Vote sebelum membaca😘😘
.
.
5 years later….
Madrid, Spanyol.
Tidak ada yang bisa menghancurkan keterdiaman Louis atau memutuskan tatapan hampanya. Tidak ada titik penglihatan yang menarik perhatian, selain wanita yang terbaring lemah. Louis mencoba menyangkal intusi tajamnya, tentang apa yang akan terjadi. Kali ini, dia tidak mempercayai.
Kausalitas yang akan dihadapi masih dia bentengi, mengelak menerima kenyataan.
Usapan lembut di pipi Louis menyadarkan pria itu, dia tersenyum kecil melihat wanita yang terbaring di ranjang. “Bercukurlah, ini sudah melebihi batas. Aku takkan mati jika ditinggalkan ke kamar mandi.”
Louis terkekeh, dia menggenggam tangan Penelope dan menciumnya. “Berhenti bicara seperti itu.”
“Dokter bilang waktuku hanya beberapa hari.”
Louis menggeleng, enggan mendengar itu. “Aku akan membunuh dokter itu.” Matanya terpejam, membiarkan Penelope mengusap rambutnya penuh kasih sayang.
“Berhenti mengotori tanganmu, hiduplah dalam kedamaian.”
“Kau kedamainku.”
Penelope tersenyum, bergerak memaksakan diri untuk bangun.
“Tetaplah di tempat tidurmu.”
“Aku ingin keluar, melihat cahaya.”
Louis menggeleng, menahan bahu Penelope agar tetap terbaring. Wanita dengan mata lelahnya menggenggam Louis, memberikannya tatapan penuh keinginin. “Please, aku ingin mati tanpa alat ini.”
Sekuat tenaga pria itu menahan ait mata. Louis mengangguk, dengan wajah sedih, dia meminta perawat menyiapkan kursi roda.
Tiga tahun Penelope mengidap kanker paru-paru, dan Louis baru mengetahuinya satu tahun yang lalu, dengan keadaannya yang sudah parah. Bukan hal yang mudah untuk menyingkirkan penyakit itu, kanker perlahan menyebar dan siap membunuh inangnya.
Louis telah melakukan segalanya untuk kesembuhan kekasih tercintanya. Wanita tangguh yang berdiri sendiri, tidak sekalipun Penelope meminta sesuatu pada Louis. Dibalik tampilannya yang elegan, tersimpan hati lembut yang mampu menyentuhnya.
Penelope memejamkan mata begitu sinar matahari menembus kulit, memberi kehangatan yang hampir dia lupakan. Ketika Louis menggenggam tangannya, Penelope menatap pria yang duduk di sampingnya.
“Kita tidak bisa berlama-lama di sini, Sayang.”
Penelope tersenyum kecil. “Kau ingat pertama kali kita bertemu? Dibawah hujan sinar matahari sore?”
Louis mengangguk, memori indah yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan.
“Saat itu kau begitu dingin, tidak menjawab pertanyaanku.”
Tersenyum, pria itu mengingat bagaimana malaikat cantik yang menyukai anak-anak. Tersenyum pada mereka.
Penelope membuka ciput yang menutupi kepala, memperlihatkan kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut sehelaipun. Cahaya matahari yang menerpa menghangatinya lebih dalam lagi. Semua pengobatan kanker yang menyebabkan rambutnya rontok, berat badannya turun. Tidak ada lagi rambut merah yang sering dibanggakannya. “Apa aku cantik?”
“Sangat.”
Jawaban yang pasti disukai semua wanita, termasuk Penelope dengan tubuhnya yang telah rusak oleh penyakit. “Aku ingin tidur, Louis.”
“Tidak.” Pria itu menggeleng dengan air mata mengenang.
Penelope tidak bisa menahannya lebih lama, rasa sakit itu menggerogotinya. Dan semakin pedih saat jiwanya ikut terluka, tidak kuasa melihat Louis yang rapuh. “Jangan menangis untukku, aku bukan siapa-siapa untukmu.”
Menggeleng kuat, Louis menggenggam tangannya lebih kuat.
“Maaf aku selalu menolak lamaranmu. Aku tidak ingin mengecewakanmu dengan tubuhku yang sakit.”
Mengatur napas yang membuat Louis lebih tenang, dia masih belum membiarkan intuisi tajamnya mengambil alih. “Biarkan aku duduk di pangkuanmu.”
Permintaan itu segera dilakukan, Louis membawa Penelope ke pangkuan, memeluknya erat dengan ciuman yang menghangatkan.
“Aku akan tidur sebentar, Louis….,” ucapnya perlahan memejamkan mata.
Bersamaan dengan air mata Louis yang jatuh membasahi Penelope, wanita itu menghembuskan napas terakhirnya. Meninggalkan tubuhnya dengan seorang pria yang dicintai.
Alam seakan ikut bersedih, rintikan hujan turun ke bumi, membasahi mansion yang gagah. Awan hitam datang, mnyingkirkan sinar yang menghilang mengantarkan jiwa Penelope pada kedamaian.
Tangisan alam menjadi saksi bisu, bahwa kanker telah berhasil membunuh inangnya, bahwa kekasih tercinta Louis telah pergi untuk selamanya.
***
“Kita harus pergi, Señor.”
Norman, pria yang setia menunggu tuannya selesai melepaskan rindu. Dia melindungi Louis dengan payung saat rintikan hujan mulai bertambah volume, mengkibatkan aroma tanah kering tercium. Debu kemarau menghilang digantikan oleh air jernih.
Tatapan mata hitam Louis masih terpaku pada kuburan dengan patung malaikat di atasnya. Baginya, Penelope adalah malaikat yang Tuhan kirimkan. Memberinya ketenangan dan juga kedamaian. Sayang, kembalinya Penelope pada pencipta-Nya membawa Louis pada jalan yang lebih gelap.
“Señor?”
Louis mengambil payung yang dipegangi Norman. Tanpa berkata, dia berjalan pergi menuju mobil.
“Ke mana kita pergi, Señor?”
“Pinggiran kota.”
Dua kata mampu membuat Norman mengerti. Dari kaca spion, dia dapat melihat Louis yang terlihat berat meninggalkan pemakaman. Setelah keluar melewati gerbang pemakaman, wajahnya kembali datar.
Membutuhkan waktu 20 menit untuk menunu tempat yang dimaksud. Pria berjas itu turun begiti Norman membukakan pintu untuknya. Daerah yang kumuh, debu bertebaran dan orang-orang yang kumal menyambut penglihatannya.
Mereka tinggal di belakang gedung-gedung besar, bergandengan dengan sampah menjijikan. Dibalik kekumuhan, ada potensi besar yang dilihat Louis, seperti perdagangan senjata yang senyap dan juga aman.
“Señor?”
“Ricco.”
Salah satu pria yang sedang duduk berkumpul memainkan kartu segera berdiri, menjabat tangan Louis dan mempersilahkannya masuk ke rumah. “Kehormatan kau datang ke mari.”
“Bagaimana ?”
Ricco, pria yang penuh dengan tatto dan tindik di wajah membuka satu ruangan di rumah.
“Kopi?”
“Tidak.”
Ricco segera duduk setelah tawarannya di tolak, pria yang hanya memakai kaos kutang itu menatap mata hitam tuannya, seakan siap menerima perintah ataupun hukuman. “Señor?”
“Kau menangkapnya?” Louis mengambil satu biji anggur di meja, memuntahkannya kembali begitu merasakan itu masam.
“Dia ada di halaman belakang, Señor. Dan ini adalah bukti perbuatannya.” Ricco menunjukan ponsel, menayangkan sebuah rekaman buram CCTV dimana ada dua pria yang sedang melakukan transaksi.
Ricco mengambil sesuatu dari laci. “Ini buku tabungannya, dia melakukannya selama dua bulan.”
“Dan kenapa kau tidak tahu itu?!”
Sesak yang dirasakannya, Ricco terkejut dengan serangan tiba-tiba. Louis mencekiknya dengan tangan kiri, dengan begitu kuat. “I-- i just.” Ricco terbatuk begitu Louis melepaskan. Dia segera berdiri, memegang lehernya yang masih menyisakan sesak dan sakit.
Berjalan cepat saat Louis menuju pintu. “Silahkan.” Membukakan pintu untuk majikannya.
Mereka berjalan ke arah belakang rumah, di mana sekelilingnya dibentengi bebatuan besar yang tinggi. Di dindingnya terdapat seorang pria berlumuran darah, kakinya diikat di benteng, lemas seakan hampir kehabisan napas. Dia mengadah dengan mata lelahnya, menatap Louis yang berdiri di depannya. Pria itu meludahi Louis lalu tertawa, membuat Ricco murka dan memberikan pukulan. “Kau akan mati,” ucapnya melepaskan cengkraman pada pipi.
Seakan tidak takut ajal menjemput, pria itu tertawa lebih keras sebelum akhirnya menarik napas dalam. “Kau akan mati oleh klanmu sendiri, De La Mendoza.”
“Jaga ucapanmu!”
Louis mengisyaratkan Ricco untuk tidak memukulnya. Sepasang mata elang itu tidak berpaling dari mangsanya, Louis berjongkok, menatap lebih jelas pria yang telah mengkhianatinya. “Kau menikmati hasil penjualanmu?”
Pria berlumuran darah tertawa. “Sebenarnya masih kurang, aku berencana manjual informasi kepada kepolisian tentang klanmu.”
Louis tersenyum miring. “Sayangnya kau akan mati sebelum melakukannya.”
“Mereka akan tahu siapa kau sebenarnya, kau akan dipenjara selama-lamanya!”
“Aku mempercayakan padamu senjata-senjata itu, apa lagi yang kau inginkan?” Louis menatap dengan tajamnya.
“Aku butuh uang lebih banyak! Aku ingin setara dengan mereka yang menyepelekan, kau tidak tahu bagaimana rasanya diinjak.”
Seketika Louis mencengkram wajah pria itu dengan kuat, rahang Louis mengeras menahan amarah. “Aku dibesarkan di tempat sampah. Butuh dua tahun untukku membunuh tiga pemimpin kartel sekaligus dan menyatukannya menjadi klan, kau tahu maksudnya? Nikmati prosesnya.” Louis melepaskan cengkraman kuatnya, dia berdiri. “Kau tahu apa yang harus dilakukan, Ricco.”
“Sí, Señor.”
Norman melihat dari ambang pintu, bagaimana Louis kembali pada sisi gelapnya. Tanpa ampun, tanpa nurani, hatinya segelap mata elangnya.
Kematian Penelope berdampak sangat buruk. Louis lebih banyak menghabiskan waktu mengurusi klan yang sempat dia tinggalkan, memproduksi lebih banyak senjata dan mengedarkannya.
Bukan kekayaan yang dia cari, melainkan kesenangan hingga bisa melupakan kepedihan. Tanpa ekspresi, jiwanya seakan mati mengikuti kekasihnya.
***
Palma, Kepulauan Balears, Spanyol.
Angin musim panas menerpa kulit putih Lucia, matanya terpejam, merasakan hujan sinar matahari memanggangnya. Hangat, perasaan yang dia dambakan setelah sekian lama.
Dari atap, Lucia dapat melihat laut biru yang berpadu dengan langit cerah. Indah hingga dia ingin berlama-lama di sana.
Musim panas datang. Ternyata, begitu banyak cerita mistis tentang villa ini hingga tidak ada peminat. Lebih banyak hotel murah yang ditawarkan kota Palma, yang membuat villa terlupakan. Bagi Lucia, ini adalah keuntungan bisa menikmati waktu untuk diri sendiri.
Villa ini terletak di tengah hutan Bosque de Bellver. Kabarnya, Louis sengaja membeli sebagian tanah pemerintah untuk membangun ini.
Dari atap, Lucia juga bisa melihat jalan yang kini mulai ramai, dipenuhi pengunjung yang akan menuju Kastel Bellver.
Merasa cukup bersantai, Lucia turun ke lantai dasar. Dia tersenyun menggoda melihat Rani yang tengah menelpon sambil cekikikan.
Ketika telponnya ditutup, Lucia mendekat. “Berapa lama lagi?”
Rani menutup wajahnya malu, dia berbisik, “Majnu mendapatkan pinjaman dari pamannya.”
Raut wajah Lucia berubah sedih seketika. “Jadi kau benar-benar akan pergi?”
“Oh ayolah!” Wanita itu mengibaskan tangan. “Aku akan diam di sini meskipun sudah bebas, kau tahu Majnu hanya pulang setiap akhir bulan.”
“Lalu bagaimana dengan pernikahan?” Lucia mengambil sebotol bir dari kulkas, meminum dan merasakan ini adalah hal yang pas dalam cuaca panas.
“Aku pikir butuh pengumpulan dana lagi untuk itu.”
“Maksudku, Rani…” Lucia duduk di sofa, tepat di samping Rani. “Kau akan kembali ke India?”
Wanita itu terdiam cukup lama, tidak terpikir untuknya pulang ke tempat keluarganya. Mungkin tidak pantas disebut keluarga, mereka yang memberikan Rani untuk bekerja menebus utang kakeknya.
“Maaf membuatmu sedih, Rani.” Lucia menggenggam tangannya. “Kau mau bir?” Dia menawarkan miliknya.
Rani menggeleng, raut wajahnya kembali ceria saat telpon kembali berbunyi. Dia bergegas mengangkat. “Majnu?”
Dan Lagi, Lucia melihat perubahan wajah Rani. Dia menegang, seakan menahan ketakutan. Lucia mencoba bertanya dengan bahasa tubuhnya, tapi Rani terlalu larut dalam ketakutannya.
“Ini telpon untukmu, Lucia.”
“Kenapa kau tidak bilang?” Lucia mendekat dan mengambil alih.
Rani berbisik, “Aku akan memeriksanya.” Sebelum melangkah pergi dari sana.
“Ini Lucia Michelle.”
‘Lucia, ini Andrean. Kau akan kembali ke Madrid, seseorang akan menjemputmu besok pagi. Persiapkan dirimu.’
Bir yang dipegang Lucia jatuh seketika, dia memegang telpon dengan kedua tangan. “A-apa?”
‘Kau mendengarku, Lucia.’
“Tunggu! Tunggu! Andrean?!” Lucia mencoba menghubungi kembali, tapi tidak bisa. Dia membanting kuat telpon itu dengan air mata yang hampir menetes.
Dan tidak bisa dihentikan, air mata itu jatuh saat Rani keluar membawa anak dalam gendongannya.
“Mum….” anak berusia empat tahun itu merentangkan tangan meminta Lucia menggendong.
“Aku tidak bisa melakukannya, Rani,” ucap Lucia menangis sambil memeluk anak bermata hitam itu.
Rani mencoba menenangkan, dia duduk di samping Lucia dan mengusap punggungnya. “Aku akan menjaganya, percayalah padakku.”
Lucia menatap mata hitam itu, mata yang selalu mengingatkannya pada kejadian bertahun silam. Tangan mungil itu menghapus air mata ibunya dengan tatapan bingung, membuat Lucia menangis semakin deras.
Lima tahun ketenangan, yang dia pikir akan dilupakan, nyatanya Lucia harus kembali ke sana. Meninggalkan buah hati yang sangat dia sayangi, yang sangat dia jaga dari dunia luar yang kejam. Tidak terbayang untuknya meninggalkan anaknya seorang diri, tanpa dirinya yang membentengi.
“That’s cry, Mum?” Bibir kecilnya berbicara.
Lucia menggeleng, merangkup pipi putih kemerahan putrinya. Mencium keningnya lama sebelum mengusap rambut hitamnya perlahan. “I'll leave for a moment.”
“Where? Meet daddy?”
Rani menarik napasnya dalam, dia beranjak pergi tidak dapat menahan tangis.
Anggukan Lucia membuat senyuman terpatri di wajah kecilnya. “Menurut apa kata Rani. Mum akan kembali secepat mungkin. Mengerti, Louisa?”
Kepalanya mengangguk kuat. “Sí, Mumy.”
---
Love,
ig : @Alzena2108
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Sandisalbiah
tenyata batu itu bisa menangis juga saat kehilangan cintanya... Louis ..seluruh hidupnya selalu bermandi darah dan air mata, jesakitan dr org yg di sakitinya... bagai mana dia akan bahagia..
2024-11-01
0
^__daena__^
Louisa 😍
2023-10-25
1
Diana diana
kasian euy . .
2023-05-19
0