Episode 2. New Friend

Sudah beberapa hari semenjak kejadian penyerangan di kota tempat mereka tinggal, Ignis dan kawan-kawannya masih terluntang-lantung

berjalan tanpa memiliki tujuan yang pasti. Beberapa tempat telah mereka lewati,

semuanya berakhir sama. Para Ragen terus menyebar tanpa terkendali, semakin sedikit kota yang masih bertahan dari bencana kehancuran. Namun tidak sedikit yang gagal mempertahankan kota, meski pihak militer berusaha membantu dengan cara mengisolasi kota-kota yang masih aman. Sedangkan kota yang telah dikuasai Ragen,

pihak militer berusaha menumpasnya sehingga terlihat seperti medan perang.

Tidak hanya sekali dua kali Ignis dan kawan-kawannya terjebak dalam kerusuhan, baik kerusuhan akibat penjarahan maupun akibat

serangan Ragen. Dan saat ini mereka tengah berjuang meloloskan diri dari serangan Ragen, di tengah kota Uata bersama para survivor yang lainnya. Mobil mereka melaju sedikit tersendat akibat banyaknya orang yang berlarian panik

tanpa arah, para Army terlihat berusaha menolong sebisa mereka yang masih bisa diselamatkan.

Rentetan bunyi peluru terdengar tiada habisnya, para survivor yang memiliki mobil memilih melarikan diri keluar kota. Menjauhi hiruk-pikuk massa yang tengah kacau balau. Sedangkan orang-orang yang berlarian segera dikumpulkan ke suatu tempat tertutup oleh para Army, menjauhkan mereka dari terkaman para Ragen yang terus mendesak.

Ignis mencoba berkonsentrasi penuh menyetir mobil agar bisa meloloskan diri menuju luar kota. Tony sebagai orang yang ahli dalam IT, duduk

di samping Ignis untuk mengarahkan rute pelarian tercepat dan teraman. Mereka kini terjebak di tengah kota, di antara kemacetan lalu lintas yang kacau. Sedangkan jauh di belakang mereka para Army semakin terdesak, karena jumlah para Ragen semakin bertambah. Leo yang mengawasi sekeliling mobil, tanpa sengaja melihat seorang pria tengah berjuang menyelamatkan temannya yang terjebak di dalam himpitan mobil.

“Ignis berhenti, kita harus menolong mereka.” Leo menunjuk orang yang dilihatnya.

“Apa kau gila,” sergah Ignis mengetahui situasi semakin genting.

“Cepatlah, kita tidak punya waktu,” desak Leo.

Mau tidak mau Ignis menuruti permintaan Leo. Ia menghentikan mobilnya dan membiarkan Leo turun membantu pria itu diikuti Jimmy. Mereka

menghampirinya setengah berlari.

“Mari kubantu.” Leo mulai memposisikan diri bersiap mendorong mobil yang menjepit teman pria itu di dalam mobil.

Pria itu menoleh, “terima kasih”

Dibantu Jimmy dan Leo, mereka mulai mendorongnya. Posisi mobil yang tidak begitu menguntungkan, membuat mereka kesulitan mendorong mobil itu agar terlepas dari jepitan mobil lainnya.

“Cepat!” teriak Ignis dari dalam mobil.

Desingan peluru terdengar semakin dekat, para Ragen mulai lolos dari pengawasan para Army. Jimmy yang melihat beberapa Ragen mendekati

mereka segera melepaskan pedangnya dan memasang kuda-kuda, untuk melindungi Leo

dan kedua pria yang berusaha ditolongnya. Perlahan-lahan mobil itu pun mulai bergeser, tetapi para Ragen yang datang semakin banyak membuat Jimmy semakin kualahan. Tony yang melindungi mereka dari dalam mobil dengan pistolnya, tidak begitu banyak membantu. Tepat disaat mereka mulai terjepit, seseorang dengan

balutan baju zirah datang membantu.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya orang dibalik helm zirahnya dingin.

“Mengeluarkan dia,” jawab Leo masih berusaha mendorong mobil.

“Minggir,” kata orang itu pada Leo dan temannya.

Meski sedikit ragu, ke dua orang yang tengah berusaha menyingkirkan mobil yang tengah menjepit seorang pria itu segera minggir. Tanpa

menunggu lama, orang berzirah itu menendang mobil rongsokan itu hingga terpental jauh dan melindas para Ragen yang semakin mendekat.

“Cepat keluarkan dia dan segeralah pergi dari sini!” perintah orang itu kemudian memberikan perlindungan pada mereka.

Leo dan pria yang dibantunya berhasil mengeluarkan orang yang di dalam mobil, meski tampaknya orang itu mengalami luka akibat benturan. Mereka pun membawanya ke dalam mobil Leo. Belum sempat pria pirang yang dibantu

Leo tadi memasuki mobil, kembali orang berbaju zirah itu mendekatinya.

“Kau membutuhkan ini,” kata orang itu sambil menyerahkan sebuah handgun pada pria pirang itu. “take care,” lanjutnya kemudian berbalik

pergi sebelum menerima jawaban.

Pria pirang itu tampak bingung, meskipun demikian ia segera menyimpan handgun itu lalu masuk ke mobil Leo. Melihat semua sudah masuk mobil, Ignis kembali menjalankan mobilnya menjauhi tempat itu yang semakin kacau

balau. Diam-diam Leo masih mengamati orang berbaju zirah yang kini tengah berjuang bersama para Army memberantas Ragen.

“Terima kasih sudah menolongku,” ucap orang yang tadi terjepit di dalam mobil memecah kebisuan.

“Bukan masalah” jawab pria pirang itu.

“Aku, Austin. Siapa nama kalian?” tanya pria itu.

“Matthew,” jawab Si pirang memperkenalkan diri.

“Leo dan ini teman-temanku. Jimmy, Tony, Sania dan Ignis.” Leo menunjukkan satu per satu teman-temannya.

Leo kembali menoleh ke belakang saat mendengar ledakan dari tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Matthew yang sama penasarannya ikut memperhatikan apa yang tengah terjadi. Ia bisa melihat orang berzirah yang baru saja memberikan handgun padanya tengah menghadang gelombang besar Ragen, dari

kedua tangannya muncul cahaya putih yang semakin membesar yang dalam hitungan

detik cahaya itu telah dilemparkan pada para Ragen. Cahaya itu pun meledak hingga menghanguskan sebagian besar Ragen yang terkena ledakan. Matthew sedikit terkejut melihat orang itu roboh setelahnya, entah kenapa hatinya menjadi cemas. Dan kecemasannya bertambah melihat gelombang kedua para Ragen kembali

berlarian kearahnya, dengan memaksakan diri oring itu kembali melontarkan cahaya putih itu lagi, lebih besar dari sebelumnya. Meski hanya dengan tangan kirinya semua Ragen yang berada di depannya lenyap tidak bersisa.

“Guardians…” gumam Jimmy yang ternyata juga memperhatikan.

“Kita beruntung hari ini,” desah Tony yang berada di depan.

“Apa kamu mengenalnya?” Tanya Leo pada Matthew.

“Tidak, aku tidak mengenalnya,” jawab Matthew bingung.

“Dia memberikan handgun padamu kan,” desak Leo.

“Ya…” Matthew memang tidak mengenal seorang pun dari unit Guardians, jadi ia pun sedikit bingung ketika orang itu memberinya senjata tadi. Matthew mengalihkan pandangannya pada Tony yang duduk di sampingnya. “Apa kau terluka?”

“Hanya kaki ku yang terasa sakit,” jawab Austin.

“Biar ku periksa.” Matthew menyuruh Tony menaikkan celana yang dikenakannya, “tenanglah, aku dokter,” lanjutnya melihat keraguan Tony.

Mendengar pengakuan Matthew, senyum sumringah Austin berkembang. Segera saja ia menuruti perkataan Matthew untuk mendapatkan

pengobatan.

“Sepertinya kau harus tetap bersama kami, Matt. Agar kita punya dokter pribadi,” sahut Tony dengan riang.

“Ke mana tujuan kalian?” tanya Matthew di tengah

kesibukannya mengobati luka Austin.

“Ke tempat yang aman,” jawab Ignis.

“Baiklah, sepertinya kita satu tujuan,” kata Matthew tidak menolak permintaan tadi.

“Yah… sepertinya aku pun juga searah dengan kalian,” sahut Austin disambut tawa yang lainnya.

***

Seorang kapten yang bertugas di kota Uata terlihat sedang berjalan mendekati orang berzirah yang baru saja membantunya. Orang itu tengah

melepas helm zirahnya, memperlihatkan sesosok wajah cantik nan dingin, dengan rambut pinknya yang langsung tergerai di pundaknya. Anak buahnya sedang menyisir lokasi terdekat untuk mencari orang yang  selamat, membuatnya memiliki waktu untuk berbicara dengan gadis itu.

“Terima kasih, Angel. Sepertinya aku sangat beruntung hari ini,” kata Kapten itu sambil berdiri di depan gadis yang dipanggilnya Angel itu.

“Simpan saja ucapan terima kasihmu, aku ke sini bukan untuk menolongmu atau pun pasukanmu.” Angel menonaktifkan baju zirahnya.

“Kau masih sama dinginnya sejak aku mengenalmu,” kata kapten itu sambil tergelak.

“Aku sedang mengejar target ku dan sekarang dia lolos lagi,” ucap Angel mendengus kesal memandangi jalanan yang kini lengang, kemudian

memeriksa layar hologram di jam tangannya. Beruntung ia sempat bertemu dengan targetnya, sekarang ia bisa melacaknya berkat pelacak yang diberikannya secara diam-diam.

“Sudah kuduga, apa itu yang kau lakukan di Nibelhim juga?” tanya Sang Kapten mengetahui beberapa hari yang lalu pasukan yang bertugas di

Nibelhim, mendapat bantuan gratis saat mereka dilanda kehancuran.

“Ya,” jawab Angel pendek, dilepasnya sarung tangan kirinya untuk memeriksa telapak tangannya yang terasa nyeri. Luka bakar yang lumayan parah akibat memaksakan diri menggunakan kekuatannya, terlihat di telapak

tangan.

“Kau harus mengobati lukamu.” kapten itu yang nampaknya juga memperhatikan luka itu.

“No time. Aku harus pergi sebelum kehilangan jejak targetku,” tolak Angel berjalan meninggalkan Sang Kapten.

“Hai Angel, kakakmu mencarimu!” teriak kapten itu sebelum Angel menghilang.

“Katakan aku baik-baik saja,” ujar Angel sambil melambaikan tangan.

Kapten itu hanya bisa memandangi Angel hingga masuk ke dalam mobilnya, sebelum meluncur meninggalkan kota Uata melanjutkan misinya.

***

Senja menjelang, Ignis dan teman-temannya telah jauh meninggalkan kota Uata. Kini mereka menyusuri kota kecil yang sunyi tak berpenduduk. Mereka mengawasi sekelilingnya dengan teliti untuk mencari tempat bermalam, karena melanjutkan perjalanan di malam hari sangat berbahaya. Para Ragen bisa muncul di mana saja, terlebih lagi mereka semakin gesit saat matahari

tidak bersinar.

Perlahan-lahan Ignis membawa mobilnya merapat kesebuah rumah bertingkat yang terlihat kosong. Satu persatu mereka turun dari mobil, sambil

mengendap-endap mereka berjalan memasuki gedung itu. Diperiksanya setiap ruangan, tapi yang mereka temukan hanyalah barang-barang yang berserakan di lantai dan beberapa perabotan yang hancur. Tak lupa mereka segera memblokade setiap jendela dengan peralatan seadanya, yang mereka temukan di dalam rumah.

Malam harinya mereka berkumpul di lantai dua dengan pencahayaan minim, agar tidak mengundang perhatian para Ragen yang kini sudah mulai berkeliaran di jalanan. Suara Ragen pun terdengar hingga ke tempat mereka

berkumpul. Matthew duduk di tepian jendela sesekali mengamati tingkah para Ragen,

cahaya bulan purnama cukup memberinya penglihatan yang jelas untuk mengawasi

jalanan. Ia kemudian teringat handgun barunya dan mengambilnya dari dalam tasnya.

Dengan hati-hati Matthew menggenggam handgun silver itu dan mulai menelitinya. Jujur ia sangat kagum melihat handgun itu berbalut ukiran

yang futuristic, seakan senjata itu dibuat khusus oleh pembuatnya. Perlahan Matthew mengusap setiap ukiran itu dengan tangannya. Namun hatinya mencelus mendapati sebuah ukiran di ujung handgun itu. Sebuah nama terukir di sana, yang membuatnya teringat akan sebuah peristiwa berbulan-bulan yang telah lalu.

“Angel…” gumam Matthew pelan membaca nama pemilik handgun itu, tanpa terasa handgunnya merosot dari tangannya hingga terjatuh di dekat

kaki.

Jantungnya terasa berdegup semakin cepat. Matthew ingat.betul saat ia ditodong oleh seorang gadis di tengah malam, di rumahnya sendiri

dengan senjata yang sama yang kini diberikan padanya. Ingatan itu memang hanya sepenggal seakan ada bagian memori lainnya yang dipaksa keluar dari kepalanya hingga menghilang. Namun Matthew memiliki ingatan itu meski hanya sedikit. Ia tidak ingat wajah gadis itu, ia tidak ingat alasan kenapa ia akan dibunuh, tapi ia ingat nama gadis itu dan mata tajamnya.

“Nice gun,” tegur seseorang yang membuat lamunan Matthew buyar.

Dipandanginya handgun yang masih tergeletak didekat kakinya..“Ya sepertinya aku beruntung mendapatkan handgun sebagus ini secara gratis,”

kata Matthew tersenyum kecut, ia pun memungut kembali handgun itu.

“Dia sepertinya mengenalmu,” kata Ignis yang kini duduk di dekat Matthew.

“Mungkin, tapi dia baik hati sekali memberikan ini padaku..Kuharap bisa bertemu lagi untuk mengucapkan terima kasih,”  kata Matthew. Atau penjelasan, batinnya.

“Itu akan menjadi hal yang sedikit mustahil, mengingat para.Guardians hanya datang atas kemauan mereka sendiri. Atau dengan bayaran yang tinggi,” sahut Ignis.

“Yah, ku harap yang ini akan berbeda,” kata Matthew penuh harap.

Kedua pria itu hanyut dalam percakapan hingga larut malam, sesekali mereka terlihat berkeliling untuk memastikan semua dalam keadaan aman.

Ignis dan Matthew pun langsung terlihat akrab, masing-masing dari mereka bercerita tentang pengalamannya selama bencana terjadi. Tidak lupa mereka menceritakan kehidupan masing-masing selama ini. Sudah lama Ignis tidak bertemu teman baru yang bisa langsung akrab seperti sekarang ini, selama ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman satu gengnya, yang lebih banyak membuatnya kesal karena tingkah kekanak-kanakkan mereka dibandingkan Matthew yang lebih dewasa. Namun tetap menyenangkan diajak bercerita.

Kini teman perjalanan mereka bertambah dua orang, Matthew dan Austin, yang bertemu saat kekacauan terjadi di Uata. Perjalanan mereka pun

semakin menyenangkan, setidaknya bertambah bala bantuan untuk saling menjaga, menghadapi bencana wabah Ragen yang telah meluluh lantakkan sebagian besar Negara Namrej.

--- TBC ---

Terpopuler

Comments

Adhim Putra Mahenda

Adhim Putra Mahenda

fav banget☺️

2021-10-16

2

💫PoPy💫

💫PoPy💫

lanjuut Thor.... Kereeeen

2021-03-07

0

BossMU

BossMU

mantap kaka

2021-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1. Chaos
2 Episode 2. New Friend
3 Episode 3. Another Time Another Place
4 Episode 4. When they meet
5 Episode 5. Gedung Solbeck
6 Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7 Episode 7. STUCK WITH YOU
8 Episode 8. Time To Go
9 Episode 9. Tragedy
10 Episode 10. SOUND OF DEAD
11 Episode 11. CRISIS CORE
12 Episode 12. WELCOME BACK
13 Episode 13. We Start the Journey Again
14 Episode 14. Lost
15 Episode 15. Coastal
16 Episode 16. COME BACK HOME
17 Episode 17. Soul Like Me
18 Episode 18. The Deal
19 Episode 19. The Truth
20 Episode 20. Jealous
21 Episode 21. I'm Sorry
22 Episode 22. You and I
23 Episode 23. Solar City
24 Episode 24. Is Not Good Bye
25 Episode 25. Fight
26 Episode 26. Assassins 1st Class
27 Episode 27. A STORY
28 Episode 28. I HATE SHRIMP
29 Episode 29. Night Club
30 Episode 30. Done All Wrong
31 Episode 31. The Reason
32 Episode 32. Golden Card
33 Episode 33. Spy Time
34 Episode 34. Vision
35 Episode 35. Evacuation
36 Episode 36. Escape
37 Episode 37. Monster Attack
38 Episode 38. The Darknest Side of Me
39 Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40 Episode 40. Terrible trip
41 Episode 41. Welcome To Moonlight
42 Episode 42. Pray
43 Episode 43. Why are They Here?
44 Episode 44. Impendence
45 Episode 45. Decision
46 Episode 46. JUNGLE
47 Episode 47. FORTRESS
48 Episode 48. DREAM
49 Episode 49. CRUSH
50 Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51 Episode 51. DEAD CITY
52 Episode 52. MEMORIES
53 Episode 53. I Hate You
54 Episode 54. Impatient Groom
55 Episode 55.Master Control Station (MCS)
56 Episode 56. Mask Man
57 Episode 57. Be A Guardian
58 Episode 58. Cloud
59 Episode 59. Leo’s Anger
60 Episode 60. Forgotten City
61 Episode 61. Friend?
62 Episode 62. Solar City Memories
63 Episode 63. Behind The Mask
64 Episode 64. Betrayer
65 Episode 65. The Stranger
66 Episode 66. Disappear
67 Episode 67. There’s No Cure
68 Episode 68. I’ll be fine
69 Episode 69. Find Hope
70 Episode 70. Make a Deal
71 Episode 71. The War Begins
72 Episode 72. This is the end
73 Episode 73. Good bye
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Episode 1. Chaos
2
Episode 2. New Friend
3
Episode 3. Another Time Another Place
4
Episode 4. When they meet
5
Episode 5. Gedung Solbeck
6
Episode 6. WHEN THE JOURNEY BEGIN
7
Episode 7. STUCK WITH YOU
8
Episode 8. Time To Go
9
Episode 9. Tragedy
10
Episode 10. SOUND OF DEAD
11
Episode 11. CRISIS CORE
12
Episode 12. WELCOME BACK
13
Episode 13. We Start the Journey Again
14
Episode 14. Lost
15
Episode 15. Coastal
16
Episode 16. COME BACK HOME
17
Episode 17. Soul Like Me
18
Episode 18. The Deal
19
Episode 19. The Truth
20
Episode 20. Jealous
21
Episode 21. I'm Sorry
22
Episode 22. You and I
23
Episode 23. Solar City
24
Episode 24. Is Not Good Bye
25
Episode 25. Fight
26
Episode 26. Assassins 1st Class
27
Episode 27. A STORY
28
Episode 28. I HATE SHRIMP
29
Episode 29. Night Club
30
Episode 30. Done All Wrong
31
Episode 31. The Reason
32
Episode 32. Golden Card
33
Episode 33. Spy Time
34
Episode 34. Vision
35
Episode 35. Evacuation
36
Episode 36. Escape
37
Episode 37. Monster Attack
38
Episode 38. The Darknest Side of Me
39
Episode 39. The Truth Beneath The Rose
40
Episode 40. Terrible trip
41
Episode 41. Welcome To Moonlight
42
Episode 42. Pray
43
Episode 43. Why are They Here?
44
Episode 44. Impendence
45
Episode 45. Decision
46
Episode 46. JUNGLE
47
Episode 47. FORTRESS
48
Episode 48. DREAM
49
Episode 49. CRUSH
50
Episode 50. PEOPLE FROM OUT SIDE
51
Episode 51. DEAD CITY
52
Episode 52. MEMORIES
53
Episode 53. I Hate You
54
Episode 54. Impatient Groom
55
Episode 55.Master Control Station (MCS)
56
Episode 56. Mask Man
57
Episode 57. Be A Guardian
58
Episode 58. Cloud
59
Episode 59. Leo’s Anger
60
Episode 60. Forgotten City
61
Episode 61. Friend?
62
Episode 62. Solar City Memories
63
Episode 63. Behind The Mask
64
Episode 64. Betrayer
65
Episode 65. The Stranger
66
Episode 66. Disappear
67
Episode 67. There’s No Cure
68
Episode 68. I’ll be fine
69
Episode 69. Find Hope
70
Episode 70. Make a Deal
71
Episode 71. The War Begins
72
Episode 72. This is the end
73
Episode 73. Good bye

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!