La Señorita 5 : Fin de la Muerte

Vote sebelum membaca😘😘

.

.

“No--nothing, Sir,” ucap Lucia mengambil kembali gagang telpon yang dia jatuhkan, berniat untuk menutup panggilan. Namun Luois menahan gerakannya, dia mengambil telpon itu, dengan tatapan tajamnya menunggu suara dari seseorang yang dihubungi.

Lucia tidak dapat menahan ketakutannya, tangannya gementaran, dengan wajahnya gugup. “Señor…”

Pria itu tidak bicara, dia hanya menatap mata biru Lucia hingga akhirnya menutup telpon. “Siapa yang kau hubungi?”

Perempuan yang tinggi badannya hanya sebatas dada Louis itu tetap menunduk, menatap jemarinya memastikan masih ada sepuluh. “Teman lamaku, Señor.” Menjawab dengan ekspresi mencoba tenang.

“Kau punya teman?” Tangan Luois menempel pada dinding, menyudutkan Lucia yang masih menampilkan ekspresi datarnya. “Siapa dia?”

“Rani, penjaga villa di Palma.”

Hembusan napas Luois mengenai kulit kepala Lucia, mendorongnya untuk membalas tatapan pemilik mata hitam, seakan ada yang ingin dikatakan pria itu. Dengan penuh keberanian, Lucia berkata, “Ada hal lain yang ingin anda tanyakan, Señor?”

Terdengar kekehan halus dari mulut Louis, pria itu mundur beberapa langkah. “Bukankah kau memiliki pekerjaan di perpustakaan?”

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Louis sebelum langkahnya menaiki tangga menggema di mansion yang didominasi warna putih tulang. Lucia memegang dadanya, dengan wajahnya yang datar dia menelan ludah kasar. Setidaknya dia berhasil menutupi semua perasaan itu.

Segera Lucia menyusul, mengikuti pria yang melangkah lebih dahulu. Namun, ketika dia sampai di perpustakaan yang tercahayai oleh sinar bulan, tidak ada tanda-tanda Louis. Begitu pula di ruangan membacanya, pria itu sepertinya pergi ke kamarnya.

Ingin segera menyelesaikan semua ini, Lucia mengambil kuas dan tinta yang dia simpan di rak dekat tumpukan buku. Membuka kembali halaman yang belum terselesaikan, memaksa indra penciumannya menghirup aroma khas dari pohon untuk kertas yang tampak tua itu.

Tulisan China tidak Lucia mengerti, tapi mampu dia tiru dengan begitu baik. Menggoreskan kuas dengan hati-hati, seakan nyawanya ada dalam benda tersebut. Fokus dan terus fokus, setidaknya dia dijanjikan uang cukup banyak untuk satu buah buku tiruannya. Mustahil memang membayar semua utang, tapi pepatah mengatakan usaha tidak mengkhianati hasil. Lucia masih percaya akan hal itu.

Rambutnya yang panjang sepinggang dia biarkan terurai, diterangi cahaya lampu duduk berwarna kuning, memperjelas mata birunya yang seindah lautan musim panas. Dan pria yang baru saja tiba menyadari akan hal itu.

Ketika langkahnya menuruni tangga, baru Lucia sadar akan keberadaannya. Menatap sesaat sebelum fokus kembali pada pekerjaanya.

Seperti yang dia lakukan di malam sebelumnya, dia berbaring di sofa dengan sebuah buku di tangannya. Kaos hitam membalut tubuh atletisnya, dengan celana pendek yang menampilkan bulu-bulu di betis kuatnya. Rahangnya yang kokoh, ditumbuhi rambut halus. Mata hitamnya setajam elang, perpaduan yang sempurna dan layak mendapatkan julukan turunan dewa. Setidaknya itu yang mereka katakan dalam majalah, Lucia pernah membacanya.

Tidak ingin larut dalam keindahan dunia, Lucia menatap tinta yang menetes di atas meja. Membuatnya bergumam kesal dalam hati. Beruntung tidak mengenai kertas.

Tangannya mungkin menulis, tapi pikirannya berkelana. Pada jam seperti ini, Louisa terbiasa terbangun dan berkata, ‘Mum, aku ingin telur dadar hangat.’

“Buatkan aku telur dadar.”

Kalimat yang keluar dari mulut Louis membuat mata Lucia membulat, keterkejutan jelas di wajahnya. “Ya, Tuan?”

Sebelum tatapan tajam itu membunuhnya, Lucia segera berdiri dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Dapur terasa sunyi, gelap dan hanya dipenuhi suara langkah kakinya. Lucia mengambil satu butir telur dari kulkas, menyalakan kompor dengan wajan bundar di atasnya. Lucia mengatur temperatur suhu sambil mengocok telur, memasukan bahan biasa yang dia gunakan, hingga dapat menyebabkan aroma enak.

Untuk yang kesekian kalinya, Lucia dibuat kaget dengan lampu yang menyala, dan itu ulah Monica.

“What are you doing here?”

“Cooking egg,” jawab Lucia membalikan telur yang hampir matang, mencoba tidak menghiraukan Monica yang terkekeh dan berjalan ke arahnya.

Tanpa di duga, wanita berpakaian jubah piyama itu melemparkan teflon ke lantai, kemudian menampar Lucia keras.

“Dasar pencuri!”

‘Jangan beritahu orang lain,’ kalimat Andreas yang membuatnya bungkam untuk melawan tuduhan.

“Apa yang coba kau lakukan?” Tanya Lucia mempertahankan ekspresi yang tidak terbaca.

Monica terkekeh. “Apa kau mencuri? Kau tahu hukuman untuk itu?” Tangannya mencengkram kuat dagu Lucia. “Kurasa kau cukup lama tidak tinggal di sini hingga tidak tahu peraturannya.”

“Akan aku laporkan kau pada Andreas.”

Monica tertawa, dia berjongkok dan menjambak rambut Lucia kuat. “Hanya yang kuat yang akan menang, Andreas tidak sebanding,” ucapnya menghempaskan kepala Lucia hingga membentur lantai.

Sekuat tenaga, perempuan berusia 24 tahun menahan erangan rasa sakitnya.

Hal yang membuat Monica semakin menggila, dia tertawa lalu menginjak kaki Lucia.

“Itu yang terjadi pada pencuri,” ucapnya meninggalkan Lucia setelah membuatnya berdarah.

Pemilik manik biru itu tahu dia tidak bisa memutar waktu. Jadi, dia mengambil telur lain untuk dimasak. Darah yang menetes, rasa sakitnya, harus membuahkan hasil. Setidaknya uang yang Louis berikan.

Lucia membawa nampan berisi permintaan Louis, dia menyimpannya di sebuah meja kecil dekat sofa.

Tatapan datar Louis terfokus pada satu omelet dengan saus di pinggirnya, disertai kukusan kacang polong. Dan tentunya dengan segelas air teh tawar.

“Butuh sesuatu yang lain, Señor?”

Tatapan itu beralih pada perempuan dengan wajahnya yang kacau, sudut bibirnya berdarah juga rambutnya yang berantakan. “Perbaiki dirimu sebelum terlihat olehku.”

***

Burung berkicauan, cerah dan sepanas musim kesukaan para pemalas. Lucia bangun lebih awal untuk menghindari masalah, membersihkan lantai dua sebagaimana mestinya dan memilih diam di sana daripada bergabung dengan Salma dan lainnya.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu?”

“Andreas.” Lucia menunduk sesaat, sebelum menatapnya dengan kesal. “Apa yang terjadi di sini? Kenapa kau tidak menertibkan semuanya? Monica dan yang lainnya tidak disiplin.”

Pria tua yang biasanya memasang wajah tenang, kini mendesah seakan lelah dengan keadaan. Dia mengusap wajahnya, menahan air mata dipelupuk mata. “Kau pergi begitu lama, banyak yang terjadi sejak Nona Penelope meninggal.”

“Wait, what?”

Mereka menatap satu sama lain dengan kebingungan, Andreas yang yakin semua orang tahu informasi itu dan Lucia yang berharap salah mendengar. “Apa kau bilang dia meninggal? Apa yang terjadi?”

“Kau tidak tahu? Berita menyebar dimana-mana.”

“A...aku tidak tahu,” ucap Lucia memaksa menelan kenyataan itu. Penelope telah tiada, mungkin itulah sikap Louis lebih dingin dari sebelumnya. Bahkan tatapannya tidak memperlihatkan emosi, seakan kehilangan jiwanya. “Kapan itu?”

“Sudah lama, kira-kira be--” ucapan Andreas terhenti ketika mendengar kericuhan dari arah ruang makan. Tanpa berkata, dia berjalan cepat menuruni tangga, menuju sumber suara.

Andreas terlihat panik, dengan kaki tuanya dia berlari tertatih. Suara-suara yang dipenuhi kepanikan itu menarik minat Lumina untuk tahu apa yang terjadi. Dia berjalan pelan menuruni tangga, tangannya berseluncur di atas pegangan kayu. Dengan mata penasarannya, dia berjinjit di tengah tangga, mengintip apa yang sedang mereka kerumuni.

Hingga mata birunya menangkap Louis yang tergeletak tidak berdaya, Lucia berlari seketika. Dia mendorong semua orang untuk memberikan jalan, menghentikan Andreas yang akan melakukan sesuatu. Lucia khawatir itu membuat Louis tidak tertolong.

“Semuanya menyingkir! Beri dia ruang! Beri dia ruang!” Teriaknya memenuhi mansion. “Aku bilang menyingkir!”

“Mundur!” Perintah Andreas ketika melihat tatapan Lucia yang meyakinkan.

Perempuan itu membuka kancing kemeja, memegang dadanya sebelum mendengarkan detak jantungnya.

“Dudukan dia,” pinta Lucia pada Andreas.

Hal itu dimaksudkan agar Lucia bisa menyentuh punggung Louis. “Ambilkan aku air,” ucapnya menatap Salma. Wanita itu menaikan alisnya seakan berkata, ‘Apa-apaan dia?!’

“Cepat!” Teriak Lucia hingga membuatnya melangkah dengan kesal.

Lucia membuka kemeja Louis, membalur air hangat itu pada punggungnya sebelum kembali membaringkan tubuhnya. Dengan berani, Lucia memberikan napas buatan berulang kali hingga akhirnya dapat mendengar suara napas normal lagi.

Perempuan itu mengusap kepala Louis yang ada di pangkuannya, lega karena telah berhasil. “Dia baik-baik saja.”

“Menyingkir dari sana!”

Seketika mereka yang menonton Louis segera pergi, ketakutan dengan pria yang baru saja tiba.

Norman menatap penuh tanya, yang dijawab, “Merica yang dimakannya tidak terlalu banyak. Señor baik-baik saja, akan lebih cepat dirinya sadar jika berendam air hangat.”

“Ya, aku tahu,” ucap Norman menggendong Louis di punggung dengan bantuan Andreas. Dia pergi meninggalkan pria tua yang memiliki banyak pertanyaan.

Lucia menyeka keringat di dahinya, berdiri dan menatap lantai penuh dengan air.

“Bagaimana kau tahu Señor Louis alergi pada merica?”

Wajah puas Lucia karena berhasil menolong itu luntur seketika. Bagaimana dia bisa tahu? Tentu saja karena anaknya mengidap penyakit yang sama. Rahasianya harus terjaga dengan sempurna, jadi Lucia menjawab, “Nenekku pernah mengalaminya.”

“Bagaimana kau tahu merica yang menyebabkannya?”

“Ya, mungkin karena merica dilarang di mansion ini. Aku akan ke lantai dua untuk membersihkan,” ucap Lucia lari dari pertanyaan yang lebih mendalam.

Kakinya menaiki tangga dengan cepat, berharap tidak ada yang mencegahnya untuk bertanya. Namun, diluar dugaan, pria yang Lucia yakini adalah tangan kanan Louis memanggilnya. Memaksanya berbelok ke arah kiri menuju depan kamar sang majikan.

“Sí, Tuan?”

“Bagaimana kau tahu Tuan Louis punya alergi merica?”

“Ya…” Lucia tetap tenang, dengan tatapan menunduknya. “Aku menebak, karena dilarang ada merica di mansion ini.”

“Bagaimana dengan cara pengobatannya? Tidak ada yang tahu hal ini kecuali aku dan dirinya.”

Dan akhirnya mata biru itu membalas tatapan pria latin, dengan tenang dan pelan dia menjawab, “Aku pernah melihat hal ini sebelumnya.”

“Begitu?”

“Sí,” ucap Lucia dengan wajah tenangnya. Tanpa ekspresi, tapi meyakinkan.

“Aku selalu mengawasi mansion ini. Tadi malam kau menghubungi Palma, siapa itu?”

“Rani temanku.”

Seakan tidak puas dengan semua jawabannya, Norman mendekat untuk menatap lebih dalam, mencari celah di mata birunya. Dia tahu ada kebohongan di sana. Ingin dia bertanya lebih banyak, tapi Norman mengingat apa yang diinginkan tuannya. “Masuklah ke dalam, Señor Louis ingin bicara denganmu?”

“Dia ingin bicara denganku, kenapa begitu?”

Norman terkekeh menangkap rasa cemasnya. Dia membukakan pintu, mengangkat tangannya mempersilahkan. “Masuklah.”

Kecemasan melandanya, dia kembali masuk ke kamar yang pernah ditakutinya. Dia pernah berada di sana, tidak berdaya, mengingatkan pada hal paling menyakitkan. Ada yang berubah di kamar ini, suasana seakan mencekam dengan warna hitam dan abunya.

Ketidakberadaan Louis di ranjang, meyakinkannya jika pria itu berada di kamar mandi. Lucia mengetuknya lebih dulu sebelum masuk. Tatapannya menunduk, melangkah menuju Louis yang berendam. Air itu mengeluarkan aroma lavender, aroma terapi yang tidak asing bagi hidung Lucia.

“Señor.”

Alih-alih bicara, Louis menarik Lucia hingga dia jatuh ke dalam bathub. Pria itu menarik konde dari rambut Lucia, kemudian mengarahkannya pada leher perempuan itu.

“Apa yang kau tahu tentangku?”

Lucia sesak, sebagian badannya terendam air dan tertindih Louis. Jika saja Louis menyingkirkan tangan yang menjadi bantalan Lucia, maka dirinya akan tenggelam.

Dia memilih diam saat konde itu menusuk kulit lehernya. “Señor…..”

Menuntut penjelasan, Louis menekan konde itu hingga leher Lucia mengeluarkan darah. Perempuan itu memejamkan matanya. “Aku yakin kau mendengar ucapanku. Awalnya aku mengira, lalu nenekku punya penyakit yang sama.”

“Kau pikir aku akan peduli?”

Manik biru itu membalas tatapan mata hitam, ada ketakutan yang disembunyikan Lucia saat pemilik tatto elang di dada kirinya itu mencengkram mengelus lehernya, seakan siap untuk menjepit.

“Kau harus, Señor. Tidak ada yang bisa menulis sebagus diriku. Aku perempuan yang istimewa, kau akan bersyukur untuk itu.”

Louis terkekeh. “Istimewa? Mungkin begitu karena aku akan membunuhmu.”

----

Love,

ig : @Alzena2108

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

harusnya kau biarkan dia mati krn alerginya, Lucia.. manusia tak berhati itu tdk mengenal kata terima kasih

2024-11-01

0

Bunga Istiqomah

Bunga Istiqomah

❤❤❤

2024-06-12

0

Asri Handaya

Asri Handaya

baca ulang terus.. gak pernah bosan

2023-09-17

2

lihat semua
Episodes
1 Prologue : Holla, Señorita.
2 La Señorita 1 : El Embarazo
3 La Señorita 2 : Año de llanto
4 La Señorita 3 : Amenaza de muerte
5 La Señorita 4 : Acantilados
6 La Señorita 5 : Fin de la Muerte
7 La Señorita 6 : Niña Pequeña
8 La Señorita 7 : Plan Malvado
9 La Señorita 8 : Arrepentimiento profundo
10 La Señorita 9 : Fue atrapado
11 La Señorita 10 : Otro peligro
12 La Señorita 11 : Jaguares negros
13 La Señorita 12 : Acercándose
14 La Señorita 13 : Ser pisado con dureza
15 La Señorita 14 : Alejarse de Louis
16 La Señorita 15 : Con Louis de vuelta
17 La Señorita 16 : Derrota de Lucía
18 La Señorita 17 : Primer encuentro
19 La Señorita 18 : Plan oculto
20 La Señorita 19 : Sorpresa de Louis
21 La Señorita 20 : Mi familia
22 La Señorita 21 : Hipócrita
23 La Señorita 22 : Viejo enemigo
24 La Señorita 23 : Elección difícil
25 La Señorita 24 : Abrazo Papi
26 La Señorita 25 : El ultimo diamante
27 La Señorita 26 : Quedate conmigo
28 La Señorita 27 : Realidad dolorosa
29 La Señorita 28 : Los sentimientos de Louis
30 La Señorita 29 : Sentimiento Abierto
31 About Little-Zee
32 La Señorita 30 : Segundo embarazo
33 La Señorita 31 : Terminar juntos
34 La Señorita 32 : Venganza que Surge
35 La Señorita 33 : La Promesa del Jaguar
36 La Señorita 34 : Un viaje
37 La Señorita 35 : Mar y Amor
38 La Señorita 36 : El corazon
39 La Señorita 37 : Les Jaguares
40 La Señorita 38 : Presentador
41 La Señorita 39 : Susurros
42 La Señorita 40 : Empezando a debilitarse
43 La Señorita 41 : Ojos despiertos
44 La Señorita 42 : Lágrimas felices
45 La Señorita 43 : Una carta de padre
46 La Señorita 44 : Papa es igual
47 La Señorita 45 : Ese es nuestro papa
48 La Señorita 46 : Decepcionado por la situación
49 La Señorita 47 : Deseos en promesas
50 La Señorita 48 : Decisión en lágrimas
51 About my self
52 La Señorita 49 : Algo escondido
53 La Señorita 50 : El matrimonio
54 La Señorita 51 : I am Louis
55 I am Louis
56 After Marriage 1
57 After Marriage 2
58 After Marriage 3
59 After Marriage 4
60 After Marriage 5
61 After Marriage 6
62 After Marriage 7
63 After Marriage 8
64 After Marriage 9
65 After Marriage 10
66 After Marriage 11
67 After Marriage 12
68 After Marriage 13
69 After Marriage 14
70 After Marriage 15
71 After Marriage 16
72 After Marriage 17
73 After Marriage 18
74 After Marriage 19
75 After Marriage 20
76 After Marriage 21
77 After Marriage 22
78 After Marriage 23
79 After Marriage 24
80 After Marriage 25
81 After Marriage 26
82 After Marriage 27
83 After Marriage 28
84 After Marriage 29
85 After Marriage 30
86 After Marriage 31
87 After Marriage 32
88 After Marriage 33
89 After Marriage 34
90 Ekstra Part 1
91 Ekstra Part 2
92 Ekstra Part 3
93 Buku Cetak
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Prologue : Holla, Señorita.
2
La Señorita 1 : El Embarazo
3
La Señorita 2 : Año de llanto
4
La Señorita 3 : Amenaza de muerte
5
La Señorita 4 : Acantilados
6
La Señorita 5 : Fin de la Muerte
7
La Señorita 6 : Niña Pequeña
8
La Señorita 7 : Plan Malvado
9
La Señorita 8 : Arrepentimiento profundo
10
La Señorita 9 : Fue atrapado
11
La Señorita 10 : Otro peligro
12
La Señorita 11 : Jaguares negros
13
La Señorita 12 : Acercándose
14
La Señorita 13 : Ser pisado con dureza
15
La Señorita 14 : Alejarse de Louis
16
La Señorita 15 : Con Louis de vuelta
17
La Señorita 16 : Derrota de Lucía
18
La Señorita 17 : Primer encuentro
19
La Señorita 18 : Plan oculto
20
La Señorita 19 : Sorpresa de Louis
21
La Señorita 20 : Mi familia
22
La Señorita 21 : Hipócrita
23
La Señorita 22 : Viejo enemigo
24
La Señorita 23 : Elección difícil
25
La Señorita 24 : Abrazo Papi
26
La Señorita 25 : El ultimo diamante
27
La Señorita 26 : Quedate conmigo
28
La Señorita 27 : Realidad dolorosa
29
La Señorita 28 : Los sentimientos de Louis
30
La Señorita 29 : Sentimiento Abierto
31
About Little-Zee
32
La Señorita 30 : Segundo embarazo
33
La Señorita 31 : Terminar juntos
34
La Señorita 32 : Venganza que Surge
35
La Señorita 33 : La Promesa del Jaguar
36
La Señorita 34 : Un viaje
37
La Señorita 35 : Mar y Amor
38
La Señorita 36 : El corazon
39
La Señorita 37 : Les Jaguares
40
La Señorita 38 : Presentador
41
La Señorita 39 : Susurros
42
La Señorita 40 : Empezando a debilitarse
43
La Señorita 41 : Ojos despiertos
44
La Señorita 42 : Lágrimas felices
45
La Señorita 43 : Una carta de padre
46
La Señorita 44 : Papa es igual
47
La Señorita 45 : Ese es nuestro papa
48
La Señorita 46 : Decepcionado por la situación
49
La Señorita 47 : Deseos en promesas
50
La Señorita 48 : Decisión en lágrimas
51
About my self
52
La Señorita 49 : Algo escondido
53
La Señorita 50 : El matrimonio
54
La Señorita 51 : I am Louis
55
I am Louis
56
After Marriage 1
57
After Marriage 2
58
After Marriage 3
59
After Marriage 4
60
After Marriage 5
61
After Marriage 6
62
After Marriage 7
63
After Marriage 8
64
After Marriage 9
65
After Marriage 10
66
After Marriage 11
67
After Marriage 12
68
After Marriage 13
69
After Marriage 14
70
After Marriage 15
71
After Marriage 16
72
After Marriage 17
73
After Marriage 18
74
After Marriage 19
75
After Marriage 20
76
After Marriage 21
77
After Marriage 22
78
After Marriage 23
79
After Marriage 24
80
After Marriage 25
81
After Marriage 26
82
After Marriage 27
83
After Marriage 28
84
After Marriage 29
85
After Marriage 30
86
After Marriage 31
87
After Marriage 32
88
After Marriage 33
89
After Marriage 34
90
Ekstra Part 1
91
Ekstra Part 2
92
Ekstra Part 3
93
Buku Cetak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!