Nyai Hannah dan Kyai Abdullah berlarian kecil dibelakang brankar rumah sakit yang membawa Ruby.
"Kami akan menangani putri anda." Ucap dokter sebelum menutup pintu ruang IGD.
"Ya Allah, Abi. Kenapa Ruby nekat melakukan hal ini?" Tangis Nyai Hannah pecah dipelukan suaminya.
"Sabar, Mbak. Kita doakan yang terbaik untuk Ruby." Nyai Fatimah yang ikut mengantar mencoba menegarkan kakak iparnya itu.
Kyai Abdullah hanya diam memeluk istrinya, ia pun tak kalah cemas dengan istrinya. Pikirannya sudah menebak kemana-mana, kenapa putrinya bisa berbuat senekat ini.
Lama mereka menunggu dalam kecemasan, akhirnya dokter keluar.
"Keluarga pasien Ruby?"
Kyai Abdullah dan Nyai Hannah bergegas menghampiri dokter.
"Bagaiamana keadaan anak kami, dokter?" Tanya Nyai Hannah.
"Beruntung luka pasien tidak terlalu dalam, luka di tangan pasien sudah berhasil kami atasi."
"Alhamdullillah, ya Allah."
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Perawat akan mengantar anda jika pasien sudah bisa dikunjungi." Ujar dokter.
"Terimakasih dokter, terimakasih." Ucap Nyai Hannah.
"Sama-sama, saya permisi dulu." Ucap dokter lalu masuk kembali ke dalam ruang IGD.
"Alhamdulillah Ruby sudah selamat, mas." Ucap kyai Nur.
"Alhamdulillah, Nur. Allah masih sayang sama Ruby." Ucap kyai Abdullah.
Akhirnya seorang perawat menghampiri mereka dan mengantar ke ruang rawat inap Ruby.
"Pasien masih dalam pengaruh obat bius bu, beberapa saat lagi pasien pasti tersadar." Jelas seorang perawat.
"Terimakasih ya, mbak." Ucap Nyai Hannah.
"Sama-sama, Saya permisi dulu." pamit perawat, "jika ada perlu apa-apa bisa tekan tombol diatas tempat tidur ya."
"Baik, mbak."
Perawat pergi meninggalkan ruangan dan Nyai Hannah segera menghampiri putrinya yang sedang tak sadarkan diri. Ia tatap wajah pucat putrinya dengan pergelangan tangan kiri berbalut kain kasa sedangkan tangan kanannya tertanam jarum infus.
"Apa yang membuat kamu seperti ini, Nak." Nyai Hannah mengusap kening Ruby.
"Sepertinya Abi benar-benar harus lapor polisi untuk menemukan orang yang membuat Ruby sampai seperti ini, Ummi." Ucap Kyai Abdullah.
"Abi, bukannya kita sudah bahas ini sebelumnya. Melapor ke polisi hanya akan membuat lebih banyak orang mengetahui kondisi Ruby dan itu tidak akan membuat Ruby menjadi lebih baik." Nyai Hannah mengingatkan kembali suaminya.
"Iya, Mas. Ruby juga bisa lebih tertekan jika tahu siapa pelakunya." tambah Kyai Nur. "Istiqfar, mas. Kita fokus saja menyembuhkan fisik dan psikis Ruby."
Kyai Abdullah menghela nafas panjang, membenarkan kalimat istri dan adiknya.
"Apa mungkin Iqbal memutuskan untuk tidak melanjutkan khitbah-nya?" Tebak Nyai Hannah
"Astaqfirullah, Ummi. Kenapa bisa berfikir seperti itu." Sahut Kyai Abdullah, "Jangan su'udzon dulu, Ummi."
Kyai Abdullah memang sudah memberitahu musibah yang menimpa putrinya pada kyai Marzuki. Walau hanya beberapa glintir santri Darul Hikmah yang mengetahui kejadian tersebut, tak bisa dihindarkan jika berita itu akan menyebar keseluruh pesantren bahkan ke pesantren lain. Oleh sebab itu kyai Abdullah memilih untuk memberitahu kyai Marzuki lebih dulu ketimbang mereka mengetahui dari orang lain.
Kyai Abdullah tak memaksa untuk meneruskan khitbah antara putrinya dan Iqbal, semua sudah diserahkan pada kyai Marzuki dan Iqbal. Apapun keputusan mereka akan ia terima dengan lapang dada.
"Sebaiknya kamu pulang dulu saja, Nur. Kami akan menginap disini malam ini." Ucap Kyai Abdullah melepas lamunannnya.
"Iya, Mas. Besok kami akan kemari lagi bawa keperluan untuk mas dan mbak." Jawab Kyai Nur.
"Kami pulang dulu ya mbak." Nyai Fatimah menghampiri Nyai Hannah untuk berpamitan.
"Iya, dik. Kalian hati-hati di jalan." Ucap Nyai Hannah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kyai Abdullah mengantar Kyai Nur dan Nyai Fatimah hingga pintu, usai kepergian adiknya ia kembali menghampiri putrinya.
"Sebaiknya kita bawa Ruby kembali ke Malang saja Ummi." kata Abi.
"Biarkan nanti dia yang menentukannya Abi, Ummi takut jika memaksa akan membuat Ruby semakin tertekan."
Kyai Abdullah kembali menghela nafas panjang.
"Ummi..." terdengar suara lirih dari mulut Ruby
"Ruby! Kamu sudah sadar, Nak?" Nyai Hannah terlihat senang melihat Ruby membuka mata.
Ruby menatap sekelilingnya yang terasa asing baginya.
"Kamu di rumah sakit, Nak." Nyai Hannah memberitahu Ruby.
Ruby mengingat kejadian beberapa waktu lalu kemudian ia mengangkat tangan kirinya. Ia tersenyum masam.
"Apa yang kamu pikirkan sampai kamu melakukan hal yang jelas-jelas dibenci Allah." tanya kyai Abdullah. "Kamu masih marah padaNya?"
Ruby hanya terdiam.
"Kenapa kamu berfikiran untuk meninggalkan kami, nak? Apa kamu sudah tidak sayang lagi dengan kedua orang tuamu ini?" tanya Kyai Abdullah lagi.
Ruby masih terdiam namun air matanya mulai menetes.
"Jangan egois, nak. Hanya karena satu orang yang menyakitimu, kamu harus meninggalkan kami semua yang menyayangimu. Abi tidak rela kamu harus kehilangan nyawa karena laki-laki tidak bertanggung jawab itu."
"Maafkan Ruby, Abi, Ummi." Ucap Ruby menyesal, kini ia mulai terisak menyesali perbuatannya.
"Bicarakan pada kami apapun yang kamu rasakan, Nak."
Nyai Hannah memeluk dan terus menenangkan putrinya.
**********
Siang ini Nara kembali datang ke pesantren Darul Hikmah untuk menemui Ruby. Akhir-akhir ini memang ia mempunyai banyak waktu karena Hiko hanya memiliki sedikit jadwal shooting sejak kasus perselingkuhannya terkuak di media.
"Selamat siang." Ucapnya tepat dipintu ruang tamu rumah Kyai Nur yang terbuka.
"Siang,"
Terdengar sahutan dari dalam dan tak lama Azizah muncul di ruang tamu.
"Eh, Mbak Nara. Masuk mbak." Ajak Azizah.
Nara melapas sandalnya dan masuk ke dalam, "Ruby lagi ngapain?"
Azizah diam.
"Kenapa, Zizah?"
"Mbak Ruby di rumah sakit, mbak."
"Hah!! Ruby kenapa, Zizah?" Tanya Nara panik.
Zizah menarik nafas sejenak, "Mbak Ruby mencoba bunuh diri, mbak."
"Ya Tuhan, Ruby!" Nara lemas hingga badannya terjatuh di lantai.
"Mbak Nara." Azizah memgangi tubuh Nara.
"Zizah, kasih tahu aku dimana rumah sakitnya. Aku harus segera kesana." Pinta Nara.
Setelah mendapat nama rumah sakit dan nama ruang rawat inap Ruby, Nara segera mengendarai mobil milik Hiko menuju ke rumah sakit.
trrrt trrrt
Dari dalam tasnya terdengar getaran dari ponsel, ia meraba-raba mencari ponselnya. Ternyata Genta yang sedang menelponnya.
"Ya, Kak? Kenapa?" Tanya Nara ketika telponnya sudah tersambung.
"Hiko dah kelar nih shootingnya. Jemput kita sekarang ya." Jawab Genta.
"Kak, Maaf. Aku lagi mau ke rumah sakit, Ruby masuk rumah sakit. Kak Genta sampein maaf ku ke Hiko ya, aku gak bisa jemput dia."
"Ruby masuk rumah sakit? Kenapa?" Genta tak kalah panik.
"Aku gak bisa ceritain ke kak Genta. Aku tutup telponnya ya kak."
Tanpa persetujuan Genta, Nara segera menutup sambungam telponnya dan kembali fokus mengendarai mobil diantara kemacetan ibu kota.
**********
Mendengar kabar dari Nara membuat Genta buru-buru mengajak Hiko pulang dengan taxi online.
"Kenapa sih lo diam aja?" Tanya Hiko ketika ia sudah sampai dirumahnya.
Genta memilih duduk menenangkan diri di sofa ruang tamu Hiko sedangkan Hiko memilih merebahkan badannya dan melihat beberapa bidikannya di galery ponsel miliknya.
"Ruby masuk rumah sakit." Kata Genta
"Trus? Hubungannya ama kita apa?" Tanya Hiko tanpa memindahkan pandangannya dari layar ponsel.
"Gue khawatir dia coba untuk bunuh diri, Ko." Genta melirihkan kalimatnya.
Hiko tak merespon.
"Ko! Lo gak panik?" tanya Genta.
"Lo gak usah lebay deh, mikir lo kejauhan." Jawab Genta.
"Kalo beneran gimana? Lo bakal ngelakuin apa?"
Hiko meletakkan ponselnya dan menutup matanya dengan salah satu lengannya.
"Wah! Lo emang b*jing*n sejati, manusia bangs*t lo, Ko!"
"Berisik."
"Gue gak mau tahu Kita harus jenguk Ruby ke rumah sakit, Ko!"
"Ruby masuk rumah sakit?"
Tanpa mereka sadari, Maria sudah berdiri di pintu ruang tamu rumah Hiko.
-Bersambung-
.
.
.
.
Jangan cuma baca aja loh ya.
Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Syaakira Cantik
sampe di titik ini aku selalu tekan like kak author.
2024-06-04
0
Hearty 💕
Apa jawabmu Ko?
2024-02-15
0
Lia Bagus
hiko ckckck
2023-12-17
1