Vote sebelum membaca😘😘😘
.
.
“Señorita!”
“Makan dia!” Teriak Amelia pada jaguar yang menggeram mendekat pada Lucia. Membuat perempuan bermata biru itu histeris, menggerakan seluruh tubuhnya yang sakit agar bisa terlepas. Berbeda dengan wanita berambut jingga yang menatapnya sambil tersenyum, tertawa dan berteriak memerintahkan jaguar untuk memakan Lucia, seperti bagaimana Louis melakukannya pada mereka yang bermasalah.
“Makan dia! Cepat!”
“Señorita, aku mohon ampuni aku,” pintanya dengan air mata yang tidak berhenti menetes, jantungnya berdebar semakin kencang seiring dekatnya makhluk itu. Bibir Lucia bergetar. “Señorita.”
“Kau akan dimakan, dasar wanita murahan,” ucap Amelia dengan kejamnya, matanya tidak memperihatkan rasa kasihan. Emosi, obesi, semuanya terbutakan.
Lucia pasrah saat jaguar itu berhenti tepat di depannya, menggeram seakan menahan amarah yang ingin diraungkan. Lucia pasrah, dia memejamkan mata dengan air mata menetes.
Tiga kata yang Lucia sebutkan dalam do’anya. Meminta Tuhan untuk menjaga buah hatinya, meminta Tuhan untuk menyelamatkannya, dan jika dia tidak bisa selamat, Lucia meminta Tuhan membukakan pintu hati Louis agat bisa mendekap Louisa, menerimanya dan selalu ada untuk putri kecilnya.
Amelia tersenyum lebar melihat sang jaguar menunduk, harapannya agar hewan itu memakan Lucia. Namun, tidak ada yang bisa melawan ketika Tuhan berkehendak. Jaguar itu tidak menggigit Lucia, melainkan menjilati lukanya, yang mana membuat Lucia meringis kesakitan.
Tidak ada ekspresi menakutkan pada sang jaguar, yang Lucia lihat adalah hewan peliharaan lucu yang menginginkan kasih sayang. Dan setelahnya jaguar itu membaringkan tubuh di samping Lucia.
Melihat hal itu Amelia marah, dia memukul jeruji besi sambil berteriak. “Makan dia, jaguar bodoh! Bukankah kau lapar?”
Tidak ada yang dilakukan jaguar itu, dia tetap diam. Bahkan tangannya memeluk Lucia, seakan menolongnya dari kedinginan yang ditimbulkan tembok.
“Sial!” Amelia yang kini dikuasai amarah merebut kunci jeruji dari pria berbadan besar itu. Dia dihentikan oleh pria yang menjadi anak buah Louis. “Lepaskan aku, Sialan.”
“Señorita, ini berbahaya, jaguar itu bisa menggigitmu, dia kelaparan.”
“Lalu kenapa dia malah memeluk wanita penggoda itu huh?!” Tangannya mengibas, mendorong dada pria itu.
Dia tidak bisa membiarkan Amelia pergi, pria itu tahu Amelia dekat dengan Louis. “Señorita, ini berbahaya.”
“Lepaskan atau aku beri tahu Louis kau tidak menurut!”
Salma dan Monica segera mendekat ketika Amelia membuka kunci dan hendak masuk. “Señorita itu bahaya.”
“Diam kalian!”
Seketika tiga orang itu terdiam mendengar jeritan yang begitu melengking, Amelia mengibaskan tangan menyuruh ketiganya menjaga jarak. Membiarkan Amelia masuk daripada mendapat masalah besar.
Amelia tanpa rasa takutnya melangkah, membuat Lucia ketakutan hingga tanpa sadar dia memeluk jaguar itu, menyembunyikan sebagian wajahnya di bulu lembut berwarna hitam pekat.
“Makan dia, jaguar bodoh,” ucap Amelia menginjakan sepatu runcingnya pada tubuh jaguar. Sontak saja hewan yang merasa terancam itu menggigit kaki Amelia, mengoyaknya hingga membuay wanita itu menjerit kesakitan.
“Aaaaaaaaa!”
Pria yang menyembunyikan pistol di balik jaketnya itu segera menembak kaki jaguar hingga melepaskan gigitannya. Suara tembakan begitu menggema.
Merasa sudah aman, Monica dan Salma segera membantu Amelia keluar. Wanita itu menangis menatap kakinya yang berdarah. “Sialan! Kau jaguat gila!” Teriaknya geram pada Lucia yang menatap matanya.
Jaguar itu terluka, kakinya tertembak dua peluru. Dia luluh di lantai menatap kepergian orang-orang yang pergi meninggalkan ruang bawah tanah. Awalnya, Lucia berpikir ketika jaguar itu bangkit, dia datang untuk memakannya. Salah, nyatanya Tuhan bersamanya. Jaguat itu melepaskan tali yang mengikat Lucia dengan taringnya. Dia mengoyak kasar, tanpa melukai sedikitpun dan akhirnya terlepas.
Lucia mendudukan dirinya, memegang tangannya yang lecet akibat gesekan. Matanya tidak beralih dari jaguar yang terlihat sekarat. Perasaan aneh itu membuat Lucia mengusap jaguar, membuatnya memejamkan mata hingga akhirnya tertidur.
Tuhan terjaga, dia melihat semuanya.
“Kurasa kau adalah sesuatu.”
Lucia tersentak, dia menatap keluar jeruji besi. Tepat di sana, ada sel yang begitu gelap. Perlahan sosok itu keluar mendekati cahaya, dia memegang jeruji yang menahannya dengan kedua tangan. “Siapa kau?” Tanya Lucia pada pria yang tubuhnya dipenuhi darah kering.
Pakaiannya robek, terlihat jelas dia telah disiksa. “Apa kau baik-baik saja?” Lucia memastikan.
“Tidak separah dirimu, kulitmu akan infeksi jika tidak segera dijahit.”
Lucia menatap luka di lengan kanannya, cukup dalam hingga mengingatkannya akan rasa sakit itu. Air perasan jeruk nipis menembus memasuki lapisan kulit dan berbaur dengan darah. Hingga jaguar itu menjilatinya, Lucia merasa lebih baik. “Ini akan baik,” ucap Lucia dengan suaranya yang serak.
Dia terlalu sering menjerit, berteriak dan menangis demi memohon ampunan nyawa. Mereka manusia kejam yang menganggap nyawa bukanlah hal penting. Sampai jaguar yang kini sedang terlelap datang, Lucia tahu kuasa Tuhan itu ada.
Pria yang penasaran dengan Lucia itu kembali bertanya. “Apa kau ibu dari mereka?”
“Apa maksudmu?” Dia mengalihkan pandang, fokus pada pria yang sepertinya begitu penasaran akan dirinya.
“Para jaguar itu dibesarkan oleh sang pemimpin, Louis menjadikan mereka pemakan manusia, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah perintah bagi mereka.”
“Mereka?”
“Jaguar itu berpuluh-puluh, Señorita.”
“Aku pelayan, bukan majikan di mansion ini.”
“Mereka menganggapmu begitu,” ucapnya menatap jaguar hitam dengan tatapan. “Ayah mereka adalah Louis, dan aku rasa mereka menganggapmu ibunya.”
Lucia terkekeh, di situasi seperti ini dia dipertemukan dengan manusia yang aneh. “Mengapa demikian?”
“Mereka menunduk padamu, Señorita, aku rasa itu insting alami mereka.”
“Dan mengapa kau berada di sini?” Tanya Lucia membuat pria itu mengangkat tangannya dan mendekati lagi kegelapan. Meskipun begitu, Lucia melihat pria itu duduk di sudut ruangan, meskipun samar.
“Namaku Andy, dulu aku adalah kaki tangan Louis sampai Ricco menggantikan.”
“Apa yang terjadi? Berapa lama kau di sini?”
“Dia marah padakku saat memakai anak-anak untuk mengirim ganja pada konsumen. Disini aku cukup lama, sekitar beberapa tahun.”
Lucia terdiam, kata anak-anak yang membuatnya tertarik. “Mengapa dia marah? Apakah dia tidak ingin keuntungan?”
“Tidak, Señorita, pria itu menyukai anak-anak.”
Kalimat yang mampu membuat Lucia berdiskusi antara hati dan pikirannya. Jika dia menyukai anak-anak, akankah dia juga menyukai Louisa?
“Kau tahu kenapa dia baik pada mereka? Karena jika sudah dewasa nanti, mereka akan menjadi bagian dari Dioses La Asesinos, berada di bawah kendali kartel.”
Perasaan lega itu hancur, membuat Lucia terdiam lebih dalam hingga dia akhirnya memutuskan rahasia itu akan tetap digenggamnya. Hingga lamunannya tersadar oleh Monica dan Salma yang kembali, dan mereka membawa pecut, Lucia yakini itu untuk menyakiti dirinya lagi.
“Hallo, Lucia, Nona Amelia ingin mengunjungimu saat kau sudah hilang,” ucap Salma sambil menyeringai.
***
“Monica, katakan dimana Lucia.”
Wanita yang sedari tadi diikuti oleh pria tua itu merasa kesal, dia membalikan badan dengan tatapan kesal. “Aku bilang Nona Amelia membutuhkannya, kenapa kau begitu berisik?” Salma menaikan nada bicara.
“Ini sudah larut, kau pikir aku percaya?”
Andrean baru pulang dari pusat kota, dia diminta oleh Amelia membeli beberapa parfume yang sangat sulit didapatkannya lalu mengirim ke apartemen Amelia. Membutuhkan waktu yang cukup lama, sebagian parfume diracik mendadak hingga Andrean baru bisa pulang pukul 10 malam.
“Di mana Lucia?”
“Kenapa kau bertanya padakku, aku tidak tahu.”
Salma yang sedang mengisi botol dengan air itu membuat Anderean merebutnya. Dia mencium aroma jeruk dari dalam botol. “Untuk apa ini?”
“Kembalikan.”
“Katakan untuk apa air jeruk yang dicampur garam ini.”
Salma merebut paksa. “Ini untuk aku minum, kenapa kau begitu penasaran? Kita berada di sisi yang berbeda, menjauhlah.”
“Aku kepala pelayan di sini.”
“Itu tidak berpengaruh, bodoh,” ucap Salma pergi menjauh dari dapur.
Suara langkah kaki mendekat menarik perhatian, dia menoleh pada Amelia yang berjalan dibanti oleh Monica. “Anda masih di sini, Señorita? Apa yang terjadi dengan kakimu?”
“Ah.” Dia menurunkan pandang pada kakinya sendiri. “Aku terluka, itu sebabnya akan menginap.”
“Sepertinya itu tidak dianjurkan.”
“Kenapa? Aku tidak boleh menginap disini.”
“Ya, seingatku Señor Louis selalu melarangmu menginap.”
Amelia marah, dia melepaskan tangan Monica yang menahan. Dengan kaki pincang dia mendatangi Andrean dengan tatapan jahatnya. Tangannya menunjuk wajah tua itu. “Aku akan menjadi nyonya di mansion ini.”
“Seingatku kau mengatakannya cukup sering, Señorita.”
Amarah Amelia berada di ujung ubun-ubun, dia menyiram Andrean seketika dengan gelas yang ada di pantry. Gigi Amelia beradu. “Aku akan menjadi Señora, bukan lagi Señorita.”
“Lebih baik kau pergi sebelum Tuan Louis tahu, Señorita.”
Amelia menggeleng, dia mendorong dada Andrean menyuruhnya menjauh, sementara dirinya melangkah untuk mengambil botol yang dibuat oleh Salma. Sebelum menjauh, Amelia berdesis, “Minggirlah dan enyah.”
Andrean menatap kepergian tiga wanita yang membuat kekacauan di mansion itu. Entah mengapa Louis membiarkannya tinggal, dua pelayan yang ditugaskan untuk memata-matainya. Andrean yakin jika pria itu tahu, tapi dia diam dan membiarkan Amelia berbuat sesukanya.
Ketika telpon berdering, Andrean buru-buru mendekat ke ruang utama untuk tamu, berjaga-jaga jika itu adalah Louisa. Salah, yang menelponnya adalah pria yang menjadi ayah anak itu.
‘Apa Amelia ada di mansion, Andrean?’
“Sí, Señor. Dia menginap di sini.”
Andrean berharap pria itu memberi perintah untuk mengusirnya, sayang hal itu tidak terjadi. “Anda ingin aku mengusirnya, Señor?”
‘Tidak, biarkan dia berlama-lama di sana.’
“Señor?” Andrean memastikan.
‘Dia akan membayar semua perbuatannya, Andrean, tenanglah.’
“Tunggu, Señor.” Pria tua itu menahan Louis untuk tidak menutup telpon.
‘Ada apa?’ Suaranya datar, seperti biasanya.
“Nona Amelia sepertinya membuat Lucia melakukan sesuatu, tapi Lucia belum kembali sampai sekarang. Dia tidak ada di kamarnya.”
Selama beberapa detik hanya terdengar suara napas, Andrean segera menyadarkan. “Señor?”
‘Apa yang kau tahu?’
“Nona Amelia memiliki bekas luka di kakinya, seperti gigitan. Itu ditutupi perban cukup banyak.”
Lagi-lagi hanya keheningan yang menjawab. “Señor? Apa yang harus aku lakukan?”
‘Tidak ada, Andrean, kau hanya perlu diam.’
Kalimat terakhir yang membuat pria itu terdiam, dia tidak memiliki apapun untuk melindungi Lucia. Perempuan itu seharusnya hidup bahagia, sebagaimana mestinya. Dia mengandung, melahirkan seorang diri. Sudah sepatutnya wanita kuat sepertinya mendapat perlindungan. Setidaknya ini yang bisa dilakukan Andrean. Dia menekan tombol yang menghubungkan ke villa di Palma.
Seperti biasa, dia melihat sekeliking berjaga supaya tidak ada yang melihat ataupun mendengar.
“Hallo, Louisa?”
‘Siapa ini?’
Andrean tahu siapa suara ini. “Rani, dimana Louisa?”
‘Apakah…. Ini kau Andrean?’ Suaranya terdengar khawatir, bahkan napasnya pendek seakan menahan keterkejutan.
Segera pria itu menjawab. “Tenanglah, aku tahu semuanya, kau bisa mempercayakan semuanya padaku.”
Rani bernapas lega. ‘Kapan kau akan mengirimnya kembali?’
“Bukan aku yang berwenang, aku hanya menuruti perkataan Señor Louis.”
‘Louisa pasti akan sangat kecewa,’ ucap Rani dengan nada suara merendah.
“Tolong jangan menghubungi untuk beberapa saat sebelum dihubungi lebih dulu, Nona Amelia ada di sini.”
‘Makhluk macam apa dia? Apa dia kekasih Señor Louis?’
“Tidak, dia rekan kerja yang terobsesi dengan Señor Louis. Aku tutup dulu. Sampaikan pada Louisa kalau ibunya akan baik-baik saja.”
‘Apa maksudmu?’
Perkataan itu keluar begitu saja, seketika Andrean menutup telpon. Dia mengusap wajah kasar, apa yang bisa dilakukannya sekarang? Lucia tidak ada di semua tempat. Tanpa Andrean ketahui, dia melupakan satu tempat yang terlarang bagi semua orang di mansion ini.
Suara vas jatuh membuat pria itu was-was, dia segera menuju sumber suara. Di sana Naomi sedang berjongkok memunguti pecahan vas. “Maafkan aku, Andrean.”
“Berapa lama kau di sana?”
“Baru saja, aku ingin minum.”
“Apa kau melihat Lucia?”
Gerakan tangan Naomi terhenti sesaat, dia memungut dan menampung pecahan kaca di telapak tangan. Naomi berdiri menatap mata Andrean. “Tidak,” ucapnya menundukan badan dan pergi dari sana.
Andrean mencoba berpikir positive, dia kembali ke kamarnya dengan kepala penuh pertanyaan. Tanpa dia ketahui, Naomi memandang punggungnya yang menjauh dengan jantung berdebar kencang, dirinya telah berbohong.
Seolah tahu Lucia tidak baik-baik saja, Naomi mengambil dua potong roti dan sebotol air menuju bagian sayap barat mansion. Dia pernah diberi perintah Louis untuk memberi makan jaguar, membuatnya mengingat kode untuk memasuki pintu yang ada di balik rak.
Bagi mereka yang melihat, tidak ada yang aneh dengan rak itu. Padahal dibaliknya terdapat pintu dengan keamanan canggih.
Ketika pintu terbuka, tangga menuju bawah tanah memenuhi pandangan. Naomi menuruni, membuat pintu otomatis tertutup kembali dengan rak yang menggeser. Jantungnya berdebar kencang saat melewati kandang jaguar, makhluk itu mengaum, menggeram pada orang asing.
Di ujung ruangan terdapat pintu besi yang dilindungi angka untuk membukanya, Naomi memasukan angka yang dia ingat hingga terbuka. Di ruangan kedua, dia melihat jajaran ruang sel gelap dan menakutkan.
Wanita berkulit hitam itu melihat ke setiap sel sambil memanggil pelan. “Lucia….”
Kakinya sampai di sel terakhir, disanalah Naomi melihat orang yang berpakaian sama dengannya sedang terbaring di samping jaguar. Seketika itu membuatnya panik. “Lucia, Lucia, apa kau mati?”
Kelegaan itu tidak bisa dideskripsikan ketika melihat Lucia bergerak, bersamaan dengan jaguar yang bangun dan menggeram mendekat pada Naomi.
“Lu...lucia, apa yang terjadi?” Fokusnya pada perempuan yang terlihat berantakan, Lucia sungguh menyedihkan dengan banyak luka sayatan, bajunya basah. Bau anyir darah dan jeruk memenuhi penciuman Naomi, membuat wanita itu ikut gementaran. “Lucia..”
Perempuan itu tidak bisa berkata-kata lagi, tenaganya dia gunakan untuk bernapas.
“Aku bawakan ini untukmu.” Tangan Naomi ditarik kembali saat jaguar itu mendatanginya dengan kaki pincang. “Tenanglah, aku hanya membawakan ini untuknya.”
Jaguar itu tetap berada di sana, dengan pelan Naomi menggeserkan dua potong roti dan sebotol air ke dalam jeruji. “Maaf aku tidak bisa menolongmu, Lucia, hanya ini yang aku bisa lakukan, aku tidak bisa terkena masalah, aku harus pulang pada orangtuaku.”
Perlahan manik biru itu membuka matanya lebar, dia tersenyum kecil. “Gracias, Naomi.”
***
Mata hitam Louis tidak bisa berpaling dari seorang pria yang bahkan belum cukup dewasa untuk dipanggil pemuda. Namun, pemikiran dan isi otaknya berbanding terbalik dengan umur. Pemuda itu yang memiliki kendali atas klan Cosa Nostra, sebuah kartel besar Negara Italia yang berpusat di Sisillia.
Dengan berani pemuda itu membeli senjata beserta amunisi dalam jumlah yang banyak, peringainya saja tidak memperlihatkan dia adalah pemimpin kartel besar. Tidak ada wibawa, hanya ada bocah dengan penampilan normal dan menyukai milkshake.
“Kau yakin kita akan bertemu di sini?” Tanya Louis pada pemuda yang ada di hadapannya. Dia yang sedang membaca pesan menyimpan ponselnya, membalas tatapan Louis lalu mengangguk.
Pemuda yang cukup gila, dia memilih membicarakan bisnis gelap di sebuah caffe milkshake yang kebanyakan pengunjungnya adalah anak-anak muda.
Dia bukanlah pemuda biasa, dia adalah penerus Hudson Inc, sebuah perusahaan yang bergerak di transportasi udara, real estate, bahkan perangkat lunak komputer yang berpusat di New York.
“Kau tidak takut seseorang menangkapmu, Nak?”
Jullian nama pemuda itu, dia memakai kaos oblong berwarna putih yang dipadukan dengan celana selutut bergambar pantai. Topi merah yanh senada dengan celana menghiasi kepalanya. “Kenapa? Mereka tidak bisa apa-apa.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, Tuan Mendoza, kau saja meragukanku sebagai pemimpin klan, apalagi yang lain.”
Kerutan kening Louis membuat Jullian berinisiatif menepuk bahu seseorang yang ada di meja belakangnya. “Hei, aku adalah pemimpin klan Cosa Nostra, aku sedang bertransaksi untuk membeli senjata dan amunisinya sekarang ini.”
“Dasar gila,” ucap wanita yang diganggu sambil mengedikan badan.
Jullian kembali menatap Louis. “Kau lihat?”
“Untuk apa amunisi sebanyak itu?”
“Aku berniat mempersenjatai teman-temanku dalam klan, aku dengar milikmu yang terbaik,” ucapnya sambil menyedot milkshake cokelat. “Aku juga dengar kau yang memegang kendali semua bijih besi di Spanyol.”
Louis terdiam, aneh dengan prilaku yang tidak mencerminkan seorang pemimpin.
“Oh, aku lebih menyebut diriku sebagai peta mereka daripada pemimpin.”
Jullian kembali melanjutkan, “Aku baru 16 tahun. Kau pasti tahu.”
“Aku tidak ingin hubungan sebatas jual beli, apa yang bisa kau berikan padaku.”
Kali ini wajah Jullian berubah menjadi serius, tubuhnya condong pada Louis. “Jalan menuju Rusia, aku tahu kau sedang mengincar mereka.”
“Itu cukup mahal, aku tahu kau meminta hal lain padakku, apa itu?”
“Tidak ada.” Jullian menegakan kembali tubuhnya. “Kau bisa memberikan putrimu untukku, aku bisa menjadi suami yang baik untuknya.”
“Aku tidak memiliki anak.”
“Maka buatlah.”
“Bagaimana jika itu laki-laki?”
Jullian mengangkat bahu. “Aku hanya ingin amunisi terbaik milikmu, jika kebetulan kau punya anak perempuan, aku tidak keberatan untuk menjadi suaminya, jika kau tidak keberatan.”
Louis menatap sekeliling, dia tidak nyaman berada di sini. “Datang ke pelabuhan malam nanti, lihat isinya.”
Kalimat itu yang mengakhiri, Louis memilih pergi dari caffe. Mobil dari tempatnya bicara cukup jauh, kebiasaan jika akan bernegoisasi. Louis melewati pasar tradisional Sisilia yang memenuhi gang besar, food street tercium sepanjang kaki melangkah.
Hingga pemilik manik hitam itu berhenti ketika melihat pedagang China duduk di atas karpet, dengan dagangannya yang terhampar. Pria tua itu mengadah menyadari Louis mendekat. “Silahkan, Signore, pilihlah salah satu.”
“Sí.”
“Ah, haruskah aku panggil dirimu Señor? Kau dari Spanyol?”
Louis berjongkok, tangannya memilih benda-benda yang terbuat dari batu giok. “Tidak perlu. Mengapa penjual barang-barang China ada di pasar Italia?”
“Aku berdagang dimana saja, Signore, selama itu memiliki keuntungan.”
Pilihan Louis jatuh pada konde hijau yang terbuat dari giok, terdapat tulisan China yang membuatnya penasaran.
“Itu pernah dipakai oleh Selir dari Dinasti terbesar di China, tulisan itu mengartikan isi hati sang Kaisar untuk wanitanya.”
Aksesoris yang mengingatkannya pada Lucia, bagaimana perempuan itu menggunakan aksesoris ini sebagai penahan rambut agar tetap diam. “Apa artinya ini?”
“Itu sebuah pujian, tentang bagaimana cantiknya mengalahkan musim semi, kulitnya yang sehalus sutera, senyumannya yang mampu menundukan bulan sabit.”
Louis terkekeh. “Puisi yang indah.”
“Wanitamu akan menyukainya, Signore, cukup katakan pujian itu untuknya.”
“Berapa harganya?”
“Berapa harga untuk wanita terkasih, Signore?”
Pria tua keturunan china itu berhasil membuat Louis terkekeh lagi, dia mengeluarkan beberapa lembar uang yang mana membuat sang penjual tertawa senang. “Anda yakin, Signore?”
“Ambilah.”
Louis berdiri dengan konde yang dipegangnya, beberapa meter dia berjalan keluar dari pasar sebelum sampai di ferarri biru muda.
“Bagaimana transaksinya, Tuan?” Norman memberikan ponsel Louis.
Pria itu menerimanya. “Sesuai perkiraanku.”
“Kemana kita akan pergi sekarang?”
Louis terdiam. “Kau bisa melakukan transaksinya, aku butuh ketenangan.”
“Ingin liburan, Señor?” Mobil itu memasuki jalan raya, membelah jalanan dengan mesinnya yang terdengar halus.
“Kau ingat villa di Palma?”
“Ya, kau ingin menjualnya?”
Louis tidak menjawab, dia menekan nomor yang dia ingat. “Aku rasa tempat itu cocok untuk musim panas.”
Menunggu beberapa saat hingga akhirnya telponnya dijawab.
‘Hallo?’
Kening Louis berkerut mendengar suara anak kecil. “Hallo, siapa ini? Dimana penjaga villa?”
Terdengar suara penerima penelpon yang sedang mengunyah loli. ‘Ini Lee, siapa di sana?’
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Bunga Istiqomah
💜💜💜💜
2024-06-13
0
^__daena__^
itu anakmu Louis 😭😭😭
2023-10-25
0
Hatiku Hati Hati
ais.....pedih lagi.....
2023-07-16
0