Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Suara heels runcing yang menggema di seluruh mansion bukan lagi hal yang aneh, apalagi sepagi ini dia datang dengan senyum mengembang dan bibir merahnya. Rambut jingganya dia ikat layaknya kuda, dengan poni rapi dan bulu mata lentik, dia membentangkan tangan dan dengan senangnya berkata, “Hallo, Louis, good morning.”
Pria itu hanya menatap datar, duduk untuk sarapan tanpa menghiraukan keberadaan Amelia.
Wanita yang memakai hottpants dan kaos hitam itu mendekat, duduk di samping Louis. “Aku dengar kau memesan hotel, apa kita akan di sana semalaman?”
Satu detik Louis berhenti mengunyah, dia kembali melanjutkan dan menganggap Amelia hanya angin lewat. Membuat wanita itu menyentuh rahang Louis secara sensual, hingga pria yang sedang minum jengah dan mencekalnya.
“Ingat di mana posisimu, Amelia.”
“Kau tahu banyaknya pengorbananku untukmu, Louis.”
“Aku tidak peduli,” ucap Louis mencekal tangan Amelia yang lain saat ingin menyentuhnya. Pria itu berdiri, yang segera disusul oleh Amelia yang tidak ingin ditinggalkan.
“Tidak bisakah kau melihatku sedikit saja? Apa yang kurang dariku?” Amelia mendesakkan tubuh pada Louis, memberikan rangsangan yang sama sekali tidak dihiraukan oleh pemilik manik hitam itu.
Louis menundukan kepala, bibirnya tepat di sebelah telinga Amelia. “Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, jangan lampaui ini atau kau akan berakhir.”
Kekewaaan yang biasa Amelia dapatkan, wanita itu membanting gelas saat mendengar deru mobil Louis berangkat. Monica yang melihat hal itu segera mendekat. “Señorita, kakimu bisa terluka,” ucapnya sambil memunguti pecahan kaca di bawah kaki Amelia.
Wanita itu tidak menghiraukannya, matanya dipenuhi amarah, apalagi saat melihat Lucia yang sedang menuruni tangga, amarahnya tidak dapat ditahan. Dia melangkah mendekat dan menjambak Lucia kuat.
“Aaaaaaa!”
Andreas yang melihat itu segera menenangkan, Amelia begitu kuat hingga rambut Lucia menjadi tidak karuan.
“Señorita, hentikan ini.”
“Dia menghancurkan malamku bersama Louis, dasar jalang!”
“Aaaaa!”
“Señorita!” Dengan sekuat tenaga akhirnya Andreas dapat menjauhkannya dari Lucia, dia memberi tatapan pada pemilik mata biru itu agar pergi. Meninggalkan Amelia yang menatap marah padanya.
Dia berbalik menatap pria tua yang menahannya. “Beraninya kau melakukan itu padakku! Aku majikanmu.”
“Satu-satunya orang yang aku layani adalah Señor Louis, Señorita.”
“Oooohhh.” Amelia menyilangkan tangan. “Kau berani denganku? Apa kau ingin masuk ke dalam penjara bawah tanah di sana? Aku akan memberikanmu sebagai makan malam jaguar.”
“Bisakah anda melakukannya?”
“Aku akan melakukannya, Andreas, kau tidak menuruti majikanmu.”
Tanpa rasa takut, ancaman itu tidak membuat Andreas bergeming. Dia menjawab dengan tenang, “Cobalah, dan beri alasan yang masuk akal untuk Señor Louis, Señorita,” ucap Andreas sebelum melangkah pergi.
Salma mendekat segera, dia mengipas wajah Amelia. “Duduklah dulu, Señorita,” ucapnya membawa wanita itu untuk menenangkan amarah.
“Monica! Ambilkan aku air!” Teriak Amelia yang langsung dituruti oleh pelayan.
Tergesa-gesa, Monica berlari kecil membawa segelas air. “Ini, Señorita.”
“Apa saja yang kalian lakukan selama ini? Tidak ada kemajuan hubunganku dan Louis, apa selama ini kalian bekerja?” Menggerutu setelah mengahabiskan segelas air.
“Tidak ada yang mencurigaan pada Señor Louis, Señorita,” ucap Salma.
Monica mengangguk setuju. “Tidak ada wanita yang kemari selain dirimu.”
“Lalu bagaimana bisa dia memesan hotel? Tanpa mengajakku? Dengan siapa dia akan berduaan, huh?”
“Señorita, aku punya sesuatu untukmu,” bisik Salma. Membuat Amelia mengerutka kening meminta penjelasan. “Aku punya serbuk perangsang yang kuat, berikan anggur berisikan itu untuk Señor Louis.”
Amelia tersenyum miring, sedetik setelahnya dia menatap kesal. “Kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu?! Dasar sialan!”
***
“Anastasya menari dengan gemulai, dunia berada dalam genggaman, suara itu memuja-muja dirinya bagaikan dewa…..” bibir kecilnya bergumam membaca deretan kata yang membuat matanya berbinar takjub, setiap kalimat membawanya berkeliaran pada dunia yang berbeda. Membuat pandangannya berbeda selama beberapa saat.
Hingga Lucia yang sedang duduk diantara para buku itu tersentak kaget mendengar seseorang membuka pintu. Dengan tergesa-gesa dia merapikan buku yang berserakan di sekitar, memasukannya kembali ke dalam rak seharusnya.
Hingga matanya memandang sepatu hitam mengkilap saat menyimpan buku terakhir pada rak bawah. Tatapannya terangkat hingga pandangan mereka bertabrakan, manik hitam itu membuatnya menunduk seketika. “Señor.”
Lucia mundur begitu Louis melangkah mendekat, hingga punggungnya menabrak dinding, tangan kiri Louis mengurungnya. Lucia masih menunduk, memberikan ekspresi tenangnya.
“Aku ingat kau berkata bahwa kau istimewa, bagaimana kalau kita buktikan itu?”
“Tidak ada apapun, Señor.”
Tangan kanannya ikut mengurung saat Lucia hendak melarikan diri. Dengan keberanian, tatapannya terangkat memberi balasan. “Ada yang perlu aku bantu, Señor?”
“Ya, mari kita cari keistimewaanmu,” ucapnya tepat di depan bibir Lucia. Napasnya yang beraroma mint berhembus ke dalam lubang hidung, bercampur dengan aroma parfum maskulin. “Bagaimana?”
Tubuh Lucia menegang ketika tangan kiri Louis menyentuh pinggangnya. “Apa yang kau lakukan, Señor?”
“Entahlah, mari kita simpulkan di akhir.”
Lucia menempelkan telapak tangannya di dada Louis, menahan pria itu untuk menghimpit tubuhnya. “Yang kau lakukan ini tidak benar, Señor.”
“Aku akan membayarmu.”
“Aku bukan budakmu,” ucap Lucia penuh penekanan, dia mencoba mendorong dada Louis, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali.
Dia malah tersenyum miring. “Tentu saja, hidupmu adalah milikku,” bisiknya dengan tangan *** bokong Lucia.
Perempuan itu memalingkan wajah saat Louis hendak menciumnya, mengakibatkan leher putihnya terlihat jelas pada pandangan Louis. Hanya tinggal beberapa senti untuk mencium leher Lucia, terdengar teriakan, “Louis!”
“Shit,” umpat pria itu menahan kesal. Dia memberikan kecupan singkat pada leher Lucia sebelum keluar dari perpustakaan. Meninggalkan perempuan yang hampir pingsan, Lucia tertunduk di lantai merasa lemas dan tidak berdaya. Ketakutan itu mengingatkannya pada kejadian kelam yang pernah dialaminya.
Berbeda dengan Louis, pria itu nampak terlihat baik-baik saja. Dia menatap Amelia yang ada di sofa, wanita itu membuka pintu penghubung balkon. “Kemarilah, kita lihat matahari terbenam sambil minum anggur.”
“Pergi, Amelia, urus hidupmu.”
“Aku membawa anggur mahal ini untukmu, khusus untuk diberikan padamu.”
Tangannya menahan Louis yang hendak pergi. “Aku akan pergi setelah kau meminum anggur yang aku bawa.”
Beberapa saat, Louis menatap manik Amelia hingga akhirnha dia memutuskan untuk duduk. Wanita itu tidak bisa menahan rasa gembiranya, dia menuangkan anggur pada dua gelas yang tersedia, memberikan salah satunya pada Louis.
“Tidakkah kau ingin bersulang?”
Bukannya melakukannya, Louis malah merebut gelas milik Amelia. “Bukankah ini untukku? Berarti milikku.”
Amelia tertawa hambar. “Ya, maksudku, aku juga ikut minum.”
Tangannya mengangkat gelas saat Amelia hendak merebut. “Hei, kemarilah.” Louis memanggil pada Lucia yang hendak menuruni tangga.
Dengan berat hati, perempuan itu berjalan pada arah Louis dengan tatapan turun dan wajah mencoba tenang. “Ya, Señor?”
“Minum ini.”
“Louis!”
“Ya, Señor?”
Louis mengangkat gelas. “Minum ini,” ucapnya dengan wajah datar.
“Apa yang kau lakukan, Louis? Itu milik kita!”
“Minumlah.”
Lucia tidak memiliki pilihan, Louis adalah majikannya. Dia menerima gelas itu dan meneguk anggur yang ada di dalam gelas. Begitu Lucia menghabiskannya, Louis terus menuangkan, memaksaya untuk menghabiskan cairan ungu itu.
Dan apa yang dilakukan Louis membuat Amelia marah, pasalnya di dalam sana ada zat perangsang yang dikhususkan untuk dirnya dan Louis.
Saat gelas terakhir, Louis yang meminumnya. Dia menatap Amelia. “Aku menikmati hadiahmu, kau boleh pulang.”
***
Lucia terus mengguyur tubuhnya di bawah shower, menggaruk lehernya berulang kali. Ada yang salah dengan tubuhnya, dia demam, terasa sakit dan pusing yang berlebihan. Tubuhnya terasa panas, Lucia benar-benar dibuat kewalahan.
Dinginnya malam tidak membuatnya beranjak pergi dari kamar mandi, hingga dia menyadari bahwa dirinya harus pergi ke perpustakaan dan mengerjakan buku terakhir malam ini.
Lucia melilitkan handuk pada tubuhnya, mencoba mengabaikan perasaan aneh pada dirinya. Rasa tidak nyaman yang menggerogoti, sesuatu yang perlu pelepasan.
Ketika Lucia menutup pintu kamar mandi, seseorang masuk ke dalam kamarnya.
“Señor,” gumam perempuan itu tidak bisa menahan keterkejutannya.
Louis datang sambil membuka dasi, melemparkan jas dan mendekat sembari membuka kancing kemeja.
“Apa yang kau lakukan?” Lucia mundur ketakutan. “Menyingkir.”
Bukannya berhenti, Louis semakin mendekat hingga punggung Lucia menabrak tembok.
“Aaa!” Lucia menjerit tatkala pria itu menggendongnya di bahu Louis, dan membantingnya ke atas ranjang. “Señor!” Lucia mencoba menyingkirkan Louis yang menindihnya.
Ada dua sisi dalam diri Lucia, yang satu mendamba, dan satunya lebih baik. Tubuhnya gementar saat Louis mencium bahu.
“Señor…”
“Aku tahu kau tersiksa.”
Sesuatu yang diberikan Louis membuat Lucia menyerah, sensasi yang seperti…. mendamba.
“Kenapa… kenapa kau lakukan ini padaku?” Di sela-sela Louis yang menciumi lehernya. "Lepas."
Louis berbisik tepat di telinganya. “Aku tidak bercinta dengan sembarang wanita.”
Dan ketika tangan Louis mengelus perut datar Lucia, dia mengerutkan kening, dan melepaskan ciuman mereka. “Kenapa ada bekas luka di perutmu?”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Loeis tau niat buruk Amelia, makanya dia sengaja meminta Lucia yg meminumnya... sama² licik
2024-11-01
0
Bunga Istiqomah
💗💗💗💗
2024-06-12
0
Diana diana
ayo donk selidiki , bang . .
2023-05-19
0