NovelToon NovelToon

The Cruel Dreta

Episode 1

Sneak peek :

Yazel tersenyum miring, menatap rendah ke arah Ariya yang sedang kesakitan di bawah ikatan rantainya. Belenggu itu terpasang di kedua kaki dan tangannya, membuat perempuan itu tampak sangat tidak berdaya.

"Menyerah?" cemooh Yazel sambil tersenyum mengejek.

Mendengar itu, Ariya sontak menggeleng keras. "Tentu tidak, bastard!" tantang Ariya sedikit terbatuk-batuk. Ia masih terlihat gigih walau sudah hampir tepar di tempat.

"Oh, begitu ya?" Satu alis Yazel terangkat. "Baiklah kalau itu yang kau mau."

Pria itu tampak memikirkan sesuatu, sebelum tiba-tiba saja ia mengerling tanpa sebab. Yazel dengan cepat meraih sebuah botol berisi cairan hitam dari saku celananya, membuat Ariya seketika bergidik ngeri, merasakan ancaman yang akan mendekatinya.

Lalu tanpa aba-aba, Yazel langsung menuangkan cairan tersebut dengan paksa di mulut gadis itu.

Ariya sempat memberontak di bawah kungkungannya, tapi, pria itu dengan sigap meraih kedua pipinya, menekannya dengan tidak berperasaan, dan langsung memaksanya untuk minum.

Cairan aneh yang pekat itu akhirnya ditelan oleh Ariya dengan terpaksa. Minuman itu langsung mengalir membasahi kerongkongannya.

Ariya sempat berniat untuk memuntahkannya kembali, tetapi Yazel dengan sigap menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, membuatnya tidak bisa bernapas seketika.

Perempuan itu mengernyit, merasakan rasa panas yang menjalar di kerongkongannya.

Uhuk..

Ariya terbatuk-batuk. Sakit, ini sakit sekali.

Melihat itu, senyum kemenangan lantas terbit di wajah Yazel, ia melepaskan kedua tangannya yang mencengkram hidung dan mulut gadis itu tadi, lalu membuang botol yang sudah kosong itu dengan sembarangan. Mata hitamnya menatap lekat ke arah Ariya.

Perempuan itu tampak memegangi lehernya sendiri, seakan-akan ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menyerangnya.

Tidak lama kemudian, darah muncrat dari mulut perempuan itu ketika ia terbatuk-batuk. Yazel kemudian berjongkok, menyamakan tingginya dengan Ariya yang sedang terduduk menyedihkan.

"Bagaimana? Masih mau melawanku?" cetus Yazel, lalu meraih dagu Ariya, memandangi gadis yang sudah tampak sangat berantakan itu. Kedua matanya yang indah itu terus menatap lesu ke arah Yazel.

Cuih, lemah.

Menyerah, Ariya akhirnya menggeleng tidak sanggup. Perempuan itu tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan pria tersebut. Kedua matanya mengeluarkan setitik air mata, tidak tahan dengan rasa sakit yang seakan-akan membunuhnya secara perlahan.

"Bagus kalau begitu."

Di detik selanjutnya, Yazel mencondongkan badannya, mempertipis jarak di antara mereka berdua. Tanpa perlawanan apapun dari perempuan itu, ia lantas menempelkan bibirnya dengan Ariya, menciuminya dengan lembut.

Pria itu sama sekali tidak merasa risih dengan darah yang terus keluar dari mulut Ariya. Ia malah menelan darah kental itu seraya tersenyum di dalam hati.

\~\~\~\~\~\~

Derap langkah kaki yang berjalan pelan terdengar menggema halus di sekitar hutan. Angin sepoi-sepoi menghembus pelan daun-daun pohon hingga membuat mereka bergesekan secara berirama. Hewan-hewan kecil seperti jangkrik, membunyikan suara khas mereka di sekitar dedaunan, seakan-akan mereka sangat senang dengan cuaca hari ini.

Pepohonan di kawasan hutan itu tampak tumbuh menjulang tinggi dengan daun-daun yang lebat, membuat matahari hanya dapat menyinari dalam hutan melewati sela-sela daun. Suara air sungai nan jernih terdengar seperti suara instrumen musik yang lembut, bergerak mengalir ke daerah daratan yang lebih rendah.

Pelan tapi pasti, kedua mata berwarna hitam gelap itu kemudian bergerak menatap ke arah langit yang hampir gelap itu, merenung sejenak. Mulutnya berkomat-kamit, sementara tangan kanannya bergerak ringan di atas udara, membuat bola salju dengan kekuatan kecilnya itu.

Ia kemudian menutup kedua bola matanya, lalu menjentikkan jari tangannya yang sebelah kiri hingga membuat angin di sekitarnya berhembus lebih kencang. Seketika, bola salju yang tadinya ia ciptakan di sebelah tangan kanan, terbawa angin dan langsung terpecah menjadi hujan salju di sekitarnya.

Well, hujan salju di cuaca yang tidak terlalu cerah ini... sepertinya menyenangkan, batinnya dan tersenyum dalam hati. Mungkin dia harus sering-sering membuat hal ini.

Beberapa saat kemudian, matahari dengan perlahan mulai tenggelam, menyisahkan langit berwarna merah kekuningan di atas. Tanpa ia sadari, dirinya telah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di dalam hutan.

Kedua matanya perlahan terbuka. Awan-awan yang berwarna abu tampak mulai berkumpul di atas sana, menandakan jika hari akan semakin gelap dan mungkin akan diiringi dengan hujan gerimis. Sisa-sisa cahaya matahari tadi pun sudah tertutupi oleh awan halus yang terlihat seperti kapas itu.

Ia lekas beranjak dari sana, lalu berbalik badan dan berjalan menyusuri hutan. Namun sesaat setelahnya, firasatnya mulai tidak enak dengan hal ini. Ia menajamkan semua inderanya, berusaha mendeteksi makhluk-makhluk jenis apa saja yang berada di dekatnya saat ini.

satu detik... dua detik... tiga detik...

And, oh shit!

Mata hitamnya seketika membulat. Panik, ia lantas mengeluarkan sebuah pisau yang disembunyikan di dalam sepatu yang dipakainya, lalu berbalik ke arah belakang dengan cepat. Terlihat sosok makhluk dengan sayap yang terbuka indah mendarat di depannya.

Ia terkejut dan otomatis mengacungkan pisau kecilnya. Kedua kakinya bergerak membentuk posisi berkelahi, sementara tangan lainnya terkepal erat. Mata birunya menatap sinis ke arah makhluk tersebut.

Namun, belum sempat dirinya melakukan apa-apa, pisau yang digenggamnya itu langsung direbut oleh makhluk lain dengan kekuatan penuh dan dilemparnya ke arah jurang.

Ariya langsung menangkap sinyal berbahaya tanpa melihat wajah makhluk tersebut. "Kau mau membunuhku!?" serunya dengan cepat. Sontak, ia langsung menggunakan sayap kirinya dan mengepaknya dengan cepat, membuat angin badai di sekitarnya dan menyerang makhluk yang berjenis kelamin lelaki itu secara bertubi-tubi. "Kejam sekali kau!"

Dengan gerakan spontan, mulut pria itu lantas berkomat-kamit dan seketika sebuah tameng berwarna biru muncul di sekitar tubuhnya. Beruntungnya, pria tersebut sempat menghindari angin badai yang diciptakan oleh perempuan tersebut. Kalau tidak, ia yakin sekali jika badannya akan hancur menjadi berkeping-keping karena angin sialan itu.

"Kau yang mau membunuhku dengan angin badai sialanmu, Ariya," celutuk pria itu dengan kesal.

Ariya seketika sadar. Perempuan itu yang tadinya menyerang pria tersebut dengan angin badainya seketika melemah. Ia menghentikan aksinya, lalu segera melipat sayap berwarna putih miliknya ke belakang punggung, kemudian berjalan ke arah makhluk tersebut. "Eh, Blake?"

"Dasar kau, perempuan gila," cetus laki-laki yang bernama Blake itu. Tameng yang ia buat tadi langsung runtuh ketika menyadari perempuan itu tidak akan menyerangnya lagi. Seperti Ariya, ia juga melipat sayap merahnya ke arah belakang.

Ariya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya yang berwarna putih. "Maaf, Blake. Aku tidak tahu itu adalah kau," balasnya dengan tatapan yang polos.

Blake menggeleng-gelengkan kepalanya, memandangi Ariya yang tengah memakai gaun selutut berwarna putih polos. "Aku sudah mencarimu dimana-mana, dan ternyata kau berada disini."

Ariya mengedarkan pandangannya di sekitar hutan seraya mengangguk kecil. "Iya, aku sedang ingin menikmati udara sebelum matahari terbenam, Blake."

Mendengar itu, Blake spontan melotot tidak percaya. "Apa-apaan kau ini, kau tahu makhluk peri seperti kita ini tidak boleh berkeluyuran sembarangan seperti itu. Atau--"

Belum sempat Blake menyelesaikan ocehannya, Ariya langsung memotongnya. "Aku tahu, Blake. Kau tidak usah mengajariku lagi," ujarnya dengan cepat.

"Bagus kalau begitu. Dan sekarang, matahari sudah terbenam, Ariya. Sebaiknya kau segera pulang ke rumah sebelum makhluk mengerikan yang bernama Dreta itu memangsamu. Jangan sampai besok pagi aku melihat jasadmu tergeletak begitu saja di dalam hutan."

Ariya bergidik horor mendengar perkataan teman akrabnya itu, lalu menjitak jidat Blake hingga pria itu mengaduh sakit. "Aku memang mau pulang sekarang."

Blake melirik kesal ke arah Ariya. Kenapa ia malah dihadiahi dengan jitakan padahal ia sudah berbaik hati untuk memperingati perempuan itu?

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku masih mempunyai urusan penting. Sampai ketemu kembali di kota kita."

Selesai mengucapkan perkataannya, Blake langsung merentangkan sayap merahnya dengan lebar. Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Ariya, kemudian langsung terbang ke atas menembus awan-awan lebat.

Mata hitam milik Ariya masih menatap ke arah pria itu, sampai akhirnya sosok peri tersebut menghilang di atas langit.

Dasar Blake.

Jujur saja, kadang Ariya merasa Blake itu terlalu mengurusi hidupnya. Ya, memang sih pria itu baik karena telah memperingatinya tentang ancaman-ancaman yang mungkin akan menyerangnya nanti. Tapi, Ariya merasa ingin membebaskan diri di alam. Rasanya hal seperti itu terasa sangat menyenangkan, tidak seperti di kotanya yang bernama Hinterland.

Dari kecil, teman satu-satunya yang ia punya hanyalah Blake. Pria itulah yang rela menemaninya selama ini, menjaganya, dan merawatnya apabila ia sakit. Blake jugalah yang mendidiknya selama ini karena Ariya tidak mempunyai orang tua sejak kecil. Ia sama sekali tidak tahu dimana keberadaan orang tuanya sampai sekarang ini.

Sementara yang lain?

Semua peri malah merasa takut untuk berteman dengannya, dan itu karena warna sayap Ariya bisa berubah-ubah, tidak seperti peri pada umumnya yang hanya memiliki satu warna. Kadang sayapnya bisa berubah menjadi putih, ungu, merah, dan masih banyak warna lagi.

Menurut perkataan peri lain, dia termasuk salah satu makhluk yang dikutuk oleh Sang Pencipta, sehingga ia bisa terlahir seperti itu.

But, who cares?

Ariya tidak merasa terbebani oleh semua itu. Mungkin dulu ia sempat merasa semua ini tidak adil, apalagi mengingat orang tuanya yang sudah tidak ada sejak ia lahir. Namun, semua tekanan itu dapat ia lalui setelah Blake mengajarinya untuk terus bersyukur. Semuanya menjadi berubah semenjak ia beranjak dewasa.

Sekarang, Ariya malah merasa mungkin ini adalah sebuah berkah yang diberikan oleh Pencipta kepadanya, bukan sebuah kutukan yang sering dibincangkan oleh peri lain. Hanya saja, ia masih belum tahu apa rahasia yang disembunyikan oleh Sang Pencipta kepadanya.

Ariya mengedarkan pandangannya pada pohon-pohon hutan. Sinar matahari tidak menyinari bagian perdalaman ini lagi. Semuanya sudah hampir gelap, membuat suasana di sekitarnya terasa menyeramkan dan mengerikan.

Mungkin ini sudah saatnya untuk pulang, batinnya dalam hati. Pulang, dan menjalani hari-hari seperti biasanya. Semua orang akan menghindariku lagi layaknya kuman mematikan.

Ariya merentangkan kedua sayapnya lebar-lebar, dan untuk kali ini, warna sayapnya berubah menjadi kuning terang. Warna itu langsung menyinari seluruh hutan, membuat tempat yang tadinya gelap itu menjadi terang seketika.

Well.. Look at this. Ariya mengulum senyumannya, merasa kagum terhadap dirinya sendiri. This is amazing.

Ariya mengepakkan sayapnya dengan kuat, membuat tubuhnya mulai melayang di atas tanah. Ia hendak meluncur ke arah langit dengan cepat, sebelum tiba-tiba saja sesuatu yang tajam menusuk sayap kirinya.

Seketika, Ariya linglung. Sayap kirinya mendadak mati rasa dan tidak memiliki tenaga. Warnanya tiba-tiba saja berubah menjadi hitam. Melihat itu, Ariya langsung panik seketika, ia mengepakkan sayap satunya lagi dengan ritme cepat, namun Ariya tidak dapat menahan beban tubuhnya tanpa kedua sayap.

Alhasil, ia terjatuh kembali ke dalam hutan. Badannya beradu dengan tanah yang kotor, membuatnya seketika mengaduh sakit. Yang lebih parahnya lagi, wajahnya yang terlebih dahulu menghantam lumpur di depannya ini.

Ariya kemudian terduduk di atas tanah yang jorok itu. Tiba-tiba saja, ia merasa tubuhnya dijalari oleh sesuatu dan seluruh tubuhnya lantas mati rasa. Tidak ada sendi-sendi yang bisa ia gerakan. Panik, ia menajamkan inderanya, namun sama saja, Ariya tidak bisa merasakan apapun lagi.

Jesus.

Ariya menoleh ke arah sayap kirinya, memandangi benda berbulu miliknya yang telah terkulai lemas itu. Mata hitamnya tiba-tiba terbuka lebar begitu menyadari sesuatu yang sedang menancam di sana.

Itu adalah jarum.

Ariya tidak pernah melihat benda semacam itu, tapi perempuan tersebut dapat merasakan jika ada ancaman besar yang sedang mendekatinya sekarang.

Matilah aku.

Belum sempat kepanikan Ariya reda, sebuah benda kembali menancap sayap kanannya. Ia lekas menoleh, mendapati jarum yang sama di sana.

Seakan-akan belum cukup, sesuatu yang cukup tajam lagi-lagi menusuk tubuhnya, tapi di bagian punggungnya yang sedikit terbuka. Ariya seketika mengerang sakit. Benda itu tanpa perasaan langsung menancap dalam ke kulit-kulitnya. Dan, entah kenapa ia merasa yakin jika itu masih merupakan jarum yang sama.

Tiba-tiba saja, kepalanya merasa pusing. Ia hendak memegangi kepalanya, namun tangannya sudah tidak bisa digerakkan karena mati rasa. Ariya mengaduh, kedua matanya memburam. Tidak lama kemudian, ia dapat mendengar suara derap kaki yang sepertinya sedang melangkah ke arahnya.

Namun, Ariya terlalu lemah. Ia tidak dapat melihat sosok itu dengan jelas. Belum sampai sedetik, hal yang ia takuti terjadi.

Semuanya sudah gelap.

Episode 2

"Everybody bow to me, because they know who is the most powerful in here."

Di sebuah tempat yang berada sangat jauh di dalam hutan, terdapat sebuah bangunan tua yang berdiri dengan gagahnya. Bangunan tua tersebut bisa juga disebut dengan istana.

Tempat itu sudah berdiri sejak 2000 tahun yang lalu dan dikelilingi oleh pohon-pohon dengan dedaunan yang lebat. Walaupun istana itu sudah lama, tidak ada yang berani untuk mengubah struktur bangunan tersebut semenjak dibangun, mulai dari atapnya sampai lantainya pun masih sama persis.

Tidak ada makhluk dari jenis apapun yang berniat untuk pergi ke tempat itu. Bahkan, mereka semua tidak memiliki nyali yang cukup besar. Semua makhluk di dunia ini sudah tahu, kalau tempat itu adalah kediaman milik kaum Dreta. Makhluk yang dikenal paling ganas di kehidupan ini. Makhluk yang bisa hidup hingga 500 tahun lamanya.

Di sana, hanya ada cahaya rembulan yang setiap hari dengan setia menerangi seluruh bagian luar istana itu. Tidak ada lampu yang dipasang di sekitarnya kecuali pada sisi kiri dan kanan bagian pagar depan, dan hal itu memang disengaja.

Tak lupa juga, ada pagar besar nan tajam yang memiliki tinggi sekitar 5 meter mengelilingi bangunan tua tersebut. Semua hal itu sudah cukup menambah suasana yang mengerikan, apalagi jika dilihat pada malam hari.

Dari lorong yang gelap gulita, tiba-tiba muncul sosok pria yang berbadan tegap dan tinggi sedang berjalan dengan wibawanya. Auranya muncul, membuat semua maid yang melewatinya otomatis menundukkan kepada mereka.

Itu adalah Yazel. Ketua dari kaum mereka. Salah satu Dreta yang paling kuat di dunia ini.

Kalau saja mereka berniat untuk tidak menghormatinya, para *maid* itu yakin, kepala mereka akan putus seketika saat itu juga.

Laki-laki itu segera menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara derap kaki yang lain. Ia tahu jelas itu bukan suara derap kaki milik maid yang berada di dalam kediamannya. Lantas, ia menyeringai, membuat wajah miliknya menjadi terlihat mengerikan. Ini yang selalu ditunggu-tunggunya.

Mata hitamnya yang pekat itu menatap lurus ke arah pagar depan, menyaksikan dua bawahannya yang sedang menyeret sebuah karung.

Ia cukup yakin itu adalah makhluk yang ia tunggu-tunggu untuk disiksa kembali.

"Berapa peri yang berhasil kalian tangkap malam ini?" tanyanya dengan dingin saat dua orang bawahannya sudah berhasil menyeret karung itu sampai di depan matanya.

Ya, peri, makhluk yang paling Yazel sukai. Melihat mereka kesakitan dan mengerang meminta tolong di bawah kakinya merupakan suatu kehiburan sendiri baginya. Menurutnya, tidak ada makhluk apapun di dunia ini yang dapat memuaskan rasa senangnya, kecuali makhluk satu ini. Entah kenapa, Yazel malah merasa bosan menyiksa makhluk lain, rasanya tidak ada hal yang menarik sama sekali dari mereka.

Memang bisa saja kalau Yazel sendiri yang memburu makhluk lemah yang bernama peri itu, namun ia tidak mau tangannya dikotori oleh makhluk tersebut. Yang Yazel mau hanyalah melihat peri-peri tersebut merasa kesakitan di bawah rantainya.

Mendengar itu, kedua bawahannya tersebut langsung menaruh karung itu di depan Yazel dengan sopan.

"Untuk malam ini, kami cuma menangkap satu, Tu--an," jawab salah satu pria itu tergagap. Kedua bawahannya itu seketika menundukkan kepalanya.

Wajah Yazel yang tadinya menyeringai, sontak berubah. Muka penuh amarah terpasang di wajahnya. Aura disekitarnya berubah menjadi gelap.

"APA? Bukankah tadi sudah kusuruh kalian untuk menangkap lima peri malam ini dan membawanya ke depanku sebelum tengah malam? Berani-beraninya kalian menantang perintahku!?"

Seperti yang telah diperkirakan oleh dua pria itu, Tuan mereka pasti akan merasa marah dan mungkin saja akan memenggal kepala mereka seketika.

"Maafkan kami, Tuan. Kami tidak mampu menemukan peri apapun lagi kecuali peri yang satu i--"

Belum sempat salah satu bawahannya selesai berbicara, Yazel langsung mengangkat tangannya, membuat pria itu tiba-tiba melayang ke atas. Panik, pria itu lantas berusaha melepaskan diri. *And, well*, itu merupakan suatu kesalahan yang fatal. Apalagi mengingat Yazel tidak pernah mau menerima alasan apapun.

Langsung saja, jari-jari Yazel sedikit ditekuk ke dalam secara perlahan-lahan, membuat pria itu dapat merasakan pernapasannya mulai sedikit sesak. Tuannya sedang mencekiknya secara tidak kasat mata.

Yazel menyeringai, menikmati pemandangan itu.

"Tuan," panggil bawahannya yang satu lagi. Pria itu memang tegap dan memiliki badan yang lebih besar jika dibandingkan dengan Yazel. Namun, apa dayanya yang memiliki kekuatan yang jauh lebih lemah.

Merasa dipanggil, Yazel segera menoleh, lalu menatap bawahannya dengan tatapan yang langsung menghunus tajam.

"U--um, tapi untuk malam ini, kita mendapatkan peri yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan yang lalu," jelasnya dengan takut-takut. Dia merasa sedikit terintimidasi dengan tatapan Yazel. "Mungkin Tuan bisa merasa sedikit senang walaupun tangkapan kita hanya satu."

Yazel sedikit memiringkan kepalanya, lalu tersenyum mengerikan. Ia merasa tertarik dengan ucapan bawahannya barusan.

Yazel mengangkat satu tangannya lagi, sebelum mendorongnya sedikit ke arah depan. Hanya sedikit, namun mampu membuat pria yang ia buat melayang tadi terhempas jauh, sebelum tubuhnya langsung tertusuk pagar-pagar yang tajam.

Pria itu tampak langsung meringis kesakitan. Tiga pagar yang runcing itu menembus dari punggungnya, lalu bagian tajamnya terlihat keluar dari perutnya. Darah pun mulai bercucuran dari mulut serta perutnya.

"Baik, kau bernasib bagus hari ini. Semoga saja ucapanmu ada benarnya. Tapi, kalau ternyata kau hanya berbohong soal itu, akan kupastikan kepalamu tidak berada di tempatnya lagi." Yazel mengambil karung itu, lalu mengangkatnya dengan mudah.

Matanya kemudian sedikit melirik ke arah pria yang tergantung di sela-sela pagar tajamnya itu. Pria itu terlihat sudah sangat sekarat. "Terus, bersihkan darahnya yang menjijikan itu. Buang jasadnya ke dalam laut kalau ia meninggal. Jangan sampai besok pagi aku melihat semuanya masih berantakan."

\*\*\*

Dengan tidak berperasaan, Yazel melempar karung berukuran besar itu ke arah lantai yang berwarna merah tua. Sebenarnya, bukan hanya lantai tersebut, bahkan dinding ruangan itu diwarnai dengan merah. Di sudut ruangan bagian kiri, terdapat kandang jeruji berukuran 1 meter persegi dan rantai-rantai yang tergeletak begitu saja di dalamnya.

Sementara, di bagian kanan, terdapat rak-rak yang dipenuhi dengan berbagai alat tajam, seperti pisau, tombak, panah dan lain-lain.

Tanpa membuang-buang waktu, Yazel segera membuka karung besar itu. Tampaklah makhluk peri berjenis perempuan yang bersayap hitam sedang pingsan di sana. Yazel tersenyum mencemooh.

Pria itu menarik kaki makhluk itu tanpa belas kasihan, kemudian melemparkannya masuk ke dalam kandang jeruji berukuran sempit itu. Memang kandang kecil itu dibangun untuk menempatkan makhluk-makhluk seperti peri.

Tapi yang lebih parahnya lagi, ukuran kandang berbesi itu sengaja dibuat lebih kecil dari badan mereka. Mengapa? Karena Yazel ingin melihat bagaimana sesaknya makhluk itu nanti saat berada di dalamnya.

Seperti sekarang ini, akibat lemparan dari Yazel, kepala perempuan itu langsung terhantam besi, membuat siapapun yang melihatnya mungkin dapat merasakan ngilu yang tak tertahankan. Apalagi tenaga Yazel yang dikeluarkan tadi cukup kuat. Namun, perempuan itu masih saja tidak terbangun.

Pria itu segera menautkan kesepuluh jarinya, membuat rantai-rantai yang tadinya tergeletak begitu saja di atas lantai langsung membelit kedua kaki dan tangan peri yang pingsan tersebut.

Setelah selesai, Yazel segera menutup pintu kandang, lalu mulutnya menggumamkan sebuah kalimat.

"*Glas an cèidse seo*."

Tepat setelah itu, pintu kandangnya tekunci sendiri. Tidak ada siapapun yang dapat membuka kandang itu, kecuali Yazel sendiri yang mengucapkan kalimat sihir tersebut lagi.

Yazel beralih menatap saklar lampu, sebelum jari tangannya digoyangkan sedikit ke arah depan, membuat lampu di dalam ruangan tersebut lantas tiba-tiba nyala sendiri. Seketika, ruangan yang tadinya cuma diterangi dengan cahaya bulan yang menembus tirai berubah menjadi terang-temarang.

Yazel memutar kepalanya, kembali memandangi perempuan itu. Tanpa sadar, ia menelusuri wajah tersebut dengan teliti.

Karena ruangan tersebut sudah terang, Yazel dapat melihat dengan jelas jika perempuan itu memiliki kulit yang halus nan putih, hidung yang mancung, bentuk wajah yang kecil, dan memiliki mulut yang imut. Dia juga mempunyai rambut panjang sepunggung yang berwarna coklat.

Menurut Yazel, perempuan ini masih bisa dikategorikan dengan cantik.

Tiba-tiba saja, pria itu lantas tersenyum menyeringai.

*Sia-sia saja wajah perempuan itu cantik, karena tak lama kemudian, aku sendiri yang akan mengubah wajah cantik itu menjadi mengerikan*, batinnya sembari ketawa jahat.

Episode 3

"I know, I will never be able to get out of here again."

\~\~\~\~\~\~

Uhh...

Ariya membuka matanya seraya meringis sakit. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seolah-olah dirinya baru saja dihantam oleh ribuan ton batu tepat di atas kepalanya. Sesaat kemudian, ia baru saja menyadari, ternyata bukan hanya kepalanya yang sakit, bahkan seluruh badannya sekarang masih saja terasa mati rasa.

Ia mengerjapkan matanya, lalu hal pertama yang ia tangkap adalah dirinya berada di ruangan serba merah tua. Lantainya, atapnya, bahkan dindingnya pun memiliki warna yang sama.

Melihat ruangan yang serba merah seperti ini membuat sebuah kata spontan melewati pikirannya. Mengerikan.

Ia tidak mengingat apapun, kecuali tentang kejadian dimana dirinya bertemu dengan Blake dan pria itu menyuruhnya untuk segera pulang ke Hinterland. Setelahnya, Ariya mencoba mengingat-ingat kejadian selanjutnya, namun, hasilnya nihil. Ia malah mendapati kepalanya semakin berdenyut sakit saja.

Ariya mencoba menggerakkan tubuhnya, sebelum tiba-tiba saja ia menyadari bahwa pergerakkan sangat terbatas di dalam sini. Atau lebih tepatnya, di dalam jeruji besi yang berukuran kecil.

Wait... Jeruji?

Seakan kembali dihantam oleh ribuan batu yang berat, Ariya langsung melebarkan matanya lebar-lebar. Panik, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum mendapati dirinya diikat oleh sebuah rantai.

Ariya memperhatikan rantai tersebut dengan seksama. Perempuan itu tidak pernah melihat rantai yang terukir rumit ini, apalagi besi yang mengikat pergerakannya ini terasa sangat berat, tidak seperti rantai pada umumnya.

Di mana aku? batinnya dalam hati. Ia berusaha untuk menerka-nerka walaupun pikirannya terasa buntu.

Apa ia baru saja diculik?

Sesaat setelahnya, ribuan memori tentang kejadian malam kemarin berlomba-lomba memasuki pikirannya. Ia ingat.

Jarum itu.. Ada tiga jarum yang berhasil menancap di bagian tubuhnya waktu itu.

Apa pemilik jarum itu merupakan makhluk yang sama dengan yang mengurungku di sini?

Jarum. Ariya lekas menoleh ke arah sayap kirinya ketika menyadari sesuatu.

Dan, oh tidak. Pantas saja ia merasa seluruh tubuhnya tetap mati rasa, karena jarum itu belum dicabut dari tubuhnya. Dan, yang lebih parahnya lagi, karena kandang yang mengurungnya ini berukuran sangat sempit, Ariya dapat merasakan jarum yang berada di seluruh bagian tubuhnya menusuk semakin mendalam.

Ariya memejamkan mata dan menggigit bibir, berusaha untuk tidak menjerit karena rasa sakitnya. Kedua sayap hitamnya yang terikat oleh belenggu besi seketika berubah menjadi warna merah. Warna yang sama dengan ruangan ini.

Uh...

Bahkan sampai sekarang, Ariya masih belum tahu kenapa warna sayapnya bisa berubah-ubah.

"Interesting."

Itu adalah suara pria. Ariya seketika membuka mata, lalu menoleh ke asal suara. Ia mengerjapkan matanya, memandangi makhluk yang sedang duduk di atas sofa dengan kaki yang terbuka lebar.

Alarm bahaya berbunyi keras di kepala Ariya, memperingati perempuan tersebut dengan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin saja bisa terjadi.

Diperkosa?

Dibunuh?

Dijadiin makanan?

Atau mungkin bisa saja dijadiin budak?

Pandangan Ariya kemudian terjatuh pada wajah pria tersebut, sebelum ia segera meringis jijik.

Iuh...

Ariya langsung menatap ke arah lain. Ia berkeringat dingin, lalu segera mengenyahkan pikirannya tentang apa yang baru saja ia lihat.

Itu makhluk atau bukan, sih? Karena ia tidak pernah makhluk jelek seperti itu.

Bayangkan saja, gigi pria itu tampak sangat besar, lalu kulit hidungnya bahkan tidak kelihatan. Lubang hidungnya tampak sangat besar, sampai tulangnya pun kelihatan. Yang lebih menjijikan lagi, mulut makhluk itu terkoyak lebar. Bahkan tampak darah yang mengalir dari sana.

Keheningan yang cukup mencengkam sempat tercipta di ruangan merah tersebut. Ariya sedang bergulat di dalam pikirannya sendiri, sementara makhluk itu terus-terusan menatap perempuan tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.

Oh, no... It's like a nightmare.

"Kau siapa?" Setelah sekian lama mengumpulkan keberaniannya, Ariya akhirnya memutuskan untuk bertanya. Keheningan tadi hanya membuat bulu kuduk Ariya semakin merinding hebat saja.

Alih-alih menjawab, perempuan itu dapat mendengar makhluk tersebut terkekeh menyeramkan. Bulu kuduk Ariya semakin berdiri, membayangkan bagaimana penampilan wajah tersebut saat terkekeh seperti itu.

Apa giginya akan lepas? Terus lubang hidungnya semakin membesar? Apa tulang-tulangnya akan semakin menonjol?

Begitulah ilustrasi soal makhluk tersebut di pikiran Ariya. Sangat mengerikan. Kalau Ariya melihat wajah itu sekali lagi, perempuan itu bersumpah ia tidak akan bisa tidur seumur hidup.

"Ternyata, bawahanku itu tidak berbohong tentang kau, ya. Baguslah, kalau begitu. Ia masih bisa menjaga nyawanya." Suara bariton itu terdengar.

Ariya mengerutkan dahinya. Bukannya menjawab pertanyaannya tadi, makhluk itu malah mengatakan hal lain yang tidak dimengerti olehnya. Apa otaknya ada miring sebelah?

Tapi, walau begitu, jujur saja, Ariya merasa suara pria itu terdengar sangat gagah dan seksi. Namun, mengingat kembali wajahnya, Ariya segera menggeleng ngeri. Satu kalimat langsung tercatat di dalam pikirannya.

Suaranya adalah tipeku, but his face, of course no!

Bahkan, Ariya lebih memilih untuk bersama beruang kutub jika dibandingkan dengan pria itu.

Geez...

Tiba-tiba saja, Ariya dapat mendengar suara langkah kaki pria itu yang sedang menuju ke arahnya, sebelum akhirnya berhenti. Mata Ariya sedikit melirik, mendapati sosok mengerikan itu sudah berdiri tepat di depan kandangnya.

"Hei, keluarkan aku dari sini. Apa maumu?" ujar Ariya dan hanya berusaha untuk memandangi tubuh pria itu. Ish, itu lebih baik jika memandangi wajahnya yang hancur.

Namun, sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya, karena tiba-tiba saja pria itu langsung berjongkok di depan kandangnya, membuat Ariya tanpa sengaja kembali menatap langsung ke arah wajah itu.

Ariya seketika melotot. Air liurnya keluar tanpa bisa dicegah. Kok, tampan? Wajahnya berbeda dari wajah yang baru saja Ariya lihat tadi.

"Siapa kau? Mana makhluk jelek tadi? Apa dia sudah pergi? Sebenarnya ada berapa orang di dalam ruangan ini?" tanya Ariya dengan gusar. Mungkin karena terlalu takutnya, Ariya langsung bertanya secara beruntun seperti itu.

"Makhluk jelek?" Pria itu spontan bertanya dengan alis yang diangkat.

And, tidak butuh bagi Ariya untuk segera menyadari sesuatu. Suara ini masih sama dengan suara yang tadi. Ariya menelan air ludahnya dengan susah. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?

Pria itu meraba wajahnya sendiri, lalu berkacak pinggang, menatap tidak senang ke arah Ariya. "Kau baru saja menyebutku begitu? Lancang sekali kau."

Pria yang Ariya tidak tahu namanya itu tersenyum tanpa sebab. Entah senyum atau memang bibirnya miring sebelah sejak lahir, tapi Ariya merasa ketampanan pria itu meningkat berkali-kali dari yang sebelumnya.

Oh my god, bahkan hidungnya yang awalnya tidak ada itu menjadi ada. Bibirnya terbentuk sempurna dan tidak ada segores luka pun yang mewarnai wajah itu. Kulitnya putih, hidungnya mancung, alisnya tebal, rambutnya disisir ke kiri, dan dia memiliki tatapan yang membara.

Apa Ariya sedang berhalusinasi?

Di detik selanjutnya, Ariya tiba-tiba merasakan gaun yang ia pakai terbuka bagian atasnya, disusul dengan kancing bagian bawah. Ariya berteriak, merasa kaget. Ia sedikit memberontak, tetapi seluruh pergerakkannya tertahan akibat rantai-rantai yang mengikatnya.

Ariya melotot, lalu menatap ke arah lelaki yang berada di luar kandangnya. Entah kenapa, ia merasa ini adalah perbuatan dari pria tersebut. "Apa yang kau lakukan!"

Pria itu hanya tersenyum miring. Sebelah tangannya terangkat, membuat gaun milik Ariya terlepas dari badannya. Dan, dalam sekali tepukan, gaun tersebut langsung hilang. Sekarang, Ariya hanya memakai dalamannya yang berwarna putih.

Ariya seketika panik. Ia berusaha menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang itu sembari menatap tajam ke arah pria tadi. Ia tidak pernah melihat makhluk dengan kekuatan seperti itu sebelumnya. Siapa dia?

Sementara itu, di tengah kepanikan Ariya, Yazel menelan ludahnya, memandangi kulit putih milik Ariya dari atas sampai bawah. Perempuan itu tampak sangat tidak berdaya di bawah rantai, membuat gadis itu tampak semakin menggoda.

Namun, tiba-tiba saja, Yazel segera tersadar dari pikirannya. Ia berdeham sekali, guna untuk menghapuskan semua pikiran kotor yang baru saja numpang lewat. Ia berbalik, lalu segera berjalan meninggalkan perempuan itu.

Yazel kemudian menjentikkan tangannya sekali, membuat Ariya kembali terkejut karena tiba-tiba saja ada pakaian berwarna hitam yang melekat di seluruh tubuhnya.

"Hei, apa yang kau lakukan? Kembalikkan gaunku. Terus, makhluk jenis apa kau itu? Kenapa kau berbuat seenaknya padaku!" pekik Ariya dengan kesal. Ia menatap tajam punggung milik Yazel.

Mendengar itu, pria tersebut yang sudah berada di ambang pintu berbalik. Ia memandangi Ariya dengan tatapan datarnya. Hingga, tak sampai sedetik, pria itu langsung muncul di depan kandangnya kembali. Bahkan, pada saat itu Ariya yakin dirinya masih belum sempat untuk mengerjapkan matanya.

Ariya terperangah. Ia yakin sekali kalau makhluk itu bukan berjalan ataupun berlari, melainkan teleportasi.

Yazel mencengkram jeruji kandang, sebelum menyeringai. Kedua matanya berubah menjadi merah, dan Ariya menyebutnya sebagai tatapan yang membara.

"Ah, jadi kau belum mengenaliku? Baik, akan kuperkenalkan diriku. Aku merupakan makhluk dari kaum Dreta, pemangsa peri. Dan, kau seharusnya bersyukur karena aku telah berbaik hati memberikanmu pakaian yang lebih layak daripada gaun tadi. Jangan buat aku berniat untuk memperkosamu sekarang juga, girl."

Di detik selanjutnya, Yazel menegakkan tubuhnya, lalu tiba-tiba saja, pria itu langsung menghilang, meninggalkan Ariya sendirian.

Bulu kuduk Ariya terasa masih meremang sampai sekarang. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk mencerna perkataan pria itu tadi. Semuanya terasa masuk akal sekarang.

Dreta? Oh, shit.. Sekarang Ariya yakin jika ia hanya perlu menunggu ajalnya tiba.

Tanpa disadari, tubuh Ariya seketika terkulai lemas. Ia menghembuskan napasnya pelan, lalu berusaha menenangkan diri sendiri. Namun, jujur saja, ia tetap saja tidak bisa merendam kepanikannya yang semakin menjadi-jadi.

Ariya langsung merutuki dirinya sendiri. Seharusnya dari awal ia tidak berjalan-jalan di tengah hutan saat malam itu. Seharusnya ia mendengarkan perkataan Blake. Seharusnya ia tidak merasa kepo.

Seharusnya...

Seharusnya...

Jesus Christ, kau sungguh bodoh Ariya!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!