Selena menanggalkan bajunya dan memperhatikan punggungnya yang terasa nyeri. Ada luka memar di sana hadiah dari perkelahiannya dengan para preman tadi siang, bagaimana pun juga ia hanyalah manusia biasa meski bisa menahan sakit, tetapi tubuhnya masih bisa terluka. Ia mengaduk-aduk isi ranselnya berharap ada sesuatu yang bisa digunakan untuk luka memar itu. Namun kenyataannya ia tidak membawa satu obat pun, Selena meletakkannya di dalam mobil dan mobil itu telah hilang tentu saja persediaan obatnya ikut menghilang. Selena berdecak kesal mengingatnya.
“Kau terluka?” kata seseorang di belakangnya membuat Selena terkejut.
“Apa yang kau lakukan di sini, keluarlah!!!” bentak Selena berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
“Aku bisa mengobatinya,” ucap Matthew keras kepala.
“Jangan coba-coba melakukannya,” ancam Selena, ia tidak berani berbalik atau pun bergerak. Sebagian tubuhnya telanjang dan pakaiannya terlalu jauh untuk ia gapai.
Matthew tidak menggubris ancaman Selena sedikit pun, ia melepas jaketnya dan menyampirkan pada tubuh bagian depan Selena saat ia berdiri tepat di belakang gadis itu.
“Gunakan ini jika kamu takut aku melihatnya,” kata Matthew lembut.
Selena yang terkejut dengan perlakuan Matthew padanya hanya bisa diam membisu. Ia bisa mencium aroma maskulin pria itu yang tertinggal dijaketnya.
“Kenapa kamu selalu seenaknya sendiri mengobati orang lain?” Tanya Selena, diliriknya Matthew yang mulai mengoleskan obat pada memarnya.
“Aku dokter, mana mungkin aku membiarkan sebuah luka tanpa terobati,” kata Matthew kalem.
Tak ada yang bisa dilakukan Selena selain mendengus kesal dan membiarkan Matthew merawat lukanya. Matthew memperhatikan Selena dari belakang karena gadis itu diam membisu entah apa yang dipikirkan gadis itu, tapi sesuatu membuat wajah Selena merona merah.
“Selena, wajahmu memerah,” goda Matthew tercengir.
Mendengar ledekan Matthew, Selena menoleh dan menatap tajam. Kekesalannya kembali terlihat melihat cengiran Matthew. Ia berbalik berniat menampar pria itu, tetapi tamparannya meleset karena Matthew mundur menghindarinya dan yang terjadi selanjutnya adalah Selena kehilangan keseimbangan karena tersandung kakinya sendiri dan terjatuh. Ia tidak jatuh sendirian, Selena bisa merasakan tubuh seseorang berada di bawahnya. Ia menatap Matthew yang sama terkejutnya dengannya, tangan Matthew reflek melingkar ditubuh Selena yang separuh telanjang.
“Hati-hati,” bisik Matthew.
Selena hanya mengacuhkannya berusaha bangun, sedikit kesulitan karena dia harus mempertahankan jaket Matthew agar tetap menutupi bagian depan tubuhnya. “keluarlah sebelum aku membuatmu menjadi daging cincang” perintahnya.
“Baiklah,” dengus Matthew geli, ia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu. “Wajahmu tambah merah,” cengir Matthew segera keluar sebelum sebuah benda menghantam pintu pada ketinggian sejajar kepalanya. Ia membuka pintu sedikit, “bidikan yang bagus,” kata Matthew sebelum menutup pintu kembali.
“Matthew!!!” teriak Selena kesal.
Matthew tidak bisa menghentikan tawanya saat berjalan keruangan di mana teman-temannya berkumpul, ia tidak mengira bisa melihat rona merah dipipi Selena saat ia mengobati lukanya atau saat mereka jatuh bersama. Gadis itu terlalu dingin untuk bisa menunjukkan hal seperti itu. Tony yang melihat Matthew kembali dengan terpingkal-pingkal merasa heran apa lagi ia sempat mendengar teriakan Selena yang kencang.
“Kau kenapa?” Tanya Tony penasaran.
Matthew menggeleng berusaha meredakan tawanya, “tidak ada apa-apa.”
“Tidak mungkin,” kata Tony tidak percaya.
“Aku hanya mengobati luka Selena,” elak Matthew.
“Dia terluka?” Tanya Ignis terkejut.
“Hanya memar di punggung, mungkin dia jatuh tadi,” terang Matthew sambil tersenyum.
“Aku berhutang keripik kentang padanya karena telah menjaga Sania dengan baik,” kata Tony membaringkan tubuhnya.
“Kita semua berhutang nyawa padanya,” ralat Ignis.
Malam kian larut, hanya tinggal Matthew yang belum tidur, ia masih teringat bagaimana para preman tadi memperlakukan Selena. Kemarahannya langsung memuncak saat tangan pria itu dengan sangat memuakkan menyusuri tubuh Selena. Ingin rasanya ia mematah-matahkan tangan preman itu dengan tangannya sendiri. Saat sedang larut dalam lamunan, sayup-sayup Matthew mendengar langkah kaki seseorang. Selena datang menghampirinya dengan jaket di tangan kanan.
“Ini kukembalikan,” kata Selena menyerahkan jaket itu. Kekesalannya telah mereda dilihat dari bagaimana dia berbicara.
Matthew mengambil jaketnya dan meraih tangan Selena untuk mencegah gadis itu pergi, ia menarik Selena hingga terduduk di sampingnya. “Tidurlah di sini masih banyak ruang yang tersisa,” pintanya tulus.
Selena mendengus kesal dengan sikap Matthew yang sering seenaknya sendiri tetapi ia menuruti permintaan pria itu. Ia memperhatikan teman-temannya yang lain, mereka semua telah terlelap tidur. Kemudian ia teringat sesuatu.
“Ini milikmu, jaga baik-baik,” kata Selena mengambil handgun dari balik punggungnya dan menyerahkannya pada Matthew.
Matthew memperhatikan handgun itu, ia bahkan lupa pada benda itu. “Baiklah”
“Dan kau juga membutuhkan ini,” kata Selena memberikan dua stock magazine dan sebuah peredam. “Pasang ini di handgunmu untuk meredam bunyi letusan senjata itu,” lanjutnya.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?” Tanya Matthew heran.
“Lakukan saja apa yang kusuruh dan simpan magazine itu,” decak Selena kemudian merebahkan diri di samping Matthew meninggalkan pria itu terjaga sendirian.
*****
Di sisi ruangan lain, Leo belum tidur meski ia tengah memejamkan mata. Pikirannya masih mengembara jauh kesuatu tempat. Bayangan Selena terus menari-nari dimatanya meski ia telah memejamkan mata. Sejak gadis itu bergabung hanya Ignis dan Matthew yang terlihat dekat, Leo hanya bisa memandanginya seakan tidak memiliki kesempatan untuk mendekat terlebih lagi dengan pertengkaran mereka kemarin dan tadi meski sejujurnya Leo sangat mengkhawatirkan Selena.
Dua kali gadis itu hampir termangsa Ragen dan siang tadi ia melihat bagaimana Selena dilecehkan para preman itu membuatnya marah tapi ia hanya bisa diam membeku tidak seperti Matthew yang berusaha keras memberontak. Leo tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Selena selanjutnya, bagaimana dia bisa lolos dari preman-preman itu, bagaimana dia bisa menyelamatkan mereka sedangkan Selena lah yang berada dalam posisi berbahaya. Ia begitu terkejut saat Selena terlihat lagi dengan tenang melepaskan teman-temannya dan mengajak mereka segera pergi.
Sayup-sayup Leo mendengar suara Selena, penasaran ia menoleh mencarinya dan mendapati Selena tengah berbicara dengan Matthew. Pria itu selalu saja memiliki alasan untuk mendekati Selena, pikir Leo muram. Selena bahkan mengembalikan handgun Matthew secara langsung.
Leo mendengus kesal membalikkan tubuhnya berusaha memejamkan mata lagi untuk tidur, ini kali pertamanya ia sulit melakukannya.
*****
Pagi menjelang hari sangat cerah tetapi kali ini mereka belum bisa melanjutkan perjalanan. Ignis tampak memeriksa kerusakan mobil yang mereka pakai sebelumnya dibantu Jimmy dan Tony. Selena membantu Sania menyiapkan sarapan dengan Austin yang menunggu sambil tak berhenti mengoceh layaknya komentator sepak bola. Leo masih terlelap tidur sedangkan Matthew telah menghilang keluar mencari persediaan obat sendirian.
Setelah sarapan siap semua mulai berkumpul, seperti biasa Ignis harus bersusah payah membangunkan Leo. Saat sarapan Ignis membicarakan rencananya hari ini pada teman-temannya, dia pun membagi tugas itu kepada temannya. Ignis merupakan ketua kelompok itu karena dianggap lebih tua dan matang dalam membuat rencana.
“Hari ini kita belum bisa melanjutkan perjalanan, mobil kita perlu perbaikan dan kita perlu membagi tugas,” ucap Ignis mengedarkan pandangannya pada teman-temannya sejenak.
“Jadi apa yang harus kami lakukan?” sahut Jimmy.
“Aku, kamu dan Austin mencari suku cadang mobil,” jawab Ignis disusul anggukan Jimmy dan Austin. “Tony persiapkan rute kita besok Sania akan membantumu. Kalian tetap di sini.”
“Ay..ay Kapten,” ucap Tony semangat.
“Selena, bisakah kamu yang mencari persediaan makanan,” Tanya Ignis menatap Selena.
“Ya, tak masalah,” jawab Selena.
“Kalau begitu, Leo akan menemanimu,” lanjut Ignis sukses membuat Selena tersedak minumannya. Leo yang sedang makan ikut melotot kearah Ignis memprotes keputusan itu.
“Tidak ada interupsi,” tegas Ignis melihat tingkah keduanya. “masing-masing telah mendapat tugas jadi setelah selesai makan cepat bersiap-siap,” perintah Ignis mengakhiri pembicaraan.
Beberapa temannya tampak terkikik geli melihat kedua orang itu, siapa pun tahu jika Leo dan Selena tidak begitu akur. Tak ada yang bisa membayangkan bagaimana mereka nanti bekerja sama dan Ignis sepertinya memang sengaja memasangkan mereka berdua.
Setelah mengambil ranselnya, Selena menghampiri Ignis, Jimmy dan Austin yang akan berangkat keluar mencari suku cadang mobil.
“Di mana kita mencari suku cadang mobil itu?” Tanya Jimmy menatap Ignis yang tampak berpikir.
“Mudah saja, cari aja di rongsokan mobil di jalanan. Kita bongkar dan pasang di mobil kita,” sahut Austin enteng yang langsung mendapat tatapan Ignis dan Jimmy. “Aku akan menunggu di luar” lanjut Austin salah tingkah.
“Ide bagus,” sela Selena yang mendengar usul Austin, “apa kalian melihat Matthew?” Tanyanya pada kedua pria yang masih berpikir itu.
“Dia sudah pergi tadi pagi, mencari obat,” jawab Ignis.
“Sendiri?” Tanya Selena heran.
“Iya, dia terbiasa pergi sendiri katanya akan lebih leluasa bergerak,” terang Ignis.
“Oh, begitu ya.” Tanpa disadari Selena, Leo telah bersiap di sampingnya.
“Ayo,” ajak Leo dingin. Segera Selena mengikuti Leo berangkat tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Selepas kepergian Selena dan Leo, Tony yang bertugas ditempat menghampiri Ignis yang masih bersiap-siap. Menatap kedua temannya sambil tersenyum geli melihat keduanya tampak tidak akur.
“Perang dunia ke empat akan segera berlangsung,” celetuk Tony.
“Itu tidak akan terjadi, mereka bisa mengatasinya dan kita tidak bisa membiarkan mereka terus bermusuhan,” ucap Ignis. “Sebaiknya kami juga pergi, semakin cepat diperbaiki akan semakin cepat kita mencapai Solarcity,” lanjutnya menepuk lengan Tony berpamitan.
Tak ada cara lain bagi mereka selain menerima usulan Austin dan seperti yang sempat dikatakan Selena, usulan Austin lebih baik dari pada mereka harus bersusah payah mencari bengkel atau toko khusus suku cadang mobil yang mungkin belum tentu mereka dapatkan.
*****
Leo berjalan didepan seolah tak peduli dengan sikap Selena. Namun bermacam-macam pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Ia merasa kesal karena harus pergi hanya berdua dengan Selena, sepertinya Ignis sengaja ingin mengerjai dirinya. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara mereka, hanya kadang Leo mengajak Selena memeriksa toko-toko yang berjajar di sepanjang jalan. Sesekali Leo melirik Selena yang lebih mempedulikan GPS yang berada di pergelangan tangannya. Dan mengingat pertanyaan Selena pada Ignis sebelum berangkat praktis membuat moodnya semakin buruk.
Setelah benar-benar tak ada percakapan diantara mereka selain perintah dari Leo untuk memeriksa setiap tempat, Selena memutuskan memeriksa GPSnya untuk mengetahui lokasi Matthew berada. Ia tidak ingin kehilangan pria itu lagi tapi sepertinya langkah yang ia ambil berlawanan arah dengan Matthew. Selena menghembuskan nafasnya dalam-dalam, setidaknya Matthew berjalan dengan kecepatan konstan dan sesekali titik merah di GPSnya berhenti yang menandakan Matthew tengah berhenti disuatu tempat. Sepertinya Matthew tidak berencana untuk melarikan diri.
Selena melihat sekilas kearah Leo, pria yang teramat sangat dingin itu sebenarnya telah menyelamatkan dirinya dua kali tetapi pria itu seakan tidak pernah melakukannya terlebih lagi dia justru menganggap Selena orang yang merepotkan.
Waktu telah lewat tengah hari saat Selena dan Leo mendapatkan cukup makanan. Keduanya memutuskan untuk kembali ke camp sementara mereka. Saat dipertengahan jalan Selena melihat minimarket khusus menjual cellphone. Dengan semangat dia memasuki minimarket itu mengingat cellphonenya telah hancur kemarin dan dia sangat butuh penggantinya. Leo yang berjalan di depan panik saat melihat Selena tidak ada dibelakangnya saat ini. Dia pun mencari-cari ke jalan yang dilaluinya tadi. Sampai pada sebuah minimarket, dia melihat Selena sedang asyik memilih-milih cellphone. Dengan hati-hati dia mendekati Selena.
“Apa kamu sudah selesai?” Tanya Leo mencoba bersabar.
“Sebentar,” jawab Selena tidak melepas pandangannya dari deretan gadget yang ada di depannya.
Leo pun beranjak pergi menuju deretan stand lainnya, membiarkan Selena yang masih asyik sendiri. Dilihatnya berbagai macam aksesoris gadget terpampang di sana. Sesekali Leo mengecek keadaan Selena dan betapa terkejutnya saat dia melihat tepat di depan gadis itu berdiri seekor Ragen. Leo yang panic melihat Selena diam saja tanpa sengaja menyenggol sebuah rak pajangan dan menghamburkan isinya ke lantai membuat kegaduhan di sana. Belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya, Leo mendengar desingan halus dari lasergun milik Selena bersaut-sautan. Ternyata mereka telah terkepung beberapa Ragen.
Dengan ganas para Ragen itu menyerbu mereka. Selena dengan cepat segera menghabisi Ragen itu satu persatu. Leo segera menghampiri Selena, lari adalah jalan satu-satunya untuk lolos dari tempat itu, namun pintu keluar telah terhadang oleh para Ragen. Leo segera membawa Selena kelantai atas minimarket, sesekali tangannya menebas kepala Ragen yang berusaha menerkam mereka. Saat-saat terjepit, Leo melihat satu ruangan yang terlihat cukup baik untuk bersembunyi sementara.
“Selena, cepat masuk keruangan itu,” perintah Leo sambil menunjukan ruangan yang tak jauh di depannya. Keduanya lari pontang panting memasuki ruangan itu dan segera menutupnya rapat-rapat. Beruntung di dalam ruangan tersebut terdapat almari yang kuat untuk memblokade pintu agar para Ragen tidak dapat masuk.
“Tidak bisakah kau tidak menimbulkan masalah sehari saja?!” Tanya Leo sarkastik disela-sela deru nafasnya yang memburu.
“Apa?!” Tanya Selena tak terima.
“Kalau kamu bisa hidup tanpa cellphone yang sudah tak berguna itu, kita tak akan mendapat masalah,” kata Leo ketus.
“Hei tidakkah kau ingat yang membuat kegaduhan di sana tadi?” kata Selena tak mau kalah.
“Itu karena aku terkejut melihatmu hampir dimangsa Ragen lagi tadi,” ujar Leo.
Kalau saja bukan karena pengendalian diri Selena yang baik, pertengkaran keduanya tidak akan selesai hanya karena mempertahankan ego masing-masing. Selena memilih beranjak pergi menjauh dari Leo agar pertengkaran ini tidak berbuntut panjang dan menimbulkan masalah baru. Dihempaskan tubuhnya pada sebuah sofa yang berjajar disalah satu sudut ruangan. Tak dipedulikannya suara-suara para Ragen yang menggeram berusaha memasuki ruangan atau pun Leo yang berjalan mondar-mandir di depan pintu. Saat ini otak Selena tidak bisa diajak kompromi, terasa buntu dan lelah untuk berpikir. Yang dia rasakan sejak berjalan bersama Leo tadi pagi hanyalah kekacauan. Dipijitnya keningnya perlahan untuk menyegarkan kondisi pikirannya tanpa dia sadari Leo berjalan mendekatinya.
“Minumlah” kata Leo sambil menyodorkan sebotol minuman, dilihatnya gadis itu tampak kacau.
Selena dengan terkejut mendongakkan kepalanya dan cepat-cepat menerima botol itu dari tangan Leo. Diteguknya pelan-pelan air dalam botol, dia bahkan lupa memasukkan minuman dari daftar belanjanya tadi. Leo duduk dilantai, tak jauh di depan Selena.
“Kita harus segera pergi dari sini,” kata Leo melihat Selena telah selesai minum.
“Ya, aku setuju,” sahut Selena, ia menghampiri jendela kaca dan memeriksanya.
Di luar masih tampak damai dibandingkan di sana yang terus terdengar suara geraman Ragen. Selena tampak mundur dan mulai menembaki kaca itu di beberapa tempat, sebelum menendangnya hingga hancur berkeping-keping. Leo yang hanya memperhatikan mendengus kesal dengan kegegabahan Selena.
“Kita tidak bisa keluar lewat sana, terlalu tinggi untuk melompat,” cibir Leo.
“Aku bisa, jika kamu tidak ingin melompat carilah jalanmu sendiri,” kata Selena kesal.
Leo berjalan ke tepian untuk melihat seberapa tinggi mereka berada. Saat masih larut dalam pikirannya Selena tiba-tiba menggenggam erat tangannya yang sontak membuatnya menoleh.
“Kita lompat bersama,” ajak Selena maju selangkah. “Atau aku perlu mendorongmu?”
Leo seharusnya tahu, sikap manis Selena tidak akan bertahan lama tapi setidaknya tangan mereka saling menggenggam. “Tak perlu.”
Keduanya tampak melompat dari dalam gedung itu, Leo tampak tidak yakin kalau mereka bisa selamat tanpa cidera. Namun di detik-detik terakhir mereka menyentuh tanah sesuatu tampak menahan tubuhnya agar tidak menyentuh tanah di bawahnya.
“Syukurlah, kau tidak berteriak,” kata Selena yang tersenyum memandangi Leo yang sedikit pucat. Ia kemudian melepas genggamannya dan melangkah pergi terlebih dahulu tanpa memberi kesempatan Leo untuk bertanya.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan kebisuan, meski Leo teramat sangat ingin bertanya tentang hal yang baru saja terjadi. Tetapi Selena yang berjalan di depannya tidak menggubrisnya sama sekali. Selena kembali mengecek GPS dan menemukan titik merah itu telah kembali ke tempat mereka bermalam. Setetes air jatuh di telapak tangan Selena, gadis itu langsung menengadahkan kepalanya, awan telah menggulung hitam dan rintik hujan mulai turun dan jika telah seperti itu para Ragen akan keluar berpesta dengan keagresifan lebih tinggi.
“Kita harus cepat,” kata Leo yang juga menyadari bahaya di depan mereka.
“Tidak akan cukup waktu untuk kembali ke sana, kita harus mencari tempat berlindung lain,” sergah Selena.
Suara langkah dan geraman Ragen terdengar bersahut-sahutan, sesaat Leo dan Selena saling berpandangan. Mereka melihat sekelilingnya bayangan Ragen mulai menggeliat diberbagai sudut kota. Tanpa aba-aba mereka pun mulai berlari, Selena dengan laser gunnya telah siap menembaki setiap Ragen yang bermunculan. Ia tidak bisa memakai zirahnya sekarang, tidak disaat ada orang lain didekatnya dan terpaksa ia hanya mengandalkan laser gunnya.
Selena mengedarkan pandangannya kesekeliling, mereka tidak bisa terus berlari dengan Ragen yang membututi mereka. Disalah satu sudut blok, ia melihat tangga darurat menuju atap bangunan. Jalan keluar yang sejak tadi ia cari, tanpa banyak bicara ia meraih tangan Leo dan menariknya mendekati tangga itu. Leo menoleh dengan penuh tanda tanya. Namun Selena memang sedang tidak ingin bicara padanya. Di bawah derasnya hujan mereka harus bersusah payah menyelamatkan diri.
“Cepat naik,” perintah Selena setelah tepat di depan tangga itu.
“Apa?” Tanya Leo bingung.
“Cepat lakukan kita tidak punya banyak waktu,” tegas Selena.
Leo bisa melihat banyak Ragen semakin mendekat segera menaiki tangga itu, sedikit licin karena terguyur hujan. Selena berada tepat di bawahnya, sesekali Leo bisa melihat Selena menembaki Ragen yang berusaha menaiki tangga itu untuk mengejar mereka.
“Kenapa kau tidak naik duluan?” teriak Leo gusar.
“Dan membuatmu mendapat pemandangan bagian bawah tubuhku,” maki Selena di tengah kesibukannya menaiki tangga dan menembaki Ragen.
Leo yang mendengar jawaban Selena hanya bisa menyumpah dan berusaha secepat mungkin sampai di atas. Sesampainya tangga di atas, Leo segera membantu dan menarik Selena agar cepat mencapai atap. Di bawah sana beberapa Ragen beusaha keras memanjat tangga itu Selena terus saja menembaki mereka tak hanya Ragen, tetapi pengunci tangga yang tertambat di dinding bangunan. Setelah dirasa cukup, Selena menendang tangga itu hingga roboh beserta Ragen yang berusaha memanjat.
“Bagaimana kita keluar dari sini?” Tanya Leo tidak lepas memandangi jalanan di bawah.
“Kita pikirkan besok,” jawab Selena singkat.
“Kau berencana bermalam di sini, di tempat terbuka?” Tanya Leo tidak percaya.
“Ada ruang perawatan gedung, kau bisa memeriksanya kalau tidak keberatan dan jika beruntung kau bisa mendapatkan satu atau dua Ragen,” kata Selena sambil menunjuk sebuah ruangan di atap gedung itu.
Leo memandangi tempat yang ditunjuk Selena, dengan kesal ia melangkah ke sana dan memeriksanya membiarkan Selena yang berjalan mengelilingi atap gedung itu. Ia menyiapkan pedangnya sebelum membuka ruangan itu, beruntung tempat itu tidak terkunci sehingga ia tidak perlu bersusah payah mendobraknya. Diedarkan pandangannya kedalam ruangan yang cukup luas itu, terlihat nyaman dan bukan ruang perawatan gedung seperti yang dikatakan Selena. Tempat itu lebih mirip tempat tinggal mungkin untuk petugas penjaga gedung atau petugas kebersihan.
“Tidak ada Ragen ya, sayang sekali,” desah Selena dari ambang pintu.
Leo berdecak dan memutar bola matanya, gadis itu memang tidak bisa dipercaya sama mengesalkannya seperti Matthew. Mungkin itu yang membuat mereka dekat, pikiran Leo kembali mengingat kedekatan kedua orang itu.
“Tidak ada jalan untuk Ragen itu sampai di sini,” kata Selena memberitahu Leo yang diam saja.
Hujan deras terus mengguyur di luar dan mereka berdua basah kuyup. Selena meletakkan ranselnya di sebuah sofa tua di ruangan itu, ia mulai menggigil merasakan dinginnya udara. Leo telah sibuk membongkar tasnya dan meraih pakaiannya. Ia kedinginan dan basah, sesuatu yang dibencinya dan dengan acuh telanjang tanpa mengingat Selena yang berdiri satu ruang dengannya. Selena membelalakkan matanya tidak percaya melihat kelakuan Leo, meski pria itu membelakanginya tetap saja itu memalukan. Dengan kesal ia beranjak ke pintu dan memandangi hujan yang turun.
“Kau tidak mengganti pakaianmu?” tegur Leo telah berdiri di belakang Selena, ia bisa melihat tubuh Selena menggigil.
“Aku meninggalkan pakaianku di tempat semalam,” jawab Selena.
Untuk beberapa saat tidak terdengar lagi suara Leo membuat Selena penasaran dan menoleh ke mana pria itu pergi. Leo mendekatinya kembali dengan sebuah kaos di tangannya.
“Pakailah,” pintanya mengangsurkan kaos yang dibawanya.
“Tidak perlu,” tolak Selena.
“Ganti bajumu, aku tidak ingin kerepotan jika besok kau sakit,” tegas Leo.
“Tinggalkan saja aku jika besok aku sakit,” kata Selena keras kepala.
“Baiklah jika kamu keras kepala, aku sendiri yang akan menggantikan pakaianmu,” ancam Leo mulai mendekati Selena.
“Jangan coba-coba melakukannya,” gertak Selena merapat ke dinding namun tidak menghentikan langkah Leo mendekatinya. Selena yang panik segera menyambar kaos ditangan Leo. “Okay, aku akan ganti baju. Tapi jangan coba-coba mengintip atau aku akan menembak kepalamu,” katanya menjauhi Leo.
Leo tersenyum melihat Selena memucat ketika ia mendekatinya. Gadis itu tidak takut pada Ragen atau preman, tapi gertakannya mampu membuatnya panik.
*****
Hujan deras masih mengguyur kota hingga hari mencapai remang senja. Terjebak berdua tidaklah menyenangkan jika orang yang bersamamu adalah orang yang membuatmu kesal berkali-kali, itulah yang dirasakan Leo maupun Selena. Sejak insiden baju, Selena dan Leo sama sekali tidak saling berbicara. Selena yang jenuh dengan keadaan dingin seperti ini memutuskan untuk mengambil cellphonenya yang rusak tak lupa sebuah lampu portable dikeluarkan dari dalam tasnya.
Dilihatnya lekat-lekat benda yang telah hancur itu secara teliti, kemudian dibongkarnya dengan peralatan yang dia dapat tadi siang. Ia melepas sarung tangan yang masih membalut kedua telapak tangannya saat mulai kesulitan mengerjakan pekerjaannya. Leo yang tiduran tidak jauh dari tempat Selena diam-diam memperhatikan apa yang dikerjakan gadis itu, ia juga bisa melihat tangan kiri Selena yang masih terbalut perban.
“Apa itu masih sakit?” tanya Leo yang telah bangkit dan mendekati Selena, ketika Selena membuka perban dari telapak tangan kirinya.
Selena menghentikan aktifitasnya dan mendongak melihat Leo yang kini di depannya, “sedikit, tapi tidak sesakit saat Matthew mengobatinya,” jawabnya mengingat malam ia bertemu mereka pertama kali.
“Apa yang terjadi, bagaimana kau bisa terluka?” Tanya Leo penasaran.
“Menyelamatkan orang-orang saat kekacauan di Uata,” jawab Selena.
Kekacauan di Uata, Leo dan teman-temannya juga di sana saat itu bertemu Austin dan Matthew. Keheningan kembali menyelimuti mereka, Selena telah disibukkan kembali dengan cellphone di depannya itu.
“Kenapa kamu harus repot-repot dengan benda yang hampir tidak berfungsi itu?” cibir Leo.
“Aku dalam perjalanan mengantar paket, tanpa ini aku akan kesulitan untuk menghubungi si penerima paket,” jawab Selena santai.
“Kau tetap tidak akan bisa menghubungi dengan itu,” bantah Leo.
“Charon technology at its finest,” kata Selena memperlihatkan microchip yang dikeluarkannya dari cellphone yang hancur. “Ini membantu untuk menghubungi siapa pun di luar sana, Charon memiliki fasilitas terbaik dengan satelit tercanggih di dunia. Aku tidak akan meragukannya,” lanjutnya.
Leo tampak membelalakkan matanya melihat benda kecil itu tidak percaya. Gadis di depannya bukan sembarang gadis dia rasa. “Apa kamu anggota Guardians Charon?” tanyanya.
“Bukan, aku tidak bekerja untuk Charon meski sesekali mereka menghubungiku untuk mengirim barang mereka,” jawab Selena.
“Maaf, kemarin aku telah memarahimu karena itu,” kata Leo menyesali perbuatannya kemarin. Dia juga ingat kata Ignis kalau Selena pasti punya alasan yang bagus hingga dia mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil cellphonenya.
“Lupakan saja,” jawab Selena.
Leo pun tersenyum mendengar perkataan Selena. Dia merasa tak buruk telah terperangkap bersama Selena. Bahkan es yang membeku puluhan tahun lamanya juga bisa mencair pada akhirnya. Sisa malam itu mereka lewati dengan bercengkerama bersama hingga Selena memutuskan tidur, sedangkan Leo mengecek
pintu memastikan mereka aman sampai pagi.
*****
Di sebuah mall disuatu tempat tampak tiga orang pria berbadan kekar tengah berjalan menaiki lantai teratas. Tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangan mereka, mall terasa sunyi tidak seperti saat ketiga pria itu meninggalkan tempat itu. Suasana semakin mencekam ketika mereka sampai di lantai teratas, samar anyir darah terhembus. Dengan perasaan tidak nyaman mereka menghampiri sebuah ruangan di mana para penghuni mall biasa berkumpul.
Ketika salah seorang dari mereka membuka pintu, pemandangan mengerikan tersaji
di depan mereka. Mayat-mayat bergelimpangan di kubangan darah. Seorang yang merupakan pimpinan mereka itu menggertakkan giginya menahan amarah melihat anak buahnya mati mengenaskan dan di ujung ruangan, mayat adiknya tergeletak dengan luka tusukan di jantungnya. Seketika teriakan amarah menggema disegala penjuru mall itu.
“Bos, kami mendapatkan rekaman penyerang mereka” kata seorang anak buahnya.
“Sebaiknya kita mulai berburu. Akan kupastikan gadis itu mati di tanganku,” kata si bos itu dengan dendam membara.
--- TBC ---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments