Embun pagi masih bergelayut didedauanan, sinar jingga mulai merayap di ufuk timur. Ketenangan air telaga tak terusik oleh kedatangan para burung yang singgah untuk minum. Kepak sayap dan kicau burung bergemawang di langit. Berlomba-lomba untuk menyambut matahari yang akan segera muncul. Ikan-ikan berenang dengan tenang didalam air telaga yang jernih hingga memantulkan bayangan dari sekitarnya. Suara kokok ayam hutan semakin menyemarakkan suasana. Alam seolah melupakan kekacauan besar yang melandan di sekitarnya. Melena dunia dengan keelokan yang diberikannya pagi ini.
Matthew berjalan di tepian telaga menikmati fajar yang kian menyingsing di ufuk timur. Sesekali ia melemparkan kerikil ke dalam danau, mengoyak bayangan alam yang terpantul di permukaan airnya. Duduk merenung di tepiannya, menghirup udara dengan rakusnya seakan paru-parunya telah lama tidak mengecap udara segar. Pikirannya berputar-putar tentang apa yang ia lihat semalam. Bayangan Selena memeluk Leo membuatnya hampir terjaga sepanjang malam. Takut, marah dan sedih bercampur menjadi satu. Cengkeraman kuat menusuk dadanya, ia begitu menginginkan Selena. Menjadi yang paling diinginkan gadis itu, menjadi yang paling dicintainya.
Berdiri dari tempatnya, Matthew meraih gun yang selalu ia gantungkan di pengaman pinggangnya. Ia memain-mainkan gun itu memikirkan apa yang akan diperbuatnya. Matthew membidik dan menembaki beberapa buah palm yang berbuah ranum dipinggiran telaga. Sekali dua kali ia hanya menembaki buah itu serampangan. Hingga kesekian kalinya ia menembaki buah itu, tepat saat buah terakhir yang tertembak ia mendengar keributan tak jauh dari belakangnya.
“What are you doing Bastard!!!” maki Tony mengetahui Matthew sedang main-main dengan senjatanya.
Matthew hanya menoleh tanpa dosa karena dia bingung melihat Tony yang kesal. “Aku hanya berlatih.”
“Jimmy, tangkap dia. Kita beri dia pelajaran karena telah mengganggu orang tidur di pagi buta,” marah Tony berlari ke arah Matthew.
Jimmy yang mengikuti Tony sejak tadi ikut mengejar Matthew, yang sekarang berlari sambil tertawa mengejek mereka. Tony yang mengejar Matthew sesekali menyumpah-nyumpah karena buruannya tak juga tertangkap. Matthew berlari menghindari Tony yang berusaha menangkapnya sesekali mengejek, hingga ia lengah dan terjatuh karena tersandung. Melihat buruannya terjatuh, Tony dan Jimmy mengambil kesempatan untuk menangkapnya. Matthew benar-benar habis dibully mereka berdua dan dengan kasar diseret ketepian telaga. Tanpa ampun Tony dan Jimmy melempar Matthew ke dalam telaga itu.
“Rasakan itu!!!” maki Tony berang meninggalkan Matthew di dalam telaga.
Matthew sedikit megap-megap saat berusaha muncul di permukaan air. Namun ia masih bisa mengejek Tony dari dalam telaga. Setelah Tony dan Jimmy menghilang di balik pintu rumah, Matthew kembali terdiam di dalam telaga menikmati dinginnya air itu sambil memandangi matahari yang mulai bersinar cerah. Berusaha menjernihkan kepalanya.
***
Leo bangun lebih awal karena merasakan hal yang beda. Ia memandangi Selena yang tengah terlelap di sampingnya. Tangan Selena yang melingkar di perutnya itulah yang membuatnya terbangun tadi. Baru kali ini Leo bisa sedekat ini dengan Selena, usapan lembut Selena di perutnya membuat jantungnya berdegup kencang. Ia tak ingin beranjak dari tempatnya atau hanya sekedar bergeser. Ia ingin menikmati kedekatan ini lebih lama lagi.
Setelah semalaman lelah menangis dalam pelukan Leo, Selena tampak tertidur lelap hingga pagi hari. Ia merasakan ketenangan dalam dirinya hingga ia terlena dalam mimpi indahnya. Entah karena ia tengah tidur di kamarnya sendiri atau orang yang terlelap di sampingnya yang membuatnya ia bisa tidur dengan nyaman.
Selena bergerak perlahan, ia merasakan tangannya di atas tubuh seseorang di sampingnya. Ia membiarkan tangannya tetap di sana, karena mengira tengah tidur bersama Matthew seperti malam-malam sebelumnya. Namun yang membuatnya terperanjat mengingat semalam yang bersamanya adalah Leo, ia pun membuka matanya dan mendapati Leo tengah memandanginya. Segera Selena menarik tangannya dengan wajah merona.
“Maaf, aku tak sengaja,” ucap Selena pelan berusaha menguasai hatinya yang bergolak.
“No problem,” kata Leo, tangannya terulur menjalin rambut Selena yang menutupi pipi dan menyingkirkannya ke belakang telinga Selena, membuat gadis itu semakin merona karena sikapnya.
Kalang kabut Selena berusaha meredakan detak jantungnya yang bertambah kencang, ketika
merasakan jemari Leo menelusuri tulang pipinya. Tatapan mereka saling menyatu dan terkunci satu sama lain. Mengarungi isi hati mereka masing-masing. Perlahan Leo menggeser tubuhnya memberanikan diri lebih dekat dengan Selena. Suara tembakan yang beruntun saat Leo semakin dekat dengan Selena membuat mereka terkejut. Seolah dibangunkan dari mimpi, Selena kembali terbangun ke dunia nyatanya. Ia menoleh ke arah jendela diikuti Leo yang terbangun dari tempatnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Selena segera mengikuti Leo yang berjalan ke tepian jendela.
Leo menoleh ke arahnya dan mengedikkan kepalanya menyuruh Selena melihat apa yang terjadi.
“Hemm… pagi-pagi sudah bikin ulah,” gerutu Selena melihat Matthew sedang dikejar-kejar Tony dan Jimmy dari balik jendela kamarnya.
Selena kembali menoleh ke Leo mendapatinya sama kesalnya dengan dia. Keduanya berpandangan dan akhirnya tertawa geli melihat Matthew yang dilempar ke tengah telaga.
***
Matthew masih membiarkan tubuhnya terbenam dalam air telaga. Ia mencoba mengalihkan sesak di dadanya dengan merasakan air dingin di sekelilingnya. Ia bisa menyembuhkan penyakit apa saja di muka bumi ini tapi sepertinya sakit yang satu ini tak bisa ia obati sendiri. Membutuhkan bantuan tentunya dan ia berharap Selena yang mengobatinya. Dibenamkan tubuhnya kedalam telaga hingga tenggelam sepenuhnya. Dia benar-benar harus menjernihkan kepalanya secepatnya. Baru saat Matthew merasa butuh udara untuk mengisi paru-parunya, ia muncul lagi dipermukaan.
“Apa kau akan di sana terus, sampai mati membeku?” Tanya seseorang jauh di belakangnya.
Bahkan jika Matthew sedang berada dalam pusaran badai dasyat sekalipun, ia tetap bisa mengenali suara lembut itu. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali menyelam dan memilih menoleh ke arah pemilik suara itu, dengan senyuman di bibirnya yang kini terlihat membiru karena dingin. Matthew dapat melihat Selena di tepian telaga sambil berkacak pinggang dengan handuk yang tersampir di pundak dan senyum merekah di bibirnya.
“Bisakah kau bantu aku untuk naik,” pinta Matthew.
“Aku sedang tak berminat mandi air dingin,” tolak Selena.
“Oh ayolah, kakiku tersangkut,” rajuk Matthew dengan bibir mencembik.
“Kau tidak bisa menipuku kali ini, Matt,” kata Selena tertawa geli melihat Matthew yang langsung merengut.
Setelah gagal membujuk Selena masuk telaga, Matthew akhirnya berenang ke tepian dengan wajah cemberut. Setelah berhasil keluar telaga Matthew baru merasakan dinginnya air yang ditinggalkannya, hingga tubuhnya menggigil dan giginya bergemeretuk.
“Dingin sekali,” kata Matthew di sela-sela gemeretuk giginya.
“Aku tak menyalahkan Tony dan Jimmy soal itu,” tawa Selena berderai.
Bahkan saat tertawa seperti itu, Matthew bisa melihat mata sembab Selena. Ia memandang sekilas rumah tempat mereka berteduh semalam. Seharusnya dia menyadarinya sejak mereka datang kemarin.
“Apakah kau bisa memelukku? Dingin sekali,” bujuk Matthew saat Selena memakaikan handuk kering di sekeliling tubuhnya.
“Tidak Matt, aku tidak ingin bajuku basah,” kata Selena tersenyum geli, ia membantu Matthew mengeringkan rambutnya.
Matthew kembali cemberut, namun membiarkan Selena mengeringkan rambutnya. Dipandanginya gadis di depannya itu dengan seksama. Semalaman ia bersama Leo dan sekarang perhatiannya terhadap Matthew tidak berkurang sedikit pun.
“Apakah dia merasakan apa yang aku rasakan?” Tanya Matthew dalam hati merasakan perhatian Selena terhadapnya.
“Apa yang kau lihat?” Tanya Selena membuyarkan lamunannya.
“Aku merindukanmu” jawab Matthew spontan membuat Selena berhenti melakukan pekerjaannya.
“Sebaiknya kau cepat ganti pakaian, sebelum sakit,” kata Selena sedikit salah tingkah setelah
terdiam sesaat mendengar pengakuan Matthew.
Sekalipun Selena tidak menanggapi ucapannya, setidaknya Matthew tahu bagaimana perasaan Selena melalui matanya dan dia tersenyum bahagia. Luka yang semalam ia rasakan kembali sembuh berkat Selena.
“Tidak ada penyakit yang berani mendekatiku, Selena,” kata Matthew sambil tersenyum.
“Kau terlalu percaya diri,” seloroh Selena kemudian berbalik dan melangkah pergi.
Matthew tersenyum mendengarnya, segera ia mengikuti Selena. Diraihnya jemari Selena dan menggenggamnya. Meski sedikit terkejut, Selena membiarkan Matthew menggandengnya dan berjalan masuk kedalam rumah.
***
Sarapan pagi terasa sedikit berbeda. Atmosfer ruangan sedikit memanas karena Tony masih saja menyumpahi Matthew yang telah mengganggu tidur nyenyaknya. Matthew sama sekali
tidak menghiraukan ocehan Tony, hanya sesekali menanggapinya dengan ejekan. Matthew terlalu sibuk memperhatikan Selena yang membantu Sania menyiapkan sarapan. Ia juga yang mengambilkan minum dan makan untuknya. Matthew berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak terjadi sesuatu antara Selena dan Leo semalam, karena Selena terlihat biasa saja sama seperti kemarin-kemarin terhadap Leo. Hanya Leo yang sesekali mencuri pandang terhadap Selena.
“Dengar Matt, sekali lagi kau membuat ulah. Aku akan mematahkan lehermu,” sembur Tony menyepak kaki Matthew, hingga membuyarkan perhatian Matthew terhadap Selena.
Matthew hanya menyengir mendengar perkataan Tony. Tadi pagi dia memang tak berniat membuat onar hanya sedang meredakan kegelisahan hatinya.
“Setelah makan, aku ingin memperlihatkan sesuatu pada kalian,” kata Selena menyela pembicaraan teman-temannya.
“Apa?” Tanya Austin antusias.
“Lihat saja nanti,” jawab Selena dengan senyum penuh arti membuat yang lainnya penasaran.
Semuanya terlihat mempercepat menghabiskan makanan mereka, karena terlampau penasaran dengan apa yang ingin Selena perlihatkan.
Setelah semua selesai sarapan dan membereskan sisa kekacauannya, Selena mengajak teman-temannya ke ruang bawah telaga. Tempat di mana dia dan Ignis kunjungi kemarin, tetapi bukan ke ruang VIP melaainkan ke dalam gudang. Mereka bersama-sama turun dengan lift. Setelah pintu terbuka, Selena membimbing mereka ke ruang yang cukup besar sebagai ruang penyimpanan. Selena menghidupkan lampu di ruang tersebut hingga bisa memperlihatkan isi dalam ruangan itu.
Semua teman-temannya tercengang melihat deretan senjata terpampang di setiap dinding
ruangan, belum lagi peralatan lainnya yang berada di dalam rak-rak kaca dibagian bawah senjata. Beberapa senjata memang tak asing bagi mereka, tapi sebagian yang lainnya adalah senjata-senjata yang baru mereka temui sekarang.
“Kalian bisa membawa senjata yang kalian inginkan,” kata Selena mempersilahkan teman-temannya melihat-lihat senjata. “Sebagian senjata-senjata ini masih prototype, tapi tenang saja semuanya telah diuji kelayakannya.”
Sepertinya mereka benar-benar terkagum dengan senjata yang banyak tersedia diruang penyimpanan.
“Apa temanmu benar-benar memiliki ini semua?” Tanya Jimmy yang sibuk melihat-lihat beberapa pedang.
“Ya tentu saja,” jawab Selena.
“Apakah ini legal?” Tanya Tony.
“Semuanya legal, karena dia yang membuat ini semua dan sudah mendapatkan izin,” jawab
Selena tersenyum bangga.
Siapapun yang mendengar penjelasan Selena langsung membulatkan matanya tak percaya dengan yang didengarnya. Senjata-senjata modern dan klasik dengan desain yang sangat bagus diciptakan oleh seseorang yang dekat dengan Selena. Tony terlihat menimbang-nimbang beberapa gun yang menarik perhatiannya. Ignis dan Jimmy masih mengamati pedang dengan desain yang unik di gagangnya. Leo dan Matthew tampak memilih-milih beberapa gadged dan Sania sedang terpesona dengan busur.
Melihat Sania yang sedang memperhatikan barisan busur, Selena menghampirinya. Ia tahu betul Sania mahir dalam memanah, jadi dia ingin memperlihatkan sesuatu yang istimewa untuk Sania.
“Sania, aku punya yang cocok untukmu,” kata Selena mengajaknya ketempat agak di sudut. Sania mengekorinya dari belakang penasaran dengan apa yang ingin diberikan Selena.
Selena menekan tombol kecil di ujung rak. Sebuah kotak kecil keluar dari dinding. Sania dapat melihat benda di dalam kotak itu. Sebuat tongkat berukuran tiga puluh sentimeter dengan ukiran klasik yang membuatnya terkagum sekaligus bingung. Selena mengambil tongkat itu dari dalam kotak beserta sepasang sarung tangan yang berada satu paket dengan tongkat itu.
“Apa itu?” Tanya Sania bingung.
“Hawkeye bow dengan desain baru,” ucap Selena.
Selena menekan tombol yang berada di tengah tongkat. Sania mundur satu langkah, takjub
dengan apa yang dilihatnya. Tongkat itu berubah menjadi sebuah busur klasik.
“Waow…itu bagus sekali,” ucap Sania dengan wajah berbinar. “Di mana anak panahnya?” Tanya Sania tak sabar ingin mencobanya.
“Hawkeye bow ini tidak membutuhkan anak panah,” jawab Selena membuat Sania menelengkan kepalanya bingung.
Selena mengambil sebuah silinder kecil dengan warna hijau neon di dalamnya dan memasukkannya kedalam busur. Tak lupa ia memakai sepasang sarung tangan tadi ke tangannya.
“Kau cukup mengisi ulang dengan silinder hijau itu jika sudah habis,” terang Selena, “dan begini cara menggunakannya,” kata Selena sambil merentangkan tali busur itu, yang secara tiba-tiba terbentuk anak panah berwarna hijau terang di antara jari tangannya. Dengan sekali sentakkan, anak panah itu meluncur bebas.
“Hai, hati-hati,” teriak Jimmy yang hampir terkena anak panah.
“Maaf aku tak sengaja,” balas Selena sambil menahan tawa begitu juga Sania yang melihatnya.
“Sepertinya kita harus berlatih di luar saja nanti,” kata Selena pada Sania.
“Aku setuju denganmu,” ucap Sania sambil terkikik.
Selena memberikan pengarahan singkat pada Sania. Ia juga mengharuskan Sania memakai sarung tangan itu untuk melindungi jarinya dari anak panah yang tercipta oleh busur. Ia juga memberi tahu Sania panah jenis apa saja yang bisa terbentuk dari hawkeye bow itu. Sania sangat berterima kasih pada Selena, meski hawkeye bow itu masih berupa prototype, tetapi senjata itu sangat luar biasa. Sania mengajak Selena untuk keluar mencoba hawkeye bownya, ia terlalu bersemangat ingin merasakan sendiri senjata itu, hingga menunda memilih gadged yang ditawarkan Selena padanya.
Tony yang telah selesai memilih gun yang baru, menghampiri Leo dan Matthew yang sedang
memilih-milih gadged. Banyak gadged yang bisa dipilih di dalam rak, beberapa telah ia lihat saat Selena memakainya.
“Apa ini sarung tangan yang sama seperti yang kau dan Selena pakai?” Tanya Tony meraih sepasang maneuver 3d.
“Ya, hati-hatilah dengan benda itu,” kata Leo.
Tony yang terlalu semangat untuk mencobanya tak mengindahkan peringatan Leo, hingga
tangannya merasakan sengatan kecil saat mencoba memakainya.
“Shit,” Tony menyumpah karena terkejut.
Leo dan Matthew yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.
“Aku sudah peringatkan tadi,” kata Leo disela tawanya.
Tony hanya bisa meringis meredakan keterkejutannya.
--- TBC ---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ninin
Lanjut Thor
2021-07-28
0
Muhammad Andi Fajar
Bagus Gini Cerita nya Kok Pada Sepi Like Dan koment
2021-04-14
1