Vote sebelum membaca😘😘
.
.
“No--nothing, Sir,” ucap Lucia mengambil kembali gagang telpon yang dia jatuhkan, berniat untuk menutup panggilan. Namun Luois menahan gerakannya, dia mengambil telpon itu, dengan tatapan tajamnya menunggu suara dari seseorang yang dihubungi.
Lucia tidak dapat menahan ketakutannya, tangannya gementaran, dengan wajahnya gugup. “Señor…”
Pria itu tidak bicara, dia hanya menatap mata biru Lucia hingga akhirnya menutup telpon. “Siapa yang kau hubungi?”
Perempuan yang tinggi badannya hanya sebatas dada Louis itu tetap menunduk, menatap jemarinya memastikan masih ada sepuluh. “Teman lamaku, Señor.” Menjawab dengan ekspresi mencoba tenang.
“Kau punya teman?” Tangan Luois menempel pada dinding, menyudutkan Lucia yang masih menampilkan ekspresi datarnya. “Siapa dia?”
“Rani, penjaga villa di Palma.”
Hembusan napas Luois mengenai kulit kepala Lucia, mendorongnya untuk membalas tatapan pemilik mata hitam, seakan ada yang ingin dikatakan pria itu. Dengan penuh keberanian, Lucia berkata, “Ada hal lain yang ingin anda tanyakan, Señor?”
Terdengar kekehan halus dari mulut Louis, pria itu mundur beberapa langkah. “Bukankah kau memiliki pekerjaan di perpustakaan?”
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Louis sebelum langkahnya menaiki tangga menggema di mansion yang didominasi warna putih tulang. Lucia memegang dadanya, dengan wajahnya yang datar dia menelan ludah kasar. Setidaknya dia berhasil menutupi semua perasaan itu.
Segera Lucia menyusul, mengikuti pria yang melangkah lebih dahulu. Namun, ketika dia sampai di perpustakaan yang tercahayai oleh sinar bulan, tidak ada tanda-tanda Louis. Begitu pula di ruangan membacanya, pria itu sepertinya pergi ke kamarnya.
Ingin segera menyelesaikan semua ini, Lucia mengambil kuas dan tinta yang dia simpan di rak dekat tumpukan buku. Membuka kembali halaman yang belum terselesaikan, memaksa indra penciumannya menghirup aroma khas dari pohon untuk kertas yang tampak tua itu.
Tulisan China tidak Lucia mengerti, tapi mampu dia tiru dengan begitu baik. Menggoreskan kuas dengan hati-hati, seakan nyawanya ada dalam benda tersebut. Fokus dan terus fokus, setidaknya dia dijanjikan uang cukup banyak untuk satu buah buku tiruannya. Mustahil memang membayar semua utang, tapi pepatah mengatakan usaha tidak mengkhianati hasil. Lucia masih percaya akan hal itu.
Rambutnya yang panjang sepinggang dia biarkan terurai, diterangi cahaya lampu duduk berwarna kuning, memperjelas mata birunya yang seindah lautan musim panas. Dan pria yang baru saja tiba menyadari akan hal itu.
Ketika langkahnya menuruni tangga, baru Lucia sadar akan keberadaannya. Menatap sesaat sebelum fokus kembali pada pekerjaanya.
Seperti yang dia lakukan di malam sebelumnya, dia berbaring di sofa dengan sebuah buku di tangannya. Kaos hitam membalut tubuh atletisnya, dengan celana pendek yang menampilkan bulu-bulu di betis kuatnya. Rahangnya yang kokoh, ditumbuhi rambut halus. Mata hitamnya setajam elang, perpaduan yang sempurna dan layak mendapatkan julukan turunan dewa. Setidaknya itu yang mereka katakan dalam majalah, Lucia pernah membacanya.
Tidak ingin larut dalam keindahan dunia, Lucia menatap tinta yang menetes di atas meja. Membuatnya bergumam kesal dalam hati. Beruntung tidak mengenai kertas.
Tangannya mungkin menulis, tapi pikirannya berkelana. Pada jam seperti ini, Louisa terbiasa terbangun dan berkata, ‘Mum, aku ingin telur dadar hangat.’
“Buatkan aku telur dadar.”
Kalimat yang keluar dari mulut Louis membuat mata Lucia membulat, keterkejutan jelas di wajahnya. “Ya, Tuan?”
Sebelum tatapan tajam itu membunuhnya, Lucia segera berdiri dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Dapur terasa sunyi, gelap dan hanya dipenuhi suara langkah kakinya. Lucia mengambil satu butir telur dari kulkas, menyalakan kompor dengan wajan bundar di atasnya. Lucia mengatur temperatur suhu sambil mengocok telur, memasukan bahan biasa yang dia gunakan, hingga dapat menyebabkan aroma enak.
Untuk yang kesekian kalinya, Lucia dibuat kaget dengan lampu yang menyala, dan itu ulah Monica.
“What are you doing here?”
“Cooking egg,” jawab Lucia membalikan telur yang hampir matang, mencoba tidak menghiraukan Monica yang terkekeh dan berjalan ke arahnya.
Tanpa di duga, wanita berpakaian jubah piyama itu melemparkan teflon ke lantai, kemudian menampar Lucia keras.
“Dasar pencuri!”
‘Jangan beritahu orang lain,’ kalimat Andreas yang membuatnya bungkam untuk melawan tuduhan.
“Apa yang coba kau lakukan?” Tanya Lucia mempertahankan ekspresi yang tidak terbaca.
Monica terkekeh. “Apa kau mencuri? Kau tahu hukuman untuk itu?” Tangannya mencengkram kuat dagu Lucia. “Kurasa kau cukup lama tidak tinggal di sini hingga tidak tahu peraturannya.”
“Akan aku laporkan kau pada Andreas.”
Monica tertawa, dia berjongkok dan menjambak rambut Lucia kuat. “Hanya yang kuat yang akan menang, Andreas tidak sebanding,” ucapnya menghempaskan kepala Lucia hingga membentur lantai.
Sekuat tenaga, perempuan berusia 24 tahun menahan erangan rasa sakitnya.
Hal yang membuat Monica semakin menggila, dia tertawa lalu menginjak kaki Lucia.
“Itu yang terjadi pada pencuri,” ucapnya meninggalkan Lucia setelah membuatnya berdarah.
Pemilik manik biru itu tahu dia tidak bisa memutar waktu. Jadi, dia mengambil telur lain untuk dimasak. Darah yang menetes, rasa sakitnya, harus membuahkan hasil. Setidaknya uang yang Louis berikan.
Lucia membawa nampan berisi permintaan Louis, dia menyimpannya di sebuah meja kecil dekat sofa.
Tatapan datar Louis terfokus pada satu omelet dengan saus di pinggirnya, disertai kukusan kacang polong. Dan tentunya dengan segelas air teh tawar.
“Butuh sesuatu yang lain, Señor?”
Tatapan itu beralih pada perempuan dengan wajahnya yang kacau, sudut bibirnya berdarah juga rambutnya yang berantakan. “Perbaiki dirimu sebelum terlihat olehku.”
***
Burung berkicauan, cerah dan sepanas musim kesukaan para pemalas. Lucia bangun lebih awal untuk menghindari masalah, membersihkan lantai dua sebagaimana mestinya dan memilih diam di sana daripada bergabung dengan Salma dan lainnya.
“Apa yang terjadi dengan wajahmu?”
“Andreas.” Lucia menunduk sesaat, sebelum menatapnya dengan kesal. “Apa yang terjadi di sini? Kenapa kau tidak menertibkan semuanya? Monica dan yang lainnya tidak disiplin.”
Pria tua yang biasanya memasang wajah tenang, kini mendesah seakan lelah dengan keadaan. Dia mengusap wajahnya, menahan air mata dipelupuk mata. “Kau pergi begitu lama, banyak yang terjadi sejak Nona Penelope meninggal.”
“Wait, what?”
Mereka menatap satu sama lain dengan kebingungan, Andreas yang yakin semua orang tahu informasi itu dan Lucia yang berharap salah mendengar. “Apa kau bilang dia meninggal? Apa yang terjadi?”
“Kau tidak tahu? Berita menyebar dimana-mana.”
“A...aku tidak tahu,” ucap Lucia memaksa menelan kenyataan itu. Penelope telah tiada, mungkin itulah sikap Louis lebih dingin dari sebelumnya. Bahkan tatapannya tidak memperlihatkan emosi, seakan kehilangan jiwanya. “Kapan itu?”
“Sudah lama, kira-kira be--” ucapan Andreas terhenti ketika mendengar kericuhan dari arah ruang makan. Tanpa berkata, dia berjalan cepat menuruni tangga, menuju sumber suara.
Andreas terlihat panik, dengan kaki tuanya dia berlari tertatih. Suara-suara yang dipenuhi kepanikan itu menarik minat Lumina untuk tahu apa yang terjadi. Dia berjalan pelan menuruni tangga, tangannya berseluncur di atas pegangan kayu. Dengan mata penasarannya, dia berjinjit di tengah tangga, mengintip apa yang sedang mereka kerumuni.
Hingga mata birunya menangkap Louis yang tergeletak tidak berdaya, Lucia berlari seketika. Dia mendorong semua orang untuk memberikan jalan, menghentikan Andreas yang akan melakukan sesuatu. Lucia khawatir itu membuat Louis tidak tertolong.
“Semuanya menyingkir! Beri dia ruang! Beri dia ruang!” Teriaknya memenuhi mansion. “Aku bilang menyingkir!”
“Mundur!” Perintah Andreas ketika melihat tatapan Lucia yang meyakinkan.
Perempuan itu membuka kancing kemeja, memegang dadanya sebelum mendengarkan detak jantungnya.
“Dudukan dia,” pinta Lucia pada Andreas.
Hal itu dimaksudkan agar Lucia bisa menyentuh punggung Louis. “Ambilkan aku air,” ucapnya menatap Salma. Wanita itu menaikan alisnya seakan berkata, ‘Apa-apaan dia?!’
“Cepat!” Teriak Lucia hingga membuatnya melangkah dengan kesal.
Lucia membuka kemeja Louis, membalur air hangat itu pada punggungnya sebelum kembali membaringkan tubuhnya. Dengan berani, Lucia memberikan napas buatan berulang kali hingga akhirnya dapat mendengar suara napas normal lagi.
Perempuan itu mengusap kepala Louis yang ada di pangkuannya, lega karena telah berhasil. “Dia baik-baik saja.”
“Menyingkir dari sana!”
Seketika mereka yang menonton Louis segera pergi, ketakutan dengan pria yang baru saja tiba.
Norman menatap penuh tanya, yang dijawab, “Merica yang dimakannya tidak terlalu banyak. Señor baik-baik saja, akan lebih cepat dirinya sadar jika berendam air hangat.”
“Ya, aku tahu,” ucap Norman menggendong Louis di punggung dengan bantuan Andreas. Dia pergi meninggalkan pria tua yang memiliki banyak pertanyaan.
Lucia menyeka keringat di dahinya, berdiri dan menatap lantai penuh dengan air.
“Bagaimana kau tahu Señor Louis alergi pada merica?”
Wajah puas Lucia karena berhasil menolong itu luntur seketika. Bagaimana dia bisa tahu? Tentu saja karena anaknya mengidap penyakit yang sama. Rahasianya harus terjaga dengan sempurna, jadi Lucia menjawab, “Nenekku pernah mengalaminya.”
“Bagaimana kau tahu merica yang menyebabkannya?”
“Ya, mungkin karena merica dilarang di mansion ini. Aku akan ke lantai dua untuk membersihkan,” ucap Lucia lari dari pertanyaan yang lebih mendalam.
Kakinya menaiki tangga dengan cepat, berharap tidak ada yang mencegahnya untuk bertanya. Namun, diluar dugaan, pria yang Lucia yakini adalah tangan kanan Louis memanggilnya. Memaksanya berbelok ke arah kiri menuju depan kamar sang majikan.
“Sí, Tuan?”
“Bagaimana kau tahu Tuan Louis punya alergi merica?”
“Ya…” Lucia tetap tenang, dengan tatapan menunduknya. “Aku menebak, karena dilarang ada merica di mansion ini.”
“Bagaimana dengan cara pengobatannya? Tidak ada yang tahu hal ini kecuali aku dan dirinya.”
Dan akhirnya mata biru itu membalas tatapan pria latin, dengan tenang dan pelan dia menjawab, “Aku pernah melihat hal ini sebelumnya.”
“Begitu?”
“Sí,” ucap Lucia dengan wajah tenangnya. Tanpa ekspresi, tapi meyakinkan.
“Aku selalu mengawasi mansion ini. Tadi malam kau menghubungi Palma, siapa itu?”
“Rani temanku.”
Seakan tidak puas dengan semua jawabannya, Norman mendekat untuk menatap lebih dalam, mencari celah di mata birunya. Dia tahu ada kebohongan di sana. Ingin dia bertanya lebih banyak, tapi Norman mengingat apa yang diinginkan tuannya. “Masuklah ke dalam, Señor Louis ingin bicara denganmu?”
“Dia ingin bicara denganku, kenapa begitu?”
Norman terkekeh menangkap rasa cemasnya. Dia membukakan pintu, mengangkat tangannya mempersilahkan. “Masuklah.”
Kecemasan melandanya, dia kembali masuk ke kamar yang pernah ditakutinya. Dia pernah berada di sana, tidak berdaya, mengingatkan pada hal paling menyakitkan. Ada yang berubah di kamar ini, suasana seakan mencekam dengan warna hitam dan abunya.
Ketidakberadaan Louis di ranjang, meyakinkannya jika pria itu berada di kamar mandi. Lucia mengetuknya lebih dulu sebelum masuk. Tatapannya menunduk, melangkah menuju Louis yang berendam. Air itu mengeluarkan aroma lavender, aroma terapi yang tidak asing bagi hidung Lucia.
“Señor.”
Alih-alih bicara, Louis menarik Lucia hingga dia jatuh ke dalam bathub. Pria itu menarik konde dari rambut Lucia, kemudian mengarahkannya pada leher perempuan itu.
“Apa yang kau tahu tentangku?”
Lucia sesak, sebagian badannya terendam air dan tertindih Louis. Jika saja Louis menyingkirkan tangan yang menjadi bantalan Lucia, maka dirinya akan tenggelam.
Dia memilih diam saat konde itu menusuk kulit lehernya. “Señor…..”
Menuntut penjelasan, Louis menekan konde itu hingga leher Lucia mengeluarkan darah. Perempuan itu memejamkan matanya. “Aku yakin kau mendengar ucapanku. Awalnya aku mengira, lalu nenekku punya penyakit yang sama.”
“Kau pikir aku akan peduli?”
Manik biru itu membalas tatapan mata hitam, ada ketakutan yang disembunyikan Lucia saat pemilik tatto elang di dada kirinya itu mencengkram mengelus lehernya, seakan siap untuk menjepit.
“Kau harus, Señor. Tidak ada yang bisa menulis sebagus diriku. Aku perempuan yang istimewa, kau akan bersyukur untuk itu.”
Louis terkekeh. “Istimewa? Mungkin begitu karena aku akan membunuhmu.”
----
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
harusnya kau biarkan dia mati krn alerginya, Lucia.. manusia tak berhati itu tdk mengenal kata terima kasih
2024-11-01
0
Bunga Istiqomah
❤❤❤
2024-06-12
0
Asri Handaya
baca ulang terus.. gak pernah bosan
2023-09-17
2