Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Palma, Kepulauan Balreas, Spanyol.
“Louisa, come in.”
Louisa, anak perempuan berusia empat tahun yang mengabaikan panggilan ibunya. Dia masih sibuk dengan tumpukan lego yang disusun menyerupai bangunan. Lucia mendekat, duduk di sebelah putrinya, dengan dua kucir mengikat rambut hitamnya.
“Louisa, kau harus makan.”
“No,” ucapnya berpindah tempat membelakangi Lucia.
“Louisa.”
“Are we coming out?” Mata hitam bulatnya menatap penuh permohonan. Pipinya merah, kepanasan akibat musim.
Lucia menggeleng, membuatnya kembali fokus pada mainan sambil melantunkan lagu dengan kata-kata yang kurang jelas dimengerti. Pipinya yang besar membuat Lucia tidak tahan untuk menciuminya hingga Louisa berontak dan cemberut.
“Tidak sekarang.”
“Why?” Memicingkan mata membuat Lucia semakin gemas, Louisa memiliki bulu mata lentik sepertinya.
Lucia mengangkat bahu. “Karena seperti itu aturannya.”
“Tapi Louisa ke sekolah setiap hari,” ucapnya memajukan bibir, membuat Lucia kasihan dengan keinginannya itu dan segera menggendongnya. Dua belas kamar di villa, yang digunakan hanya dua. Lucia tidur bersama Louisa dan beberapa tumpuk mainannya.
Seperti yang dikatakan Rani, Lucia harus menikmati hidup. Dia hanya membayarkan separuh gajinya untuk melunasi utang. Sisanya, dia gunakan untuk puterinya. Villa dan pelayan terbengkalai, hal yang sangat disyukuri Lucia.
“Kita bisa ke taman besok sore, jika itu yang kau mau.”
Louisa mengangguk keras sambil memeluk Lucia sebelum wajah cantiknya berubah muram dan membuat ibunya heran. “What happen?”
“Apa Louisa punya Daddy?”
Tubuh Lucia menegang, matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Dia tersenyum kaku, menenangkan diri dengan mengusap punggung anaknya. “Kenapa kau menanyakan itu?”
“Teman-teman Louisa punya Daddy, kenapa Louisa tidak?”
Keduanya bertatapan. Mata biru Lucia melihat kesedihan dalam manik hitam anaknya, membawanya ikut tenggelam dan merasakan perasaan itu. “Kau punya, Sayang.”
“Where is he?”
Wajah bulat Louisa diusap pelan oleh ibunya, seakan itu adalah benda paling rapuh. Louisa ada harta paling berharga, Lucia tidak akan membuatnya sedih hingga dia berkata, “Di Madrid, sedang bekerja.”
“Kenapa dia tidak pulang menemui Louisa?”
Seakan ada batu lain yang menghantam dada, Lucia sesak menahan tangis. Masa-masa sulit baginya menerima kehadiran Louisa membuatnya ingin memukul diri sendiri, menyesali perbuatan hingga berjanji melakukan apa saja untuk membuat putrinya senang. “Daddy sibuk dengan pekerjaannya.”
“What’s his name?”
Lucia terdiam sesaat, dia memeluk Louisa lalu berbisik, “Louis.”
“That same! like my name,” ucapnya antusias, memperlihatkan gigi susunya yang berjajar rapi.
.
.
Lucia menangis, menyesali perkataannya yang membuat Louisa semakin menggali lebih dalam tentang ayahnya. Bertanya dan terus bertanya hingga Lucia tidak bisa berhenti menjawab. Hanya satu yang tidak Lucia katakan, tentang sisi gelap hidupnya dan Louis.
Dikirianya, dirinya akan tinggal di Palma selamanya, seperti yang Rani katakan. Alih-alih menghabiskan waktu bersama anaknya berdua, Lucia malah dibanjiri air mata akibat perpisahan. Panggilan itu datang begitu saja, seakan Tuhan memberi nasib agar kembali bertemu Louis.
Ketakutan terbesarnya adalah keberadaan Louisa. Dia tidak ingin siapapun tahu tentang putrinya, Lucia ingin melindunginya dari dunia luar yang dingin, dari ayahnya yang mungkin menolak keberadaannya.
Penolakan adalah hal menyakitkan. Baginya sudah biasa, tapi bagi Louisa yang begitu mendambakan sosok ayah, sepertinya hati kecilnya akan hancur berkeping-keping.
“Lucia.”
“Aku memberitahu tentang dia, Rani.” Menatap wanita itu dengan berurai air mata. “Semua tentang Louis, dia tahu.”
“Maaf, aku pikir kau akan selamanya di sini. Sepertiku.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Lucia.” Menggenggam tangan itu menyalurkan kekuatan, Rani menyesal membanggakan dirinya yang bebas di Palma. Namun, kini Lucia malah kembali, berbanding terbalik dari ucapannya.
Suara mobil berhenti di halaman villa membuat Lucia panik. “Aku ingin menemui Louisa sebentar. Tahan mereka, jangan sampai masuk.”
“Pergilah.”
Dia berlari menuju lantai dua, kembali masuk ke dalam kamar putrinya. Masih sama, anaknya masih memejamkan mata begitu damai. Lucia mendekat, menatap lelapnya dia dalam mimpi. Hal yang membuat hati Lucia merasa sakit adalah gambar hasil Louisa, di mana di sana tergambar dirinya, Louis dan Louisa. Berbahagia bersama.
“Mum?”
“Hei, kenapa kau terbangun? Tidurlah.”
“Don’t cry.” Bibir kecilnya bergumam. “Kau akan membawa Daddy pulang ‘kan?”
***
Madrid, Spanyol.
“Kau tidur di tempatmu yang dulu.”
“Kenapa mansion begitu sepi, Andrean?” Matanya melihat sekeliling, tidak ada satu orangpun yang dia lihat selain Andrean sejak datang kemari. “Kemana yang lain?” Langkahnya mencoba mengimbangi Andrean.
“Yang lainnya pergi, Tuan Louis tidak suka kebisingan. Yang tersisa kini hanya kau, dan empat pelayan lain termasuk diriku.”
“Pergi ke mana?” Lucia melangkah semakin cepat, hingga Andrean berhenti di depan pintu kamarnya yang dulu. “Apa mereka sudah melunasi utang mereka?”
“Dimana aturan itu? Jangan banyak bicara dan bungkamlah,” ucapnya pergi begitu saja.
Lucia menghela napas, mendorong pintu yang sudah lama tidak dia tempati.
Masih sama seperti yang dia tinggalkan lima tahun lalu, hanya berdebu dan gelap. Lucia membuka jendelanya, membiarkan sinar matahari masuk.
“Kau pelayan baru?”
Segera dia membalikan badan, menghadap seorang wanita berseragam pelayan berdiri di ambang pintu. Lucia menggeleng. “Tidak, aku pernah di sini lima tahun yang lalu.”
“Begitukah, lalu kemana kau selama ini?”
“Di Palma, menjaga villa di pulau itu,” ucap Lucia sembari mengganti sprei.
“Kau pasti membuat kesalahan besar sampai harus ke sana,” gumamnya tidak dihiraukan. Lalu kembali melanjutkan, “Aku Salma.”
“Lucia.”
Keacuhan Lucia membuat Salma tertawa hambar, dia mendekat dengan tangan yang tersilang. “Apa kau tahu kenapa sekarang para pelayan di batasi.”
Pikirannya penuh dengan Louisa, jadi dia menggeleng. “Aku tidak peduli.”
Kalimat itu membuat Salma menjambaknya seketika. “Kau tidak tahu sopan santun, apa kau ingin mati?”
Lucia jengah, dia melepaskan diri dan mendorong Salma seketika, hingga wanita yang umurnya lebih tua dari Lucia hampir terkantuk ujung meja. “Aku hanya bekerja di sini, jangan mencari masalah. Aku tidak peduli yang kau lakukan, dan aku mohon jangan pedulikan aku.”
“Hei, Salma, aku mencarimu….,” ucapan wanita yang baru saja tiba terhenti ketika melihat temannya jatuh. Dia segera datang membantu berdiri. “Apa yang terjadi?”
“Gadis sialan ini!”
“Tenanglah.” Monica menahan Salma yang hendak menyerang Lucia. “Tuan Besar akan datang, kita harus menyajikan makan malam.”
Salma mengibaskan tangan, dia menunjuk wajah cantik Lucia. “Kau akan membayar semua ini!” Teriaknya berapi-api dan keluar dari sana.
Monica mendekat, menahan rasa kesal yang juga hampir mengambil alih dirinya. “Kau harus banyak belajar, gadis baru.”
“Yes, i will. Tapi sementara itu tinggalkan aku sendiri.” Tangannya menunjuk pada pintu, tanpa menatap Monica.
Wanita berseragam pelayan itu tertawa hambar, dia menghentakan kaki keluar dari kamar Lucia. Meninggalkannya dengan suara bantingan pintu.
Lucia mendesah, memegang jantungnya yang berdetak kencang. Wajahnya muram, seolah harapan telah direngut oleh takdir. Dia benar-benar merindukan Louisa, putri kecilnya.
Hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk istirahat, Lucia menuju kamar mandi membasuh tubuhnya yang penuh keringat.
Pikirannya berkelana, mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Louisa, harta karunnya yang dia tinggalkan. Tanpanya hidup Lucia terasa hampa, tanpa tujuan.
Dengan penuh kesedihan, dia kembali mengenakan pakaian yang sudah ditanggalkannya lima tahun lalu. Menggelung rambut seperti seharusnya, merapikannya sesuai aturannya.
Lucia memandang dirinya sendiri dalam cermin, terpantul jelas bayangan dirinya lima tahun lalu. Hanya saja terdapat perbedaan, dirinya akan menutup mata, mengabaikan seseorang di sekitarnya untuk mendapat kembali harapannya, Louisa-nya.
Suara ketuka pintu menyadarkan, Lucia segera keluar dan melangkah menuju dapur. Dia melihat tiga wanita --dua diantaranya Salma dan Monica-- menatap kedatangannya penuh kebencian.
“Kau bertugas membereskan lantai dua, bagian dapur adalah milikku,” ucap wanita berkulit hitam.
Lucia mengangguk, sebelum melangkah pergi dia bertanya, “Apa kau tahu kemana Julie pergi?”
“Wanita tua itu? Dia tidak dapat bertahan di sini,” jawab Monica menabrak bahunya ketika berjalan melewati.
Tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, Lucia bergegas menuju lantai dua. Namun, baru beberapa langkah dia menaiki anak tangga, seseorang datang dari pintu utama. Seorang pria berjas abu, wajahnya masih sama seperti dulu. Berkarisma, tampan bagaikan dewa, dan masih membuat jantung Lucia berdetak lebih kencang dari biasanya.
Perempuan bermata biru itu mengalihkan pandang, mendapati kemiripan Louisa dengan tuannya membuat Lucia hampir hilang akal. Dia memilih menjauh, memikirkan cara kembali ke Palma.
“Lucia.”
“Andrean?” Dia mendekat pada pria yang berdiri di depan pintu perpustakaan. Terdapat di lantai dua, berbeda arah dari kamar utama Louis. “Ada apa?”
“Kemari, masuklah,” ucapnya mengajak masuk melihat tumpukan buku, berjajar rapi dan juga berdebu. “Kau lihat buku itu kurang perawatan?”
“Sí.”
“Aku rasa tempat ini cocok untukmu.”
“Sí?” Mencoba memastikan. Kakinya melangkah mengikuti pria tua itu.
Jumlah buku tidak terhingga, begitu banyak rak yang membuat seseorang mungkin tersesat jika pertama kali datang.
Andrean membawanya menuju bagian belakang, menggeserkan rak yang menempel di dinding hingga bergeser dan menuju ruangan lainnya. “Apa ini?” Lucia terlihat bingung, matanya mengedar menatap buku yang memenuhi ruangan, dindingnya terbuat dari tumpukan buku yang disusun rapi. Ada karpet berbulu di tengahnya, juga bantal dan selimut. Jelas tergambar seseorang sering berada di sana.
Di dinding yang tidak tersentuh buku sama sekali, terdapat perapian yang dilapisi kaca, sofa merah dan radio di meja kecil. Benar-benar klasik.
“Apa ini, Andrean?”
“Aku ingin kau menyakin beberapa buku di sini.” Melangkah menuruni lima anak tangga dan mengambil salah satu buku berjilid cokelat dengan ukiran timbul. “Aku tahu tulisanmu bagus, dan aku yakin kau bisa menirukan semuanya.”
“Semua ini?” Lucia masuk lebih dalam. “Semua buku di sini?”
Anggukan Andrean membuat Lucia hampir mengeluarkan bola matanya.
“Perhatikan sikapmu, Lucia. Kau berada lama di Palma hingga lupa cara sopan santun,” gerutunya menatap dengan mata abunya.
Lucia menunduk, kembali memperhatikan buku yang bertumpuk sembarangan. “Apa aku akan mendapat gaji lebih besar jika melakukan itu?”
“Tentu saja.”
“Apa aku akan lebih cepat kembali ke Palma?”
Andrean menyipitkan mata, pria beruban dengan perut buncit mendekat. “Kenapa kau sangat ingin kembali ke Palma?”
“Tidak, aku akan melakukannya.”
“Ya, kau harus. Minimal kau harus menyalin minimal satu buku. Naik ke sini saat semuanya sudah terlelap.”
“Baik, Andrean.”
***
Seperti perintah Andrean, Lucia naik ke lantai dua begitu lampu mansion tengah padam, masuk ke perpustakaan yang hening. Langkahnya begitu pelan, lebih suka mengamati jutaan buku yang begitu mengagumkan. Sesaat dia kehilangan arah melakukan tugas, terlena untuk mendapatkan sesuatu dari sebuah buku. Ilmu yang tidak bisa didapatkan mudah, Lucia berada di pusatnya.
Memegang lampu gantung yang menerangi perpustakaan gelap. Tidak boleh ada cahaya, itu dapat membuat buku menjadi usang, bahkan sinar matahari dicegah dengan segala cara agar tidak masuk tanpa penyaring.
Lucia mendorong dinding seperti yang dilakukan Andrean. Pemilik manik biru itu membulat, mendapatkan seorang pria tengah tertidur miring membaca buku di dekat perapian.
Tubuh Lucia bergetar, mengingat kenangan pahit tentang mereka.
“Masuk.”
“Maaf, Señor.” Menunduk sesaat sebelum masuk menuruni anak tangga. Lucia mencoba tidak memperhatikan, dia duduk di kursi, di daerah yang berlawanan dengan Louis. Pria itu fokus pada buku yang dibacanya, kehangatan api seakan menjadi penikmat tambahan.
Di atas meja terdapat satu buku pertama yang harus dia salin, benar-benar menyerupai aslinya. Sebelum melakukan itu, Lucia mencoretkan pena pada kertas, mencoba setiap huruf yang harus dia tulis sama persis.
Lucia tidak bisa membohongi dirinya, dia tidak bisa konsentrasi dengan adanya Louis, pria tampan itu selalu mengingatkannya akan Louisa.
Begitu pandangan mereka beradu, Lucia segera menunduk. Matanya terpejam menyalahlan diri sendiri ketika merasakan Louis bangkit, mendekat ke arahnya secara perlahan. Mencekam, menakutkan bagi Lucia.
Ketika pria itu menyingkirkan rambut yang menutupi bahunya, Lucia merasakan hembusan napas hangat Louis menyapu lehernya.
Merasakan de javu, untuk Lucia. “Señor…”
“Jika kau tidak menyelesaikan satu buku saja dalam satu malam, kau akan menjadi santapan serigala. Mengerti?”
Menahan napasnya, Lucia menjawab, “Sí, Señor.”
Menatap pria yang kini melangkah mencari buku lain untuk dibacanya. Salahkah Lucia berdusta pada Louisa? Mengatakan Louis adalah pria sebaik malaikat, sekuat dewa yang mampu melindungi mereka saat kembali nanti. Berdasar pada kebohongan, Lucia berkata akan pulang dengan Louis pada putrinya.
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Loeisa menannyakan daddy nya .. tp sayang dia bernasib buruk krn harus memiliki daddy seperti Louis... manusia yg hidup tp mati
2024-11-01
0
Bunga Istiqomah
❤❤❤❤❤
2024-06-12
0
^__daena__^
tapi pertemuan Louisa dan Louis mengharukan 😭
2023-10-25
0