Vote sebelum membaca😘😘
.
.
“Aku akan pergi ke spa seharian ini, kau akan aku beri waktu untuk istirahat sebelum melayaniku.”
“Gracias, Señorita.” Lucia menunduk saat Amelia keluar dari apartemen.
Mata Lucia mengarah pada pintu yang Amelia sebutkan sebagai kamarnya. Dengan kesusahan membawa koper, Lucia membuka pintu yang bersebelahan dengan pintu berwarna silver dengan tulisan, ‘Princess Amelia Morte.’
Begitu terbuka, Lucia mendesah hanya mendapati kamar dengan kasur busa kecil tanpa penyangga. Tergeletak begitu saja bersama dengan rak buku kosong juga cermin besar yang menempel di dinding. Lucia masuk dan membereskan pakaian, menjadikan rak buku sebagai tempat menyimpan pakaian. Entah sampai kapan dia akan berada di sini, tapi setidaknya musuhnya berkurang sebagian. Tidak ada Monica ataupun Salma, Lucia hanya perlu kesabaran penuh menghadapi sikap Amelia yang mungkin akan lebih parah.
Perempuan bermanik biru itu menatap luka di tangannya yang belum kering, bahkan darah merembas menembus perban. Lucia tahu luka itu dalam, dia butuh dijahit supaya tidak terjadi infeksi.
Lucia terdiam selama beberapa saat di kamarnya, memastikan Amelia tidak kembali. Satu jam hanya ada kehampaan, Lucia memutuskan turun ke bawah. Seingatnya, dia melihat ada klinik tidak jauh dari apartemen.
Tempat ini tidak begitu luas, hanya ada dua kamar, tempat menonton tv yang menyatu dengan dapur dan satu kamar mandi di luar kamar. Semuanya begitu rapi, dan juga mengingatkan Lucia pada mansion Louis. Semuanya hampir didominasi oleh warna hitam dan putih. Tempat ini juga cukup dekat dari mansion Louis, mengingat istana itu berada di tengah hutan. Harus melewati berkilo meter hutan lebat sebelum sampai di sana. Dan apartemen ini adalah tempat terdekat dengannya.
Karena rasa penasarannya, Lucia membuka kamar milik Amelia. Mulutnya terbuka mendapati banyak foto pria itu, dimana-mana terpasang wajah Louis. Amelia benar-benar gila menurut Lucia, kepalanya dipenuhi dengan pria yang Lucia benci.
Sebelum Amelia kembali, Lucia turun ke lantai bawah dengan cepat. Tepat di sebelah gedung apartemen, ada klinik kesehatan. Cukup berjalan di bawah terik matahari, melewati taman rumput.
“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?”
“Oh, aku memiliki luka yang cukup dalam. Mungkin harus dijahit?”
Perawat bagian receptionist itu membuka perban Lucia. Dia mengangguk-angguk seolah mengerti. “Ini memang harus dijahit, lukanya cukup dalam. Silahkan isi ini.”
Lucia menerima selembar kertas identitas untuk diisinya, mengisikan sesuai fakta. Pasiennya tidak cukup banyak, Lucia hanya harus menunggu selama beberapa menit sebelum namanya dipanggil. Dia masuk ke ruangan bernuasa putih, Lucia tersenyum manis pada dokter yang mempersilahkannya.
Tidak sesuai fakta, Lucia mengatakan kalau luka itu didapatnya akibat terjatuh. Namun, dokter itu terlihat tahu apa yang terjadi meskipun dia hanya diam sambil tersenyum. Diam-diam lesung pipi kedua pria itu mengingatkannya pada Louisa, yang disalah artikan oleh pria itu.
Dokter Robert Baldwin yang tertera pada name tag nya. Pria itu terkekeh saat Lucia memejamkan mata ketika jarum menusuk kulit. “Ini tidak akan terasa sakit.”
“Ya, aku hanya tidak suka melihat darah.”
“Begitukah?” Robert terkekeh. “Lalu kenapa kau punya banyak luka di tubuhmu.”
“Ada alasan yang tidak harus kau dengar, Dokter.”
Nyatanya, kecantikan Lucia tidak hanya membius Louis, tapi juga Robert yang pertama kali bertemu dengannya. Pria berambut ikal berwarna pirang itu sesekali menatap wajah cantik Lucia yang terpejam memghindari rasa sakit. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya, apalagi ketika mengingat bagaimana Lucia menatap wajahnya.
“Sudah selesai.”
“Benarkah?” Lucia membuka mata, dia tersentak kaget menyadari Robert tepat di hadapannya, apalagi ketika pria itu mengulurkan tangan mengusap kening bagian kirinya.
“Apa kau terbentur sesuatu berulang-ulang? Ini lebam, dan lecet.”
“Aku hanya jatuh, ini akan sembuh.”
“Tidak.” Robert menahan lengannya berada di sana. “Aku akan mengompresnya agar tidak bengkak, sepertinya ini baru terjadi semalam.”
Dalam diam, Lucia tersenyum kecil melihat seseorang yang memperhatikan dan baik pada dirinya. Saat pria itu mengobati keningnya, Lucia merasa terharu.
“Gracias,” ucapnya diakhir pekerjaan Robert. “Berapa yang harus aku bayar?”
“Kau bisa membayarnya di depan sekalian mengambil obat.”
“Oh.” Lucia menatap Robert yang sibuk menulis lalu memberikan selembar kertas itu padanya. “Gracias.”
Ketika Lucia keluar, keningnya berkerut akibat Robert yang mengikuti. Ketika dia mengambil obat dan membayar, Robert bahkan berada di sampingnya, membuatnya tidak nyaman. Hal itu terjadi sampai Lucia keluar klinik. Ketika dia hendak menjauh, tangan Robert menahannya sesaat.
“Maaf, ini mungkin tidak sopan. Tapi, bolehkan aki menyimpan nomormu?”
Raut wajah penuh tanya Lucia membuat Robert melanjutkan, “Aku tahu ini terlalu awal, tapi aku rasa aku tertarik denganmu.”
Tentu saja itu membuat Lucia terkejut. “Denganku?”
“Ya, kau punya tubuh pendek, wajah imut seukuran telapak tangan, bulu mata yang lentik, hidung yang kecil dan bibir yang tipis. Kau bagaikan barbie dunia nyata, dan aku menyukainya.”
Kalimat itu membuat Lucia tidak dapat berkata-kata selain menggeleng kaku.
“Aku benar-benar minta maaf membuatmu tidak nyaman, tapi bisakah memberiku nomor ponsel saja?”
“Maaf, tapi aku tidak punya ponsel.”
Jawaban yang membuat Robert membuka mulutnya tidak percaya, keningnya berkerut. “Tidak, aku tidak punya.”
“Dimana kau tinggal?”
“Aku pelayan Nona Amelia di apartemennya. Permisi.”
“Kalau begitu.” Robert kembali menahan tangan Lucia. “Bisakah kita bertemu lagi?”
“Ya, mungkin lain kali.” Lucia segera meninggalkan tempat itu.
Tanpa disadarinya, seorang wanita mengikutinya sejak keluar dari apartemen. Wanita itu masuk ke dalam klinik tanpa diketahui Lucia dan mendengar semuanya. Tugasnya kini adalah melaporkan.
“Hallo, Nona Amelia?”
‘Apa dia keluar?’
“Tepat seperti dugaanmu. Dan tebak apa? Dokter Robert menyukainya, mungkin kau akan menjadikannya sesuatu.”
Di sisi lain, Amelia yang sedang berendam dalam lumpur tersenyum miring. ‘Akan aku buat Louis sendiri yang menghancurkannya.’
***
“Makanan yang kau sajikan tidak terlalu enak.”
“Maaf, Señorita.” Lucia yang berada di belakang Amelia menunduk, memilih membenarkan semua perkataan wanita itu daripada dirinya yang terkena masalah.
Satu jam lamanya Amelia berada di ruang makan, dia hanya memainkan makanan itu. Dan membuat kakinya kram akibat berdiri terlalu lama. Mata yang dilapisi softlens hitam itu menatap pada Lucia, mengisyaratkan padanya untuk berpindah tempat berdiri di hadapannya.
“Kau tahu, aku bisa memberimu sejumlah uang yang banyak. Asal kau turuti permintaanku.”
“Aku harap itu tidak terlalu sulit, Señorita.”
Ketika Amelia mendapatkan notifikasi pesan, wajahnya berubah menjadi gembira seketika. Dia berdiri dan menarik Lucia menuju kamar Amelia dan memaksanya duduk di ranjang, sementara wanita berambut orange itu memilih pakaian dari lemarinya.
“Pakai ini.” Melemparkan gaun makan malam berwarna cokelat tua yang sangat indah. Ketika Lucia hanya diam, segera Amelia membentaknya. “Pakai itu!”
“Sí, Señorita.”
“Hei, kau mau kemana?”
“Ke kamar mandi.” Tunjuknya pada pintu.
Hal yang membuat Amelia menatap tidak percaya, dia datang mendekat lalu menampar pelan Lucia. Namun, mengingat Lucia memiliki luka di kepala, itu membuatnya sakit. “Kau hanya seorang sampah, ganti saja di sini. Lagipula aku tidak sudi melihat tubuh menjijikanmu.”
“Sí, Señorita.”
Amelia berbalik untuk memilih hiasan rambut dari laci kosmetik sementara Lucia mengganti pakaiannya. Pilihannya jatuh pada bandana yang dipenuhi swarovski.
Bibir Amelia berdecak ketika melihat Lucia yang memakai gaun cokelat selutut bertangan pendek. “Sial, wajah cantikmu membuatmu tampak berkelas. Duduk di sini.”
Dengan mencoba tenang dan tidak menampilkan emosi apapun, Lucia menurut. Dia membiarkan Amelia merapikan rambutnya. Wanita itu mengeritingnya. Dan Lucia hanya menunduk berharap apa yanh direncanakan Amelia tidak akan membahayakan dirinya.
“Malam ini kau akan berkencan dengan dokter Robert.”
Lucia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
“Kalian akan makan malam di sini, setelahnya dokter Robert akan keluar bersamamu.”
“Tapi, Señorita.”
“Aku akan memberimu ribuan dollar jika kau melakukannya.”
Lucia menggeleng. “Aku tidak mau.”
“Kau akan mau!”
“Aaaa!” Lucia merasakan sakit saat kepalanya dijambak. “Señorita.”
“Dia hanya akan mengajakmu ke taman, sialan! Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.”
“Aw.” Lucia memegang kepalanya yang terkantuk meja rias. Dari cermin, Lucia menatap Amelia yang tersenyum manis dan membereskan kembali rambutnya.
Lucia bukanlah wanita kuat, dia tidak memiliki keberanian cukup untuk melawan. Tentang Louis, Lucia pernah diinjak oleh pria itu, dan dia tidak akan membiarkannya lagi. Jikapun Lucia menerima tawaran itu, dia tahu akhir cerita dirinya akan tersakiti. Hati tidak bisa berbohong, nyatanya dia masih memiliki rasa pada pria itu. Louis hanya menginginkan tubuhnya, karena wajahnya yang mirip Penelope.
Awal akhir dia akan merasa bosan, membuangnya dan membuat Lucia kembali tersakiti lagi. Jatuh cinta tidak bisa diprediksi. Jika boleh, Lucia memilih meminta pada Tuhan untuk membuatnya jatuh cinta pada Robert, bukan Louis. Nyatanya, sampai sekarang dia masih bertahan pada perasaan itu, pada Louis yang hanya ingin menyakitinya secara bathin.
“Selamat datang, dokter Robert.” Amelia menyambutnya dengan antusias, dia mempersilahkan pria itu duduk di meja makan, tepat di depan Lucia yang sudah rapi.
“Hai,” sapanya pada Lucia.
“Hallo.”
“Sebenarnya, Robert, Lucia ini temanku yang membantuku di apartemen.”
“Begitukah? Aku tidak tahu kau punya teman secantik dia.”
Pujian yang tulus tidak membuat hati Lucia tersenyum senang. Hatinya lebih berdebar ketika mendengar Louis yang menyebutnya cantik.
“Apa kalian akan makan malam di sini?” Tanya Amelia.
“Jika boleh, aku ingin membawa temanmu ke luar, makan malam di luar.”
“Begitukah?” Amelia menatap jam di tangannya. Ketika dia mendengar suara pintu utama apartemen, Amelia tersenyum senang dan berlari menyambut kedatangan tamu lain.
Lucia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Berbeda dengan pria bermanik hitam yang menatap heran pada Robert.
“Ini dokter Robert, dia akn mengajak Lucia berkencan.”
Louis hanya menjabat tangannya, tanpa berkata apapun, fokusnya lebih banyak pada Lucia yang hanya bisa menunduk.
“Pergilah, kalian bersenang-senanglah.”
“Thanks, Amelia.”
Saat Lucia melewati Louis, pria itu menyentuh perut datarnya, membuat Lucia merinding, merasakan sensasi aneh bersamaan. Selama pikirannya terfokus pada Louis, Lucia hanya mengikuti langkah Robert. Begitupun saat mereka berada dalam mobil, Lucia lebih banyak diam. Dia mengutuk dirinya sendiri yang memilih jalan ini, tidak ada bedanya dengan menerima Louis.
“Kau mau kemana?”
“Ya?”
“Kau mau makan malam di mana?”
“Sebenarnya…. Aku sudah kenyang.”
Kalimat yang membuat Robert mengangkat alisnya bingung. Dia menatap lengan Lucia sesaat. “Bagaimana lukamu?”
“Lebih baik, terima kasih.”
“Pakailah ini.” Memberikan sebuah papper bag dari bangku belakang. “Ini jaket baru, bisa menutupi lukamu jika kau ingin.”
“Terima kasih, Robert.”
Malam itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan di kota Madrid. Membeli makanan di pinggir jalan dan bermain-main dengan banyak permaianan di taman hiburan. Namun, hal itu tidak membuat Lucia senang, dia lebih banyak melamun mengingat Louisa.
Tanpa disadari keduanya, seorang wanita mengikuti dan mengambil foto-foto keduanya untuk dikirim pada Amelia.
***
“Apa kau tidak lihat bagaimana mereka bersama, Louis?”
‘Hentikan ini, aku harus istirahat.’
Amelia mengerucutkan bibir, dia duduk di atas kasur. “Kau harus mengusirnya, wanita itu berduaan dengan dokter, usir dia dari mansionmu.”
‘Cukup, Amelia.’
Suara telpon terputus membuat Amelia kesal setengah mati, dia melempar bantal di sekitarnya sambil berteriak menahan kesal. Keputusan Louis tidak berubah, bahkan pria itu meminta Lucia kembali minggu depan. Amelia ingin menyingkirkannya. Dia sudah mengirimkan foto-foto kencan Lucia begitu banyak, yang menurutnya cukup romantis yang seharusnya bisa membuat Louis kesal. Nyatanya pria itu tidak terganggu.
Setahu Amelia, seorang pelayan yang membuat kesalahan besar seperti berhubungan dengan orang lain di dalam tanggung jawabnya membayat utang, akan membuat Louis marah dan mengusirnya untuk pergi ke villa.
Hingga suatu ide menempel pada otak Amelia. Dia menghubungi seseorang. “Holla, Mr.Rogers?”
‘Hallo, Nona Amelia, kenapa kau menelpon malam-malam begini?’
“Begini.” Amelia berdehem. “Aku dengar kau ulang tahun kemarin lusa, dan aku punya sesuatu untukmu.”
Pria yang menelpon itu tertawa, yang diyakini Amelia tawa pria itu membuat perut buncitnya naik turun. ‘Apa dia cantik sepertimu?’
“Oh, dia lebih cantik dariku. Datanglah satu jam lagi.”
‘Aku akan datang, dengan akta tanah yang mungkin membuatmu senang.’
Amelia tertawa anggun, menutup mulutnya dengan suara kecil. “Ya, kau sangat tahu aku butuh itu untuk membangun spa baru.”
‘Sampai jumpa sebentar lagi.’
“Oh, ya.” Amelia menahan untuk tidak menutup telpon. “Jangan lupa ajak temanmu.”
Pria itu kembali dibuat tertawa oleh Amelia. ‘Oke, Nona Amelia,’ ucapnya sebelum menutup telpon.
Amelia yang senang segera menghubungi Louis lagi. Panggilan pertama dimatikan oleh pria itu, hingga panggilan ketiga akhirnya terangkat. “Aku akan menunjukan sesuatu yang pasti membuatmu senang. Bye.”
Satu kalimat yang perlu disampaikannya sebelum memutuskan sambungan. Amelia turun dari ranjang, dia berjalan tergesa-gesa menuju kamar Lucia. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, dan Lucia sudah tidur. Amelia menyesal dia tidak memberi siksaan, pikirnya kencan Lucia bersama Robert kemarin malam akan membuat Louis kesal.
“Lucia, bangunlah.” Amelia menendang kaki Lucia berulang kali hingga akhirnya perempuan itu mengucek mata dan terjaga. “Bangun aku bilang.”
“Señorita? Ada apa?”
“Bangun,” ucapnya penuh penekanan hingga akhirnya Lucia berdiri dengan kantuk yang masih menyelimuti.
“Ada apa, Nona?”
“Ikut aku ke kamarku.”
Lucia mengikuti langkah wanita itu. Seperti de javu, dirinya diam melihat Amelia yang memilih pakaian dari lemari, sebelum akhirnya berkata, “Pakai ini.” Memberikannya pada Lucia.
Tentu saja itu membuat pemilik manik biru itu menggeleng. “Kenapa aku harus memakai ini?”
“Baju tidur jelekmu membuat mataku sakit, pakai ini.”
Lucia menggeleng, yang segera diberi tamparan oleh Amelia. Tidak kuat memang, tapi membuat Lucia kembali merasakan sesak di dada. “Señorita.”
“Pakai ini, ini hanya pakaian tidur biasa.”
Lucia mengambil pakaian itu, sebuah lingerie ungu dengan jubah kebesaran jika dipakai Lucia. Jika saja tidak ada jubah itu, Lucia takkan mau memakai pakaian yang memperlihatkan perut datarnya. “Kenapa aku harus memakai ini?”
“Aku kasihan padamu, ini musim panas dan itu cocok untukmu.”
Kening Lucia berkerut ketika Amelia mengamati wajahnya. “Boleh aku kembali ke kamarku, Señorita?”
“Wajahmu mulus, kau tidak perlu make-up.”
“Apa?”
“Oke sekarang keluar.” Amelia menarik Lucia keluar kamarnya. “Dan duduk di sini.”
Terpaksa pemilik rambut bergelombang itu duduk di sofa, keningnya berkerut jelas melihat Amelia yang merapikan apartemen. Dia terlihat sibuk dan terburu-buru.
“Haruskah aku membantumu, Señorita?”
“Tidak!” Teriakan itu menahan Lucia untuk beranjak dari duduknya, dia memilih duduk dan mengeratkan jubah yang membungkus tubuhnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Amelia dengan wajah cerianya datang ke sana, tatapannya mengisyaratkan agar Lucia tetap diam di tempat. Pikir Lucia, itu adalah Louis yang berkunjung. Nyatanya itu adalah dua pria berperut buncit, salah satunya tidak memiliki rambut, satunya lagi dipenuhi ranbut sampai bibirnya tidak nampak.
“Silahkan masuk, Tuan-Tuan.”
Lucia kembali diberi tatapan tajam saat hendak berdiri, dia diam dengan dua pria itu yang juga duduk di sofa. Rasanya tidak nyaman mendapat pelecehan dari tatapan kedua pria itu, Lucia berdehem dan berdiri. “Aku akan membuatkan minum, Señorita.”
“Tidak, tidak.” Amelia mengambil tasnya yang ada di nakas. “Terserah mereka berdua, patuhi mereka oke?”
“Kemana kau akan pergi?”
“Aku?” Amelia kesulitan memakai sepatunya. “Aku akan keluar sebentar. Kau layani mereka.”
“Apa?”
Suara pintu tertutup membuat pria yang botak menarik lengannya untuk kembali duduk, yang tentu saja Lucia tepis dengan kasar. “Apa yang kau lakukan, Tuan?!”
“Beraninya kau membentak, kau hanya akan melayani kami,” ucap yang lainnya ikut memegang tangan Lucia.
Tahu kedua pria itu tidak berniat baik, Lucia meronta kuat hingga dia akhirnya terlepas. “Jangan dekati aku!” Lucia melemparkan benda yang ada di sekitarnya.
“Ayolah, Sayang, berhenti bermain-main, kau mau apa? Mandi alkohol?”
“Pergi kau, Sialan!” Lucia melemparkan garpu dan sendok.
“Ayo, Manis, ini takkan lama, kami hanya punya waktu sampai dini hari. Ayo kita lihat seberapa kuat dirimu.”
“Pergi atau aku melapor pada polisi.”
Pria berkepala botak tertawa sambil mengangkat bahu. “Lakukan, dan aku akan baik-baik saja.”
Yang satunya lagi mengangguk setuju. “Kami adalah polisi, Sayangku.”
“Jangan mendekat!” Lucia tetap melemparkan benda di sekitarnya, hingga ketika dia melempar pisau, benda itu menyerepet wajah pria botak hingga berdarah.
Dia menggeram marah sambil menatap Lucia. “Tangkap wanita itu!”
“Aaaaaa!”
“Berhenti bermain-main, kau memang diciptakan untuk ini,” ucap pria yang dipenuhi janggut ketika dia berhasil menahan Lucia, mendekap leher perempuan itu dari belakang. “Diam!”
“Lepaskan aku, bajingan!”
“Bagus, Saudaraku, ayo kita bawa dia ke tempat tidur.”
“Aaaa!”
Lucia menjerit, berteriak dan meronta ketika kedua pria itu menggendongnya menuju kamar Amelia. Tenaganya jauh lebih kecil. Lucia dilempar begitu saja ke tengah ranjang. Belum sempat dia melarikan diri, pria berambut menahan kedua tangannya.
“Ayo buka pakaiannya.”
Pria botak itu menurut, dia bersusah payah membuka jubah Lucia.
“Aaaaa! Lepaskan aku, bajingan!”
Namun, sebelum pakaian itu benar-benar terlepas, Lucia mendengar suara pintu kamar terbuka paksa lalu disusul oleh suara tembakan.
“Aaaa!” Pria berkepala botak berteriak ketika sebuah peluru menembus kaki kanannya, dia jatuh ke bawah ranjang. Setelahnya teriakan kesakitan itu di susul oleh pria satunya, dia ditembak di tempat yang sama, juga terjatuh ke bawah ranjang.
Tubuh Lucia bergetar, dia memeluk dirinya sendiri dengan perlahan bangkit duduk.
“Kau sia--Aaa!” Pria berkepala botak kembali mendapat tembakan di kaki lainnya, membuatnya berteriak lebih keras.
Lucia menatap pria yang melakukannya, pemilik manik hitam yang dibalut kaos hitam itu memegang pistol menggunakan tangan kirinya. Peluru keempat kembali keluar untuk pria yang dipenuhi rambut, ruangan itu dipenuhi oleh rintihan kesakitan kedua pria itu.
Dan Lucia, tubuhnya bergetar ketakutan. Bukan karena tembakan, melainkan apa yang akan terjadi padanya jika pria bermata hitam itu tidak datang.
Tangan kanan Louis merentang, seolah menyajikan ruang untuk Lucia. “Kemarilah.”
Perempuan itu mendekat dengan air mata berurai, dia memeluk Louis penuh ketakutan. Sebagai penenang, Louis mendekap Lucia dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih memegang senjata api, mengarahkannya pada pria berkepala botak yang belum juga kehilangan kesadaran.
“Señor Louis, ternyata benar… kau…. kau pemimpin kartel pembunuh itu,” ucap pria berkepala botak disela-sela rasa sakitnya.
Louis menyeringai. “Kau akan membawa fakta itu ke neraka.”
“Aaaa.” Lucia menjerit ketika mendengar suara tembakan kelima. Tubuhnya bergetar ketakutan, dia memeluk tubuh tegap Louis kencang, menyembunyikan kepalanya di dada bidang pria itu.
Dan Lucia mulai rileks saat Louis mengelus rambutnya perlahan. “Tenanglah, kau bersamaku sekarang.”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Misdina Ningsie Panggabean
wanita yang malang😭😭
2024-05-25
0
^__daena__^
😱😱😱jadi gemazzzz sama kalian ber2
2023-10-25
1
Diana diana
nokomen ach . . fokus
2023-05-20
0