahnya pada dirinya sendiri, Louis takkan biarkan putrinya merasa sedih karena dirinya.
“Apa yang ingin kau ceritakan?”
“Lee bisa menulis dengan kedua tangan, Lee senang bermain piano. Oh, ya, Mum bilang daddy pemain piano yang hebat, bisakah kita memainkannya?”
Tangan Louis menahan kepala putrinya yang hendak bangkit, dia menempelkannya pada bantal. “Kita bisa melakukannya setelah tidur siang. Sekarang, ceritakan apa yang selalu Mum bicarakan tentang daddy.”
“Mum bilang daddy tampan.” Louisa terkikik ketika Louis menempelkan tangan kecilnya ke pipi ayahnya, merasakan geli dengan jambang yang mulai tumbuh lagi. Hingga itu berubah menjadi tawa. “Tapi menurut Lee, daddy jelek.”
“Kau bilang apa? Beraninya berucap seperti itu.”
“Hahahaha.” Tubuh kecilnya memeluk Louis, menghindari agar ayahnya tidak lagi menggelitik.
“Apa lagi yang dia katakan?”
“Daddy pemain piano yang hebat, itu membuat Lee belajar. Mum bilang dis suka menari ketika daddy memainkan piano. Tapi Mum bilang dia tidak punya uang untuk sekolah menari, apa daddy miskin?”
“Tidak, Sayang, uang daddy sebanyak air di lautan.”
Kalimat itu kembali membuat anak kecil itu terkikik. “Lee membuat pesawat terbang untuk pelajaran sains di sekolah, itu mendapat nilai terbaik.”
“Well, kau menuruni bakat daddy.”
“Tapi Lee tidak bisa berenang, Mum juga sama.”
Bibir mungilnya terus mengeluarkan kata-kata hingga 20 menit lamanya. Yang Louis lakukan hanya menatap, mengusap hingga akhirnya anaknya kelelahan dan tertidur. Tahu Louis tengah terlelap, Louis menyingkab selimut, bernapas lega ketika merasakan udara yang segar.
Keringat membasahi tubuhnya, begitu pula dengan keninh Louisa. Pria itu mengusapnya, memberi ciuman di kening sebelum perlahan menarik tangan yanh dijadikan bantalan oleh putrinya.
Entah mengapa Louis terlihat begitu lucu dengan bibirnya yang terbuka dan mengeluarkan liur, dia bahkan membuat Louis gemas hingga mengusapnya dengan bibir tersenyum.
Selangkah setelah keluar dari kamar Louisa, Louis turun ke bawah mendekati Rani yang tengah memasak. Wanita berdarah India itu menelan ludah kasar melihat Louis yang mendekat, dia tahu hari ini akhirnya tiba.
“Bawakan aku segelas air.”
“Sí, Señor.”
“Apa yang kau ketahui tentang Louisa?” Tanya pria bermanik hitam itu begitu dia meneguk air. Matanya menatap tajam Rani yang terlihat ketakutan.
“Itu… Señor.”
“Katakan padakku, apa yang kau tahu.”
“Aku.. Aku tahu dia mengandung setelah seminggu berada di Palma. Di--”
“Louisa anakku, kau tahu itu?”
Wanita bertubuh gempal yang sedang berdiri itu mengangguk. “Sí, Señor.”
“Lucia memberitahumu?”
Kembali, Rani mengangguk. “Dia bilang kau pria yang menghamilinya dan membuangnya ke Palma, Señor.”
“Dia punya niat untuk memberitahukannya padaku?”
Keterdiaman Rani yang cukup lama membuat amarah Louis naik. “Katakan.”
“Tidak, Señor, Lucia ingin Louisa tetap tersembunyi, dia tidak ingin kau tahu karena dia…. karena dia takut kau akan menolak keberadaannya dan membuat Louisa menangis.”
“Lalu kenapa dia memberikan namaku di sana?”
“Dia ingin selalu mengingat dirimu yang, yang dalam pikiran Lucia kau adalah pria jahat. Dengan menamakan Louisa, Lucia ingin terus ingin mengingat bagaimana jahatnya dirimu hingga dia bisa mendidik Louisa menjadi anak yang berbanding terbalik dengan kelakuanmu, Señor,” ucap Rani dalam satu tarikan napas, kepalanya menunduk siap menghadapi amarah. Namun, yang Rani temukan hanya seringai.
“Siapa pria yang pernah dekat dengannya di sini?”
“Itu.. Guru yang mengajar Louisa pernah mengajak Lucia berkencan, tapi dia menolak.”
“Karena apa?”
Mata Rani memandang Louis, seakan menyampaikan ketakutan untuk mengatakannya. Namun, dia lebih takut jika berhadapan dengan amarah tuannya. “Karena dia masih menyukaimu, Señor.”
“Wanita yang menarik.”
***
Pria berhidung mancung itu melipat kemeja hitamnya sebelum menggendong anak yang memakai kaos bergambar little pony. Sekumpulan wanita yang sedang menemani anaknya bermain di taman saling berbisik, membicarakan wajah asing Louis yang begitu tampan. Hal yang membuat mereka lebih shock ketika melihat Louisa ada di pangkuan pria tampan itu. Dengan kacamata hitam bertengger di hidung, Louis membius para wanita yang tidak bersuami itu. Membuat mereka menggigit jari menginginkan dirinya.
“Mereka menatap daddy.”
“Siapa?”
“Para wanita itu.”
“No.” Louis mencium pipi putrinya yang sudah dilapisi bedak. “Dia menatapmu.”
“Dengan membicarakan Lee kalau tubuh Lee liat?”
“All right, jangan dengarkan mereka.” Louis menempelkan kepala Louisa di dadanya, tangannya yang lain menutup telinga putrinya sembari melangkah lebih cepat menjauhi mulut berbahaya itu.
Louis membawa Louisa ke mobil ice cream, dia menurunkan putrinya di kursi hingga dia bisa memilih. “Rasa apa yang kau mau, Sayang?”
“Thats.” Louisa menunjuk salah satu gambar dalam menu.
“Sundae? Kau akan mendapatkannya, Nona kecil,” ujar pria paruh baya mengeluarkan skop ice cream dari kantung apron.
“Apa daddy akan pergi lagi setelah ini?”
Wajah Louis menatap putrinya penuh tanya. “Of course no, kenapa kau tanya begitu?”
“I don’t know.” Bahunya terangkat dengan bibir mengerucut. Membuat Louis mengarahkan badannya ke sana.
“Kemanapun aku pergi, kau akan ikut, Baby.”
“Really?” wajahnya kini dipenuhi dengan tawa, apalagi ketika Louis mencoba menggigit tangannya dengan ekspresi yang lucu.
“Ini dia pesananmu, Nona.”
Mengeluarkan beberapa lembar uang sebelum menggendong Louisa beserta semangkuk ice crem menuju meja yang tersedia di pinggir jalan. Kedai ice cream yang begitu unik, mengambil tema gurun sahara yang membuat Louis ekstra hati-hati jika putrinya menyentuh salah satu kaktus berduri.
“Rasa apa yang kau suka?” Tanya Louis.
“Vanilla.”
“Tidak dengan cokelat?”
“Cokelat akan merontokan gigi.”
“Siapa yang bilang begitu?”
Louisa tertawa saat melihat ayahnya membuka kacamata, menampilkan bola mata yang melotot hampir keluar. “Kau tidak suka cokelat?”
“Hahahaha.” bibir mungilnya tertawa, dia kembali menggali ice cream dengan sendok dan memakannya. “Vanilla it’s the best.”
“How about chocolate?”
“Daddy, gigimu akan rontok.”
“Vanilla juga mengandung gula, Lee, itu sebabnya kau harus pintar.” Louis mengambil satu sendok bagian cokelat untuk dirinya. “Kau mau coba?”
“No, Mum akan marah jika tahu.”
Kali ini Louis memilih diam, dia menyuapi putrinya ice cream yang bertaburan topping. Mulutnya yang penuh membuat air liur menetes di bibi Louisa, yang segera ayahnya usap menggunakan tissue. “Makanlah dengan pelan.”
“Hai, Louisa!” Teriak seorang anak dari dalam mobil yang terparkir di sebrang jalan.
“Hallo, Jamie, apa kemahnya sudah selesai?”
Anak pria itu menggeleng. “Aku terjatuh saat berburu kelinci, jadi aku pulang lebih dulu.”
“Berburu kelinci?” Mata Lucia berbinar, terlihat jelas percakapan itu menarik perhatiannya.
Jamie mengangguk. “Mereka melepaskan 200 kelinci disana, itu berlangsung sampai besok.”
“Really?”
“Ya!”
“Apa lagi yang menyenangkan?”
Louis mencoba membujuk Louisa untuk kembali duduk. “Sayang, jangan berteriak, tenggorokanmu bisa sakit.”
“No, Daddy.” Tangannya melepaskan diri dari Louis. “Apa di sana seru?”
“Ya!” Teriak Jamie dari dalam mobil. Mereka saling meneriaki satu sama lain hingga akhirnya terhenti karena Louisa yang haus.
“Perkemahan apa yang dimaksudnya?” Tanya Louis yang sedari tadi diabaikan.
Sebelum pertanyaan Louis terjawab, seorang wanita yang baru saja keluar dari toko disamping kedai menghampiri. “Hallooooo, Louisa, what are you doing here?” Kemudian wanita berbaju biru itu mendapati Louis. “Oh, hallooooooo, handsome, siapa dirimu?”
“He’s my daddy.”
“Oh, Lee, kau tahu berbohong itu tidak baik,” tangannya mengelus wajah Louisa sebelum menatap pria bermanik hitam, dan berbisik, “Anak ini pasti menyulitkanmu, dia memang sering berkhayal seperti halnya ibunya. Kau mau aku membantumu lari darinya? Dia membuatmu iba karena mengira kau papanya ‘kan?”
Louis meletakan sendok yang dipegangnya. “Dia memang anakku.”
“What?” Tubuhnya menegak menatap kedua orang itu tidak percaya, kemudian wanita itu tertawa. “Aku tahu kau iba padanya. Dengar, Lee, dia bukan ayahmu, jangan berbohong seperti ibumu.”
“Kebohongan apa yang dikatakan Lucia?”
“What?” Wanita itu merasa Louis mengganggunya, padahal dia mencoba menyelamatkannya. “Ibunya selalu bilang kalau ayah Lee adalah orang penting yang bisa membunuh siapapun, dan di--”
“Mama!” Jamie berteriak dari dalam mobil, membuat wanita itu mengisyaratkan untuk menunggu. “Mama! I wanna pee!”
“Oh my… ini kartu namaku, kau bisa hubungi aku kapanpun,” ucapnya meninggalkan Louis dengan kartu nama kuning.
Setelah wanita itu masuk ke dalam mobil, Louis membawa Louisa ke dalam pangkuannya lalu berbisik, “I’m your dad, kau mau pergi ke perkemahan itu?”
Raut wajah sedihnya hilang seketika. “I want, but….”
“Why?”
“Itu perkemahan keluarga, seharusnya Mum dan Daddy ikut, makannya Lee jarang ikut.”
“Kita ke sana hanya untuk melihat, bersama daddy, bagaimana?”
“Oke.” Louisa melingkarkan tangannya di leher Louis, membawa anak itu menuju mobil yang tidak jauh dari sana. Louis mendudukan putrinya lebih dulu di kursi belakang. “Wait a second, Daddy harus bicara dengan Uncle Norman.”
“Yes, Daddy.”
Kening Norman berkerut, apalagi ketika Louis melemparkan kartu nama di atap mobil. “Apa ini, Señor?”
Pria bermanik hitam itu kembali memakai kacamatanya. “Beri wanita itu pelajaran, cukup buat dia sadar kalau keberadaan kita memang nyata.”
Setelahnya, Louis masuk ke dalam mobil, membiarkan Louisa duduk di pangkuannya sepanjang perjalanan.
“Apa Uncle Norman suka piano?”
“Jangan bicara dengannya, Sayang, bicaralah dengan Daddy,” ucap Louis membuat Norman mengatupkan kembali mulutnya. “Ya, Daddy suka piano.”
“Lee bertanya pada Uncle.”
“Jangan bicara dengan sembarang pria, oke?”
“But, he’s my ucle.”
“Ya, dia masuk dalam hitungan.” Louis mencium puncak kepala putrinya yang duduk membelakangi. “Bicaralah pada Daddy.”
“Oke,” ucapnya yang mana hanya membawa mereka pada kebisuan. Louisa lebih senang menyandarkan kepalanya, membiarkan ayahnya mengusap rambut hitamnya. Hingga saat mereka sampai di perkemahan yang disebutkan Louisa, anaknya tersenyum dari dalam mobil menatap ramainya tempat itu. Musim panas akan menyenangkan jika diiringi dengan banyak kegiatan yang menyenangkan.
“Ayo kita turun.”
“No.” Louisa menggeleng, dia lebih suka menatap ke arah sana dari dalam mobil.
“Why? Bukankah kita akan melihat-lihat?”
“Daddy ini perkemahan keluarga, Mum tidak bersama kita.”
“Kau merindukannya?”
“Really.”
Louis kembali membawa anaknya ke pangkuan. “Kau ingin menemuinya?”
“Apa boleh Lee menelponnya?”
“Dia sering menelpon?”
“Ya, ketika malam, saat Mum bilang dia harus membantu Daddy di perpustakaan.”
Louis terdiam sesaat, membawanya pada ingatan ketika menemukan Lucia yang menelpon secara sembunyi-sembunyi malam itu. Jika saja dia tahu lebih awal tentang Louisa, tidak akan memakan waktu begitu lama.
“Katakan ini jika Mum menelpon.” Kemudian Louis membisikan kata-kata yang harus diucapkan Louisa pada ibunya.
Bibir anak kecil itu mengerucut, menatap Louis dengan keningnya yang berkerut. “Bukankah itu berbohong?”
“Darling, kita tidak membohonginya, kita sedang membuat kejutan untuknya. Bagaimana?”
Dan Norman, dia melihat jelas bagaimana keduanya memancarkan tatapan kebahagiaan. Setelah sekian lamanya, Norman melihat kembali senyum lebar Louis, menampilkan deretan gigi putihnya dan kehangatan yang diberikannya pada Louisa.
Pria itu melupakan niat awal kedatangannya. Semuanya terhapus begitu ikatan bathin antara Louisa dan dirinya terjalin.
Nyatanya, kebahagiaan yang Louis cari selama ini ada di Palma. Berpusat pada gadis kecil yang merindukan sosok ayah. Louisa, malaikat kecil yang akan menjadi penerang Louis, mengembalikan pria itu pada nurani.
***
Pemeriksaaan itu berakhir pada sore hari, Lucia mengatakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Durina, atas perintah Louis. Mengingat pria itu pergi ke Palma membuat hatinya tidak tenang, seringkali tubuhnya terasa terbakar, ketakutan yang ada dalam dirinya membuat tubuhnya tidak berjalan normal. Jantungnya berdetak kencang, kekhwatiran itu membuatnya tidak fokus, tidak ingin makan, yang diinginkannya adalah kembali ke mansion dan menghubungi villa.
Sayang, beberapa kali Lucia melakukannya, panggilannya tidak dijawab.
“Kau harus makan, Señorita,” ucap Durina yang ada dibelakang Lucia, menjaga perempuan bermanik biru dari apapun itu. “Perlu aku bawakan makan malammu kemari, Señorita?”
“Please, berhenti memanggilku seperti itu, aku bukan Señorita kalian, aku hanya pelayan di sini.”
Seperti sebelumnya, Durina bungkam ketika mendapat kalimat itu. Dia malah bertanya, “Apa kau ingin makan malam diluar, Señorita?”
“Astaga, Durina, panggil aku Lucia.” Matanya kembali fokus pada telpon, dia menekan angka-angka yang selalu diingatnya. “Ayolah, Rani, jawab telponku, jawab.”
“Señorita, apa kau ingin steak sapi?” Tanya Andrean kali ini yang membuat Lucia mengadahkan kepala.
Dia menatap Durina dan memerintahkan, “Bisakah kau tinggalkan aku dengan Andrean? Ada hal yang perlu kami bicarakan.”
“Tentu, Señorita.”
Setelahnya, Lucia berdiri, matanya memprlihatkan ketakutan yang begitu dalam. “Tolong aku, Andrean, bagaimana jika Louis menyakiti Louisa?”
“Demi apapun, Lucia, dia takkan menyakiti anak kecil. Tenanglah, kau tahu momen ini akan datang apapun yang kau perbuat untuk menghalanginya.”
“Louis kejam, dia akan mencampakannya, atau lebih parah dia mungkin akan membunuhnya.”
“Lucia, tenang.” Pria paruh baya itu memegang kedua bahu Lucia, tubuh perempuan itu bergetar menahan tangisan. Andrean mengarahkannya untuk duduk dan menenangkan diri. “Dia takkan melakukannya, aku bersumpah dengan nyawaku, Señor Louis takkan pernah menyakiti anak kecil.”
“Kenapa begitu? Kenapa kau yakin dia takkan menyakiti Louisa?”
“Aku tahu apa yang diperbuatnya untuk anak-anak itu, dia membantu mereka dan me--”
“Dan membuat mereka masuk ke dalam kartel miliknya, Louis melakukannya untuk meperbudak mereka. Bagaimana dengan anakku?” Kali ini air matanya jatuh membasahi pipi. “Bagaimana jika Louisa kecewa dengan semuanya? Sedangkan aku mengatakan hal-hal indah tentangnya.”
“Maka mulailah dengan kejujuran,” ucap Andrean yang dibalut jas biru, seragam yang menemaninya selama berpuluh-puluh tahun di tempat ini. “Mulailah mengungkapkan kebenaran.”
“Aku tidak ingin, jika aku melakukannya maka semuanya akan memburuk.”
“Sebenarnya, Señorita, itu hanya ada dalam pikiranmu saja. Jika boleh aku katakan, kau adalah wanita egois dan keras kepala.”
Kini Lucia malah menatap Andrean tidak percaya, dia memijat kepalanya memikirkan kata-kata pria itu. “Bisa kau bawakan air hangat untukku?”
“Kau akan mendapatkannya,” ucap Andrean meninggalkannya sendiri.
Lucia termenung, kejujuran yang membuatnya takut. Dia tidak ingin mengambil resiko, banyak pertimbangan dalam dirinya yang membuat Lucia memilih menghubungi kembali nomor villa. Dan kini dia dapat bernapas lega karena seseorang mengangkatnya.
“Rani, Rani, apa kau di sana?”
‘Ya, aku di sini.’
Mendengar suara Rani yang lemah menambah volume detak jantung Lucia. “Apa.. Apa Louis ada di sana?”
‘Ya, dia datang kemari.’
Seolah ada sesuatu yang mencekik, bibir Lucia terbuka tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sedang dirasakannya. “Apa.. Apa yang terjadi?”
‘Louisa mengenalinya, dia memeluk Señor Louis, tapi pria itu tidak menerimanya, dia tidak percaya fakta itu.’
“Dia tidak percaya kalau Louisa adalah putrinya? Lalu bagaimana dengan anakku? Dimana dia?”
‘Dia di kamarnya, tengah menangis.’
“Apa?” Suara Lucia tercekat, sesuatu mengganjal di sana, menghilangkan tenaganya. “Bisa aku bicara dengannya?”
‘Tunggu.’
Kira-kira lima menit lamanya Lucia menunggu Rani membawa Lucia, dia bahkan mengabaikan Naomi yang membawakan air untuknya.
“Señorita, ini airmu.”
“Demi Tuhan, panggil aku Lucia.”
“Oke, kau mengabaikanku sejak tadi,” ucapnya menjauh pergi dari Lucia yang sibuk dengan telponnya.
Hingga saat telinganya mendengar derap langkah dari telpon, Lucia luar biasa bahagia. “Lee?”
‘Mum, dia bilang dia bukan daddy Lee,’ ucap bibir kecilnya kemudian menangis.
Lucia dibuat panik olehnya, saat dirinya hendak bicara, Louisa lebih dulu menyela, ‘Lee ingin daddy, Mum.’
Setelahnya Lucia mendengar suara seseorang yang berlari, disusul dengan teriakan Rani yang memanggil Louisa. Kemudian, air mata Lucia dibuat terjatuh dengan kalimat, ‘Lee menangis, dia lari ke kamarnya.’
“Di.. Dimana Louis sekarang?”
‘Dia pergi siang, kedatangannya hanya untuk melihat keadaan villa saja. Pengawalnya bilang, mereka akan berburu di gunung.’
“Apa…” Lucia menghapus air matanya. “Apa Louis benar-benar tidak mempercayai Louisa adalah anaknya? Setelah apa yang dilihatnya dalam wajah malaikatku? Setelah dia tahu namanya?”
‘Dia bilang dia hanya akan percaya jika kau sendiri yang memberitahunya, mengatakan kalau sebenarnya Louisa adalah anakmu dan Señor Louis.’
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
mau lagi itu Loeisa di aja main drama kebohongan oleh Loeis...
2024-11-01
0
afaj
😁
2023-09-23
2
Dewi Roisita
di cerita ini kenapa perempuan harus selalu mengalah dia suda di sakiti sedemikian rupa tapi tetap dibilang egois dan keras kepala
2023-06-10
0