Sudah beberapa hari semenjak kejadian penyerangan di kota tempat mereka tinggal, Ignis dan kawan-kawannya masih terluntang-lantung
berjalan tanpa memiliki tujuan yang pasti. Beberapa tempat telah mereka lewati,
semuanya berakhir sama. Para Ragen terus menyebar tanpa terkendali, semakin sedikit kota yang masih bertahan dari bencana kehancuran. Namun tidak sedikit yang gagal mempertahankan kota, meski pihak militer berusaha membantu dengan cara mengisolasi kota-kota yang masih aman. Sedangkan kota yang telah dikuasai Ragen,
pihak militer berusaha menumpasnya sehingga terlihat seperti medan perang.
Tidak hanya sekali dua kali Ignis dan kawan-kawannya terjebak dalam kerusuhan, baik kerusuhan akibat penjarahan maupun akibat
serangan Ragen. Dan saat ini mereka tengah berjuang meloloskan diri dari serangan Ragen, di tengah kota Uata bersama para survivor yang lainnya. Mobil mereka melaju sedikit tersendat akibat banyaknya orang yang berlarian panik
tanpa arah, para Army terlihat berusaha menolong sebisa mereka yang masih bisa diselamatkan.
Rentetan bunyi peluru terdengar tiada habisnya, para survivor yang memiliki mobil memilih melarikan diri keluar kota. Menjauhi hiruk-pikuk massa yang tengah kacau balau. Sedangkan orang-orang yang berlarian segera dikumpulkan ke suatu tempat tertutup oleh para Army, menjauhkan mereka dari terkaman para Ragen yang terus mendesak.
Ignis mencoba berkonsentrasi penuh menyetir mobil agar bisa meloloskan diri menuju luar kota. Tony sebagai orang yang ahli dalam IT, duduk
di samping Ignis untuk mengarahkan rute pelarian tercepat dan teraman. Mereka kini terjebak di tengah kota, di antara kemacetan lalu lintas yang kacau. Sedangkan jauh di belakang mereka para Army semakin terdesak, karena jumlah para Ragen semakin bertambah. Leo yang mengawasi sekeliling mobil, tanpa sengaja melihat seorang pria tengah berjuang menyelamatkan temannya yang terjebak di dalam himpitan mobil.
“Ignis berhenti, kita harus menolong mereka.” Leo menunjuk orang yang dilihatnya.
“Apa kau gila,” sergah Ignis mengetahui situasi semakin genting.
“Cepatlah, kita tidak punya waktu,” desak Leo.
Mau tidak mau Ignis menuruti permintaan Leo. Ia menghentikan mobilnya dan membiarkan Leo turun membantu pria itu diikuti Jimmy. Mereka
menghampirinya setengah berlari.
“Mari kubantu.” Leo mulai memposisikan diri bersiap mendorong mobil yang menjepit teman pria itu di dalam mobil.
Pria itu menoleh, “terima kasih”
Dibantu Jimmy dan Leo, mereka mulai mendorongnya. Posisi mobil yang tidak begitu menguntungkan, membuat mereka kesulitan mendorong mobil itu agar terlepas dari jepitan mobil lainnya.
“Cepat!” teriak Ignis dari dalam mobil.
Desingan peluru terdengar semakin dekat, para Ragen mulai lolos dari pengawasan para Army. Jimmy yang melihat beberapa Ragen mendekati
mereka segera melepaskan pedangnya dan memasang kuda-kuda, untuk melindungi Leo
dan kedua pria yang berusaha ditolongnya. Perlahan-lahan mobil itu pun mulai bergeser, tetapi para Ragen yang datang semakin banyak membuat Jimmy semakin kualahan. Tony yang melindungi mereka dari dalam mobil dengan pistolnya, tidak begitu banyak membantu. Tepat disaat mereka mulai terjepit, seseorang dengan
balutan baju zirah datang membantu.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya orang dibalik helm zirahnya dingin.
“Mengeluarkan dia,” jawab Leo masih berusaha mendorong mobil.
“Minggir,” kata orang itu pada Leo dan temannya.
Meski sedikit ragu, ke dua orang yang tengah berusaha menyingkirkan mobil yang tengah menjepit seorang pria itu segera minggir. Tanpa
menunggu lama, orang berzirah itu menendang mobil rongsokan itu hingga terpental jauh dan melindas para Ragen yang semakin mendekat.
“Cepat keluarkan dia dan segeralah pergi dari sini!” perintah orang itu kemudian memberikan perlindungan pada mereka.
Leo dan pria yang dibantunya berhasil mengeluarkan orang yang di dalam mobil, meski tampaknya orang itu mengalami luka akibat benturan. Mereka pun membawanya ke dalam mobil Leo. Belum sempat pria pirang yang dibantu
Leo tadi memasuki mobil, kembali orang berbaju zirah itu mendekatinya.
“Kau membutuhkan ini,” kata orang itu sambil menyerahkan sebuah handgun pada pria pirang itu. “take care,” lanjutnya kemudian berbalik
pergi sebelum menerima jawaban.
Pria pirang itu tampak bingung, meskipun demikian ia segera menyimpan handgun itu lalu masuk ke mobil Leo. Melihat semua sudah masuk mobil, Ignis kembali menjalankan mobilnya menjauhi tempat itu yang semakin kacau
balau. Diam-diam Leo masih mengamati orang berbaju zirah yang kini tengah berjuang bersama para Army memberantas Ragen.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap orang yang tadi terjepit di dalam mobil memecah kebisuan.
“Bukan masalah” jawab pria pirang itu.
“Aku, Austin. Siapa nama kalian?” tanya pria itu.
“Matthew,” jawab Si pirang memperkenalkan diri.
“Leo dan ini teman-temanku. Jimmy, Tony, Sania dan Ignis.” Leo menunjukkan satu per satu teman-temannya.
Leo kembali menoleh ke belakang saat mendengar ledakan dari tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Matthew yang sama penasarannya ikut memperhatikan apa yang tengah terjadi. Ia bisa melihat orang berzirah yang baru saja memberikan handgun padanya tengah menghadang gelombang besar Ragen, dari
kedua tangannya muncul cahaya putih yang semakin membesar yang dalam hitungan
detik cahaya itu telah dilemparkan pada para Ragen. Cahaya itu pun meledak hingga menghanguskan sebagian besar Ragen yang terkena ledakan. Matthew sedikit terkejut melihat orang itu roboh setelahnya, entah kenapa hatinya menjadi cemas. Dan kecemasannya bertambah melihat gelombang kedua para Ragen kembali
berlarian kearahnya, dengan memaksakan diri oring itu kembali melontarkan cahaya putih itu lagi, lebih besar dari sebelumnya. Meski hanya dengan tangan kirinya semua Ragen yang berada di depannya lenyap tidak bersisa.
“Guardians…” gumam Jimmy yang ternyata juga memperhatikan.
“Kita beruntung hari ini,” desah Tony yang berada di depan.
“Apa kamu mengenalnya?” Tanya Leo pada Matthew.
“Tidak, aku tidak mengenalnya,” jawab Matthew bingung.
“Dia memberikan handgun padamu kan,” desak Leo.
“Ya…” Matthew memang tidak mengenal seorang pun dari unit Guardians, jadi ia pun sedikit bingung ketika orang itu memberinya senjata tadi. Matthew mengalihkan pandangannya pada Tony yang duduk di sampingnya. “Apa kau terluka?”
“Hanya kaki ku yang terasa sakit,” jawab Austin.
“Biar ku periksa.” Matthew menyuruh Tony menaikkan celana yang dikenakannya, “tenanglah, aku dokter,” lanjutnya melihat keraguan Tony.
Mendengar pengakuan Matthew, senyum sumringah Austin berkembang. Segera saja ia menuruti perkataan Matthew untuk mendapatkan
pengobatan.
“Sepertinya kau harus tetap bersama kami, Matt. Agar kita punya dokter pribadi,” sahut Tony dengan riang.
“Ke mana tujuan kalian?” tanya Matthew di tengah
kesibukannya mengobati luka Austin.
“Ke tempat yang aman,” jawab Ignis.
“Baiklah, sepertinya kita satu tujuan,” kata Matthew tidak menolak permintaan tadi.
“Yah… sepertinya aku pun juga searah dengan kalian,” sahut Austin disambut tawa yang lainnya.
***
Seorang kapten yang bertugas di kota Uata terlihat sedang berjalan mendekati orang berzirah yang baru saja membantunya. Orang itu tengah
melepas helm zirahnya, memperlihatkan sesosok wajah cantik nan dingin, dengan rambut pinknya yang langsung tergerai di pundaknya. Anak buahnya sedang menyisir lokasi terdekat untuk mencari orang yang selamat, membuatnya memiliki waktu untuk berbicara dengan gadis itu.
“Terima kasih, Angel. Sepertinya aku sangat beruntung hari ini,” kata Kapten itu sambil berdiri di depan gadis yang dipanggilnya Angel itu.
“Simpan saja ucapan terima kasihmu, aku ke sini bukan untuk menolongmu atau pun pasukanmu.” Angel menonaktifkan baju zirahnya.
“Kau masih sama dinginnya sejak aku mengenalmu,” kata kapten itu sambil tergelak.
“Aku sedang mengejar target ku dan sekarang dia lolos lagi,” ucap Angel mendengus kesal memandangi jalanan yang kini lengang, kemudian
memeriksa layar hologram di jam tangannya. Beruntung ia sempat bertemu dengan targetnya, sekarang ia bisa melacaknya berkat pelacak yang diberikannya secara diam-diam.
“Sudah kuduga, apa itu yang kau lakukan di Nibelhim juga?” tanya Sang Kapten mengetahui beberapa hari yang lalu pasukan yang bertugas di
Nibelhim, mendapat bantuan gratis saat mereka dilanda kehancuran.
“Ya,” jawab Angel pendek, dilepasnya sarung tangan kirinya untuk memeriksa telapak tangannya yang terasa nyeri. Luka bakar yang lumayan parah akibat memaksakan diri menggunakan kekuatannya, terlihat di telapak
tangan.
“Kau harus mengobati lukamu.” kapten itu yang nampaknya juga memperhatikan luka itu.
“No time. Aku harus pergi sebelum kehilangan jejak targetku,” tolak Angel berjalan meninggalkan Sang Kapten.
“Hai Angel, kakakmu mencarimu!” teriak kapten itu sebelum Angel menghilang.
“Katakan aku baik-baik saja,” ujar Angel sambil melambaikan tangan.
Kapten itu hanya bisa memandangi Angel hingga masuk ke dalam mobilnya, sebelum meluncur meninggalkan kota Uata melanjutkan misinya.
***
Senja menjelang, Ignis dan teman-temannya telah jauh meninggalkan kota Uata. Kini mereka menyusuri kota kecil yang sunyi tak berpenduduk. Mereka mengawasi sekelilingnya dengan teliti untuk mencari tempat bermalam, karena melanjutkan perjalanan di malam hari sangat berbahaya. Para Ragen bisa muncul di mana saja, terlebih lagi mereka semakin gesit saat matahari
tidak bersinar.
Perlahan-lahan Ignis membawa mobilnya merapat kesebuah rumah bertingkat yang terlihat kosong. Satu persatu mereka turun dari mobil, sambil
mengendap-endap mereka berjalan memasuki gedung itu. Diperiksanya setiap ruangan, tapi yang mereka temukan hanyalah barang-barang yang berserakan di lantai dan beberapa perabotan yang hancur. Tak lupa mereka segera memblokade setiap jendela dengan peralatan seadanya, yang mereka temukan di dalam rumah.
Malam harinya mereka berkumpul di lantai dua dengan pencahayaan minim, agar tidak mengundang perhatian para Ragen yang kini sudah mulai berkeliaran di jalanan. Suara Ragen pun terdengar hingga ke tempat mereka
berkumpul. Matthew duduk di tepian jendela sesekali mengamati tingkah para Ragen,
cahaya bulan purnama cukup memberinya penglihatan yang jelas untuk mengawasi
jalanan. Ia kemudian teringat handgun barunya dan mengambilnya dari dalam tasnya.
Dengan hati-hati Matthew menggenggam handgun silver itu dan mulai menelitinya. Jujur ia sangat kagum melihat handgun itu berbalut ukiran
yang futuristic, seakan senjata itu dibuat khusus oleh pembuatnya. Perlahan Matthew mengusap setiap ukiran itu dengan tangannya. Namun hatinya mencelus mendapati sebuah ukiran di ujung handgun itu. Sebuah nama terukir di sana, yang membuatnya teringat akan sebuah peristiwa berbulan-bulan yang telah lalu.
“Angel…” gumam Matthew pelan membaca nama pemilik handgun itu, tanpa terasa handgunnya merosot dari tangannya hingga terjatuh di dekat
kaki.
Jantungnya terasa berdegup semakin cepat. Matthew ingat.betul saat ia ditodong oleh seorang gadis di tengah malam, di rumahnya sendiri
dengan senjata yang sama yang kini diberikan padanya. Ingatan itu memang hanya sepenggal seakan ada bagian memori lainnya yang dipaksa keluar dari kepalanya hingga menghilang. Namun Matthew memiliki ingatan itu meski hanya sedikit. Ia tidak ingat wajah gadis itu, ia tidak ingat alasan kenapa ia akan dibunuh, tapi ia ingat nama gadis itu dan mata tajamnya.
“Nice gun,” tegur seseorang yang membuat lamunan Matthew buyar.
Dipandanginya handgun yang masih tergeletak didekat kakinya..“Ya sepertinya aku beruntung mendapatkan handgun sebagus ini secara gratis,”
kata Matthew tersenyum kecut, ia pun memungut kembali handgun itu.
“Dia sepertinya mengenalmu,” kata Ignis yang kini duduk di dekat Matthew.
“Mungkin, tapi dia baik hati sekali memberikan ini padaku..Kuharap bisa bertemu lagi untuk mengucapkan terima kasih,” kata Matthew. Atau penjelasan, batinnya.
“Itu akan menjadi hal yang sedikit mustahil, mengingat para.Guardians hanya datang atas kemauan mereka sendiri. Atau dengan bayaran yang tinggi,” sahut Ignis.
“Yah, ku harap yang ini akan berbeda,” kata Matthew penuh harap.
Kedua pria itu hanyut dalam percakapan hingga larut malam, sesekali mereka terlihat berkeliling untuk memastikan semua dalam keadaan aman.
Ignis dan Matthew pun langsung terlihat akrab, masing-masing dari mereka bercerita tentang pengalamannya selama bencana terjadi. Tidak lupa mereka menceritakan kehidupan masing-masing selama ini. Sudah lama Ignis tidak bertemu teman baru yang bisa langsung akrab seperti sekarang ini, selama ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman satu gengnya, yang lebih banyak membuatnya kesal karena tingkah kekanak-kanakkan mereka dibandingkan Matthew yang lebih dewasa. Namun tetap menyenangkan diajak bercerita.
Kini teman perjalanan mereka bertambah dua orang, Matthew dan Austin, yang bertemu saat kekacauan terjadi di Uata. Perjalanan mereka pun
semakin menyenangkan, setidaknya bertambah bala bantuan untuk saling menjaga, menghadapi bencana wabah Ragen yang telah meluluh lantakkan sebagian besar Negara Namrej.
--- TBC ---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Adhim Putra Mahenda
fav banget☺️
2021-10-16
2
💫PoPy💫
lanjuut Thor.... Kereeeen
2021-03-07
0
BossMU
mantap kaka
2021-01-10
0