Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN

Hujan deras tercurah dari langit hampir sepanjang malam. Beruntung bagi kelompok Ignis yang mendapat bangunan yang layak untuk berteduh dan berlindung, dari ganasnya para Ragen yang berkeliaran di luar. Sepanjang malam tak henti-hentinya terdengar geraman para Ragen dan auman anjing liar, yang notabene telah terjangkit virus Ragen.

Pagi menjelang dengan lamban, hujan telah berhenti meninggalkan sisa-sisa genangan air dan tetesan airnya. Ignis yang bangun lebih dulu segera beranjak dari tempatnya, segera dia melihat keadaan di luar dari celah jendela yang sengaja telah diblokir dengan kayu oleh pemilik gedung sebelumnya. Suasana begitu lengang di luar. Tak ada lagi tanda-tanda Ragen berkeliaran.

Ignis berkeliling untuk memeriksa keadaan dan persediaan yang mereka miliki saat ini, ia bisa melihat Selena telah bangun di ruangan lain. Entah mengapa gadis itu selalu memilih menyendiri hanya sesekali terlihat Matthew bersamanya, itu pun karena Matthew terlalu keras kepala. Ditambah pertengkaran Selena dengan Leo menambah gadis itu semakin dingin terhadap orang lain. Ignis memang bukan orang yang berpengalaman menghadapi perempuan jadi ia tidak memahami bagaimana pola pikiran mereka, berbeda dengan Leo yang bisa dibilang playboy, tetapi sedikit berbeda saat mengahadapi Selena yang dingin. Pancaran pesona pria itu langsung

tenggelam dalam sorot mata Selena.

“Bagaimana keadaan tanganmu?” sapa Ignis dari ambang pintu ruangan yang digunakan Selena.

“Lebih baik, cukup untuk tidak memberi alasan doktermu itu menyiksaku lagi,” jawab Selena memperlihatkan

tangannya.

Ignis tersenyum mendengar penjelasan Selena, “itu lebih baik dari pada kehilangan tangan,” sahutnya.

“Ya, dan membuatku bisa terus bekerja,” kata Selena dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

Selena keluar dari ruangan itu dengan Ignis mengekor di belakangnya, ia melihat sekilas Leo yang masih

terlelap tidur sendirian sedangkan yang lain telah membuka matanya dan mulai mempersiapkan diri. Dia pun berdecak kesal.

“Leo memang tukang tidur,” ucap Ignis yang mengetahui Selena tengah memandangi temannya itu.

“Kita tinggalkan di sini saja, jika dia tidak segera bangun,” komentar Selena.

Ignis terkekeh mendengar ucapan Selena dan menghampiri Leo untuk membangunkan pria tersebut. Ignis mendekati sahabatnya itu untuk membangunkannya, dia berharap mood Leo sudah membaik setelah semalaman terlihat sangat buruk di matanya.

“Hai Prince, wake up,” kata Ignis sambil menggoyangkan bahu Leo.

“Lima menit lagi, mom,” igau Leo.

Ignis hanya bisa tersenyum melihat tingkah Leo.

“Leo bangun atau ku lempar kau keluar kujadikan sarapan untuk para Ragen itu,” hardik Ignis.

“Apa?!” kata Leo terkejut langsung terbangun dari tidurnya. “Sial…” gerutu Leo setelah tahu siapa yang mengusiknya dari tidur nyenyaknya.

“Bangunlah, kita sarapan dan segera melanjutkan perjalanan,” kata Ignis tersenyum pada Leo.

Leo yang masih malas bergerak akhirnya mengikuti Ignis berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Mereka pun berkumpul bersama untuk sarapan dengan menu yang sangat sederhana. Makanan kaleng. Saat sarapan berlangsung, Tony dan Austin lah yang banyak mengisi percakapan. Kedua pria itu suka bercanda dan banyak bicara, namun membuat suasana menjadi hangat mengingat ada dua pasang mata yang masih memancarkan

perang dingin.

Selesai sarapan mereka langsung berkemas dan melanjutkan perjalanan, tak banyak yang dibicarakan selain Ignis

yang berencana untuk mencari persediaan makanan mereka yang menipis. Dan seperti yang dikatakan Ignis pada Selena, Leo telah kembali terlelap didalam mobil tidak mempedulikan sekitarnya. Selena yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, dia memang tidak pernah bersimpati pada orang-orang malas yang menggantungkan hidupnya pada orang lain dan itulah yang dilihatnya dalam diri Leo. Sejak pria itu bangun hingga sekarang Ignis yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya.

Saat mereka melewati sebuah mall yang cukup besar, Ignis memutuskan untuk mampir mencari persediaan makanan. Mereka semua terlihat santai kecuali Selena yang bersikap waspada di balik wajah tenangnya. Ignis meminta teman-temannya untuk masuk membantu mencari makanan, dan Jimmy harus bersusah payah membangunkan Leo yang tidur layaknya kerbau kekenyangan. Dengan malas-malasan Leo pun keluar dari mobil dan menyiapkan senjatanya.

“Tetaplah di sini,” cegah Selena saat Sania ingin keluar.

“Pria-pria itu butuh bantuan Selena,” tolak Sania.

“Tenanglah mereka berenam dan aku rasa Ignis bisa mengatasi masalah perbekalan kita,” kata Selena tetap

bersikeras mencegah Sania keluar.

“Aku rasa itu ide yang bagus, kalian berdua menjaga mobil,” sela Tony yang mendengar perdebatan kedua gadis

yang masih di dalam mobil itu.

“See, kakakmu menyetujuinya,” tambah Selena.

Akhirnya dengan wajah cemberut Sania mengalah dan tetap berada di dalam mobil.

“Please jaga adikku, Selena” pinta Tony.

“Aku akan menjaganya jika kamu membawakan keripik kentang,” sahut Selena disambut kekehan Tony.

“Kau bisa bercanda juga ternyata,” ucap Tony kemudian melangkah pergi menyusul teman-temannya yang telah memasuki mall.

Selena hanya mengedikkan bahu mendengar perkataan Tony, ia kembali melihat suasana sekitar mall itu.

Kewaspadaannya tetap terjaga meski bersikap santai dan terlihat acuh. Sania yang duduk di sampingnya masih terlihat masam karena Selena mencegahnya keluar ditambah Tony yang menyetujuinya.

“Tenanglah, aku punya alasan untuk itu,” gumam Selena seakan tahu pemikiran Sania.

Sania yang mendengarnya menoleh sebentar kemudian menghela nafasnya dalam-dalam, memilih diam tak meneruskan perdebatan mereka tadi. Awalnya ia berpikir bertemu Selena akan membuatnya lebih baik dengan memiliki teman sesama perempuan, tapi sekarang ia merasa tidak ada bedanya karena Selena sama dinginnya dengan Leo atau Ignis ditambah dengan pemikiran gadis itu yang sulit ditebak.

Setelah sekian lama waktu berlalu, Ignis dan yang lainnya tak juga menampakkan diri membuat Sania gelisah. Ia baru akan beranjak saat Selena kembali mencegahnya. Sania tidak butuh waktu lama mengetahui alasan Selena melarangnya karena sesaat kemudian teman-temannya terlihat dan tak hanya keenam pria itu yang muncul, tetapi masih ada pria-pria lainnya yang berjalan di belakang mereka. Seketika Sania membekap mulutnya sendiri untuk mencegah suara teriakannya keluar dari mulutnya, Ignis dan yang lain tampak babak belur bahkan Jimmy yang terbesar di antara mereka tak sadarkan diri dan diseret dua orang pria disamping kanan kirinya. Teman-teman mereka telah ditodong para penghuni mall itu. Salah seorang preman itu berjalan mendekati mobil dan memeriksanya. Ada seringai menghiasi bibirnya melihat dua orang gadis tengah duduk di dalam mobil itu.

“Keluar, cepat!!!” bentaknya sambil menodongkan shotgun di tangannya.

Selena keluar dengan tenang diikuti Sania yang tampak pucat pasi.

“Kita akan berpesta malam ini kawan,” kata salah seorang yang tengah menyandera Ignis disambut gelak tawa

lainnya.

“John, periksa mereka,” perintah pria yang menodongkan shotgun.

Pria yang dipanggil John itu pun mendekat dan mulai menggeledah Selena dan Sania, tak hanya sekedar menggeledah tangan pria itu juga sengaja *******-***** bagian tubuh kedua gadis itu. Sania yang mendapat perlakuan tidak senonoh itu mulai menangis. Selena menatap pria yang menodongnya dengan santai.

“Nice gun,” pujinya.

“Kamu menyukainya?” Tanya pria itu menempelkan shotgunnya di dada Selena, “aku memiliki yang lebih baik lagi dan kau pasti akan ketagihan nantinya,” lanjut pria itu mendorong Selena hingga membentur mobil.

“Oh ya, apa kau bisa menunjukkannya?” tantang Selena.

Ucapan Selena seperti undangan gratis pria itu, ia pun langsung menjepit tubuh Selena dengan tangan mulai

menggerayangi tubuh gadis itu. Tatapan pria itu telah dipenuhi nafsu yang membara.

“Jauhkan tanganmu darinya brengsek!!!” maki Matthew yang tidak tahan melihat perlakuan yang diterima Selena.

Namun seseorang di belakangnya langsung melayangkan pukulan hingga Matthew jatuh tersungkur dan mengerang.

Selena berusaha menahan kesabarannya mendapat perlakuan tidak senonoh itu dan juga melihat paketnya

yang tengah disiksa. “Aku bisa menghiburmu dan juga teman-temanmu,” kata Selena.

“Senang mendengarnya,” seringai pria itu.

“Bagaimana jika kita mulai saja pestanya. Aku akan melayani kalian semua sekarang dan gadis itu bisa bergabung

nanti malam,” lanjut Selena.

“Ah tentu saja sayang, dengan dua gadis di sini kami bisa memulai pestanya kapan saja,” ujar pria itu

kegirangan. Sania yang mendengarnya menangis dan meronta dari dekapan John yang telah selesai menggeledahnya.

“Damn it, don’t do it!!!” erang Matthew yang disusul pukulan kembali ketubuhnya.

“Aku sanggup melayani kalian sendiri dan kau tahu, gadis itu masih amatiran. Biarkan dia nanti belajar

terlebih dahulu dari video yang kalian rekam saat berpesta denganku,” rayu Selena mengabaikan teriakan protes Matthew.

“Kau sempurna, sayangku,” ujar pria itu terbahak-bahak, “apa kau tak takut kekasihmu marah?” lanjutnya sambil

menunjuk Matthew yang tergeletak di tanah sambil mengerang akibat beberapa pukulan.

“Abaikan saja dia, aku sudah bosan dengannya,” kata Selena mengibaskan tangannya.

Pria yang menodong Selena tampak tergelak karena gembiranya mendengar perkataan gadis itu, ia pun menyuruh anak buahnya untuk menyekap teman-teman Selena dalam sebuah ruangan di mall itu. Pria itu juga terus memeluk Selena sesekali tangannya menjelajahi tubuh pemilik rambut pink itu, membuat Matthew tak berhenti memaki dan menyumpah melihat perlakuan bejat orang itu. Selena hanya membiarkan pria itu terus menjamahnya sepanjang perjalanan menuju ruang di mana para preman itu berkumpul, ia menganggap itu semua hanya undangan kematian yang diterima dengan senang hati oleh preman-preman itu. Para preman itu tidak menyadari kematian semakin

mendekati mereka, hawa nafsu telah menutupi mata mereka terhadap maut yang segera menjemput.

Dua puluh pria kekar kini berkumpul menjadi satu menyisakan dua orang untuk menjaga sandera mereka, Selena berdiri di tengah-tengah para pria yang kini menatapnya seperti singa kelaparan. Senyum Selena mengembang melihatnya, sudah lama ia tidak bertarung dengan sesama manusia dan para pria ini memenuhi syarat kriterianya untuk dijadikan daging cincang. Pria yang sejak tadi memeluknya kini melepaskan tangannya dari tubuh Selena, berjalan memutar untuk mengagumi setiap jengkal keindahan tubuh itu.

“Hanya ini?” Tanya Selena meremehkan.

“Percayalah kami semua akan memuaskanmu sayang,” kata pria didepannya sambil tergelak.

“Mulailah tanggalkan pakaianmu dan menarilah dihadapan kami,” perintah pria lainnya.

“Sure,” ucap Selena.

Selena pun mulai menari, bukan tarian erotis yang diinginkan para pria itu tetapi tarian kematian. Dengan cepat ia telah memiting salah satu pria itu dan membantingnya dengan keras, melihat itu pria-pria lainnya terperangah dan mulai menyerang Selena. Satu persatu preman-preman itu berjatuhan, sumpah serapah dan erangan memenuhi udara ruangan itu. Bagi Selena menghabisi preman jalanan perkara mudah bahkan jika harus menggunakan tangan kosong.

“Apa kamu menginginkan ini?!” Tanya Selena saat seorang pria terjepit di antara kedua lututnya, pria itu hanya bisa

mengerang sebelum bunyi patahan tulang lehernya patah.

Beberapa pria berhasil meraih handgun yang mereka sembunyikan dan mulai menembaki Selena yang dengan cepat ditangkis Selena dengan pedang yang di keluarkannya dari dalam jam tangannya yang juga berfungsi untuk menyimpan pedang. Peluru-peluru itu pun memantul kesegala arah bahkan tak sedikit yang mengenai para penembak itu sendiri dan juga teman-temannya yang lain. Setelah beberapa lama berjibaku dengan preman-preman itu, Selena kini hanya tinggal melayani seorang pria yang tengah ketakutan. Pria yang tak henti menggerayanginya tadi.

“Menjauhlah dariku!!!” bentak pria itu menodongkan shotgunnya.

“Bukankah kau ingin berpesta denganku?” ejek Selena terus mendekati pria itu dengan pedang yang terseret

menyentuh lantai menimbulkan bunyi ngilu siapa saja yang mendengarnya.

“Kau adalah iblis, menjauhlah!!!” teriak pria itu sambil menembakkan shotgunnya yang segera ditangkis Selena hingga peluru itu memantul mengenai dada pria itu sendiri.

Pria itu terjatuh dalam kubangan darah teman-temannya sambil mengerang ia berusaha mundur menjauhi Selena yang semakin mendekatinya. Pada akhirnya ia terpojok setelah merasakan punggungnya membentur tembok. Dengan seringai kejam Selena menghampiri pria itu dan berjongkok di hadapannya.

“Panggil kedua temanmu ke sini,” perintah Selena.

“Kau pikir aku bodoh, aku tidak akan melakukannya,” kata pria itu menahan sakit didadanya.

Bukan Selena jika ia tidak bisa bersikap kejam pada mangsanya, ia mulai menusukkan pedangnya ke dada pria itu

tepat mengarah jantungnya. Pria itu pun mengerang semakin keras.

“Lakukan maka aku akan mengampunimu,” kata Selena mengintimidasi.

Dengan wajah pucat pasi, pria itu meraih ponsel dari dalam celananya untuk memanggil kedua temannya yang bertugas menjaga sandera di lantai atas.

*****

Matthew tidak berhenti menyumpah melihat Selena digiring para pria bejat itu untuk memenuhi nafsu mereka, ia pun sempat menyerang kedua pria yang berjaga di sana meski dalam keadaan tangan terikat yang menjadikannya bulan-bulanan kedua pria itu. Kini ia hanya bisa mengerang di lantai yang dingin setelah tubuhnya mendapat tendangan telak tepat di ulu hatinya. Tubuhnya terasa remuk, namun jauh di dalam hatinya jauh lebih sakit membayangkan apa yang akan dialami Selena di dalam sana. Sania yang berada di dekat Tony tak henti-hentinya menangis membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti, kata-kata Tony dan Ignis yang berusaha menghiburnya tidak cukup membuat gadis itu tenang. Jimmy yang baru saja sadar hanya bisa terdiam di samping Austin yang sama membekunya seperti Jimmy. Sedangkan Leo, entah apa yang dipikirkan pria itu. Ia hanya menunduk dengan tatapan kosong. Mereka semua telah lelah mencoba melepas tali pengikat tangan dan kaki mereka yang begitu kencang.

Kedua pria itu hanya bisa tersenyum melihat hasil kerja mereka, sesekali asap rokok mengepul di tengah pembicaraan. Setelah menunggu sedikit lama, salah satu ponsel pria itu berdering. Senyum sumringah pun mengembang dibibir kedua pria itu dan salah satunya mengedikkan bahunya menyuruh pria yang tengah berbicara dengan bosnya mendekati Matthew yang terkapar dilantai.

“Dengarlah, kekasihmu tengah menikmati pesta kami,” kata pria itu menjambak rambut Matthew.

“Sayang masing kurang dalam, oh suruh kedua temanmu itu ke sini. Aku ingin bersenang-senang dengan mereka sekarang juga.” Suara Selena terdengar nyaring dari ponsel pria itu yang sengaja memasang volume keras.

Matthew yang mendengarnya kembali menjadi kalap berusaha bangkit dan menyerang pria itu, tetapi pria itu telah

mengantisipasinya dan melayangkan bogem mentahnya pada wajah Matthew. Kedua pria itu pun tertawa terbahak-bahak dan pergi meninggalkan sanderanya di dalam ruangan yang terkunci dari luar. Sepanjang perjalanan mereka menuju ruangan pesta dilakukan tak henti-hentinya mereka mengoceh sesekali terdengar gelak tawa. Namun tawa mereka seketika lenyap saat membuka pintu ruangan itu, terlihat genangan darah memenuhi ruangan dengan mayat-mayat temannya yang bergelimpangan di mana-mana. Tak jauh di depan mereka, Selena telah menanti

dengan seringai kejamnya dan pedang siap menghunus jantung kedua pria itu.

“Oh ****,” ucap salah seorang dari pria itu melihat pedang itu mendekat dan menghunus jantungnya.

Temannya yang melihat itu berusaha melarikan diri, namun baru tiga langkah ia bisa melihat ujung pedang itu menembus dadanya dan saat pedang itu menghilang tubuhnya ambruk bersama dengan hilangnya nyawa. Selena kembali mendekati pria yang merupakan bos preman itu, ia bisa melihat nafas pria itu tersengal-sengal mendekati ajal.

“Siapa kau sebenarnya?” Tanya Pria itu ketakutan.

“Tenanglah, aku sedang berbaik hati untuk tidak membuatmu mati penasaran,” jawab Selena itu mengeluarkan kalung dari bajunya.

Seketika itu juga mata pria itu terbelalak hilang sudah harapannya untuk bisa selamat, ia hanya bisa pasrah saat dinginnya pedang yang telah berlumuran darah itu menembus jantungnya.

Selena memandangi sekelilingnya dengan senyum penuh kemenangan, ia tidak merasa terganggu dengan genangan darah atau pun mayat-mayat segar itu. Didikan Assassins memang kejam dan membuatnya menjadi manusia terkejam untuk menjadi mesin pembunuh paling efektif. Ia meninggalkan ruangan itu tak lupa ia membawakan senjata milik teman-temannya. Dua handgun, sepasang dagger dan pedang, Selena menyampirkan pedang itu dipunggungnya setelah mengagumi pedang itu dan mencoba mengayunkannya. Pedang yang sempurna untuk bertarung.

*****

Sania takut bukan kepalang saat mendengar kunci pintu itu dibuka, ia tidak ingin diseret para preman itu untuk

dijadikan pemuas nafsu mereka. Tangisnya semakin menjadi saat pintu itu terbuka lebar, Sania tidak berani melihat siapa yang datang dan memilih berlindung di balik punggung Tony.

Selena menyapu isi ruangan di mana teman-temannya disekap, pandangannya jatuh pada Matthew yang tergeletak tidak berdaya, ia pun mendengus kesal melihatnya. Dengan tenang ia menghampiri Ignis yang tengah menenangkan Sania bersama Tony. Dibantunya Ignis melepas ikatan tali di tangannya menggunakan dagger yang ia ketahui milik pria itu. Selena juga mengembalikan handgun milik Tony setelah pria itu terlepas dari ikatannya dan ia menatap Leo yang juga tengah memandanginya. Pedang itu milik Leo, tetapi Selena memilih meletakkan di samping Ignis alih-alih mengembalikan secara langsung pada pemiliknya. Ia beralih pada Matthew yang berusaha bangun setelah melihatnya. Matthew tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya sejak melihat Selena masuk keruangan itu.

“Apa kamu mencoba membunuh dirimu sendiri?” Tanya Selena ketus sambil membuka ikatan tali di tangan Matthew.

“Bukan aku, tapi kamu,” kata Matthew gusar.

Selena bisa melihat darah segar mengalir disudut bibirnya dan beberapa luka dibagian wajahnya. “Jaga nyawamu

baik-baik dokter. Kami membutuhkanmu,” ujar Selena. “I need you,” lanjutnya dengan bergumam yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua saat membantu Matthew berdiri. Matthew memandangi Selena untuk memastikan ucapan itu benar-benar keluar dari bibirnya.

“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, kita cari makanan ditempat lain,” kata Selena sambil menoleh pada teman-temannya yang telah terbebas dari ikatan.

Teman-temannya hanya bisa mengangguk, masih terlalu shock dengan yang baru saja mereka alami. Selena

memaklumi hal itu dan memilih kembali mengalihkan perhatiannya pada Matthew, memapah pria itu untuk membantunya keluar karena dari semua temannya hanya Matthew yang terlihat parah berkat usahanya memberontak dan mencoba melawan para preman itu tanpa henti.

*****

Hari itu memang bukan hari yang bagus untuk mereka, setelah berurusan dengan para preman siang tadi penderitaan mereka bertambah dengan mobil yang mereka gunakan tiba-tiba mogok memaksa mereka mencari tempat berlindung secepat mungkin. Malamnya mereka berkumpul, Matthew menjadi orang yang paling sibuk mengobati luka-luka temannya, meski ia sendirilah yang paling parah. Selena memandangi Matthew yang tengah sibuk mengobati luka Tony dan menghela nafas panjang, jika pria itu sampai celaka ia akan mendapat masalah besar. Disisi lain diam-diam Leo memperhatikan Selena yang tengah mengawasi Matthew sejak tadi. Gadis itu terang-terangan menolaknya dengan tidak memberikan pedang miliknya secara langsung dan itu membuatnya kecewa.

“Apa kalian bisa lebih hati-hati setelah ini?” Tanya Selena memecah kebisuan. “kalian terlalu ceroboh dengan

masuk mall tanpa persiapan dan kewaspadaan,” lanjutnya.

“Kita tidak tahu jika di dalam mall telah dihuni para preman itu,” kata Ignis.

“Well, mayat-mayat Ragen yang tersusun rapi di halaman mall sebenarnya cukup membuat kalian untuk waspada, dan dengan cara mereka melumpuhkan Jimmy terlebih dahulu sudah pasti mereka telah memata-matai sekitar mall. Mungkin saja cctv mall itu masih berfungsi.” Ujar Selena.

“Kau sudah tahu dan tidak memperingatkan kami?” Tanya Leo kesal.

“Itu cukup memberikan kalian pelajaran,” jawab Selena acuh.

“Pelajaran katamu?!” bentak Leo tidak terima.

“Ya tentu saja, jika kamu belum menyadari, dunia telah berubah. Hanya ada dua pilihan membunuh atau dibunuh

dalam dunia baru kita yang keras ini. Kalau kamu menginginkan pelajaran yang lembut kembalilah ke sekolah,” sahut Selena tak kalah sengit.

Belum sempat Leo berkomentar, Ignis telah menyela pertengkaran mereka. “Hay guys cukup. Benar kata Selena. Kita terlalu ceroboh dan mengandalkan keberuntungan, kita harus merubah itu semua sekarang.”

Leo menutup rapat mulutnya mendengar perkataan Ignis meski ia sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan

temannya itu, tetapi hatinya yang masih kecewa memilih melukai Selena dengan kata-katanya yang pedas. Ia masih menatap tajam Selena yang berada di depannya.

“Apa yang terjadi dengan preman-preman itu Selena?” Tanya Jimmy mengalihkan pandangan Selena yang

membalas tatapan tajam Leo.

“Aku membunuhnya,” jawab Selena singkat.

“Kau bercanda kan?” sahut Tony tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?” Tanya Selena yang langsung meninggalkan tempat itu, meninggalkan teman-temannya yang masih terperangah tak percaya.

“Dia bercanda, iya kan?” ujar Tony pada teman-temannya yang disambut gelengan kepala dari beberapa temannya.

Sania mengucapkan terima kasih telah menyelamatkannya pada Selena saat gadis itu melewatinya sebelum

meninggalkan tempat itu untuk menyendiri ditempat lain.

--- TBC ---

Episodes
1 Episode 1. Chaos
2 Episode 2. New Friend
3 Episode 3. Another Time Another Place
4 Episode 4. When they meet
5 Episode 5. Gedung Solbeck
6 Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7 Episode 7. STUCK WITH YOU
8 Episode 8. Time To Go
9 Episode 9. Tragedy
10 Episode 10. SOUND OF DEAD
11 Episode 11. CRISIS CORE
12 Episode 12. WELCOME BACK
13 Episode 13. We Start the Journey Again
14 Episode 14. Lost
15 Episode 15. Coastal
16 Episode 16. COME BACK HOME
17 Episode 17. Soul Like Me
18 Episode 18. The Deal
19 Episode 19. The Truth
20 Episode 20. Jealous
21 Episode 21. I'm Sorry
22 Episode 22. You and I
23 Episode 23. Solar City
24 Episode 24. Is Not Good Bye
25 Episode 25. Fight
26 Episode 26. Assassins 1st Class
27 Episode 27. A STORY
28 Episode 28. I HATE SHRIMP
29 Episode 29. Night Club
30 Episode 30. Done All Wrong
31 Episode 31. The Reason
32 Episode 32. Golden Card
33 Episode 33. Spy Time
34 Episode 34. Vision
35 Episode 35. Evacuation
36 Episode 36. Escape
37 Episode 37. Monster Attack
38 Episode 38. The Darknest Side of Me
39 Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40 Episode 40. Terrible trip
41 Episode 41. Welcome To Moonlight
42 Episode 42. Pray
43 Episode 43. Why are They Here?
44 Episode 44. Impendence
45 Episode 45. Decision
46 Episode 46. JUNGLE
47 Episode 47. FORTRESS
48 Episode 48. DREAM
49 Episode 49. CRUSH
50 Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51 Episode 51. DEAD CITY
52 Episode 52. MEMORIES
53 Episode 53. I Hate You
54 Episode 54. Impatient Groom
55 Episode 55.Master Control Station (MCS)
56 Episode 56. Mask Man
57 Episode 57. Be A Guardian
58 Episode 58. Cloud
59 Episode 59. Leo’s Anger
60 Episode 60. Forgotten City
61 Episode 61. Friend?
62 Episode 62. Solar City Memories
63 Episode 63. Behind The Mask
64 Episode 64. Betrayer
65 Episode 65. The Stranger
66 Episode 66. Disappear
67 Episode 67. There’s No Cure
68 Episode 68. I’ll be fine
69 Episode 69. Find Hope
70 Episode 70. Make a Deal
71 Episode 71. The War Begins
72 Episode 72. This is the end
73 Episode 73. Good bye
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Episode 1. Chaos
2
Episode 2. New Friend
3
Episode 3. Another Time Another Place
4
Episode 4. When they meet
5
Episode 5. Gedung Solbeck
6
Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7
Episode 7. STUCK WITH YOU
8
Episode 8. Time To Go
9
Episode 9. Tragedy
10
Episode 10. SOUND OF DEAD
11
Episode 11. CRISIS CORE
12
Episode 12. WELCOME BACK
13
Episode 13. We Start the Journey Again
14
Episode 14. Lost
15
Episode 15. Coastal
16
Episode 16. COME BACK HOME
17
Episode 17. Soul Like Me
18
Episode 18. The Deal
19
Episode 19. The Truth
20
Episode 20. Jealous
21
Episode 21. I'm Sorry
22
Episode 22. You and I
23
Episode 23. Solar City
24
Episode 24. Is Not Good Bye
25
Episode 25. Fight
26
Episode 26. Assassins 1st Class
27
Episode 27. A STORY
28
Episode 28. I HATE SHRIMP
29
Episode 29. Night Club
30
Episode 30. Done All Wrong
31
Episode 31. The Reason
32
Episode 32. Golden Card
33
Episode 33. Spy Time
34
Episode 34. Vision
35
Episode 35. Evacuation
36
Episode 36. Escape
37
Episode 37. Monster Attack
38
Episode 38. The Darknest Side of Me
39
Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40
Episode 40. Terrible trip
41
Episode 41. Welcome To Moonlight
42
Episode 42. Pray
43
Episode 43. Why are They Here?
44
Episode 44. Impendence
45
Episode 45. Decision
46
Episode 46. JUNGLE
47
Episode 47. FORTRESS
48
Episode 48. DREAM
49
Episode 49. CRUSH
50
Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51
Episode 51. DEAD CITY
52
Episode 52. MEMORIES
53
Episode 53. I Hate You
54
Episode 54. Impatient Groom
55
Episode 55.Master Control Station (MCS)
56
Episode 56. Mask Man
57
Episode 57. Be A Guardian
58
Episode 58. Cloud
59
Episode 59. Leo’s Anger
60
Episode 60. Forgotten City
61
Episode 61. Friend?
62
Episode 62. Solar City Memories
63
Episode 63. Behind The Mask
64
Episode 64. Betrayer
65
Episode 65. The Stranger
66
Episode 66. Disappear
67
Episode 67. There’s No Cure
68
Episode 68. I’ll be fine
69
Episode 69. Find Hope
70
Episode 70. Make a Deal
71
Episode 71. The War Begins
72
Episode 72. This is the end
73
Episode 73. Good bye

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!