Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Manik biru itu perlahan membuka mata merasakan hangatnya sinar mentari menerobos menghangati punggung telanjangnya. Lucia mengumpati dirinya sendiri yang kembali tidur melewati batas waktu, membuat kepalanya pening selama beberapa saat. Semua yang ada dalam pandangannya terasa berputar, tanpa henti hingga hampir membuatnya mual.
Selama beberapa saat, Lucia bertahan di posisinya yang tengkurap, mengingat kembali apa yang tengah dilakukannya bersama Louis. Kekejaman dan napsu pria itu benar-benar seimbang, sama besarnya hingga tubuh Lucia terasa remuk. Tidak cukup satu kali bagi Louis untuk menyelesaikan semuanya.
Ketika terdengar suara ketukan pintu, Lucia menyadari Louis tidak ada di sampingnya. Dia segera duduk, merapatkan selimut menutupi seluruh badan, hanya kepalanya saja yang keluar terlihat.
“Masuk,” ucap Lucia bersiap.
Pikirnya, Louis yang masuk, tapi ternyata itu Naomi. Dia datang dengan wajah terkejut, dia menutup pintu seketika dan memandang tidak percaya sambil senyum mewarnai wajahnya. “Sudah aku duga kau bersama tuan!”
“Naomi, aku bisa jelaskan.”
“Kau tidak perlu jelaskan.” Dia menyimpan lima papper bag di atas kasur. “Ini pakaian untukmu, akhirnya kau menjadi Señora di mansion ini, pantas saja Nona Amelia mencurigaimu sejak awal.”
“Tidak, tidak begitu.” Lucia mencoba menghentikan wajah antusias Naomi. “Kami hanya… hanya…”
“Sudahlah, kau mandi saja dulu, aku akan menyiapkan sarapanmu.”
“Naomi, Naomi, tunggu! Naomi.”
Wanita itu lebih dulu menutup pintu sebelum Lucia menanyakan keberadaan Louis. Perempuan itu mengambil papaper bag dengan kakinya. Membuka satu per sau isinya.
Papper bag pertama berisi pakaian, begitu pula yang kedua. Yang ketiga berisi pakaian dalam berwarna-warni, membuat mata Lucia membulat sempurna. Papper bag keempat berisi make-up lengkap sampai Lucia dibuat terkejut dengan adanya sabun pembersih kewanitaan.
“Pria itu….,” gumamnya memasukan kembali isinya ke dalam papper bag.
Dan yang terakhir, Lucia mendapatkan banyak pembalut, yang mana membuatnya terkaget seketika. Lucia menelan ludah kasar, dia mengambil sabun, sikat gigi, pakaian dalam dan gaun casual berwarna peach.
Merasa tidak akan ada yang masuk, Lucia berlari sambil mendekap barang-barang itu ke kamar mandi. Matanya takjub akan kamar mandi yang didominasi warna hitam putih. Bukan bathub yang ada di sana, melainkan jacuzzi dengan air yang mengalir dari arah tepian. Ini menjelaskan kenapa jacuzzi di balkon tidak pernah digunakan, tepian jacuzzi dalam kamar mandi Louis dipenuhi batuan terapi, juga tumbuhan yang menggambarkan suasana hutan.
Ada sebuah tablet yang tergeletak di samping jacuzzi, Lucia mengambilnya setelah setengah tubuhnya masuk ke dalam air. Bahasa China tidak dapat Lucia mengerti, dia asal menekan ikon dalam tablet itu. Dan tiba-tiba saja dia merasakan ait itu mulai menghangat.
“Oh gosh,” gumam Lucia takjub. Dia menekan tombol lain secara beruntun dengan jeda. Hingga akhirnya dia dibuat berteriak akibat air yang berubah menjadi panas, Lucia keluar dari kolam dan menatap horror air yang mengeluarkan asa. “Apa pria itu ingin merebus dirinya sendiri?”
Segera Lucia menekan tombol pertama yang membuay air menjadi netral. Masih penasaran, dia menggeser layar lalu menekan tombol lain.
“Waaahhh.” Lucia terpukau dengan dinding yang kini berubah menjadi gambar hutan cemara yang awalnya hanya hitam saja. Mulai suka mengubah gambar di sana, Lucia mencoba satu per satu hingga pilihannya jatuh pada hutan Sycamore, mengingatkannya pada Louisa yang berada di Palma.
Tablet itu terasa tidak menyenangkan lagi baginya, Lucia menyimpannya dan menenggelamkan diri dalam air. Pantaskah dia menjadi seorang ibu disaat dirinya berusaha memisahkan seorang anak dan ayah? Hatinya mencari pembenaran, bahwa semua yang dilakukan ini untuk keamanan Louisa. Namun, otaknya menentang, dipondasi oleh logika bahwa dirinya telah berbuat banyak kesalahan. Kebohongan pada Louisa, janji manis yang diucapkannya pada putrinya begitu banyak, memupuk harapan dengan mimpi-mimpi yang tidak mungkin diraih.
Maka darinya, Lucia mencoba menerima jalan hidup. Mungkin dia harus melayani Louis untuk bisa bersama Louisa.
Cukup lama membereskan diri, Lucia keluar kamar. Keningnya beekerut mendapati seorang wanita tengah membaca koran sambil duduk di sofa, ruangan yang ada di samping kamar Louis.
“Señorita,” ucapnya ketika matanya bertemu dengan Lucia. “Aku Durina, pelayan sekaligus pengawal pribadimu, Señorita.”
“Apa?” Kening Lucia berkerut saat tangan mereka bersalaman.
“Aku rasa kau mendengarnya, Señorita.”
“Pelayan dan pengawal?”
“Ya, aku yang akan menemanimu ke kantor polisi hari ini, untuk masalah Nona Amelia.”
“Oh, begitukah?” Lucia berjalan dengan penuh kebingungan menuruni tangga. Matanya menagkap wajah-wajah pelayan baru di sana. Ada sedikit rasa aneh ketika dirinya diikuti Durina dari belakang, wanita yang memakai kaos dan jeans panjanh itu terlihat sangar dari wajahnya, dia lebih pantas menjadi penjahat menurut Lucia, jika dilihat dari wajah.
“Señorita, sarapanmu sudah siap.”
“Berhenti memanggilku seperti itu, Andrean,” bisiknya ketika pria tua itu mendekat. “Aku akan ke kamar dan berpakaian, tenang saja.”
“Apa yang kau lakukan?” Tangan Andrean menahan Lucia yang hendak melangkah menuju kamarnya. “Sarapan sudah disediakan, jangan buat kami kerepotan dan membuat Señor Louis marah, Señorita.”
“Aku bukan Señorita kalian.”
“Señor Louis berpesan untuk melayanimu dengan baik, aku manuruti perintahnya, Señorita.”
“Berhenti memanggilku Señorita.”
Kali ini kalimat yang diucapkan Lucia cukup keras, membuat beberapa pelayan menoleh ke arah mereka, begitu pula dengan Naomi.
Menghindari menjadi topik pembicaraan, Andrean menarik Lucia ke koridor menuju ruang bawah tanah. Setidaknya di sana cukup sepi hingga tidak akan ada yang mendengar.
“Berhenti membuat keributan dan sarapanlah.”
“Aku masih pelayan, Andrean.”
“Tidak lagi, kau menerima Tuan Louis, dia mengklaimu sebagai miliknya.”
“Ya, sebagai pemuas napsunya, aku tidak punya cara untuk menghentikannya pergi ke Palma.”
Andrean terdiam, menampilkan ekspresi yang membuat Lucia khawatir. “Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Kau tahu tidak selamanya kita bisa menyembunyikan rahasia, Lucia.”
“Katakan, Andrean, jangan buat aku menunggu.”
“Malam tadi, Señor Louis pergi ke Palma bersama Norman.”
“A--apa? Tidak mungkin.”
***
Suara denting pintu menandakan ada seseorang yang masuk. Pria berbadan besar yang tengah membersihkan senjata itu melihat ke asal suara, tertawa ketika seseorang yang datang adalah pria yang dikenalnya. “De La Mendoza!” Tangannya merentang menyambut pria bertubuh kekar itu.
Mereka berpelukan sesaat sebelum Louis mengedarkan pandang. “Kau perlu memperbaharui senjata ini, Charlie.”
“Oh, ayolah, senjata bagus selalu aku simpan di tempat yang aman, Louis.”
Charlie mengeluarkan sesuatu dari laci uang, sebuah foto yang menunjukan rusa jantan yang tengah mati. “Aku berburu di hutanmu, mereka sudah tumbuh dewasa.”
Louis mengambil salah satu pistol, dia menatap ke arah yang sama. “Ya, maka darinya aku datang.”
“Apa yang kau rencanakan hingga datang ke Palma?”
“Kau pikir apa? Pembantaian lagi?” Louis bertanya diselingi nada bercanda.
Pria berperut buncit itu berdecak. “Pasti ada alasan khusus kau datang kemari.”
“Aku datang untuk melihat rusa yang aku lepaskan, Charlie.”
“Kau masih memimpin kartel?”
Louis yang sedang membidik menurunkan senjatanya, dia menatap pria itu tanpa ekspresi. “Kau pikir bagaimana?”
“Baiklah, kapan kau datang?”
“Pagi tadi, aku menuju villa.”
“Villa tengah hutan, orang-orang membicarakan villa itu berhantu.”
Louis terkekeh, dia mendekat dan memberikan kembali pistol itu. “Ya, aku juga memelihara hantu akhir-akhir ini.”
“Kau tahu?” Charlie tertawa, dia membungkukan badan yang disangga dengan etalase. “Penjaga villa di sana sangat cantik dan imut.”
“Siapa?” Kali ini Louis memperlihatkan jelas ketertarikannya pada pembicaraan ini.
“Kalau tidak salah dia bernama Lucia, dia memiliki mata yang indah.”
“Kau mengenalnya?”
“Kami beberapa kali bertemu saat dia mengajak putrinya ke toko mainan di depan sana.”
Jantung Louis berdetak kencang, entah karena apa. Dia mendekat, membuat Charlie menegakan badannya.
“Katakan apa yang kau tahu.”
“Tentang apa?” Tanya Charlie masih diselingi lelucon. Melihat raut wajah Louis yang serius, dia berdehem. “Tentang Lucia?”
“Katakan.”
Charlie menelan ludah kasar ketika dia melihat Louis mengeluarkan pistol dari balik saku belakangnya. Kedua tangan pria gemuk itu terangkat ke udara. “Oke, oke, aku tidak tahu apa hubunganmu dengan wanita itu, yang aku tahu dia begitu cantik dan memiliki seorang putri berumur empat tahun. Kau melewati sekolahnya tadi.”
“Kenapa kau pikir itu putrinya? Ada penjaga villa selain dia di sana.”
Charlie tertawa, kali ini dia tidak merasa tegang lagi hingga menurunkan tangannya. “Rani? Wanita itu tidak jadi menikah dengan Majnu karena tidak dapat memberinya keturunan.”
“Siapa nama anak itu?”
“Wow, Louis, tenanglah!” Kini Charlie panik ketika pistol itu diarahkan padanya. Tangannya kembali terangkat. “Aku tidak tahu siapa namanya, tapi semua orang memanggilnya Lee.”
Louis termenung, tatapannya tidak fokus dan perlahan tangannya menurunkan senjata yang sedang dipegangnya. “Berikan aku isi dari Arckansass 224.”
“Louis, aku tidak memilikinya.”
“Aku tahu anak buahku mengirimnya kemari, berikan padakku.”
“Oke, oke, kau bersikap aneh pada kedatangan pertama.” Charlie mengeluarkan kotak kayu dari ruang tersembunyi di bawah kakinya, memilih salah satu hingga menemukan apa yanh dicari. Dia memberikannya pada Louis.
Tanpa sepatah katapun, pria itu keluar dari sana. Namun, ketika tangan Louis mencapai pintu, Charlie berucap, “Kau tahu, aku pikir anak itu mirip denganmu, Louis.”
Setelahnya hanya terdengar pintu tertutup secara kasar. Norman yang melihat kedatangan Louis segera membuka pintu mobil, pria latin itu mengerutkan kening saat Louis memandang toko sebrang yang bertuliskan ‘Lollipop.’
“Ada apa, Señor?”
Tanpa diduga, Louis melangkah menuju tempat itu. Norman yang pikir Louis dalam kendali alkohol segera mengikutinya. “Kau baik-baik saja, Señor?”
Terlambat, Louis masuk ke sebuah toko yang di dalamnya dipenuhi anak-anak yanh sedang membeli mainan, apalagi ini musim panas, menambah jumlah pengunjung.
“Señor.” Norman kembali berujar ketika Louis memegang sebuah boneka barbie. Matanya menatap sekeliling sebelum berbisik pada tuannya. “Apa kau berencana menyelundupkan sesuatu di toko ini?”
“Diamlah, Norman, panggil pegawai di sini,” ujar Louis dengan pandangan terfokus pada boneka barbie.
Dipenuhi kebingingan, Norman melangkah pergi memanggil karyawan yang berpenampilan seperti anime Jepang. Dia mendekat pada Louis dan memberi salam dalam bahasa jepang sebelum bertanya. “Ada yang bisa aku bantu, Tuan?”
“Mainan apa yang biasa digunakan oleh anak-anak saat musim panas?”
“Laki-laki atau perempuan.”
“Perempuan.”
Wanita itu mengambil sekeranjang perlatan bermain pasir. “Musim panas identik dengan pantai, sebagian anak lebih suka bermain pasir bersama keluarga.”
“Ambil itu, Norman.”
“Ya?” Tahu tuannya tidak main-main, Norman segera membawa keranjang dan memasukan mainan itu ke dalamnya.
Apapun yang disarankan wanita itu, Louis turuti dan segera memerintahkan Norman. Hingga akhirnya, mereka membawa dua kantong besar berisi mainan.
Ketika Louis sedang membayar, seorang wanita tua berkulit hitam itu tertawa. “Sepertinya kau sangat menyayangi putrimu,” ucapnya menatap semua mainan Louis.
“Ya, aku membeli secara acak untuk mencari tahu apa yang disukainya.”
“Berapa usia putrimu?”
“Empat tahun, kurasa. Sampai jumpa.”
Norman yang berada di belakang Louis itu mengerutkan kening dalam, memikirkan tuannya yang meminum alkohol berkadar tinggi.
“Kita langsung pergi ke villa di Palma.”
“Bukankah kau ingin menawar kapal pesiar milik keluarga Montenegro?”
“Kita akan melakukannya lain kali.”
***
Villa yang terdapat di tengah hutan. Di bagian utara, terdapat gunung dan lembah yang dipenuhi pepohonan dan hewan buruan. Louis menatap bangunan yang sudah lama tidak dia kunjungi. Untuk kebersihan, villa itu dijaga dengan baik, hanya saja ada bagian yang memang seharusnya direnovasi.
Norman pergi lebih dahulu untuk memastikan orang di dalam. Namun, dia kembali dengan wajah kebingungan. “Tidak ada siapapun di sini, Señor.”
Louis turun, dengan membawa kantong mainan.
“Pintunya terkunci.”
“Ini bukan pertama kalinya kita dalam situasi seperti ini,” ucap Louis mengeluarkan senjata api. Dia menembak kaca hingga pecah, membuat tangannya dengan mudah membuka kunci dari dalam. Diikuti Norman, keduanya masuk ke dalam.
“Periksa lantai utama, aku akan ke lantai dua.”
“Sí, Señor.”
Kaki itu menaiki tangga kayu, berdecit menandakan bangunan ini sudah berumur. Pandangan Louis terpaku pada pintu kamar berwarna merah muda, dia melangkah menuju ruangan itu. Wajahnya datar, terlihat tenang, tapi tidak dengan jantungnya ketika Louis masuk ke dalam sana.
Sebuah ruangan yang didominasi warna pink, terdapat tulisan besar yang menandakan dialah pemilik kamar itu. Satu foto yang membuat Louis tertarik, dua perempuan cantik yang tengah tersenyum. Salah satunya adalah perempuan yang dikenal Louis. Dalam pangkuan Lucia, terdapat seorang anak perempuan yang sedang memegang lollipop. Mata hitamnya begitu legam, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya sehitam arang, bibirnya tipis dengan hidung mancung yang mungil. Makhluk itu adalah perpaduan yang sempurna.
Tangannya membuka laci pertama, terdapat buku album di sana. Louis duduk di pinggir ranjang, membuka halaman pertama yang menyimpan foto seorang bayi yang sedang menguap. Jantung Louis kembali dibuat berdebar karenanya. Semakin lama dia membuka lembaran album, semakin tumbuh seseorang yanh diamati Louis di setiap gambarnya.
Dalam laci kedua, Louis menemukan sebuah amplop berwarna-warni. Salah satunya membuat Louis tertarik, dimana di sana bertuliskan, ‘Dear, Daddy.’
Dengan wajah yang tenang, dia membaca tulisan yang berantakan. Namun, dia tahu apa maksudnya.
Bertuliskan seperti ini :
Dear, Daddy
Jangan terlalu lelah bekerja, Lee tidak ingin mainan banyak, Lee hanya ingin daddy pulang.
Tulisannya yang besar mampu menghabiskan selembar kertas hanya dengan satu kalimat. Semakin lama Louis membaca surat-surat itu, semakin menjalar perasaan aneh yang bermula dari jantungnya.
Suara kedatangan motor membuat Louis tertarik, dia melihat dari lantai dua bagaimana sosok penjaga villa sedang bicara dengan Norman. Namun, Louis tidak menemuman makhluk kecil yang selalu dia perhatikan di setiap fotonya.
Hingga tidak lama kemudian… “Daddy?”
Tubuhnya berbalik, memandang dia yang ada di ambang pintu. Senyumannya lebar, dengan girang dia meneriaki, “Daddy!” Lalu berlari memeluk kaki Louis dengan erat.
Kedua bola mata hitamnya menatap pria yang dia panggil dengan kerinduan, pelukannya begitu erat, memperjelas bagaimana perasaan anak itu.
Louis melepaskan pelukan Louisa padanya, pria itu berjongkok supaya bisa melihat dengan jelas wajah mungil yang bahkan lebih kecil dari telapak tangannya. Jemari Louis membereskan rambut yang menutupi pandangan anak perempuannya, memperjelas bagaimana wajah bulat dengan mata besar dan bibir kecil itu menatapnya penuh kegembiraan.
“Louisa?” Tanya Louis dengan suara tercekat, seolah ada batu yang berusaha dia telan bulat-bulat. Tangannya tidak berhenti mengelus pipi lembut anak itu. “You know me?”
“You’re my dad, right?” Tanya bibir mungilnya, dia mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. “It’s you.”
Louis menatap gambar dirinya dalam majalan yang kini hanya menjadi robekan, menyisakan bagiannya saja.
“Lee menunjukannya pada teman Lee, supaya mereka tahu kalau Lee punya daddy.”
Louis terdiam, tangannya menatap jemari Louisa yang dia elus pelan.
“You’re my dad, it’s true?”
Manik hitamnya membalas tatapan Louisa, membuatnya melihat bagaimana mata bulat itu dipenuhi keingintahuan.
“Yes, i’m.”
Sedetik setelahnya, Louisa memeluk leher Louis erat. Naluri pria itu keluar, dia mengusap kepala Louisa, mencium puncak kepalanya dan menggendongnya. Louis menimang, mengusap punggung dan mengecup kepalanya berulang kali. Pria itu lebih suka berkomunikasi secara fisik ketimang memperlihatkan lewat ekspresi wajah.
Ketika Louisa menegakan tubuhnya, manik mereka kembali bertatapan.
“Mengapa daddy begitu lama di Madrid?”
“Apa yang Mommy katakan padamu?”
Kedua mata Louisa menatap ke atas, seakan berpikir keras. Membuat Louis gemas dan memberi ciuman di pipinya. Aroma bayi membuat pria itu ketagihan untuk terus melakukannya, membuat Louisa tertawa kegelian.
“Mum bilang daddy sedang bekerja.”
“Ya, daddy memang sedang bekerja.”
“Tapi kenapa pekerjaan daddy membutuhkan mum?”
Louis duduk di ranjang, dia membereskan rambut Louisa dan merangkup kedua pipinya. “Apa kau ingin seorang adik?”
“Ya, untuk teman.” Louisa nampak antusias.
“Butuh kerja keras bersama mum agar daddy bisa memberi adik untukmu.”
“Really?” Mata bulatnya terlihat berbinar, apalagi ketika Louis mengangguk.
“Apa daddy bawa mainan?”
“Of course i have, there,” tunjuknya pada dua kantong besar.
Louisa turun seketika dari pangkuan Louis, dia berlari dengan kaki kecilnya, membongkar semua mainan itu dengan mata yang berbinar. Suara tawa, mata yang bercahaya, semua itu membuat jantung Louis berdetak kencang.
Bagaimana sosok mungil itu ada, tersembunyi, tanpa dia sadari. Perasaaan itu menggelitik, terasa ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Louis bahagia, tapi dia tidak bisa mengekspresikannya dengan kata-kata. Yang dia lakukan hanya melangkah mendekati Louisa, menatap mata bulatnya sambil mengusap pipinya.
Ekspresi datar Louis membuat senyun Louisa luntur. Pikirnya, ayahnya sedang bersedih. “What happen, Daddy?”
Bukan jawaban yang didapatkan, melainkan pelukan. Pria itu mengusap rambut putrinya, menciumnya, kemudian berkata, “I’m here, kau akan selalu bersamaku, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, little bunny.”
Louisa tertawa, bukan karena kata-kata itu, melainkan suara Louis yang menggelitik telinganya. Tangan kecilnya merangkul, memeluk leher Louis. “I love you too, Daddy.”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
diluar ekspektasi... ternyata Loeis bisa menerima Loeisa tanpa drama menodongkan senjata tp... in beneran atau Loeis hanya akting doang?
2024-11-01
0
Sweet Candy🍭
mengharukan pertemuan ayah dan anak😭
2024-12-23
1
Fatimah 12
🥺
2024-10-18
0