Malam telah merayap menyembunyikan kehangatan sang surya. Sesekali terdengar suara lolongan anjing di luar. Berkat parameter yang dipasang Selena, mereka sedikit berlega hati karena tidak ada yang bisa menembus parameter itu tanpa harus terpanggang hidup-hidup. Pendar cahaya biru terlihat indah saat malam tiba. Sesekali terlihat terang saat sesuatu berusaha memasukinya. Mereka benar-benar terbebas dari ancaman bahaya dari luar.
Gelak tawa terdengar dari ruang santai. Para pria tampak sedang asyik bercengkrama. Sania masih terlihat sibuk membereskan sisa kekacauan makan malam. Ia benar-benar terlihat seperti seorang ibu yang mengurusi anak-anak nakalnya. Di tengah-tengah keasyikan mereka bercanda, Selena tampak turun dari lantai atas. Melemparkan senyum pada semua dan senyum yang lain terhadap Matthew. Ia mendekati Tony yang masih sibuk berkomentar tentang perubahan sikap Matthew sore ini yang terlihat lebih sering tersenyum.
“Tony, bisa kau ikut aku sebentar,” pinta Selena.
Tony bengong untuk sesaat, “ada apa?”
“Bawalah tabletmu. Aku rasa kau akan menyukainya nanti,” perintah Selena.
“Kau ini gadis misterius, Selena,” gurau Tony. “Aku akan ikut denganmu.”
Selena mengangguk senang segera meminta Tony mengikutinya. Tony tampak senang sekali, cengiran menghias wajahnya. Kerlingan nakal ia lontarkan kearah Leo dan Matthew yang tampak masam melihatnya.
“Maaf teman-teman. Aku ada kencan malam ini,” kata Tony girang menepuk-nepuk pundak Leo dan Matthew bersamaan.
Leo segera mengibaskan tangan Tony dari pundaknya sedangkan Matthew hanya bisa mendengus kesal. Tony tahu benar kedua temannya ini sedang berebut memenangkan hati Selena hanya tertawa girang.
Tony menyusul Selena keruang kerjanya yang dipenuhi dengan bermacam-macam komputer dengan teknologi tinggi dan layar hologram dibeberapa sisi. Ia sangat terpukau dengan kecanggihan computer itu, dulu di perusahaan Leo ia juga mendapatkan peralatan canggih, tetapi yang ini berkali-kali lipat lebih canggih. Tony berdecak kagum saat Selena memintanya mempelajari program komputer di depannya dan memerintahkannya untuk mengcopynya ke dalam tabletnya. Tak ingin membuang kesempatan, Tony segera mengotak-atik komputer itu. Selena berada di seberangnya dan sibuk dengan layar hologram yang berada di depannya.
“Kau sedang apa?” Tanya Tony penasaran.
“Mencari rekaman CCTV rumah ini,” jawab Selena pendek. Ia masih fokus dengan yang dikerjakannya.
“Apa yang kau cari?”
“Seseorang yang mungkin datang akhir-akhir ini,” jawab Selena yang berhasil menemukan beberapa video yang dia cari.
Tony mendekati Selena dan ikut memperhatikan beberapa rekaman yang diputar Selena. Rata-rata rekaman hanya menampilkan rumah itu yang kosong hingga Selena mendapatkan rekaman tentang seseorang yang datang dengan helikopter. Orang itu tampak tergesa-gesa memasuki rumah dan memeriksa setiap ruang setelah itu ia keluar lagi menghampiri helikopter yang menunggunya di halaman.
“Siapa dia?” Tanya Tony menajamkan penglihatannya.
“Temanku dari Moonlight. Dia yang mengurus rumah ini selama ini.” Selena memeriksa tanggal rekaman itu. “Aku rasa dia mencariku.”
Tony bisa melihat rekaman itu didapat saat wabah Ragen semakin meluas. Selena kemudian
sibuk mengerjakan hal lain membuat Tony kembali ke tempatnya.
“Apa benar dia temanmu?” Tanya Tony meyakinkan.
“Iya, kenapa?” Selena menatap Tony bingung.
“Kau melewatkan pria tampan itu dan hanya menganggapnya teman.”
Kening Selena tampak berkerut diperhatikannya Tony dan rekaman CCTV bergantian dan akhirnya tawanya pecah membuat Tony menatapnya tajam.
“Aku besar bersamanya, ayahnya yang membesarkanku sejak aku kecil. Dia lebih mirip sebagai saudara dari pada teman, jadi mana mungkin aku menyukainya,” terang Selena tergelak.
“Benarkah?” kata Tony takjub. Kemudian terdiam sampai tawa Selena mereda.
“Kalau begitu di antara Leo dan Matthew siapa yang kau sukai?” tembak Tony.
Selena menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Tony mengingat siang tadi ia telah melabuhkan cintanya pada Matthew. Ia tak ingin hubungannya diketahui dengan yang lain untuk sementara waktu dan kesepakatan itu juga diutarakan Matthew tadi.
“Selesaikan kerjaanmu, aku harus menghubungi temanku,” kata Selena mengalihkan topik, lalu membelakangi Tony membuatnya tidak bisa lagi mendesak Selena lebih lanjut.
Tony mendapat hal baru malam itu, selain beberapa program yang diminta Selena untuk dibawanya juga mengetahui informasi tentang Selena tanpa gadis itu sadari. Beberapa file sengaja ia selundupkan untuk membuka informasi tentang teman barunya. Dan rekaman cctv itu yang paling ia pentingkan.
***
Melihat Selena pergi bersama Tony membuat Matthew berwajah masam. Ia memang pecemburu, tapi juga tidak ingin mengekang Selena terlalu kuat toh mereka pergi untuk urusan penting di ruang kerja. Mungkin Tony diminta membantu Selena untuk menghubungkan komunikasi dengan Arvent seperti yang ia ceritakan sebelumnya. Matthew kemudian teringat, di ruang baca ia bisa mengakses CCTV diberbagai ruangan di rumah itu. Ia pun beranjak dari tempat duduknya meninggalkan yang lain.
“Mau ke mana?” Tanya Ignis melihat Matthew beranjak pergi.
“Membaca buku,” jawab Matthew lantas pergi.
Matthew menghempaskan tubuhnya di kursi belakang meja ruang baca. Ia segera menyalakan layar hologram dan menyetelnya pada ruang kerja. Nampak Selena dan Tony sedang sibuk mengotak atik computer di hadapan mereka. Matthew lega setidaknya mereka
duduk terpisah dengan meja komputer. Ia tersenyum sendiri menyadari sikapnya yang berlebihan.
“Sedang membaca huh,” kata Ignis yang tiba-tiba muncul diikuti Leo di belakangnya.
Ia memperhatikan apa yang dilihat Matthew dan menggeleng pelan. Kemudian dia sibuk mengobrak abrik buku yang terdapat di atas meja. Ignis berhasil menemukan sebuah album foto di antara tumpukan buku-buku bacaan. Membukanya dan melihatnya halaman demi halaman.
“Apa ini pemilik rumah ini?” Tanya Ignis, pandangannya tertuju pada sebuah foto.
Leo dan Matthew menghampirinya ikut melihat foto dihadapan Ignis.
“Iya, itu Sam. Aku melihat hologramnya di kamar Selena tadi malam,” terang Leo.
Ignis tampak mengangguk-angguk dan membalik lembaran-lembaran selanjutnya. Banyak foto kemesraan Selena dan Sam dalam album, sepertinya itu adalah album pribadi milik mereka. Beberapa foto terlihat mereka sedang berada di luar negeri.
“Mereka benar-benar pasangan serasi,” kata Ignis. “Dan sudah bertunangan.”
Pernyataan Ignis sontak membuat Leo dan Matthew kembali memperhatikan album yang dipegang Ignis. Disebuah halaman terdapat foto pesta pertunangan mereka dan sepasang cincin yang terikat rapi pada pembatas album. Ignis kembali membuka halaman, ada sebuah halaman yang membuatnya tertarik. Bukan foto lagi yang terdapat di sana namun potongan sebuah lembar berita.
“Leo, kau harus tahu ini,” katanya menatap tajam Leo.
Leo mendekat dan memperhatikan apa yang diperlihatkan Ignis. Di sana pada potongan berita itu tertulis “DUA ORANG TURIS ASING TERJEBAK DALAM KERUSUHAN ANTAR GANK DI NEGARA UNITED KINGDOM. SATU TEWAS DAN SATU LAGI KRITIS” pada baris pertama berita itu. Namun yang membuat Leo semakin terkejut adalah hari tragedy itu bersamaan dengan hari pembunuhan kedua orang tuanya. Leo dan Ignis saling berpandangan, pikiran mereka sama tentang hal itu.
Leo kembali memperhatikan berita itu lagi, di sana tertulis turis yang tewas di tempat adalah Sam Uley dan Selena Farron dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka yang sangat parah. Leo menghembuskan napas dalamnya, suatu kebetulan mereka mengalami kenyataan yang pahit di waktu yang sama. Ia meraih lembaran yang lepas dibelakang potongan berita itu. Dibacanya secara seksama.
“Mereka akan menikah tiga hari selanjutnya,” ucap Leo, napasnya tercekat mengetahui kenyataan itu.
Matthew mengambil lembaran yang dipegang Leo. Itu sebuah undangan pernikahan dan benar apa yang dikatakan Leo, mereka akan segera menikah. Seperti terkena pukulan tepat di ulu hatinya, Matthew duduk di kursi. Ia benar-benar merasa marah mengetahui hal itu. Marah karena seseorang telah membuat Selena menelan pil pahit selama bertahun-tahun.
“Jadi kita sekarang tahu, kenapa dia selalu bermimpi buruk setiap malam kan?” ucap Matthew menoleh pada Leo.
Leo menggangguk, hal yang sama dirasakan Leo mengetahui kenyataan itu.
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Matthew tampak memperhatikan layar hologram di depannya, namun pikirannya melayang ketempat lain. Leo dan Ignis masih membolak balik beberapa buku yang terdapat di atas meja.
“Kalian sedang apa?” Tanya Tony memecah kesunyian menyembulkan kepalanya di pintu.
Leo dan Ignis menoleh padanya tanpa mau menjawab pertanyaan Tony.
“Kemarilah, aku ada sesuatu,” ajak Tony ke kamar mereka.
Ignis dan Leo mengikuti Tony meninggalkan ruang baca. Matthew menolak untuk ikut, dia masih ingin berada di sana lebih lama. Matthew tetap mengontrol Selena dari layar hologram. Ia tahu gadis itu butuh waktu sekarang dan dia sendiri juga butuh waktu sendiri untuk meredakan gejolak amarahnya mengetahui kenyataan yang pernah dialami Selena. Kini waktunya Matthew menghapus kenangan buruk masa lalu Selena dan menggantinya dengan cinta yang akan dia limpahkan seutuhnya padanya.
Sesampainya di kamar, Ignis dan Leo melihat Tony yang sedang tersenyum penuh arti membuat mereka heran. Tony duduk di kasur sambil mengotak atik tabletnya. Kedua temannya ikut duduk di samping Tony.
“Aku mendapatkan sesuatu di ruang kerja Selena,” kata Tony membuka sebuah file rekaman CCTV rumah yang ia selundupkan tadi.
“Kalian akan terkejut melihat siapa yang datang ke rumah ini.” Tony mulai memutar video itu.
Ignis dan Leo tampak mengamati dengan seksama. Mereka melihat seorang pria dengan helikopter datang ke rumah. Ignis tampak berpikir keras, wajah itu terlihat sangat familiar di matanya. Leo masih mencermati video itu.
“Itu adalah teman Selena. Arvent. Dan jika kalian ingat, dia salah satu polisi elite yang disewa raja Caelum saat mendapat ancaman pembunuhan dulu,” kata Tony menjelaskan pada temannya.
“Aku ingat sekarang. Benar dia polisi yang ditugaskan di kerajaan dulu,” kata Ignis yang kemudian tampak berfikir.
“Aku rasa itulah sebabnya Selena lihai menggunakan senjata api kan,” kata Ignis memberi
pernyataan yang disambut anggukan kedua temannya.
Malam itu Ignis menyita tablet Promt untuk memata-matai Selena yang masih terlihat di ruang kerjanya. Ia masih belum puas mengetahui Selena hanya seorang porter. Dia yakin Selena memiliki profesi ganda dan dia ingin mengetahuinya. Banyak hal yang membuatnya curiga dari lihainya ia memakai senjata, peralatan yang canggih, rumah teknologi super canggih, tunangan jenius dan sekarang seorang teman polisi elite. Semua itu cocok jika Selena juga seorang agen mata-mata atau sejenisnya. Ignis berharap bisa mengetahui secepatnya.
***
Waktu telah menunjukkan tengah malam. Suasana dirumah telah kembali sunyi. Para penghuni rumah kembali terlena dalam mimpi hanya seseorang yang tampak masih sibuk di balik beberapa layar hologram. Sesekali terdengar ******* putus asa saat pekerjaannya tidak membuahkan hasil. Ia tampak mondar mandir memikirkan cara lain agar bisa menyelesaikan pekerjaannya itu. Semua itu diamati Matthew dari ruang baca.
Matthew yang melihat Selena keluar dari ruang kerjanya segera meninggalkan ruang baca menuju ruang santai. Tepat sebelum sampai di ruang itu, Matthew telah berhasil terlihat seperti sedang tidur. Ia bisa mendengar langkah kaki Selena yang mendekatinya dan pergi berlalu meninggalkannya. Napas lega keluar dari mulutnya mengetahui Selena percaya dia sedang tertidur. Saat berusaha mengatur degup jantungnya, Matthew mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya lagi disusul dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tahu Selena yang melakukannya meski matanya tengah tertutup.
Matthew mengatupkan rahangnya sekuat tenaga ketika bibir Selena mendarat dikeningnya, ia berusaha keras untuk menahan dirinya agar tidak merengkuh tubuh Selena dan menenggelamkannya dalam pelukannya. Ada hal yang lebih penting yang ingin ia ketahui tentang gadisnya setelah tadi siang gagal membuka rahasia Selena. Untunglah Selena segera pergi meninggalkannya sehingga ia bebas sendiri lagi mencari informasi tentang Selena.
Beberapa saat kemudian pintu depan terdengar terbuka, Selena melangkah keluar rumah. Matthew yang penasaran segera membuntutinya dengan hati-hati, gadis itu berjalan menuju mobil sport dan memasukinya. Suara mesin mobil itu memang halus, kemungkinan besar teman-temannya yang telah tidur tidak akan mengetahui kepergian Selena. Namun dengan sigap Matthew menghalangi laju mobil itu sehingga Selena harus mengeremnya mendadak karena terkejut.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Selena terkejut melongokkan kepalanya dari jendela mobil.
“Ke mana kau akan pergi?” kata Matthew balik bertanya.
“Bukan urusanmu,” jawab Selena ketus.
Matthew memutari mobil dan membuka pintu kursi penumpang. “Kau tidak akan pergi tanpa aku,” tegasnya.
“Baiklah kalau itu maumu,” sahut Selena, ia membuka parameter rumah dengan remote control yang dibawanya untuk keluar dan menutupnya kembali.
Matthew tidak tahu kemana Selena membawanya pergi, gadis itu juga tidak berbicara sepanjang perjalanan. Dari kejauhan ia melihat lampu berkelip-kelip di langit melewati mobil mereka, namun kemudian berbalik mengikuti mereka sesaat sebelum melewati lagi. Helikopter itu terbang rendah membuat perasaan Matthew tidak enak apalagi Selena sepertinya mengarah ke tempat yang sama dengan helikopter itu. Selena memacu mobilnya lebih cepat begitu melihat helikopter itu mendarat di sebuah lahan terbuka dan berhenti tak jauh dari heli itu.
Mereka berdua tetap berada di dalam mobil hingga seseorang turun dari helikopter itu. Dari sinar lampu mobil yang masih menyala, Matthew bisa melihat lambang di badan helikopter dan mendadak ia menyesal ikut bersama Selena. itulah sebabnya Selena membiarkannya ikut tanpa banyak memprotes.
“Ayo keluar,” ajak Selena.
Perasaan Matthew yang kacau balau tidak menggubris perkataan Selena, ia menolak keluar terlebih ia menolak untuk ikut bersama orang yang menunggunya di luar. Ia membiarkan Selena dan orang itu berbicara di luar, ia tidak berminat mengetahui isi pembicaraan mereka. Selena menoleh padanya yang masih membeku dengan tidak sabar gadis itu menghampirinya dan membuka pintu di sampingnya.
“Keluarlah,” pinta Selena sekali lagi.
“Aku tidak mau,” tolak Matthew.
“Kau sendiri yang meminta untuk ikut kan?” kata Selena meraih tangan Matthew dan memaksanya keluar dari mobil.
Dengan berat hati Matthew mengikuti langkah Selena mendekati pria yang sejak tadi berdiri menantinya. Kini ia berdiri berhadapan dengan pria itu, tapi ia tidak memiliki kata-kata untuk berbicara padanya. Ia lebih memilih membuang mukanya.
“Matt, kenalkan dia Raines. Atasanku. Dia akan membawamu dari sini,” kata Selena menjelaskan.
“Membawaku?” ucap Matthew kelu.
“Aku akan mengirim barang-barangmu nanti,” jelas Selena.
“Bagaimana denganmu, kau tidak ikut bersamaku?” Tanya Matthew tak percaya.
“Dia tidak bisa ikut, masih ada misi lain yang menanti,” sela Raines.
“Jadi kapan aku bisa bertemu Selena lagi?” Tanya Matthew lagi pada Raines.
“Entahlah, mungkin dua atau tiga bulan tergantung seberapa cepat dia menyelesaikan tugasnya dan berharap saja tidak ada misi yang menyusul,” jawab Raines dengan santai.
Matthew tampak mendengus kesal, ia mulai berjalan menjauhi Raines dan Selena yang menatapnya bingung.
“Aku tidak akan ikut bersamamu, tidak tanpa Selena!” kata Matthew dengan lantang.
“Don’t be silly,” sahut Selena.
“Kenapa? kenapa kau lakukan ini padaku Selena. Apakah kesanggupanmu menjadi kekasihku
hanya untuk ini, menjebakku. Agar kau bisa dengan mudah memintaku pergi!” bentak Matthew merasa di permainkan.
“Why you say that?! Aku melakukan ini Karena aku menganggapmu sebagai kekasih. Aku ingin kau aman,” kata Selena tak kalah sengit.
“Bagaimana denganmu, bagaimana dengan lukamu? Apa kau pikir aku akan pergi meninggalmu dengan tenang?” Matthew mencengkeramnya ke dua lengan Selena.
“Aku baik-baik saja,” sergah Selena, “kau harus pergi, Matt,” lanjutnya meminta.
Matthew menggeleng keras, hatinya diliputi rasa amarah yang tertahan. Ia tidak ingin berpisah dengan Selena, tidak meski hanya sedetik dalam hidupnya.
Sedangkan disisi lain, Raines hanya memandangi pertengkaran ke dua orang itu dengan sikap tenang. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, setidaknya Presdir Shinra telah memperingatkannya tadi. Takdir memang sebuah misteri yang aneh, bagaimana pun kerasnya manusia memisahkan sebuah ikatan, namun jika sudah ditakdirkan ikatan yang terpisah akhirnya bersatu kembali dengan cara di luar logika meski keduanya memiliki masa lalu yang terlupakan.
“Apa sebenarnya misimu?” Tanya Matthew penuh tekanan.
“Mencari dan menjaga keselamatanmu, dokter,” sela Raines yang kini berjalan mendekati keduanya.
“Lalu kenapa aku harus berpisah dengannya?” Tanya Matthew sengit tanpa melepas cengkeraman tangannya dari Selena.
“Tidak seluruhnya benar. Kau bisa ikut bersamanya mengantarkan teman-temanmu hingga sampai di Solar city setelah itu kalian melanjutkan perjalanan ke fortress. Kami akan senang menunggumu di sana,” terang Raines.
Perlahan kemarahan Matthew mereda mendengar penjelasan Raines, ia mengendurkan cengkeramannya dan menatap Selena penuh harap.
“Rai, please bawa dia sekarang. Aku sendiri yang akan mengantarkan orang-orang itu. Terlalu berbahaya jika Matthew terlalu lama di luar,” sergah Selena.
“I’m not going without you,” tegas Matthew menatap tajam Selena.
“Kau bisa bersamanya, setidaknya kami mengetahui Selena berada di dekatmu. Sekarang dia yang akan bertanggung jawab terhadapmu,” putus Raines mengakhiri pertengkaran ke dua orang di depannya.
“Jangan bercanda, Raines,” erang Selena tidak setuju.
“Itu perintah, dia bisa jadi partnermu untuk sementara,” kata Raines tenang. “Dan satu lagi, di mana barang yang kupesan,” lanjutnya bertanya.
Dengan langkah gontai Selena kembali ke mobil mengambil sebuah kotak hitam yang ia sembunyikan di kursi belakang. Ia pun segera menyerahkan barang itu pada Raines yang menerimanya dengan sangat senang kemudian membuka kotak itu untuk mengecek isinya.
“Satu dari sepuluh materia ini kosong,” ujar Raines memperlihatkan sebuah bola kaca tanpa isi.
“Aku menggunakannya,” dengus Selena.
“Kau membakar tanganmu lagi?” kata Raines tidak percaya.
Matthew yang mendengar pernyataan Raines menatap penuh selidik Selena, ia ingat saat pertama kali bertemu dengan gadis itu tangannya terluka parah jadi penyebabnya adalah bola berwarna-warni itu.
Tak ada jawaban dari mulut Selena selain wajahnya yang terlihat kesal.
“Dua materia untukmu, kau hanya bisa memakainya untuk memanggil summons,” kata Raines menyerahkan dua bola berwarna hijau dan biru.
Selena mengambil ke dua bola itu yang langsung ia benamkan ke tangannya masing-masing satu, bola itu langsung terserap ke dalam tangan hanya meninggalkan pendar biru dan hijau yang juga langsung mengilang menyatu dengan tangan.
“Baiklah, saatnya aku pergi. Mulai sekarang kalian adalah partner setidaknya hingga sampai di fortress. Jika ada misi lain aku akan menghubungimu,” pamit Raines.
“Aku tidak punya cellphone,” kata Selena memberi tahu.
“Partner barumu membawanya,” ujar Raines sambil tersenyum membuat Matthew terperangah. Ia pun meninggalkan ke duanya, menaiki helikopter yang masih menunggu kemudian terbang menghilang di kegelapan malam.
Sepeninggal Raines, Selena tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada Matthew. Pria itu membawa cellphonenya yang berharga tanpa memberitahunya. Ia pun lantas meninggalkan Matthew yang langsung mengejarnya masuk mobil.
“Kau membawa cellphoneku tanpa bilang padaku?” Tanya Selena ketus.
“Kau sendiri yang memberikannya, apa kau tak ingat?” jawab Matthew.
Selena terdiam untuk mengingatnya, sial, malam saat dia terluka cellphone itu ia berikan pada Matthew dan dia lupa tidak memintanya kembali. Dengan geram Selena menjalankan mobilnya kembali ke rumah dengan kecepatan tinggi.
“Kau masih bisa berubah pikiran sebelum menyesal,” kata Selena sambil membanting pintu mobil saat keluar.
“Aku tidak akan menyesali keputusanku,” sahut Matthew tak kalah sengit.
“Baiklah. Kalau begitu kau tunggu di sini,” perintah Selena kemudian meninggalkan Matthew
berdiri sendirian di halaman rumah.
Matthew hanya bisa menuruti perintah Selena tanpa berbicara, di pandanginya gadis itu hingga menghilang ke dalam rumah. Ia melihat Selena turun ke ruang bawah danau dari lift yang transparan. Entah apa yang ingin dilakukan gadis itu, ia tidak akan mundur selangkah pun. Matthew tetap berdiri di sana hingga Selena kembali dengan dua buah pedang di tangannya. Ia menatap Selena penuh tanda tanya.
“Lawan aku,” perintah Selena melempar salah satu pedangnya ke arah Matthew. “Jika kau kalah, kau akan kukirim ke tempat Raines tanpa bantahan.”
“Bagaimana jika aku yang menang?” Tanya Matthew mulai tertantang.
“Lakukan saja sesukamu,” jawab Selena.
“Baiklah, aku akan tetap mengikutimu dan kau harus mengatakan siapa dirimu yang sesungguhnya,” tekan Matthew.
“Terserah.”
Mereka pun memulai pertarungan, Selena segera mengayunkan pedangnya kearah Matthew yang dengan mudah ditangkis pria itu. Selena berusaha menyerang Matthew lagi lebih gencar dari sebelumnya, namun serangannya dipatahkan dengan mudah begitu saja bahkan Matthew berkali-kali berhasil membuatnya terpojok. Susah payah Selena berkelit dari serangan balasan Matthew, beberapa kali ayunan pedang Matthew nyaris mengenai tubuhnya.
Matthew benar-benar menyerangnya dengan sungguh-sungguh. Napas Selena semakin memburu karena kelelahan, genggaman pedangnya pun tidak sekuat tadi. Keadaan itu berbanding terbalik dengan Matthew yang masih terlihat segar bugar meski keringatnya bercucuran. Pertarungan mereka berlangsung cukup lama hingga seberkas cahaya matahari mulai terlihat di ufuk timur. Selena benar-benar kelelahan diserang tanpa jeda oleh Matthew, posisi bertarungnya kini telah berubah menjadi posisi bertahan. Ia tidak mengira Matthew lihai bermain pedang.
Saat Selena sedikit lengah dengan cepat Matthew menyerangnya hingga pedang di tangan Selena terlepas dan terlempar jauh. Belum sadar dari rasa terkejutnya Selena telah menerima serangan kedua dengan telak. Ia mengerang keras saat tubuhnya terjerembab ketanah. Ia tak ingin bergerak lagi dan membiarkan tubuhnya terlentang di tanah, napasnya kini tersengal-sengal tak dipedulikannya pedang Matthew yang terhunus di depan lehernya.
“Aku tak mengira akan mengalahkanmu dengan mudah,” kata Matthew terengah-engah, ia menunduk dan mengunci badan Selena diantara kedua kakinya. Pedangnya kini tertancap di samping mereka berdua.
“Aku juga berpikir seperti itu,” sahut Selena, ia terbatuk merasakan paru-parunya kehabisan
oksigen.
Matthew menumpukan tubuhnya ke kedua tangannya hingga posisinya kini tepat di atas Selena, ia tersenyum melihat Selena yang tampak kelelahan akibat serangannya.
“Bagaimana kalau kau memberikan hadiah untukku?” pinta Matthew.
“Baiklah apa yang kau minta,” kata Selena sedikit menegakkan tubuhnya, kini jarak mereka semakin dekat.
“Aku hanya minta jawaban Selena,” kata Matthew tajam.
“Jawaban tentang apa?” Tanya Selena menelengkan kepala.
“Pekerjaanmu,” jawab Matthew mantap.
“Kau sudah tahu, Matt,” elak Selena sedikit gelisah.
“Kau juga tahu aku meminta jawaban lebih,” desak Matthew.
Selena terdiam memikirkan permintaan Matthew. Resiko besar menanti jika dia mengatakan sejujurnya bukan hanya dia sendiri yang akan mendapat masalah, tapi kemungkinan besar Matthew akan mengalami masalah lebih besar jika mengetahuinya. Matanya menatap Matthew bimbang dan otaknya berpikir keras. Melihat Selena hanya terdiam, Matthew semakin merapatkan kunciannya pada Selena yang tidak begitu menghiraukannya.
“Damn Selena, jika kau tidak menjawabnya kita akan dalam posisi seperti ini terus,” rutuk Matthew dengan seringai di bibirnya. “Hufh… dan aku sangat suka posisi ini.”
Selena menatap Matthew menyelidik, ia baru menyadari posisi mereka benar-benar sangat intim dan itu membuat wajahnya merah padam. Ia berusaha melepaskan kakinya dari himpitan Matthew, namun pria itu benar-benar menguncinya dengan rapat. Matthew hanya mengerling nakal mengetahui Selena baru menyadari posisinya.
“Pilihannya adalah kau jawab pertanyaanku atau aku akan di sini terus,” desak Matthew. “Atau aku akan melakukan lebih agar kau bicara,” lanjutnya mengancam.
Matthew kini semakin merapatkan diri membuat Selena kembali terlentang menghindari Matthew yang semakin merangseknya. Wajahnya kini menegang melihat wajah Matthew kini hanya tinggal satu inci di depannya dengan tatapan yang mengancam. Selena tak lagi bisa berpikir jernih, pikirannya teralih pada mata dan bibir Matthew.
“Ba… baik lah aku akan mengatakannya,” kata Selena napasnya tercekat melihat bibir Matthew semakin dekat. Ia mengerang keras dalam hati menyesal telah kalah beradu pedang dengan Matthew.
“Jadi…”
“Aku tak ingin kau menyesal setelah tahu diriku sebenarnya,” kata Selena mencicit.
“Kau tahu, aku tidak akan pernah menyesal,” ucap Matthew, ditelusurinya tulang pipi Selena hingga ketelinganya dengan hidungnya. Ia bisa mendengar napas Selena yang semakin memburu sama halnya dengan dirinya. Dikecupnya leher jenjang Selena hingga gadis itu tersentak pelan di bawahnya.
Konsentrasi Selena semakin buyar saat merasakan sengatan kecil di lehernya. Dicengkeramnya dada Matthew untuk meredakan detakan jantungnya yang semakin cepat.
“Matt… aku…” napas Selena semakin tercekat.
“He..em.” Matthew tak menghentikan aktifitasnya. “Kau tak ingin menjelaskannya padaku.”
Tubuh Selena benar-benar tegang di bawah Matthew, serangan psikis dan fisik membuatnya tak bisa berfikir. Penjelajahan Matthew benar-benar membuatnya kacau balau.
“Bagaimana kalau mulai dari ini?” bisik Matthew di telinga Selena.
Selena merasakan pipinya tersentuh sebuah benda logam yang dingin, ia berusaha melirik
benda yang ditempelkan Matthew pada pipinya itu.
“Apa kau mengenalinya?” tatap Matthew tepat di manic mata Selena, setelah mendengar perkataan Raines tadi ia menerka seseorang yang menghadang Ragen di Uata dulu memakai senjata materia dan jika tebakannya benar maka Selena lah orang itu. Angel yang dia cari di depan matanya.
“Matt…” ucap Selena kelu.
“Kenapa Selena, kenapa kau lakukan ini padaku? Kau ingin membunuhku dulu dan sekarang kau mati-matian menjagaku bahkan sekarat pun kau masih berusaha menjaga keselamatanku?” Matthew bangkit dari atas Selena dan duduk di samping gadis itu terpekur menatap air danau.
Selena pun ikut bangkit duduk, mulutnya masih terkunci rapat. Ia jarang berinteraksi dengan orang lain selain untuk menjalankan tugasnya dan kini pria yang ada di sampingnya benar-benar membuatnya kualahan. “Maafkan aku, Matt,” ucapnya pelan.
“Untuk apa, karena kau mencoba membunuhku atau sekarat karena aku?” Tanya Matthew nanar.
“Aku hanya menjalankan tugas, Matt.”
“Karena kau bukan seorang porter kan?”
“Aku seorang pembunuh bayaran”
Matthew menghela napas panjangnya, akhirnya ia mengetahui kebenaran seorang Selena. Kekasihnya. Tanpa Selena duga, Matthew justru menarik dalam rengkuhannya. Di peluknya Selena erat-erat, ia tidak peduli apa yang pernah di lakukan gadis itu atau pun siapa gadis itu. Ia mencintainya sejak awal bertemu, mungkin terdengar gila tapi itulah kenyataannya.
“Aku mencintaimu, aku tidak peduli apa yang sudah terjadi” bisik Matthew.
--- TBC ---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
moon
jangan bilang klw selena dan sam yang bantai orang tua leo🤔🤔🤔🤔
2022-04-30
1
yuni
vote ku senin ini buatmu thor🤩
2021-08-02
1
Ninin
Gak seru Thor kl Selena sma Matthew dan lg si Matthew jg punya rahasia yg blm terungkap
2021-07-28
1