Ignis mengerang keras saat terbangun dari tidurnya. Semalam ia bertekad untuk memata-matai Selena dengan tablet yang berkat bakat Tony bisa menghacker CCTV dalam rumah itu. Namun kini waktu telah lewat tengah malam. Ignis menghidupkan kembali tablet Tony setelah melakukan pemeriksaan setiap ruangan dan tidak menemui Selena di mana pun, ia beranjak mendekati jendela. Dari cahaya keremangan parameter ia bisa melihat Selena dan Matthew pergi dengan mobil sport. Ignis sempat merasa cemas melihat kepergian mereka, namun di tahannya. Ia tidak ingin bertindak gegabah dan memutuskan untuk menunggunya untuk beberapa saat.
Setelah hampir satu jam ke dua temannya tidak kunjung muncul, Ignis sudah bersiap untuk keluar. Tepat saat ia mengambil tablet yang sempat di letakkannya di atas meja, mobil sport yang digunakan Selena dan Matthew kembali memasuki pelataran. Lega akhirnya mereka kembali, Ignis kembali menengok mereka melalui jendela kamar. Ia melihat Selena tampak kesal dan pergi meninggalkan Matthew namun tak lama kemudia dia kembali dan menantang Matthew bertarung dengan pedang. Pemandangan diluar masih sedikit gelap tapi dia bisa menangkap bayangan ke dua orang itu sedang bertarung pedang di halaman rumah.
Ignis melihat tontonan gratis itu dengan tidak semangat. Dengan enggan ia memperhatikan Selena dan Matthew dari jendela dan sesekali melirik tablet yang masih digenggamnya. Setelah hampir satu jam melihat pertarungan itu, Ignis sedikit takjub mengetahui Matthew memenangkan pertarungan itu. Melihat mereka sedang berbicara, Ignis segera memperhatikan tabletnya dan mengeraskan volumenya. Sialnya percakapan mereka berdua terlalu pelan hingga sulit mencerna apa yang sedang mereka bicarakan.
“Sial, dia benar-benar agresif,” umpat Ignis melihat Matthew yang tertunduk di atas tubuh Selena.
Ia melirik pada Leo yang masih tertidur pulas sambil memikirkan sesuatu. Kembali pandangannya dialihkan keluar memandangi Selena dan Matthew yang tampaknya telah kembali berdamai.
***
Cahaya matahari telah membanjiri kamar saat Selena merasakan bahunya diguncang-guncang. Dengan enggan ia menggerakkan tubuhnya sedikit dan susah payah membuka matanya. Dia ingat semalaman tidak tidur dan tadi pagi setelah bertarung dengan Matthew, ia memutuskan untuk mandi. Karena merasa lelah Selena merebahkan tubuhnya di kasur hingga ia tertidur lelap. Selena mengerang pelan merasakan ototnya protes untuk bergerak.
Leo yang membangunkan Selena, tersenyum melihat gadis itu enggan bangun. Ia harus minta maaf nanti karena telah memaksanya bangun. Hari ini mereka telah memutuskan melanjutkan perjalanan lagi. Selagi menunggu Selena membuka mata, Leo mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia melihat ransel Selena tampak membesar yang sepertinya telah diisi perbekalan. Ditolehnya Selena lagi, kini gadis itu telah duduk dengan wajah tertunduk karena kantuknya belum hilang sepenuhnya.
“Selamat pagi, Selena,” sapa Leo yang duduk di samping Selena.
“Pagi,” balas Selena. Ditolehnya Leo yang tampak tersenyum geli.
“Tumben kau tidur hingga jam segini?” Tanya Leo.
“Semalam aku tidak sempat tidur, tapi sepertinya aku justru ketiduran setelah mandi tadi pagi,” jawab Selena merapikan rambutnya.
Leo tampak terkejut mendengar pengakuan Selena. Semalam pasti dia tetap diruang kerjanya setelah Tony meninggalkannya.
“Apa aku perlu bilang pada Ignis untuk mengundurkan perjalanan kita?” tawar Leo.
“Tidak perlu, aku sudah tidak sabar melanjutkan perjalanan lagi,” sergah Selena.
Selena bangkit dari duduknya, merenggangkan tubuhnya sejenak.
“Aku mencium bau enak sekali, ayo kita sarapan,” ajak Selena menggandeng tangan Leo dan menyeretnya untuk turun ke dapur. Leo membiarkan tangannya digandeng Selena dan mengikutinya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sesampainya di bawah, teman-temannya telah berkumpul untuk sarapan. Selena segera bergabung bersama Leo yang mengekor di belakangnya. Keduanya duduk berhadapan. Selena baru akan mengambil nasi goreng saat tangannya bertemu tangan Leo yang juga akan melakukan hal yang sama. Ia pun memundurkan tangannya membiarkan Leo mengambil duluan. Tanpa ada yang menduga, Leo mengambilkan sepiring nasi goreng dan memberikannya pada Selena. Walau sedikit sungkan, Selena menerimanya dan mengucapkan terima kasih pada Leo. Sedangkan teman-temannya yang lain menatap horror Leo. Jarang sekali Leo bersikap manis pada orang lain dan sekarang ia melakukan seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Matthew yang berada di samping Leo langsung angkat kaki meninggalkan meja makan dan pergi menghilang entah ke mana.
***
Matahari sudah bersinar cerah ketika semua telah siap meneruskan perjalanan, hanya tinggal menunggu Selena yang keluar terakhir karena harus mematikan parameter di luar terlebih dahulu dan mengunci rumah. Matthew menyandarkan tubuhnya di mobil selagi menunggu Selena turun. Ia masih sedikit kesal karena sarapan tadi.
Selena tampak turun dengan cepat menyusul teman-temannya. Matthew yang memperhatikannya tersenyum puas melihat jaket yang dikenakan Selena. Bagi orang lain mungkin menganggap jaket yang dipakai Selena jaket biasa, namun Matthew yakin jaket itu ada hubungannya dengan pekerjaan Selena ditambah lambang kecil di lengan kanan jaket Selena. Hanya orang-orang yang pernah berurusan dengan kelompok tersebut yang mengenali lambang yang berada di jaket Selena dan Matthew pernah memiliki urusan dengan salah satu di antara mereka.
Selena duduk di bangku belakang menemani Matthew sedangkan Leo menyetir mobil ditemani Austin di depan. Sebelum berangkat, Selena sempat memasang layar GPS hologram didasboard depan sehingga memudahkan mereka mencari rute perjalanan. Selena masih terlihat asyik mengutak-atik cellphonenya saat Matthew
meregangkan tangannya di belakang Selena membuat gadis itu menoleh padanya.
“Aku mau memberi hukuman padamu,” bisik Matthew dengan tatapan tajam.
Selena menaikkan alisnya sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Matthew. “Kenapa?”
“Karena semalam kau kencan dengan pria lain,” jawab Matthew.
“Well, aku dan Tony sedang bekerja di lab Komputer kau ingat,” bantah Selena.
Matthew langsung meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Selena membuatnya bungkam.
“Itu baru satu dan tadi pagi kau bermesraan dengan Leo,” bisik Matthew di telinga Selena.
“Apa?!” Tanya Selena tak percaya.
“Shuttt… lihat itu,” kata Matthew sambil menunjuk keluar.
Selena mengikuti arah yang ditunjuk Matthew, namun pandangannya tidak menemukan hal yang ganjil sedikitpun justru kini kedua kakinya terasa ada yang menindih. Dengan santai Matthew merebahkan kepalanya di pangkuan Selena membuatnya mendapat tatapan protes dari Selena.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Selena.
“Menghukummu,” jawab Matthew tersenyum senang.
Sebenarnya ada hal lain yang membuat Matthew melakukan itu. Ia tidak begitu senang melihat Leo terlalu dekat dengan Selena dan ia berusaha membuat pria itu cemburu kali ini. Matthew tahu betul Leo memperhatikannya sejak tadi lewat kaca spion dan ya, dia terlihat tidak suka dengan sikap posesif Matthew pada Selena. Dengan tenang Matthew meraih tangan Selena dan menggenggamnya, meletakkannya di atas dadanya sendiri kemudian meninggalkannya tidur. Selena benar-benar tidak bisa berkutik sekarang dan hanya bisa pasrah dengan perilaku Matthew terhadapnya.
Leo sedikit kecewa mengetahui Selena duduk di belakang karena paksaan Matthew. Dengan enggan Leo menyetir
mobil ditemani Austin. Sesekali ia mencuri pandang melalui spion pada Selena
yang sedang sibuk dengan cellphonenya. Leo bertambah masam ketika mengetahui Matthew semakin mendekati Selena dari ekor matanya ia bisa melihat Matthew membicarakan sesuatu pada Selena.
Fokus Leo menyetir bertambah buyar saat Matthew dengan terang-terangan merebahkan diri di pangkuan Selena membuat gadis itu terkejut, namun tidak dihiraukan Matthew sedikit pun justru pria itu tampak puas dengan sikapnya. Leo mengatupkan rahangnya kuat-kuat menahan amarah. Pandangannya menancap lurus ke depan dan tangannya mencengkeraman kuat pada kemudi mobil membuat buku-buku jarinya memutih. Pikirannya kini bercampur aduk antara marah, cemburu, sedih dan kecewa.
Ia memang tidak begitu cepat mendekati Selena, hanya tidak mengira Matthew akan bertindak seagresif itu untuk mendapatkan Selena. Sekali lagi ia melirik belakang lewat kaca spion dan mendapati Matthew menggenggam mesra tangan Selena. Dengan kasar ia menginjak pedal rem mobil hingga mobil itu berhenti
mendadak membuat mobil SUV yang berada di belakangnya ikut berhenti. Ia sudah tidak tahan lagi melihat keadaan di belakang. Tanpa berkata apa-apa Leo keluar meninggalkan mobil dengan tatapan penuh tanda tanya dari teman-temannya. Sedangkan Matthew tampak tersenyum puas.
Dengan masam Leo meminta Jimmy menggantinya menyetir mobil sport sedangkan dia duduk di samping Ignis yang menyetir SUV. Tak ingin membuat keributan, Jimmy pun menggantikan Leo. Ignis masih menatap sahabatnya heran dengan perilakunya itu. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan lagi. Sekilas Ignis dapat melihat Matthew yang tengah bersandar pada Selena saat ia melewati mobil sport itu.
“Prince, bergeraklah lebih cepat sebelum dia berhasil mendapatkannya terlebih dahulu,” kata Ignis memberi saran.
Leo hanya diam, memandangi luar mobil dengan perasaan kalut. Bukan kali ini saja ia merasa cemburu, tapi kali ini benar-benar mengoyak hatinya.
***
Waktu menunjukkan tengah hari ketika mereka mencapai daerah luar kota Metrocity, hanya tinggal selangkah lagi mereka bisa mencapai camp di Solar city. Leo yang menyetir SUV memimpin didepan. Sedangkan Selena kini yang menyetir di mobil sport meninggalkan Matthew yang masih tidur di jok belakang bersama Jimmy. Suasana begitu sunyi hanya beberapa mobil yang terlihat berserakan sepanjang jalan. Selena melirik sekilas GPSnya, beberapa ratus meter lagi mereka akan mencapai jalan lingkar luar kota. Itu berarti mereka akan berjalan lebih jauh, tetapi terhindar dari Ragen yang biasanya bersembunyi di gedung-gedung dalam kota. Pemandangan nyaris hampir sama disetiap tempat. Kekacauan. Beberapa gedung terlihat menghitam sisa kebakaran selebihnya bercak darah mengering dan kotoran-kotoran lainnya yang terlihat.
Selena perlahan-lahan dapat melihat jalur lingkar kota itu, tetapi yang membuatnya sedikit heran mobil SUV di depannya tidak memindah jalurnya dan tetap melaju lurus menuju dalam kota. Segera ia menghubungi Leo yang menyetir di SUV.
“Leo, kau melewatkan jalur lingkarnya” kata Selena melalui earpiecenya.
Dengan enggan Leo menjawab panggilan Selena. “Akan lebih cepat jika kita lewat dalam kota.”
“Kau yakin?” Tanya Selena tak percaya.
“Ya,” jawab Leo.
“Tapi aku rasa akan lebih aman lewat luar,” saran Selena. “Apa tidak sebaiknya kita berputar?”
Leo yang masih kesal tidak menggubris kata Selena dan mematikan earpiecenya. Diliriknya sekilas mobil sport yang berada di belakang melalui kaca spion mobilnya. Ia tidak memikirkan resiko yang didapatnya nanti.
“Leo…Leo…hei..?!” Selena terkejut melihat sikap Leo yang mematikan earpiecenya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Austin yang berada di samping Selena.
“Leo mematikan earpicenya,” jawab Selena masam. Ia masih fokus menyetir.
“Sial. Aku tak suka masuk kota,” komentar Austin.
“Aku juga,” imbuh Selena.
Selena menggapai tasnya dan mulai mencari-cari beberapa barangnya. Ia melepas salah satu maneuver 3Dnya dan menggantinya dengan shield glovesnya. Memakai pengaman gunblade dan dua laser gunnya sekaligus. Kini ia benar-benar siap bertempur dengan para Ragen. Melihat persiapan Selena, Austin hanya bisa menelan salivanya.
“Aku tidak suka jika kau sudah seperti itu, Sel,” keluh Austin.
“Aku pun tidak suka, tapi aku punya firasat buruk,” kata Selena.
Segera Selena meraih layar hologram yang ia pasang dan mengotak atiknya, dalam sekejap tampilan hologram berubah menjadi peta kota dengan titik-titik merah di dalam hampir semua gambar kotak yang mewakili simbol gedung. Austin dan Jimmy ikut memperhatikan layar hologram dengan raut muka cemas.
“Katakan padaku jika titik merah itu bukan tanda untuk Ragen,” kata Austin putus asa sambil menatap selena.
Selena menoleh pada Austin, dilihat temannya itu telah memucat.
“Itu adalah Ragen,” kata Selena.
Seketika Austin dan Jimmy menyumpah, keduanya semakin memucat saat mobil mereka semakin jauh memasuki kota. Titik merah yang terlihat di layar hologram semakin banyak jumlahnya. Selena pun tampak cemas mengetahui hal itu.
“Jimmy, bangunkan Matthew,” pinta Selena.
Jimmy yang berada di samping Matthew segera membangunkannya. Matthew terbangun dengan tatapan bingung. Bingung karena mengetahui keberadaan mereka di kota tidak seperti yang direncanakan sebelumnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Matthew penasaran.
“Ada orang gila yang merubah rute perjalanan kita,” jawab Jimmy sarkastik.
“Selena” panggil Matthew.
“Not me, Leo merubahnya tadi. Aku sudah memperingatkannya, tapi earpiecenya
dimatikan,” jelas Selena masih memperhatikan jalan dan sesekali memeriksa sekelilingnya dengan bantuan kacamatanya. Dan dia melihat banyak Ragen yang menatap mereka dari dalam gedung dan itu membuatnya sedikit merinding.
Matthew mendengus kesal, ia mencoba menghubungi teman-temannya di mobil SUV tapi tak ada respon sama sekali.
“Berapa jauh lagi kita bisa sampai di luar kota?” Tanya Matthew sambil memperhatikan layar hologram. “Dan apa itu yang berwarna merah?” lanjutnya sambil menunjuk.
“Kita masih jauh dan itu adalah Ragen,” jawab Austin sedikit gemetar.
Matthew yang mendengar jawaban Austin terbelalak tak percaya kemuadian mengacak-acak rambutnya frustasi. Diliriknya Selena yang berada dibalik kemudi, gadis itu telah menyiapkan semua senjatanya.
“Selena,” panggil Matthew.
“Aku sedang berdoa Matt, dan sebaiknya kalian juga berdoa agar Leo tidak melakukan kesalahan bodoh lagi,” kata Selena dingin.
“Sebaiknya kita berbalik dan meninggalkan mereka saja, Sel,” ucap Jimmy sedikit ketus.
“Aku setuju,” imbuh Austin dan Matthew serempak.
“Guys, jangan menggodaku. Aku sudah memikirkan itu sejak tadi, tapi mereka teman kita sekarang,” kata Selena dengan tersenyum miring.
“Dia tidak memikirkan kita. Ingat?!” kata Matthew ketus.
Selena tak lagi bisa membantah kata Matthew, kini ia sedang memikirkan hal lain untuk mengantisipasi jika terjadi hal buruk. Titik-titik merah yang terlihat di layar hologram itu semakin bertambah banyak ketika mereka melalui alun-alun kota.
“Kenapa di sini banyak sekali Ragen?” Tanya Jimmy memecah keheningan.
“Karena di sini baru saja merayakan hari jadi kota Metrocity,” jawab Selena.
Perjalanan yang mereka lalui terasa sangat lama. Doa yang mereka panjatkan pun tiba-tiba mengabur saat tanpa sengaja mobil yang dikemudikan Leo menabrak sebuah tong sampah. Suara nyaring tong sampah yang terpental mobil memicu Ragen yang telah mengawasi mereka dari dalam gedung berhamburan keluar dan mengejar mereka.
Tanpa aba-aba lagi kedua mobil itu melaju kencang. Pekikan Ragen di belakang mereka memanggil Ragen-Ragen yang lain ikut berhamburan keluar mengejar mereka dari berbagai arah. Kedua mobil itu pun telah beberapa kali menabrak Ragen yang berhamburan dari arah depan.
Dengan pemikiran cepat, Selena meraih dua gadged berbentuk bulat. Salah satunya ia letakkan diatap mobil dengan usaha susah payah membuka kaca jendela diantara serbuan Ragen. Tak dipedulikannya Austin, jimmy dan Matthew yang tengah berteriak panik. Satu lagi gadged yang masih ia genggam. Dengan sedikit merapat kemobil SUV yang melaju kencang di sampingnya, ia melemparkan benda itu hingga menempel di badan mobil SUV.
Kini tinggal satu langkah lagi mengakhiri semuanya, Selena membidikkan gunbladenya jauh didepan mereka. Cahaya putih keluar dari gunbladenya dan melesat cepat mengenai sebuah mobil yang jaraknya masih cukup jauh dari mereka. Dengan satu sentakan keras, Selena memacu mobilnya hingga mendahului mobil SUV dan berkat skill drivingnya ia memutar mobilnya seratus delapan puluh derajat dengan sempurna. Kini ia bisa melihat SUV melaju kearahnya dan berhenti tepat di depan mobilnya. Perlahan-lahan kaca jendela Selena menutup.
Dari balik kemudinya Selena bisa melihat Leo dan teman-temannya dimobil itu. Selena menatap tajam Leo yang berada tepat di depannya sekarang. Sebelum semua menyadari keadaan sebuah ledakan cahaya menerjang dari arah belakang mobil Sport. Semua terlihat semakin panik terkecuali Selena. Kedua mobil itu terlihat bergetar saat cahaya dari bom itu melewati mereka. Para Ragen yang mengerubungi kedua mobil dan yang bertebaran dijalanan seketika lenyap terkena bom hanya meninggalkan abu hitam yang berterbangan terkena hempasan angin.
Perlahan-lahan selena kembali menjalankan mobilnya, kini ia yang memimpin didepan. Mobil-mobil yang berada di sepanjang jalan terlihat hangus terkena ledakan bom begitu juga dengan gedung-gedung di sepanjang jalanan. Hanya tersisa dua mobil itu yang terlihat masih utuh.
“A… apa itu tadi?” Tanya Austin yang masih memucat.
“Plasma bom,” jawab Selena singkat. Ia melirik sekilas hologramnya, masih cukup banyak titik merah dan itu membuatnya harus cepat-cepat keluar dari kota itu.
“Kenapa mobil kita baik-baik saja?” Tanya jimmy melihat sekelilingnya telah hancur lebur.
“Karena benda yang aku letakkan tadi di badan mobil. Benda itu berfungsi sebagai pelindung, tapi jika saja tadi aku telat berhenti nasib kita sama dengan para Ragen itu,” jawab Selena santai.
“Oke,” Austin menelan salivanya.
--- TBC ---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments