Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Jemari kekar itu menelusuri garis punggung Lucia yang terlelap membelakangi, selimut mungkin membungkusnya, tapi tidak dengan bagian belakangnya. Louis mengusapnya, membuat pola-pola abstrak sebelum mencubit pelan pantat mulus Lucia, mengakibatkan pemilik manik biru itu mengerutkan kening dalam lelapnya.
Lucia bergerak, membalikan arah hingga menghadap Louis yang terjaga. Perempuan itu tidur dengan tangan Louis sebagai bantalan. Bibirnya yang sedikit terbuka menarik perhatian Louis, pria itu menggigitnya pelan hingga Lucia melenguh merasa sakit, tapi matanya tetap terpejam.
Dari jarak kurang dari lima senti, sang mata elang menatap wajah cantik Louisa, terpatri begitu pas. Wajahnya begitu kecil, mungkin sebesar lebarnya tangan Louis yang terbuka. Bulu matanya lentik, hidung yang mancung tapi mungil dan bibir yang sedikit tebal akibat ulah Louis. Tidak ada setikitpun noda di wajah Lucia, begitu mulus dengan rona merah alaminya.
Entah mengapa, warna merah di dada Lucia membuatnya tersenyum miring. Menandakan jika perempuan itu merasa kepanasan. Apalagi saat melihat kissmark di leher, mengingatkan Louis pada pergulatan yang baru saja dia akhiri beberapa jam yang lalu.
“Akan aku beri kau pekerjaan yang lebih mudah, Lucia.”
Keheningan yang menjawab ucapan Louis. Pria itu masih menatap wajah Lucia dengan lekat, tangannya terangkat mengelus pipi sebelum memainkan bibir bawah Lucia. “Aku tidak bercinta dengan sembarang wanita, kau dan aku pernah melakukannya sebelumnya.”
Lucia melenguh tidak nyaman saat Louis kembali menciumnya, membuatnya sesak hingga pemilik mata biru itu mulai tersadar. Matanya mengerjap terasa berat, rasa kantuk mengalahkan segalanya.
“Aku harus pergi,” ucap Louis tepat di sela ciumannya.
“Huh?” Lucia mengerutkan kening, masih belum tersadar sepenuhnya.
Pria itu mencium bahu Lucia sebelum beranjak, memunguti pakaiannya dan keluar dari kamar.
Bersamaan dengan tertutupnya pintu, Lucia membuka mata. Air matanya menetes, dia mengeratkan selimut membungkus tubuhnya sampai batas leher.
Beberapa menit Lucia menangis dalam diamnya, hingga akhirnya dia beranjak dari ranjang, berjalan tertatih menuju kamar mandi. Tidak ada bathub di kamar mandi, hanya ada shower dan closet. Lucia duduk memeluk lutut membiarkan air mengguyurnya, berharap benih-benih yang ditebarkan Louis tidak tumbuh menjadi janin. Mengingat Louisa langusng jadi hanya dalam sekali adukan. Sedangkan sekarang, Louis menebarnya berulang kali. Dan sialnya Lucia menikmati semua itu. Dan kini Lucia sedang dalam masa subur, pikirannya semakin stres.
‘Maafkan, Mum, Louisa. Daddymu mungkin tidak akan pernah datang ke sana untukmu, Mum tidak tahu sampai kapan rahasia ini bisa tergenggam baik.’
Tawa, suara Louisa mengingatkannya akan janji-janji manis Lucia pada putrinya. Mustahil baginya membawa Louis ke Palma untuk putrinya, mengingat siapa sebenarnya pria itu. Jadi, Lucia hanya menangisi nasib dirinya dan putrinya yang menyedihkan.
***
“Kenapa kau bangun terlambat?”
“Maaf,” ucap Lucia mengambil alat kebersihan dan menuju lantai dua, meninggalkan Andrean yang bertanya-tanya.
Lucia mencoba melupakan apa yang terjadi, tidak ada yang terjadi semalam, itu yang dia terapkan pada pikirannya. Lebih dari dua kali dia mandi demi menghilangkan jejak Louis.
Ketika Lucia membersihkan kaca jendela, Andrean mendekat. “Lucia?”
“Sí?” Mengabaikan dengan cara tetap fokus pada pekerjaannya.
“Apa yang terjadi?”
“Apa maksudmu?”
“Kau dan Señor Louis.”
Seketika gerakan Lucia membersihkan kaca terhenti sejenak. Pemilik mata biru laut itu mencoba mengabaikan, dia mengedikan bahu sambil terus bekerja. “Aku tidak tahu apa maksudmu.”
“Lucia, aku mengatakan ini demi kebaikanmu.” Suara Andrean terdengar berat, membuat Lucia berhenti memberihkan dan membalikan badan menatap mata tua Andrean. Nada bicaranya mengingatkan Lucia saat mereka pertama kali bertemu, saat dirinya pertama kali menginjakan kaki di mansion ini. “Sí, Andrean?”
“Apa menurutmu Señor Louis berbahaya?”
Lucia mengangguk.
“Apa kau ingin bersamanya?”
Diam sesaat sebelum akhirnya menggeleng, tidak ada apapun yang dia inginkan dari Louis selain menemui Louisa dan mengatakan betapa menyayanginya pria itu pada puterinya. Hal yang mustahil.
“Lucia, terkadang orang yang dianggap berbahaya adalah orang yang mampu memberikan keamanan.”
“Andrean kau ingin aku menjadi pelacurnya? Aku tidak menginginkannya meskipun dibayar mahal, yang aku inginkan hanyalah hidup sesuai aturan, terbebas dari sini dan menjalani kehidupan yang diinginkan.”
“Dalam hidupku aku telah melihat banyak hal, Lucia.”
Perempuan itu mengerutkan kening, membuat Andrean melanjutkan. “Jangan jadikan ego sebagai alasan untuk menjauhkan kebahagiaan si kecil.”
Sontak saja hal itu membuat Lucia menegang, tidak ada yang tahu tentang Louisa. Dirinya menggenggam erat rahasia hidupnya, tanpa tersentuh siapapun.
Melihat kebingungan itu, Andrean melanjutkan. “Hidupku sudah cukup lama, Lucia, Tuhan akan segera memanggilku,” ucapnya berjalan menjauhi Lucia, membiarkan perempuan itu merenungkan jalan hidupnya. Apa yang terjadi jika dia menjadi bahan pelampiasan nafsu Louis? Dirinya akan menjadi seperti itu selamanya dan menunggu waktu hingga dirinya dibuang ke tempat sampah? Dan mungkin jika Lucia memberitahu tentang Louisa, Louis tidak akan menerima putri kecilnya.
Lucia tidak ingin memperburuk keadaan, dia hanya ingin hidup dengan tenang. Semalam dia anggap sebagai kesialan paling besar.
Harinya tidak berjalan semulus kulit tubuhnya, Lucia terus saja diganggu oleh Monica dan Salma. Bahkan ketika Lucia pergi ke belakang mansion untuk membersihkan pot bunga yang ada di lantai dua, Monica dan Salma mendorongnya hingga terjatuh. Mereka tertawa puas.
“Itu yang akan terjadi jika kau bangun terlambat, bodoh!” Teriak Salma membasahi tubuh Lucia dengan air dari selang. “Rasakan itu.”
“Apa yang kau lakukan?” Lucia berdiri dengan penuh amarah.
Bukannya takut, keduanya malah tertawa. Monica tertawa. “Berbaik hatilah dan menurut pada kami, kami bukan pelayan rendahan sepertimu, kami adalah pelayan Nona Amelia yang ditugaskan untuk menjaga Señor Louis.”
Lucia terkekeh sembari mengeringkan dirinya. “Menjaga? Aku hanya lihat kalian sebagai hewan pengerat yang selalu makan.”
“Beraninya kau!” Salma yang marah menampar Lucia cukup keras, membuat perempuan bermata biru itu tersungkur. Lucia tidak menerimanya, hidupnya harus dilandasi keadilan. Maka darinya, Lucia mengembalikan tamparan itu.
“Biarkan aku sendiri dan jangan ganggu aku,” ucap Lucia hendak beranjak pergi. Namun, Salma menahannya, dia dan Monica menyerang secara bersama-sama. Monica memegangi kedua tangan Lucia sambil menjambak, sementara Salma mencengkram kuat dagunya.
“Aku berbeda kelas denganmu, kau hanya kasta rendahan yang memiliki banyak utang. Menjijikan,” bisik Salma melepaskan cengkramannya dengan kasar yang dibalas tatapan tajam oleh Lucia. Bukannya takut, Salma malah terkekeh. “Kenapa? Kau akan melaporkanku pada Andrean? Silahkan saja, aku lebih berkuasa.”
Monica yang ada dibelakang Lucia menahan rontaannya ikut tertawa. “Dan kenapa kau memakai syal padahal musim panas huh?” Matanya mengisyaratkan pada temannya untuk membuka syal itu.
Lucia berontak. “Lepaskan aku.”
“Wow!” Salma menatap takjub leher Lucia yang dipenuhi kissmark. “Apa kau bercinta dengan hewan?”
Monica tertawa keras, dirinya masih memegangi kedua tangan Lucia, tangannya yang lain menjambak Lucia. “Mungkin dia bercinta dengan Andrean.”
“Menjijikan,” guman Salma.
“Lepaskan aku.”
“Apa kau sadar dirimu itu tidak lebih berharga dari hewan?” Monica menjambaknya semakin kuat.
Air mata Lucia mengenang, bibirnya gementar.
Salma mengejek dengan menirukan raut wajah menangis. “Lihatlah, dia menangis dengan sangat jelek. Hu hu hu.”
Monica melepaskannya sembari melemparnya hingga Lucia terkantuk lantai, dia mengerang kesakitan merasakan tubuhnya yang semakin terasa remuk. Salma tertawa. “Entah mengapa kau begitu arogan hingga kami sangat membencimu.”
“Lain kali jika kau tidak ingin kena masalah, berbaik hatilah pada kami, dan jangan membuat Señorita Amelia marah. Dengan begitu aku bisa menjadikanmu pembersih kamar mandiku,” sambung Monica lalu keduanya tertawa meningalkan Lucia yang terluka.
Dia segera memungut syalnya, memakainya kembali dan menghapus air matanya kasar. Dia kembali menyalakan air yang biasa digunakan untuk menyiram taman belakang, mencoba fokus membersihkan daun-daun bunga dari debu.
Mendengar seseorang melangkah mendekat, tatapan Lucia terangkat. “Andrean seharusnya kau membersihkan tikus seperti mereka.”
“Mereka milik Nona Amelia, semua kekacauan terjadi karena wanita itu.”
Lucia menggeleng tidak percaya, dia membersihkan kembali daun yang lain. “Aku akan mengambil libur akhir bulanku.”
“Baiklah.”
“Aku akan keluar sore ini, untuk menenangkan pikiran.”
***
“Señor.” Ricco duduk di depan pria yang sedang menyeruput teh. Melihat meja berantakan, Ricco membereskan, menyingkirkan semua benda yang ada di sana ke sudut ruangan. Pria yang seluruh tubuhnya ditutupi tatto itu tersenyum kaku. “Kau ingin kue, Señor? Pacarku baru sa--”
“Berapa kali dia memesan?”
“Dua kali. 12 gram kokaina setiap bulannya.”
Louis tersenyum miring, membuat Ricco bertanya. “Akankah kita menjebaknya?”
Louis menggeleng. “Kita tunggu sampai temannya ikut memesan, setelah itu kita jebak mereka.”
“Sí, Señor.”
Ricco merasa bangga saat Louis menepuk bahunya sebelum keluar dari rumahnya. Pria berjas itu keluar lewat jalan belakang, dia memakai kacamata begitu polisi lokal berpatroli di kawasan berdebu dan kumuh itu. Sesaat tatapan Louis dam polisi di mobil bertemu, dua polisi itu berhenti sejenak menatap kepergian porsche hitam dengan penuh pertanyaan.
“Mereka memperhatikanmu, Señor,” ucap Norman yang mengendarai.
Louis melihat ke kaca spion. “Apa yang mereka tahu hingga berpatroli kemari?”
“Beberapa hari lalu ada perkelahian anak buah Ricco, mereka menemukan sabu, membuat seringnya berpatroli di tempat kumuh ini.”
“Begitu? Tidak lama lagi akan aku beri mereka kejutan.”
Norman menatap sesaat Louis yang berada di bangku depan. “Ada kabar baik, Señor?”
“Ya, duta kita membeli sabu.”
Norman tersenyum. “Akankah itu baik?”
“Segera setelah mentri pertahanan ikut terjebak.”
Tidak butuh waktu lama, mobil itu sampai di mansion setelah melewati hutan beberapa kilometer. Louis yang turun dari mobil disambut oleh Andrean yang membukakan pintu untuknya.
“Apa yang ingin anda makan untuk makan malam, Señor?”
Louis melihat sekeliling. “Aku akan berjalan sebentar,” ucapnya melangkah menuju bagian belakang mansion. Tempat ini dikelilingi benteng besar dan tinggi yang membantasi antara tempat tinggalnya dan hutan. Di benteng belakang, terdapat pintu besi yang menjadi penghubung.
Louis memilih keluar dari zona aman, dia melangkah menelusuri hutan yang selalu mendampinginya. Hanya sedikit cahaya matahari yang bisa masuk menerangi permukaan tanah, pohon yang begitu tinggi ditumbuhi daun-daun yang mulai menguning.
Segarnya angin membuat Louis melangkah semakin dalam ke dalam hutan, dia jatuh cinta pada kedamaian yang mengingatkannya pada kesakitan masa lalunya, yang membuat Louis kini jadi pria berkuasa. Bukan hal mudah baginya menguasai kartel terbesar di Madrid, bandar narkoba yang bertujuan menjebak para petinggi negara yang menghancurkan bangsa. Kelam, tidak ada yang tahu betapa sakitnya dia, tidak ada yang tahu seberapa jauh Louis harus merangkak di atas pecahan kaca, bermandikan darah untuk mencapai puncak rantai. Matanya gelap akan kesakitan, buta perihal memaafkan.
Alam menuntunnya menuju sungai di tengah hutan, di mana terdapat air terjun yang membuat pendengarannya tertarik untuk mendekat.
Ketika Louis menyingkirkan ranting berdaun yang menghalangi pandang, matanya menangkap sosok wanita sedang tertunduk di bawah air terjun. Mata birunya tertutup, dia tersenyum seakan menikmati percikan air jernih yang menyentuh tubuhnya.
Louis memperhatikan selama beberapa saat, matanya beralih pada pakaian Lucia yang tergeletak di atas batu besar.
“Ada ikan besar yang ingin ditangkap sore ini.”
Lucia tersentak kaget, matanya membulat melihat Louis yang membuka jas, melonggarkan dasi dan berjalan masuk ke dalam air. Lucia yang hanya memakai pakaian dalam itu bersembunyi di dalam air terjun, memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap was-was pada Louis.
“Apa yang ingin kau lakukan, Señor?”
---
Love,
ig : @Alzena2108
wp account : Little-Zee
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
kebetulan yg sangat membagongkan... niat hati utuk rileksasi malah bertemu predator..nasib mu memang selalu buruk Lucia
2024-11-01
0
Bunga Istiqomah
❤❤🧡🧡
2024-06-12
0
asri handaya
aku ulang ulang baca novel ini... bener2 keren...
2024-01-29
0