La Señorita 16 : Derrota de Lucía

Vote sebelum membaca😘😘

.

.

Rambut orange itu bergoyang kuat akibat pemiliknya yang berlari, tiap langkahnya penuh tekanan, mencoba meredam amarahnya yang sangat ingin tersalurkan pada perempuan yang sangat dia benci.

“Señorita?” Salma segera mendekat pada Amelia yang melangkah dengan wajah penuh kemarahan. “Señorita, ada apa kau ke--”

“Dimana wanita jalang itu?”

“Siapa yang kau maksud?” Salma mencoba menyeimbangi langkah Amelia yang lebar. Kening Salma mengkerut melihat Andrean yang berdiri di depan pintu kamar Lucia.

“Señorita, ada apa?”

“Diamlah, simpan mulut menyebalkanmu,” teriak Amelia yang membuat Salma menghentikan langkah, dia memilih diam daripada mengikuti Amelia mendekati Andrean.

Salma mendekat pada Monica yang sibuk di dapur bersama Naomi. “Apa yang terjadi? Mengapa Nona Amelia begitu marah?”

“Kau tidak tahu?” Tanya Naomi membuat Salma semakin penasaran.

“Apa yang terjadi?”

“Señor Louis pulang dengan menggendong perempuan licik itu,” ucap Monica semakin menambah kebingungan Salma.

“Perempuan licik?”

Monica yang sedang menuangkan air melanjutkan, “Lucia Michelle, dia bahkan memeluk erat leher Señor Louis.” Kemudian minum.

“Benarkah? Pantas saja Nona Amelia sangat marah.” Matanya mengintip pada Amelia yang mendekati Andrean.

Dengan amarah yang ada di ubun-ubun, langkahnya yang tertanam, Amelia menatap geram Andrean. “Apa mereka ada di dalam?”

Andrean tidak menjawab, dia diam berdiri di depan pintu kayu itu.

“Jawab aku! Apa mereka di dalam?!” Fakta bahwa Amelia tidak bisa membuka pintu kamar, adalah bukti kalau mereka ada di dalam. Dia menatap Andrean dengan penuh emosi. “Buka pintunya!”

“Maaf, Señorita, Señor Louis memintaku untuk tidak membiarkan siapapun membuat kegaduhan, silahkan pergi dari sini.”

“Louis! Louis!”

Berulang kali Amelia memukul-mukul pintu dan meneriaki nama pria yang ada di dalamnya. Sayang, pria bermanik hitam itu terlalu fokus pada perempuan yang tengah memejamkan mata, meringkuk sambil menggenggam tangan Louis kuat.

Ketika kegaduhan itu mulai menganggu, Louis hendak beranjak, tapi tangannya ditahan kuat oleh Lucia. “Aku tahu kau tidak tidur, Michelle, lepaskan tanganmu.”

Perlahan bulu mata lentik itu membuka mata, genggamannya semakin kuat pada Louis, ada ketakutan dalam mata Lucia. Dia menggeleng sebagai jawaban.

“Kau ingin aku di sini?”

Lucia mengangguk.

“Kenapa begitu?”

“Kenapa kau menyelamatkanku?”

Hening, Louis terdiam dengan wajah datarnya. Membuat Lucia melanjutkan, “Permintaanku juga tanpa alasan, Señor.”

Terkekeh, Louis mengambil botol vodka yang dibawakan Andrean sebelumnya. Dia meminumnya, tapi tidak menelannya. Louis malah merentangkan posisi tidur Lucia lalu menciumnya hingga cairan itu berubah posisi. Mau tidak mau, Lucia menelannya beberapa teguk. “Apa yang kau lakukan?”

Louis tersenyum tepat di bibir Lucia, dia kembali meminum lalu menuangkan paksa pada perempuan itu. Lucia tidak memiliki tenaga, hampir setengah botol ditelan oleh perempuan yang lemah itu. Lucia mencoba mendorong dada Louis supaya menyingkir dari atasnya, membuat pria itu merebahkan diri di samping Lucia dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.

Lucia mendesah tidak nyaman, apalagi kepalanya mulai terasa pusing. Dia menatap Louis dengan menyipit, dadanya naik turun merasakan sensasi yang mungkin disebut mabuk.

“Apa yang kau lakukan?” Lucia menepuk dada Louis berulang kali, dengan sangat pelan.

“Memberimu kadar alkohol tinggi, aku harus tahu mengapa kau begitu menjungjung tinggi harga diri diatasku.”

Lucia terkekeh, kepalanya jatuh ke ceruk leher Louis. Kini dia benar-benar mabuk, pikirannya diambang kesadaran. Untuk beberapa saat, Lucia hanya memainkan jemarinya, membuat pola tak kasat mata di dada Louis. Bibirnya mengeluarkan rengekan ketika Louis mengeratkan pelukan, membuat tubuh mereka saling berdempet.

Pria itu berbisik, “Katakan padakku apa yang ada dalam pikiranmu.”

“Kau pria brengsek, Señor.”

Louis mencoba menahan kesadaran Lucia dengan merangkup wajahnya, membuat perempuan itu mengadah menatap diriny dengan mata mengantuk. “Kau menuruti apa kata Amelia, tapi tidak denganku.”

Kekehan Lucia membuat Louis mengerutkan kening. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, bahkan hidung mancung Louis hampir beradu dengan hidung mungil Lucia. “Kau pernah menghancurkanku sekali, Señor, aku tidak ingin hal itu terjadi lagi.”

Elusan di pipi Lucia terhenti, manik hitamnya menatap datar perempuan yang bergumam tidak karuan. “Seharusnya kau juga menjunjung harga dirimu pada mereka, jangan padakku saja.”

“Luka itu yang membuatku kuat, Señor.”

“Akankah jika aku todongkan senjata padamu, kau akan menuruti perkataanku?”

Lucia terdiam, matanya mulai terpejam akibat alkohol. Dalam setengah kesadaran, dia kembali terkekeh. “Aku tidak tahu,” ucapnya pelan.

“Lucia, lihat mataku.”

Terpaksa terbuka, menatap manik hitam Louis yang menatapnya tajam, tanpa emosi. “Jangan biarkan mereka menyakitimu dahulu agar kau menjadi kuat. Kau tidak perlu menunduk pada mereka, lakukan sebagaimana kau melihatku.”

“Tidak semudah itu, Señor.” Kini tawanya diwarnai linangan air mata. “Aku mengangkat wajahku padamu supaya aku tidak jatuh cinta lagi, ketakutan itu yang menopangku.”

Kini Louis terdiam, tidak ada kata ataupun gerakan yang dia tunjukan sebagai ungkapan perasaan itu. Manik hitamnya menatap Lucia yang terpejam, tapi air mata keluar dari sana. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa sisi baik dirinya yang membuat perempuan dalam dekapannya itu jatuh cinta.

Sebelum Lucia jatuh dalam kegelapan, dia bertanya dengan kening berkerut, “Dan katakan padakku kenapa harus aku yang menghangatkan ranjangmu?”

Seperti sebelumnya, Louis membiarkan angin yang menjawab. Membuat Lucia terkekeh sebelum jatuh dalam dunia mimpi. Napasnya mulai tenang, wajahnya terlihat damai. Tangan Louis menyentuh luka di kening Lucia, ada lebam di sana. Lalu beralih pada lengan atasnya yang masih tertutupi perban. Tidak ada ekspresi, entah apa yang ada dalam benak pria berambut hitam itu.

Lucia berguman kecil ketika merasakan geli di perutnya, jemari kekar itu masuk ke dalam pakaian Lucia, menyikabnya hingga dia bisa melihat luka yang membuatnya penasaran. Pikirannya menghubung-hubungkan dengan sikap, telpon dan ketakutan Lucia. Louis berkata, “Aku ingin tahu apa penyebab luka ini, Lucia.”

Kalimat itu diakhiri dengan ciuman singkat di bibir Lucia sebelum dirinya keluar dari sana. “Biarkan dia istirahat,” ucapnya pada Andrean yang masih berjaga di sana.

“Sí, Señor.”

“Beri dia makanan jika bangun nanti.”

Setelahnya Louis melangkah, dia disambut antusias oleh amarah Amelia yang menggebu. “Louis, apa kau tidur dengannya?”

Tanpa diduga, Louis mencekik Amelia dengan tangan kirinya, membuat para pelayan yang melihatnya pura-pura menutup mata. Apalagi saat pria bermanik hitam itu melangkah maju, membuat punggung Amelia beradu dengan dinding kaca.

“Sudah cukup, Amelia, kau mengusik kehidupanku terlalu dalam. Lucia milikku, aku yang berhak melakukan apapun padanya.”

Amelia menggeleng kuat merasakan sesak dan sakit di saat bersamaan. Kejadian semalam membuatnya menjadi saksi terhadap kasus prostitusi, padahal ini pertama kalinya dia memberikan wanita untuk mereka.

“Semua perbuatan ada akibatnya. Mendekap di penjara agar kau belajar.”

Amelia terbatuk-batuk, dia memegang lehernya yang terasa sakit. “Kau sengaja ‘kan? Agar aku ditangkap polisi.”

Louis menyeringai, dia mendekat dengan tatapan tajamnya. “Itu akibat berani menyentuh milikku, mengusik kehidupanku.”

***

Pemilik manik biru itu terbuka saat mendengar suara gelas berdenting.

“Maaf membangunkanmu, kau belum makan sejak tadi,” ucap Andrean menyimpan baki berisi makanan di atas meja rias. Mata Lucia membulat mendapati jam sudah menunjukan pukul lima sore.

“Andrean, kenapa kau tidak membangunkanku?”

“Tenanglah, Tuan Louis memberimu waktu untuk istirahat.”

“Bagaimana dengan Nona Amelia?”

Pria itu berhenti melangkah menuju pintu keluar, dia menatap Lucia yang duduk dengan selimut membungkus tubuh. “Dia ditahan di kantor polisi atas tuduhan penganiayaan dan prostitusi.”

“Apa?”

“Oh ya.” Andrean berjalan mendekat untuk mengambil botol vodka. “Kau juga akan dimintai keterangan besok, sebagai korban.”

“Korban?”

“Kau dianiaya dan dilecehkan olehnya, Lucia. Dia harus menanggung akibatnya.”

“Siapa yang melapor?”

Keterdiaman Andrean membuat Lucia menebak. “Señor Louis?”

“Kau mudah mengerti.”

“Apa dia sengaja melakukan ini untuk memasukan Nona Amelia ke penjara.”

Pria tua itu mengangkat bahu. “Entahlah, Lucia, aku pikir ini waktu yang tepat kau memberitahu tentang Louisa.”

“Apa? Ssstttt…. Pelankan suaramu,” ucapnya dengan mata melotot hampir keluar. “Bagaimana jika ada yang mendengar?”

“Semua ketakutanmu itu hanya dusta belaka, Lucia, Tuan Louis harus mengetahui tentang anaknya.”

“Apa kau gila? Bagaimana jika dia menolak keberadaan Louisa? Dia pria yang kejam.”

Andrean menggeleng, dia menutup botol vodka. “Nyatanya dia berani memasukan Nona Amelia ke penjara. Setelah kematian Nona Penelope, banyak wanita mendekati Señor Louis, dan Nona Amelia selalu menghadangnya dengan mencelakai mereka. Señor Louis tidak pernah menghiraukannya. Dia menginginkanmu, Lucia.”

“Ya, karena wajah ini,” ucap Lucia terdiam.

Hal itu membuat Andrean mendesah pelan, wanita yang keras kepala. “Kau membencinya karena kau mencintainya ‘kan?”

“Kau tahu jawabannya, Andrean. Lebih baik kau keluar, aku akan bersiap untuk bekerja kembali.”

Setelah Andrean keluar, Lucia membrsihkan diri terlebih dahulu. Saat dirinya dibawah guyuran air shower, Lucia mengingat apa saja yang dikatakannya pada Louis saat mabuk. Pria itu benar-benar menyebalkan, dia berbuat sesuka hatinya.

Lucia menyanggul rambut seperti biasa, dengan konde yang menyangga. Dia makan dengan lahap sebelum keluar kamar, sejak pagi dirinya tidur akibat pria itu. Hingga otaknya memutar kalimat yang diucapkan Louis, tentang harga dirinya yang harus dijunjung tinggi dihadapan semua orang. Namun, Lucia memikirkan kalimat apa yang dikatakannya hingga Louis berkata seperti itu?

“Lucia, kau baik-baik saja?” Tanya Naomi saat Lucia keluar dari kamar.

Perempuan itu mengangguk. “Ini piring yang kotor.” Meletakan kembali baki yang sudah kosong.

Ketika Lucia sedang memasukan piring ke dalam mesin, Naomi mendekat lalu berbisik, “Apa kau tahu Nona Amelia dibawa ke kantor polisi?”

“Ya, aku mendengarnya dari Andrean.”

“Tuan Louis sepertinya menyukaimu, Lucia.”

“Tidak,” ucapnya menatap wajah hitam Naomi. “Dia memanfaatkanku supaya bisa menjauhkan Nona Amelia dari dirinya.”

Naomi mengangkat bahu mendapat jawaban datar dari Lucia. “Senang kau kembali ke sini.”

“Ngomong-ngomong, kemana Salma dan Monica?”

“Kau belum dengar?”

“Dengar apa?” Keningnya berkerut, Lucia mengatur setelan cuci piring sebelum menatap Naomi. “Apa yang tidak aku tahu?”

“Mereka berdua diusir oleh Señor Louis, esok akan datang pelayan baru ke sini, tentu saja bukan dari Nona Amelia, aku benar-benar kesal melihat wajahnya setiap saat, dia terobsesi dengan Tuan Louis.”

Tidak ada yang lebih lega dari informasi perginya Salma dan Monica, Lucia mendesah pelan sambil memegang dadanya yang berdetak kencang. Dia diam sesaat, bibirnya menyunggingkan senyuman kecil. “Aku rasa aku akan baik-baik saja.”

“Ya, mereka iri padamu karena wajah cantikmu, Lucia.”

“Aku akan ke atas untuk melihat apa ada yang harus dikerjakan.”

Naomi mengangguk, membiarkan perempuan yang berseragam sama dengannya naik ke lantai dua. Kening Lucia berkerut saat melihat Norman yang mengambil koper besar dari kamar Louis, dia menahan jalan pria itu sesaat. “Apa seseorang akan pergi, Señor?”

“Sí, Señor Louis akan pergi ke Palma.”

“A… apa?” Mulut Lucia terbuka, dia menyingkir saat Norman menuruni tangga. Lucia menelan ludahnya kasar, dia melangkah menuju kamar pria itu yang tidak ditutup. Terlihat Louis yang sedang menelpon membelakangi, Lucia mengetuk pintu sebelum masuk dan menutup pintu.

Louis selesai menelpon. “Sepertinya tidurmu nyenyak,” sindirnya menatap cahaya matahari sore yang masuk menerobos ke dalam kamar luas itu.

“Kau akan berpergian, Señor?”

Pria yang memiliki bulu-bulu halus di pipinya itu menulis sesuatu di sebuah note book, entah apa itu. Dari gerak-geriknya, Lucia tahu pria itu akan pergi.

“Kenapa kau kemari? Kau ingin menerima penawaran atau berterima kasih telah menyingkirkan Amelia?”

Fokus Lucia terdapat pada foto yang tersusun dalam rak dinding, dia mendekat dan mengambil salah satunya. “Kau donatur untuk anak-anak yatim ini, Señor?”

Lagi, Lucia tidak diberi jawaban. Pria itu malah duduk di sofa dan memandangnya tanpa emosi.

“Apa yang kau lakukan jika memiliki anak?” Pertanyaan itu Lucia berikan dengan suara tercekat.

Dengan wajahnya yang datar, Louis menjawab, “Aku tidak memilikinya, jadi jangan memikirkan yang tidak pasti.”

“Kau tidak ingin memiliki anak? Bukankah kau menjadi donatur anak-anak itu?”

Bulu kuduk Lucia berdiri ketika melihat Louis menyunggingkan senyuman. “Mereka aku beri makan untuk bekerja di kartelku kelak.”

Kalimat yang mengingatkan Lucia pada Dany.

“Aku membuat mereka membutuhkanku. Dan aku akan menyingkirkan sesuatu yang manjerat langkah, seperti anakku.” Kini hanya keheningan, manik mereka saling beradu. “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?”

Menjerat langkah, dua kata yang terngiang di kepala Lucia. Bagaimana jika Louis bertemu Louisa? Lalu anaknya meminta semua hal pada Louis yang mungkin akan dianggap pria itu menyebalkan, membuatnya kesal. Lucia takut wajah antusias Louisa saat melihat ayahnya datang akan berubah menjadi kekecewaan. Lebih parahnya, Louisa tahu bagaimana wajah Louis. Dia yakin putrinya akan memeluk, menembak dengan berbagai pertanyaan. Lucia tidak ingin putrinya ditemukan jika berakhir menyedihkan.

Maka dari itu, Lucia perlahana membuka kancing kemejanya. Dia mencoba tenang, wajahnya menggambarkan air danau yang bahkan tidak bergerak oleh angin. Namun, maniknya tidak bisa berbohong dengan ketakutan yang sedang mengikat.

“Aku menerima tawaranmu, Señor.”

Louis seakan tahu hal ini akan terjadi, dia menyeringai, tangan kirinya terlurur. “Kemarilah.”

“Jangan pergi, tetaplah di sini.”

“Kemari, biar aku memutuskan.”

Dengan berat hati, kakinya melangkah mendekati Louis dan duduk menyamping di pangkuannya. Lucia membiarkan pria itu menyingkirkan rambut di bahunya, sebelum memberi ciuman dan naik hingga meraup bibir. Tangannya menarik supaya tubuh perempuan itu lebih dekat, rapat hingga Louis bisa leluasa melakukan apapun dengan tangannya.

Rasa geli menyerang Lucia. Bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang Louis cukup panjang dari biasanya, membuat perempuan itu merasakan tusukan bulu itu di bibirnya. Apalagi ketika Louis yang mendominasi, mengalahkan Lucia hingga gerakannya benar-benar terbatas.

“Katakan padaku apa yang membuatmu berubah pikiran,” ucap Louis melontarkan pertanyaan di sela-sela tangannya yang merayap di punggung Lucia. “Katakan…”

Mata Lucia terpejam merasakan bibir Louis yang mengecupi lehernya, tubuh mereka rapat. “Aku…..” Tubuh Lucia bergetar tatkala Louis mengangkat tubuhnya dan membantingnya pelan di kasur.

Pria itu merangkak ke atas ranjang. Kembali memberi ciuman hingga membuat Lucia mulai berkeringat, Louis memberinya sensasi aneh yang membuatnya ketagihan. Pikirannya sudah tidak waras, berbanding terbalik dengan hatinya.

Yang Lucia lakukan hanya meremas rambut Louis, menjambaknya menyalurkan atas apa yang dia rasakan, atas apa yang pria itu lakukan pada tubuhnya.

“Señor…..” tubuh Lucia bergetar tatkala tangan itu merayap di perut Lucia lalu turun ke pahanya.

Louis mencium leher, bahu, dada, lalu naik lagi, begitu seterusnya hingga membuat Lucia lelah bahkan sebelum dimulai. Tatkala kepala mereka bersejajar, saling menatap, Lucia melihat manik yang dipenuhi gairah.

“Lihat aku.”

“Señor…”

“Ssssttt… buka matamu.”

“Señor….”

Entah mengapa sensasi itu justru membuat tangan Lucia mendorong dada Louis. Rasanya sakit, hingga perlahan berubah menjadi hal lain. Lucia merasa sangat haus, keringat menetes jatuh menelusuri dadanya, kedua tangan Lucia mencengkram punggung Louis, memeluk lehernya kuat ketika sensasi itu kembali untuk yang kesekian kalinya.

“Open your eyes, Lucia.”

“No…” satu kata yang mewakili frustasinya. “Señor…”

“Shit,” umpat Louis ketika Lucia mengigit lehernya menyalurkan apa yang dirasakan.

“I’m tired.”

“Sebentar lagi…”

Wajah Lucia berpaling ke arah kanan, membiarkan Louis dengan leluasa menciumi lehernya. Bukan untuk memberi pria itu, tapi Lucia terpesona pada matahari terbenam yang berwarna orange. Setengah bulatannya sudah hilang ditelan bumi. Bersamaan dengan matahari terbenam sepenuhnya, Louis menyelesaikan semuanya, membuat Lucia tidak bernapas untuk beberapa saat, merasakan perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.

Bagi Lucia, ini adalah adegan paling erotis dalam hidupnya. Bagaimana tidak, dirinya telanjang bulat sementara Louis memakai pakaian lengkap. Jas serta dasi masih menempel, celananya tidak melayang kemanapun, dirinya masih rapi, berbeda dengan Lucia yang benar-benar tidak tertutup apapun. Lebih parahnya, Lucia tengkurap di atas tubuh Louis sambil menertralkan napasnya, pandangannya tertuju pada bagian luar jendela.

Beberapa saat mereka seperti itu, hingga tangan Louis mulai menelusuri lagi garis punggung Lucia. Membuat perempuan bermanik biru itu bergerak tidak nyaman, dia bahkan belum mengumpulkan kesalahannya. Lucia mengantuk.

“Señor…” Tangannya mencoba mendorong kembali Louis yang berada di atasnya, tapi bagian tubuh yang lain menerima pria itu begitu saja. “Aku lelah…”

“Tetap terjaga,” ucapnya mencium bibir Lucia, menggigitnya pelan supaya mata birunya kembali terbuka.

Tidak ada yang bisa dilakukan Lucia, membiarkan Louis melakukannya lagi mungkin adalah cara baginya menahan pria itu.

Sayang, semua tidak berjalan sesuai rencana. Ketika Lucia kehabisan tenaga, dirinya terlelap dengan posisi Louis yang masih bersama dengan dirinya.

Pria itu terkekeh, dia menggigit leher Lucia. “Oh shit,” umpatnya pelan, tapi penuh penekanan ketika melepaskan diri dari Lucia.

Louis beranjak dari ranjang, menutupi tubuh perempuan yang tidur tengkurap sampai sebatas pinggul. Entah mengapa bagian kesukaannya adalah ketika melihat Lucia tertaklukan, kelelahan hingga akhirnya berakhir menenggelamkan manik birunya.

Mengganti bajunya, Louis berjalan ke arah walk in closet. Manik hitamnya tidak lepas dari sosok yang berada di atas ranjang, terlelap dalam gairah.

Hal pertama yang dilihat Louis saat keluar kamar adalah Norman yang berjaga di sana. “Sejak kapan kau berada di sini?”

“Tiga jam yang lalu, Señor, sejak perempuan itu masuk ke dalam kamarmu.”

“Kenapa tidak kau tinggalkan?” Tanya Louis dengan wajah datarnya, dia melangkah dari sana diikuti oleh Norman.

“Karena pintunya tidak terkunci, aku khawatir seseorang menerobos masuk.”

Kali ini Louis memilih diam, pikirannya mengelana.

Hingga Norman menyarankan, “Lebih baik kau pasang peredam suara di kamarmu, Señor, rintihannya bisa disalah artikan oleh yang lain.”

Louis terkekeh tidak percaya. “Dia menyukainya,” ucapnya keluar dari mansion menuju mobil biru yang sudah terparkir di sana.

Ketika Norman membuka bagasi mobil, Louis tersenyum mendapati empat senapan. Salah satunya Louis pegang, dia mencobanya dengan mengarahkan pada pohon, lalu menembakannya. Suaranya yang halus membuat pria itu puas.

“Sebenarnya apa yang akan kau lakukan di Palma, Señor?”

“Aku akan berburu.”

---

Love,

ig : @Alzena2108

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

apa Loeis sudah mencium keberadaan Loeisa..??

2024-11-01

0

Bunga Istiqomah

Bunga Istiqomah

💜💜💜💜💜

2024-06-13

0

Hatiku Hati Hati

Hatiku Hati Hati

cerdas memang lucia ini bah

2023-07-16

1

lihat semua
Episodes
1 Prologue : Holla, Señorita.
2 La Señorita 1 : El Embarazo
3 La Señorita 2 : Año de llanto
4 La Señorita 3 : Amenaza de muerte
5 La Señorita 4 : Acantilados
6 La Señorita 5 : Fin de la Muerte
7 La Señorita 6 : Niña Pequeña
8 La Señorita 7 : Plan Malvado
9 La Señorita 8 : Arrepentimiento profundo
10 La Señorita 9 : Fue atrapado
11 La Señorita 10 : Otro peligro
12 La Señorita 11 : Jaguares negros
13 La Señorita 12 : Acercándose
14 La Señorita 13 : Ser pisado con dureza
15 La Señorita 14 : Alejarse de Louis
16 La Señorita 15 : Con Louis de vuelta
17 La Señorita 16 : Derrota de Lucía
18 La Señorita 17 : Primer encuentro
19 La Señorita 18 : Plan oculto
20 La Señorita 19 : Sorpresa de Louis
21 La Señorita 20 : Mi familia
22 La Señorita 21 : Hipócrita
23 La Señorita 22 : Viejo enemigo
24 La Señorita 23 : Elección difícil
25 La Señorita 24 : Abrazo Papi
26 La Señorita 25 : El ultimo diamante
27 La Señorita 26 : Quedate conmigo
28 La Señorita 27 : Realidad dolorosa
29 La Señorita 28 : Los sentimientos de Louis
30 La Señorita 29 : Sentimiento Abierto
31 About Little-Zee
32 La Señorita 30 : Segundo embarazo
33 La Señorita 31 : Terminar juntos
34 La Señorita 32 : Venganza que Surge
35 La Señorita 33 : La Promesa del Jaguar
36 La Señorita 34 : Un viaje
37 La Señorita 35 : Mar y Amor
38 La Señorita 36 : El corazon
39 La Señorita 37 : Les Jaguares
40 La Señorita 38 : Presentador
41 La Señorita 39 : Susurros
42 La Señorita 40 : Empezando a debilitarse
43 La Señorita 41 : Ojos despiertos
44 La Señorita 42 : Lágrimas felices
45 La Señorita 43 : Una carta de padre
46 La Señorita 44 : Papa es igual
47 La Señorita 45 : Ese es nuestro papa
48 La Señorita 46 : Decepcionado por la situación
49 La Señorita 47 : Deseos en promesas
50 La Señorita 48 : Decisión en lágrimas
51 About my self
52 La Señorita 49 : Algo escondido
53 La Señorita 50 : El matrimonio
54 La Señorita 51 : I am Louis
55 I am Louis
56 After Marriage 1
57 After Marriage 2
58 After Marriage 3
59 After Marriage 4
60 After Marriage 5
61 After Marriage 6
62 After Marriage 7
63 After Marriage 8
64 After Marriage 9
65 After Marriage 10
66 After Marriage 11
67 After Marriage 12
68 After Marriage 13
69 After Marriage 14
70 After Marriage 15
71 After Marriage 16
72 After Marriage 17
73 After Marriage 18
74 After Marriage 19
75 After Marriage 20
76 After Marriage 21
77 After Marriage 22
78 After Marriage 23
79 After Marriage 24
80 After Marriage 25
81 After Marriage 26
82 After Marriage 27
83 After Marriage 28
84 After Marriage 29
85 After Marriage 30
86 After Marriage 31
87 After Marriage 32
88 After Marriage 33
89 After Marriage 34
90 Ekstra Part 1
91 Ekstra Part 2
92 Ekstra Part 3
93 Buku Cetak
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Prologue : Holla, Señorita.
2
La Señorita 1 : El Embarazo
3
La Señorita 2 : Año de llanto
4
La Señorita 3 : Amenaza de muerte
5
La Señorita 4 : Acantilados
6
La Señorita 5 : Fin de la Muerte
7
La Señorita 6 : Niña Pequeña
8
La Señorita 7 : Plan Malvado
9
La Señorita 8 : Arrepentimiento profundo
10
La Señorita 9 : Fue atrapado
11
La Señorita 10 : Otro peligro
12
La Señorita 11 : Jaguares negros
13
La Señorita 12 : Acercándose
14
La Señorita 13 : Ser pisado con dureza
15
La Señorita 14 : Alejarse de Louis
16
La Señorita 15 : Con Louis de vuelta
17
La Señorita 16 : Derrota de Lucía
18
La Señorita 17 : Primer encuentro
19
La Señorita 18 : Plan oculto
20
La Señorita 19 : Sorpresa de Louis
21
La Señorita 20 : Mi familia
22
La Señorita 21 : Hipócrita
23
La Señorita 22 : Viejo enemigo
24
La Señorita 23 : Elección difícil
25
La Señorita 24 : Abrazo Papi
26
La Señorita 25 : El ultimo diamante
27
La Señorita 26 : Quedate conmigo
28
La Señorita 27 : Realidad dolorosa
29
La Señorita 28 : Los sentimientos de Louis
30
La Señorita 29 : Sentimiento Abierto
31
About Little-Zee
32
La Señorita 30 : Segundo embarazo
33
La Señorita 31 : Terminar juntos
34
La Señorita 32 : Venganza que Surge
35
La Señorita 33 : La Promesa del Jaguar
36
La Señorita 34 : Un viaje
37
La Señorita 35 : Mar y Amor
38
La Señorita 36 : El corazon
39
La Señorita 37 : Les Jaguares
40
La Señorita 38 : Presentador
41
La Señorita 39 : Susurros
42
La Señorita 40 : Empezando a debilitarse
43
La Señorita 41 : Ojos despiertos
44
La Señorita 42 : Lágrimas felices
45
La Señorita 43 : Una carta de padre
46
La Señorita 44 : Papa es igual
47
La Señorita 45 : Ese es nuestro papa
48
La Señorita 46 : Decepcionado por la situación
49
La Señorita 47 : Deseos en promesas
50
La Señorita 48 : Decisión en lágrimas
51
About my self
52
La Señorita 49 : Algo escondido
53
La Señorita 50 : El matrimonio
54
La Señorita 51 : I am Louis
55
I am Louis
56
After Marriage 1
57
After Marriage 2
58
After Marriage 3
59
After Marriage 4
60
After Marriage 5
61
After Marriage 6
62
After Marriage 7
63
After Marriage 8
64
After Marriage 9
65
After Marriage 10
66
After Marriage 11
67
After Marriage 12
68
After Marriage 13
69
After Marriage 14
70
After Marriage 15
71
After Marriage 16
72
After Marriage 17
73
After Marriage 18
74
After Marriage 19
75
After Marriage 20
76
After Marriage 21
77
After Marriage 22
78
After Marriage 23
79
After Marriage 24
80
After Marriage 25
81
After Marriage 26
82
After Marriage 27
83
After Marriage 28
84
After Marriage 29
85
After Marriage 30
86
After Marriage 31
87
After Marriage 32
88
After Marriage 33
89
After Marriage 34
90
Ekstra Part 1
91
Ekstra Part 2
92
Ekstra Part 3
93
Buku Cetak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!