Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Madrid, Spanyol.
“Oh my god, Andrean. Kenapa harus aku?” Mata Lucia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Dari semua orang di mansion, hanya Andrean yang membuat Lucia berani memperlihatkan raut wajah aslinya.
Berbanding terbalik dari kata tenang, kini dia panik akan kembali ke kamar Louis untuk membawakan makan malam.
Pria tua itu mendekati Naomi yang memasak.
Pemilik mata biru itu mengikuti, dia diam menatap Naomi yang menyajikannya di atas piring, kemudian dia susun di ats nampan putih tulang dan memberikannya pada Andrean. Sambil berkata, “Ini makan malam Señor Louis.”
“Gracias,” ucap Andrean menerimanya. Kemudian dia membalikan badan, melangkah menuju Lucia dan berkata, “Ini perintah Tuan Louis, antarkan ini ke kamarnya.”
“Andrean, please.”
“Lucia, ini tugasmu.”
“Sí,” ucapnya lemah. Lucia menaiki tangga, sesekali dia menalan ludahnya kasar, merasakan sakit dilehernya yang tertutupi scraft. Luka yang diberikan Louis cukup dalam, pria itu tidak berhenti mengintimidasi, mencari jawaban yang memuaskan.
“Makan malam anda, Señor.” Menatap seorang pria yanh sedang menelpon membelakangi.
Lucia berdiri di dekat sofa saat pria itu duduk, bertanya saat mendapati tangan Louis bergetar. Efek tadi pagi. Tidak ingin mendapat masalah, Lucia hendak keluar, tapi Louis menahannya.
“Campurkan nasi dan supnya.”
Membalikan tubuh, “Sí, Señor,” ucapnya duduk bersimpuh di atas karpet.
Tubuh Lucia menegang ketika tangan Louis menelusup masuk ke dalam scraft, menekan luka yang dibuatnya. Perempuan itu mencoba tetap tenang. “Ada yang lainnya, Señor?”
“Sí.” Dia menunduk. “Jangan pernah bermain-main di belakangku.”
“Mengerti, Tuan.”
“Kau tahu cara menghentikannya?”
Lucia menatap tangan Louis yang masih gementaran. Perlahan perempuan itu mengangguk. “Kau bisa merendamnya dengan air hangat. Atau handuk hangat.”
“Kenapa kau tidak bawakan itu?”
“Sí, Señor.”
Dengan gerakan cepat dia menuju kamar mandi, air mata Lucia menetes begitu saja. Mengingat bagaimana kejamnya Louis pada dirinya. Malangnya nasib Louisa, dia memiliki ayah berbanding terbalik dengan imajinasinya.
Segera dia membasahi handuk kecil dengan air hangat setelah menghilangkan jejak kesedihannya.
Lucia yang duduk di atas karpet, mengusap pelan tangan majikannya. Siapapun akan menyadari jika hubungan mereka adalah tuan dan budak. Lucia menunduk di bawah kaki Louis yang gagah.
“Louis, My Dear!” Teriak seseorang yang baru saja datang, dia berlari dan menangkap pria yang dianggapnya sebagai kekasih sedang bersama wanita lain.
Seketika, Amelia menjambak rambut Lucia, menamparnya kuat dan mendorongnya ke tembok. Lucia mendesah kesakitan, dia melihat jelas wanita bergaun merah itu menginjak tangannya, menggunakan heels lancipnya. “Beraninya tangan itu menyentuh kekasihku.”
“Aaaaa!”
“Hentikan, Amelia,” ucap Louis dengan datar, dia melanjutkan pekerjaan Lucia oleh dirinya sendiri.
Bukannya berhenti, Amelia menendang punggung Lucia. “Aaaa! Ampun, Señorita, saya tidak bersalah,” ucapnya disertai air mata. Lucia merangkak mencoba keluar. Sayang, Amelia kembali menjambak dan menariknya untuk berdiri.
“Louis adalah kekasihku! Kau dengar?!”
“Sí, Señorita, sí. Aaaaa!” Lucia kembali menjerit saat dia dibanting, ulu hatinya tepat mengenai gagang pintu. Begitu menyakitkan hingga dia tidak bersuara, dan itu membuat Amelia tertawa puas.
Di saat pemilik gaun merah itu hendak kembali menjambak, Louis menahan tangannya. “Pergi,” ucapnya pada Lucia yang sudah tidak berdaya.
Pemilik mata biru itu merangkak, menggapai pintu dengan air matanya yang menetes. Meninggalkan wanita yang menyiksanya, yang tertawa melihat ketidakberdayaannya.
“Kenapa kau lakukan itu?” Tanya Louis dengan tajam.
Amelia tersenyum manis. “Bukankah itu yang kau suka? Aku dengar, Penelope Mentinel menganiaya kru dan pembantunya hingga hampir meninggal. Tahu apa yang dikatakan orang-orang? Mereka bilang kanker adalah buah dari kekerasannya.”
“Tutup mulutmu.”
“Atau apa? Kau akan membunuhku? Aku tahu kau membutuhkan jalan untuk penjualanmu Louis. Tanpa aku, ayahku akan menangkapmu, FBI sudah mengincarmu sejak lama.”
“Tidak lama lagi aku akan menguasai kementrian,” ucapnya menahan tangan Amelia yang hendak mengelus pipinya.
Wanita itu tertawa, menatap pria yang menjauh darinya. Louis hendak mengganti bajunya yang terkena handuk basah. “Kalau begitu, kita menikah, dan kau bisa melakukan apapun padakku, aku akan menurut. Bagaimana?”
Louis tersenyum miring. “Dalam mimpimu, aku takkan menikah dengan wanita sepertimu.”
“Maka aku akan selalu berada di sisimu. Atau jika aku agak marah, aku akan membuka topengmu pada ayahku.”
“Beranilah, Amelia,” ucap Louis. Bajunya ditanggalkan, menyisakan tubuh yang dipenuhi tatto. “Kau akan dimakan oleh jaguar hitamku.”
Wanita itu menelan ludah kasar. “Maka kau harus siap melihatku setiap hari. Aku takkan berhenti sampai kau menikahiku, kau adalah satu-satunya pria yang aku puja, Louis.”
***
“Saya tidak tahu apa-apa, Tuan, saya mohon ampuni saya,” ucap seorang wanita ras korea di balik jeruji besi. Air matanya berderai, menahan ketakutan yang amat mendalam dari sepasang mata hitam.
Hyo-in memeluk jeruji, berharap dikeluarkan dan dijauhkan dari dua hewan mengerikan. Terdapat dua black panter di balik jeruji, menyelimuti Hyo-in dengan kematian. “Saya mohon, Señor, saya tidak tahu apapun.”
Norman berjongkok, menyamakan tinggi badan dengan Hyo-in. “Siapa yang menyuruhmu memasukan bumbu itu ke dalam makanan?”
Wanita itu menggeleng, bersama tangisan. Kakinya dirantai, membatasi gerak. Penjara yang ada di bawah tanah begitu gelap, hanya ada satu lampu yang berada di luar penjara. Bukan hanya satu, melainkan 20 tempat kurungan yang berjajar, dengan macan hitam berada di dalamnya, menunggu manusia yang berani bermain dengan Louis, hingga hewan itu dapat memakan mereka.
“Jika kau menjawab, Tuan mungkin akan mengampunimu.”
“Itu….” Dia menyeka air mata. “Seorang pria memberitahuku bahwa ada pekerjaan bagus, aku tidak tahu akan dijadikan pelayan di sini.”
Louis terdiam, menatap dengan mata elangnya, mengintrupsi Norman agar melanjutkan.
“Bagaimana ciri-cirinya?”
“Dia seorang kakek yang membantu mengurus kewarganegaraan saya. Lalu saat saya bilang akan bekerja padanya, pria lainnya menjemput keesokan paginya dan membawa saya kemari.”
“Bagaimana ciri-ciri pria yang membawamu?”
“Dia memakai masker, matanya hitam, dan memiliki bekas luka di mata kirinya. Hanya itu yang saya tahu, ampun,” ucapnya memohon.
“Lalu dari mana kau dapatkan merica?”
“Itu, pria itu yang memberikannya, dia bilang Tuan Louis menyukai rempah,” jawaban yang membuat Louis mengetatkan rahang.
Norman kembali bertanya. “Apa Andrean tidak memberitahumu jika tidak boleh ada rempah itu di sini?”
Hyo-in terdiam, membuat Norman berdiri dengan kesimpulan dalam benaknya. Hal itu membuat si wanita menangis semakin keras. “Ampun, Tuan. Saya melakukan ini demi uang, anak saya sakit, saya hanya ingin dia sembuh. Ampun, Tuan.”
Norman menatap Louis, mencari emosi yang bisa diterjemahkan. Sayang, pria itu hanya diam.
“Ampun, Tuan, jangan bunuh saya. Kasihan anak saya.”
“Kau tahu setiap perbuatan ada konsekuensinya.” Louis menyeringai, membuat macan yang berada di ruangan sama dengan Hyo-in mengaum keras. “Kau akan mendapatkannya.”
“Ampun, Tuan!” jeritnya ketakutan saat hewan itu mendekat.
“Señor?” Tanya Norman dengan tenang.
“Kau mematuhi perintah orang yang salah.” Lalu mata hitamnya menatap dua hewan hitam itu. “Beri dia pelajaran.”
“Aaaaaaa!” Seketika penjara bawah tanah itu dipenuhi jeritan.
Louis menyeringai ketika dirinya melangkah menjauh, dia berkata pada Norman yang ada di belakangnya. “Periksa anaknya, pastikan dia dapat kehidupan yang layak.”
“Sí, Señor.”
***
Palma, Kepulauan Balreas, Spanyol.
Pagi itu burung berkicau, menambah keceriaan seorang anak yang hendak pergi ke perkemahan musim panas. Diantar oleh bibinya, senyuman di bibirnya tidak luntur, membuat lesung pipinya nampak jelas.
Ketika langkahnya terhenti, dia menatap banyak anak yang sedang bermain di bawah pohon-pohon rindang, suara aliran sungai menambah kemerduan harmoni alam. Panasnya musim dikalahkan oleh rindangnya pohon, begitu lebat hingga hanya beberapa sinar matahari yang bisa menerobos. Sungguh cocok untuk berkemah.
“Bolehkan aku bermain dengan mereka, Bibi Rani?”
“Kita harus menemui gurumu dulu, Sayang,” ucapnya membujuk anak yang memajukan bibir.
Wajah menggemaskan Louisa tidak bisa ditolak, Rani akhirnya mengangguk.
“Asyik!” serunya dengan riang.
“Jangan terlalu jauh, jangan bermain di dekat sungai. Bibi akan menemui Mr.Allert dulu, oke?”
Louisa mengangguk mengerti.
“Jika mencariku, masuk ke sana, oke?” Menunjuk bangunan pengawas yang tidak jauh dari pekemahan.
“Oke.”
“Ingat, bermain dengan hati-hati.”
Louisa mengangguk sebelum berlari menemui temannya yang lain. Tas di punggungnya bergerak naik turun akibat larinya yang kencang, topinya hampir terjatuh jika tidak dia pegang. Gadis cantik yang dikepang dua itu menemui sekumpulan anak perempuan di dekat tumpukan kayu.
“Hallo…,” sapanya pada teman dengan wajah gembira. “Apa kalian sudah menemui Mr.Allert?”
Kyle, Amina dan Sora nama ketiga anak perempuan itu. “Ya,” ucap Sora menjawab mewakili.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Amina.
Louisa menggeleng, menahan senyuman di wajah cantiknya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “
Tangan kecil Sora menerimanya. “Really?”
“Ya,” ucap Louisa dengan bersemangat.
Bersamaan dengan itu, ibu Kyle dari ras kulit hitam mendekat. “Hei, girls, whats going on?”
“Dia bilang ini ayahnya,” ucap Kyle memberikan pada ibunya.
Wanita berambut gimbal itu mengerutkan keningnya. “Bukankah ini gambar dari majalah?”
Ibu dari Sora mendekat juga. “Ada apa, Helen?”
“Dia bilang ini ayahnya,” bisiknya yang cukup keras.
“Ayahnya? Ini foto dari sobekan majalah. Apa ibunya mengajari dia bohong?”
Louisa menunduk sesaat, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, membuat wanita itu berjongkok menyamai tinggi Louisa. “Sayang, kau tidak boleh berbohong.”
“Aku tidak bohong,” ucapnya dengan mata berair. “Mum sendiri yang bilang.”
“Astaga, ibumu pasti berkhayal,” gumam Ibu Sora menggelengkan kepala. “Kau tidak boleh bohong, mengerti?”
“Lee tidak bohong.” Bibir kecilnya menahan tangis.
“Tapi ini bukan ayahmu.”
“Tidak! Itu papa Lee!” Merebut kembali robekan foto majalah, Louisa berlari menjauh sambil menangis. Dia berlari kencang hingga kakinya tersandung akar pohon. Gadis kecil itu terjatuh, keningnya menyentuh tanah yang membuatnya kotor.
Louisa kecil kengusap air matanya kasar, masih menahan isak tangisnya. Hingga anak berusia empat tahun itu tidak dapat menanggungnya lagi, dia menangis keras sambil berucap, “Daddy, Louisa have a daddy.”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Bunga Istiqomah
❤❤❤❤❤
2024-06-12
0
^__daena__^
sabar Lee😭
2023-10-25
1
Diana diana
sabar , baby
daddy mu sedang tersesat . .
2023-05-19
0