Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Matanya fokus pada luar jendela mobil, memperhatikan beberapa remaja sekolah menengah yang bermain skate board di taman, mereka terlihat menikmati musim panas dengan berbagai macam makanan yang mereka beli, pakaian yang bagus deki eksistensi belaka. Senyuman mereka terlihat riang, musim panas mereka nikmati dengan baik.
Jauh di waktu yang lalu, senyuman itu tidak pernah ada di wajah pria bermanik hitam. Gelap, masa lalunya dia tutupi dengan baik, tidak ada yang boleh tahu, tidak boleh ada yang membuka luka lama yang dideritanya.
Mobil yang dibawa Norman di depan sebuah gereja kecil, halamannya yang luas digunakan sebagai perkebunan sayuran, di mana yang menanamnya adalah mereka yang ditampung di sana. Louis turun dari mobil, melangkah mendekati seorang pastor yang sedang bicara dengan anak seusia 10 tahun.
“Bapa?”
Pria dengan rambut seluruhnya berwarna putih itu mengerutkan kening, menurunkan kacamata sesaat untuk melihat lebih jelas. Saat tahu siapa yang datang, pastor itu tersenyum. “Ah, Señor Louis.”
“Panggil saja aku Louis,” ucapnya menyalami pria itu, dia melihat sekeliling. “Apa mereka sedang berlibur musim panas?”
“Ya, begitulah mereka.”
Keduanya menatap anak-anak yang sedang membersihkan kebun. Pagar yang membatasi dengan jalan hanyalah kayu yang berjajar. Louis melihat ke arah belakang gereja, tempat penampungan anak-anak yang cukup tua, kecil bagi mereka yang banyak.
“Kau ingin melihat-lihat?”
“Dengan senang hati, Bapa.” Mengikuti pria tua yang berjalan lebih dahulu.
“Tempat ini sudah cukup tua, jadi ada bagian bangunan yang tidak terpakai.” Menunjuk bagian kiri, di mana ada bangunan hampir roboh jika tidak ditahan dengan balok kayu.
Keadaan sekitar cukup sepi, daerah pinggiran yang jauh dari pusat kota. Butuh melewati jalan sepi yang terbuat dari tanah untuk sampai di sini.
“Kenapa kau bertahan di sini, Bapa?”
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Meninggalkan anak-anak malang itu?”
Louis tersenyum. “Sepertinya mereka membuatmu bangga.”
“Aku bangga bisa menjaga mereka, Tuhan tahu aku melakukan yang terbaik.” Pastor itu membuka pintu menuju ruangan di mana di dalamnya berjajar ranjang susun, mereka cukup berdempetan. “Di sini lah mereka tidur.”
Tatapan Louis menjelahi ruangan yang tersusun dari kayu, sebagian titik atap diterobos sinar matahari, menandakan hujan akan melakukan hal yang sama saat turun. Kaca jendela begitu kusam, ada sebagian yang bolong dan hanya ditutupi oleh plastik. Membuat pria bermata hitam itu meringis, merasa iba pada mereka.
“Boleh aku ke gereja, Bapa?”
“Tentu.”
“Kapan terakhir kali ini direnovasi?”
“Pemerintah berhenti membiayai saat kejadian dua belas tahun lalu, dimana kami menyembunyikan pencuri.”
Louis melangkah dengan kedua tangannya berada di belakang. “Dan benar kau melakukan itu?”
“Ya, kami menolongnya, saat itu dia ditemukan di belakang sana.” Menunjuk pada belakang gereja yang dilindungi pagar kayu, selebihnya hanya ada pepohonan dan sungai. “Dia terluka, kami merawatnya. Pencuri itu bilang bahwa apa yang diambilnya adalah hak mereka yang membutuhkan, dia merampok rumah milik petinggi negara. Mereka mengira dia bekerja sama dengan pihak gereja. Begitulah ceritanya.”
“Kau percaya dia berkata jujur?”
“Itu urusannya dengan Tuhan, tugas kita hanya menolong dan baik pada sesama.”
Antara bangunan anak-anak dan gereja dihubungkan dengan koridor terbuka, yang sebagian atapnya telah rusak. Tidak menutup kemungkinan jika sebentar lagi akan roboh, apalagi bagian atasnya sudah ditumbuhi tanaman rambat yang cukup dalam.
“Selamat sore, Bapa, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” ucap seorang wanita tua bertubuh gempal mendekati keduanya.
Pastor itu menatap Louis sesaat meminta izin untuk menemui tamu, dengan sopan pria bermanik hitam itu mempersilahkan.
“Señor Louis, aku suster Maya.” Memperkenalkan diri begitu sang pastor meninggalkan.
“Senang bertemu denganmu, Suster.”
“Perlu aku temani?”
“Tidak apa, aku akan menunggu Pastor di dalam.”
Kakinya melangkah masuk ke dalam gereja yang sunyi, hanya terdengar suara tawa anak-anak di luar sana. Mata Louis terpaku pada patung Maria, dia duduk di kursi bagian kanan.
Louis terdiam, pikirannya berkelana pada masa-masa kelam. Di mana ketika hujan badai, dirinya yang masih kecil harus mencari perlindungan seorang diri, dia bahkan tertidur di depan toko milik orang. Tanpa pelukan, tanpa kasih sayang orangtua, tanpa ada yang mempedulikan, Louis terbentuk oleh rasa sakit.
Lalu dia kembali teringat pada telpon penjaga villa di Palma, pikirannya mengatakan jika itu mungkin anak dari penjaga di sana, mengingat dia berada di Kepulauan Balreas untuk waktu yang lama. Palma, menjadi saksi bisu bagaimana Louis membantai tiga pemimpin kartel sekaligus, yang membuatnya berada di puncak piramida. Pepatah bahwa yang kuat adalah yang menang memang benar. Tanpa kita sadari, hukum rimba masih berlaku di dunia yang modern. Perbedaannya, kuat saat ini tidak sepenuhnya dilakukan oleh otot, melainkan otak.
Bagaimana mungkin pemuda yang belum genap berusia 20 tahun bisa membantai mereka, menjebak dalam jebakan mereka sendiri. Bukan tanpa alasan Louis melakukannya, dia hanya ingin hidup.
“Maaf aku membiarkanmu sendirian.”
Mata itu menoleh pada pastor yang membawa bayi di pangkuannya. “Tidak apa, Bapa, bayi siapa itu?”
“Dia bayi yang ditinggalkan orangtuanya, namanya Linsey.” Pastor itu ikut duduk di samping Louis dengan bayi berusia 7 bulan di pangkuannya.
Maya hitam Louis terpaku pada bayi itu. “Dia ditinggalkan?”
“Ya, ibunya datang menyerahkan ini pada kami, menjelaskan bahwa dia tidak sanggup menggidupinya.”
Tatapan Louis yang begitu dalam membuat Pastor melanjutkan, “Sepertinya usiamu cukup untuk memiliki seorang anak, Louis.”
“Aku menginginkannya, tapi wanita yang aku cintai pergi lebih dulu sebelum kami memiliki buah hati.”
“Kenapa tidak kau buka hatimu untuk wanita lain?”
Louis menggeleng pelan. “Tidak ada wanita yang pantas mengandung anakku selain dia.”
Kalimat itu membuat pastor tersenyum, dia mengusap punggung Louis. “Tidak pantas? Bagian mana yang kau sebut tidak pantas?”
“Maaf, Bapa, aku hanya menginginkan putra bersamanya.”
“Namun Tuhan tidak menakdirkan itu, Louis.”
“Mungkin Tuhan menakdirkanku untuk hidup bersama kenangan kekasihku.”
Sebelum pastor memberinya nasehat, dan membuat luka lamanya terbuka, dia segera berucap, “Aku akan membangun tempat tinggal mereka, gereja ini akan aku renovasi sampai layak. Jangan khawatir, Bapa, aku akan mengirimi uang tiap bulan, kau tidak perlu membuat anak-anak itu bekerja.”
“Terima kasih, Louis, semoga Tuhan memberkatimu dan keturunanmu.”
***
Pelabuhan terlihat begitu sepi, tidak ada satupun kendaraan yang beroperasi. Begitu tertutup, bahkan untuk Louis bisa masuk, harus melewati penjaga dengan keamanan CCTV cukup ketat, dimana-mana dia melihat mata penjaga. Orang berpikir, ini adalah pelabuhan militer Italia, nyatanya, di dalamnya adalah pelabuhan milik klan Cosa Nostra yang telah dipersenjatai.
Louis turun dari mobil, disinari cahaya bulan. “Tunggi di sini, aku akan kembali.”
Hal itu membuat Norman mengangkat alis, dia menyimpan kembali senjata api ke dalam jasnya. “Aku pikir harus ada yang melindungimu, Señor.”
“Come on, Norman, kau ingat apa yang aku lakukan di Palma?” Pria itu melangkah pergi, menjauhi mobilnya yang penuh dengan senjata.
Dia melihay sekeliling, beberapa mata mengawasi. Louis menaiki tangga untuk sampai di kapal feri, dia disambut seseorang yang dikenalnya.
Pemuda itu memakai kaos kutang, dengan celana jeans panjang dan anting menghiasi telinga kirinya. Kali ini dia terlihay seperti gangster daripada pemuda jail, bahkan Louis melihay tatto besar di dada kirinya.
“Louis De La Mendoza.” Senyuman lebarny tidak hilang, dia menjabat tangab Louis sebelum menatap pada teman-temannya. “Berhenti menatap kami! Atau potong gaji kalian.”
“Apa kau sering beteriak seperti itu?”
“Ya, aku tidak sehening dirimu.”
Mereka mulai melangkah ke bagian operasional kapal, di mana ada seseorang yang sedang merokok di sana. Jullian mengisyaratkan anak buahnya untuk pergi, hingga dia bisa menunjukan isi kapal.
“Kau membawaku ke bagian kemudi, Nak.”
“Kau tidak tahu itu.” Jullian tersenyum, dia membuka tempat pijakan kaki, ada ruang di sana yang tertutupi karpet. Pemuda itu turun diikuti oleh Louis dari belakang.
Saat lampu menyala, Louis dibuat terkejut oleh sekitarnya. Pemuda itu dengan berani memperlihatkannya semua jalur perdagangan, peta yang dicorat-coret menempel di mana-mana, setiap wilayah diberi keterangan. “Kau cukup lihai.”
“Aku belajat dari kakekku.”
“Kakekmu?” Mata hitam itu beradu dengan manik biru malam. “Jack Hudson?”
“Sí, dia dilatih langsung oleh para mafia, sama sepertimu. Aku yakin anakmu nanti akan menjadi pemimpin klan besar jika kita bekerja sama,” ucapnya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. “Aku telah menjual banyak minuman, tapi Spanyol masih belum bisa aku sentuh.”
“Kau ingin menjual minumanmu ke Spanyol?”
“Hei, ayolah, negaramu eksotis, tempat cocok untukku berdagang.”
“Dan sebagai gantinya kau memberiku jalur ini?” Louis memasukan tangannya ke dalam saku, dia menatap semua benda yang ada di sana. “Kau punya kapal selam?”
“Ya, penuh dengan torpedo dan pendeteski ranjau.”
Louis tidak kunjung memberi jawaban diinginkan, Jullian menatap pria itu. “Bagaimana? Kau berdagang senjata di wilayahku, dan aku berdagang di wilayahmu.”
“Kau membuatku malu dengan semua pencapaian ini.”
“Aku bilang hanya ingin menjadi menantumu, buatlah anak perempuan, atau adopsi seorang anak yang akan mewarisi Dioses La Asesinos.”
Louis terkekeh, dia menatap manik Jullian sebelum akhirnya menggeleng. “Aku hanya akan menjual senjata padamu, dan kau memberiku jalur ke Rusia, setelahnya hubungan kita berakhir.”
Pemuda itu mengumpat, dengan kesal dia memadamkan rokok dan membuka pintu di atasnya, mempersilahkan Louis naik lebih dulu sebelum dia mengikuti. Langkah Louis terhenti di bagian luar kapan, dia menatap hamparan laut yang begitu terang.
“Kau ingin bercerita bagaimana Dioses La Asesinos ada di tanganmu?”
Louis menatapnya dengan kening berkerut, membuat Jullian melanjutkan, “Aku dengar kau membantai tiga kartel besar di sana sebelum naik ke singgasana.”
“Sebagian ceritamu benar.”
“Aku dengar mereka punya gigi tajam, tatto yang penuh dan mata yang seluruhnya hitam, mereka juga punya cakar, dan taring. Begitukah anggota klan mu?”
Louis menatap malas. “Kau pikir mereka beruang?”
Jullian membalasnya dengan kekehan dan gedikan bahu, dia cekikikan membayangkan apa yang ada dalam pikirannya. “Aku juga dengar lambangmu adalab jaguat hitam, benar-benar keren. Apa kau terpikir membuatkan lambang untuk klanku?”
“Ya, buatlah bendera dengan gambar lalat buah.”
Bukannya marah, pria itu malah tertawa, membuat Louis semakin heran menatapnya. “Kau lihat? Aku begitu ceria?” Dia memamerkan gigi putihnya. “Maka buatlah anak perempuan dan jadikan aku menantunya, akan aku pastikan dia tertawa tiap hari.”
“Transaksi kita selesai.” Louis mengancingkan mantel tipis yang menutupi tubuhnya. “Aku akan pergi.”
Segera meninggalkan tempat itu dan menuju Norman yang berdiri di depan kap mobil dengan pistol di tangannya. Dia terlihat siaga, dan merasa lega melihat kedatangan sang majikan. “Bagaimana, Señor?”
“Aku meragukannya, dia masih bocah belasan tahun.”
Norman terkekeh. “Sedikit lebih muda saat kau mengambil alih kartel.”
Membiarkan Norman membukakan pintu untuknya, mobil itu keluar dari zona Cosa Nostra atau yang sering disebut sebagai Black Jackal. Beberapa penjaga yang berdiam di kegelapan menatap kepergiannya, meninggalkan pertimbangan di kepala Louis untuk mengambil tawaran. Hanya saja, dia tidak bisa memenuhi keinginan untuk menjadi mertuanya. Selain tidak memiliki putri, Louis tidak ingin menantu yang cekikikan semacam pria itu.
“Bagaimana keadaan mansion?”
“Nona Amelia digigit jaguar, dia mengurung Lucia Michelle di penjara bawah tanah.”
Tubuh Louis menegang sesaat. “Apa yang dia lakukan pada Lucia?”
“Dia mendapati anda bersamanya, Nona Amelia menyiksanya.”
Ketegangan itu berubah menjadi senyuman miring, mata kelamnya memperlihatkan ketertarikan pada pembicaraan itu. “Benarkah?”
“Aku yakin dia tidak akan bertahan, mengingat Nona Amelia begitu kejam.”
“Mari kita lihat apa yang akan didapatkan Michelle pada fisiknya.”
***
Sang jaguar hitam itu menggeram merasakan seseorang yang mendekat, dia tetap melindungi seorang perempuan yang terbaring lemah tidak berdaya. Dengan kakinya yang pincang, dia melangkah di ujung ruangan, di dalam jeruji dia mengaum begitu melihat seseorang yang berniat jahat. Rasa sakit akibat peluru seakan tidak dirasakan, itulah yang disebut kesetiaan. Melawan semua yang dirasa, demi keselamatan seseorang.
Amelia yang kini memakai tongkat berjalan tertarih-tatih, dibantu Monica dan Salma di kedua sisinya. Dengan wajahnya yang menahan amarah, dia menodongkan pistol pada jaguar itu, yang dibalas dengan raungan.
“Aku akan menembakmu, jaguar sialan,” desisnya mengarahkan pistol ke hewan yang memusuhinya. “Kau akan mati.”
“Señorita! Tidak!” Seorang pria menahan Amelia, dia merebut pistol itu dan mengangkat tangannya.
“Kembalikan padaku!”
“Jaguar itu milik Señor Louis.”
“Kembalikan padaku!”
“Kau dengar perintah Señorita? Kembalikan padanya,” perintah Salma yang masih menahan Amelia agar tidak jatuh.
“Sebaiknya kalian keluar, para penjaga akan kembali.”
“Kalian itu bawahanku! Aku akan menjadi Señora di sini!”
Jeritan Amelia membuat mata Lucia perlahan terbuka, dia tidak makan seharian. Setiap jam Monica dan Salma datang hanya untuk menyiramnya menggunakan air jeruk, membuatnya menjerit kesakitan sebelum pergi dengan tawa. Dan kini, Lucia melihat mereka sedang meributkan pistol, yang bisa membunuhnya hanya dengan satu tarikan saja. Beruntung jaguar itu melindunginya.
Namun, keberuntungan tidak berlangsung lama. Sebuah langkah mendekat, membuat jaguar itu berhenti mengaum. Penjaga yang melihat kedatangan Louis itu berhenti bergerak, pasrah membiarkan Amelia mengambil pistol darinya.
Lucia mengedip pelan, merasakan rasa sakit di kepala, rasa kering di tenggorokan sampai luka-luka sayatan yang hingga kini masih mengeluarkan darah. Dia melihat penjaga itu membuka jeruji besi, membiarkan sang jaguar keluar dan duduk tepat di bawah kaki Louis. Tidak ada lagi yang menjaganya, Lucia kini benar-benar sendirian.
Ketika Amelia masuk ke dalam dibantu oleh Monica dan Salma, dia kembali duduk di kursi tempat sebelumnya. Dia memainkan pistol di tangannya. Amelia tertawa girang. “Lihat, aku akan membunuhmu di hadapan Louis.”
Lucia menggeleng pelan, tenaganya hilang. “Señorita, ampuni aku,” ucapnya tertelan angin.
Amelia memberi tatapan perintah pada Monica untuk mengguyur kembali Lucia.
“Aaaaaaaa!” Teriakannya bersamaan dengan isak tangis, lukanya kembali tersiram oleh air jeruk. Pedih, sakit, perih tidak tertahankan. “Señorita, maafkan aku.”
Bahkan bajunya sudah tidak karuan. Rambutnya berantakan, menutupi sebagian pandangannya. Bajunya robek, roknya kotor. Lucia hampir mirip dengan mayat yang diterlantarkan. “Ampuni aku, Señorita, ampuni aku.”
“Kau pantas mendapatkan itu, sialan! Kau menyentuh milikku! Tendang dia!”
Tanpa kasihan, Monica menendang punggungnya hingga menimbulkan suara keras. Lucia merasakan sesak, matanya berkabut oleh air mata. Untuk sesaat, dia berhenti bernapas akibat rasa sakit yang mengalahkannya. Lucia menarik napas dalam, merasakan akibat tendangan itu. “Señorita…”
“Lihat, itulah yang akan kau dapat jika menggoda milikku.”
Sementara pria bermata hitan itu hanya menatap, dengan kedua tangan masuk ke dalam saku, tanpa ekspresi, ditemani jaguar hitamnya yang terluka.
“Kau akan mati.” Amelia menodongkan pistol ke arah Lucia.
Sontak saja perempuan itu menggeleng kuat, air matanya berjatuhan, keringat bercampur membuatnya tambah kacau. “Ampuni aku.”
Louisa, hanya itu yang Lucia ingat. Dia tidak ingin pulang sebagai mayat, sebagai sosok ibu yang penuh kebohongan. Setidaknya, Lucia ingin membahagiakan Louisa sekali saja. Dia ingin menjadi ibu yang baik, dia ingin memastikan putrinya hidup layak jauh di atasnya. “Ampuni aku.”
“Wanita penggoda sepertimu harus dihancurkan. Kau tahu itu ‘kan?”
Lucia menggeleng, dia mencoba bangkit, tapi sia-sia, tenaganya hilang. “Ampuni aku.”
“Haruskan aku memberi dia sayatan lagi, Señorita?” Monica bertanya.
“Kau punya usul, Monica?”
“Bagaimana kalau kita potong rambutnya,” saran Salma yang seketika dibalas senyuman oleh Amelia.
Dia menengok ke arahnya. “Kau membawa gunting?”
“Aku sudah mempresiksi,” ucap Salma mengeluarkan benda itu dari sakunya, dia berjalan dengan senyuman jahat. Berdiri di belakang Lucia yang menangis, menunggu perintah dari Amelia.
“Gunting rambutnya!”
“Tidakkk!” Lucia merasakan kepalanya terangkat, dijambak sebelum akhirnya digunting dengan brutal. Dia mencoba melepaskan, dengan cara menancapkan kuku di tangan Salma dan Monica.
Hal itu malah menambah kemarahan, keduanya membanting Lucia keras hingga perempuan bermata biru itu mengejang merasakan sakit dan sesak di saat yang bersamaan.
“Sialan, kau membuat tanganku terluka.”
“Jangan lakukan ini, Señorita.”
“Kenapa tidak?” Amelia mengangkat alis. “Tidak akan ada yang menangisimu jika kau mati.”
“Señorita, aku akan melakukan apa saja.”
“Hentikan,” perintah Amelia menghentikan Monica dan Salma yang hendak kembali menggunting rambutnya. Mereka mundur membiarkan Amelia menembakan peluru di kepala Lucia.
Perempuan itu menggeleng kuat, air matanya tetap berjatuhan. “Ampuni aku…”
“Baiklah.” Amelia menarik kembali tangannya. “Jika kau bersujud di hadapanku, dan mengatakan apa yang aku inginkan.”
“Kau dengar itu? Cepat lakukan!” Salma memberinya tendangan.
Manik biru itu menatap Louis yang sedari tadi hanya menonton. Tahu kemana arah tatapan Lucia, Amelia semakin murka, dia menembakan peluru tepat di samping Lucia. “Beraninya kau menatap pria pujaanku! Dasar jalang!”
“Ampun, Señorita, maafkan aku.”
Dan dengan tenang, Amelia menatap Louis, tentu dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. “Kau tidak keberatan aku membunuhnya ‘kan, Louis?”
“Jika dia memilih itu. Aku yakin dia punya pilihan yang lebih bagus.”
Bibirnya menyeringai, mengingatkan Lucia akan tawaran Louis. Nyawanya hanya seharga dengan wanita murahan yang menjajakan harga dirinya, tidak ingin dia lakukan itu. Maka, Lucia memilih merangkak menuju Amelia menggunakan sisa kekuatannya. Rambutnya bercampur dengan air mata dan keringat, darah yang menetes seakan tidak dirasakan.
Lucia bersujud tepat di kaki Amelia. “Maafkan aku, Señorita.”
“Oke.” Amelia menyilangkan tangannya di dada. “Ikuti perkataanku sekarang.”
“Sí.” Tetesan air mata Lucia jatuh pada tangannya yang dilumuri darah.
“Aku adalah wanita rendahan.”
“Aku adalah wanita rendahan.” Lucia mengulangi.
“Yang tidak punya harga diri.”
“Yang tidak punya harga diri.”
“Manusia kotor sepertiku hanya bisa mengais-ngais makanan layaknya hewan pengerat.”
Lucia menelan ludahnya, bibirnya bergetar menaan isakan. “Manusia kotor sepertiku hanya bisa mengais-ngais makanan layaknya hewan pengerat.”
“Dan aku adalah makhuk menjijikan yang menggoda majikanku sendiri.”
Salma dan Monica tertawa mendengarnya, begitu juga Amelia yang mengatakannya.
“Dan aku adalah makhluk menjijikan yang menggoda majikanku sendiri.”
“Aku tidak lebih dari sekedar kotoran di muka bumi.”
“Aku tidak lebih dari sekedar kotoran di muka bumi.”
“Dan Nona Amelia memberiku nyawa dengan mengampuniku.”
“Dan…”
Ketika napas Lucia tersenggal, Amelia menendangnya kesal. “Ulangi perkataanku!”
“Dan Nona Amelia memberiku nyawa dengan mengampuniku.”
“Dia adalah malaikat yang akan menjadi Señora De La Mendoza.”
“Dia adalah malaikat yang akan menjadi Señora De La Mendoza.”
Amelia tersenyum senang, dia berdiri lalu menginjak jemari Lucia dengan sepatu runcingnya. Lucia menggigit bibir bawahnya merasakan rasa sakit itu, air matanya tetap menetes.
“Tetaplah jadi sampah untuk aku injak, bodoh.”
---
ig : @Alzena2108
wattpad : @Little-Zee
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sweet Candy🍭
karakter Lucia terlalu lemah.
karakter Louis terlalu jahat, cuek, parah
karakter Amelia dll jahat bgt
2024-12-22
1
Bunga Istiqomah
🥺🥺🥺🥺
2024-06-13
0
Hatiku Hati Hati
ini baru lucu
2023-07-16
0