Perjalanan berlanjut dengan kesunyian. Kebun apel telah berganti dengan hamparan ladang gandum dan sayuran yang semuanya telah mengering. Banyak tempat yang terbengkalai dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya yang mungkin telah mengungsi ke suatu tempat jika selamat atau ditinggal mati. Terik panas matahari menjadi penyelamat bagi pengembara yang berjalan diatas bumi.
Dengan sinarnya, ia menjauhkan mara bahaya bagi yang selamat. Banyak tempat yang telah mereka lalui namun tak seorang pun yang mereka temui. Camp pengungsian Solarcity merupakan tempat pengungsian yang terakhir mereka dengar dari berita yang tersiar sebelum wabah Ragen meluas begitu cepat. Ada kemungkinan banyak orang yang selamat berkumpul di sana.
Hampir lebih tengah hari ketika mereka memutuskan untuk istirahat sejenak untuk mengisi perut. Dengan cepat Ignis menyiapkan segalanya. Dia benar-benar seperti seorang ayah yang sedang merawat anak-anaknya. Segala sesuatu kebanyakan dia yang mengerjakan tanpa mengeluh bahkan dia terlihat menikmati sekali. Selena keluar dari mobil setelah menyerah membangunkan Matthew yang tak menghiraukannya. Matthew benar-benar tertidur dengan lelapnya. Mungkin karena semalam ia mendapat tugas untuk berjaga.
Selena menghampiri teman-temannya yang telah lebih dahulu makan. Menu kembali ke semula, Makanan instan. Setidaknya makanan instan lebih mudah didapat tidak seperti sayuran hijau atau yang lainnya. Leo yang melihat Selena ikut bergabung segera mengambilkan mie instan yang disediakan Ignis. Ia menghampiri Selena yang duduk lebih dekat dengan Austin.
“Waktunya makan,” kata Leo sambil memperlihatkan apa yang dibawanya.
“Iya,” balas Selena mengulurkan tangan untuk menerima jatahnya.
Leo tidak memberikan mie itu pada Selena, ia bermaksud untuk menyuapinya. Lagi. Selena yang melihat Leo berusaha menyiapkan makanannya segera menolaknya. “Biar aku sendiri saja.”
“Bagaimana kau akan membukanya?” Tanya Leo membuat Selena menjadi terbengong. Tangannya memang hanya satu yang masih bebas bergerak dan itu tidak membantu menyelesaikan masalah makannya dengan mudah. Melihat Selena terdiam, Leo tertawa kecil. Ia langsung menyiapkan mie untuk Selena.
“Makanlah, biar aku yang suapi,” kata Leo memulai menyuapi Selena.
Ragu-ragu Selena membuka mulutnya, dia tidak nyaman dilihat yang lain terutama Sania yang menatapnya tajam sejak tadi. Akhirnya ia dengan terpaksa mengikuti permintaan Leo. Austin yang berada di samping Selena hampir tersedak melihat Leo yang berubah perhatian kepada Selena.
Matthew yang bisa melihat dari dalam mobil hanya bisa menatap kesal. Dia cemburu melihat Leo menyuapi Selena, “benar-benar memanfaatkan kesempatan huh,” gerutunya. Dipejamkan matanya lagi untuk menghilangkan rasa kesalnya itu.
Perjalanan berlanjut, kota hampir di depan mata dan mereka membutuhkan tambahan perbekalan. Secara cepat suv yang berada di depan membimbing mobil sport untuk tetap melaju di jalan yang benar. Sekeliling mereka kini dikelilingi tebing curam disatu sisi dan hutan kecil sisi lain. Jalan yang berkelok-kelok membuat kewaspadaan ditingkatkan agar tidak terjadi kecelakaan. Beruntung Leo merupakan pengemudi yang baik sehingga mereka tidak tergelincir ketika melewati beberapa tikungan tajam. Dikejauhan telah terlihat gedung menjulang tinggi memperlihatkan kota hanya tinggal di depan mata. Ignis yang menyetir suv
semakin tidak sabar, dilajunya mobil itu cepat-cepat membuat mobil bersuara berdecit saat melewati tikungan terakhir ia menghentikan secara mendadak mobilnya ketika melihat jalan terhalang sebuah mobil yang terbalik di tengah jalan.
“Damn!!!” makinya kesal. Mau tak mau Ignis keluar disusul Tony dan Jimmy untuk memeriksanya.
Mobil itu benar-benar ringsek dengan posisi terbalik. Di dalamnya terlihat penumpangnya yang telah tewas dengan keadaan mengenaskan.
Leo menghentikan mobilnya tak jauh di belakang suv, ia pun turun untuk menyusul teman-temannya. Austin yang penasaran juga ikut lari mendekati mobil di depan. Melihat teman-temannya berhamburan keluar, Matthew yang baru saja membuka matanya keluar dengan gontai. Rasa kantuknya masih tersisa di matanya.
Ignis tampak mengelilingi mobil mencari celah agar mobil mereka bisa melewatinya. Keadaan para penumpangnya jelas tidak memberikan efek apa-apa padanya mengingat dia telah melihat banyak kematian dengan berbagai macam bentuk. Teman-temannya masih menanti keputusan Ignis dengan tatapan ngeri melihat pemandangan di depannya.
Tanpa sepengetahuan Matthew, Selena menyusulnya keluar. Dia ingin mengetahui apa yang
terjadi. Dari mobilnya ia hanya bisa melihat ada mobil yang menghalangi jalan. Selena berjalan mendekati mobil itu, dilihatnya dalam mobil masih terlihat ada orang yang kemungkinan telah tewas. Semakin dekat Selena dapat melihat dengan jelas, seketika perut dan dadanya bergejolak. Penumpang mobil itu benar-benar dalam kondisi mengenaskan.
Sebenarnya Selena telah terbiasa melihat kematian dan seringnya dia yang membawa kematian itu sendiri hanya saja apa yang dilihat di depannya bukan hal yang biasa. Orang-orang itu tewas kecelakaan dan jasadnya dimangsa binatang liar hanya tersisa beberapa bagian saja dan baju yang mereka kenakan. Matthew menyadari Selena telah berdiri di sana segera menghampirinya dan berdiri di depannya. Selena telah pucat dan itu membuatnya khawatir.
“Selena, lihat aku,” perintah Matthew, kedua tangannya ditangkupkan ke kedua pipi Selena
memaksanya untuk berpaling dari para penumpang ke dia. Selena yang tergugu perlahan mengalihkan perhatiannya ke Matthew. Tatapannya nanar dan air mata menggenangi matanya.
“Just look at me,” pinta Matthew sekali lagi. Selena tampak telah berhasil menguasai dirinya, ditatapnya Matthew tanpa berkata apa-apa. “Berbaliklah dengan tetap melihatku,” kata Matthew membimbing Selena berbalik dan memaksanya untuk terus menatapnya. Matthew membawa Selena kembali ke mobil, Sania yang melihat Selena pucat bergegas menghampirinya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya cemas. Selena hanya mengangguk lemah.
Matthew juga terlihat cemas, “tetaplah di mobil. Aku akan membantu yang lain,”
Matthew menyerahkan Selena pada Sania untuk menemaninya. Sania yang melihat Selena
begitu pucat mengangsurkan minuman.
“Aku melihat mereka tadi. Di rumah ujung desa tempat kita menginap. Mereka tampak bahagia,” ucap Selena nanar. Setetes air mata membasahi pipinya. Sania yang menemaninya
menatap bingung.
“Tapi tak ada siapa-siapa didesa selain kita, Sel,” kata Sania bertambah bingung.
Selena menoleh pada Sania dan menatapnya lama, “aku tahu. Hanya aku yang bisa melihat mereka,” terang Selena.
Sania meremas tangan Selena agar tenang, sekarang dia baru paham apa yang dikatakan Selena.
“Aku biasa melihat seperti itu, hanya saja sudah terlalu lama aku tak mengalaminya. Dan sekarang …” Selena tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, dadanya begitu sesak.
Memiliki indera keenam bukanlah keinginannya meski dia terbiasa seperti ini sejak kecil tetap ia merasakan kengerian jika inderanya bekerja. Sania meraih tubuh temannya dan memeluknya.
Ignis memberi aba-aba pada teman-temannya untuk mulai mendorong mobil keluar jalan. Mobil bergeser pelan menuju arah tebing dan meluncur bebas menuruni tebing curam itu. Ignis memutuskan membuangnya ketebing agar mobil itu terbakar di sana, ketimbang membiarkannya di tepi hutan yang kemungkinan tubuh penumpang akan menjadi santapan hewan liar atau yang terburuk para Ragen. Setelah selesai mereka meneruskan perjalanan menuju kota. Sania tetap berada di samping Selena saat ini membuat Matthew harus rela duduk di depan bersama Leo. Selena masih terlihat sedikit pucat dan memilih untuk diam sepanjang perjalanan.
Mereka sampai di kota, suasana terlihat lengang dan tenang menyembunyikan bahaya yang mengintai di balik bayang-bayang gedung pencakar langit. Ignis mengarahkan mobilnya jauh dari tengah kota menghindari resiko lebih besar. Beberapa supermarket telah mereka singgahi namun makanan yang mereka dapat masih sedikit. Kebanyakan tempat hanya menyisakan barang-barang yang tidak bisa dikonsumsi. Penjarahan hal yang biasa mengingat banyak tempat telak collapse dan orang-orang yang selamat akan mengambil apa saja yang masih bisa mereka gunakan.
“Oke ini pemberhentian kita terakhir hari ini, temukan sebanyak yang kalian bisa dapatkan,” Kata Ignis member arahan pada teman-temannya.
Selena sebenarnya sangat ingin masuk ke dalam untuk membantu, tetapi Matthew bersikeras melarangnya dan sekarang ia mendapati dirinya di dalam mobil lagi ditemani Austin di mobil suvnya. Pembagian tugas yang sempurna di mana yang lain mencari persediaan makanan sedangkan dia hanya duduk di mobil. Karena bosan Selena keluar dari dalam mobilnya. Menghirup udara bebas di luar. Austin yang melihatnya ikut keluar dari suvnya dan menghampiri Selena.
“Membosankan di dalam mobil terus,” gerutu Selena melihat Austin menghampirinya.
“Aku tahu, Matt masih di dalam jadi tenang saja,” Austin mengerti temannya itu benar-benar membutuhkan hiburan, Matthew yang protektif pastilah membuat Selena sedikit kesal.
Selena memandangi Austin, ada sesuatu yang berbeda darinya yang baru dia sadari sekarang,
“rasanya aku tidak melihatmu hanya sebentar, tapi kau berubah drastis.”
“Oh ya, apa yang berubah?” Tanya Austin sambil memeriksa tubuhnya sendiri.
“Kau tampak lebih kurus sekarang,” tawa Selena berderai melihat perubahan Austin.
“Itu karena Ignis menyiksaku setiap waktu,” curhat Austin membuat mereka tertawa bersama.
Austin menemani Selena melepas bosan di luar mobil sambil bersenda gurau, banyak lelucon yang dilontarkan Austin membuat Selena tertawa. Austin juga bertanya apa yang terjadi pada Selena tadi hingga membuatnya terlihat shock. Selena menceritakan semua yang dialaminya tadi pada Austin. Disaat mereka tengah asyik bercerita, Selena merasa mendengar sesuatu dari kejauhan.
“Austin, kau dengar sesuatu?” Tanya Selena mempertajam pendengarannya.
Austin langsung memasang indera pendengarannya, “aku tidak mendengar apa-apa.”
Selena yakin telah mendengar suara mobil dari kejauhan, ia lantas masuk ke mobil untuk mengambil kacamatanya.
“Tunggu sebentar,” kata Selena pada Austin, ia berjalan menuju jalan raya untuk memeriksa keadaan.
Dengan kacamata yang ia miliki, ia bisa melihat mobil yang berjalan kencang mengarah padanya. Jaraknya masih cukup jauh, tapi yang membuat gusar adalah mobil itu dikejar banyak Ragen dan beberapa anjing liar. Segera Selena berlari menghampiri Austin.
“Austin, hubungi Ignis. Suruh mereka cepat keluar.”
“Apa yang terjadi?” Tanya Austin cemas.
“Kita dalam masalah besar,” ucap Selena membuka mobil dan mencari lasergunnya di dalam tas. Austin segera menghubungi Ignis lewat earpiecenya setelah melihat Selena bersiap dengan senjatanya.
Selena mendengar mobil itu semakin dekat. Austin yang sedang berusaha memperingatkan yang lain ikut menoleh kejalan. Suara gaduh deru mobil dan teriakan para Ragen mulai terdengar. Lolongan anjing liar saling bersahutan berlomba-lomba mendapatkan mendapatkan mangsa segar. Selena tak sabar lagi menunggu teman-temannya segera memasuki mobil dan memindahkannya di depan suv. Satu persatu para Ragen bermunculan setelah sebuah mobil yang melaju kencang melewati supermarket tempat mereka berada.
Selena berusaha menembaki Ragen-Ragen yang mulai mendekati mobil. Tepat waktu teman-temannya bermunculan dari dalam supermarket dan berlarian menuju mobil. Leo satu-satunya yang masuk ke mobil sport dan terperanjat mengetahui siapa yang berada dibalik kemudi. Belum sempat Leo bersuara, Selena telah menancap gas melarikan mobil keluar parkiran dengan beberapa Ragen yang tertabrak mobilnya.
“Selena, hentikan mobilnya. Biar aku yang menyetir,” kata Leo cemas. Cemas karena luka Selena belum sembuh.
“Apa kau gila?” balas Selena, ia melepas penyangga tangannya agar bisa bergerak bebas dan
melempar sembarangan. Mereka masih dikejar-kejar Ragen, tapi yang membuat Selena enggan berhenti adalah anjing liar yang terus memburu mereka.
Selena memacu mobil dengan kecepatan tinggi, rasa nyeri yang mendera bahunya tak ia hiraukan lagi. Ia hanya ingin selamat dan menyelamatkan yang lain terutama Leo yang berada di sampingnya. Leo melihat darah keluar dari bahu Selena semakin cemas.
Dia memaksa Selena untuk berhenti. Pada akhirnya mereka berdebat soal itu.
Earpiece Leo yang berbunyi tak Leo hiraukan meski ia telah memencet tombolnya. “Selena cepatlah berhenti, aku akan menyetirnya,” erang Leo putus asa.
“Diamlah!” bentak Selena frustrasi.
Ignis yang mendengar keributan mereka lewat earpiecenya tertegun. Dipandanginya Matthew yang duduk di sampingnya. Melihat mobil sport di depannya melaju kencang membuatnya cemas. “Matt, aku rasa pasienmu yang menyetir mobilnya,” berita Ignis membuat Matthew tersentak.
“Apa?!” tanyanya tak percaya.
“Selena yang menyetir” ulang Ignis.
Mendengar kata Ignis, Matthew mengacak-acak rambutnya kalut. Ia mencoba menghubungi Leo ataupun Selena namun tidak ada respon sama sekali. Ragen yang mengejar mereka bertambah banyak, anjing-anjing liar pun bermunculan dari setiap jalan yang mereka lewati. Selena sering sekali menabrak Ragen yang menghadang mereka di depan, sesekali ia harus berbelok dengan tajam untuk menghindari serangan. Dari kaca spion, Selena bisa melihat banyaknya jumlah Ragen yang berlarian dijalanan memburu mereka. Leo melihat Selena dengan tatapan cemas, ia memilih membiarkan Selena tetap menyetir setelah mendapat bentakan keras dari Selena. Lengan baju Selena kini ternoda darah karena lukanya membuka
Lagi. Namun Selena terlihat tidak menghiraukannya.
Selena memikirkan cara untuk menghentikan para pengejar mereka selagi ia sibuk mengendalikan mobilnya. Ia tak ingin mereka dikejar-kejar hingga keluar kota.
“Leo ambilkan lasergunku,” pinta Selena, kebiasaan baru Selena sekarang adalah seringnya melempar senjatanya sembarangan dan sekarang ia kebingungan mencarinya.
Leo menuruti kata Selena tanpa banyak Tanya. Ia menemukan lasergun Selena dibawah kakinya segera dipungutnya. Melihat Leo telah menemukan lasergunnya ia meminta Leo untuk memencet tombol di samping pelatuknya.
“Berikan padaku,” pintanya. Selena melihat peluang kebebasan melihat kelokan tajam dengan gedung yang berada tepat disisi jalan. Ia merencanakan sesuatu dengan gedung itu.
“Flare mode active,” terdengar suara halus dari lasergun milik Selena.
Semakin dekat dengan tikungan, Selena membuka jendela kaca di sampingnya. Dibidiknya lasergun miliknya pada gedung itu. Jika dia tidak salah perhitungan, flare yang ia tembakkan akan meledak setelah suv dibelakang mereka melaluinya. Leo yang sangat cemas mengakui kehebatan mengemudi Selena. Bahkan hanya dengan satu tangannya yang sakit, Selena masih bisa mengontrol mobil saat berbelok tajam tanpa mengurangi kecepatannya dan dengan tepat membidik lasergunnya dengan tangannya yang satu.
Tepat seperti yang diperkirakan Selena. Flare itu meledak setelah suv melaluinya, mengubur anjing-anjing liar yang berlarian mengejar mereka serta menghalangi sebagian yang lainnya. Selena seolah kalap hingga tetap memacu mobilnya hingga mereka telah di luar kota melalui jalan tol. Leo yang tak kuasa lagi menahan cemasnya memaksa Selena untuk berhenti.
“Selena berhentilah sekarang,” erang Leo putus asa diraihnya tangan Selena untuk mendapatkan respon.
Suara Leo seakan menyadarkan Selena, perlahan kesadaran Selena kembali. Dengan mendadak ia menginjak pedal rem hingga mobil terhenti seketika membuatnya terpental menyentuh kemudi. Selena mengerang keras merasakan bahu kirinya kembali terbakar. Ia bisa merasakan lukanya membuka dan mengeluarkan darah. Leo dengan cepat keluar mobil dan membuka pintu di samping Selena. Dipapahnya Selena keluar dari dalam mobil dan mendudukkannya di samping mobil.
“Bertahanlah, sebentar lagi Matthew datang,” hibur Leo. Didekapnya Selena dari samping menjaga agar tubuhnya tidak ambruk. Leo bisa melihat mobil suv datang di ujung jalan dengan kecepatan tinggi mengejar ketertinggalan mereka.
SUV POV
Melihat mobil sport itu melaju semakin kencang setelah sebuah ledakan terjadi di belakang mereka, membuat Matthew semakin gusar. Para Ragen telah berhenti mengejar mereka karena terhalang reruntuhan gedung dan kini mobil suv itu terseok-seok mengikuti mobil sport yang melaju di depannya.
“Ignis, apa kau bisa lebih cepat,”kata Matthew kalut.
“Ini yang paling cepat, Matt. Ingat, mereka menggunakan mobil Sport,” Ignis telah sejak tadi menyumpah karena tak berhasil mengejar laju mobil itu.
Dari kejauhan Ignis bisa melihat mobil itu akhirnya berhenti serampangan ditengah jalan. Ia bernafas lega melihat mobil itu masih terlihat untuh. Tak seperti Ignis, Matthew bertambah gusar melihat Leo dan Selena duduk di luar mobil. Setelah mobilnya dekat, Matthew langsung keluar tanpa menunggu mobil itu berhenti. Segera ia berlari mendekati Leo dan Selena.
“Apa yang terjadi?” Tanya Matthew melihat Selena kesakitan.
“Aku rasa lukanya terbuka lagi,” jawab Leo.
Matthew memeriksa bahu Selena, darah segar mengalir dari sela-sela lengan bajunya. Matthew segera meraih ranselnya untuk memberikan obat pada Selena. Melihat Matthew bersiap memberikan suntikan, Selena memalingkan wajahnya ke Leo. Ia tak ingin melihat benda itu memasuki lengannya. Selena merasakan hal yang aneh setelah menerima suntikan dari Matthew menoleh kearahnya dengan tatapan tak percaya. Belum sempat ia memprotes apa yang dilakukan Matthew terhadapnya, Selena telah kehilangan kesadarannya.
Leo panik saat Selena ambruk kearahnya karena tak sadarkan diri. “Matthew apa yang terjadi padanya?” tanyanya gusar.
“Tenanglah, dia tidak apa-apa. Aku hanya memberinya obat penenang,” kata Matthew sambil membereskan ranselnya.
“Apa?!” bentak Leo.
“Aku tidak ingin dia membahayakan nyawanya lagi,” terang Matthew masam. “Angkat dia, aku akan merawatnya di dalam.”
Tanpa banyak membantah lagi Leo mengangkat tubuh Selena yang tidak sadarkan diri ke dalam mobil disusul Matthew yang duduk di sebelahnya. Austin yang berjalan mendekati mobil menanyakan kondisi Selena. Leo hanya mengabarkan dia dalam kondisi baik-baik saja dan bisa melanjutkan perjalanan lagi. Matthew baru akan merawat Selena saat tangannya dicekal Leo yang berada di balik kemudi dan melihatnya membuka kancing kemeja yang dikenakan Selena.
“Apa yang kau lakukan,” marah Leo menahan tangan Matthew untuk membuka baju Selena.
“Aku harus memeriksa lukanya,” kata Matthew mengibaskan tangan Leo.
“Apa tidak ada cara lain selain membuka bajunya?” Tanya Leo gusar.
“Ck..” dengan tak sabar Matthew membuka kancing baju Selena dan membukanya lebar-lebar. “See?!” geram Matthew memperlihatkan tanktop yang selalu dikenakan Selena di balik bajunya.
Leo bernafas lega melihatnya dan membiarkan Matthew meneruskan pekerjaannya.
“Kau ini mesum sekali,” sungut Matthew yang sibuk memeriksa luka Selena.
Mendengar ucapan Matthew, Leo segera menjitak kepalanya hingga dia mengaduh marah. Austin yang ikut dalam mobil sport lagi tertawa melihat pertengkaran mereka. Leo menjalankan mobilnya mengikuti mobil Ignis di depan. Sekarang mereka berjalan tenang meninggalkan kota.
“Bagaimana lukanya?” Tanya Leo melihat sekilas dari kaca spion.
“Hanya terbuka sedikit, besok paling juga sembuh,” jawab Matthew menghela nafas lega. Luka
Selena sembuh dengan cepat berkat serum yang diberikannya dulu. Matthew benar-benar
senang melihatnya.
***
Siang perlahan-lahan menjadi malam. Tony yang menggantikan Ignis mengemudi dengan gamang memelankan laju mobilnya. Sesekali dia memeriksa GPS yang membuat alisnya berkerut. Rute yang dia ambil sedikit beda dengan yang tertera di GPSnya. Ia memutuskan untuk menghentikan mobilnya dan mulai memeriksa GPS. Sesekali ia melihat keadaan disekitarnya untuk memastikan keberadaan mereka. Ignis yang merasakan mobilnya berhenti, membuka matanya. Dia memandangi Tony yang terlihat masam penuh tanda tanya.
“Kenapa berhenti?” Tanya Ignis penuh selidik.
“Sepertinya aku salah belok tadi,” aku Tony. “Kita tersesat.”
Ignis mendecak kesal mendengar pengakuan Tony.
“Bagus sekali Tony, kau pandai mengatur rute tapi tak bisa membaca peta,” olok Sania dari belakang. Tony menoleh tampak kesal.
“Berapa lama kita salah jalur?” Tanya Ignis.
“Aku rasa sekitar satu jam.”
Ignis terlihat masam mengetahui mereka tersesat terlalu lama. Di luar ia hanya bisa melihat padang tandus dan pegunungan bebatuan. “kita tidak mungkin berbalik. Teruslah jalan,” perintahnya. Namun segera ia menahan Tony saat melihat sepasang bola mata yang memancar dari kejauhan. “Matikan lampunya,” bisiknya.
Tony yang masih terlihat bingung mengikuti perintah Ignis dan memandanginya penuh Tanya. Ignis menjulurkan telunjuknya ke depan agar Tony mengerti maksudnya. Tony melihat ke arah yang ditunjuk Ignis dan mendapati bayangan sesosok hewan yang mendekat ke arah mereka.
Ignis menghubungi Leo dengan earpiecenya untuk memperingatkan bahaya mendekat. “Leo, matikan lampu dan mesinmu. Aku melihat singa gurun mengarah ke sini.”
Leo, Austin dan Matthew yang sama-sama mendengar dari earpiece mereka, saling berpandangan ngeri. Leo langsung mematikan lampu dan mesin mobil sportnya. Degupan jantung menjadi satu-satunya suara yang terdengar di telinga mereka.
Ignis merogoh teropong dari dalam tasnya untuk melihat keluar. Ia bisa melihat tak hanya satu, tapi sekumpulan singa gurun yang mengarah pada mereka melalui teropong malamnya. Singa-singa itu semakin mendekati mereka. Sania yang melihat bayangan binatang itu beringsut menjauhi tepian jendela. Tony hampir tak bernapas saat singa-singa itu melewati mereka satu persatu. Singa-singa itu tampak mengacuhkan mereka dan melewatinya begitu saja membuat mereka bernapas lega. Ignis memperhatikan mereka dengan seksama kepergian singa itu, memastikan bahaya telah berlalu.
“Leo, apa yang kalian bawa hingga singa-singa itu mengelilingi kalian?” Tanya Ignis gusar melihat singa itu berhenti dan mengelilingi mobil sport di belakangnya. Mereka tampak sedang mengendus-endus mobil.
Mendengar pertanyaan Ignis, Leo berusaha mempertajam penglihatannya. Malam yang pekat membuatnya hanya bisa melihat bayangan samar di luar mobil.
“Matt, kacamata Selena. Gunakan kacamatanya,” kata Leo mengingat kacamata Selena saat bermain dengan gadis itu beberapa hari yang lalu, memiliki banyak fungsi.
Matthew yang tampak bingung mengikuti perkataan Leo. Dia mengambil kacamata itu dari Selena dan memakainya. Dengan wajah bingung ia berusaha bertanya pada Leo.
“Tekan tombol kecil di samping itu,” Leo memberi petunjuk Matthew.
Matthew terkejut saat ia menekan tombol kecil yang diperintah Leo. Kini ia bisa melihat dengan jelas singa-singa itu tanpa terhalang suatu apa pun.
“Ada lima singa mereka sedang mencari sesuatu,” bisik Matthew.
Seketika napasnya tercekat dan menoleh kearah Selena yang berada di sampingnya. Jaket yang ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Selena Nampak melorot memperlihatkan bercak darah di bahu dan lengan Selena. Dengan sigap ia membetulkan letak jaketnya. Ia berharap singa-singa itu tidak bisa mencium darah Selena lagi. Diperiksanya singa-singa itu, tapi tak ada yang bergerak menjauhinya.
“Leo, berikan jaketmu. Mereka mencium darah Selena,” pinta Matthew gusar.
Leo dengan hati-hati mencopot jaketnya dan menyerahkannya pada Matthew. Ia bisa melihat jaket Mattew tak cukup baik menutupi bekas darah itu. Matthew menutupi tubuh Selena dengan jaket Leo hingga dirasa cukup baik untuk menutupi aroma darah. Matthew kembali memeriksa keadaan sekitar, singa-singa itu mulai kebingungan mencari aroma darah segar yang tadi terendus dihidung mereka. Tepat saat singa-singa itu kehilangan buruannya, sebuah mobil melintas dengan cepat dari arah berlawanan membuat singa-singa itu berhamburan mengejar mobil itu.
“Go…go..go…” teriak Ignis melihat peluang melarikan diri di depan mata.
Tony dan Leo langsung memacu laju mobil meninggalkan tempat itu dengan napas lega. Dari
balik kaca spion Leo bisa melihat Matthew memandangi Selena dengan tatapan menyelidik di balik kacamata yang masih ia kenakan.
“Itu tak akan berhasil dokter mesum,” ejek Leo sambil menyeringai.
Matthew berpaling ke depan dengan tampang bingung, “apa?”.
Setelah berhasil mencerna kata-kata Leo, Matthew hanya bisa mengerang kesal dan melepas kacamatanya.
“Sungguh kalian membuatku gila” celetuk Austin.
Leo hanya terkekeh melihat teman-temannya kesal.
Dua buah mobil itu melaju kencang menembus pekatnya malam hingga mereka berhenti disebuah kabin di kaki gunung. Di sanalah mereka memutuskan untuk bermalam dan melepas lelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ninin
Tegang Thor 😀
2021-07-28
0
Rendra S.A
Exclusive. Seperti biasa. Haha
2020-11-05
2