Vote sebelum membaca😘
.
.
.
Dengan tertatih-tatih, Lucia dibantu Naomi keluar dari ruang bawah tanah menuju kamarnya. Tangannya bergetar menahan rasa sakit, tubuhnya tidak sesempurna sebelumnya. Terdapat banyak luka lebam, sayatan dan juga goresan.
Salma dan Monica dengan bangganya menyilangkan tangan, menatap Lucia yang terlihat begitu hancur. Tanpa rasa kasihan, Salma bahkan mendorong kepala Lucia ketika mereka melewatinya. Membuat Monica tertawa kencang.
“Aku sangat suka dia menderita.”
“Ya.” Salma setuju. “Aku iri dengan wajahnya yang cantik, jika saja Señorita membunuhnya, aku pasti akan senang.”
“Aku iri dengan kulitnya yang halus, andai kita menyayatnya lebih dalam.”
Naomi mencoba menenangkan Lucia yang bergetar menangis, dia membawa menuju kamar Lucia. “Kita harus bersihkan dulu lukamu,” ucap Naomi menahan Lucia untuk berbaring.
Dengan hati-hati, Lucia membuka pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam. Naomi tidak membuatnya malu, dia ingin ditolong olehnya. Ketika Naomi pergi ke kamar mandi untuk mengambil air, Lucia menengok tepat ke arah cermin. Dirinya sungguh mengerikan, matanya bengkak, rambutnya menutupi sebagian wajah, darah melumuri tangan.
“Aku akan membersihkannya,” ucap Naomi menatap luka sayatan dalam di tangan Lucia.
“Aku tidak ingin melihatnya.”
Pernyataan itu membuat Naomi mengerutkan kening, yang segera Lucia lanjutkan, “Aku akan memejamkan mata selama kau mengobati.”
“Pakailah ini.” Naomi mengambil sesuatu dari laci yang terdapat di meja rias, itu adalah penutup mata yang Lucia terima. Dia tidak terlalu suka melihat luka, rasanya ngilu dan takut di saat yang bersamaan, penyeban dirinya tidak mencantumkan profesi dokter dalam list masa depannya.
Ketika lap menyentuh luka, Lucia berdesis menahan rasa perih. Air jeruk itu masih terasa, bagaimana mereka menyerap ke dalam luka tanpa permisi. Wajah Lucia berpaling dari arah luka.
“Tahan sebentar, ini pasti sakit,” ucap Naomi membersihkan dengan perlahan. “Kau pasti sangat ketakutan.”
“Ya, mereka sangat kejam.”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Lucia?”
Bibir tipis itu bungkam, memilih diam dalam kesedihan. Dia tidak seharusnya mengalami ini, seharusnya dia tenang hidup bersama Louisa.
“Aku yakin itu semua akan segera berakhir,” ucap Naomi memperlihatkan keprihatinannya. Kesedihan Lucia seakan menyalur pada dirinya. Bagaimana air mata itu menetes, Naomi melihat Lucia menangis dalam diamnya. “Tenanglah, Lucia, semuanya akan baik-baik saja. Tuhan bersama orang-orang yang baik.”
Lucia mengangguk dalam tangisa. “Aku tahu.”
Harga dirinya mungkin tidak lagi berharga, kata-kata yang diucapkan Amelia menginjak hidupnya, layaknya sampah dan kotoran. Lucia mencoba melihat sisi baiknya, dia masih hidup, dia masih bernapas untuk pulang pada Louisa, untuk memberi kebahagiaan bagi putrinya.
Asam manis pahit kehidupan telah Lucia lalui, kebanyakan dia memakan kata-kata pahit yang mereka lontarkan. Sejak kecil, Lucia harus menghidupi dirinya sendiri dan neneknya. Sekolahnya terputus begitu sang nenek sakit-sakitan, di usinyan yang baru menginjak sepuluh tahun, dia harus bekerja di sebuah toko material. Wajah penuh kotoran adalah hal biasa baginya, Lucia kecil selalu pulang larut malam demi bisa makan sepotong roti.
Dia tidak ingin hal itu terjadi pada Louisa. Andai kata dia meninggal, dan Louis tidak menginginkannya, Louisa akan terlantar. Kejamnya hidup pernah di tanggung oleh Lucia, dia tidak ingin putrinya mengalami hal yang sama.
Setiap tahunnya, tepat di hari ulang tahunnya, Lucia terbiasa dengan diam menghadap jendela, dan memohon pada Tuhan untuk memberinya kebahagiaan. Butuh waktu lama untuk Lucia bisa merasakannya sampai dia memiliki Louisa, tapi kini kebahagiaan itu diambil kembali oleh Tuhan, dia seolah butuh bukti lebih banyak lagi kalau Lucia adalah manusia yang kuat.
“Aku akan mengambil perban, berbaringlah, tenangkan dirimu.”
Lucia melakukannya, membiarkan Naomi menyelimutinya sampai batas pinggang. Tubuhnya memunggungi pintu, penutup mata tetap menyembunyikan manik yang mengeluarkan air mata. Menangisi kemalangan yang menimpanya, kemalangan yang menimpa Louisa yang memiliki ibu seperti dirinya.
Seseorang masuk kembali ke kamar, Lucia mendengar seseorang itu mengunci pintu lalu duduk di belakangnya. Membiarkan seseorang yang dipikirnya Naomi untuk memperban luka sayatan di tangannya. Nyatanya, itu adalah pria bermanik hitam. Dengan wajahnya yang datar, tanpa emosi, dia perlahan menutupi luka itu.
“Terima kasih, Naomi, aku harap Tuhan membalas kebaikanmu.”
Tidak ada jawaban, Louis tahu diam adalah cara terbaik dia tetap berada di sana.
Hal itu membuat Lucia melanjutkan. “Aku harap kau punya hidup yang lebih baik dariku, Naomi. Dan juga berhati-hatilah dengan manusia, mereka lebih menakutkan daripada hantu, mereka bisa menyakitimu, menginjak harga dirimu hingga benar-benar tiada.”
Louis dengan lihai, memperban luka itu dengan rapi. Mata hitamnya beralih pada dada Lucia yang kotor. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi dia mengambil handuk basah dan membersihkannya. Tidak ada nafsu dalam manik itu, hanya ada tatapan sulit dimaknai.
“Aku harap aku bisa cepat keluar dari tempat ini, kebebasan adalah yang aku inginkan,” ucap Lucia dengan lemah sebelum akhirnya dia benar-benar terlelap.
Louis yang telah membersihkan tubuh Lucia membuka penutup mata, memperlihatkan langit biru yang tengah hilang. Lucia terlihat pulas, tapi tidak tenang bahkan dalam tidurnya.
Selama beberapa menit manik hitam itu terus menatap, melihat kegelisahan di sana. Lucia mengerutkan kening, bibirnya bergumam kecil, membuat ibu jari Louis mengusapnya pelan. “Tenanglah, Michelle, kau yang memilih jalan ini.”
Louis menyelimutinya sampai batas leher. “Kau yang memilih untuk diijak, bukan dipuja,” ucap Louis menyingkirkan rambut yang basah akibat keringat. Dalam tidurnya, Lucia tetap cantik.
Hingga suara pintu dipaksa terbuka menghentikan fokusnya, Louis berdiri dan membuka kunci. Naomi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia menunduk seketika. “Maaf, Señor.”
“Dia tengah tertidur, tinggalkan, biarkan dia istirahat.”
“Sí, Señor.”
***
Manik biru itu perlahan membuka matanya, rasa sakit masih menghiasi tubuhnya, tapi rasa lapar mengalahkan. Lucia ingin hidup, dia berusaha duduk dan menatap jam yang menunjukan pukul dua dini hari. Tidak ada apapun di kamarnya selain air putih, memaksanya untuk melangkah tertatih menuju dapur untuk mengambil setidaknya sepotong roti.
Mencoba menahan rasa sakit, Lucia terus melangkah hingga terhenti ketika menangkap sosok yang mengerikan tengah bersama tuannya. Di sana, Amelia dan Louis tengah berciuman di sofa dengan posisi wanita yang ada di pangkuannya. Rasanya sesak melihat hal itu, tanpa Lucia sadari air matanya jatuh mentes. Pria yang menghamilinya, lebih sialnya pria yang dicintainya itu bermain bersama wanita lain sedangkan anaknya menanti kedatangannya. Pedih, Lucia mencoba menghilangkan perasaan itu dengan memukul-mukul dadanya.
Bagaimana tangan itu memeluk pinggang Amelia, saling berpangutan menyalurkan napsu masing-masing. Sedangkan Louisa selalu menanti-nanti kedatangannya dengan segudang pertanyaan ; Apa yang daddy sukai? Apa warna mata daddy? Apakah dia akan bangga jika Lee bisa bermain piano sepertinya? Apa daddy tampan? Apa daddy begitu baik sampai mun menyukainya?
Faktanya, Louis begitu kejam menanamkan rasa cinta di hati Lucia begitu dalam. Padahal, tidak ada satupun kebaikan hatinya. Seharusnya Lucia membenci, tapi Tuhan mempermainkan perasaannya. Tidak dapat dipungkiri, sampai saat ini perasaan itu masih ada, menggembor ingin keluar dan mengatakan pada dunia bahwa dialah yang hak atas Louis, karena dia yang memiliki buah hatinya. Namun, apakah pantas Louisa disebut buah hati Louis? Sedangkan pria itu mungkin saja tidak ingin memilikinya.
Tidak ingin rasa sakit di hatinya meluluhkan seluruh syaraf, Lucia mundur perlahan dan masuk kembali dalam kegelapan. Sayang, takdir selalu berkata lain, tanpa kesengajaan dia kenyenggol guci yang menyebabkannya pecah, dan mengambil perhatian Amelia.
Wanita itu mendekati sumber suara dengan tongkat di tangannya, matanya melebar saat melihat Lucia tengah membereskan pecahan kaca itu.
“Kau lagi, dasar sialan!”
“Aaaaa!” Lucia menjerit saat Amelia memukulinya dengan tongkat. “Ampun, Señorita, aku hanya ingin sepotong roti.”
Mendengar keributan itu, Louis berdiri dengan tangan masuk ke dalam saku. Seperti biasa, dia memilih menjadi penonton di sana.
“Sepotong roti? Mendapat pengampunan saja sudah sangat mengenyangkan untukmu.”
“Ampun, Señorita, aku hanya ingin makan supaya bisa bekerja kembali dengan baik.”
“Tidak ada pekerjaan yang baik jika olehmu,” tekannya mendorong kepala Lucia dengan tongkat. “Kau itu pembawa sial, kau tahu?”
“Maaf, Señorita.”
“Kau juga beraninya menghancurkan kebersamaanku bersama Louis, dasar sialan.” Tangannya tidak berhenti mendorong kepala Lucia dengan tongkat, membuat perempuan bermata biru itu menggigit bibir bawah dalam menahan tangisan. “Aku tahu kau begitu bodoh karena tidak berpendidikan.”
“Maafkan aku, Señorita, aku hanya orang bodoh yang ingin makan.”
“Begitukah?” Amelia melangkah menuju dapur, dia membawa satu bungkus roti tawar.
Sementara Lucia tetap menunduk sambil memunguti pecahan kaca ketika mengenal suara sepatu melangkah lebih dekat, membiarkan sepasang manik hitam menatap kehancuran harga dirinya.
Amelia berdiri di samping Louis yang menatap datar. Tanpa belas kasihan, dia melemparkan satu lapis roti ke atas pecahan kaca sambil tertawa. “Disinilah kita akan belajar bagaimana pendidikan itu menjadi perbedaan tingkat diantara kita, bagaimana harta menunjukan siapa yang berada di atas dan di bawah.”
Lucia tidak berkata apapun, dia mengambil selembar roti itu, membersihkannya dari potongan kaca kecil sebelum melahapnya seperti orang kelaparan. Hal yang membuat Amelia semakin semangat melemparinya roti. “Dan kau tahu, Lucia? Berapapun jumlah anakmu kelak, dia tidak akan mengangkat derajatmu yang rendah.”
Lucia tetap diam, dia memakan roti itu dengan bisu air mata yang menetes. Tangannya mengambil roti yang dilemparkan dan memakannya tidak kalah lahap, yang Lucia inginkan saat ini adalah bertahan hidup demi anaknya, supaya dia bisa pulang memberinya pelukan.
“Lihat? Kau tampak seperti binatang yang menjijikan.”
Amelia melemparkan roti ketiga di kepala Lucia. “Dan biar aku ajari sesuatu, anak orang hebat, akan menjadi orang hebat. Anak budak, akan menjadi budak. Jika kau memiliki anak kelak, dia tidak akan jauh dengan nasibmu. Jadi, jangan repot-repot menikah.”
Tidak tahan dengan kalimat itu, Lucia membalas tatapan Amelia dengan tajam. Membuat wanita itu kesal dan melemparkan roti tepat di wajahnya. “Sialan! Beraninya kau menatapku dengan mata budakmu?”
“Tidak ada yang dilahirkan sebagai budak, Señorita. Kita semua sama. Jika kau pikir kau lebih baik daripada aku, itu tidak benar. Tuhan menilai seseorang dari hatinya, bukan harta dan kedudukannya.”
Amelia tertawa hambar, dia mendekat dengan susah payah lalu memukul kepala Lucia dengan tongkat. “Beraninya kau bicara seperti itu? Aku sedang mengajarimu.”
“Cukup, Amelia.”
“Louis!”
“Pergi ke kamarmu.”
“Louis!”
Ketika mendapat tatapan tajam dari manik hitam itu, Amelia tidak dapat berkata-kata. Dia menatap Lucia sebelum pergi. “Jika kau berani menyentuhnya, aku akan menenggelamkanmu dalam tanah.”
Dengan kesulitan Amelia menaiki tangga. Louis masih enggan bicara sebelum dia mendengar Amelia masuk ke dalan kamar dan menutup pintunya. Setelah suara itu timbul, Louis melangkah ke arah dapur, mengambil keranjang kecil yang dia isi dengan roti besar, buah-buahan, susu dalam kotak besar dan juga selai cokelat.
Kaki Louis menyingkirkan semua pecahan kaca kecil di depan Lucia dengan menggunakan kaki, setelahnya dia berjongkok di sana. “Makan ini.”
“Pemberian Nona Amelia lebih dari cukup, Señor.”
Lucia memejamkan mata mengira, Louis akan menamparnya. Nyatanya, pria itu malah membelai pipinya dan memegang dagu mengarahkan pandangan untuk beradu. Louis mengambil roti tawar di tangan Lucia tanpa memutuskan tatapan. “Makan ini, Lucia.”
Seakan terhipnotis, Lucia mengambil roti besar. Menyobeknya sebelum menyelupkannya pada selai cokelat. Rasanya begitu nikmat, membuat Lucia lahap dan terfokus pada makanannya. Tidak menyadari Louis yang sudah mengelus kepalanya pelan.
“Kau bisa membawa sisanya ke kamarmu, Lucia, itu milikmu?”
“Sí?” Perempuan itu memastikan.
Jemari Louis turun ke leher Lucia, mata hitamnya terfokus di sana. Leher yang putih dan jenjang, menggirkan bagi pria yang melihatnya. “Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan, rumah, mobil, bahkan kau bisa mengembalikan kulitmu yang halus itu.”
Lucia menyimpan roti yang dipegangnya ketika Louis menyentuh lukanya yang diperban. “Aku yakin ada harga untuk semua itu, Señor.”
“Aku mengingatkanmu akan penawaran yang sama.”
Belas kasihan yang kini berubah menjadi injakan bagi Lucia. Perempuan itu menggeleng sambil tersenyum pedih. “Kau tidak akan mendapatkannya.”
“Dan kau memilih hidup diinjak-injak oleh manusia itu? Diperlakukan layaknya binatang?”
“Harga diriku mungkin rendah, Señor Louis, tapi aku takkan kehilangannya.”
Louis tersenyum miring. “Kau keras kepala.”
“Kau bisa mencari wanita lain untuk menghangatkan ranjangmu. Tapi jangan aku.”
Tangan Louis menahan wajah Lucia yang hendak berpaling, dia mencengkram erat dagu perempuan itu, menatapnya tajam layaknya elang menemukan mangsa. “Kau kehabisan pilihan. Sebaiknya kau ambil peluang itu sebelum Amelia menghancurkan wajah cantikmu.”
Sesak mengingat kembali Louis menginginkannya karena wajah ini. Lucia berpaing kuat, hingga cengkraman itu lepas. “Tidak, aku takkan kehilangan harga diriku, Señor.”
“Wanita bodoh,” desis Louis berdiri, dia menendang keranjang itu pelan hingga isinya berantakan. Dan meninggalkan Lucia seorang diri dengan tangisannya.
Perempuan itu menyeka air matanya kasar, dengan segera dia mengambil buah-buahan itu dan memasukannya lagi ke dalam keranjang. Air mata tidak berhenti menetes. Hidupnya hancur, terkadang Lucia bertanya-tanya kutukan apa yang dilontarkan untuknya.
“Lucia?”
“Andrean?” Dia menyeka air mata ketika melihat seorang pria datang dari balik kegelapan. Wajah tuanya terlihat sayu, mendalami kesedihan yang sama dengannya.
“Pergilah menelpon Louisa, aku akan membereskannya.”
Seketika wajah itu berbinar, dengan tenaga penuh dia mencoba berdiri.
“Dan kau tidak usah bekerja esok, aku akan membiarkanmy istirahat.”
“Gracias, Andrean.”
Mata tua Andrean melihat bagaimana secercah cahaya bersinar di mata Lucia ketika menelpon buah hatinya, bagaimana dia akhirnya melihat tangisan bahagia di pipi Lucia. Tubuhnya yang mengenaskan penuh kesakitan seakan sirna oleh suara malaikat kecilnya.
Andrean bertanya-tanya, “Haruskah aku memberitahukan keberadaan putrimu pada Señor Louis? Mungkin reaksinya akan berbanding terbalik dengan pikiranmu, Lucia, mungkin dia akan memeluknya, bukan berpaling darinya.”
***
Cahaya matahari bahkan belum menerobos masuk pada gorden, tapi suara gedoran pintu berhasil membuat Louis marah. Dia bangkir dari tidurnya, dengan wajah datar dan penuh emosi dia membuka pintu.
“Holla, Baby.” Amelia merentangkan tangannya berniat memeluk Louis yang telanjang dada, tapi pria itu menahannya.
“Aku sudah katakan padamu, tinggalkan tempat ini sebelum aku terbagun.”
“Tapi aku tidak mendengar,” ucap Amelia masuk begitu saja ke dalam kamar Louis, dia duduk di sofa dengan pakaian terbukanya. “Kau tahu, Louis, jika ayahku bukanlah mentri pertahanan, kau tidak akan bisa tahu dimana orang-orang itu mengincarmu.”
“Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Amelia, uang, kekayaan.”
“Dan perlu diingatkan, aku juga pengusaha bijih besi untuk keperluanmu.”
“Kita imbang, mendapatkan apa yang diinginkan. Sekarang keluar.”
Amelia mengerucutkan bibir, dia menyilangkan tangan di dada. “Aku menginginkanmu, jika kau menikah denganku akan aku curi komputer ayahku.”
Kalimat yang membuat Louis tertawa, pria itu memilih meninggalkan Amelia ke kamar mandi. Seperti dugaan, Amelia mengikutinya dan memeluknya dari belakang. Louis melihat pantulannya dari cermin, dia geram dengan tingkah wanita itu. “Pergi dari rumahku, Amelia.”
“Aku ingin menikah denganmu, Louis.”
“Keluar dari sini.”
Amelia menggeleng, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Louis. “Aku ingin bersamamu.”
“Keluar sebelum aku benar-benar marah.”
Tangan itu terlepas, Amelia memajukan bibirnya menahan rasa kesal. Dia bersandar pada dinding menatap Louis yang sedang menggosok gigi. Dia ingin memastikan sesuatu, maka dari itu Amelia berkata, “Aku akan membawa Lucia ke apartemenku.”
Kalimatnya berhasil menghentikan gerakan Louis, membuat Amelia tersenyum puas dalam hatinya. Tidak dipungkiri, Louis juga tertarik dengan perempuan itu, dan Amelia akan menyingkirkannya perlahan tanpa sepengetahuan Louis. Atau mungkin lebih bagus, membuat Louis membencinya.
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin tahu bagaimana cara kerjanya, kau tentu mengizinkannya ‘kan?”
Louis berkumur, dia menatap Amelia lewat cermin meminta maksud dari perkataannya.
“Kau tidak menyukai wanita rendahan sepertinya ‘kan, Louis?”
“Perhatikan ucapanmu.” Louis mencengkram dagu Amelia. Hal itu tidak membuatnya takut.
Amelia malah tersenyum. “Kalau begitu izinkan aku membawanya.”
“Lakukan apapun yang kau inginkan, asal jangan ganggu aku.” Dengan kasar dia melempar Amelia keluar dari kamar mandi.
Wanita itu mengumpat kasar, dengan segera dia berdiri dan memegang benda di sekitarnya untuk meringankan rasa sakit. Memang kakinya masih diperban, tapi tidak terlalu sakit mengingat Amelia mendapat pengobatan yang sangat bagus.
Wanita itu menuruni tangga, menciptakan suara heels yang khas. Orang-orang yang mendengarnya tentu tahu siapa dia, Monica dan Salma bergegas berniat membantunya, tapi Amelia mengibaskan tangan kuat. “Menjauh dariku, dimana kamar si bodoh itu?”
“Lucia, Señorita?” Salma memastikan.
“Kau pikir siapa lagi yang bodoh di sini?”
“Di sana, Señorita.” Monica menunjuk lorong dan membiarkan Amelia berjalan sendirian.
Ketika hendak menyentuh gagang pintu, seseorang memegang tangannya menghentikan. “Lucia libur hari ini, Señorita, dia harus istirahat.”
Andrean membuat Amelia kesal, dia terkekeh sebelum melepaskan paksa tangannya itu. “Aku adalah Nyonya di rumah ini, berhenti mencampuri urusanku atau kau akan dapat masalah.”
Sebelum bibir Andrean terbuka, Amelia masuk dan menguncinya dari dalam. Telinganya mencoba tuli ketika Andrean berulangkali memanggil namanya. Fokus Amelia adalah pada sosok perempuan yang tengah terlelap, melihat banyak makanan di sana membuatnya murka.
Amelia menyiramkan segelas air ke wajah Lucia, membuat perempuan itu terbangun seketika.
“Señorita?” Dengan bibirnya yang bergetar ketakutan melihat manik jahat Amelia.
“Bawa barang-barangmu, kau akan ke apartemen untuk melayaniku.”
“Sí?” Lucia memastikan.
Tanpa kasihan, Amelia mendorong kepala Lucia menggunakan telunjuk tangannya. “Kau akan ikut denganku ke apartemen sekarang juga, bodoh. Kemasi barangmu sebelum aku buat luka di bagian tubuh yang lain.”
Lucia dengan tubuhnya yang masih lemah itu beranjak, dia mengambil koper dan memasukan pakiannya ke dalam. Hatinya tahu, tidak ada hal baik jika ikut dengannya. Lucia tahu akan ada derai air mata selama Amelia ada di sampingnya. Lagi, dia tidak memiliki pilihan, Lucia hanya bisa pasrah pada Tuhan yang menjalankan rencana.
Ketika keluar dari kamar, dia mengikuti Amelia dengan tubuh terpincang-pincang mengangkat koper rusak pemberian neneknya. Tidak ada yang membantunya, mata-mata jahat itu hanya menatap penuh kepuasan.
Ketika pandangan Lucia terangkat, dia melihat Louis di pagar pembatas lantai dua. Pria itu memandangnya datar, seakan mengatakan, ‘Kau akan menerima tawaranku?’
Bagi Lucia, hidupnya sudah dipenuhi kehancuran. Semua orang menginjak harga dirinya, dan Lucia tidak akan membiarkan Louis melakukannya. Angkuh, mungkin itu kata yang tepat untuknya. Setidaknya, Lucia bisa melakukan satu hal yang membuat Louis kesal, sebagai pembalasan rasa kesalnya.
Sebagai jawaban, Lucia menggeleng, membuat Louis menyeringai menatap kepergian Lucia yang didorong paksa oleh Amelia.
“Kita lihat selama apa kau bertahan tanpa bantuanku, Lucia.”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Hatiku Hati Hati
bravo lucia
2023-07-16
0
Hatiku Hati Hati
dan sampai akhir..hanya naomi dan pembaca yang mengetahui kedatangan louis mengobati luka lusia,sampai saat ini lusia tidak pernah tau akan hal ini.
2023-07-16
0
Diana diana
turunkan ego mu sedikit Lucia . .
2023-05-20
0