Episode 4. When they meet

Siang itu matahari bersinar terik membuat Selena terasa enggan melanjutkan perjalanan. Semenjak kehilangan mobilnya beberapa hari yang lalu ia meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Bukan ide yang bagus mengingat ia harus segera menemukan paketnya, namun apa boleh buat andai saja yang merampok mobilnya bukanlah seorang pria yang tengah terjepit Selena pasti memilih untuk membunuhnya. Pria itu terlihat benar-benar butuh bantuan meski yang dilakukannya salah dan Selena bukanlah seseorang yang tidak punya hati, dibandingkan pria itu kemungkinan ia bertahan di luar lebih

besar sehingga ia merelakan mobilnya dan hanya meninggalkan pesan untuk tidak menggoresnya.

Ia hampir memasuki dunia mimpi ketika sayup-sayup terdengar keributan di jalanan, Selena sedang berada di atap sebuah gedung saat itu. Malas-malasan ia melangkah menuju tepian gedung untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa orang tengah mengusik para Ragen yang tengah

bersembunyi dilorong-lorong gelap diantara gedung-gedung pencakar langit. Seharusnya mereka bisa berjalan dengan damai andai tidak membuat keributan. Para Ragen menghindari terik matahari dan memilih berlindung di kegelapan

lorong-lorong ataupun didalam gedung yang terbengkalai.

Senyum sumringah mengembang di bibir Selena melihat salah seorang yang tengah disibukkan kerumunan Ragen itu adalah orang yang dicarinya. Ia baru akan meloncat dari gedung saat mendengar keributan dari arah lain yang lebih dekat dengannya. Pintu darurat menuju atap

gedung tengah didobrak paksa dari dalam. Selena menyiapkan lasergun tanpa melepas pandangan, dari orang-orang yang tengah berlari menghindari Ragen di bawah sana. Beberapa detik kemudian pintu terdobrak  dengan tiga orang yang menghambur keluar, beruntung Selena tidak gegabah menembak kepala mereka.

Setengah terkejut dan kesal seorang pria yang memakai kacamata menatap Selena tajam, “ada orang disini dan tidak membantu sama sekali?”

“Well, aku tidak mengira ada kehidupan lain di sini selain para Ragen,” sahut Selena acuh mengembalikan Laser gun ke dalam pengaman, ia mengalihkan pandangannya kembali pada paketnya yang telah berhasil keluar dari kerumunan para Ragen.

“Kita harus pergi dari sini Ignis, mereka masih mengejar kita,” kata seorang gadis di belakang pria berkaca mata yang baru saja kesal pada Selena.

“Kita tak mungkin masuk lagi, terlalu banyak Ragen. Kita tak mungkin keluar hidup-hidup.” Saut temannya yang lain, napasnya masih memburu menahan lelah.

Pria yang dipanggil Ignis itu tampak diam berpikir keras, diedarkan pandangannya ke sekeliling hingga tatapannya bertumbuk pada Selena yang tengah berkemas. “Nona, apa kamu memiliki

jalan keluar dari sini?” tanyanya putus asa.

“Ya tentu saja,” jawab Selena santai.

“Bisakah kami ikut bersamamu?” pinta Ignis.

“Itu tergantung dengan keberanian kalian,” ujar Selena.

“Apa maksudmu?” Tanya Sania, gadis yang bersama Ignis menatap Selena bingung.

“Jika kalian berani melompat dari gedung ini tanpa keributan, aku akan menunjukkan tempat yang aman,” terang Selena.

Ketiga orang itu tampak terperangah mendengarnya, Ignis maju ke tepian gedung untuk melihat seberapa tinggi gedung itu. Mereka berada di atas gedung sepuluh lantai, mustahil bagi mereka terjun tanpa mengalami luka atau kematian.

“Kau bercanda, Nona,”kata Ignis was-was.

“Lompatlah setelah aku mencapai bawah, aku pastikan kalian selamat. Bagaimana?” tawar Selena.

Ignis menatap kedua temannya masih bingung mengambil keputusan. “Ini lelucon yang tidak lucu sama sekali, Nona,” geramnya.

“Baiklah, kau bisa lewat dalam gedung kalau begitu.” Selena menunjuk pintu darurat, suara para Ragen samar mulai terdengar menggaung dari dalam sana. “Aku rasa tidak ada waktu banyak,

berpikirlah sebelum aku mencapai bawah,” lanjut Selena segera melompat.

Ketiganya tampak terkejut melihat Selena yang tanpa ragu melompat dari atas gedung itu. Beberapa meter sebelum mencapai tanah, Selena menjentikkan jarinya untuk mengaktifkan alat

antigravitasi yang tertanam di sepatu. Pendar biru muncul tepat Selena mendarat dengan mulus.

“Dia benar-benar gila,” komentar Austin teman Ignis melihat Selena berhasil mendarat dengan selamat.

Ignis sempat melihat pendar biru yang tercipta saat Selena mendarat, jika tebakannya tidak salah maka ia pun akan selamat mendarat selama gadis itu masih di sana. “Baiklah, aku akan melompat terlebih dahulu, setelah itu segeralah menyusul,” putus Ignis.

“Apa?!” kata Sania dan Austin kompak. Namun Ignis tak lagi menghiraukannya langsung melompat dari atas gedung itu berharap tebakannya benar.

Selena mengawasi ketiga orang yang masih tampak ragu itu untuk memastikan keputusan mereka. Tak butuh waktu lama ia melihat pria berkacamata itu memutuskan melompat, segera Selena mengaktifkan kembali anti gravitasinya sebelum pria itu menyentuh tanah. Pendar biru menyelimuti Ignis saat berada beberapa centi dari atas tanah, ia bersyukur tebakannya tidak meleset. Segera ia bangkit dan berterima kasih pada Selena dan memberi isyarat pada kedua temannya untuk segera menyusul.

“Ignis selamat,” gumam Sania. “Baiklah aku rasa giliran kita, Austin.”

“Kau akan melompat?” pekik Austin.

“Ayo kita lakukan,” ajak Sania meski gugup akhirnya memberanikan diri melompat dari gedung meninggalkan Austin yang semakin panik.

Austin bisa merasakan betapa gemetar tubuhnya, apalagi setelah Sania meninggalkannya sendirian di atap. Ia bisa melihat kedua temannya mendarat dengan selamat, tapi itu tidak mengurangi

ketakutannya.

“Baiklah Sania bisa melakukannya,” gumam Austin memberi motivasi pada dirinya sendiri. Ia pun berjongkok dan mulai merayap di tepian gedung. Namun akhirnya pegangannya terlepas akibat

tergelincir, pria itu pun terjun sambil berteriak minta tolong.

Selena menggelengkan kepalanya melihat cara Austin terjun, ia meminta untuk tidak membuat keributan saat terjun dan pria itu mengeluarkan suara sangat nyaring. Austin mendarat tepat

saat hidungnya hampir mencium tanah, jika saja Selena kehabisan kesabarannya mungkin pria itu sudah ia biarkan mati. Dengan masih gemetar Austin berusaha berdiri dibantu Sania.

“Jika kamu tidak menghilangkan rasa ragumu, kau tak akan bertahan di dunia baru ini lebih lama,” komentar Selena dingin.

Austin yang mendengarnya hanya bisa meringis karena malu, di antara teman-temannya hanya dia yang membuat keributan, bahkan Sania bisa melakukannya lebih baik.

“Jadi apa kalian hanya bertiga?” Tanya Selena.

“Tidak, masih ada tiga orang lagi. Kami terpisah saat berusaha melarikan diri dari kepungan Ragen,” jawab Ignis.

“Apa salah satu temanmu memiliki rambut pirang?” Tanya Selena lagi

“Ya, itu Matthew. Apa kamu melihatnya tadi?” ujar Sania.

“Aku melihat mereka tadi,” jawab Selena melirik sekilas jam tangannya, kebetulan yang menyenangkan ia bisa menemukan paketnya bersama dengan teman-temannya. Titik merah di layar hologram jam tangannya tampak berhenti disuatu tempat itu pertanda paketnya mencapai

tempat yang aman. Sudah saatnya menyusul peketnya sekarang.

“Apa kalian mau ikut, aku rasa teman-temanmu tidak berada jauh dari sini,” lanjut Selena.

“Kau tahu di mana mereka?” selidik Ignis heran mengikuti langkah Selena.

“Anggap saja tebakan beruntung,” ujar Selena berjalan mendahului ketiga orang yang baru ditemuinya.

Selena memimpin perjalanan mereka, sesekali melirik layar hologram yang terhubung dengan jam tangannya. Sepanjang perjalanan mereka menemukan beberapa mayat Ragen yang bergelimpangan, melihat darah hitam pekat yang masih segar mayat-mayat itu tentulah belum lama

mati. Aroma busuk menusuk setiap hidung yang berada di dekatnya, beruntung kebanyakan

Ragen telah kembali bersembunyi di lorong gelap atau memasuki gedung-gedung kosong di sepanjang tepi jalan. Sania yang merasa memiliki teman baru sesama perempuan berjalan mendekati Selena.

“Jadi siapa namamu?” Tanya Sania yang berjalan di samping Selena.

“Selena” jawab Selena.

“Aku, Sania. Dan kedua pria itu adalah Ignis dan Austin,” kata Sania memperkenalkan diri.

Selena memperhatikan sekilas kedua pria yang dikenalkan Sania padanya untuk memperkenalkan diri.

“Apa kamu sendirian?” Tanya Sania penasaran, “dan berjalan kaki?”

“Aku sendirian, baru dua hari ini berjalan kaki. Mobilku dirampas orang,” terang Selena. “bagaimana dengan kalian?”

“Beberapa jam yang lalu kami kehilangan mobil, setelah mengalami kecelakaan,” cerita Sania.

“Jadi kalian sekarang berjalan kaki juga,” ujar Selena.

Ignis memperhatikan Selena dengan teliti dari belakang, ia bisa melihat beberapa peralatan canggih menempel dibeberapa bagian tubuh gadis itu. Jam tangan, sepatu dan juga laser gun sudah membuktikan jika Selena bukan orang biasa. Sulit bagi warga sipil untuk mendapatkan sepatu yang memiliki fitur anti gravitasi atau laser gun yang merupakan senjata tingkat atas. Dan melihat kelihaiannya meloncat dari gedung setinggi sepuluh lantai pastilah gadis itu telah terlatih dengan baik. Sepertinya kelompoknya tidak akan rugi jika Selena mau bergabung bersama mereka.

Perjalanan mereka tempuh cukup memakan waktu dengan adanya beberapa Ragen yang terkadang bermunculan menghadang langkah mereka menuju tempat yang lainnya berada. Dari semua pertempuran ringan, Selena lah yang maju terlebih dahulu membantai para Ragen apalagi dengan kecepatan menembaknya ia bisa membantai Ragen bahkan sebelum teman-temannya menyadari kedatangannya. Semakin dekat dengan tempat yang mereka

tuju semakin banyak Ragen yang berkeliaran sepertinya teman-teman mereka yang lain hanya menghindari para Ragen itu terbukti dengan sedikitnya mayat yang terlihat.

“Apa kau yakin teman-temanku ada di sana?” Tanya Ignis menunjuk salah satu bangunan yang dulunya adalah museum.

“Ya, lihatlah. Beberapa Ragen masih berusaha untuk menerobos masuk,” jawab Selena meyakinkan.

“Terlalu banyak, bagaimana cara kita melewatinya?” ujar Ignis mengedarkan pandangan disekelilingnya dari tempat mereka bersembunyi.

“Bertarung, berharaplah teman-teman kalian yang di sana menyadari kehadiran kita,” gumam Selena.

Tanpa menunggu waktu lama Selena segera melompat keluar dari persembunyian, membuat ketiga teman barunya terperangah. Tak hanya itu Selena juga sengaja memancing perhatian para Ragen yang masih bertebaran di jalanan, sehingga para Ragen itu bergeming dan serentak berlarian kearahnya. Ignis yang melihatnya hanya bisa menyumpah dalam hati atas kenekatan Selena, mau tak mau ia pun akhirnya turun tangan membantu Selena membabat Ragen-Ragen itu. Dengan ekor matanya Ignis mengakui kelincahan

Selena dalam membunuh Ragen, dari keseluruhan Ragen yang telah dibantai hampir sebagian besar mati di tangan Selena, ditambah dengan kesibukan Selena yang berusaha melindungi Sania dan Austin yang memiliki skill pas-pasan dalam

membela diri.

Tak berapa lama suara desingan peluru terdengar, sepertinya teman-teman Ignis yang lain menyadari kehadiran mereka dan memutuskan ikut membantu membasmi para Ragen. Selena merasa kualahan menghadapi para Ragen yang tidak ada habisnya, selama ini ia mengandalkan

kekuatan materia yang terdapat di tangan kirinya. Namun karena insiden di Uata tangan kirinya cidera yang hingga kini belum sembuh, ditambah Austin yang berada di dekatnya memperburuk keadaan dengan gaya bertarungnya yang payah.

Selena hampir terterkam seekor Ragen, beruntung salah seorang teman Ignis muncul dari dalam gedung dan menebas Ragen itu tepat sebelum menyentuhnya.

“Cepat masuk,” teriak salah seorang pria paling dekat dengan gedung yang mereka gunakan untuk berlindung.

Satu persatu mereka pun mundur perlahan mendekati gedung dan masuk kedalam. Terakhir Selena lah yang masuk gedung setelah sempat melempar salah satu light boom yang dimilikinya. Ledakan dasyat disusul dengan seberkas sinar langsung menyapu bersih apa saja yang

disentuh ledakan bom itu. Selena cukup beruntung tepat waktu menutup pintu gedung dan menahannya agar tidak terbuka saat getaran bom itu menerpanya. Dengan napas terengah-engah Selena bersandar di pintu, baru disadarinya ada

seorang pria tepat di sampingnya membantu menahan pintu. Pria bermata biru es yang dicarinya tepat di depan matanya sekarang.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya pria itu.

“Ya, thanks,” sahut Selena mengalihkan pandangannya setelah menatap pria itu terlalu lama.

“What the hell is that?” gumam seseorang memecah kebisuan di antara mereka.

“Light boom, itu akan membuat kita aman malam ini,” jelas Selena. “Apa kalian telah memeriksa gedung ini?”

“Ya, semuanya aman,” jawab pria bermata biru itu.

“Tidak ada seekor Ragen pun di dalam gedung?” desak Selena.

“Ummm… ada beberapa Ragen disalah satu ruangan. Kami mengurungnya di sana,” jawab pria lainnya yang kini berdiri di dekat Sania.

“Kalian membiarkannya hidup,” kata Selena sambil berdecak tidak percaya. “Kita akan menjadi kudapan mereka nanti malam,” lanjutnya sambil melangkah pergi dengan pria bermata biru mengikutinya.

“Di mana mereka?” Tanya Selena tanpa menoleh.

“Ruangan paling ujung,” jawab pria itu.

Sesampainya di ruangan tempat mengurung Ragen, Selena memeriksanya dengan mendengarkan dengan seksama. Hanya dengan sekali tendang pintu itu terbuka, disusul Selena yang masuk dan memberondong Ragen-Ragen itu dengan lasergunnya. Pria yang mengikutinya hanya bisa ternganga dengan kecepatan Selena bertindak, bahkan ia belum sempat berpindah tempat saat gadis itu telah membantai Ragen yang ada di dalam ruangan itu.

“Wow,” gumam pria itu saat Selena keluar.

Selena hanya memutar bola matanya jengah dan pergi meninggalkan pria itu yang kini tengah memeriksa ruangan tersebut memastikan tidak ada Ragen yang masih bergerak.

--- TBC ---

Episodes
1 Episode 1. Chaos
2 Episode 2. New Friend
3 Episode 3. Another Time Another Place
4 Episode 4. When they meet
5 Episode 5. Gedung Solbeck
6 Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7 Episode 7. STUCK WITH YOU
8 Episode 8. Time To Go
9 Episode 9. Tragedy
10 Episode 10. SOUND OF DEAD
11 Episode 11. CRISIS CORE
12 Episode 12. WELCOME BACK
13 Episode 13. We Start the Journey Again
14 Episode 14. Lost
15 Episode 15. Coastal
16 Episode 16. COME BACK HOME
17 Episode 17. Soul Like Me
18 Episode 18. The Deal
19 Episode 19. The Truth
20 Episode 20. Jealous
21 Episode 21. I'm Sorry
22 Episode 22. You and I
23 Episode 23. Solar City
24 Episode 24. Is Not Good Bye
25 Episode 25. Fight
26 Episode 26. Assassins 1st Class
27 Episode 27. A STORY
28 Episode 28. I HATE SHRIMP
29 Episode 29. Night Club
30 Episode 30. Done All Wrong
31 Episode 31. The Reason
32 Episode 32. Golden Card
33 Episode 33. Spy Time
34 Episode 34. Vision
35 Episode 35. Evacuation
36 Episode 36. Escape
37 Episode 37. Monster Attack
38 Episode 38. The Darknest Side of Me
39 Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40 Episode 40. Terrible trip
41 Episode 41. Welcome To Moonlight
42 Episode 42. Pray
43 Episode 43. Why are They Here?
44 Episode 44. Impendence
45 Episode 45. Decision
46 Episode 46. JUNGLE
47 Episode 47. FORTRESS
48 Episode 48. DREAM
49 Episode 49. CRUSH
50 Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51 Episode 51. DEAD CITY
52 Episode 52. MEMORIES
53 Episode 53. I Hate You
54 Episode 54. Impatient Groom
55 Episode 55.Master Control Station (MCS)
56 Episode 56. Mask Man
57 Episode 57. Be A Guardian
58 Episode 58. Cloud
59 Episode 59. Leo’s Anger
60 Episode 60. Forgotten City
61 Episode 61. Friend?
62 Episode 62. Solar City Memories
63 Episode 63. Behind The Mask
64 Episode 64. Betrayer
65 Episode 65. The Stranger
66 Episode 66. Disappear
67 Episode 67. There’s No Cure
68 Episode 68. I’ll be fine
69 Episode 69. Find Hope
70 Episode 70. Make a Deal
71 Episode 71. The War Begins
72 Episode 72. This is the end
73 Episode 73. Good bye
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Episode 1. Chaos
2
Episode 2. New Friend
3
Episode 3. Another Time Another Place
4
Episode 4. When they meet
5
Episode 5. Gedung Solbeck
6
Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7
Episode 7. STUCK WITH YOU
8
Episode 8. Time To Go
9
Episode 9. Tragedy
10
Episode 10. SOUND OF DEAD
11
Episode 11. CRISIS CORE
12
Episode 12. WELCOME BACK
13
Episode 13. We Start the Journey Again
14
Episode 14. Lost
15
Episode 15. Coastal
16
Episode 16. COME BACK HOME
17
Episode 17. Soul Like Me
18
Episode 18. The Deal
19
Episode 19. The Truth
20
Episode 20. Jealous
21
Episode 21. I'm Sorry
22
Episode 22. You and I
23
Episode 23. Solar City
24
Episode 24. Is Not Good Bye
25
Episode 25. Fight
26
Episode 26. Assassins 1st Class
27
Episode 27. A STORY
28
Episode 28. I HATE SHRIMP
29
Episode 29. Night Club
30
Episode 30. Done All Wrong
31
Episode 31. The Reason
32
Episode 32. Golden Card
33
Episode 33. Spy Time
34
Episode 34. Vision
35
Episode 35. Evacuation
36
Episode 36. Escape
37
Episode 37. Monster Attack
38
Episode 38. The Darknest Side of Me
39
Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40
Episode 40. Terrible trip
41
Episode 41. Welcome To Moonlight
42
Episode 42. Pray
43
Episode 43. Why are They Here?
44
Episode 44. Impendence
45
Episode 45. Decision
46
Episode 46. JUNGLE
47
Episode 47. FORTRESS
48
Episode 48. DREAM
49
Episode 49. CRUSH
50
Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51
Episode 51. DEAD CITY
52
Episode 52. MEMORIES
53
Episode 53. I Hate You
54
Episode 54. Impatient Groom
55
Episode 55.Master Control Station (MCS)
56
Episode 56. Mask Man
57
Episode 57. Be A Guardian
58
Episode 58. Cloud
59
Episode 59. Leo’s Anger
60
Episode 60. Forgotten City
61
Episode 61. Friend?
62
Episode 62. Solar City Memories
63
Episode 63. Behind The Mask
64
Episode 64. Betrayer
65
Episode 65. The Stranger
66
Episode 66. Disappear
67
Episode 67. There’s No Cure
68
Episode 68. I’ll be fine
69
Episode 69. Find Hope
70
Episode 70. Make a Deal
71
Episode 71. The War Begins
72
Episode 72. This is the end
73
Episode 73. Good bye

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!