Vote sebelum membaca😘😘
.
.
“Biarkan aku yang keluar untuk membeli bahan makanan,” ucap Monica menyela Lucia dan Naomi yang sedang bicara. Dengan senyum manisnya, dia menatap Lucia dengan penuh kelembutan. Dia mengambil catatan yang dipegang Lucia. “Biar aku saja, oke?”
Naomi mengangkat bahunya. “Terserah siapa yang akan pergi, aku akan memasak,” ucapnya meninggalkan ruang makan.
Sepeninggalan wanita kulit hitam itu, Monica semakin melebarkan senyumannya. Dia memegang kedua tangan Lucia dengan mata berbinar. “Aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini, aku hanya iri karena kau begitu cantik. Maukah kau memaafkanku?”
Lucia yang baru pertama kali mendapat perlakuan seperti itu mengangguk pelan, dia tidak ingin mendapat masalah lainnya. Hal itu membuat Monica tersenyum senang, dia memeluk Lucia selama beberapa saat. “Thanks, Lucia. Aku tahu kau wanita pemaaf.”
“Sama-sama.”
“Oh ini.” Monica mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Ini salep untuk lukamu, aku akan memberikanmu bunga lain kali.”
Lucia mengajarkan pada Louisa untuk membalas kebaikan orang lain, memaafkan dan juga selalu berjalan di sisi yang benar. Maka dari itu Lucia mengangguk, senyumannya mulai terbit. Dia merasa mungkin akhirnya Tuhan memberinya rasa nyaman untuk menghadapi yang lainnya. “Terima kasih, Monica.”
“Ya, aku senang kalau kau senang. Bagaimana kalau kita berteman sekarang?”
Lucia mengangguk, membuat wanita itu memeluknya spontan dengan penuh kegembiraan. “Akan aku bawakan buah tangan setelah dari pasar, bagaimana?”
“Emm, bagaimana kalau aku saja yang pergi ke pasar? Kau bisa tinggal.” Lucia menawarkan diri. Bukan karena dia ingin berbelanja, melainkan rasa rindunya pada Louisa ingin segera diobati. Semalam rasanya tidak cukup, Lucia membutuhkan suara bidadari kecilnya untuk memberinya semangat hidup. “Aku yang berbelanja, aku tahu tempat barang-barang bagus.”
“Tidak perlu.” Monica mengangkat tinggi tangannya saat Lucia hendak merebut, wanita itu menepuk bahu lawan bicaranya. “Aku yang akan pergi, kau istirahatlah dan tenangkan diri dari beberapa hari yang menyebalkan. Aku juga sudah memberitahu Salma agar tidak mengganggumu, jadi kau tenang saja.”
“Ta--”
“Tidak ada alasan, aku janji akan membawakan sesuatu untukmu nanti.”
Belum sempat Lucia bicara, Monica lebih dulu pergi. Pemilik manik biru itu mendesah pelan, kesempatannya hilang untuk bisa pergi keluar. Matanya menatap sekeliling mansion yang sepi, segera pergi dari sana sebelum Louis turun dan membuatnya dalam masalah.
Di waktu yang sama, Monica tidak berhenti tersenyum. Begitu juga saat dirinya menaiki mobil, membuat supir yang melihatnya menggeleng heran.
“Apa kau baik-baik saja, Monica?”
“Cukup jalan dan jangan banyak bicara atau aku akan menghajarmu,” jawabnya sambil tersenyum lebar dan tatapan terlempar keluar jendela mobil.
Saat berhenti di depan pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan Naomi, Monica berkata pada sang supir, “Tunggu aku berapa lamapun aku pergi, mengerti?”
“Baiklah.”
Monica tersenyum dan segera menjauh. Karena niatnya bukan hanya untuk berbelanja, dia keluar untuk memberi laporan pada majikannya. Untuk memastikan Amelia ada di apartemennya, Monica menelpon di tempat yang sepi.
‘Ada apa kau menelpon pagi-pagi ini huh?!’
“Aku punya kabar untukmu, Señorita,” ucap Monica menggebu-gebu oleh semangat. “Apa kau ada di apartemen?”
‘Jangan bilang kabar itu tentangmu yang ingin naik upah!’
Monica menggeleng keras. “Ini tentang Señor Louis, ini sangat penting.”
Nada suara Amelia berubah seketika. ‘Datanglah kemari.’
Segera setelah telpon dimatikan, Monica berlari menuju pinggir jalan raya. Tidak butuh waktu lama, Monica mendapatkan taksi. “Ke apartemen Paradise Night.”
Sepanjang perjalanan, Monica tersenyum merasa sangat bahagia dengan berita yang dibawa. Sesekali dia membuka ponselnya yang diberikan Amelia, menatap foto-foto yang diambilnya tadi malam. Begitu sempurna, wajahnya terlihat juga dengan posisi yang pasti membuat emosi Amelia berubah.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, taksi itu sampai di depan gedung yang begitu besar. Berpuluh-puluh lantai dipenuhi oleh orang-orang berdompet tebal.
Lobi apartemen yang begitu mewah, dijaga dengan sempurna. Monica membereskan dirinya sendiri saat berada dalam lift, menggunakan air liur untuk merapikan rambut dan alis. Rambutnya yang sering diikat dia lepaskan agar terlihat sedikit berkelas.
Apartemen Amelia berada di ujung, membuatnya harus melangkah sedikit jauh untuk sampai di sana. Baru juga Monica memencet bel satu kali, pintu terbuka. Amelia menariknya kuat hingga Monica hampir terjatuh.
“Apa yang kau punya?” Wanita berambut orange itu menyilangkan tangan menatap Monica yang duduk di sofa.
Dia mengangkat ponselnya. “Aku memiliki foto yang membuatmu puas, Señorita.”
“Akhirnya ponsel yang aku berikan berguna.” Tangannya memberi isyarat untuk memperlihatkan.
Monica melakukannya, dia mempersilahkan Amelia untuk memeriksa.
Seketika matanya membulat, Amelia yang menggunakan softlens hitam itu mengetatkan rahang. Setiap dia menggeser foto, amarahnya semakin meningkat. Hingga berakhir dalam sebuah video. Ketika memainkannya, Amelia melempar ponsel itu sampai hancur sebelum video selesai. Dia memegang kepalanya, mengacaknya sambil berteriak histeris.
“Señorita, tenanglah.”
“Aaaaa!” Amelia mendorong Monica yang hendak menghentikannya menghancurkan semua benda. Amelia mengambil tongkat baseball, memukulkan pada semua benda yang dia anggap sebagai wajah Lucia. Mengingat bagaimana video ciuman panas membuat otaknya tidak waras.
“Aaaaaa!”
“Señorita, Señorita, tenanglah.” Monica memeluknya dari belakang dengan erat hingga perlahan Amelia tenang. Dia menghadap pada majikannya, berusaha menenangkannya. “Ambil napas, Señorita. Tenanglah, ayo kita susun rencana.”
Amelia melemparkan tongkat baseball dengan kasar, dia menjambak rambutnya ketika mendudukan diri di sofa. Merasa ada sesuatu dalam otaknya yang harus dikeluarkan, Amelia menggeram dengan matanya yang memerah.
“Minumlah, Señorita.”
Dia menerima gelas itu, menghabiskan isinya dan melemparnya ketika selesai. Melihat keadaan majikannya lantas membuat Monica bersimpuh di lantai, menggenggam erat tangan itu dan berkata, “Ayo kita lakukan sesuatu padanya, Señorita, dia menghancurkanmu.”
“Beraninya dia menyentuh Louisku,” gumamnya dengan gigi saling beradu. “Aku begitu kesulitan mendapatkan ciumannya, sementara dia? Sialan!”
“Ayo kita singkirkan dia, Señorita.”
Amelia menatap Monica, dia mengangkat tangannya dan menatap jijik pada wanita di hadapannya. “Aku ingin melenyapkannya.”
“Aku dibelakangmu, Señorita.”
“Kita harus melakukannya tanpa diketahui Louis, dia akan memaafkan jika sudah terjadi.”
Kening Monica berkerut. “Benarkah?”
“Tidak.” Amelia mendorongnya menggunakan kaki. “Dia akan marah, tapi tidak ada yang bisa memutar waktu.”
Monica merangkak kembali mendekati Amelia. “Aku punya kabar bagus, Señorita. Besok malam Señor Louis akan pergi ke Sisillia, kau bisa menguasai mansion.”
Senyum Amelia mengembang, dia membayangkan wajah Lucia ada di meja sehingga wanita itu memukulnya dengan heels yang dikenakan. “Aku akan menghabisinya dan membuatnya menangis darah, siapkan hal-hal yang membuatku puas.”
“Sí, Señorita.”
***
Kelab malam begitu ramai oleh manusia yang haus akan kesenangan. Louis menatap dari lantai tiga, bagaimana lantai satu yang dipenuhi lautan manusia, lantai dua oleh orang-orang yang memiliki kepentingan hingga menyewa ruang VIP, dan lantai tiga daerah kekuasannya yang lantainya terbuat dari cermin dua arah. Di mana Louis biaa berjalan ke arah manapun memantau semuanya. Seluruh ruangan tanpa sekat itu hanya miliknya dan anggur-anggur berkelasnya.
Louis mengambil tongkat billiard, mencari titik sempurna sebelum menembakan bola dan membuat mereka berantakan. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka. Norman masuk dengan tablet yang dipegangnya.
“Ada apa? kenapa mengganggu ketenangan?”
“Pesanannya naik, klan itu menginginkan 1000 senjata beserta amunisinya.”
Seketika Louis mengalihkan pandang, dia mengambil tablet yang diberikan Norman. Melihat percakapan yang membuat keningnya berkerut. “Kau yakin dia aman?”
“Dia pemimpin klan Sisilia yang sering dijuluki Cosa Nostra.” Norman berdiri di samping Louis yang duduk dan meminum anggurnya. Dengan penuh kesopanan dia menggeser layar. “Dia masih kanak-kanak, umurnya bahkan belum ganap 17 tahun.”
“Bagaimana dengan pemimpin sebelumnya?”
“Aku pastikan itu adalah ayahnya.”
Louis tersenyum miring mendapati pembelinya yang sangat berani. Membuatnya penasaran hingga ingin menginjakan kaki di pulau yang ada di Negara Italia. Untuk melihat seberapa berkembang dan maju kartel mereka hingga berani membeli senjata darinya. “Tetap pada rencana sebelumnya, aku harus melihat bagaimana kartel yang akan menjabat tangan kita.”
Norman mengangguk mengerti. “Aku memesankan hotel di pusat kota, Señor, mereka berkumpul di tempat mahal.”
Kalimat yang membuat Louis tertawa, pria itu memberikan tablet pada Norman sambil berdiri. Louis memakai mantelnya, menaikan rasa penasaran Norman. “Kau akan kembali?”
“Ada yang harus aku lakukan di rumah,” ucap Louis meninggalkan ruangan itu. Terdapat lift yang hanya diketahui dirinya, yang langsung menghubungkan dengan basement.
Porschw hitam satu-satunya mobil yang terparkir di sana, hitam pekat dan berkilau layaknya mata sang pemilik. Dia membelah jalanan dengan kecepatan yang melampaui batas, suara mesin yang halus, namun mematikan siapa saja yang berani menyalip.
Sepersekian detik menuju lampu merah, mobil itu melaju menaikan kecepatan.
Sang pemacu menatap tajam jalanan, konsentrasi yang sesekali terbaikan akibat ingatan tentang wajah seseorang. Rahangnya terkatup rapat, tanpa emosi dia memacu kuda besi hingga sampai di mansion seperti perkiraannya.
Langkah kakinya menggema di jam yang tengah melewati tengah malam. Louis menaiki tangga perlahan, dia menajamkan indra pendengarannya mendengarkan jejak yang masih terjaga. Ketika matanya melihat ujung tangga, di sana dia melihat Lucia yang tengah membaca sambil berjalan, tanpa menyadari keberadaan dirinya.
Begitu bukunya diturunkan, mata Lucia membulat mendapati Louis yang berjalan menuju arahnya. Lucia mundur ke arah yang berlawanan dengan kamar Louis, berharap pria itu hendak menuju ke sana.
Seperti dugaannya, pada hal yang paling tidak diinginkan, Louis berjalan ke arahnya yang membuat Lucia menundukan pandang mencoba mengabaikan. Apalagi ketika tubuh tegap itu berdiri di hadapannya, tinggi Lucia hanya sebatas dada Louis.
“Kau menyelesaikan semuanya?”
“Sí, Señor.”
“Andrean akan memberikan upahmu.”
“Gracias, Señor.”
Lucia berharap pria itu segera pergi, tapi nyatanya dia masih berdiri seakan menunggu untuk melakukan sesuatu. Dan benar saja, Louis menyentuh rambut Lucia yang tergerai dengan jemarinya. “Aku akan pergi ke Italia selama beberapa hari, mungkin kau akan berubah pikiran sebelumnya.”
“Tidak, Señor,” ucap Lucia dengan tegas dan penuh penekanan. Membuat Louis menarik kembali tangannya, entah mengapa dia merasa tertantang dengan ikan yang sulit di dapatkan. Lucia adalah hal baru baginya, yang membuatnya ingin segera menangkap dan memakannya. Setelah merasakannya, tentu saja Louis akan membuangnya.
Pria itu melangkah hingga tubuh mereka beradu, Lucia tetap menurunkan pandang. “Kau tidak akan aman.”
“Lebih tidak aman bagiku jika bersama dirimu, Señor. Jika kau hanya ingin membicarakan harga diriku, lebih baik kita sudahi.”
Louis menyeringai, dia mundur beberapa langkah sebelum meninggalkan Lucia yang masih mematung. Louis memasuki kamarnya, sebuah foto besar menjadi objek yang pertama dilihat, dan membuatnya terdiam beberapa saat.
Disana ada Penelope tersenyum dengan cantiknya. Berbagai operasi telah dia lakukan untuk merubah penampilannya, dan Louis tidak masalah dengan itu selama membuatnya bahagia.
“Aku tidak berniat selingkuh darimu, Sayang,” ucapnya seakan foto di depannya hidup, mata Louis dipenuhi emosi. Ada sesuatu yang tidak bisa dia salurkan pada sosok dalam foto, kerinduan yang mendalam.
“Kau selalu ada di hatiku, kedudukanmu lebih tinggi dari pelayan itu. Kau tidak tergantikan.” Berkata dengan wajah datar, Louis menghela napas. “Dia berada jauh dibawahmu, tidak bisa menandingimu.”
***
Senyuman Lucia tidak luntur saat melihat mobil yang membawa Louis pergi menjauh, akhirnya dia dapat menghirup udara segar. Yang Lucia dengar, Louis akan pergi selama beberapa hari, tapi tidak lebih dari seminggu.
Sore hari terindah untuk Lucia selama dia berada di sini, tidak akan ada yang mengganggu, setidaknya berkurang satu. Lucia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedang membersihkan ruangan santai di lantai dua, menyedot debu dari bawah kursi dan rak yang dipenuhi boneka kaca, Lucia yakini itu terbuat dari kristal.
Saat Lucia membuka pintu kaca yang menghubungkan ruangan dengan balkon luas. Bahkan terdapat jacuzzi berbentuk bulat di samping pohon rindang, sungguh suasana yang jarang Lucia nikmati. Ada beberapa hal yang direnovasi selama dirinya di Palma, balkon ini cocok untuk melihat matahari tenggelam diantara pohon.
Jacuszzi itu tertutup, sepertinya sudah lama tidak dipakai tapi masih dijaga dan dirawat. Pintu lain yang terhubung ke balkon luas itu adalah pintu kamar Louis yang juga terbuat dari kaca besar. Hidup di mansion mewah bak istana tidak membuat Lucia senang. Jika bisa, dia ingin hidup dalam gubuk sederhana bersama Louisa daripada di tempat ini.
“Lucia?”
Pemilik manik biru itu mematikan vacum cleaner, menoleh pada Andrean yang mendekat. “Ada apa?”
“Ini uang sebagai imbalan menulis.”
Lucia menggeleng. “Kau tahu aku akan membayarkannya pada utangku, Andrean.”
“Baiklah.” Pria itu menaikan bahu, memasukan kembali uang dalam amplop cokelat ke dalam saku. Dia masih memperhatikan Lucia yang kembali membersihkan. “Apa kau ingin pergi ke Palma, Lucia?”
“Berhenti memberiku harapan, Andrean, dia takkan melepaskanku.”
“Maaf, mungkin jika kau membuatnya kesal dia akan mengirimu kembali ke villa terbengkalai itu.”
Lucia teringat alasan Louis mengirimnya, bagaimana pria itu tidak ingin melihat wajahnya lagi. Namun, kesalahan apa yang harus dibuatnya sekarang di waktu Louis begitu memaksanya untuk bisa tunduk.
“Aku hanya mencoba membantumu kembali pada Louisa.”
“Adakah cara? Yang terpikir olehmu?”
Andrean menggeleng, “Aku tidak ingin ikut campur dengan keputusan itu, mungkin coba membuatnya kesal.”
Ketika Lucia hendak bicara, dia mendengar seseorang melangkah mendekat yang membuatnya mengurungkan niat.
“Andrean, Nona Amelia ingin menemuimu,” ucap Monica yang baru saja datang.
Heran dengan perintahnya, Andrean memilih menurut daripada kena masalah. Meninggalkan Monica yang memegang sebuah botol berisi cairan orange, wanita itu mendekat pada Lucia yang sedang menggunakan vakum cleaner. “Lucia, aku membuatkan ini untukmu.”
“Benarkah?” Lucia tidak bisa menyembunyikan rasa herannya. Memang baik untuk minta maaf dan berubah menjadi lebih baik, tapi ini keterlaluan. Monica tidak berhenti tersenyum yang mana membuatnya sedikit ketakutan.
“Lihat bulir jeruknya, ini pas diminum saat musim panas.”
Menerimanya dengan sopan. “Terima kasih, Monica.”
“Sí. Oh ya, bajumu sedikit kekecilan?”
Lucia menatap tubuhnya. “Aku menggunakan ini lima tahun lalu, Andrean belum memberikan yang baru.”
“Berapa baju yang kau miliki?”
“Tiga kurasa.” Berpikir sesaat. “Aku meninggalkannya di Palma waktu itu.”
“Bagaimana kalau aku membuatkannya untukmu?”
Tidak ingin salah mendengar, Lucia memastikan kembali. “Apa?”
“Aku menawarkan baju untukmu, aku pandai menjahit. Nona Amelia memberikannya padaku untuk mengisi waktu luang.”
“Itu bagus.”
Monica tersenyum. “Tentu saja, sekarang minumlah, aku tahu kau lelah.”
Sesaat Lucia ragu dengan minuman yang ada di tangannya, tapi melihat Monica yang menunggunya membuat perempuan itu membuka tutuo botol. Semakin dekat dia untuk meminum, semakin lebar senyuman Monica. Seakan tidak tahan untuk melihatnya.
Demi mencegah hal-hal negatif yang ada di otak Lucia, dia hanya meminumnya beberapa teguk. Namun itu membuat Monica bersorak senang. Wanita yang biasanya sering membully itu mendororongnya halus. “Lakukan lagi pekerjaanmu.”
“Baiklah.” Lucia kembali menyalakan vacum cleaner, mencoba mengabaikan keberadaan sosok manusia yang mengawasinya.
Saat Lucia pikir tidak ada yang salah dengan Monica, dia tiba-tiba merasa pusing dan mual di saat yang bersama. Rasa nyeri itu begitu kuat hingga benda yang dipegangnya jatuh, Lucia berteriak merasakan rasa sakit yang luar biasa. Dan itu adalah kepuasan bagi Monica yang sedang tertawa.
“Apa yang kau lakukan padaku?”
Kali ini tatapan jahatnya kembali, bibirnya menyeringai sambil menyilangkan tangan di dada. “Aku akan memberikan apa yang kau mau.”
Detik itu pula Lucia kehilangan keseimbangan, dia terjatuh dan kehilangan kesadaran. Monica bertepuk tangan sebagai penghargaan pada dirinya sendiri, dia mengisyaratkan Salma yang sedari tadi mengawasi untuk membantunya membawa Lucia.
“Kemana kita akan membawanya?” Tanya Salma.
“Aku ingin menguburnya setiap ingat apa yang diperbuatnya dengan Señor Louis, tapi Nona Amelia ingin menyayatnya pelan-pelan.”
Kedua wanita itu mengangkat perempuan yang berseragam sama dengan mereka, mudah dikarenakan bobot Lucia ringan.
“Kita akan membawanya ke ruang bawah tanah?”
“Ya, di tempat yang paling gelap.”
Naomi yang melihat itu berpura-pura menutup mata, dia menunduk memilih memastikan jemarinya masih lengkap ada sepuluh.
“Sial, ini agak sulit,” ucap Monica yang menuruni tangga lebih dulu, mereka melemparkan Lucia begitu membuka pintu sel.
Salma mendesah pelan sambil tersenyum senang. “Aku akan mengikatnya, kau panggilah Nona Amelia.”
Monica melakukannya. Membiarkan Salma mengikat kedua tangan Lucia dibelakang tubuhnya, lalu menyiapkan sebuah kursi yang akan diduduki majikannya, tepat di depan Lucia yang terkapar. Salma tersenyum begitu mendapati Amelia yang melangkah ke arahnya.
“Silahkan, Señorita.”
Dengan angkuhnya wanita berambut orange itu duduk. “Kapan dia akan sadar?”
“Dua menit lagi.” Setelah memastikan melihat jam tangan.
Sesuai perkiraan, Lucia mulai bergerak. Keningnya berkerut dan mencoba bergerak. Saat menyadari dirinya diikat, Lucia panik. Matanya membulat hingga dia menyadari keberadaan tiga orang itu.
“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!”
“Beraninya kau membentak Nona Amelia.” Salma dengan kejam menendang tubuh kecil Lucia. Membuat perempuan itu merasakan sakit di ulu hati, tepat di sana.
“Aaaa…” Lucia menahan teriakan kesakitannya, urat-urat lehernya terlihat jelas.
Amelia tersenyum manis, menampahkan tangan menerima belati yang diberikan Monica. Kaki yang dialasi heels merah itu berhenti tepat depan wajah Lucia, dia berjongkok sambil memainkan benda tajam itu di tangannya.
“Beraninya kau menggoda Louis.”
“Señorita, kumohon, lepaskan aku.” Lucia meronta dengan tubuhnya yang miring, merasakan sakit di beberapa tempat. “Señorita.”
“Kau menyentuh Louis!” Teriakan Amelia membuat jaguar yang ada di sel lain menggeram, membuat Lucia ketakutan. “Dia Louis ku! Milikku!”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Señorita.”
“Kau menyentuh Louis!” Jeritnya dengan penuh penekanan. “Beraninya kau melakukan itu.”
“Señorita, aku tidak pernah menginginkannya, Señor Louis yang menggangguku.”
Kalimat itu berhasil membuat Amelia tertawa menggila, diikuti oleh Salma dan Monica. “Jadi kau pikir Louis tertarik denganmu? Mari kita lihat apakah dia tertarik setelah kau memiliki ini.”
“Aaaaa!” Lucia menjerit kuat saat belati itu menembus kulit, memberi luka pada tangan bagian atasnya. Merobek dengan cukup dalam hingga membuatnya menangis, meronta menahan rasa sakit. “Señorita, maafkan aku.”
“Kau tidak pantas dimaafkan!”
“Señorita… Aaaaaa!” Bibir tipisnya kembali mengeluarkan jeritan saat belati itu kembali melukai, memberi sayatan di bagian yang sama. “Ampuni aku, Señorita.”
Amelia menggeleng dengan wajah cerianya. “Aku akan menghancurkanmu.”
Tangan Amelia terangkat, membuat Salma segera memberikan botol berisi cairan. Dan tanpa kasihan, dia menuangkan air perasan jeruk nipis itu pada luka Lucia. “Aaaaa!”
“Itu yang akan kau dapatkan jika berani menggoda Louis! Milikku!” Teriaknya melengking tepat di telinga Lucia, membuat perempuan itu semakin menangis terisak. Amelia berdiri dan melempar botol itu ke bagian sudut sel yang gelap. “Aku akan menyiapkan mimpi burukmu.”
Mata sayu Lucia menatap kepergian Amelia dengan air mata berlinang, rasa sakitnya hampir tidak bisa dia tahan, apalagi ketika Monica menepuk-nepuk pipinya dengan tatapan kejam. “Kau ingat aku bilang akan memberikan bunga? Itu untuk pemakaman. Dan kau ingat saat aku bilang akan membuatkanmu baju, itu gaun untuk kau pakai dalam peti.”
“Aku mohon lepaskan aku, aku mohon.”
Salma tersenyum, dia menendang pelan Monica sebagai isyarat untuk meninggalkannya. Sebelum pergi, dia berkata, “Aku memang tahu kau bermasalah sejak menginjakan kaki di sini.”
Mereka keluar, bergabung dengan Amelia yang sedang memanggil seseorang.
Mata Lucia membulat melihat seorang pria berbadan besar yang sering dia lihat lima tahun lalu, yang paling mengejutkan, pria itu membawa jaguar hitam.
“Señorita!” Teriak Lucia memohon pertolongan saat wanita itu tertawa.
Lucia semakin panik saat pria itu melepaskan ikatan jaguar hitam di lehernya, dan menutup pintu sel, meninggalkannya bersama hewan itu.
“Señorita!”
“Itu yang akan kau dapatkan jika berani menggoda Louis! Dia milikku!”
----
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Bunga Istiqomah
🖤🖤🖤🖤
2024-06-13
0
asri handaya
2024..saya baca ulang... saking bagusnya novel ini
2024-01-29
2
Dewi Aleysie
dulu baca 2021 skrang kembali lagi 2023 masih sama ga ada yg gua skip saking bagusnya,cuma ssyang yg cerita qwen di hapus
2023-11-13
0