20

Kehadiran Hiko semalam membuat Ruby harus mendapatkan perawatan tambahan dengan luka sayatannya dan juga jarum infusnya yang  bergeser hingga membuat darah merembes keluar.  Dokter juga menyuntikkan obat penenang untuk Ruby agar bisa lebih relax dan tidur malam.

Handoko dan Maria berulang kali minta maaf karena niat mereka mengajak Hiko menemui Ruby malah membuat Ruby histeris.  Sempat Handoko bertanya kenapa Ruby bisa sampai berniat mengakhiri hidupnya, namun Kyai Abdullah tidak bisa menjawabnya.

Mungkin memang kejadian yang menimpa Ruby akan menjadi rahasia umum di pesantren Darul Hikmah, tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan tersebar ke pesantren lain walau kyai Nur sudah memberi peringatan para santrinya untuk tidak membicarakan hal ini.

Kyai Abdullah hanya menyampaikan kabar tidak menyenangkan yang menimpa putrinya pada calon besannya sebelum Kyai Marzuki dan keluarga mendengar kabar ini dari orang lain,  Ia menyerahkan semuanya pada Iqbal dan keluarga. Kyai Abdullah sadar diri dan tidak memaksa jika memang Iqbal ingin membatalkan Khitbah-nya.

Kyai Abdullah tak henti menatap putrinya yang masih tertidur pulas walau cahaya mentari sudah mulai menyelip masuk dari sela-sela cendela ruang rawat inap Ruby.

Seseorang sudah merampas paksa senyum manis putrinya.  Sekarang Ia hanya bisa berpasrah kepada pemilik kehidupan,  apapun kondisi Ruby saat ini ia berharap putrinya akan mendapatkan pria terbaik yang akan menerima Ruby apa adanya.

Efek Obat penenang membuat Ruby bangun lebih lambat dari kehadiran mentari. Ia merasakan kedua pergelangan tangannya lebih sakit dari sebelumnya.  Ia membuka mata perlahan,  melihat Abinya terlihat baru saja berdiri dan berjalan membelakanginya untuk menerima telpon. Hal itu membuat Ruby mengingat sosok Hiko dan pria yang mengambil kehormatannya.

"Abi." Panggil Ruby lirih ketika Abinya baru panggilan telponnya.

Kyai Abdullah mengurungkan langkahnya yang akan pindah untuk duduk di sofa dan kembali menghampiri putrinya.

"Gimana perasaan kamu sekarang,  Nduk?" Tanya kyai Abdullah.

"Ruby sudah merasa lebih baik,  Abi." Jawab Ruby bohong.  Ruby memandangi ponsel yang masih ada digenggaman abinya. "Telpon dari kyai Marzuki kah,  Bi?" Tanya Ruby.

"Iya,  mereka sedang perjalanan kemari ingin menengokmu." jawab Kyai Abdullah.

Ruby menggelengkan kepalanya cepat,  "Ruby belum siap bertemu kyai Marzuki dan Nyai Zubaedah,  Bi."

"Tapi mereka sudah jauh-jauh kesini dari Jombang loh, Nduk."

Ruby menatap abinya dengan seksama dan menggelengkan kepalanya,  "Ruby gak bisa ketemu mereka,  Bi. Ruby gak bisa." pinta Ruby memelas.

"Kenapa,  Nak?" Tanya Nyai Hannah yang baru keluar dari kamar mandi.

"Ruby mau pulang saja,  Ummi.  Ruby gak mau disini." pinta Ruby

Nyai Hannah menatap Kyai Abdullah.

"Nanti Abi akan temui kyai Marzuki di depan saja, kamu gak perlu khawatir." kyai Abdullah mengabulkan permintaan Ruby.

Ruby mengangguk,  "Makasih, Abi."

Kyai Abdullah mengangguk dan mengusap kening putrinya. "Abi akan keluar dulu, ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." jawab Nyai Hannah dan Ruby bersamaaan.

"Ruby sudah tidak kepercayaan diri lagi untuk pergi menemui orang lain,  Ummi.  Apalagi keluarganya mas Iqbal,  Ruby tidak bisa menerima diri Ruby yang kotor ini berada diantara mereka." Ujar Ruby ketika Abinya sudah keluar dari ruangan.

"Ruby..." Nyai Hannah segera menghampiri putrinya,  "Kamu gak bisa begini terus, sayang. Kamu masih punya keistimewaan yang lain. Jangan biarkan semua ini berhenti begitu saja, Nak."

"Ummi bisa bicara seperti itu karena Ummi tidak pernah ada di posisi Ruby saat ini." Elak Ruby.

Nyai Hannah memegang lembut tangan Ruby,  "Maaf jika Ummi tidak mengetahui apa yang kamu rasakan,  Nak.  Bersedihlah secukupnya, jangan buat dirimu semakin terpuruk."

Ruby hanya menghela nafas saja.

Tok tok tok.

Sebuah ketukan membuat Ruby dan Nyai Hannah mengalihkan perhatian ke pintu.

"Selamat pagi."

Ruby melihat Heru dan Rika masuk ke dalam ruangannya, membuat Ruby berusaha untuk duduk menyambut mereka.

"Jangan dipaksa,  Ruby." kata Heru.

"Rebahan saja tidak apa-apa,  kok." Rika meletakkan parcel buah di atas meja sofa.

"Bagaimana kabarnya,  Ummi?  Masih ingat saya?" Sapa Heru pada Nyai Hannah.

Nyai Hannah mencoba mengingat siapa pria tinggi didepannya itu,  "Maaf,  saya lupa."

"Mas Heru,  Ummi.  Suaminya Nara." Ruby membantu mengingatkan umminya.

"Ya Allah. Maafin Ummi ya,  Nak. Sampai tidak ingat sama kamu." Nyai Hannah merasa tidak enak.  Ia menoleh ke Rika,  "Ibu ini,  Ibunya nak Heru?" tanya Nyai Hannah.

"Bukan Ummi,  ini Bu Rika. Beliau yang punya rumah produksi, yang membuat komik Ruby jadi serial drama nanti." Ujar Ruby,  "Bu Rika,  ini Ummi saya."

"Saya  Hannah, Bu."

"Saya Rika,  Bu.  Senang bisa berkenalan dengan anda."

Nyai Hannah dan Rika saling bersalaman.

"Tadi saya sempat ke pesantren,  ingin menanyakan kabar Ruby. Tapi saya malah mendapat kabar jika Ruby ada di rumah sakit." Ujar Heru.

"Maaf saya tidak memberi kabar ke kantor." Ucap Ruby.

"Kamu sebenarnya sakit apa,  By?" Tanya Heru.

"Lagi kecapekan dan drop banget kemarin, nak. Doakan saja Ruby segera bisa membaik." Jawab Nyai Hannah bohong.

Ruby hanya tersenyum saja dan menarik lengan baju ditangan kirinya untuk menutupi perban disana.

"Iya,  By.  Semoga kamu segera membaik ya.  Karena banyak hal yang harus kita bahas." Ucap Rika.

"Tentang apa Bu?" Tanya Ruby.

"Kita sedang kebingungan cari pengganti untuk leadactor kita. Kamu tahu sendiri kan kasusnya Hiko."

Ruby menatap Heru yang memasang wajah malas ketika Rika menyebut nama Hiko.

"Apa kamu keberatan jika kami mengganti Hiko?" Tanya Rika.

Ruby kembali menatap Heru.

"Jangan pedulikan aku,  By.  Ini hanya masalah pribadiku dengannya." Ujar Heru.

"Terlepas dari masalah yang ada, menurut saya hanya mas Hiko yang sangat cocok dengan karakter Sadana,  Bu.  Tapi jika tim produksi punya kandidat lain saya juga saya akan mengerti." Ucap Ruby.

"Ya,  sebenarnya pun berat sekali untuk mengganti Hiko. Tapi citranya sudah buruk dimata masyarakat." Keluh Rika.

"Hiko anaknya pak Handoko kah,  By?" Tanya Nyai Hannah penasaran.

Ruby mengangguk.

"Bu Hannah kenal Hiko?" Tanya Rika.

"Iya,  Bu.  Kebetulan juga semalam dia kemari. Dan sspertinya dia pria yang baik ya,  Nak.  Sopan juga ke orangtua." puji Hannah.

"Benarkah,  Bu?" Rika seakan tak percaya.

Ruby menatap Heru merasa tidak enak.

"Ruby dekat dengan Hiko?" Tanya Rika.

Ruby menggeleng cepat,  "Bukan bu Rika.  Kebetulan papanya mas Hiko itu sering ke pesantren Abi Ruby, Bu Rika."

"Oooh, kirain kamu ada hubungan khusus dengan Hiko."

Ruby hanya tersenyum masam mendengar kalimat Rika dan obrolan mereka berlanjut menjadi obrolan ringan bersama Nyai Hannah juga.

Sementara itu Kyai Abdullah yang menyambut kehadiran calon besannya harus berbincang di kantin rumah sakit.

Kyai Abdullah menceritakan lebih detail apa yang terjadi dengan putrinya dan meminta maaf atas karena Ruby tidak mau menemui mereka.

"Sebenarnya Iqbal dan kami pun tidak mempermasalahkan hal ini." Kyai Marzuki menanggapi penjelasan Kyai Abdullah, "Iqbal pun juga sudah memberitahu Ruby mengenai perasaannya. Tapi malah Ruby yang meminta untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan mereka."

"Benarkah, kang mas? Kapan Iqbal menghubungi Ruby, kang mas kyai?" tanya Kyai Abdullah.

"Iqbal tadi bilang semalam ia menghubungi Ruby."

"Apa jangan-jangan karena itu Ruby mencoba..." Nyai Zubaedah tidak berani meneruskan kalimatnya.

"Astagfirullahaladzim." Kyai Abdullah semakin bingung dengan keadaan putrinya. "Sepertinya Ruby benar-benar merasa tidak pantas untuk Iqbal, Kang mas kyai."

"Iqbal memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia, kang mas kyai. Biarkan mereka menyeleasaikan ini sendiri, semoga putra putri kita masih berjodoh." ujar kyai Marzuki.

"Jujur saya sangat mengharapkan Ruby bisa menjadi menantu saya." tambah Nyai Zubaedah.

"InshaaAllah nggih, Nyai. Saya akan coba bujuk Ruby agar panjenengan bisa meyakinkan dia."

"Inggih, Kang Mas Kyai."

**********

"Cut Cut Cut!" Teriakan sutradara menghentikan acting Hiko dengan lawan mainnya. "Lo bisa acting gak? Seharian jangan sia-siain waktu orang donk!"

"Maaf pak, Maaf. Hiko memang kurang sehat." Genta meminta maaf.

Genta menarik tubuh Hiko untuk segera duduk di tempat duduknya.

"Lo kenapa sih seharian aneh banget sih, Ko?" Tanya Genta marah.

Hiko hanya diam sambil meminum air mineralnya. "Bilang sama mereka, gue mau balik dulu."

Hiko beranjak meninggalkan Genta menuju ke mobilnya. Tanpa menunggu Genta, Hiko lebih dulu pergi meninggalkan lokasi shooting.

Pikirannya memang sedang kacau sejak semalam, sepulangnya dari menjenguk Ruby. Ada sebuah ketakutan dan rasa bersalah mendalam ketika ia mengingat pergelangan tangan kiri Ruby yang terbalut kain kasa.

Seperti halnya sekarang, ia mengendarai mobilnya tanpa arah. Hingga tiba-tiba saja ia menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu gerbang pesantren Darul Hikmah.

Ia keluar dari mobil dan berjalan ke pintu gerbang tanpa menggunakan masker untuk menutupi wajahnya, ia tak pedulikan segelintir santri putri yang lewat di gerbang pintu keluar sedang memperhatikannya.

Langkahnya terhenti tepat di pintu gerbang, bahunya tersandar di dinding gerbang pintu masuk, matanya menatap jauh ke halaman rumah kyai Nur. Ia bisa melihat beberapa orang barusaja turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Disitu juga Hiko melihat Nara yang sedang membantu jalan sahabat kekasihnya, Ruby.

-Bersambung-

.

.

.

.

.

Jangan cuma baca aja loh ya.

Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.

Terpopuler

Comments

Rizkha Nelvida

Rizkha Nelvida

nggak ada gunanya menyesal sekarang,,,anak org udah lu nodai,,,yg ada lu tobat ,,,minta ampun sama Allah,, Ruby ,,org tuanya,,kesal ku belum hilang Hiko 😡😂

2023-02-21

2

Diyah W

Diyah W

kenapa neh Hiko ke pesantren? apa akan terungkap rahasia nya dg Ruby ttng perkosaan

2022-12-30

0

AndTea

AndTea

nyimaaak aku Maaah 🥰

2022-11-23

0

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 NOVEL KE 3
127 PENGUMUMAN
128 Bonchap 1-1
129 Bonchap 1-2
130 Bonchap 2-1
131 Bonchap 2-2
132 Bonchap 3-1
133 Bonchap 3-2
134 Bonchap 4-1
135 Bonchap 4-2
136 Bonchap 5-1
137 Bonchap 5-2
138 Bonchap 6-1
139 Bonchap 7-1
140 Bonchap 7-2
141 VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142 Novel Baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
NOVEL KE 3
127
PENGUMUMAN
128
Bonchap 1-1
129
Bonchap 1-2
130
Bonchap 2-1
131
Bonchap 2-2
132
Bonchap 3-1
133
Bonchap 3-2
134
Bonchap 4-1
135
Bonchap 4-2
136
Bonchap 5-1
137
Bonchap 5-2
138
Bonchap 6-1
139
Bonchap 7-1
140
Bonchap 7-2
141
VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142
Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!