Vote sebelum membaca😘😘
.
.
“Señor, kau tahu apa yang aku pikirkan?”
Louis yang ada di jok belakang mobil itu terdiam, dia mengelus kepala Louisa yang terlelap dalam pangkuannya. Jalan-jalan seharian membuatnya kelelahan. Hingga diakhir hari, dia tertidur.
“Putrimu bisa menjadi sasaran yang empuk untuk musuh-musuhmu.”
“Aku tidak bisa meninggalkannya lagi sendirian, dia membutuhkanku.” Memeluk Louisa erat dan memberi ciuman di pucak kepalanya. “Dia membutuhkanku.”
“Musuhmu kini dipersenjatai, mereka bertransaksi dengan kartel Meksiko. Kau tahu hari itu akan datang, Señor, dimana kau harus membantai mereka semua.”
“Takkan aku biarkan Louisa melihatnya, dia hanya akan melihat, merasakan kebahagiaan sepanjang hidupnya.”
Ketika Louis melihat mobil lain ikut terparkir di depan pelabuhan, dirinya segera turun dengan Louisa di gendongannya. Laut Palma menjadi saksi bisu bagaimana Louis tidak ingin meninggalkan putrinya, meskipun dia tengah terlelap.
“Señor Louis.”
“Mr.Montenegro.”
Mereka berjabat tangan sesaat. Norman senantiasa mengawasi dari dalam mobil, dibalik kacamata hitamnya terdapat mata tajam untuk melihat sekeliling, bersiap untuk yang terburuk. Kini bukan hanya satu nyawa yang harus Norman jaga, melainkan dua.
“Aku dengar kau ingin membeli Paradise One milikku.”
“Kita lihat bagaimana isinya sesuai untuk memuat kekayaanku.”
Pria yang sudah dipenuhi uban itu tertawa, mempersilahkan Louis untuk berjalan lebih dulu. Dipantai yang dipenuhi batu karang itu terdapat jajaran kapal pesiar, berwarna putih kontras dengan air laut. Louis mendekati salah satu yang paling besar, seseorang mempersilahkan membuka portal penghalang menuju yang satu itu.
“Ini begitu besar, Mr.Montenegro.”
“Ya, cukup untuk bawaanmu yang begitu banyak. Please, lihat bagian dalamnya.”
Louis melakukannya, kabin yang cukup luas dengan desain retro. Terdapat 20 kamar, bar, jacuzzi pesta, ruang bersantai, dan tempat bermain golf. Bagian menariknya, Louis menemukan salah satu kamar bergaya victoria yang dipenuhi mainan anak perempuan.
“Maaf, aku belum membereskannya, itu bekas cucuku yang hilang.”
“Dia hilang?” keterdiaman Lucky membuat Louis melanjutkan. “I’m sorry.”
“Tidak apa, Señor, lihatlah bagian luarnya, di sana kau bisa melihat pemandangan yang indah.”
Memang benar, pemandangannya sangat indah. Apalagi di lantai dua, Louis bisa dengan mudah mengawasi Louisa yang bermain, sementara dirinya berjemur.
Setelah lelah berkeliling dengan Louisa di pangkuannya, Louis menerima tawaran Lucky untuk bersantai sejenak di dalam sambil menikmati minum. Louis sengaja membuka jendela di sampingnya, membiarkan angin laut membelai wajah putrinya.
“Apa dia putrimu?”
“Ya, dia kelelahan setelah seharian berada di taman bermain.”
“Aku tidak tahu kau punya putri, Señor.”
“Begitu juga denganku.” Louis mengangkat bahunya. “Sampai aku datang ke sini.”
Lucky melihat dengan jelas bagaimana pria itu mencintai putrinya. Dia membereskan rambut yang menutupi wajah mungil itu sebelum memberi ciuman beberapa kali. Pria tua yang sedang meracik minuman di bar itu tidak melepaskan pandang dari Louis, pria berkaos hitam itu sungguh menjaga putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Kau tahu putrimu akan ada dalam bahaya bukan, Señor?” Lucky meletakan segelas tequilla dengan keju di atas meja, dia bergabung di sofa. “Ada resiko dari pekerjaanmu.”
“Ya, dan aku akan menjaganya dengan baik.”
“Siapa wanita beruntung yang mengandung anakmu, Señor?”
Louis terkekeh, wajah datar terpasang untuk Lucky. “Wanita keras kepala dan agak sedikit bodoh, tapi dia pintar dalam menjaga anakku.”
“Benarkah?”
Mata hitam itu terfokus ketika merasakan putrinya bergerak. Tahu dia akan segera bangun, Louis berdiri dan menimangnya ke kanan dan ke kiri. Namun, Louisa tetap membuka matanya. Dengan wajah lucu dia mengucek kedua mata, bibirnya mengerucut dengan rambut terbang tertiup angin laut.
“Daddy?”
“I’m here.”
Mulutnya membentuk senyuman lebar ketika hal yang pertama dilihatnya adalah Louis.
“Kenapa bangun? Tidurlah lagi, sebentar lagi kita akan pulang,” ucapnya memaksa anak itu kembali menyandarkan kepalanya, tapi Louisa menolak, dia menegakan tubuh dan mengelilingi ruangan itu dengan tatapannya.
“Dimana kita?”
“Bolehkah aku membawanya berkeliling sejenak?”
“Tentu, Señor.” Lucky mempersilahkan pria itu mengayomi anaknya.
Louisa dengan wajah cerinya merangkul leher Louis, mengedarkan pandang pada tempat asing yang begitu indah. Apalagi saat matanya terkena sinar matahari senja, Louisa kecil tertawa yang mana membuat Louis gemas untuk memberinya ciuman di pipi.
“Ini pantai.”
“Seperti keinginanmu, Princess.”
“Apa kita akan naik kapal ini?”
“Ya, tentu saja.”
Louisa tertawa ketika ayahnya menirukan nada bicaranya. “Berhenti mengikuti cara bicara Lee, Daddy.”
“Kenapa? Bukankah ini lucu?”
Semua yang Louis lakukan untuknya selalu membuat Louisa tertawa, bahagia bersama pria yang dinantinya sejak lama. Ketika Louis menurunkannya, Louisa berlarian membuat pria itu kewalahan untuk mengejarnya.
Tingginya yang bahkan lebih pendek dari pagar pembatas membuat Louis kembali menggendongnya. “Jangan berlarian, kau bisa jatuh.”
“Kapal ini milik Daddy?”
“Ini milikmu, untukmu.”
“Really?” Mata bulatnya berbinar. “Boleh Lee namakan Teddy Bear?”
Sejenak Louis terdiam, dia tidak mengira pertanyaan itu akan keluar. Teddy Bear? Kapal yang akan mengangkut senjata dinamakan itu? Ide pertama Louis ketika hendak membeli kapal pesiar yaitu memberinya nama ‘De La Mendoza Jagueros.’ Setidaknya itu nama terkeren untuk kapal penyelundup senjata api. Dan Teddy Bear?
Keterdiaman Louis membuat Louisa menekan hidung ayahnya menggunakan telunjuk. “Apa Daddy terkena stroke?”
Terkejut dengan pertanyaan itu, Louis berkedip. “Apa yang kau ketahui tentang stroke?”
“Ayah temanku sering begitu, dia bilang tubuhnya tidak bisa bergerak seperti Daddy tadi.”
“Itu bukan stroke, Sayang, Daddy hanya terkejut.”
“Jadi, bisakah kita menamakannya Teddy Bear? Lee sendiri yang akan melukisnya.”
Kembali terbayang dalam pikiran Louis bagaimana putrinya dengan riang megecat kapal pesiar ini, warna-warni coretan akan ada di mana-mana. Ditambah dengan nama Teddy Bear, orang akan mengira kapal ini mengangkut boneka yang sedang berpesta.
“Daddy, kau stroke lagi.”
“Señor Louis?”
“Ya?” Wajah datar kembali dia setting ketika berhadapan dengan Lucky.
“Aku masih ingin menunjukan bagian terbaik padamu, jika kau bisa ikut denganku.”
Matanya menatap Louisa lebih dulu, saat putrinya mengangguk, baru Louis mengikuti kemana Lucky pergi. Dia mengajak ke bagian belakang kapal, di mana di sata tersedia kursi santai yang berjajar.
“Ini bagian terbaiknya kau harus membeli kapal ini, Señor. Dibawah tempat ini, ada ruang untuk menyelundupkan barangmu.”
“Berapa banyak yang dapat dimasukan?”
“Sekitar 20.000, tempat ini tersembunyi, dilindungi besi kuat dan keamanan tinggi. Bagaimana?”
“Darimana kau tahu tentang ruang tersembunyi?” Pertanyaan itu dia maksudkan untuk menghilangkan kekhawatiran. Hingga Charlie menjawab, “Dari Signore Jullian, dia pemuda yang berbakat.”
Bagaikan ditembak bom atom, Louis terdiam seketika. Membuatnya mengeratkan pelukan pada Louisa lebih erat.
“Penyelundupan itu--”
“Apa yang Daddy selundupkan?” Tanya Louisa memotong ucapan Charlie.
Louis seketika tersenyum, ekspresi langka yang bahkan membuat Charlie tertegun. Melihat ada satu lesung pipi di pipi kiri Louis.
“Daddy menyelundupkan mainanmu, Sayang,” ucapnya lalu memberi tatapan pada Charlie untuk menemui Norman sebagai pengesahan pembelian. Sementara dirinya menggendong Louisa menjauh dari sana.
Tangan kecilnya menggaruk pipinya sendiri. “Apa Daddy suka menyelundupkan?”
“Ya, Daddy rasa begitu. Jangan terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, itu tidak baik, Lee.”
“Memangnya apa itu menyelundupkan, Daddy?”
“Huh?”
***
“Lucia, ayolah jangan kurung dirimu sendiri di sana, Señor Louis akan marah,” ucap Andrean mengetuk pintu berulang kali. Lucia membawa kunci cadangan ke dalam kamar hingga membuat semua orang kebingungan, seharian dia berada di kamar lamanya, tanpa keluar untuk makan sedikitpun.
Entah ini pertanda apa, tukang kunci yang seharusnya datang malah kecelakaan dalam perjalanan. Lalu pekerja lain yang Andrean panggil, mengalami patah tulang ketika bekerja di tempat lain, lalu yang terakhir meninggal tiba-tiba. Sungguh aneh, kejadian-kejadian itu menahan Lucia tetap berada di kamarnya.
“Lucia, setidaknya biarkan mereka membawa makanan untukmu, berhentilah keras kepala, itu menyusahkan dirimu sendiri.”
Semua kalimat itu hanya dianggap angin lalu oleh Lucia. Sejak semalam, dirinya terus menangis sendiri dalam kamar. Ketakutan itu akhirnya terjadi, Louisa membencinya, putri kecilnya membencinya karena berbohong. Lucia buntu, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Yang bisa membuatnya tenang saat ini hanyalah menangis, terus dan terus.
Hingga mata birunya mulai layu, Lucia perlahan terlelap dalam larutan air mata ciptaannya. Dia tertidur, dalam keadaan perut kosong dan penampilan berantakan. Bahkan Lucia masih memakai pakaian kemarin, dia tidak ingin beranjak sedikitpun dari kasur lamanya.
Tidak ada rencana apapun, Lucia benar-benar kehilangan alasan untuk melakukan sesuatu. Louis telah melihat Louisa, tapi tidak menerimanya. Putrinya membencinya, itu akan menjadi waktu yang panjang. Setidaknya fakta itu yang membuatnya lelah menangis saat ini.
Di saat yang bersamaan, Louis yang telah kembali mendekati Andrean yang berada di pintu depan kamar lama Lucia. “Ada apa, Andrean? Kenapa kau di sini?”
“Lucia tidak keluar kamar sejak pagi tadi, tidak ada yang bisa membuka pintunya.”
“Are you kidding me?” Louis mengisyaratkan seorang pelayan wanita untuk mendekat, mengambil jepit di kepalanya sebelum digunakan untuk membuka pintu kamar. Dan itu berhasil, dengan tatapan, Louis menyuruh Andrean pergi, sementara dirinya masuk ke dalam.
Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang perempuan yang tengah memejamkan mata. Bekas air mata menjadi perhatian manik hitamnya, menandakan bagaimana perempuan itu telah banyak menguras air mata. Louis duduk di bibir ranjang, setelah memastikan Lucia tidak demam, pria itu berani membuka kancing pakaian Lucia.
Saat perempuan itu menyadari ketidaknyamanan, dirinya bergerak. Dan Louis yang sudah merindukan bibir ranum yang kini berubah pucat itu segera menciumnya, membuat mata Lucia terjaga dan mulai kembali ke permukaan ke sadaran.
“Señor?” Lalu mulutnya dibungkam ciuman sebelum menyelesaikan kalimat itu. Louis berada di atasnya, mengendalikan dirinya. Tubuhnya yang lemah mendukung pria itu untuk mendominasi semuanya. Dalam waktu singkat, dia berhasil membuat pakaian Lucia terlepas, sementara dirinya tidak.
“Seorang anak berlari padakku, mengira aku adalah ayahnya, benar begitu?”
Lucia yang terkendali oleh gairah menggigit bibir bawahnya ketika Louis menciumi lehernya, menahan kedua tangannya untuk bergerak lebih. Tidak ada ruang gerak baginya selain jemari yang meremas udara, menyalurkan apa yang dirasa.
“Jawab aku, Lucia.”
Masih dalam egonya, Lucia menggeleng. “Tidak, dia bukan putrimu.”
Jika ada istilah untuk orang keras kepala sekuat baja, maka Lucia-lah orangnya. Membuat Louis lebih gemas hingga dia melakukan apa yang biasa membuat Lucia mengejang kaget.
“Señor…”
“Katakan padakku anak siapa itu.”
Ketika Louis melepaskan tangannya, Lucia mencengkram punggung Louis yang masih terlapisi kemeja hitam.
“Señor….” Lucia mencoba menghentikan sensasi aneh yang kembali menjalar di tubuhnya. Sayang, Louis seakan suka dia mendapat kelemahannya.
“Katakan, Lucia, anak siapa itu?”
“Dia anakku, dengan seorang pria di Palma,” ucapnya dalam satu tarikan napas, Lucia melingkarkan kakinya di pinggang Louis.
Rambut pria itu gak panjang, mereka jatuh menimpa pandangan Lucia. “I’m tired,” ucap Lucia diakhir kegiatannya.
Louis mengarahkan kembali wajah Lucia yang berpaling darinya, memaksa manik biru itu untuk membalas tatapannya. “Kau sudah sepakat untuk menghangatkan ranjangku.”
Fakta bahwa dirinya tidak lebih dari wanita penghibur di mata Louis membuat Lucia pasrah. Tangannya memeluk leher Louis erat, mata Lucia berkaca-kaca menangisi nasibnya yang benar-benar menyedihkan.
“Kau yakin dia bukan anakku, Lucia?” Tanya Louis ketika Lucia mulai dikendalikan gairah.
Sekeras-kerasnya batu karang, mereka akan terkikis oleh deburan ombak. Namun, hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Lucia, dia tetap menggeleng, bahkan ketika dirinya di ambang kesadaran.
Dadanya naik turun merasakan lelah yang berlebih, Lucia membiarkan Louis menciumi dirinya yang sudah tidak berdaya. Tanpa diketahuinya, Louis menyeringai sebelum melepaskan diri dari Lucia, dia kembali menutupi rel sleting celananya. Lalu menatap Lucia yang meringkuk tertutupi selimut.
“Jadi, dia bukan anakku?”
“Bukan, Señor,” ucapnya dengan mata terpejam.
Louis menundukan wajah, bibirnya tepat di telinga Lucia. “Kalau begitu bersihkan dirimu, makan malam lalu pergi ke kamarku, aku membutuhkanmu di sana.”
“Sí, Señor.”
Bersamaan dengan suara pintu tertutup, Lucia meneteskan air mata. Dia menyentuh dadanya yang berdetak begitu kencang, menutupi kebohongan dengan kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Nasi sudah menjadi bubur, Louisa telah membencinya. Namun setidaknya, Lucia mencoba melindungi nyawa putrinya dari kekejaman Louis, dari pria yang mengendalikan Madrid.
***
Pagi itu, Lucia melihat jelas bagaimana Louis yang bertubuh liat sedang berpakaian. Sementara dirinya hanya diam menatap selimut yang menutupi tubuhnya. Beberapa jam terakhir ini, Lucia lebih banyak melamun seperti orang tidak normal. Ada sesuatu yang membuatnya sedih, tentu itu tentang Louisa.
“Bersihkan dirimu.”
“Sí, Señor.” Lucia mendudukan dirinya, dia mengambil kemeja Louis bekas semalam untuk menutupi tubuhnya dan melangkah ke kamar mandi.
Semua perkataan tidak bisa ditarik lagi, keputusannya untuk menghangatkan ranjang Louis tidak bisa dihapuskan. Dan Lucia tidak ingin itu terjadi pada Louisa.
Kali ini, dia memilih mandi dibawah guyuran air shower, cukup lama dia diam di sana dengan renungannya. Ketika keluar kamar, Louis sudah tidak ada, kamar sudah rapi.
Lucia melangkah menuju walk in closet, ada pakaiannya di sana. Dia mengambil secara acak lalu keluar kamar menuju lantai bawah. Hidupnya seakan hampa, tidak ada cahaya yang membuat manik birunya bersinar kembali. “Dimana Señor Louis?”
“Dia ada di kamarnya,” jelas Andrean menuangkan air dalam gelas.
Lucia menggeleng tidak setuju. “Dia sudah keluar kamar.”
“Kamar lain maksudku, di sana.” Tangannya menunjuk pintu kamar di lantai dua yang terlihat dari bawah, tepat di dekat tangga. “Dia masuk ke sana.”
“Sedang apa dia di sana?”
“Seharusnya aku menanyakan itu padammu, kau yang bersamanya.”
“Dia pergi lebih dulu,” ucap Lucia menatap pintu kamar yang tertutup, entah mengapa dia ingin masuk ke sana dan mengetahui apa yang sedang Louis lakukan.
Hingga Naomi menyadarkannya, wanita itu pergi membawa baki makanan dan segelas susu. “Kemana kau akan membawa itu, Naomi?” Tanya Lucia.
“Señor Louis memintaku membawakan ini untuknya,” jelasnya menaiki tangga.
Sesaat Lucia memperhatikannya, bagaimana Naomi mengetuk pintu lalu meletakan baki itu di luar. Setelahnya Louis keluar untuk mengambil kemudian menutupnya lagi. Membuat Lucia heran.
“Kenapa kau tidak masuk ke dalam?”
“Señor Louis melarangku, dia ingin mengambilnya sendiri.”
“Apa kau tahu siapa yang bersamanya di dalam?”
Gelengan kepala Naomi membuat Lucia semakin penasaran. Berakhir dengan dirinya memakan waffle tanpa menikmati, pikirannya kacau, berada di mana-mana. Lucia memainkan makannya persis seperti manusia setengah gila.
Hingga akhirnya Andrean menyadarkan dengan kalimat, “Lucia, ada telpon dari Palma.”
Seketika dia beranjak duduk dan berlari menuju telpon. Jantungnya berdetak kencang. “Hallo?”
Hanya suara tangisan yang terdengar, membuat Lucia panik. “Rani, Rani ada apa? Kenapa kau menangis?”
‘Louisa…. Dia….’
“Ada apa dengan Louisa? Katakan padakku.”
‘Dia….’ Kalimatnya tersendat-sendat akibat isak tangis, membuat Lucia benar-benar panik.
“Katakan padakku.”
‘Louisa jatuh dari tangga, kami sekarang di rumah sakit, keadaannya kritis.’
Bagai petir di siang bolong, kalimat itu membuat Lucia lupa cara bernapas untuk sesaat. Matanya berair, tubuhnya menegang.
‘Lucia, datanglah, Louisa… Louisa membutuhkanmu.’
Bersamaan dengan itu Louis keluar dari kamar, Lucia segera menutup telpon, dia berlari menaiki tangga menuju pria itu. “Señor, biarkan aku pergi ke Palma,” ucapnya dengan air mata yang menetes.
“Apa maksudmu? Ke Palma?”
“Louisa terjatuh dari tangga, dia di rumah sakit, biarkan aku pergi.”
“Kenapa aku harus peduli?” Louis melepaskan tangan Lucia yang mencengkramnya. “Tidak ada yang bisa kau dan aku lakukan.”
“Señor, aku mohon.” Lucia menggenggam kedua tangan Louis sambil menangis. “Dia sedang kritis, aku harus pergi melihatnya.”
“Dia anakmu, bukan anakku.”
“Dia putrimu!” Teriak Lucia lalu terisak kuat.
“Dia putrimu, aku hamil anakmu. Kau ingat kejadian lima tahun lalu bukan? Di bar itu.” Tangannya menunjuk tempat kejadian perkara. “Kau melakukannya di sana, benih itu tumbuh menjadi bayi perempuan. Louisa anakmu, dia putrimu, Señor. Biarkan aku menemuinya.”
Tangannya bergetar menahan tangisan yang akan meledak. “Aku mohon biarkan aku melihatnya, dia putrimu, darahmu ada dalam dirinya, Señor.”
“Aku tahu.”
Kening Lucia berkerut, dia menatap manik hitam yang memperlihatkan wajah datar. “Aku tahu dia bayi kecilku,” ucapnya lalu membuka pintu kamar tempat dirinya berdiam sejak tadi.
Lucia tidak bisa menyembunyikam keterkejutannya ketika dia melihat manik hitam bulat yang sedang bermain boneka itu tersenyum, melambaikan tangan lalu berteriak, “Mum! Lihat apa yang Daddy buat.”
Matanya menatap Louis meminta penjelasan, pria itu berkata, “Sekuat apapun kau mengunci keberadaan Louisa, aku akan selali menemukannya, Lucia.”
Tidak lama kemudian tubuh Lucia hampir limbung ketika seseorang menabrakan diri untuk memeluknya. Mata yang masih dipenuhi air mata itu menatap Louisa yang memeluk kakinya dan juga kaki ayahnya. Wajah bulatnya tersenyum menatap dua orang itu bergantian. “Kita akan pergi ke taman hiburan ‘kan, Daddy?”
"Anything for you, Little Bunny."
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Budi Suprianto
saran dong ada k novel sperti ini dri author yg lain, pengen baca
2025-03-13
0
Ai Aisah
bgs
2023-09-20
0
Hatiku Hati Hati
meringding lagi oi....
2023-07-17
0