Siang itu matahari bersinar terik membuat Selena terasa enggan melanjutkan perjalanan. Semenjak kehilangan mobilnya beberapa hari yang lalu ia meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.
Bukan ide yang bagus mengingat ia harus segera menemukan paketnya, namun apa boleh buat andai saja yang merampok mobilnya bukanlah seorang pria yang tengah terjepit Selena pasti memilih untuk membunuhnya. Pria itu terlihat benar-benar butuh bantuan meski yang dilakukannya salah dan Selena bukanlah seseorang yang tidak punya hati, dibandingkan pria itu kemungkinan ia bertahan di luar lebih
besar sehingga ia merelakan mobilnya dan hanya meninggalkan pesan untuk tidak menggoresnya.
Ia hampir memasuki dunia mimpi ketika sayup-sayup terdengar keributan di jalanan, Selena sedang berada di atap sebuah gedung saat itu. Malas-malasan ia melangkah menuju tepian gedung untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa orang tengah mengusik para Ragen yang tengah
bersembunyi dilorong-lorong gelap diantara gedung-gedung pencakar langit. Seharusnya mereka bisa berjalan dengan damai andai tidak membuat keributan. Para Ragen menghindari terik matahari dan memilih berlindung di kegelapan
lorong-lorong ataupun didalam gedung yang terbengkalai.
Senyum sumringah mengembang di bibir Selena melihat salah seorang yang tengah disibukkan kerumunan Ragen itu adalah orang yang dicarinya. Ia baru akan meloncat dari gedung saat mendengar keributan dari arah lain yang lebih dekat dengannya. Pintu darurat menuju atap
gedung tengah didobrak paksa dari dalam. Selena menyiapkan lasergun tanpa melepas pandangan, dari orang-orang yang tengah berlari menghindari Ragen di bawah sana. Beberapa detik kemudian pintu terdobrak dengan tiga orang yang menghambur keluar, beruntung Selena tidak gegabah menembak kepala mereka.
Setengah terkejut dan kesal seorang pria yang memakai kacamata menatap Selena tajam, “ada orang disini dan tidak membantu sama sekali?”
“Well, aku tidak mengira ada kehidupan lain di sini selain para Ragen,” sahut Selena acuh mengembalikan Laser gun ke dalam pengaman, ia mengalihkan pandangannya kembali pada paketnya yang telah berhasil keluar dari kerumunan para Ragen.
“Kita harus pergi dari sini Ignis, mereka masih mengejar kita,” kata seorang gadis di belakang pria berkaca mata yang baru saja kesal pada Selena.
“Kita tak mungkin masuk lagi, terlalu banyak Ragen. Kita tak mungkin keluar hidup-hidup.” Saut temannya yang lain, napasnya masih memburu menahan lelah.
Pria yang dipanggil Ignis itu tampak diam berpikir keras, diedarkan pandangannya ke sekeliling hingga tatapannya bertumbuk pada Selena yang tengah berkemas. “Nona, apa kamu memiliki
jalan keluar dari sini?” tanyanya putus asa.
“Ya tentu saja,” jawab Selena santai.
“Bisakah kami ikut bersamamu?” pinta Ignis.
“Itu tergantung dengan keberanian kalian,” ujar Selena.
“Apa maksudmu?” Tanya Sania, gadis yang bersama Ignis menatap Selena bingung.
“Jika kalian berani melompat dari gedung ini tanpa keributan, aku akan menunjukkan tempat yang aman,” terang Selena.
Ketiga orang itu tampak terperangah mendengarnya, Ignis maju ke tepian gedung untuk melihat seberapa tinggi gedung itu. Mereka berada di atas gedung sepuluh lantai, mustahil bagi mereka terjun tanpa mengalami luka atau kematian.
“Kau bercanda, Nona,”kata Ignis was-was.
“Lompatlah setelah aku mencapai bawah, aku pastikan kalian selamat. Bagaimana?” tawar Selena.
Ignis menatap kedua temannya masih bingung mengambil keputusan. “Ini lelucon yang tidak lucu sama sekali, Nona,” geramnya.
“Baiklah, kau bisa lewat dalam gedung kalau begitu.” Selena menunjuk pintu darurat, suara para Ragen samar mulai terdengar menggaung dari dalam sana. “Aku rasa tidak ada waktu banyak,
berpikirlah sebelum aku mencapai bawah,” lanjut Selena segera melompat.
Ketiganya tampak terkejut melihat Selena yang tanpa ragu melompat dari atas gedung itu. Beberapa meter sebelum mencapai tanah, Selena menjentikkan jarinya untuk mengaktifkan alat
antigravitasi yang tertanam di sepatu. Pendar biru muncul tepat Selena mendarat dengan mulus.
“Dia benar-benar gila,” komentar Austin teman Ignis melihat Selena berhasil mendarat dengan selamat.
Ignis sempat melihat pendar biru yang tercipta saat Selena mendarat, jika tebakannya tidak salah maka ia pun akan selamat mendarat selama gadis itu masih di sana. “Baiklah, aku akan melompat terlebih dahulu, setelah itu segeralah menyusul,” putus Ignis.
“Apa?!” kata Sania dan Austin kompak. Namun Ignis tak lagi menghiraukannya langsung melompat dari atas gedung itu berharap tebakannya benar.
Selena mengawasi ketiga orang yang masih tampak ragu itu untuk memastikan keputusan mereka. Tak butuh waktu lama ia melihat pria berkacamata itu memutuskan melompat, segera Selena mengaktifkan kembali anti gravitasinya sebelum pria itu menyentuh tanah. Pendar biru menyelimuti Ignis saat berada beberapa centi dari atas tanah, ia bersyukur tebakannya tidak meleset. Segera ia bangkit dan berterima kasih pada Selena dan memberi isyarat pada kedua temannya untuk segera menyusul.
“Ignis selamat,” gumam Sania. “Baiklah aku rasa giliran kita, Austin.”
“Kau akan melompat?” pekik Austin.
“Ayo kita lakukan,” ajak Sania meski gugup akhirnya memberanikan diri melompat dari gedung meninggalkan Austin yang semakin panik.
Austin bisa merasakan betapa gemetar tubuhnya, apalagi setelah Sania meninggalkannya sendirian di atap. Ia bisa melihat kedua temannya mendarat dengan selamat, tapi itu tidak mengurangi
ketakutannya.
“Baiklah Sania bisa melakukannya,” gumam Austin memberi motivasi pada dirinya sendiri. Ia pun berjongkok dan mulai merayap di tepian gedung. Namun akhirnya pegangannya terlepas akibat
tergelincir, pria itu pun terjun sambil berteriak minta tolong.
Selena menggelengkan kepalanya melihat cara Austin terjun, ia meminta untuk tidak membuat keributan saat terjun dan pria itu mengeluarkan suara sangat nyaring. Austin mendarat tepat
saat hidungnya hampir mencium tanah, jika saja Selena kehabisan kesabarannya mungkin pria itu sudah ia biarkan mati. Dengan masih gemetar Austin berusaha berdiri dibantu Sania.
“Jika kamu tidak menghilangkan rasa ragumu, kau tak akan bertahan di dunia baru ini lebih lama,” komentar Selena dingin.
Austin yang mendengarnya hanya bisa meringis karena malu, di antara teman-temannya hanya dia yang membuat keributan, bahkan Sania bisa melakukannya lebih baik.
“Jadi apa kalian hanya bertiga?” Tanya Selena.
“Tidak, masih ada tiga orang lagi. Kami terpisah saat berusaha melarikan diri dari kepungan Ragen,” jawab Ignis.
“Apa salah satu temanmu memiliki rambut pirang?” Tanya Selena lagi
“Ya, itu Matthew. Apa kamu melihatnya tadi?” ujar Sania.
“Aku melihat mereka tadi,” jawab Selena melirik sekilas jam tangannya, kebetulan yang menyenangkan ia bisa menemukan paketnya bersama dengan teman-temannya. Titik merah di layar hologram jam tangannya tampak berhenti disuatu tempat itu pertanda paketnya mencapai
tempat yang aman. Sudah saatnya menyusul peketnya sekarang.
“Apa kalian mau ikut, aku rasa teman-temanmu tidak berada jauh dari sini,” lanjut Selena.
“Kau tahu di mana mereka?” selidik Ignis heran mengikuti langkah Selena.
“Anggap saja tebakan beruntung,” ujar Selena berjalan mendahului ketiga orang yang baru ditemuinya.
Selena memimpin perjalanan mereka, sesekali melirik layar hologram yang terhubung dengan jam tangannya. Sepanjang perjalanan mereka menemukan beberapa mayat Ragen yang bergelimpangan, melihat darah hitam pekat yang masih segar mayat-mayat itu tentulah belum lama
mati. Aroma busuk menusuk setiap hidung yang berada di dekatnya, beruntung kebanyakan
Ragen telah kembali bersembunyi di lorong gelap atau memasuki gedung-gedung kosong di sepanjang tepi jalan. Sania yang merasa memiliki teman baru sesama perempuan berjalan mendekati Selena.
“Jadi siapa namamu?” Tanya Sania yang berjalan di samping Selena.
“Selena” jawab Selena.
“Aku, Sania. Dan kedua pria itu adalah Ignis dan Austin,” kata Sania memperkenalkan diri.
Selena memperhatikan sekilas kedua pria yang dikenalkan Sania padanya untuk memperkenalkan diri.
“Apa kamu sendirian?” Tanya Sania penasaran, “dan berjalan kaki?”
“Aku sendirian, baru dua hari ini berjalan kaki. Mobilku dirampas orang,” terang Selena. “bagaimana dengan kalian?”
“Beberapa jam yang lalu kami kehilangan mobil, setelah mengalami kecelakaan,” cerita Sania.
“Jadi kalian sekarang berjalan kaki juga,” ujar Selena.
Ignis memperhatikan Selena dengan teliti dari belakang, ia bisa melihat beberapa peralatan canggih menempel dibeberapa bagian tubuh gadis itu. Jam tangan, sepatu dan juga laser gun sudah membuktikan jika Selena bukan orang biasa. Sulit bagi warga sipil untuk mendapatkan sepatu yang memiliki fitur anti gravitasi atau laser gun yang merupakan senjata tingkat atas. Dan melihat kelihaiannya meloncat dari gedung setinggi sepuluh lantai pastilah gadis itu telah terlatih dengan baik. Sepertinya kelompoknya tidak akan rugi jika Selena mau bergabung bersama mereka.
Perjalanan mereka tempuh cukup memakan waktu dengan adanya beberapa Ragen yang terkadang bermunculan menghadang langkah mereka menuju tempat yang lainnya berada. Dari semua pertempuran ringan, Selena lah yang maju terlebih dahulu membantai para Ragen apalagi dengan kecepatan menembaknya ia bisa membantai Ragen bahkan sebelum teman-temannya menyadari kedatangannya. Semakin dekat dengan tempat yang mereka
tuju semakin banyak Ragen yang berkeliaran sepertinya teman-teman mereka yang lain hanya menghindari para Ragen itu terbukti dengan sedikitnya mayat yang terlihat.
“Apa kau yakin teman-temanku ada di sana?” Tanya Ignis menunjuk salah satu bangunan yang dulunya adalah museum.
“Ya, lihatlah. Beberapa Ragen masih berusaha untuk menerobos masuk,” jawab Selena meyakinkan.
“Terlalu banyak, bagaimana cara kita melewatinya?” ujar Ignis mengedarkan pandangan disekelilingnya dari tempat mereka bersembunyi.
“Bertarung, berharaplah teman-teman kalian yang di sana menyadari kehadiran kita,” gumam Selena.
Tanpa menunggu waktu lama Selena segera melompat keluar dari persembunyian, membuat ketiga teman barunya terperangah. Tak hanya itu Selena juga sengaja memancing perhatian para Ragen yang masih bertebaran di jalanan, sehingga para Ragen itu bergeming dan serentak berlarian kearahnya. Ignis yang melihatnya hanya bisa menyumpah dalam hati atas kenekatan Selena, mau tak mau ia pun akhirnya turun tangan membantu Selena membabat Ragen-Ragen itu. Dengan ekor matanya Ignis mengakui kelincahan
Selena dalam membunuh Ragen, dari keseluruhan Ragen yang telah dibantai hampir sebagian besar mati di tangan Selena, ditambah dengan kesibukan Selena yang berusaha melindungi Sania dan Austin yang memiliki skill pas-pasan dalam
membela diri.
Tak berapa lama suara desingan peluru terdengar, sepertinya teman-teman Ignis yang lain menyadari kehadiran mereka dan memutuskan ikut membantu membasmi para Ragen. Selena merasa kualahan menghadapi para Ragen yang tidak ada habisnya, selama ini ia mengandalkan
kekuatan materia yang terdapat di tangan kirinya. Namun karena insiden di Uata tangan kirinya cidera yang hingga kini belum sembuh, ditambah Austin yang berada di dekatnya memperburuk keadaan dengan gaya bertarungnya yang payah.
Selena hampir terterkam seekor Ragen, beruntung salah seorang teman Ignis muncul dari dalam gedung dan menebas Ragen itu tepat sebelum menyentuhnya.
“Cepat masuk,” teriak salah seorang pria paling dekat dengan gedung yang mereka gunakan untuk berlindung.
Satu persatu mereka pun mundur perlahan mendekati gedung dan masuk kedalam. Terakhir Selena lah yang masuk gedung setelah sempat melempar salah satu light boom yang dimilikinya. Ledakan dasyat disusul dengan seberkas sinar langsung menyapu bersih apa saja yang
disentuh ledakan bom itu. Selena cukup beruntung tepat waktu menutup pintu gedung dan menahannya agar tidak terbuka saat getaran bom itu menerpanya. Dengan napas terengah-engah Selena bersandar di pintu, baru disadarinya ada
seorang pria tepat di sampingnya membantu menahan pintu. Pria bermata biru es yang dicarinya tepat di depan matanya sekarang.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya pria itu.
“Ya, thanks,” sahut Selena mengalihkan pandangannya setelah menatap pria itu terlalu lama.
“What the hell is that?” gumam seseorang memecah kebisuan di antara mereka.
“Light boom, itu akan membuat kita aman malam ini,” jelas Selena. “Apa kalian telah memeriksa gedung ini?”
“Ya, semuanya aman,” jawab pria bermata biru itu.
“Tidak ada seekor Ragen pun di dalam gedung?” desak Selena.
“Ummm… ada beberapa Ragen disalah satu ruangan. Kami mengurungnya di sana,” jawab pria lainnya yang kini berdiri di dekat Sania.
“Kalian membiarkannya hidup,” kata Selena sambil berdecak tidak percaya. “Kita akan menjadi kudapan mereka nanti malam,” lanjutnya sambil melangkah pergi dengan pria bermata biru mengikutinya.
“Di mana mereka?” Tanya Selena tanpa menoleh.
“Ruangan paling ujung,” jawab pria itu.
Sesampainya di ruangan tempat mengurung Ragen, Selena memeriksanya dengan mendengarkan dengan seksama. Hanya dengan sekali tendang pintu itu terbuka, disusul Selena yang masuk dan memberondong Ragen-Ragen itu dengan lasergunnya. Pria yang mengikutinya hanya bisa ternganga dengan kecepatan Selena bertindak, bahkan ia belum sempat berpindah tempat saat gadis itu telah membantai Ragen yang ada di dalam ruangan itu.
“Wow,” gumam pria itu saat Selena keluar.
Selena hanya memutar bola matanya jengah dan pergi meninggalkan pria itu yang kini tengah memeriksa ruangan tersebut memastikan tidak ada Ragen yang masih bergerak.
--- TBC ---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments