Episode 8. Time To Go

Tengah malam Selena terbangun dari tidurnya dengan napas memburu akibat mimpi buruk. Bahkan telah sekian tahun tragedy pembunuhan Sam, kekasihnya, berlalu. Namun terror itu masih membayangi mimpi Selena hampir tiap malam. Selena segera beranjak dari tempatnya tidur untuk menghilangkan gelisah. Dilihatnya Leo masih tertidur nyenyak di sofa. Hujan telah lama berhenti, dengan hati-hati Selena keluar dari ruangan itu. Hawa dingin langsung menyusup hingga ketulangnya saat berada di luar. Selena berjalan ketepian atap untuk melihat jalanan, terlihat banyak sekali Ragen yang berkeliaran beberapa diantaranya berusaha memanjat dinding di bawahnya.

Selena menghembuskan napasnya dalam-dalam, ia duduk di tepian atap sesekali melemparkan bola api yang tercipta di tangannya ke kerumunan Ragen di bawah, cukup untuk menakut-nakuti makhluk-makhluk menjijikan itu dan meredakan kegelisahannya.

“So you wanna be in HERO? Hang in there,” ucap Sam kala itu, ketika Selena masih menjalani pelatihan di akademi milik Assassins.

“Hero, kaulah yang bermimpi ingin menjadi seorang Hero, dan kau mati seenaknya,” gumam Selena sedih.

Leo terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara derak api di luar, dipandangi sekelilingnya ke tempat di mana Selena tidur. Gadis itu tidak lagi berada di sana. Khawatir Leo segera bangun untuk memeriksa di luar. Api tampak membakar kayu-kayu tidak terpakai di sisi atap gedung itu dan Selena tampak tengah duduk melamun tak jauh dari api unggun. Selena sepertinya tidak menyadari kehadirannya, karena ia bergeming saat Leo berjalan mendekat. Leo melihat wajah muram yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Kau tidak tidur,” tegur Leo membuyarkan lamunan Selena.

Selena menoleh pada Leo yang telah berdiri tak jauh darinya. “Aku sudah tidur, kembalilah tidur aku akan berjaga,” ucapnya.

Leo melihat sekelilingnya dan duduk tak jauh dari Selena, api unggun cukup membuat mereka hangat di luar. Ia melihat jalanan di bawah melihat betapa banyaknya Ragen yang berkeliaran, sepertinya semua penduduk kota telah berubah menjadi Ragen.

“Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah mengantar paketmu, Selena?” Tanya Leo memecah kesunyian.

“Pulang mungkin atau mengantar paket lainnya,” jawab Selena.

“Tidak berhenti kerja huh,” sahut Leo tersenyum hambar.

“Tidak, aku masih bisa mengumpulkan uang dan akan menjadi paling kaya saat semua kembali normal,” dengus Selena tercengir.

Leo yang memperhatikannya ikut tersenyum mendengar pernyataan Selena. “Bisakah aku bertanya sesuatu?” tanyanya pelan.

“Tentu, tetapi aku belum tentu akan menjawab,” kata Selena santai.

“Bagaimana kamu bisa lolos dari preman-preman itu kemarin?” Tanya Leo serius sambil menatap Selena.

“Dengan cara membunuh mereka semua,” jawab Selena tenang.

Leo memandangi Selena, berharap apa yang dikatakannya hanya sebuah lelucon. Namun gadis itu terlihat serius dengan kata-katanya.

“Look, I’m not good girl,” kata Selena menatap Leo saat pria itu masih terdiam, “pekerjaanku terkadang menuntut untuk membunuh orang, paket yang aku kirim bukanlah paket rumahan yang bisa kuantar dengan santai seperti kebanyakan porter di kota. Barang yang kukirim terkadang menjadi rebutan banyak orang dengan niat yang bermacam-macam, dan tugasku mengantar paket itu aman hingga ke tangan penerima. Aku telah membunuh banyak orang,” terang Selena.

“Dan paket apa yang kau kirim sekarang?” Tanya Leo mencelus.

“Sebaiknya kau tidak mengetahuinya, itu membuatmu lebih aman,” kata Selena menghela napas, “aku akan menghubungi si penerima secepatnya mungkin aku akan berpisah dengan kalian sebelum sampai di Solar city.”

Mendengar pengakuan Selena, Leo semakin menundukkan kepala. Ia baru saja mulai bicara dengan Selena dan mereka akan segera berpisah rasanya itu tidak adil. Leo menyembunyikan kegelisahannya lewat napas dalam-dalamnya, ia masih berharap melihat gadis itu lebih lama lagi.

*****

Silau matahari terbit mengusik tidur Selena, semalaman ia berbincang-bincang dengan Leo hingga pria itu memutuskan menyeret sofa keluar dan menaruhnya di dekat perapian. Pria itu beralasan lebih hangat di dekat api dibandingkan di dalam sana. Selena akhirnya mencari kayu tambahan yang bisa ia temukan di atap gedung dan di dalam ruangan, untuk membesarkan nyala api. Dengan sabar ia juga memberitahu Leo tentang hal yang diketahui tentang Ragen, mengajari pria itu membedakan Ragen dengan beberapa tingkat berdasarkan kecepatan dan juga insting mereka mengingat mangsanya.

Setelah lelah dan mengantuk, mereka pun tertidur di sofa itu dan pagi tadi saat udara menjadi lebih dingin karena api telah padam, Leo merapatkan diri pada Selena yang menggigil kedinginan. Selena tidak menggubrisnya saat mata dikuasai kantuk, tetapi sekarang ia sangat terkejut mengetahui tidur dalam pelukan Leo. Wajahnya seketika memanas, untunglah Leo masih tidur sehingga tidak melihat betapa merah wajahnya. Perlahan ia menjauhi Leo yang masih terlelap.

Leo bangun setelah matahari cukup hangat, saat Selena tengah mengitari atap untuk melihat situasi di bawah. Leo sengaja hanya memperhatikan saja tanpa merubah posisi dari tempatnya tidur. Dia telah salah kemarin menilai Selena sebagai gadis yang arogan nyatanya gadis itu seorang yang mandiri dan pantang menyerah, bahkan sekarang tanpa menunggunya bangun. Selena telah berusaha mencari jalan keluar terlebih dahulu untuk mereka.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Leo santai.

Selena yang tidak memperhatikan Leo sudah bangun terperanjat segera menoleh. “Baguslah kau sudah bangun, aku sedang mencari jalan keluar,” jawab Selena singkat sambil menghampiri Leo.

“Bagaimana dengan cara melompat seperti kemarin?” Tanya Leo menggoda.

“Ada beberapa Ragen yang belum menyerah dan masih berada di bawah” kata Selena sambil mengedikkan bahu.

Leo beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Dipandanginya ufuk timur, sudah lama sekali dia tidak menikmati pemandangan indah seperti itu. Selama ini dia terlalu sibuk mengurusi perusahaan yang dikelolanya, ditambah bencana virus mematikan ini membuatnya tak sempat merasakan indahnya dunia. Sesaat dia mengingat teman-temannya yang lain, pasti mereka sedang mencemaskannya.

“Sebaiknya kita makan terlebih dahulu, aku lapar sekali,” kata Leo mengakhiri lamunannya segera mendekati ranselnya untuk mengambil makanan dan minuman.

Selena hanya mengangguk meski dia sedang tidak bernafsu untuk makan, tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Leo. Mereka pun makan dalam keheningan, sesekali Leo mencuri pandang pada gadis yang tampak sedang berpikir. Wajahnya terlihat serius meski matanya menerawang jauh dan kerutan di keningnya, membuat Leo menerka jika Selena masih memikirkan cara mereka kembali ke tempat teman-temannya.

“Aku rasa aku tahu jalan keluarnya,” cetus Selena membuat Leo yang tengah memandanginya terkejut.

“Bagaimana?” Tanya Leo berusaha menutupi keterkejutannya.

Selena segera menyelesaikan makan dan menghampiri ranselnya untuk mencari barang yang ia butuhkan untuk keluar dari sana. “Pakai ini,” katanya sambil melempar sepasang sarung tangan maneuver 3d pada Leo.

“Apa ini?” Tanya Leo sambil mengamati benda itu.

“Maneuver 3d, kita melompat ke gedung sebelah untuk menghindari Ragen di bawah. Kita turun di tempat yang aman,” terang Selena menunjuk gedung sebelah yang lebih tinggi. “Kau hanya perlu mengarahkan bidikan, pikirkan dan dengan sedikit menekan genggamanmu maka tali yang ada di dalamnya akan meluncur ke arah yang kau inginkan.” Katanya memberi pengarahan singkat pada Leo.

Dengan penuh semangat dan penasaran Leo mencoba sarung tangan itu, cukup sulit untuk mengendalikan arah bidikan karena belum terbiasa. Setelah beberapa kali percobaan Leo menjadi mahir menggunakannya, bidikannya tidak lagi meleset dan tali tertambat dengan benar.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Leo mengakhiri latihan singkatnya.

“Aku memiliki ini,” kata Selena menjentikkan jari, seketika tubuhnya dikelilingi pendar biru. “Dengan ini aku bisa melompat tinggi secara mudah.”

Leo benar-benar tak habis pikir dari mana Selena mendapatkan peralatan super canggih itu dan beberapa kejutan yang diberikan Selena padanya. Saat semua sudah siap, Selena mengajak Leo untuk segera bergerak. Gadis itu membiarkan Leo melompat terlebih dahulu ke gedung sebelah dengan bantuan maneuver 3d, ia menyusul setelah Leo mendarat di gedung itu. Seperti yang dikatakan Selena pada Leo, Selena dengan mudah melompat dari gedung itu menyusul Leo yang mengamatinya penuh kagum. Setelah pengalaman pertamanya tadi Leo pun mengikuti Selena melompat dari gedung satu kegedung yang lain, terkadang mereka harus berparkour ria saat jarak antar gedung tidak terlalu jauh. Leo benar-benar menikmati pengalaman barunya ini, dia seolah sedang bersenang-senang diliburan panjangnya.

Jarak mereka dengan gedung yang dihuni teman-teman mereka masih beberapa blok saat sebuah ledakan besar terdengar, Selena yang dalam posisi melompat kehilangan kontrol dan pendar biru di sekeliling tubuhnya menghilang. Dalam keadaan terjun bebas dari gedung yang cukup tinggi, Selena berusaha menjentikkan kembali jarinya. Namun pendar biru itu gagal terbentuk. Mengetahui Selena dalam kesulitan, Leo yang telah mencapai tepian gedung segera melompat mencoba mengapai Selena.

“Aku menangkapmu,” teriak Leo saat berhasil meraih Selena dan dengan erat ia memeluknya.

Keduanya tampak terengah-engah setelah mendarat di trotoar, Leo tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat melihat Selena terjatuh. Beruntung ia menangkap Selena tepat waktu, sehingga tak ada satu pun di antara mereka yang cidera.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Leo gusar.

“Ya, terima kasih.” Selena mengendurkan pelukan Leo setelah menyadari betapa dekatnya jarak mereka. “Apa itu tadi?” tanyanya mengedarkan pandangan ke jalanan.

“Entahlah, aku rasa tidak bagus,” tepat saat Leo selesai berkata, sebuah helicopter terlihat terbang rendah melintasi mereka.

“Army?” gumam Selena, “apa mereka sudah putus asa hingga berusaha meledakkan kota ini,” kata Selena tidak percaya.

“Sebaiknya kita segera pergi,” ajak Leo meraih tangan Selena.

Mereka berdua melanjutkan perjalanan setengah berlari. Ledakan kembali terdengar, tak hanya itu para Ragen yang mendengar pun ikut terusik, dan mulai keluar dari sarang mereka. Mau tidak mau Leo dan Selena memacu langkah mereka lebih cepat lagi.

Mendadak Selena menghentikan larinya, Leo yang masih menggenggam tangannya ikut tersentak dan berhenti. Selena menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah showroom mobil. Siulan kecil meluncur dari bibirnya. Leo yang bingung segera melihat ke mana arah mata Selena. Di dalam showroom itu terlihat beberapa mobil sport mewah yang masih terpajang rapi. Keduanya saling berpandangan dengan seringai terukir di bibir mereka.

“Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?” Tanya Selena.

“Ya, dan aku setuju kali ini,” jawab Leo mengangguk mantap.

Mereka masuk dengan mengendap-endap dan melumpuhkan Ragen yang ada dengan secepat kilat. Selena mencari kunci mobil dalam sebuah ruangan, dia beruntung menemukannya di sana. Dengan cepat dia keluar mencari Leo, dilihatnya dia sedang asyik menyerang Ragen di lobi.

“Aku menemukannya,” teriak Selena, dia membantu Leo untuk membunuh Ragen, saat ada kesempatan dia melempar kuncinya kearah Leo. Dengan cekatan Leo menangkapnya dan berlari menuju mobil.

Setelah berhasil menghidupkannya dia memanggil Selena. Ragen yang menyerang mereka bertambah, Selena berlari masuk mobil. Setelah Selena masuk tanpa aba-aba Leo langsung menancap gas mobil itu, membuat kaca showroom berhamburan pecah terterjang mobil. Leo mengemudi secara liar, kadang dia menabrak Ragen tanpa ampun. Selena yang berada di sampingnya menjadi kalang kabut dibuatnya, untunglah Leo mengemudikan dengan baik sehingga tidak membuat mereka mengalami kecelakaan.

*****

Sejak semalam suasana gedung tempat Ignis dan lainnya bermalam menjadi mencekam, kedua temannya belum kembali bahkan hingga fajar menyingsing. Ignis beberapa kali terjaga dari tidurnya untuk mengintip keadaan ke luar berharap Selena dan Leo kembali. Matthew sama cemasnya dengan pria itu, ia beberapa kali terlihat mondar mandir di lantai atas menanti kedatangan ke dua orang itu terutama Selena. Dan pagi ini tak hanya Ignis dan Matthew, semua terlihat gelisah menanti kedatangan ke dua teman mereka.

“Kira-kira apa yang mereka lakukan di luar?” celetuk Tony.

“Entahlah, aku harap mereka tidak mendapat masalah,” cemas Ignis.

“Bagaimana kalau kita mencari mereka?” Tanya Jimmy.

Ignis melirik sekilas jam tangannya, “tunggu sebentar lagi. Aku rasa mereka akan kembali ke sini.”

Saat semuanya terdiam larut dalam pikiran, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras hingga mengguncang isi gedung. Mereka hanya bisa saling berpandangan satu sama lain, berharap itu salah satu bom milik Selena karena hanya gadis itu satu-satunya yang memiliki bom. Dua kali ledakan menyusul setelahnya disusul raungan Ragen di luar. Cepat-cepat Ignis menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi, teman-temannya pun berhamburan ketempat yang sama.

Dari kejauhan terlihat mobil sport hitam melaju dengan kencang, tanpa mempedulikan Ragen yang tertabrak dan terlindas. Di dalam mobil Selena tidak bisa berhenti menyumpah dan menyesal tidak memakai sabuk pengaman, karena Leo membuatnya terpontang-panting dan hampir membenturkan kepalanya ke dashboard. Berbeda dengan Selena, Leo justru tertawa kegirangan dengan sikap ugal-ugalannya itu. Ia memarkirkan tepat di samping mobil yang mereka pakai kemarin.

“Kau gila,” bentak Selena sambil membanting pintu mobil.

“Maaf,” sahut Leo tidak bisa berhenti terkekeh, kedua tangannya terangkat sambil berjalan mengikuti Selena yang memasuki gedung itu dengan kesal.

Leo tersenyum dan menghampiri Ignis, dia tahu betul sahabatnya yang satu ini sangat mencemaskannya. “Maaf, ada insiden kemarin yang membuat kami terjebak di suatu tempat,” kata Leo beralasan saat di dalam gedung.

Teman-temannya pun ikut senang melihat keduanya selamat dan kembali ke basecamp. Matthew yang sejak pagi berada di dekat jendela langsung menghampiri Selena, terlihat jelas di wajahnya bahwa dia sangat mencemaskan gadis itu. Selena tersenyum dan memastikan Matthew kalau dia baik-baik saja. Matthew pun memeriksa setiap inci tubuh Selena memastikan dia tidak apa-apa. Selena tertawa geli dengan tingkah Matthew yang mencemaskannya secara berlebihan. Leo yang melihat tingkah Matthew menjadi tidak senang, ia membuang muka dan berjalan mendekati Ignis.

“Kita harus segera pergi dari sini, ada masalah besar di luar,” lapor Leo pada Ignis.

“Kenapa?” Tanya Ignis.

“Militer mengirim helicopter untuk meratakan kota ini,” sela Selena.

“Ya dan kita harus cepat. Para Ragen mulai menggila setelah ledakan. Sebelum pergi, aku akan memberi kalian sesuatu,” ujar Leo membuka ranselnya dan mengeluarkan beberapa earpiece. Diberikannya satu persatu pada temannya yang lain. “Dengan ini kita bisa berkomunikasi dengan jarak jauh,” lanjutnya. Selena mendelik saat menerima satu earpiece dari tangan Leo, “kemarin aku mengambilnya dari minimarket itu,” terang Leo pada Selena.

Mereka pun menyetujui usul Leo dan segera berkemas. Dalam waktu singkat mereka telah ke luar gedung, Leo tetap bersikukuh untuk membawa mobil barunya. Selena yang mendengarnya tampak senang dengan hal itu, setidaknya membawa dua mobil lebih baik dan bisa membawa perbekalan lebih banyak. Akhirnya Ignis menyetujui kamauan Leo.

Kedua mobil itu langsung memacu kecepatannya setelah melihat satu lagi helicopter melintasi mereka. Setelah sampai batas kota bom meledak meratakan isi kota, mereka telah berhasil keluar jauh dari pusat kota yang sekarang tengah terbakar membara.

Helicopter POV.

Sebuah helicopter terbang melintasi kota untuk melaksanakan sebuah misi terakhir. Membumi hanguskan kota karena Ragen yang terdeteksi militer melebihi ambang batas. Maka dengan berat menjatuhkan bom ditengah kota menjadi keputusannya. Bom gelombang pertama dijatuhkan bagian barat kota pagi hari membuat sebagian kota hancur berkeping-keping dan bagian kota lain menjadi kacau karena para Ragen

berhamburan turun kejalan mendengar dentuman keras yang diakibatkan bom pertama. Bom gelombang kedua akan dijatuhkan dua jam setelah bom pertama jatuh dan itu tepat saat Leo dan teman-temannya berusaha kabur dari kota. Helicopter pembawa bom gelombang kedua tampak mendekati kota, ia tak langsung menjatuhkan bom. Namun berputar-putar di atas kota terlebih dahulu.

“Woow, itu tak mungkinkan Ragen yang melarikan diri dengan mobil kan,” seloroh pilot melihat sebuah mobil meluncur menjauhi tengah kota.

“Itu survivor,” gerutu sang kapten sambil menoleh pada pilotnya, yang ditoleh hanya tercengir mendengar gerutuan kaptennya. “Kita periksa kota sebelum peluncuran bom,” tegas kapten.

“Ay..ay, Kapten.”

Helicopter itu menuju tengah kota untuk mencari survivor yang lain. Mereka terbang berkeliling memastikan tak ada manusia yang akan terkena imbasnya.

“Satu lagi mobil yang terlihat kapten,” kata pilot menunjuk mobil yang berjalan kebut-kebutan jauh di belakang mobil pertama.

“Kita tunggu mereka sampai di luar kota, setelah itu luncurkan bomnya.”

Pilot itu mengarahkan helikopternya berkeliling kota menunggu para survivor di bawah berada jauh dari area peledakan.

Zero point.

Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya bom itu pun jatuh di tengah kota menghancurkan sebagian kota yang tersisa. Kini semuanya telah rata dengan tanah mengubur para Ragen yang berdiam di kota itu.  Helicopter itu terbang meninggalkan kota setelah memastikan tugas yang mereka emban telah berhasil.

Terpopuler

Comments

Ninin

Ninin

lanjut Thor

2021-07-28

0

Lia Wiliani

Lia Wiliani

Lanjutkan berkarya. Terus semangat!

2020-12-11

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1. Chaos
2 Episode 2. New Friend
3 Episode 3. Another Time Another Place
4 Episode 4. When they meet
5 Episode 5. Gedung Solbeck
6 Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7 Episode 7. STUCK WITH YOU
8 Episode 8. Time To Go
9 Episode 9. Tragedy
10 Episode 10. SOUND OF DEAD
11 Episode 11. CRISIS CORE
12 Episode 12. WELCOME BACK
13 Episode 13. We Start the Journey Again
14 Episode 14. Lost
15 Episode 15. Coastal
16 Episode 16. COME BACK HOME
17 Episode 17. Soul Like Me
18 Episode 18. The Deal
19 Episode 19. The Truth
20 Episode 20. Jealous
21 Episode 21. I'm Sorry
22 Episode 22. You and I
23 Episode 23. Solar City
24 Episode 24. Is Not Good Bye
25 Episode 25. Fight
26 Episode 26. Assassins 1st Class
27 Episode 27. A STORY
28 Episode 28. I HATE SHRIMP
29 Episode 29. Night Club
30 Episode 30. Done All Wrong
31 Episode 31. The Reason
32 Episode 32. Golden Card
33 Episode 33. Spy Time
34 Episode 34. Vision
35 Episode 35. Evacuation
36 Episode 36. Escape
37 Episode 37. Monster Attack
38 Episode 38. The Darknest Side of Me
39 Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40 Episode 40. Terrible trip
41 Episode 41. Welcome To Moonlight
42 Episode 42. Pray
43 Episode 43. Why are They Here?
44 Episode 44. Impendence
45 Episode 45. Decision
46 Episode 46. JUNGLE
47 Episode 47. FORTRESS
48 Episode 48. DREAM
49 Episode 49. CRUSH
50 Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51 Episode 51. DEAD CITY
52 Episode 52. MEMORIES
53 Episode 53. I Hate You
54 Episode 54. Impatient Groom
55 Episode 55.Master Control Station (MCS)
56 Episode 56. Mask Man
57 Episode 57. Be A Guardian
58 Episode 58. Cloud
59 Episode 59. Leo’s Anger
60 Episode 60. Forgotten City
61 Episode 61. Friend?
62 Episode 62. Solar City Memories
63 Episode 63. Behind The Mask
64 Episode 64. Betrayer
65 Episode 65. The Stranger
66 Episode 66. Disappear
67 Episode 67. There’s No Cure
68 Episode 68. I’ll be fine
69 Episode 69. Find Hope
70 Episode 70. Make a Deal
71 Episode 71. The War Begins
72 Episode 72. This is the end
73 Episode 73. Good bye
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Episode 1. Chaos
2
Episode 2. New Friend
3
Episode 3. Another Time Another Place
4
Episode 4. When they meet
5
Episode 5. Gedung Solbeck
6
Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7
Episode 7. STUCK WITH YOU
8
Episode 8. Time To Go
9
Episode 9. Tragedy
10
Episode 10. SOUND OF DEAD
11
Episode 11. CRISIS CORE
12
Episode 12. WELCOME BACK
13
Episode 13. We Start the Journey Again
14
Episode 14. Lost
15
Episode 15. Coastal
16
Episode 16. COME BACK HOME
17
Episode 17. Soul Like Me
18
Episode 18. The Deal
19
Episode 19. The Truth
20
Episode 20. Jealous
21
Episode 21. I'm Sorry
22
Episode 22. You and I
23
Episode 23. Solar City
24
Episode 24. Is Not Good Bye
25
Episode 25. Fight
26
Episode 26. Assassins 1st Class
27
Episode 27. A STORY
28
Episode 28. I HATE SHRIMP
29
Episode 29. Night Club
30
Episode 30. Done All Wrong
31
Episode 31. The Reason
32
Episode 32. Golden Card
33
Episode 33. Spy Time
34
Episode 34. Vision
35
Episode 35. Evacuation
36
Episode 36. Escape
37
Episode 37. Monster Attack
38
Episode 38. The Darknest Side of Me
39
Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40
Episode 40. Terrible trip
41
Episode 41. Welcome To Moonlight
42
Episode 42. Pray
43
Episode 43. Why are They Here?
44
Episode 44. Impendence
45
Episode 45. Decision
46
Episode 46. JUNGLE
47
Episode 47. FORTRESS
48
Episode 48. DREAM
49
Episode 49. CRUSH
50
Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51
Episode 51. DEAD CITY
52
Episode 52. MEMORIES
53
Episode 53. I Hate You
54
Episode 54. Impatient Groom
55
Episode 55.Master Control Station (MCS)
56
Episode 56. Mask Man
57
Episode 57. Be A Guardian
58
Episode 58. Cloud
59
Episode 59. Leo’s Anger
60
Episode 60. Forgotten City
61
Episode 61. Friend?
62
Episode 62. Solar City Memories
63
Episode 63. Behind The Mask
64
Episode 64. Betrayer
65
Episode 65. The Stranger
66
Episode 66. Disappear
67
Episode 67. There’s No Cure
68
Episode 68. I’ll be fine
69
Episode 69. Find Hope
70
Episode 70. Make a Deal
71
Episode 71. The War Begins
72
Episode 72. This is the end
73
Episode 73. Good bye

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!