Episode 9. Tragedy

Suasana masih tegang saat dua mobil meluncur keluar kota dengan cepat. Di belakang sana, gedung-gedung pencakar langit yang mengisi kota seketika hancur lebur setelah dihantam dua bom yang dijatuhkan oleh pihak militer. Gelombang panas dan gempa tremor bisa dirasakan orang-orang yang mengendarai dua mobil tersebut. Mereka berusaha keras untuk menghindarinya, dikebutnya kedua mobil itu menjauhi kota. Pohon-pohon di tepian jalan terlihat condong dan tak sedikit yang tumbang karena terkena hempasan angin dari kota.

Dari dalam mobil sport yang ditumpanginya, Selena melihat kota telah porak poranda dan terbakar api yang membara. Sayup-sayup terdengar lengkingan suara para Ragen yang sekarat di sela-sela gemuruh gedung yang hancur. Begitu miris saat menyadari dengan mudah pihak militer melenyapkan sebuah kota dalam sekejap mata. Selena membenarkan posisi duduknya setelah terguncang karena Leo mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Tapi dia bersyukur bisa selamat saat ini. Dihelanya nafas panjang setelah perlahan Leo mengurangi kecepatan mobil. Kota sudah tidak tampak sekarang hanya asap tebal yang membumbung tinggi keangkasa yang dapat dilihat. Selena melirik sekilas ke arah Leo, pria itu tampak tenang dalam situasi seperti ini. Leo yang tengah asik mengemudi merasakan tatapan Selena meski gadis itu tidak memperhatikan dengan jelas. Senyum mengembang di bibirnya karena dia bisa berdua lagi dengan Selena.

“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Leo memulai percakapan.

“Tidak,” jawab Selena singkat. “Aku rasa, sekarang aku tahu kenapa Ignis tidak pernah memintamu menyetir,” sindirnya.

“Maaf, aku hanya ingin kita selamat,” kata Leo di sela derai tawanya.

“Aku tidak berterima kasih tentang yang kau bilang penyelamatan, karena sebagian nyawaku berceceran di sepanjang jalan tadi!” marah Selena.

Leo menatap Selena dengan tawa makin berderai mendengar kata-kata Selena. Melihat Leo semakin tertawa, Selena semakin marah dengan wajah cemberut dia membuang mukanya menatap keluar mobil. Leo membiarkan Selena, dia begitu bahagia bisa membuat gadis itu marah. Dia kembali focus menyetir mobil, didepan mereka ada teman-temannya yang mengendarai SUV.

Saat Leo ingin menegur Selena tiba-tiba earpiecenya berbunyi.

“Ada apa Ignis?”jawab Leo sesekali mencuri pandang Selena. “Tidak, kita baik-baik saja.

Oke,” lanjut Leo pada Ignis di depan sana.

*****

Di dalam mobil SUV, Ignis yang mengemudikan mobil sesekali melirik ke arah kaca spion untuk mengecek temannya di mobil belakang. Dia sangat khawatir karena mereka terpisah mobil. Segera dia menyalakan earpiecenya untuk menghubungi Leo.

“Leo, apa kalian baik-baik saja?” Tanya Ignis. “Syukurlah, bisakah kau jangan ugal-ugalan lagi. Aku sedikit khawatir tadi,” Lanjut Ignis. Setelah mendengar jawaban Leo, dia mematikan earpiece lagi.

“Kau ini terlalu mengkhawatirkan Leo,” komentar Tony yang duduk di sampingnya.

“Bagaimana aku tak khawatir, dia itu lebih penting dari pada nyawaku,” sahut Ignis.

“Hahaha…ya. Tapi dia bukan anak kecil lagi. Dia bisa bertahan semalaman berpisah denganmu kan, dan sepertinya rencanamu mendamaikan mereka berhasil,” kata Tony sambil tertawa mengingat kejadian semalam.

“Ya, aku cukup senang dengan hal itu. Bagaimana pun kita membutuhkan kerja sama yang baik,” kata Ignis.

“Kira-kira apa yang mereka lakukan semalam, hingga Selena memakai kaos Leo?” gumam Tony menerawangkan pandangannya jauh ke depan.

“Jangan berpikiran kotor. Leo tidak mungkin memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal yang tidak penting,” omel Ignis.

Tony hanya bisa terkekeh sambil menggeleng kepalanya, temannya yang satu ini memang begitu protektif terhadap Leo. Ignis kembali memeriksa mobil sport di belakangnya setelah tampak baik-baik saja dia mengalihkan pada penumpangnya di belakang.

Tampak Jimmy dan Toby yang bersiap tidur lagi sedangkan Sania dan Matthew terlihat murung, “ sepertinya di sini yang tidak baik-baik saja” gumam Ignis.

*****

Leo mencuri pandang lewat ekor matanya, baru kali ini dia bertemu seorang gadis yang begitu dingin kepadanya. Sejak dulu dia terbiasa dikelilingi oleh gadis-gadis yang selalu memujanya. Bukan karena dia gila pujaan tapi justru sebaliknya. Leo selalu risih pada para gadis yang selalu merayunya, mereka merayu karena tahu Leo adalah seorang pewaris kerajaan yang sekarang ditinggalkannya jauh-jauh.

Dia tak ingin membuka identitasnya sekarang pada siapapun termasuk Selena yang sekarang duduk di sampingnya.  Leo benar-benar ingin mencari sesosok gadis yang benar-benar mencintainya tulus bukan karena status yang dia sandang.

“Selena, kau dan Matthew apakah pernah berteman?” Tanya Leo setelah tak ada kata-kata dari Selena sejak tadi.

“Tidak, hanya pernah beberapa kali bertemu saat aku meminta tolong mengecek sampel darah,” jawab Selena.

“Mengecek darah, untuk apa?” Tanya Leo heran.

“Setiap selesai tugas dari daerah tertentu, para porter sepertiku wajib memeriksakan kesehatan untuk memastikan kesehatan kami baik-baik saja,” jelas Selena.

“Jadi porter sepertimu ada banyak,” kata Leo semangat.

“Hanya sedikit dan kami jarang bertemu.”

Leo memandangi jalanan didepannya, saingannya saat ini sungguh berat. Pastilah sulit baginya untuk mencuri hati Selena sedangkan Matthew ternyata seorang ilmuwan dan setiap kali menyinggung soal Matt, Selena tampak antusias sekali.

“Di mana orang tuamu?” Tanya Leo mengalihkan pembicaraan.

“Ibuku meninggal saat aku kecil dan ayahku menyusulnya saat aku masih di SMA.”

“Sorry,” kata Leo menyesal telah menanyakannya.

“Tak apa, aku justru bersyukur karena mereka sudah bahagia dan tidak merasakan bencana ini.”

“Ya… hemh pasti berat hanya tinggal dengan ayah saja.”

“Awalnya, tapi ayahku punya istri lagi saat aku beranjak dewasa.”

“Apa itu buruk?”

“Kau bercanda? Ibu tiriku sangat luar biasa karena dia menjadikan aku seperti anaknya sendiri. Walau jarang bertemu, tapi itu sangat indah.”

“Memangnya apa yang dia lakukan?”

“Ibu tiriku selalu mendampingi ayah ke pelosok negeri untuk memburu benda purbakala. Fortress itulah salah satu penemuan mereka,” terang Selena.

Selena bercerita banyak tentang hidupnya dulu pada Leo. Leo mendengarkan ceritanya dengan antusias. Gadis itu benar-benar luar biasa karena mampu bertahan seorang diri selama ini. Leo merasa lebih beruntung dari Selena, meskipun dia juga kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan keji yang terjadi dirumahnya setidaknya dia masih memiliki teman-teman yang selalu berada di sampingnya selalu. Bahkan teman-temannya lebih memilih meninggalkan rumah demi mengikutinya lari keluar kerajaannya. Leo memang menghindari pembunuh yang dikirim rival kerajaannya, namun dia pun juga mempunyai dendam untuk membunuh mereka yang telah menghabisi nyawa orang tuanya.

Leo melihat Selena yang kelelahan membiarkannya untuk tidur, dia berpikir gadis itu butuh istirahat setelah apa yang terjadi hari ini. Dipandanginya Selena, dia tidur dengan pulas saat ini. Leo mengemudikan mobil dengan hati-hati takut membangunkan Selena.

*****

Selena merasa lelah luar biasa, meski dia berusaha untuk tetap membuka matanya pada akhirnya dia jatuh tertidur juga. Rasa tenang merasuk dalam dirinya sehingga dia bisa tidur dengan damai. Dia sama sekali tidak terusik mimpi buruk bahkan dia tidak bermimpi sama sekali. Setelah sekian lama, baru sekarang dia bisa menikmati waktu tidurnya. Terlelap setelah mengalami pagi yang berat, Selena tidak terusik oleh suatu apapun bahkan Leo yang berada di sampingnya seolah mengerti keadaannya sehingga mobil yang dia naiki berjalan dengan hati-hati. Entah berapa lama Selena tertidur, saat dia membuka matanya matahari telah tinggi di atas kepala. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Kini pemandangan di luar berganti sebuah padang gersang yang mengiringi perjalanan menggantikan kelokan sungai kotor yang dilihatnya sebelum tertidur tadi. Ditegakkan badannya untuk membetulkan posisinya saat dia mendengar seseorang menyapanya, namun suaranya bukan lagi Leo yang didengarnya tadi.

“Kau sudah bangun?” sapa Matthew lembut mendobrak ruang rungu Selena. Selena mengedipkan matanya agar terbuka dengan jelas. Di sampingnya telah duduk Matthew menyopir mobil sedangkan Leo kini berganti posisi duduk di belakang. Matthew tersenyum melihat Selena masih setengah sadar dari bangun tidurnya, gadis itu begitu terkejut melihatnya telah berada di sampingnya.

Selena telah sadar dan merasakan badannya tertutupi jaket. “oh Matt, sejak kapan kamu pindah mobil?” Tanya Selena menyelidik.

“Emm…beberapa waktu yang lalu, Leo bilang dia lelah dan tak ingin membangunkan tidurmu jadi aku menggantikannya,” kata Matthew memberi alasan sambil melirik Leo dari kaca spion.

Yang dilirik melengos jengah, karena yang ada Matthew yang membujuknya untuk mengemudikan mobil itu dan Leo tahu betul alasan Matthew untuk itu. Pria satu itu memang selalu membuatnya kesal dan sekarang dia merusak kencannya dengan Selena. Selena menoleh kearah Leo, hatinya tak enak karena tadi telah meninggalkannya tidur.

Perjalanan diisi keheningan kadang terdengar celoteh Matthew berbicara dengan Selena. Leo yang duduk di belakang memejamkan matanya, dia tidak tidur hanya saja terlihat tidak senang dengan kehadiran Matthew di sana. Leo menghibur dirinya dengan bermalas-malasan. Di luar pemandangan hanya padang gersang sejauh mata memandang. Cuaca panas menyengat menerpa permukaan bumi menambah perjalanan terasa sangat membosankan. Sesekali mereka melewati mobil-mobil rusak yang berserakan di pinggir jalan ditinggalkan pemiliknya. Perlahan mobil SUV didepan mereka menepi dan berhenti diikuti mobil sport di belakangnya. Mereka berniat untuk istirahat sesaat.

“Ahhh… akhirnya aku bisa merenggangkan tubuhku,” teriak Tony saat keluar mobil. Dia berolah raga kecil merenggangkan tubuhnya setelah lama duduk didalam mobil.

Teman-temannya yang lain ikut menyusulnya turun. Ignis membawa ransel isi perbekalan untuk makan siang mereka. Leo turun pertama saat mobil yang ditumpanginya berhenti. Dia menghampiri Ignis yang sedang sibuk menyiapkan makan siang. Dari ekor matanya, Ignis melihat Leo mendekatinya dengan wajah masam.

“Maaf sobat, aku tidak bisa mencegahnya,” terang Ignis seolah tahu isi kepala Leo yang memprotes pertukaran penumpang tadi.

Leo yang ikut membantu Ignis hanya diam. “Ya, lagi pula dia memang menyebalkan sejak awal bertemu,” kata Leo.

“Selena?” Tanya Ignis menebak disambut tatapan horror Leo. “Maaf…maaf,” lanjut Ignis

terbahak sadar tebakannya salah. Leo menggeloyor pergi mendekati Tony dan Sania yang sedang bersantai didekat semak yang tumbuh dipinggir jalan. Mereka terlihat bercakap-cakap bersama.

Selena mendapati dirinya hanya duduk di dalam mobil dengan pintu terbuka, cuaca panas membuatnya enggan keluar.

“Tidak keluar?” Tanya Matthew di sampingnya.

“Sebentar lagi,” jawab Selena.

Matthew membuka pintunya dan keluar meninggalkan Selena sendiri di dalam mobil. Dia berjalan ke tempat Ignis dan meminta makanan dan minuman. Setelah mendapatkan jatahnya, dia kembali ke mobil.

“Makanlah,” Matthew menyodorkan makanan pada Selena di depannya. Dia berdiri di pintu samping Selena. Setelah Selena menerima pemberiannya, dia bersandar di mobil.

“Kau tidak makan?” Tanya Selena melihat Matthew hanya minum.

“Tidak, aku sudah kenyang,” jawab Matthew memamerkan senyum manisnya.

Setelah perpisahan semalam dengan Selena, Matthew memang menjadi posesif pada Selena meski dia sadar tak ada hubungan istimewa diantara mereka. Setidaknya saat ini belum.

Leo mengamati Selena yang tetap di mobil ditemani Matthew menjadi jengah. Ada sedikit rasa cemburu melihat kedua insan itu bercengkerama sangat akrab.

“Hei Leo, bisakah kita bertukar tempat, aku juga ingin merasakan naik mobil itu?” rengek Tony.

“Tanya saja pada Selena,” jawab Leo singkat.

“Oh ayolah, aku sudah bertahun-tahun menabung demi membeli mobil itu dan kau mendapatkannya dengan gratis,” protes Tony.

Leo tertawa melihat Tony uring-uringan seperti itu. Ignis menghampiri mereka dengan sejumlah makanan di tangannya.

“Ini makanlah,” kata Ignis menyodorkan sebungkus roti pada Leo.

Tanpa berkata apa-apa Leo langsung mengambilnya dari tangan Ignis.

“Setelah makan, periksa map kamu Tony. Kita sekarang di mana, sejak tadi hanya batu dan semak yang aku lihat,” cerocos Ignis.

“Tenanglah, kita masih di Negara Namrej.” Tony asal menjawab sukses membuatnya mendapat hadiah sebuah jitakan dikepalanya. “Aught, sakit tahu,” rutuk Promt sambil memegangi kepalanya.

Melihat Ignis menatapnya tajam setelah mendaratkan jitakannya di kepala Tony, dengan berat ia melaksanakan perintah Ignis walau dia masih ingin bersantai ria. Apalagi melihat Austin dan Jimmy yang sedang bermain kejar-kejaran di antara semak dan bebatuan. Setidaknya hiburan sedikit setelah beberapa hari dilewati sangat berat, yang diinginkan Tony.

“Kita sangat jauh dari kota besar maupun kecil, jika kita menemukan bangunan rasanya itu seperti berkah,” lapor Tony setelah mengotak-atik tabletnya. “Atau kita mendirikan tenda di padang gersang ini,” lanjutnya sambil menatap Ignis.

Matthew yang berjalan mendekat diikuti Selena di belakangnya langsung ikut bergabung. “Aku tak ingin bermalam di tenda, bagaimana kalau ada singa gurun dan jika beruntung mereka tidak terkena virus.”

Kata-kata Matthew seketika membuat Tony bergidik ngeri. Bertemu singa gurun sudah buruk ditambah jika mereka terkena virus pastilah berkali lipat buruknya. Ignis mencerna kata-kata Matthew dan menimbang-nimbang rencana selanjutnya.

“Kita lanjutkan perjalanan bergantian menyopir dan berdoalah kita mendapat tempat berlindung malam ini,” putus Ignis, “Sekarang kita beristirahat sebentar. Satu jam lagi kita berangkat.”

Tony langsung berlonjak kegirangan mendengar Ignis, dia pun langsung berlari menyusul Austin dan Jimmy yang masih bermain.

*****

Perjalanan berlanjut setelah hampir dua jam mereka beristirahat. Kini Austin berada di mobil sport bersama Matthew, Leo dan Selena. Hal itu dilakukan Ignis agar mencegah konflik antara Matthew dan Leo, setidaknya meredam bara api yang mulai membara. Matthew memilih menyetir pertama sedangkan yang lain beristirahat, dia sedikit kecewa saat Selena memilih duduk bersama Austin di belakang. Dia memandang

Leo yang di sampingnya dengan jengah.

“Tak sesuai harapan huh,” cengir Leo mengejek Matthew, yang diejek menghela nafas kesal langsung menancap gas menyusul SUV di depan.

Selama perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan terutama Leo dan Matthew. Sesekali Matthew melirik kursi belakang untuk melihat Selena yang kini telah kembali terlelap di samping Austin.

“Dia tidak tidur kan semalam?” Tanya Matthew pada Leo, suaranya lirih hanya terdengar seperti gumaman.

“Yah, aku menemukannya tengah melamun sendirian di luar semalam,” jawab Leo memeriksa Selena.

“Selena, dia sedang menderita,” kata Matthew terlihat murung.

“Apa maksudmu?” Tanya Leo.

“Seseorang yang setiap malam bermimpi buruk pastilah tengah menderita,” ucap Matthew. Ia kemudian melepaskan jaketnya dan memberikan pada Austin untuk menyelimuti Selena yang tengah pulas.

“Itu membantunya tenang saat tidur,” terang Matthew saat Leo menatapnya penuh tanda tanya.

*****

Malam itu benar-benar malam yang sial karena sudah hampir tengah malam mereka tidak menemukan bangunan satu pun. Masih untung tak ada seekor Ragen yang berkeliaran dipadang tandus itu. Saat harapan menemukan bangunan untuk bermalam kian tipis, dari kejauhan Nampak bayangan hitam membentuk struktur rumah dengan tower air di sampingnya. Lega menemukan tempat singgah, Ignis segera mengarahkan SUVnya menuju bangunan yang sedikit jauh dari tepi jalan. Dia menghentikan mobilnya di depan bangunan yang ternyata rumah itu. Dengan hati-hati Ignis mengintip dari balik kaca jendela mobil memastikan tempat itu aman. Ignis mengajak

teman-temannya untuk turun setelah melihat keadaan disekitarnya aman. Dengan wajah lelah, semua turun dari mobil dan memasuki rumah itu hati-hati. Di dalam sangat gelap terlihat sudah lama tak ada seorang pun yang menjamah tempat itu. Akhirnya mereka semua dapat beristirahat dengan nyaman malam itu.

Selena menemukan ruang kecil yang ternyata kamar mandi, segera dia masuk ke dalam dan berganti pakaian. Setelah beberapa saat dia keluar dan mendapati teman-temannya yang lain bersiap tidur. Dia melangkah mendekati kursi yang kosong di dekat Matthew. Diliriknya Leo yang memperhatikannya, tampak di matanya sebuah kelegaan dan senang melihat Selena memakai celana panjang dan bukan rok mini lagi.

Matthew memperhatikan penampilan Selena dan saat gadis itu duduk di sampingnya segera dia mencondongkan badannya kearah Selena. “Apa sekarang aku tak boleh lagi menyelimutimu dengan jaketku?” Tanya Matthew setengah berbisik.

Selena memandangi wajah Matthew, “jadi itu alasanmu menyelimutiku dengan jaket?” tanyanya heran.

“Tidak juga,” Matthew menegakkan badannya dan melepas jaket yang dipakainya, “aku melakukannya karena aku senang melakukannya,” lanjutnya sambil menyelimuti Selena dan membenarkan letak jaketnya di tubuh Selena. “Tidurlah,” perintah Matthew.

Selena tertegun mendengar ucapan Matthew dan membiarkan jaket itu berada di tubuhnya. Tak dipungkirinya saat jaket Matthew menyelimutinya, dia merasa sedikit tenang mungkin karena aroma Matthew yang tertinggal dijaket yang membuatnya seperti itu. “Kau tidak tidur?” Tanya Selena melihat Matthew masih terjaga menerawang

jauh ke langit-langit.

“Aku mendapat giliran pertama untuk berjaga,” jawab Matthew tersenyum, diulurkannya tangan kirinya dan mengusap kepala Selena. Mendapat perlakuan seperti itu membuat wajah Selena merona. Segera Selena memejamkan matanya agar gejolak di dalam dadanya mereda.

Leo yang memperhatikan keduanya dari ekor matanya segera membalikkan badan dan memejamkan mata mengusir rasa tidak nyaman di dalam dadanya. Cemburu.

*****

Seperti biasa saat tengah malam Selena terbangun, ia mendapati teman-temannya telah terlelap. Matthew yang duduk di sampingnya juga telah terlelap. Perlahan ia beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar rumah itu. Di luar hanya ada sinar bulan yang menyinari keadaan sekitar. Dengan hati-hati Selena beranjak mendekati tower air yang tampak tidak terurus itu, ia menghidupkan cellphonenya yang kembali berfungsi. Sudah saatnya ia memberi kabar pada Raines bahwa ia telah menemukan target dan siap untuk menerima jemputan. Semakin cepat ia membawa Matthew pada Raines semakin kecil resiko ia kehilangan orang itu.

“Aku mendapatkannya Ray,” kata Selena saat telephone telah tersambung.

“Bagus Angel, beritahu posisimu. Aku akan mengirim orang untuk menjemput,” jawab Raines di seberang.

“Aku tidak bisa memberitahu posisiku sekarang. Ada sedikit masalah. Dia bersama teman-temannya dan aku kehilangan mobilku,” terang Selena.

“Berapa orang di sana?” Tanya Raines.

“Tujuh orang,” jawab Selena.

“Bereskan mereka.”

“Aku sudah cukup banyak membunuh orang akhir-akhir ini,” desah Selena, “aku akan mengabarimu lagi setelah berhasil.”

“Baik. Cepatlah. Kita tidak tahu siapa yang mengincarnya selama ini,” perintah Raines.

Setelah sambungan terputus Selena hanya bisa mendesah pelan, benar kata Raines. Mereka tidak mengetahui kelompok mana yang tengah mengincar Matthew, meski sejauh ini tidak terlihat seorang pun yang berusaha menghadangnya. Namun bukan berarti tidak ada yang menginginkan pria itu. Dari ekor matanya, Selena bisa melihat seseorang berdiri di belakangnya.

“Big boy, menguping pembicaraan orang sangatlah tidak sopan,” kata Selena memutar tubuhnya.

Di sana Jimmy telah berdiri dengan garang menghunuskan pedangnya tepat di depan wajah Selena. “Siapa kau sebenarnya, siapa yang mengirimmu?!” gertaknya.

“Kita sudah saling berkenalan kan?” cibir Selena.

“Apa maumu sebenarnya?!” bentak Jimmy semakin tidak sabar.

“Mengantar kalian hingga ke Solarcity, ingat,” kata Selena dengan tenang.

“Jangan coba-coba berbohong padaku!!” bentak Jimmy semakin mendekatkan pedangnya.

Selena hanya tertawa pelan tidak menggubris sama sekali gertakan Jimmy, atau pun pedang yang berada di depannya. Ia berjalan meninggalkan Jimmy yang semakin emosi.

“Jangan harap kau bisa mencelakai Leo!!!” kata Jimmy tajam.

Mendengar perkataan Jimmy membuat Selena menghentikan langkahnya, dipandanginya Jimmy dengan tatapan heran. “Leo? Untuk apa aku mencelakainya.”

“Jangan berlagak bodoh Selena,” Jimmy menyentuhkan pedangnya pada leher Selena karena kesal.

“Leo, memangnya berapa harga nyawanya. Aku rasa tidak ada yang mau membayar nyawanya,” ucap Selena terpancing emosi.

“Kau perempuan busuk,” kata Jimmy mencaci maki.

“Dan kau terlalu banyak mulut,” umpat Selena meninggalkan Jimmy.

Ia pun pergi karena kesal dengan perkataan yang keluar dari mulut Jimmy, tapi belum jauh Selena melangkah ia menyadari sesuatu. Mulut besar Jimmy yang masih mengoceh mengundang banyak tamu tak diundang. Selena berhenti untuk mengawasi sekelilingnya, terlalu banyak yang datang dan makhluk-makhluk itu lebih gesit dari yang mereka temukan di kota.

“Diamlah brengsek!!!” bentak Selena kesal bercampur gusar.

“Aku tidak akan diam selama kau tidak menjawab pertanyaanku,” balas Jimmy bersikukuh.

Selena berbalik dengan tidak sabar, seketika hatinya mencelos melihat anjing liar di belakang Jimmy siap menerkamnya.

“Oh ****!!!” umpat Selena langsung meraih lasergunnya dan mulai menembaki anjing liar itu.

Jimmy yang tidak menyadarinya hanya bisa terperangah dengan kecepatan Selena. Tak hanya ada satu anjing liar. Namun setelah Selena berhasil membunuh satu bermunculan yang lainnya dengan kelincahan ekstrim. Jimmy bersusah payah menebas anjing liar-anjing liar itu dengan susah payah. Melihat Jimmy yang semakin kualahan, Selena segera mendekatinya dan menyuruhnya untuk segera pergi membawa teman-temannya yang lain selagi ia mengulur waktu untuk mereka.

*****

Baru sebentar rasanya Matthew memejamkan matanya. Hatinya sedikit gelisah, dibukanya kedua matanya dan menoleh kesamping dimana Selena tadi tertidur. Tapi saat ini dia hanya menemukan jaketnya tergeletak dikursi tanpa ada Selena di sana. Khawatir dan cemas, Matthew berdiri dan mencari Selena di setiap ruangan dan hasilnya nihil. Disambarnya jaketnya dan berniat keluar untuk mencari. Dia baru akan menggapai daun pintu ketika Jimmy yang bertugas jaga masuk dengan wajah pias. Seketika pikiran Matthew menjadi kalut, disambarnya kerah baju Jimmy.

“Where is she?!” gertak Matthew didepan muka Jimmy.

Mendengar keributan Ignis dan yang lainnya terbangun dan mendapati Matthew sedang mencengkeram baju Jimmy. Ignis segera menghampiri keduannya.

“Di…dia menyuruh kita semua untuk segera pergi,” terang Jimmy terbata-bata, nafasnya tercekat.

“Ada apa ini?” Tanya Ignis menengahi.

“Kita dikepung anjing liar, Selena meminta kita untuk segera pergi,” jelas Jimmy.

“Di mana dia?” Tanya Matthew geram.

“Di luar…”

Seketika Matthew menghempaskan Jimmy hingga menabrak dinding di belakangnya. Segera Matthew menyambar peralatannya dan berlari keluar.

“Matt..” teriak Ignis.

“Cepatlah kalian pergi, aku akan menjemputnya,” Gertak Matthew dan pergi menyusul Selena.

“Sebaiknya kita cepat,” perintah Ignis pada yang lain.

Segera mereka berkemas dan bersiap pergi. Leo berjalan keluar dengan pedang di tangannya, segera Ignis menghalanginya.

“Tidak Leo, kita harus pergi sekarang,” larang Ignis.

“Tidak, aku akan menyusul Matthew,” bantah Leo garang.

“Please Leo, keselamatanmu yang utama. Selena akan baik-baik saja, percayalah pada Matthew,” pinta Ignis. Dengan berat hati Leo menuruti Ignis, dia pun mengikuti yang lain keluar menuju mobil.

Di luar beberapa anjing liar telah menghadang mereka. Dengan cepat mereka membasmi satu persatu anjing-anjing itu dan segera masuk kemobil. Leo bisa melihat Selena dan Matthew bergumul dengan banyak anjing liar di sana. Dia berniat untuk turun dari mobil tapi tangannya dicekal Ignis yang menghalangi pintu mobil. Segera Tony yang duduk di belakang kemudi melarikan mobil SUV itu meninggalkan Selena dan Matthew.

*****

Dada Matthew seketik sesak, kemarahannya menggelegak mendapati Selena tengah membantai sekumpulan anjing liar itu sendirian. Anjing liar bukanlah lawan yang mudah dikalahkan, para anjing itu lebih gesit dan lincah setelah terkena virus Ragen. Inderanya menjadi lebih tajam dari anjing biasa dan sekarang Selena menghadapi lebih dari sepuluh anjing liar itu sendirian. Segera Matthew berlari mendekati Selena dan menembaki anjing liar yang sedang berusaha menerkam gadis itu. Butuh

lebih dari dua butir peluru yang bersarang di kepala untuk menumbangkan anjing liar.

Dari ekor matanya Selena melihat Matthew berlari kearahnya, sesuatu yang di luar dugaannya. Sedangkan teman-temannya telah melarikan diri dengan mobil SUV mereka. Keadaan semakin memburuk saat samar-samar terlihat bayangan hewan yang lebih besar dari anjing liar itu dari kejauhan. Dari pancaran matanya Selena bisa menebak bahwa itu adalah seekor singa gurun dan ia tidak bisa melawannya hanya bermodal lasergun dan semakin diperparah dengan kemunculan Matthew.

“Apa yang kau lakukan disini?!” bentak Selena pada Matthew.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu,” balas Matthew tak kalah sengit di sela pertarungannya dengan anjing liar.

Hal yang aneh terjadi saat singa gurun itu mendekat, anjing liar itu berhenti menyerang mereka dan memilih mengelilingi Matthew dan Selena. Kedua orang itu pun merapat dan bersiap menghadapi singa itu. Hewan itu mengaum keras dengan mulut penuh lendir, mata memutih dan taring yang terlihat lebih panjang dari ukuran normal.

“Apa yang mesti kita lakukan?” gumam Matthew gusar.

“Entahlah, hewan itu tidak akan mempan ditembak” beritahu Selena.

Matthew yang mendengarnya semakin gusar. Belum sepenuhnya menguasai ketakutannya, singa gurun itu telah berlari menerjang mereka. Selena yang telah siap menghadapinya mau tidak mau mengeluarkan pedang Crimson Bliztnya untuk menangkis serangan.

Matthew yang tersadar membantunya dengan memberikan beberapa tembakan, setiap ia melihat Selena sedikit menjauh dari singa itu. Dan Selena selalu mematahkan serangan singa itu setiap hewan itu berbalik mengincar Matthew.

Singa itu berhasil menerkam Selena hingga dia terpental jatuh. Selena berusaha menjauhkan moncong hewan itu yang terus merangsek ingin menggigitnya. Hanya pedangnya yang menjadi tumpuan untuk menjauhkan hewan itu dari wajahnya, tembakan Matthew sama sekali tidak berpengaruh sama sekali. Disaat-saat terjepit Selena mengambil resiko tinggi menghilangkan pedangnya dan kembali memanggilnya tepat menancap di kepala singa itu. Hewan itu pun meregang nyawa dan hampir menindih Selena jika saja gadis itu terlambat beringsut mundur.

Selena baru saja akan bangkit ketika seekor anjing lainnya menerkamnya dari belakang dan berhasil menancapkan gigi-giginya yang tajam di bahu Selena dan menarik Selena hingga jatuh tersungkur tak berdaya. Matthew yang mendengar teriakan Selena seketika darahnya terkesiap, mendapati gadis itu tengah diterkam seekor anjing. Dicabutnya pedang Selena dari kepala singa dan mengayunkannya dengan ganas pada anjing liar yang berusaha mengoyak bahu Selena. Anjing liar lainnya pun ikut menyerang mereka kembali. Melihat luka yang diderita Selena, kemarahan Matthew pun meledak, tanpa ia sadari pedang Crimson Blizt itu mengeluarkan kekuatan tersembunyinya di bawah kendali Matthew yang membuat Selena terkejut. Anjing-anjing yang mengelilingi mereka terkapar seketika dengan luka robek yang mengerikan di tubuh mereka.

“Bertahanlah,” pinta Matthew langsung mengangkat tubuh Selena dan menggendongnya berlari menuju mobil. Segera dia mendudukkan Selena di samping kemudi dan dengan cepat dia masuk kemobil. Anjing liar yang tersisa masih berusaha mengejar mereka. Dengan cepat Matthew menancap gas dalam-dalam dan melarikan mobil itu jauh dari tempat terkutuk itu.

Setelah anjing-anjing itu tak mengejar mereka lagi, Matthew menghentikan laju mobilnya. Dia meraih ranselnya dan mencari obat yang dia simpan. Matthew tampak mengisikan obat cair kedalam sebuah suntikan dan menjetikkannya dengan cepat.

“Ini akan sedikit sakit,” terang Matthew bersiap menyuntikkan obatnya ke lengan Selena.

“Kau bodoh Matt, seharusnya kamu meninggalkan aku di sana,” maki Selena di tengah nafasnya yang tak beraturan.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Selena,” tegas Matthew menyuntikkan obatnya.

Selena terjengit merasakan tusukan di lengannya. “Apa yang akan kamu lakukan kalau aku telah jadi seperti mereka?” Tanya Selena sarkastik karena dia tahu, sebentar lagi dia akan berubah menjadi Ragen akibat gigitan yang bersarang di bahunya.

“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menjadi seperti mereka,” sergah Matthew, “aku akan menyembuhkanmu,” tangannya membelai kepala Selena lembut mencoba menenangkan gadis itu.

Matthew memeriksa luka Selena, darah segar terus mengalir dari luka itu. Segera di bukanya baju yang dia pakai, dan ditempelkannya pada luka Selena untuk menghambat pendarahan. Selena memperhatikan bahu bidang Matthew dan perutnya yang sixpack segera menelan salivanya. Pria itu benar-benar memiliki tubuh yang atletis.

Meski bukan pertama kali Matthew telanjang dada di depannya, tapi baru sekarang dia memperhatikannya.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Matthew mengetahui gadis di depannya tengah termangu menatapnya.

“Kau punya tubuh yang indah,” ucap Selena tanpa sadar.

Matthew tersenyum mendengar ucapan Selena, “apa reaksi virus itu sudah bekerja?”

“Hemm… entahlah,” saut Selena salah tingkah. Setidaknya sekarang sakit Selena sedikit teralihkan dengan pembicaraan mereka.

Earpiece Matthew berbunyi saat dia membetulkan badan Selena. Segera dia menekan tombol earpiecenya.

“Kenapa kalian berhenti Matt?” Tanya Ignis di seberang.

Matthew bisa melihat jarak antara mobil mereka tidak begitu jauh, sepertinya Ignis menunggu mereka dari jauh.

“Teruslah berjalan dan segeralah mencari tempat perlindungan,” jawab Matthew segera bersiap setelah Selena telah duduk dengan baik dimatanya.

“Apa yang terjadi?” Tanya Ignis cemas.

“Selena terluka,” jawab Matthew singkat.

“Seberapa parah?” suara Ignis tercekat.

“Buruk.” Matthew segera menghidupkan mobilnya kembali dan perlahan mobil berjalan lagi menyusuri jalan raya.

*****

Wajah Ignis seketika mengeras mendengar kabar Matthew. Leo yang melihat perubahan Ignis, hatinya semakin tak enak.

“Apa yang terjadi, kenapa mereka berhenti?” Tanya Leo menatap tajam Ignis. Ignis mengalihkan pandangan dari Leo, “Tony percepat mobil kita harus mencari tempat yang aman,” perintah Ignis mengacuhkan Leo.

Leo menatap nanar Ignis, dipalingkannya wajahnya. Jauh di belakang sana mobil sport itu berhenti terlalu lama. Leo merasa ada yang salah dengan itu.

“Katakan padaku yang sejujurnya Ignis?” Tanya Leo putus asa.

Ignis menatap Leo seolah enggan mengatakan keadaan yang sebenarnya. “Selena terluka,” jawab Ignis.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Leo tercekat.

“Parah.”

Jimmy yang ikut mendengar penjelasan Ignis merasa terpukul, “ini semua salahku. Aku yang membuat keributan di sana.”

“Kau, jika terjadi apa-apa dengan Selena aku akan membunuhmu,” murka Leo sambil menyerang Jimmy dengan kalap.

Dengan sigap Ignis menangkap tubuh Leo dan menguncinya agar temannya itu bisa tenang. Austin juga membantu melerai Leo. Jimmy hanya pasrah menerima amukan dari Leo, dia tidak berusaha sedikit pun membalas pukulan dari Leo. Dia benar-benar merasa bersalah sekarang.

Beruntung Sania berada di depan sehingga tidak merasakan dampak gejolak di belakang. Dia sangat cemas melihat keadaan teman-temannya. Segera dia membuka tablet milik Tony dan mencarikan rute jalan untuknya. Tony yang sedang menyetir ikut gusar, secepatnya dia menjalankan mobil dibantu Sania mencari tempat yang aman.

Terpopuler

Comments

❀⃝✿𝐋il 𝐌σσηℓꪱׁᧁׁhׁׁׅׅ֮֮t✿⃝❀

❀⃝✿𝐋il 𝐌σσηℓꪱׁᧁׁhׁׁׅׅ֮֮t✿⃝❀

saya suka saya suka 😍

2021-08-15

0

Ninin

Ninin

Semakin tegang

2021-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1. Chaos
2 Episode 2. New Friend
3 Episode 3. Another Time Another Place
4 Episode 4. When they meet
5 Episode 5. Gedung Solbeck
6 Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7 Episode 7. STUCK WITH YOU
8 Episode 8. Time To Go
9 Episode 9. Tragedy
10 Episode 10. SOUND OF DEAD
11 Episode 11. CRISIS CORE
12 Episode 12. WELCOME BACK
13 Episode 13. We Start the Journey Again
14 Episode 14. Lost
15 Episode 15. Coastal
16 Episode 16. COME BACK HOME
17 Episode 17. Soul Like Me
18 Episode 18. The Deal
19 Episode 19. The Truth
20 Episode 20. Jealous
21 Episode 21. I'm Sorry
22 Episode 22. You and I
23 Episode 23. Solar City
24 Episode 24. Is Not Good Bye
25 Episode 25. Fight
26 Episode 26. Assassins 1st Class
27 Episode 27. A STORY
28 Episode 28. I HATE SHRIMP
29 Episode 29. Night Club
30 Episode 30. Done All Wrong
31 Episode 31. The Reason
32 Episode 32. Golden Card
33 Episode 33. Spy Time
34 Episode 34. Vision
35 Episode 35. Evacuation
36 Episode 36. Escape
37 Episode 37. Monster Attack
38 Episode 38. The Darknest Side of Me
39 Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40 Episode 40. Terrible trip
41 Episode 41. Welcome To Moonlight
42 Episode 42. Pray
43 Episode 43. Why are They Here?
44 Episode 44. Impendence
45 Episode 45. Decision
46 Episode 46. JUNGLE
47 Episode 47. FORTRESS
48 Episode 48. DREAM
49 Episode 49. CRUSH
50 Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51 Episode 51. DEAD CITY
52 Episode 52. MEMORIES
53 Episode 53. I Hate You
54 Episode 54. Impatient Groom
55 Episode 55.Master Control Station (MCS)
56 Episode 56. Mask Man
57 Episode 57. Be A Guardian
58 Episode 58. Cloud
59 Episode 59. Leo’s Anger
60 Episode 60. Forgotten City
61 Episode 61. Friend?
62 Episode 62. Solar City Memories
63 Episode 63. Behind The Mask
64 Episode 64. Betrayer
65 Episode 65. The Stranger
66 Episode 66. Disappear
67 Episode 67. There’s No Cure
68 Episode 68. I’ll be fine
69 Episode 69. Find Hope
70 Episode 70. Make a Deal
71 Episode 71. The War Begins
72 Episode 72. This is the end
73 Episode 73. Good bye
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Episode 1. Chaos
2
Episode 2. New Friend
3
Episode 3. Another Time Another Place
4
Episode 4. When they meet
5
Episode 5. Gedung Solbeck
6
Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7
Episode 7. STUCK WITH YOU
8
Episode 8. Time To Go
9
Episode 9. Tragedy
10
Episode 10. SOUND OF DEAD
11
Episode 11. CRISIS CORE
12
Episode 12. WELCOME BACK
13
Episode 13. We Start the Journey Again
14
Episode 14. Lost
15
Episode 15. Coastal
16
Episode 16. COME BACK HOME
17
Episode 17. Soul Like Me
18
Episode 18. The Deal
19
Episode 19. The Truth
20
Episode 20. Jealous
21
Episode 21. I'm Sorry
22
Episode 22. You and I
23
Episode 23. Solar City
24
Episode 24. Is Not Good Bye
25
Episode 25. Fight
26
Episode 26. Assassins 1st Class
27
Episode 27. A STORY
28
Episode 28. I HATE SHRIMP
29
Episode 29. Night Club
30
Episode 30. Done All Wrong
31
Episode 31. The Reason
32
Episode 32. Golden Card
33
Episode 33. Spy Time
34
Episode 34. Vision
35
Episode 35. Evacuation
36
Episode 36. Escape
37
Episode 37. Monster Attack
38
Episode 38. The Darknest Side of Me
39
Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40
Episode 40. Terrible trip
41
Episode 41. Welcome To Moonlight
42
Episode 42. Pray
43
Episode 43. Why are They Here?
44
Episode 44. Impendence
45
Episode 45. Decision
46
Episode 46. JUNGLE
47
Episode 47. FORTRESS
48
Episode 48. DREAM
49
Episode 49. CRUSH
50
Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51
Episode 51. DEAD CITY
52
Episode 52. MEMORIES
53
Episode 53. I Hate You
54
Episode 54. Impatient Groom
55
Episode 55.Master Control Station (MCS)
56
Episode 56. Mask Man
57
Episode 57. Be A Guardian
58
Episode 58. Cloud
59
Episode 59. Leo’s Anger
60
Episode 60. Forgotten City
61
Episode 61. Friend?
62
Episode 62. Solar City Memories
63
Episode 63. Behind The Mask
64
Episode 64. Betrayer
65
Episode 65. The Stranger
66
Episode 66. Disappear
67
Episode 67. There’s No Cure
68
Episode 68. I’ll be fine
69
Episode 69. Find Hope
70
Episode 70. Make a Deal
71
Episode 71. The War Begins
72
Episode 72. This is the end
73
Episode 73. Good bye

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!