The Cruel Dreta

The Cruel Dreta

Episode 1

Sneak peek :

Yazel tersenyum miring, menatap rendah ke arah Ariya yang sedang kesakitan di bawah ikatan rantainya. Belenggu itu terpasang di kedua kaki dan tangannya, membuat perempuan itu tampak sangat tidak berdaya.

"Menyerah?" cemooh Yazel sambil tersenyum mengejek.

Mendengar itu, Ariya sontak menggeleng keras. "Tentu tidak, bastard!" tantang Ariya sedikit terbatuk-batuk. Ia masih terlihat gigih walau sudah hampir tepar di tempat.

"Oh, begitu ya?" Satu alis Yazel terangkat. "Baiklah kalau itu yang kau mau."

Pria itu tampak memikirkan sesuatu, sebelum tiba-tiba saja ia mengerling tanpa sebab. Yazel dengan cepat meraih sebuah botol berisi cairan hitam dari saku celananya, membuat Ariya seketika bergidik ngeri, merasakan ancaman yang akan mendekatinya.

Lalu tanpa aba-aba, Yazel langsung menuangkan cairan tersebut dengan paksa di mulut gadis itu.

Ariya sempat memberontak di bawah kungkungannya, tapi, pria itu dengan sigap meraih kedua pipinya, menekannya dengan tidak berperasaan, dan langsung memaksanya untuk minum.

Cairan aneh yang pekat itu akhirnya ditelan oleh Ariya dengan terpaksa. Minuman itu langsung mengalir membasahi kerongkongannya.

Ariya sempat berniat untuk memuntahkannya kembali, tetapi Yazel dengan sigap menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, membuatnya tidak bisa bernapas seketika.

Perempuan itu mengernyit, merasakan rasa panas yang menjalar di kerongkongannya.

Uhuk..

Ariya terbatuk-batuk. Sakit, ini sakit sekali.

Melihat itu, senyum kemenangan lantas terbit di wajah Yazel, ia melepaskan kedua tangannya yang mencengkram hidung dan mulut gadis itu tadi, lalu membuang botol yang sudah kosong itu dengan sembarangan. Mata hitamnya menatap lekat ke arah Ariya.

Perempuan itu tampak memegangi lehernya sendiri, seakan-akan ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menyerangnya.

Tidak lama kemudian, darah muncrat dari mulut perempuan itu ketika ia terbatuk-batuk. Yazel kemudian berjongkok, menyamakan tingginya dengan Ariya yang sedang terduduk menyedihkan.

"Bagaimana? Masih mau melawanku?" cetus Yazel, lalu meraih dagu Ariya, memandangi gadis yang sudah tampak sangat berantakan itu. Kedua matanya yang indah itu terus menatap lesu ke arah Yazel.

Cuih, lemah.

Menyerah, Ariya akhirnya menggeleng tidak sanggup. Perempuan itu tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan pria tersebut. Kedua matanya mengeluarkan setitik air mata, tidak tahan dengan rasa sakit yang seakan-akan membunuhnya secara perlahan.

"Bagus kalau begitu."

Di detik selanjutnya, Yazel mencondongkan badannya, mempertipis jarak di antara mereka berdua. Tanpa perlawanan apapun dari perempuan itu, ia lantas menempelkan bibirnya dengan Ariya, menciuminya dengan lembut.

Pria itu sama sekali tidak merasa risih dengan darah yang terus keluar dari mulut Ariya. Ia malah menelan darah kental itu seraya tersenyum di dalam hati.

\~\~\~\~\~\~

Derap langkah kaki yang berjalan pelan terdengar menggema halus di sekitar hutan. Angin sepoi-sepoi menghembus pelan daun-daun pohon hingga membuat mereka bergesekan secara berirama. Hewan-hewan kecil seperti jangkrik, membunyikan suara khas mereka di sekitar dedaunan, seakan-akan mereka sangat senang dengan cuaca hari ini.

Pepohonan di kawasan hutan itu tampak tumbuh menjulang tinggi dengan daun-daun yang lebat, membuat matahari hanya dapat menyinari dalam hutan melewati sela-sela daun. Suara air sungai nan jernih terdengar seperti suara instrumen musik yang lembut, bergerak mengalir ke daerah daratan yang lebih rendah.

Pelan tapi pasti, kedua mata berwarna hitam gelap itu kemudian bergerak menatap ke arah langit yang hampir gelap itu, merenung sejenak. Mulutnya berkomat-kamit, sementara tangan kanannya bergerak ringan di atas udara, membuat bola salju dengan kekuatan kecilnya itu.

Ia kemudian menutup kedua bola matanya, lalu menjentikkan jari tangannya yang sebelah kiri hingga membuat angin di sekitarnya berhembus lebih kencang. Seketika, bola salju yang tadinya ia ciptakan di sebelah tangan kanan, terbawa angin dan langsung terpecah menjadi hujan salju di sekitarnya.

Well, hujan salju di cuaca yang tidak terlalu cerah ini... sepertinya menyenangkan, batinnya dan tersenyum dalam hati. Mungkin dia harus sering-sering membuat hal ini.

Beberapa saat kemudian, matahari dengan perlahan mulai tenggelam, menyisahkan langit berwarna merah kekuningan di atas. Tanpa ia sadari, dirinya telah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di dalam hutan.

Kedua matanya perlahan terbuka. Awan-awan yang berwarna abu tampak mulai berkumpul di atas sana, menandakan jika hari akan semakin gelap dan mungkin akan diiringi dengan hujan gerimis. Sisa-sisa cahaya matahari tadi pun sudah tertutupi oleh awan halus yang terlihat seperti kapas itu.

Ia lekas beranjak dari sana, lalu berbalik badan dan berjalan menyusuri hutan. Namun sesaat setelahnya, firasatnya mulai tidak enak dengan hal ini. Ia menajamkan semua inderanya, berusaha mendeteksi makhluk-makhluk jenis apa saja yang berada di dekatnya saat ini.

satu detik... dua detik... tiga detik...

And, oh shit!

Mata hitamnya seketika membulat. Panik, ia lantas mengeluarkan sebuah pisau yang disembunyikan di dalam sepatu yang dipakainya, lalu berbalik ke arah belakang dengan cepat. Terlihat sosok makhluk dengan sayap yang terbuka indah mendarat di depannya.

Ia terkejut dan otomatis mengacungkan pisau kecilnya. Kedua kakinya bergerak membentuk posisi berkelahi, sementara tangan lainnya terkepal erat. Mata birunya menatap sinis ke arah makhluk tersebut.

Namun, belum sempat dirinya melakukan apa-apa, pisau yang digenggamnya itu langsung direbut oleh makhluk lain dengan kekuatan penuh dan dilemparnya ke arah jurang.

Ariya langsung menangkap sinyal berbahaya tanpa melihat wajah makhluk tersebut. "Kau mau membunuhku!?" serunya dengan cepat. Sontak, ia langsung menggunakan sayap kirinya dan mengepaknya dengan cepat, membuat angin badai di sekitarnya dan menyerang makhluk yang berjenis kelamin lelaki itu secara bertubi-tubi. "Kejam sekali kau!"

Dengan gerakan spontan, mulut pria itu lantas berkomat-kamit dan seketika sebuah tameng berwarna biru muncul di sekitar tubuhnya. Beruntungnya, pria tersebut sempat menghindari angin badai yang diciptakan oleh perempuan tersebut. Kalau tidak, ia yakin sekali jika badannya akan hancur menjadi berkeping-keping karena angin sialan itu.

"Kau yang mau membunuhku dengan angin badai sialanmu, Ariya," celutuk pria itu dengan kesal.

Ariya seketika sadar. Perempuan itu yang tadinya menyerang pria tersebut dengan angin badainya seketika melemah. Ia menghentikan aksinya, lalu segera melipat sayap berwarna putih miliknya ke belakang punggung, kemudian berjalan ke arah makhluk tersebut. "Eh, Blake?"

"Dasar kau, perempuan gila," cetus laki-laki yang bernama Blake itu. Tameng yang ia buat tadi langsung runtuh ketika menyadari perempuan itu tidak akan menyerangnya lagi. Seperti Ariya, ia juga melipat sayap merahnya ke arah belakang.

Ariya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang berwarna putih. "Maaf, Blake. Aku tidak tahu itu adalah kau," balasnya dengan tatapan yang polos.

Blake menggeleng-gelengkan kepalanya, memandangi Ariya yang tengah memakai gaun selutut berwarna putih polos. "Aku sudah mencarimu dimana-mana, dan ternyata kau berada disini."

Ariya mengedarkan pandangannya di sekitar hutan seraya mengangguk kecil. "Iya, aku sedang ingin menikmati udara sebelum matahari terbenam, Blake."

Mendengar itu, Blake spontan melotot tidak percaya. "Apa-apaan kau ini, kau tahu makhluk peri seperti kita ini tidak boleh berkeluyuran sembarangan seperti itu. Atau--"

Belum sempat Blake menyelesaikan ocehannya, Ariya langsung memotongnya. "Aku tahu, Blake. Kau tidak usah mengajariku lagi," ujarnya dengan cepat.

"Bagus kalau begitu. Dan sekarang, matahari sudah terbenam, Ariya. Sebaiknya kau segera pulang ke rumah sebelum makhluk mengerikan yang bernama Dreta itu memangsamu. Jangan sampai besok pagi aku melihat jasadmu tergeletak begitu saja di dalam hutan."

Ariya bergidik horor mendengar perkataan teman akrabnya itu, lalu menjitak jidat Blake hingga pria itu mengaduh sakit. "Aku memang mau pulang sekarang."

Blake melirik kesal ke arah Ariya. Kenapa ia malah dihadiahi dengan jitakan padahal ia sudah berbaik hati untuk memperingati perempuan itu?

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku masih mempunyai urusan penting. Sampai ketemu kembali di kota kita."

Selesai mengucapkan perkataannya, Blake langsung merentangkan sayap merahnya dengan lebar. Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Ariya, kemudian langsung terbang ke atas menembus awan-awan lebat.

Mata hitam milik Ariya masih menatap ke arah pria itu, sampai akhirnya sosok peri tersebut menghilang di atas langit.

Dasar Blake.

Jujur saja, kadang Ariya merasa Blake itu terlalu mengurusi hidupnya. Ya, memang sih pria itu baik karena telah memperingatinya tentang ancaman-ancaman yang mungkin akan menyerangnya nanti. Tapi, Ariya merasa ingin membebaskan diri di alam. Rasanya hal seperti itu terasa sangat menyenangkan, tidak seperti di kotanya yang bernama Hinterland.

Dari kecil, teman satu-satunya yang ia punya hanyalah Blake. Pria itulah yang rela menemaninya selama ini, menjaganya, dan merawatnya apabila ia sakit. Blake jugalah yang mendidiknya selama ini karena Ariya tidak mempunyai orang tua sejak kecil. Ia sama sekali tidak tahu dimana keberadaan orang tuanya sampai sekarang ini.

Sementara yang lain?

Semua peri malah merasa takut untuk berteman dengannya, dan itu karena warna sayap Ariya bisa berubah-ubah, tidak seperti peri pada umumnya yang hanya memiliki satu warna. Kadang sayapnya bisa berubah menjadi putih, ungu, merah, dan masih banyak warna lagi.

Menurut perkataan peri lain, dia termasuk salah satu makhluk yang dikutuk oleh Sang Pencipta, sehingga ia bisa terlahir seperti itu.

But, who cares?

Ariya tidak merasa terbebani oleh semua itu. Mungkin dulu ia sempat merasa semua ini tidak adil, apalagi mengingat orang tuanya yang sudah tidak ada sejak ia lahir. Namun, semua tekanan itu dapat ia lalui setelah Blake mengajarinya untuk terus bersyukur. Semuanya menjadi berubah semenjak ia beranjak dewasa.

Sekarang, Ariya malah merasa mungkin ini adalah sebuah berkah yang diberikan oleh Pencipta kepadanya, bukan sebuah kutukan yang sering dibincangkan oleh peri lain. Hanya saja, ia masih belum tahu apa rahasia yang disembunyikan oleh Sang Pencipta kepadanya.

Ariya mengedarkan pandangannya pada pohon-pohon hutan. Sinar matahari tidak menyinari bagian perdalaman ini lagi. Semuanya sudah hampir gelap, membuat suasana di sekitarnya terasa menyeramkan dan mengerikan.

Mungkin ini sudah saatnya untuk pulang, batinnya dalam hati. Pulang, dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Semua orang akan menghindariku lagi layaknya kuman mematikan.

Ariya merentangkan kedua sayapnya lebar-lebar, dan untuk kali ini, warna sayapnya berubah menjadi kuning terang. Warna itu langsung menyinari seluruh hutan, membuat tempat yang tadinya gelap itu menjadi terang seketika.

Well.. Look at this. Ariya mengulum senyumannya, merasa kagum terhadap dirinya sendiri. This is amazing.

Ariya mengepakkan sayapnya dengan kuat, membuat tubuhnya mulai melayang di atas tanah. Ia hendak meluncur ke arah langit dengan cepat, sebelum tiba-tiba saja sesuatu yang tajam menusuk sayap kirinya.

Seketika, Ariya linglung. Sayap kirinya mendadak mati rasa dan tidak memiliki tenaga. Warnanya tiba-tiba saja berubah menjadi hitam. Melihat itu, Ariya langsung panik seketika, ia mengepakkan sayap satunya lagi dengan ritme cepat, namun Ariya tidak dapat menahan beban tubuhnya tanpa kedua sayap.

Alhasil, ia terjatuh kembali ke dalam hutan. Badannya beradu dengan tanah yang kotor, membuatnya seketika mengaduh sakit. Yang lebih parahnya lagi, wajahnya yang terlebih dahulu menghantam lumpur di depannya ini.

Ariya kemudian terduduk di atas tanah yang jorok itu. Tiba-tiba saja, ia merasa tubuhnya dijalari oleh sesuatu dan seluruh tubuhnya lantas mati rasa. Tidak ada sendi-sendi yang bisa ia gerakan. Panik, ia menajamkan inderanya, namun sama saja, Ariya tidak bisa merasakan apapun lagi.

Jesus.

Ariya menoleh ke arah sayap kirinya, memandangi benda berbulu miliknya yang telah terkulai lemas itu. Mata hitamnya tiba-tiba terbuka lebar begitu menyadari sesuatu yang sedang menancam di sana.

Itu adalah jarum.

Ariya tidak pernah melihat benda semacam itu, tapi perempuan tersebut dapat merasakan jika ada ancaman besar yang sedang mendekatinya sekarang.

Matilah aku.

Belum sempat kepanikan Ariya reda, sebuah benda kembali menancap sayap kanannya. Ia lekas menoleh, mendapati jarum yang sama di sana.

Seakan-akan belum cukup, sesuatu yang cukup tajam lagi-lagi menusuk tubuhnya, tapi di bagian punggungnya yang sedikit terbuka. Ariya seketika mengerang sakit. Benda itu tanpa perasaan langsung menancap dalam ke kulit-kulitnya. Dan, entah kenapa ia merasa yakin jika itu masih merupakan jarum yang sama.

Tiba-tiba saja, kepalanya merasa pusing. Ia hendak memegangi kepalanya, namun tangannya sudah tidak bisa digerakkan karena mati rasa. Ariya mengaduh, kedua matanya memburam. Tidak lama kemudian, ia dapat mendengar suara derap kaki yang sepertinya sedang melangkah ke arahnya.

Namun, Ariya terlalu lemah. Ia tidak dapat melihat sosok itu dengan jelas. Belum sampai sedetik, hal yang ia takuti terjadi.

Semuanya sudah gelap.

Terpopuler

Comments

dewi⚘💕

dewi⚘💕

ini cerita apa ya ???
makhluk apa ya

2020-11-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!