Vote sebelum membaca😘😘
.
.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”
Lucia tersentak kaget ketika Louis tiba-tiba menarik pinggangnya, membuat dada mereka bertabrakan. Lucia melihat dengan jelas bagaimana percikan air terjun tidak membuat pria itu melenyapkan tatapan mata hitamnya, layaknya elang yang telah menemukan mangsa.
“Lepaskan,” pinta Lucia mencoba lari dari terkaman Louis. “Señor…..”
“Aku menawarkan pekerjaan yang lebih baik padamu.”
“Lepaskan…” Pinta Lucia meronta dalam air, satu tangan Louis saja membuatnya sulit bergerak. Lucia semakin panik, apalagi saat Louis membuka kancing kemeja.
Pria itu mencengkram kuat pinggang Lucia, bibirnya menyunggingkan senyuman miring. “Kau menikmatinya.”
“Lepaskan, Señor, kau akan dapat masalah jika melakukan ini padaku.”
“Masalah?” Louis terkekeh. “You’re my slave.”
Sekuat tenaga Lucia menahan air matanya, dia membalas tatapan itu lekat, memberitahu lewat mata birunya bahwa dirinya bukanlah wanita seperti.
“Kenapa? Kau pikir aku akan menjadikanmu wanitaku? Kau hanya aku inginkan sebagai budakku.”
Lucia tertawa hambar. “Kenapa harus aku yang jelas tidak menginginkannya? Bukankah kau memiliki Señorita Amelia untuk melakukannya?”
“Aku tidak tidur secara acak.”
“Maka mulailah tiduri dia hingga aku bisa menjauh darimu, Señor,” ucap Lucia mencoba melepaskan tangan yang meliliy pinggangnya. “Lepaskan aku.”
“Kau adalah budakku, kerja kerasmu seumur hidup tidak akan membayar semua utang orangtuamu.”
“Lantas?” Tanya Lucia dengan suara tercekat.
“Aku menawarkan pekerjaan yang lebih baik, jika suatu saat aku bosan, aku mungkin akan menendangmu dari ranjangku.”
Seketika Lucia melayangkan tamparan hingga sudut bibir Louis berdarah, dengan amarah yang menguasai Lucia berkata, “Aku mungkin budakmu, orang yang berhutang jutaan dollar padamu, tapi tubuhku adalah milikku, hidupku adalah milikku. Aku datang sebagai pelayanmu, bukan budakmu di atas ranjang.”
Louis memegang pipinya, dia terkekeh. “Itu caramu lebih cepat mendapatkan uang.”
Lucia yang melepaskan paksa tangan kekar itu. “Aku memilih membersihkan kakimu daripada tidur di atas ranjangmu. Aaa!”
Tanpa diduga Louis menjambak rambut belakang Lucia, membuat perempuan itu mengadah penuh kesakitan. “Señor,” ucapnya dengan bibir bergetar.
“Beraninya kau padaku, kau tidak lebih dari seorang budak.”
“Aaa!” Lucia tidak bisa menahan rasa sakitnya, kepalanya terasa berputar, sakit hingga akar rambutnya terasa akan tercabut. Matanya memerah menahan rasa sakit. “Señor…”
“Aku menawarkan pekerjaan yang lebih baik untukmu, dan kau beraninya menamparku?”
Lucia meronta saat Louis menenggelamkannya, membuatnya kehabisan napas. Pria itu menatap dengan datar, membiarkan Lucia meronta di dalam air. Ketika pemilik rambut bergelombang itu mulai lemas, Louis menariknya supaya bisa menghirup udara. Perempuan itu mengambil napas dalam-dalam, dirinya terbatuk-batuk. “Kau akan menderita jika tidak menerima tawaranku.”
“Lebih baik begitu selama aku punya harga diri.”
Louis kembali dibuat terkekeh oleh Lucia, tanpa belas kasihan pria itu membenturkan kepala Lucia pada batu besar dekat air terjun, membuat dahinya yang sudah memiliki luka kembali berdarah. “Kau harus belajar sopan santun.”
“Dan kau harus belajar untuk tidak menjadi pria cabul, Señor.”
“Aaa!”
Lucia yang tetap pada angkuh membuat Louis geram, dia mencekiknya selama beberapa saat. “Kita lihat seberapa tahan kau meninggikan egomu,” ucap Louis penuh penekanan. Dia melepaskan Lucia dengan kasar dan meninggalkannua sendirian dalam air.
Lucia terbatuk-batuk, air matanya mengenang. Dia menangis seketika saat Louis telah pergi, tangannya mengusap kening yang berdarah. Lucia pergi ke tepian, mengambil pakaiannya dan mengenakannya.
Untuk sesaat dia memilih diam di tepi air terjun, menghadap matahari terbenam sambil meneteskan air mata. Luka-luka di tubuhnya tidak sebanding dengan luka yang ada di hatinya, batinnya terluka begitu dalam. Tidak ada yang mengharganinya, Lucia diperlakukan layaknya hewan. Nyawanya seakan tidak berharga, semua luka pada tubuhnya yang menjadi bukti.
Dia bisa saja mati kapanpun oleh mereka yang membenci, dan Lucia hampir putus asa jika tidak mengingat putrinya.
Satu hal yang bisa dia lakukan adalah menuliskan nama putrinya di atas tanah, kemudian Lucia menghapus air matanya. Dia membayangkan sosok gadis mungil itu ada di hadapannya sedang tersenyum. Kemudian Lucia berkata, “Maafkan Mum yang tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan, Louisa. Mum bahkan tidak tahu kapan akan kembali, Daddy mu membutuhkan Mum lebih lama. Jadilah anak yang baik dan--” Perkataannya terpotong oleh isak tangis.
Lucia mencoba menahan air matanya. “Dan jangan lupa makan, tidurlah setelah mengerjakan tugas, jangan terlalu banyak makan cokelat. Mum menyayangimu lebih dari apapun.” Tangannya mengusap kasar air mata yang jatuh. Lucia terisak kuat.
“Mum menyayangimu, Louisa, jadilah anak yang baik, mengerti?” Seakan sosok itu ada di hadapannya, isakannya semakin keras, Lucia memukul-mukul dadanya mencoba menghilangkan sesak. “Maafkan Mum, maafkan aku yang tidak bisa memenuhi keinginanmu, Louisa.”
Sinar matahari menjadi saksi bisu bagaimana terlukanya seorang perempuan, seorang ibu, yang tidak dihargai bahkan untuk nyawanya. Seakan hidupnya tidak lebih berharga dari hewan peliharaan, siapa saja, kapan saja bisa melayangkan pukulan untuknya, bisa merendahkan harga dirinya.
***
Malam yang hening, ketika telpon menyala, Andrean dengan cepat bergegas mengangkatnya sebelum yang lain mendahului, dia melihat sekeliling memastikan tidak ada yang melihat.
“Hallo?”
‘Hallo, Uncle Andrean?’
“Hallo, Lee, senang bicara denganmu lagi.”
Pria itu terkekeh pelan, menampilkan kerutan di wajahnya. “Kau belum tidur?”
‘Aku bangun saat Bibi Rani sudah tidur, apa Mum dan Daddy sedang berada di perpustakaan?’
“Tidak, Sayang, kau menelpon di saat yang tepat, ibumu belum pergi, kau ingin bicara dengannya?”
‘Ya!’ Louisa terdengar gembira, membuat Andrean tertawa dibuatnya.
“Baiklah, tunggu sebentar. Ingat, jangan menjawab siapapun selain suara Uncle dan ibumu. Oke?”
‘Sí!’ Bibir mungilnya berteriak penuh semangat.
Segera Andrean menyimpan gagang telpon, dia melangkah menuju kamar Lucia dan mengetuk pintunya pelan. Butuh beberapa menit hingga pemilik manik biru itu keluar, Lucia memiliki perban di dahinya, dan juga beberapa luka lebam yang segera ditutupinya dengan sweater tipis. “Ada apa, Andrean?”
“Apa kau masih menulis?”
“Ya, ada beberapa tambahan buku.”
“Ada yang ingin bicara denganmu,” ucap Andrean membuatnya mengerutkan kening, pria tua itu melanjutkan. “Putrimu yang menelpon.”
Seketika Lucia membulatkan mata, dia mengikuti Andrean dengan tergesa-gesa. Segera dia menerima gagang telpon itu dengan wajah panik, tangannya bergetar. “Lee?”
‘Mum!’
Mata Lucia berair, dia menangis bahagia. “Oh my baby, kenapa kau belum tidur?”
‘I miss you, Mum.’
“I miss you too, Lee,” ucapnya dengan air mata kembali menetes. “Bagaimana keadaanmu?”
‘Lee baik, tapi tidak ikut camp musim panas.’
“Kau tidak harus, kau bisa diam di rumah bersama Rani, Sayang.” Kalimat itu Lucia ucapkan dengan berat hati. Bukan karena dirinya tidak di sana, camp musim panas seharusnya ditemani kedua orangtua, dan Louisa selalu menjadi bahan tertawaan anak-anak lain. “Dimana Rani sekarang?”
‘Tidur, bagaimana dengan Daddy? Apa dia masih suka bermain piano seperti yang Mun ucapkan?’
“Ya, dia masih,” ucapnya dengan tercekat. Tidak terhitung banyaknya air mata yang menetes. “Dia memiliki jemari indah sepertimu, Sayang.”
‘Kapan Mum dan Daddy akan pulang?’
Napas Lucia tercekat, dia tahu jawaban sebenarnya harus dikatakan. Namun, Louisa terlalu kecil untuk mengerti keadaan. Dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan rasa sakit. Lucia pernah mengalaminya, dia tidak ingin putrinya merasakan hal yang sama. Hanya satu yang bisa dilakukan, Lucia menjawabnya dengan tenang, “Secepatnya, Sayang, setelah urusan Daddymu selesai.”
‘Apa tidak bisa Lee menyusul ke sana?’
“Oh, Sayang, Mum harap kau bisa.” Lucia menghapus air matanya. “Di sini begitu berisik, kau tidak akan suka.”
‘Apa jika Lee memenangkan kompetensi piano Daddy akan datang?’
“Kau mendaftar?”
Anak itu tertawa dengan gembira, mengingatkan Lucia pada wajah yang sudah sangat dia rindukan. Bagaimana cerianya Louisa, apalagi ketika membicarakan Louis.
‘Aku ingin hebat seperti Daddy.’
Louisa menerima tissue yang diberikan Andrean, mengusap air matanya yang terus menetes. “Kau hebat, Sayang.”
‘Lee janji akan mendapatkan tempat pertama, dan Lee ingin Daddy sebagai hadiah.’
“Mum harap biaa melakukannya.” Suaranya tercekat, membayangkan Louis tahu tentang anaknya membuat Lucia takut. Pikirannya terus berspekulasi hal-hal negatif, jika saja Louis menolak keberadaannya, menganggapnya sebagai benalu dan menyingkirkan Louisa. Lucia tahu betul bagaimana Louis tidak memiliki hati. “Daddymu masih memiliki pekerjaan banyak, jadi mungkin tidak bisa datang.”
Suara Louisa berubah menjadi murung, dia diam. Hanya terdengar suara napasnya yang membuat Lucia melanjutkan. “Dia akan membelikan banyak mainan jika Lee baik.”
‘Lee tidak ingin mainan, Lee hanya ingin dipeluk Daddy sebelum kompetesi.’
Lagi-lagi air matanya jatuh. “Ini sudah malam, Sayang, kita bicara lain kali, oke?”
‘Dan kapan Lee akan bicara dengan Daddy?’
“Saat sakit tenggorokannya sembuh, oke?”
‘Oke,’ ucapnya tanpa semangat, murung. Terlihat jelas kekecewaan. Bibir mungil itu melanjutkan. ‘Apa Lee juga dilarang bicara dengan Daddy yang sedang sakit?’
Tangan Lucia meremas rok yang dipakainya, sesaat napasnya tertahan melawan isakan. Ini lebih sakit dari pukulan yang diberikan siapapun, hatinya terluka hanya karena pertanyaan dari putrinya. Louisa dengan sejuta harapan dengan sosok ayah yang selalu dirindukan, yang ingin dia peluk.
“Tidurlah, Lee, kau tidak bisa bicara dengan Daddymu jika mengantuk.”
‘Lee tidak mengantuk.’
“Ayo, Sayang, tutup telponnya.”
Louisa mendesah pelan, berat dan penuh kesedihan. ‘Bilang pada Daddy selamat malam, dan Lee menantinya untuk pulang.’
“Sure, Baby.”
Seketika Lucia menangis saat telpon dimatikan, dia menutup seluruh wajahnya mengingat setiap pertanyaan yang dilontarkan Louisa. Gadis kecilnya yang entah kapan bisa dia lihat kembali.
Andrean yang khawatir ada yang melihat itu mengelus bahu Lucia. “Bisa kita bicara, Lucia?”
Dia mengangguk. “Kita memang harus bicara,” ucapnya menghapus air mata dan mengikuti Andrean yang berjalan ke arah belakang mansion. Membuat Lucia mengerutkan kening.
“Kita akan kemana, Andrean?”
Pria itu tidak menjawab, dia berhenti tepat di depan ruangan yang Lucia ketahui itu adalah gudang. Andrean membuka pintu dengan kunci yang dibawanya, mengisyaratkan Lucia agat masuk lebih dulu. Pria itu menyalakan lampu kuno berwarna orange, menerangi tempat yang dipenuhi jaring laba-laba dan debu.
Lucia membuka kain putih yang menutup sofa, dia duduk di sana. “Kapan kau tahu tentang Louisa?”
“Lusa, dia menelpon menanyakan ibunya.”
Lucia terdiam, dia menelan ludah kasar dengan tatapan turun. Membuat Andrean yang berdiri melihatnya segera mengatakan, “Tenang saja, Lucia, aku takkan memberitahu siapapun tentang Louisa.”
“Terima kasih, Andrean.” Akhirnya bisa menatap lega mata tua itu. “Dia adalah harta terbesarku.”
“Lantas kenapa kau tidak memberitahu Señor Louis?”
Lucia tertawa, dia menggeleng. “Memberitahunya? Dia mengusirku begitu sadar telah meniduriku, lalu apa yang terjadi jika tahu tentang Louisa?”
Andrean mengangkat bahu, dia menyandar pada dinding. “Mungkin akan lebih baik dari pikiranmu, Lucia. Louisa ingin melihat ayahnya.”
“Dan jika ayahnya tidak menginginkannya?”
“Setidaknya kita mencoba.”
Lucia menggeleng keras. “Aku takkan mengambil resiko, bukankah kau tahu siapa dia, Andrean? Dia pemimpin kartel terbesar di Spanyol, dia berbahaya.”
“Mungkin tidak untuk gadis kecilnya.”
“Berhenti membuat kemungkinan.” Lucia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Aku tidak ingin Louisa terluka.”
Andrean berhenti membujuk, dia terdiam sesaat melihat sekeliling sebelum memutuskan mendekati sebuah kardus. Dia terlihat mencari sesuatu dari dalam sana. “Apa kau masih menulis untuknya?”
Lucia mengangguk. “Ya, ada beberapa buku tambahan.”
“Berapa lagi utang yang harus kau bayar?”
Lucia menggeleng, dia memijit pelipisnya. “Tidak terhitung, masih banyak.”
Andrean kembali membalikan badan menatap Lucia, dengan sebuah figura di tangannya. “Aku tahu Señor Louis tertarik denganmu.”
“Dia ingin menjadikanku budaknya, Louis. Dia ingin aku menjadi pelacur, dia menjatuhkan harga diriku.”
“Harga yang ditawarkannya tinggi.”
“Ya, dia akan menendangku begitu bosan.”
Andrean terdiam, menatap wajah lesu Lucia yang dihiasi beberapa luka. Dia tahu itu disebabkan tuan dan pelayan di sini, Andrean tidak bisa berbuat apa-apa saat Amelia menginjakan kaki di mansion, kepergian Penelope membawa kehancuran di dalam mansion. Louis dengan ambisinya menghancurkan, dan Amelia yang terobsesi memiliki Louis.
“Kau seharusnya bertanya kenapa Señor Louis menarikmu kembali dari Palma.”
Wajah penuh pertanyaan Lucia membuatnya memberikan figura itu. “Apa ini?”
“Itu adalah Señorita Penelope.”
“What?” Matanya memperlihatkan ketidakpercayaan, dia menatap lebih lekat foto usang, di mana di sana ada Louis dan seorang wanita sedang tidur di pinggir pantai beralaskan kain tipis, keduanya nampak bahagia. “Ini Nona Penelope?”
“Mirip denganmu ‘kan?”
“Bagaimana bisa? Maksudku, dia bukankah keturunan kulit hitam?”
Andrean menggeleng, dia duduk di kursi kayu yang ada di depan Lucia. “Nona Penelope melakukan operasi karena dia tidak ingin mirip dengan papanya yang telah menelantarkannya, dari ujung kepala sampai kaki. Itu sebabnya tidak ada yang tersisa dari wajahnya.”
“Tapi? Bagaimana bisa?” Lucia memegang wajahnya sendiri, keningnya berkerut merasa tidak percaya. “Dia mirip denganku, hanya matanya saja yang berbeda.”
“Itu yang membuat Señor Louis salah mengira malam itu.”
“Karena aku mirip Nona Penelope saat dia masih muda.”
Andrean mengangguk. “Dia mengira itu kekasihnya.”
Matanya menatap Andrean penuh pertanyaan. “Dan alasan dia membawaku kembali hanya karena wajah ini? Karena dia masih mencintai Nona Penelope? Melampiaskannya padakku?”
Anggukan pria itu membuat Lucia terluka. “Dia melihatmu sebagai Nona Penelope.”
“Hanya karena wajah ini dia menginginkanku?” Air matanya berlinang. Lucia tidak munafik, rasa suka itu masih tertanam di hatinya. Louis masih menjadi cinta pertama yang melukainya, merengut kebahagiaannya dan pria yang menanamkan jarum di hatinya.
***
Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, dan Lucia berusaha menyelesaikan salinan malam ini juga. Dia tidak ingin datang kembali ke perpustakaan, beruntungnya Louis tidak datang malam ini. Memberikan ketenangan padanya selama beberapa saat. Melihatnya saja membuat hati Lucia sesak, mengingatkannya bagaimana pria itu memperlakukannya.
Ketika tinggal beberapa halaman tersisa, pintu terbuka yang mana membuat Lucia menegang. Tanpa melihatpun dia tahu siapa yang datang. Aroma Louis, bagaimana langkahnya yang sangat Lucia kenal.
Pria itu mengambil buku dari rak yang ada di belakang Lucia, seperti biasa, dia merebah di sofa yang dilapisi kain merah dan membaca dengan pelindung kacamata. Lucia mencoba mengabaikan, tapi matanya terus saja melirik.
Rasa benci dan suka menjadi satu, perpaduan sempurna yang membuatnya sulit berkonsetrasi. Selama beberapa menit tatapan itu terhenti pada objek yang memakai kaos hitam, celana pendek yang melapisi tubuh atletisnya. Rahangnya kokoh, ada sedikit bulu yang tumbuh di sana. Mata Louis terlihat sayu, seakan menahan kantuk.
Ekspresi wajah Louis persis seperti Louisa yang terbangun karena mimpi buruk, lalu mencari peralihan dari mimpinya dengan melakukan hal lain, setelahnya pasti Louisa meminta susu hangat dengan roti tawar goreng.
“Buatkan susu hangat dan roti lapis.”
Persis seperti ingatannya. Apel memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, dan Louisa jatuh dekat pohon Louis, bukan pohon miliknya.
Sebelum pria itu memberikannya tatapan, Lucia segera berdiri. “Sí, Señor.” Dia keluar dari perpustakaan menuju dapur.
Membuka kotak roti, Lucia mengambil roti tawar besar. Entah karena terlalu dalam mengenang anaknya, Lucia membentuk roti tawar itu seperti bintang, membakarnya dan mengisinya dengan berbagai macam sayuran dan daging. Bahkan Lucia membuat mata juga senyuman di atas sandwich, membuatnya memiliki wajah ceria dengan beberapa jerawat.
Aroma roti terbakar membangunkan seseorang tanpa Lucia sadari. Perempuan itu mengambil susu bubuk dengan berjinjit, tempat disimpannya toples itu terlalu tinggi hingga Lucia hampir terjatuh, beruntung sebuah tangan menahan perutnya hingga Lucia tidak jadi mencium benda keras.
Dirinya membalikan badan, mendapati Louis yang melakukannya. Dengan cepat Lucia menyingkirkan tangan Louis dari pinggangnga, pemilik mata biru itu berpindah tempat untuk mengisi gelas dengan air hangat.
Ketika sebuah tangan mendarat di bokongnya, Lucia menegang sebelum akhirnya dia sadar dan melepaskannya dengan kasar.
Membuay Louis terkekeh. “Penawaranku masih berlaku, Michelle.”
“Aku tidak tertarik dengan apapun itu, Señor.”
“Tubuhmu berkata lain,” ucap Louis melingkarkan tangannya di perut Lucia, meremas pinggang perempuan itu. “Aku tahu kau menikmatinya.”
Lucia berusaha menyelesaikan pekerjaannya, dia mengaduk susu hingga siap untuk diminum. Tanpa menghiraukan Louis yang meniup telingana kemudian berbisik, “Tubuhmu menegang, menginginkanku.”
Lucia membalikan badan seketika, dia mencoba lari. Namun, Louis lebih cepat, dia mengurung Lucia dengan kedua tangannya berada di pantry, menahan Lucia bergerak. Wajahnya datar, tapi tatapannya menyalurkan rasa takut. “Kau menyukainya bukan?”
“Tidak sedikitpun, aku membenci setiap hal yang kau lakukan.”
Louis tersenyum miring. “Bencilah orangtuamu yang membuatmu menanggungnya.”
“Aku lebih benci pada pria yang dikendalikan nafsu, bukan nurani, Señor.”
Tubuh Louis tidak bergerak saat Lucia mencoba mendorongnya. “Biarkan aku pergi, Señor.”
“Kau bisa mendapatkan berapapun yang kau inginkan jika menerima tawaranku.”
Lucia berkata dengan penug penekanan, “Lebih baik aku bekerja padamu seumur hidup daripada menjadi pemuas nafsumu.”
Untuk yang kesekian kalinya, keras kepala Lucia membuag Louis tertantang untuk meruntuhkannya, meluluhkannya hingga akhirnya dia menyerah. “Kau bisa terbebas dari semua utangmu, Michelle.”
“Aku tidak pernah ingin menjadi wanita pemuas nafsu dan dianggap begitu.”
“Lalu kau ingin apa? Dianggap sebagai wanita suci dambaan hati?” Louis terkekeh di akhir pertanyaannya. “Bahkan nyawamu tidak lebih berharga dari hewanku.”
Mata Lucia berair, dia mencoba keluat dari kukungan Louis. Manik birunya tidak lagi menghadapi rasa sakit itu, dia menatap lantai sebagai pengalihan. “Lepaskan aku.”
“Kau menyukainya, Michelle.” Tubuh Louis mengapit Lucia, hingga perempuan itu kehabisan ruang dan tubuh mereka beradu. “Kau menginginkannya.”
“Tidak pernah.”
“Mari kita buktikan.” Louis mengambil gelas dengan tangan kirinya, meminum susu itu dan menahannua di mulut, sedetik setelahnya Louis mencium bibir Lucia. Memaksa pemilik rambut cokelat muda itu membuka mulut, menelan semua cairan manis itu hingga memudahkan Louis mengeksplor mulutnya.
Lucia kalah tenaga, Louis mengangkat tubuhnya dan mendudukannya di pantry. Tangan kiri pria itu menahan kedua lengan Lucia di punggungnya, sementara tangan yang lain memegang rahang Lucia supaya ciumannya tidak lepas.
Dia mencoba berontak, kakinya tidak bisa bergerak karena Louis menjepitnya.
“Berteriaklah dan bangunkan semua orang,” ucapnya di sela-sela ciuman.
Lucia mengaduh kesakitan saat Louis menggigit bibirnya, lalu pemilik mata hitam itu menurunkan ciuman ke leher. Membuat Lucia harus berperang dengan dirinya sendiri, mulutnya terkatup rapat menahan suara yang bisa membangunkan orang lain. Hanya tubuhnya yang dia andalkan supaya terbebas dari Louis, nyatanya rontaan Lucia berakhir sia-sia.
Ketika Louis kembali menciumnya, dengan tangannya yang turun ke area yang tidak seharusnya, Lucia segera menggigig bibir pria itu dan mencacinya. “Lepaskan aku kau bajingan sialan.”
Kalimat yang membuat Louis semakin melancarkan aksinya hingga Lucia benar-benar lemas, tubuhnya berkeringat gagal meloloskan diri.
“Kau menyukainya, ingin melanjutkan?”
“In your dream, Jerk!”
Dan Louis mengerahkan seluruh tenaganya bertarung dengan Lucia hingga pria itu berhasil membaringkan Lucia di pantry. Tempat yang tidak cukup luas membuat kepala Lucia tidak tertahan sesuatu hingga dia mengadah hampir terjatuh.
“Lepas, sialan,” ucap Lucia di sela-sela rasa lelahnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat sedari tadi. Monica nama wanita yang tersenyum layaknya iblis menemukan teman. Dia memotret adegan itu, bangga seakan ada emas memenuhi tubuhnya.
“Akan aku berikan pada Nona Amelia dan membuatmu mati di tangannya.”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
berharap Lucia bisa segera terbebas dr neraka ini.. ya mungkin dgn menggadaikan nyawanya.. krn kematian akan lebih baik dr pd hidup seperti yg lucia jalani
2024-11-01
0
Bunga Istiqomah
💛💛💛💛💛❤
2024-06-13
1
Vie Wulan Warsino
😭😭😭 kenapa ada yg meletak bawang disini
2023-10-03
0